Heavenly Love (Yun Hae Ra + Cho Kyuhyun) – part 2

baca cerita sebelumnya disini

(Kyuhyun POV)

Sejak tadi siang Haera aneh sekali. Dia hanya sibuk dengan novel new moon-nya (Tadi siang dia membaca twilight lalu selesai dan lanjut ke buku dua-nya, new moon). Setiap kali kuajak bicara dia pasti menghindar. Selain itu dia patuh sekali saat suster Taemin menyuruhnya untuk beristirahat. Padahal kan biasanya dia selalu memberontak dan menolak untuk beristirahat.

Malam ini hanya ada aku dan Haera yang ada di ruangan ini. Lampu utama di ruangan ini dimatikan dan yang menyala hanyalah lampu tidur yang berwana oranye. Tidak ada yang datang menjengukku. Baguslah, terkadang mereka yang menjengukku itu berisik sekali sampai-sampai aku tidak bisa beristirahat dengan tenang. Lagipula aku juga tidak mau istirahat Haera sampai terganggu. Aku mengerti betapa pentingnya istirahat bagi Haera yang sistem imunnya lemah.

Ya! (Hey!)” Aku mencoba memanggilnya tetapi tetap tidak ada jawaban dari balik tirai itu. Haera, kenapa kau memasang tirai penutup tempat tidurmu itu begitu cepat? “Ya!

Aku yakin dia belum tidur karena siluet tubuhnya menunjukkan kalau dia masih duduk. Sepertinya dia sedang membaca karena dia menyalakan lampu baca. Aish, anak ini mengabaikanku ya? Kalau begini sepertinya harus aku sendiri yang menghampirinya. Kuambil tongkatku yang kuletakkan tak jauh dari tempat tidurku. Memang sengaja aku letakkan disana agar mudah kujangkau.

Sreeettt!! Bag gedebugg!! Aish, kenapa lantai ini licin sekali? Aku jadi terpeleset. Aww, begitu tilangku yang patah menyentuh lantai itu justru membuatnya semakin terasa sakit.

“Kyu!” Haera membuka tirainya dan begitu melihat aku yang terjatuh dia langsung bangkit dan membantuku berdiri. “Gwenchanayo? (apa kau baik-baik saja?)”

Gwenchana.” Hoop, dengan satu lompatan kecil aku berhasil menopangkan tubuhku ke tongkat. Haera tersenyum dan kembali ke kasurnya setelah sebelumnya mengajakku untuk duduk didekatnya.

“Sepertinya kau sudah hampir sembuh ya, Kyu! Perban dan gipsmu mulai berkurang.”

“Ah begitulah.” Jawabku ringan tanpa menyadari perasaan Haera. “Balutan di wajahku juga sebentar lagi dilepas.”

Haera tersenyum tetapi senyuman itu bukan senyuman yang tulus yang biasanya terlihat di wajahnya. Itu adalah senyuman yang terlihat pedih. “Baguslah, chukkae.”

“Haera…..”

“Ah, lagi-lagi ada orang yang pergi dari rumah sakit ini. Sebentar lagi kau yang harus pergi. Entah sudah berapa orang yang datang dan pergi. Kapan ya giliranku yang keluar?”

Aku jadi sedikit memahami perasaan Haera yang sudah beberapa kali melihat orang datang dan pergi dari rumah sakit ini, atau sudah melihat orang mati didepan matanya beberapa kali. Meskipun dia tersenyum tetapi dalam hati dia pasti merasa sedih melihat orang-orang yang sembuh kembali berkumpul dengan keluarga dan teman-temannya. Sedangkan dia, entah berapa tahun lagi harus tetap mendekam disini. “Kau pasti sembuh, Haera.”

“Tak usah menghiburku Kyu. Tenang saja, aku juga sudah pasrah kok kalau memang tetap harus mendekam disini, hehehe. Kalau kau keluar nanti sering-sering kesini ya, Kyu. Ah, tapi mana mungkin kau kesini kalau tidak ada keperluan. Bukan begitu?”

Aku mengangkat tanganku yang di gips. “Ini, tentu saja aku harus tetap mengontrol tulang-tulangku secara rutin bukan?”

“Kau benar!” Jawab Haera masih dengan muka cerianya. “Tapi aku tadi hanya bercanda. Tentu saja aku tidak memaksamu membesukku. Tak usah diambil hati, Kyu!”

Haera kembali melanjutkan membaca new moon-nya. Sementara itu, disamping bantalnya kulihat ada beberapa novel percintaan. Dasar, seleranya standar sekali! Kebanyakan yeoja pasti suka pada hal-hal romantis seperti kisah romeo dan juliete yang novelnya sedang kupegang. “Kau suka sekali membaca novel romantis ya, Haera.”

Haera menutup new moon-nya dan menatapku. “Bukan aku, Umma yang selalu mengirimkan novel-novel romantis itu.”

Aku membolak-balik novel romeo dan juliete itu hingga sekilas aku melihat bab adegan di balkon kamar juliete yang begitu terkenal. Tiba-tiba ruangan terasa lebih gelap. Ternyata Haera sudah mematikan lampu bacanya sehingga yang tersisa hanyalah pancaran lampu tidur yang berpendar oranye.

“Kyu, apa kau pernah jatuh cinta?” Tiba-tiba Haera sudah berada dalam posisi dekat sekali denganku dan wajahnya mendekat ke wajahku dengan tatapan mata penasaran.

“Kenapa kau bertanya? Tentu saja sudah! Aku kan sudah 19 tahun!”

“Oh..” Sekarang wajahnya malah menjauh dan mata penasaran itu berubah menjadi mata yang kecewa. Hey, cewek aneh ini kenapa lagi sih? “Yoona yang tadi siang datang, dia yeochingu-mu (pacar)?”

Hee? Ada apa dengan semua pertanyaan yang mendadak ini? Kenapa tiba-tiba dia jadi bertanya tentang Yoona? “Apa urusanmu?”

“Kau benar, memang bukan urusanku.” Lha, sekarang dia menghela nafas panjang. Tingkahnya aneh sekali. “Kyu, bagaimana sih rasanya jatuh cinta?”

Aish, aku seperti berurusan dengan anak berumur sepuluh tahun yang masih polos dan belum tahu apa-apa. Aku baru ingat kalau dia mnghabiskan waktu bertahun-tahun dalam rumah sakit ini sehingga belum menemukan seseorang yang dia cintai. Susah ya menjelaskannya. “Ng… jatuh cinta itu… Ng… saat kau merasa benar-benar senang ketika didekatnya tetapi kau tidak bisa menjelaskan kenapa kau merasa senang dengan cukup berada didekat orang yang kau cintai. Juga pada saat kau menyukai seseorang tetapi tidak bisa menjelaskan bagian mana dari orang tersebut yang kau sukai.”

“Penjelasanmu standar sekali, Kyu! Padahal aku berharap mendapat penjelasan yang lebih bagus dari orang yang berpacaran!”

“Siapa yang berpacaran?”

“Kau!”

“Dengan siapa?”

“Yoona Onnie!”

“Enak saja! Siapa yang berpacaran dengannya? Dia hanya temanku di paduan suara yang kubilang tadi siang.”

Muka Haera terlihat lebih ceria dan sekarang barulah dia tersenyum dengan tulus seperti senyumannya yang biasa. “Sukurlah..”

“Hey anak aneh, kenapa kau malah bersukur? Jangan-jangan kau menyukaiku ya? Wah, aku hebat sekali bisa memikat cewek bahkan tanpa harus menunjukkan wajahku. Hey bagaimana kalau ternyata wajahku jadi sangat jelek, apa kau akan tetap menyukaiku?”

BLETTAAKKK!! Aww, kejam sekali dia saat menjitak kepalaku. BENAR-BENAR menyakitkan apa jangan-jangan dia balas dendam dari jitakanku ke kepalanya tadi siang ya? “Cih, aku yakin kalau wajahmu benar-benar jelek! Jelek sekali!”

“Kita lihat saja nanti. Sebentar lagi kan balutan wajahku akan dibuka!”

Sekarang mukanya bersedih lagi. Argh, yeoja memang makhluk yang benar-benar aneh. Bisa terlihat senang tetapi satu detik kemudian berubah kembali sedih. “Ah ya, aku bertaruh kalau wajahmu benar-benar jelek!”

“Enak saja! Kalau begitu kau harus jadi orang pertama yang melihat wajahku begitu perban ini dibuka! Dengan begitu kau bisa melihat ketampananku!”

“Benar ya! Janji!”

“Janji!” Kami saling mengaitkan kelingking sebagai tanda janji. “Kita harus sama-sama menemui Jaejoong songsaenim dokter bedah plastikku kalau begitu.”

Haera mengangguk lalu mengusirku keluar dari ‘wilayah’-nya. “Baiklah kalau begitu mumi Kyu. Aku mau tidur!”

Oke, baiklah. Aku berdiri disamping tempat tidur Haera kemudian membantu Haera memasang selimutnya. Aigho, dia terlihat seperti putri berwajah pucat saat dia terbaring dengan rambut tergerai seperti ini. Tanpa sadar aku malah membelai rambutnya dengan hati-hati.

Haera berbalik sehingga wajahnya menghadap kearah yang berlawanan denganku. Tapi aku tetap membelai rambutya. “Kyu…”

“Mm?”

“Aku tidak peduli bagaimanapun bentuk wajahmu nanti. Kau orang yang menyenangkan. Aku selalu senang tiap kali berada disampingmu. Bagaimanapun wajahmu nanti, kau akan selalu menjadi orang yang membuatku nyaman.”

Aku tetap membelai rambutnya dengan lembut dan hati-hati. “Terimakasih. Tetapi wajahku itu memang benar-benar tampan lho!”

“Kyu..”

“Ada apa lagi?”

“Kalau dadamu sakit, terasa terbakar. Kemudian kau juga tidak suka melihat seseorang bersama dengan orang lain yang merupakan lawan jenisnya. Apa itu yang namanya cemburu? Cemburu itu juga merupakan tanda cinta bukan?”

“Hey anak aneh, kau benar-benar sedang ngelindur ya?”

“Lupakan… nyam.. nyam…” Ya ampun, ternyata dia benar-benar sudah tertidur dan sedang ngelindur. Omo, cepat sekali! “Kau anggota paduan suara bukan? Nyanyikan lagu nina bobo untukku donk!”

Aku tak peduli kalau Haera ternyata memang sedang ngelindur. Aku duduk di kursi yang tak jauh dari tempat tidur Haera dan mulai bernyanyi lagu Should I confess to you. Baiklah, berhubung aku sedang menyanyikan lagu tentang pengakuan, sebaiknya aku juga membuat pengakuanku.

Haera, pertama kali aku datang kesini aku sedang dalam keadaan koma. Antara hidup dan mati. Mungkin sebenarnya aku memang harus mati, tetapi ada sesuatu yang menyuruhku untuk tetap hidup. Apa Tuhan membiarkanku hidup untuk menemanimu disini Haera? Apa pertemuan kita ini memang Tuhan yang mengaturnya?

Haera, selama berada di rumah sakit ini aku sama sekali tidak pernah merasa kesepian. Selain keluarga dan teman-temanku yang datang menjengukku, kau juga selalu ada disisiku. Rasanya menyenangkan. Tak terbayangakan jika tidak ada mereka dan tidak ada kau. Kalau aku hanya sendiri disini, bisakah aku memahami perasaan kesepianmu yang bertahun-tahun sendirian di rumah sakit ini? Bisakah aku memahami perasaanmu yang sudah sering melihat orang-orang sakit lalu kemudian sembuh, datang dan pergi dari rumah sakit ini. Bisakah aku memahami perasaanmu yang sudah beberapa kali melihat kematian orang lain? Bisakah aku memahami perasaanmu yang sedang bersiap untuk menghadapi kematian itu sendiri?

Sekarang kau disini putri wajah pucat. Sekarang aku bisa membelai rambutmu seperti ini. Hey putri wajah pucat, kau sedang memimpikan apa sekarang? Bolehkah aku melihat mimpimu? Bolehkah aku masuk ke mimpimu? Bolehkah aku memasuki duniamu dan memenuhi pikiranmu dengan sosokku?

Umma.. Appa.. boggoshippoyo..” Ah, ternyata kau sedang merindukan kedua orang tuamu ya, putri wajah pucat.

Umma… Appa….” Suara Haera terputus-putus. Sesekali napasnya tersengal-senggal. Aku mulai curiga begitu melihat bibirnya memutih dan bulir-bulir keringat dingin mengalir dari dahinya. Kusentuh dahinya, panas sekali!

Aku menekan bel pemanggil suster beberapa kali dengan harapan suster yang mendengarnya bisa langsung tiba disini.

Suster Taemin mendekat dan segera memanggi dokter kemudian bersama-sama memeriksa keadaan Haera. Haera, bertahanlah! Kau sudah janji untuk melihat wajahku!

************

(Kyuhyun POV)

“Waktunya membuka perban di wajahmu, Kyu!” Jaejoong songsaenim dan seorang suster sudah siap dengan peralatannya. Sebenarnya akupun ingin cepat-cepat membuka perban ini. Selain panas, perban ini juga membuatku gatal meskipun sudah diganti berkali-kali. Lagipula aku juga tidak sabar melihat bentuk wajahku. Setiap kali ganti perban aku tidak mau melihat wajahku karena aku terlalu takut melihat wajahku yang cedera dan penuh luka.

Aku menatap ke tempat tidur di sebelahku. Ada Haera yang masih terbaring disana. Dia benar-benar menjadi putir tidur. Sudah lima hari dia terlelap seperti itu. Aku mulai khawatir. Tetapi suster Taemin bilang dia tidak apa-apa, hanya tertidur saja.

Tubuhnya terlalu lemah untuk bangun. Ditambah lagi dia juga sempat demam tinggi. Tak usah khawatir Kyuhyun-ssi.” Begitulah kata Suster Taemin. Tetapi.. Haera, bangunlah. Bukankah kau sudah berjanji untuk mejadi orang pertama yang melihat wajahku?

“Kyuhyun-ssi..” Jaejoong ssongsaenim kembali memanggilku.

“Baik songsaenim. Silahkan buka perbanku.”

Makin lama gulungan kain putih yang dilepas dari wajahku semakin banyak dan wajahku juga terasa lebih ringan. Makin lama aku semakin merasakan sensasi sejuk menggelitik wajahku yang sudah berminggu-minggu diperban. Perlahan kubuka mataku dan aku langsung melihat cermin didepanku dan… Puji sukur, wajahku terlihat sempurna sekali bahkan tidak sedikitpun terlihat seperti pernah mengalami kecelakaan.

“Bagus bukan hasilnya?” Jaejoong songsaenim tersenyum puas. “Sebaiknya lain kali kau berhati-hati, Kyuhyun-ssi.”

Ne! Khamsa hamnida, songsaenim!

Lagi-lagi aku melihat kearah Haera. Haera, apa kau tidak ingin terbangun untuk melihatku? Apa kau tidak ingin berbicara dan mengucapkan selamat padaku? Apa kau tidak merindukanku?

=====

Sudah sepuluh hari Haera terbaring…

Dan dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin bangun. Haera, cepatlah bangun. Besok aku harus segera kembali ke dorm super junior tempat tinggalku. Kalau kau bangun, aku akan menceritakan banyak hal tentang diriku termasuk bahwa aku adalah anggota super junior boyband yang sedang naik daun.

=====

Hari ke lima belas sejak Haera terbaring…

“Ya! Kyuhyun!” Shindong hyung memanggilku dengan sedikit membentak. “Apalagi yang kau tunggu? Cepatlah, mobil jemputan sudah menunggu didepan rumah sakit.”

“Tapi hyung….” Haera, putri wajah pucat, kenapa kau masih belum bangun juga? Cepatlah bangun, aku harus segera pergi. “Aku sudah janji untuk menunjukkan wajahku pada Haera.”

Shindong hyung tampaknya sedikit iba padaku tetapi dia menaikkan pundaknya. “Tidak ada waktu lagi Kyuhyun. Kau harus bersiap dengan super junior M. Kau bahkan sudah menunda kepulangan selama lima hari. Kau tahu sendiri kata suster, anak itu bahkan pernah tertidur selama sebulan. Kenapa tidak kau berikan saja foto wajahmu?”

Aku menggeleng, “tidak hyung, dia harus melihat wajahku secara langsung.”

“Sudahlah Kyu, kau kan juga bisa mengunjunginya sekali-kali.”

Shindong hyung benar. Aku harus sering kesini. “Hyung, turunlah duluan. Nanti aku akan menyusul.”

Setelah Shindong hyung pergi, aku berjalan mendekati tempat Haera terbaring. Mukanya masih saja pucat. Meskipun begitu dia tertidur sambil tersenyum, manis sekali.

“Kyu…” Ah, dia menyebutkan namaku dalam tidurnya. Aku senang sekaligus sedih mengingat aku harus meninggalkannya sekarang.

Kubelai rambutnya seperti waktu aku menidurkannya waktu itu. Aku mendekatkan bibirku kearah dahinya yang halus dan menciumnya dengan lembut. “Aku disini Haera. Boggoshippo. Kau tega sekali membiarkanku bosan selama lima belas hari. Kau tahu rasanya seperti apa? Walaupun ada teman-temanku, tapi aku tetap merasa bosan tanpa suara cerewetmu itu!”

Ah, sudah lebih dari lima menit aku berada disini, sebaiknya aku mempercepat acara pamitan ini. Sekali lagi aku mencium ubun-ubun Haera “Haera, aku pergi dulu. Anyyeong!”

Suster Taemin masuk kedalam ruangan ini untuk memeriksa Haera. Tak lupa aku berpamitan dan mengucapkan terimakasih pada suster Taemin. Aku juga menitipkan Haera padanya dan berpesan agar menjaga Haera dengan baik. Suster Taemin hanya mengangguk dan berkata kalau itu memang tugasnya.

Selamat tinggal, Haera…

***********

(Author POV)

Ruangan yang ditempati Haera kembali terlihat kosong. Hanya ada Haera dan Suster Taemin yang sedang memeriksa keadaan ‘putri tidur’ didepannya. Suster Taemin menatapnya iba tetapi tidak ada yang bisa dilakukanna untuk membangunkan ‘putri tidur’ itu.

“Kyu..” Sang putri tidur kembali bergumam, tetapi gumamannya kali ini juga disertai dengan gerakan dahi yang mengernyit. Tak lama kemudian putri tidur itu akhirnya terbangun dan membuka matanya. “Kyu….”

“Kau sudah bangun, Haera? Bagaimana keadaanmu? Bagaimana perasaanmu?”

Haera bangkit dan bukannya berada dalam posisi berbaring, Haera justru duduk di kasurnya. Dilihatnya tempat tidur di sebelahnya yang terlihat kosong dan bersih. “Mana Kyu?”

“Kyuhyun-ssi…” Suster Taemin tampak ragu-ragu menjawabnya. “Dia baru saja pulang sesaat sebelum kau sadar. Balutan di wajahnya juga sudah dibuka. Ternyata dia memang tampan sekali. Oh ya, dia juga menitip pesan padaku untuk mengucapkan terimakasih dan maaf padamu.”

Suster Taemin membereskan peralatannya dan bersiap pergi. “Panggil aku jika kau butuh sesuatu, Haera.”

Pikiran Haera tidak merespon terhadap apa yang dikatakan oleh Suster Taemin. Dia hanya menatap kosong kearah kasur disebelahnya, tempat tidur yang biasanya ditempati oleh Kyu. Tak terasa air mata mulai mengalir dari kedua matanya. Padahal sebelumnya dia sama sekali tidak pernah menangis pada saat seseorang pergi dari rumah sakit ini.

“Kyu… kau jahat…”

**********

(Kyuhyun POV)

Tiga bulan kemudian…

Bandara Incheon tampaknya belum banyak berubah sejak terakhir kali aku melihatnya. Huwah, akhirnya aku kembali juga ke Korea setelah tiga bulan terbang ke Cina untuk proyek super junior M. Aku ingin cepat-cepat bertemu dengan member super junior yang lain. Terutama Sungminnie ^^

Mobil jemputan kami sudah tiba. Sementara anggota super junior M yang lain bergiliran naik mobil itu, aku sendiri mengambil taksi dan memilih tidak bergabung dengan mereka.

“Hyung!” Aih, senangnya ada yang memanggilku hyung. Inilah keasyikan saat bergabung dengan super junior M, akhirnya ada juga yang memanggilku ‘hyung’! di suju M akan ada Henry yang umurnya lebih muda dariku. “Kau mau kemana?”

Tanpa sadar bibirku menyunggingkan senyum saat membayangkan sosok yang akan kudatangi. Selain keluarga dan member super junior yang lain, ada satu sosok lagi yang kurindukan. “Rumah sakit.”

“Memangnya kau sakit, hyung? Tubuhmu terasa melemah lagi?”

“Tidak.. Kau duluan saja ke dorm. Bilang pada mereka aku akan segera kesana setelah urusanku selesai!”

**********

(Kyuhyun POV)

Rumah sakit ini sepertinya juga tidak berubah. Kenangan di rumah sakit ini seperti menghampiriku setiap kali aku melangkahkan kaki di koridornya yang sangat bersih. 78 hari yang pernah kulewati disini membuatku tidak asing dengan bau alkohol yang sebenarnya menyengat hidungku.

Akhirnya aku memasuki jajaran ruang rawat inap. Aku menghitung dalam hati untuk setiap pintu yang kulewati. Satu… dua… tiga… empat… ah, ini dia kamar nomor tujuh dari ujung koridor. Semoga dia yang kurindukan masih berada disini.

Krreeettt… pintu ruang rawat berdencit ketika kubuka. Ruangan itu kosong, tidak ada orang didalamnya kecuali peralatan dan tempat tidur di kamar ini. Seperti yang kuingat, ada tiga tempat tidur disana dan tempat tidur yang paling ujung memiliki rak buku, lemari, dan meja yang berwarna-warni. Tidak ada yang berubah kecuali rak buku warna-warni itu yang isinya semakin dipenuhi oleh novel-novel roman. Isi bukunya kebanyakan tidak asing lagi bagiku, kecuali buku-buku baru yang belum pernah kulihat.

Aku mengambil salah satu buku disana. Ada novel new moon disana. Ah ya, ini novel yang sedang dibacannya sebelum dia kehilangan kesadarannya waktu itu. Ah, apakah dia sudah selesai membacanya? Sepertinya sudah karena diatas tempat tidur itu sekarang ada novel eclipse yang merupakan lanjutan novel new moon.

“Kyuhyun-ssi?” Sreet, aku berbalik dan melihat yeoja yang sangat kukenal berdiri disana tersenyum menatapku.

Anyyeong hasseo, suster Taemin. Lama tak berjumpa.”

Suster Taemin tersenyum lagi lalu kemudian membereskan tempat tidur disana, “Ada keperluan apa kemari? Sudah lama sejak kau pergi darisini.”

“Haha, begitulah suster. Aku sangat sibuk.” Aku menatap suster Taemin yang masih saja menyambutku ramah. “Oh ya suster, bagaimana keadaan Haera? Apa Haera bisa kutemui.”

“Keadaannya tidak begitu baik.” Kenapa kau tersenyum kecut, suster Tae? “Mungkin sebaiknya kau bersiap sebelum menemuinya.”

**********

(Kyuhyun POV)

Suster Tae membawaku ke taman rumah sakit kemudian menunjuk sosok yang sedang duduk dengan pandangan kosong di bangku sudut taman itu. Dari jauh aku tidak mengenalinya tetapi semakin mendekat ke sosok itu aku yakin kalau itu Haera!

Benar kata suster Tae, keadaan Haera tidak begitu baik. Tubuhnya semakin kurus, wajahnya semakin pucat, dan rambutnya hampir tak terurus. Bagaimana bisa keadaannya menurun begitu drastis hanya dalam jangka waktu tiga bulan? Duduk diam dengan pandangan mata yang kosong seperti itu membuatnya terlihat seperti mayat hidup.

Aku menyentuh bahunya berharap saat dia menoleh aku akan bisa melihat senyum yang begitu kurindukan. Senyum bahagia yang terpancar dengan begitu tulus. Tetapi kenyataannya, begitu dia berbalik…

Bukan senyman ramah yang kulihat, bukan mata jahil yang dulu selalu dapat membuatku tertawa, bukan pula bibir manis yang dulu selalu mengataiku ‘mumi Kyu’. Yang kulihat adalah bibir asingyang menggumamkan, “Jangan mendekatiku kalau nantinya kau akan menjauhiku!”

“Ta.. tapi aku….”

Dari matanya yang sudah berkantung dan menghitam di sekitar matanya itu mengeluarkan air mata. Air mata kepedihan yang bahkan dengan melihatnyapun kalian akan tahu kalau air mata itu berasal dari penderitaan yang amat pedih. “Bagian mana dari kata ‘jauhi aku’ yang tidak kau mengerti? Kenapa orang-orang yang berada didekatku selalu akan menjauhiku pada akhirnya?”

Aku segera duduk disebelahnya dan memeluknya dengan erat. Haera, miyanhae.. jeongmal miyanhae.. Apakah ini penderitaan yang diakibatkan oleh kepergianku? Haera, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membiarkanmu merasa ditinggalkan. Maaf aku baru bisa mengunjungimu sekarang. Maaf.. Aku bermaksud mengatakan itu semua tetapi kata-kata itu tertahan di bibirku. Jadi aku hanya diam sambil membiarkannya menangis di pelukanku.

**********

Setengah jam sudah dia menangis di pelukanku. Dan dalam setengah jam itu pula aku tidak melakukan apa-apa kecuali memeluknya dan mengusap-usap ubun-ubunya. Rambutnya, rambutnya semakin tipis saja. Apakah ini juga dikarenakan oleh penyakitnya itu?

“Hiks… hikss..” Haera melepaskan diri dari pelukanku dan mengusap matanya dengan kasar. “Miyanhae aku menangis didepanmu, orang asing. Tapi aku tidak main-main dengan kata-kataku tadi, sebaiknya kau menjauhiku kalau nantinya kau juga akan pergi dariku. Aku lelah dengan orang-orang yang datang, pergi, kemudian tidak pernah kembali.”

Orang asing? Dia memanggilku ‘orang asing’? Bukan ‘mumi Kyu’? Ah ya, aku baru ingat kalau dia sama sekali belum pernah melihat sosokku yang sebenarnya tanpa balutan perban. “Ta.. tapi aku tidak bermaksud begitu.”

“Hahaha, tentu saja bukan kau, orang asing!”

“Lalu, siapa yang membuatmu seperti ini?” Lagi-lagi Haera tampak seperti akan menangis. Haera-ya, jangan.. Kumohon jangan kau teteskan lagi air mata kesedihan itu. “Miyanhae aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Tak usah dijawab kalau begitu.”

“Kyu….” Tatapan kosong itu lagi! Ketika dia kembali ke kesadarannya, Haera langsung pergi darisana meninggalkanku yang masih bertanya-tanya tentang maksudnya saat menyebut namaku dengan pandangan kosong yang menyedihkan.

**********

(Kyuhyun POV)

Lagi-lagi aku datang ke rumah sakit ini setelah kemarin Haera menolak dan bahkan tidak memberiku kesempatan untuk sekedar memperkenalkan diriku sebagai Kyu atau mumi Kyu yang dulu pernah dikenalnya. Tetapi selain untuk menemui Haera, ada satu orang lagi yang harus kutemui disini.

“Anyyeong hasseo, suster Taemin.”

“Ah Kyuhyun-ssi?”

Aku dan suster Taemin berbicara berdua saat jam istirahat makan siangnya. Kami berdua berada di kantin rumah sakit dan duduk pada posisi saling berhadapan. Terpaksa aku menemuinya disini karena aku tidak tahu tempat yang lebih pribadi untuk menemuinya. Aku butuh tempat pribadi karena aku ingin membicarakan sesuatu yang pribadi dengannya. Yang aku tahu, suster  Taemin merupakan suster yang sering menjaga Haera dan aku yakin kalau hubungan dia dan Haera bukan lagi sekedar pasien dan susternya. Mereka sudah sangat dekat. Karena itu aku memutuskan untuk membicarakan hal ini pada suster Tae.

“Langsung saja suster…” Mendadak aku jadi agak ragu untuk mengatakannya. Tetapi.. tidak Kyu, kau harus membicarakannya! “Apa yang terjadi pada Haera?”

“Kalau kau bertanya mengenai kondisi fisiknya, jujur saja keadaannya tidak begitu baik. Keadaannya menurun drastis dan daya tahan tubuhnya melemah. Terutama sejak…. kau tahu, sejak kau meninggalkannya pergi waktu itu.”

Sejak aku pergi? Apa itu berarti akulah penyebab semua kesedihannya? “Apa…”

“Kyuhyun-ssi, jujur saja aku kecewa terhadapmu!” Suster Tae memotong perkataanku sebelum aku sempat mengatakan apa-apa. “Belum pernah kulihat Haera seceria itu, saat kau bersamanya dulu! Belum pernah dia merasa hidup kecuali saat kau bersamanya! Kau tentu sudah pernah merasakannya bukan betapa bosannya terkurung di rumah sakit berhari-hari. Bayangkan dia yang sudah terkurung BERTAHUN-TAHUN! Dan dia tidak pernah merasa bosan saat sedang berada didekatmu!”

“Aku minta maaf, suster.”

“Sejak kau meninggalkannya, dia tidak pernah menyebut namamu lagi. Dia tidak banyak bicara dan jarang tersenyum. Dia selalu menolak untuk membicarakanmu meskipun pada malam hari aku selalu mendengar dia mengigaukan namamu. APA KAU BISA MEMBAYANGKAN KESEDIHANNYA?”

Jeongmal miyanhae.” Aku menundukkan kepalaku sedalam-dalamnya. “Aku benar-benar minta maaf.”

Pandangan mata yang mengasihani diriku terpancar dari mata Suster Taemin. Suster Taemin menghela nafas, “Kau tidak harus meminta maaf padaku, Kyu. Kau harus meminta maaf pada Haera. Mungkin akan sulit bagimu karena sepertinya Haera sekarang sangat membencimu.”

Akan sulit bagimu karena sepertinya Haera sekarang sagat membencimu. Kata-kata itu betul-betul menancap didadaku. Membenciku? Apa Haera benar-benar benci padaku? Haera, jeongmal miyanhae. Aku tidak bermaksud pergi secara tiba-tiba. Tapi pekerjaankulah yang memaksaku untuk pergi dan tidak kembali selama tiga bulan ini.

Suster Taemin bangkit dan menepuk pundakku sebelum dia pergi kembali ke pekerjaannya, “Baik-baiklah pada Haera. Dokter bilang umurnya tidak akan lama lagi. Buatlah agar dia menikmati hidupnya di hari-hari terakhirnya.”

**********

(Kyuhyun POV)

“Anyyeong hasseo..” Aku menghampiri Haera lagi-lagi sewaktu dia berada di bangku taman rumah sakit. Sebelumnya aku sudah mencarinya di kamarnya, tetapi tidak ada. Selain kamarnya, tentu tempat lain dimana kita bisa menemukannya adalah taman rumah sakit. “Kita berjumpa lagi.”

Haera menatapku dengan enggan lalu kemudian memalingkan pandangannya lagi kearah lain. “Ah kau, orang asing yang kemarin lagi.”

“Enak saja memanggilku ‘orang asing’! Aku juga punya nama tau! Namaku….” Aku terdiam sebentar memperhatikan bola mata hitam yang sedang memperhatikanku. Bagaimana kalau mata itu berubah menjadi sedih kembali jika aku menyebutkan nama asliku? Bagaimana jika mata itu berubah merah dan menunjukkan kalau dia membenciku? Bukankah Suster Tae bilang kalau dia membenciku sekarang?

“Namaku Hankyung.” Aish, aku refleks menyebutkan nama Hankyung hyung. Tapi rasanya tidak apa-apa mengingat Hankyung hyung belum pernah menemui Haera sebelumnya dan lagi Haera masih belum pernah melihat wajah ‘Kyu’ yang sebenarnya sehingga dia tidak akan megenaliku. Lagipula aku juga ingin memulai hubungan yang baru dengan nama yang baru pula.

Haera tampak cuek dan melanjutkan membaca novel eclipse-nya. Ah, apa yang harus kulakukan agar dia melihatku? Kenapa dia benar-benar tidak menghiraukanku? Haera, ayo tatap mataku sekali lagi, berpaling padaku sekali lagi dan aku janji untuk tidak meninggalkanmu seperti dulu lagi.

“Aku disini untuk membesuk Appa-ku. Appa juga dirawat disini jadi sepertinya aku bakal sering kemari.” Kebohongan tingkat super. Tentu saja, Appaku sehat-sehat saja dirumah! Ini hanya alasan agar aku bisa menghampirinya setiap hari.

Apapun yang kukatakan Haera tetap mengacuhkanku dan tetap sibuk dengan novel eclipse-nya. Tapi aku idak menyerah, aku tetap berbicara meskipun dia mengacuhkanku dan tidak merespon sama sekali. Haera, beginikah rasanya diacuhkan? Apakah kau juga seperti ini? Berbicara sendiri padaku sewaktu aku tidak bisa berbicara? Tentu saja, kau tetap berbicara waktu itu Haera, meskipun aku tidak bisa merespon ucapanmu. Sekarang begni jualah yang aku lakukan padamu. Kadang-kadang aku kehilangan topik, dan jika sudah begitu maka aku akan berbicara tentang apapun yang terlintas di pikiranku.

“Oh ya, kau tahu boyband super junior? Nah, itu dia pekerjaanku. Aku adalah salah satu anggota super junior.” Haduh! Kacau! Kenapa aku sampai keceplosan! Ini gara-gara aku sudah kehabisan topik tadi. Semoga Haera tidak menyadari kalau aku menyebut sesuatu tentang super junior.

Ternyata dugaanku salah. Haera menutup eclipse-nya dengan kasar kemudian akan beranjak pergi. “Aku tidak tahu apa-apa tentang super junior, jadi bisakah kau berhenti berbicara?”

Aish, ternyata dia ingat dengan jelas bagian super junior itu. Semoga dia tidak bohong saat dia bilang kalau dia tidak tahu tentang super junior. Semoga….

***********

(Kyuhyun POV)

Setiap hari… hampir setiap hari jika ada waktu aku pasti mampir ke kamar Haera untuk ‘berbicara dengan diriku sendiri’. Pernah suatu hari dari pagi sampai sore aku berada disana hanya untuk menjadi ‘DJ Radio’. Haera masih tidak mengacuhkanku. Hanya sesekali dia berkata ‘Ooh..’ atau ‘Arrasou..’. Hanya itu reaksinya!

“Haera..” Panggilku saat dia sibuk dengan novel Breaking dawn seri terakhir dari Twilight saga. “Selain Twilight saga adakah novel lain yang ingin kau baca? Aku bisa membelikannya diluar kalau kau mau.”

“Tidak ada.” Jawabnya pendek. Pendek sekali malahan!

Arrasou..” Aku manggut-manggut dan sibuk memikirkan topik selanjutnya. Selagi aku berpikir, sebuah pesan masuk ke HP-ku. Dari Sungminie!

Yak! Kyuhyun! Dimana kau?! Anggota super junior M sudah menunggumu untuk latihan! Kau pasti ada dirumah sakit ditempat Haera bukan? Aku, Siwon, dan Hankyung hyung sudah berada didepan rumah sakit untuk menyeretmu! Sekalian aku bertemu dengan Haera yang manis itu, sudah lama aku tidak bertemu dengannya ^^ Aku ajak Siwon dan Hankyung hyung juga, mereka penasaran dengan Haera!”

Gawat!

***********

(Haera POV)

Sampai hari ini Hankyung-ssi si orang asing yang aneh itu masih saja menghampiriku meskipun aku sudah berusaha keras untuk mengacuhkannya. Kenapa dia begitu keras hati mendekatiku? Memang apa asiknya berakrab-akrab ria dengan anak yang sudah divonis ‘hampir mati’ oleh dokter ini?

Sampai hari ini aku masih menganggap Hankyung-ssi itu orang yang aneh. Dia bilang Appa-nya dirawat disini. Tetai kenapa dia justru menghabiskan waktunya di rumah sakit untuk bersama denganku? Kenapa dia tidak bersama dengan Appa-nya?

Oh ya, Hankyung-ssi pernah menyebut sesuatu tentang super junior yang katanya boyband yang sedang naik daun. Aku tidak tahu apa-apa tentang super junior karena aku tidak pernah menonton TV atau mendengarkan radio. Jadi apakah Hankyung-ssi memang seorang artis? Kalau ya, bagaimana bisa dia memiliki banyak waktu untuk mengunjungiku?

Lalu satu hal lagi yang selalu kuperhatikan diam-diam dari Hankyung-ssi. Suaranya.. Suaranya yang sedang bercuap-cuap ketika berhadapan denganku. Suaranya mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang selalu hadir di mimpiku setiap malam.

Raut wajah Hankyung-ssi terlihat panik saat dia menerima sebuah pesan di HP-nya. Keningnya berkerut dan tangannya menggenggam erat HP-nya.

“Haera-ssi, aku permisi dulu. Ada yang harus kukerjakan.”

Ne.. silahkan Hankyung-ssi.”

Setelah itu Hankyung-ssi berlari terburu-buru keluar dari kamarku. He? Dia kenapa? Apa terjadi sesuatu dengan Appa-nya? Aku jadi penasaran. Hoop, aku bergerak mengambil kursi rodaku. Kakiku lemah sekali untuk dipakai berjalan tapi kalau untuk ‘berjalan-menuju-kursi-roda’ aku masih bisa meskipun tertatih-tatih.

Aku memutar kursi rodaku di sekitar koridor rumah sakit berharap menemukan sosok Hankyung-ssi. Lama aku berputar-putar akhirnya aku bisa mendengar suara Hankyung-ssi.

“Kumohon Sungminnie, kau tidak bisa menemui Haera sekarang. Nanti akan kujelaskan alasannya tapi untuk sekarang kau tidak bisa bertemu dengannya.” Itu Hankyung dan dia menyebut-nyebut namaku. Aku memarkir kursi rodaku jauh dari Hankyung. Aku memastikan agar Hankyung tidak bisa melihatku tetapi aku bisa melihat dan mendengarkan mereka.

Hankyung-ssi sedang berbicara dengan tiga orang namja, yang satu tinggi kurus, yang satu tinggi berotot, dan yang satu lagi… Tunggu! Bukankah itu Sungmin oppa? Sungmin oppa yang pernah membesukku dulu? Sungmin yang merupakan chingu-nya…..

“Kyu…” Tanpa sadar aku menggumamkan nama itu. Nama yang aku sendiri takut untuk menyebutkannya. Takut apabila aku menyebutkannya maka hatiku akan terasa hampa akibat kerinduan yang amat sangat.

Tak salah lagi, itu memang Sungmin oppa. Lagipula tadi Hankyung-ssi memanggilnya dengan ‘sungminnie’. Kalau itu memang Sungmin oppa, kenapa dia bisa mengenal Hankyung-ssi? Apa itu berarti Hankyung-ssi juga mengenal…. orang yang membuat hatiku hampa?

Aku melihat Hankyung-ssi menatap mata namja yang tinggi dan kurus itu. Tampaknya Hankyung-ssi sedang berbicara padanya. “Miyanhae Hankyung hyung, Siwon hyung, miyanhae kalian tidak bisa berkenalan dengan Haera sekarang. Sebentar lagi aku akan menyusul ke tempat latihan super junior M.”

EH??? KENAPA INI??? Kenapa Hankyung-ssi memanggil si tinggi kurus dengan panggilang ‘Hankyung hyung’? Sebenarnya siapa yang bernama Hankyung?

Kali ini si tinggi berotot menepuk pundak orang-asing-yang-kukenal-sebagai-Hankyung, “Baiklah kami pulang duluan ya, Kyuhyun.”

MWO??!!!!!

**********

Orang-asing-yang-kukenal-sebagai-Hankyung itu sudah berpamitan untuk pergi ketika dia selesai berbicara dengan dua namja asing dan Sungmin oppa. Dia sama sekali tidak curiga padaku yang sebenarnya sudah mendengar percakapan mereka barusan.

Tadi mereka sempat menyebut-nyebut soal super junior M bukan? Ah, apa itu super junior sebenarnya? Kenapa aku merasa seperti sedang terlibat bersama orang-orang super junior sejak awal cerita ini dimulai?

Aku menekan bel untuk memanggil suster. Untung bukan suster Taemin yang menghampiriku. Aku malas kalau Suster Taemin yang menghampiri, dia selalu banyak bertanya. Kali ini yang menghampiriku adalah seorang suster yeoja yang tampaknya masih uda, Alah, paling dia cuma suster magang.

“Ada yang bisa kubantu, Haera-ssi?”

Ne, suster, bisa tolong belikan majalah atau tabloid apa saja yang membahas tentang super junior?”

“Baik Haera-ssi. Ditunggu.”

Aish.. kepalaku jadi sakit sekali.. Siapa dia sebenarnya? Dia bilang namanya Hankyung, tapi kenapa dia memanggil orang lain dengan nama Hankyung? Lagipula si namja tinggi dan berotot tadi memanggilnya dengan nama Kyuhyun. Jangan-jangan…..

“Permisi. Haera-ssi, ini majalah pesananmu.”

Aku menerima majalah yang sampul depannya bergambar super junior. Dan betapa kagetnya aku ketika beberapa wajah yang ada di sampul itu tidak asing lagi bagiku. Sungmin oppa, Donghae oppa, Yesung oppa, Eunhyuk oppa, Heechul oppa, Ryeowook oppa.

“Ehem, maaf  Haera-ssi, bukan maksudku untuk mencampuri urusanmu. Aku hanya penasaran saja, kenapa tiba-tiba kau tertarik dengan super junior?”

Cih, ternyata suster muda ini sama saja seperti suster Taemin, selalu ikut campur tentang urusanku. “Tidak ada apa-apa suster, aku hanya penasaran saja kenapa orang-orang sering sekali menyebut super junior. Apa kau tahu tentang mereka suster?”

Muka suster itu mendadak memerah. “Tentu saja aku tahu. Begini-begini aku adalah E.L.F.”

“E.L.F?”

Lagi-lagi muka suster ini memerah, “Everlasting Friends. Fangroup penggemar super junior.”

“Kalau begitu suster pasti mengenal para anggota super junior bukan?”

“Tentu!”

“Kalau begitu, yang ini siapa namanya?” Aku menunjuk wajah milik si tinggi berotot yang tadi sempat kulihat wajahnya.

“Choi Siwon.”

“Baiklah.. Kalau yang ini?” kali ini aku menunjuk wajah milik si tinggi kurus yang tadi dipanggil Hankyung.

“Waw, kau menunjuk namja tampan pilihanku. Dia satu-satunya anggota super junior yang berasal dari Cina. Namanya Hankyung.”

Deg! Kalau dia yang bernama Hankyung, lalu siapa namja yang selalu menemuiku yang mengaku bernama Hankyung itu? Tanganku bergetar menunjuk sosok yang tersenyum manis yang berdiri didekat Sungmin Oppa. “Ka… kalau yang ini..”

“Kyyaaa!!! Dia member super junior favoritku. Dialah si maknae super junior yang baru-baru ini mengalami kecelakaan mobil yang cukup parah. Dialah Cho Kyuhyun.”

**********

(Haera POV)

“Anyyeong Haera-ssi, selamat malam.” Dia lagi dia lagi! Padahal kan sekarang sudah malam dan sebentar lagi suster Taemin pasti masuk ke kamarku dan bilang kalau aku sudah harus tidur. Kali ini dia membawa sebuah novel untukku. Novel percintaan lainnya.

Aku menatap sosok itu dengan ragu-ragu. Benarkah kalau nama aslinya adalah Kyuhyun? Bukan Hankyung seperti yang dia bilang? Apakah dia si mumi Kyu yang selalu kurindukan itu? Apakah dia Kyu yang membuatku cemburu? Apakah dia memang Kyu yang membuatku merasakan cinta untuk yang pertama kalinya?

Tapi.. aku tidak mau memanggilnya ‘Kyu’ untuk sementara. “Anyyeong, Han.. Hankyung-ssi.”

**********

(Kyuhyun POV)

“Annyyeong, Han.. Hankyung-ssi.” Ada apa dengan Haera? Sepertinya dia tegang sekali saat menyebut ‘Hankyung’? Apakah ada sesuatu yang tidak kuketahui?

Aku tersenyum dan menyerahkan sebuah novel percintaan berjudul con te partiro. Judulnya memang ditulis dalam Bahasa Itali, artinya adalah bersamamu. Aku sudah membaca novel itu disini dan kupikir itu adalah novel yang bagus dan menarik yang disajikan dengan bahasa yang ringan. “Untukmu Haera. Kuharap kau belum membacanya sehingga aku jadi tidak sia-sia membawakannya untukmu.”

Haera menerimanya dengan tangan bergetar. Omo, apakah kondisinya sudah semakin lemah? Dia menerima novel itu dengan wajah yang kecewa bahkan waktu pertama kali melihat sampulnya. “Gomawo (terimakasih) Hankyung-ssi.”

Cheonmanayo (sama-sama).”

“Hhh…” Tuh kan! Sepertinya Haera benar-benar kecewa! Buktinya dia menghela nafas panjang seperti itu. “Novel percintaan lagi..”

“Kenapa? Ada yang salah dengan novel percintaan? Bukankah kau suka novel percintaan?”
Haera menggeleng, “Hanya Umma-ku saja yang rajin mengirimkan novel percintaan. Aku membacanya karena tidak ada bacaan lain yang bisa kubaca. Lagipula aku tidak terlalu mengerti tentang percintaan dan sepertinya akupun belum atau mungkin tidak akan pernah merasakan manisnya cinta.”

Haera? Apa maksudmu? Kenapa kau bilang ‘tidak akan pernah’ merasakan manisnya cinta? Tidak Haera, aku yang akan membantumu merasakan itu! Haera, kumohon bukalah hatimu dan biarkan aku mengisi hari-harimu dengan cinta yang indah.

Aku melihat novel breaking dawn yang sudah tertutup dan pembatas halamannya sudah sampai di halaman terakhir novel tersebut, “Kau sudah selesai membacanya?”

“Sudah.”

“Bagaimana akhirnya?”

“Mengecewakan…” Kata Haera sambil membolak-balik novel con te partiro yang tadi kubawa. “Mereka menikah.”

“Jadi akhirnya Edward dan Bella menikah? Bukankah itu akhir yang bagus?”

Sementara matanya tetap terfokus pada novel con te partiro, dia mengajakku berbicara. “Hankyung-ssi, apa suatu saat kau akan menikah?”

Kenapa? Kenapa tiba-tiba seperti ini? “Ng.. Tentu saja.. Mungkin beberapa tahun lagi aku akan menikahi seorang yeoja.”

“Bagaimana tipe yeoja idealmu, Hankyung-ssi?”

“Sederhana, yang penting dia mencintaiku sebagai seutuhnya diriku. Asalkan dia bisa menerima kelebihan dan kekuranganku. Kalau kau Haera? Namja seperti apa yang ingin kau nikahi? Apa kau punya seseorang yang kau cintai?”

“Aku mungkin tidak akan sempat menikah.” Haera menghentikan kesibukannya dengan novel con te partiro itu. “Tapi jika aku diberikan waktu untuk menikah, aku ingin menikah dengan seseorang yang kucintai. Aku mencintai seseorang yan dulu sempat mengisi hari-hariku. Kau tahu, orang yang kucintai itu dulunya memakai perban hampir disemua tubuhnya sehingga aku memanggilnya ‘mumi’.

Meskipun aku tidak bisa melihat wajahnya, entah kenapa aku mencintanya. Aku mencintai sosoknya yang kesulitan memakai kursi roda untuk pertama kalinya, atau saat dia kesulitan menggunakan tongkat. Dan dia pernah terjatuh saat menggunakan tongkat itu. Tapi sekarang sepertinya perban itu sudah terlepas seluruhnya dari tubuhnya.” Mumi? Kau bilang mumi, Haera? Jangan-jangan yang kau cintai itu….

“Aku ingin menikahimu, Kyu.” Lanjut Haera lagi.

A.. Apa?? Apa tadi dia bilang? Dia ingin menikah denganku? Benarkah itu Haera? Apa aku tidak salah dengar? Kau ingin menikah denganku?

Choanheyyo, Kyuhyun..” Lanjut Haera lagi. Choanheyyo? Dia menyukaiku?

Selagi aku sibuk memikirkan kata-kata Haera, suster Taemin tiba-tiba masuk dan mengusirku. Katanya ini sudah waktunya untuk Haera beristirahat. Jadi akhirnya aku bergegas keluar dan bermaksud pulan ke dorm.

Dijalan aku terus memikirkan kata-kata yang keluar dari bibir  yang tetap terlihat manis meskipun sedikit pucat. ‘Aku ingin menikahimu, Kyu’ dan lagi dia juga bilang ‘choanheyyo, Kyuhyun.’ Ah, bodoh sekali aku pergi tanpa meninggalkan balasan apa-apa untuknya. Padahal aku ingin sekali bilang saranghae, Haera..

TUNGGU! Apa dia bilang?? ‘Aku ingin menikahimu, KYU.’ Dan yang satu lagi dia bilang, ‘Choanheyyo KYUHYUN!’ Apa maksudnya ini? Apa itu berarti dia sudah mengenali sosokku? Sejak kapan?

Segera saja aku memutar menuju rumah sakit itu kembali. Haera.. saranghae saranghae saranghae.. Tunggu aku, aku akan segera menghampiri sambil berkata sarang hamnida, Yun Hae Ra, kaulah yang sudah mencuri hatiku.

BRAAKK!! Sesampainya aku di rumah sakit, aku hanya melihat sosok Haera yang sedang tidur. Ah aku lupa kalau Haera adalah tiper orang yang cepat tertidur. Kuperhatikan didekat Haera ada sebuah majalah yang memasang foto super junior sebagai sampul depannya. Ah, pasti karena ini Haera tau.

Lagi-lagi aku mengusap rambutnya seperti yang pernah kulakukan waktu itu. Aku juga mengecupnya lagi, tetapi bukan mengecup ubun-ubunya, aku mengecup bibirnya yang pucat itu. Haera, bisakah kau rasakan cintaku ini?

Saranghae.. sarang hamnida Yun Hae Ra..”

Kuperhatikan wajah Haera. Dia tersenyum. Senyuman tulus dan menenangkan hati yang begitu ku rindukan itu akhirnya tampak. Haera, apa kau sedang mimpi indah sekarang?

**********

(BERSAMBUNG)

komen dan like-nya please😀

klik disini untuk membaca heavenly love part 3 (last part)

12 responses to “Heavenly Love (Yun Hae Ra + Cho Kyuhyun) – part 2

  1. Ping-balik: Heavenly Love (Yun Hae Ra + Cho Kyuhyun) – part 3 (END) « Korea FanFict Request·

  2. Ping-balik: Heavenly Love – part 1 « SpecialKpopFanfiction·

  3. Ping-balik: Heavenly Love (Yun Hae Ra + Cho Kyuhyun) – part 1 « Korea FanFict Request·

  4. Ping-balik: Heavenly Love (Yun Hae Ra + Cho Kyuhyun) – part 1 « Asian Fan Fiction Story·

  5. Ping-balik: Heavenly Love (Yun Hae Ra + Cho Kyuhyun) – part 3 (END) « Asian Fan Fiction Story·

  6. hwa apa kyuhyun ndk dimarahi sma manajer nya ea hehe, mungkin jadwalnya ndk padat😀 ,,, tapi sapai sekarang oppa sma ortunya hyera ndk keliatan ya ? Apa ndk besuk hyera, apa ndk cemas hemmm mungkin part 3 ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s