A Lot of Love (Jung Jang Mi + Yesung) – part 1

Author: Angelaft Racta (angelaftracta)

Genre: Romance, Humor (tapi gak lucu (?))

Casts:  Yesung (super junior), Jung Jang Mi (OC), sisanya cuma tokoh figuran silahkan dicari sendiri :p

Request-an dari: nayramel (http://www.wattpad.com/user/nayramel) as Jung Jang Mi

Disclaimer: Hmm.. seperti biasa kecuali OC, tokohnya adalah milik Tuhan YME.. meskipun cerita adalah hasil FF yang di request ke saya, tapi cerita ini adalah MILIK AUTHOR..

——————————————————————————————————————

(Yesung POV)

Kebahagiaanku meluap-luap saat melihat sebuah piala tanda penghargaan untuk kami dipegang oleh sang Leader, Leteuk hyung (panggilan dari adik cowok untuk kakak cowok.red). Ya, kami, super junior boyband yang namanya sedang meroket ini lagi-lagi mendapatkan penghargaan untuk boyband terfavorit.

“Yesung, mau mengatakan sesuatu?” Leteuk hyung memberiku tempat agar aku bisa mengucapkan pidato terimakasihku karena telah menerima penghargaan ini.

Pertama-tama aku mengetuk mike-nya. Setelah yakin mike itu baik-baik saja (itu sudah pasti!) baru aku mulai pidato terimakasihnya. “Pertama aku ucapkan terimakasih untuk kasihMu, Tuhan. Puji syukurku untukmu. Lalu aku mengucapkan banyak terimakasih kepada umma, appa, dan Jongjin namdongsaeng (Adik cowok)ku satu-satunya. E.L.F (Everlasting friends, fangrup super junior.red) tentu saja aku tidak melupakan kalian. Tanpa kalian kami tidak akan berdiri disini. Tak lupa juga pada teman-teman super junior yang telah berjuang bersamaku. Kepada SM entertainment, manajer hyung yang sebentar lagi akan berpisah dengan kami karena diperintahkan untuk memanajeri boyband lain, serta kepada…..”

Kepada siapa lagi aku harus berterimakasih? Kuingat-ingat lagi sosoknya yang mulai samar-samar dalam ingatanku. Matanya, bibirnya, hidungnya, rambutnya, wajahnya, ah ya, sekarang aku bisa mengingat jelas sosoknya. “Terimakasih kepada seseorang yang sepertiJangmi (Mawar). Begitu cantik, namun berduri. Juga untuk kakek tua dan Yiruma ahjussi(paman) yang kurindukan.”

————————————————————————————————–

(FLASHBACK)

Akhirnya! Uang tabunganku terkumpul juga! Dengan ini aku bisa membeli radio. Kau tahu, aku sering mendengar radio di rumah teman-temanku dan di radio itu sering sekali diputar lagu-lagu yang enak sekali didengar. Sekarang, dengan uang tabungan ini, tentu aku dapat membeli radioku sendiri.

Aku yang masih belum dewasa ini membawa sendiri uang yang menurutku sangat banyak itu dalam genggamanku sendiri. Kemana aku harus pergi untuk membeli sebuah radio? Tentu saja ke toko elektronik, Jongwoon babo (bodoh)! Tentu saja untuk membeli radio kau harus pergi ke toko elektronik. (catatan penulis: Yesung adalah nama panggung. Nama aslinya, nama sebelum debut artisnya adalah Kim Jong Woon dan panggilannya adalah Jongwoon).

Perhatianku teralihkan oleh toko alat-alat musik yang berada tak jauh dari tempatku berdiri. Ada orang yang sedang bermain piano disana. Aku suka mendengar suara piano, tetapi aku lebih suka menyanyi diiringi suara piano. Tanpa sadar aku mengeluarkan suara untuk mengiringi nada-nada piano itu.

“Jangmi-ya!” Seorang Pak Tua keluar dari sebuah toko yang berada disebelah toko musik ini untuk memanggil… tampaknya dia memanggil cucunya yang sedang bermain-main didepan toko. Suara teriakan itu membuat perhatianku teralihkan. Cucunya itu, seorang yeoja (cewek) yang tampak boyish sekali. Rambutnya cepak meskipun baju berwarna pink yang dipakainya itu jelas menunjukkan kalau dia adalah yeoja. Cih, berbeda jauh dengan namanya (Jangmi = mawar). Dan yeoja yang dipanggil Jangmi itu tampaknya seumuran denganku.

Sreeettt…. Jangmi menatapku tajam. Itulah tatapan pertama kami sebelum Jangmi berlari ke gendongan kakeknya yang masih berdiri didepan toko. Tunggu! Toko itu! Itu toko elektronik! Toko yang dimasuki si kakek tua yang menggendong Jangmi.

“Ah! Anyyeong hasseo (Halo)!” Sapa si kakek tua begitu melihatku memasuki toko. “Ada yang bisa kubantu?”

Oh, jadi kakek ini adalah pemilik toko elektronik ini toh. Aku mengeluarkan semua uang yang tadi kugenggam. Kebanyakan uang receh sih. Tentu saja, ini kan hasil tabungan dari seorang anak kecil. “Ini, apa aku bisa membeli sebuah radio dengan semua uangku?”

Gencringan uang receh terdengar di meja pak tua itu. Dengan setengah menurunkan kacamatanya, Pak Tua itu menatapku keheranan. Tapi Pak Tua itu mengangguk dan mulai menghitung uangku dengan sabar.

“Hmm.. Jumlahnya cukup. Jangmi!” Pak Tua lagi-lagi memanggil nama itu dan… anak itu, Jangmi, lagi-lagi menatapku tajam sebelum dia menatap pak tua itu dengan lembut. “Tolong ambilkan tape recorder yang kecil itu.”

Jangmi mengangguk, mengambil tape recorder yang dimaksud. “Ini Kek!”

Tuh kan, benar perkiraanku! Pak tua ini pasti kakeknya si Jangmi! “Gomawo (terima kasih), Jangmi. Nah, ini radiomu.”

Radio? Benda kecil itu lebih terlihat seperti tape recorder. Ada tempat memasukkan kaset disana dan juga banyak tombol-tombol aneh yang tidak kumengerti kegunaanya. Dalam kebingunganku, kakek tua itu mengambil lagi tape recorder itu dari tanganku. “Ini radio sekaligus tape recorder. Kau bisa merekam suaramu dengan ini atau merekam lagu favoritmu pada sebuah kaset jadi kau bisa mendengarknnya berulang-ulang. Kalau kau ingin mendengarkan radio, tekan tombol yang hitam ini. Jika kau ingin menjadikannya pemutar kaset, tekan lagi tombol hitam itu dua kali. Jika kau ingin merekam, tekan saja tombol merah ini. Arrachi (kau mengerti)?”

Aku mengangguk dan mengambil kembali tape recorder itu dari tangan kakek tua yang tampak ramah dan baik.

“Ini!” sekarang sebuah kaset kosong mendarat di tanganku. “Bonus untuk pelanggan pertamaku hari ini. Kalau sedang tidak ada kerjaan, cobalah rekam suaramu sesekali. Hehehe, siapa tau nanti kau jadi penyanyi besar.”

Kulangkahkan kakiku keluar dari toko itu setelah mengucapkan terimakasih. Tetapi, ketika aku membelakangi toko, kurasakan tatapan tajam mengarah kearahku. Benar saja, Jangmi masih menatapku dengan tatapan tajamnya yang tidak berubah. Aku merinding jadinya. Sudahlah, lebih baik aku cepat pulang dan mencoba radio baruku.

(END FLASHBACK)

——————————————————————————-

“Hyung!” Mendadak sebuah jeruk berada tepat didepan mataku. Wookie sayang! “Kau mau ini? Kalau mau biar kukupaskan.”

Ne (Ya!)” Setelah itu tangan Ryeowookie yang kecil dan kurus mulai menyiapkan jeruk untukku.

“Lagi-lagi kemesraan kalian berdua itu tidak dapat ditandingi.” Protes Donghae. Ya! Donghae-ya! Kalau kau sirik, minta saja pada couple-mu si monyet Eunhyuk untuk bermesraan!

Sambil makan jeruk (yang sudah dikupaskan oleh wookie) Aku baru sadar kalau aku sudah tidak berdiri diatas panggung lagi. Aku sudah duduk dan tempat dudukku ini sedikit tidak tenang, terkadang bergoyang. Mobil? Aku diatas mobil?

“Sejak kapan aku ada diatas mobil?”

BLETTAAKKK!!! Siwon! Teganya kau menggunakan tenaga kudamu untuk menggeplak kepalaku! “Dari sejak di pangung kau melamun terus, hyung! Bukannya tadi kau yang berjalan sendiri dan masuk ke mobil? Kita sedang menuju hotel tempat pesta perpisahan dengan manajer hyung.”

“Memangnya siapa yang sedang kau lamunkan?” Aih, Wookie cemburu.

“Yang jelas bukan kau!”

Henry si mochi dari Amerika itu menatapku aneh. “Hyung, tadi kau sempat berterimakasih pada Yiruma ahjussi bukan? Apa jangan-jangan itu adalah Yiruma pianis yang terkenal itu?”

Aku mengangguk bangga. “Dulu pada saat aku pertama kali mengenalnya dia tidak seterkenal sekarang. Aku sudah mengenalnya sejak aku masih kecil.”

Jinjja (really?)? darimana kau mengenalnya?”

Aku diam saja. Biar saja mereka mencari jawabannya sendiri. Lagipula aku yakin tak lama lagi akan banyak wartawan yang mewawancaraiku perihal Yiruma ahjussi yang kubilang di panggung tadi. Kupikir Yiruma ahjussi yang sudah go international itu juga takkan luput dari perhatian wartawan.

Pemandangan malam yang gelap ini membuatku ngantuk dan kemudian tertidur. Mimpi.. Aku bermimpi.. Kini di mimpiku aku seperti melihat kembali kejadian beberapa tahun yang lalu. Ah, aku benar-benar merindukan masa itu. Lebih baik aku tidur dan bermimpi dahulu sebelum sampai ke pesta perpisahan dengan manajer hyung.

————————————————————————————————–

(FLASHBACK)

Sungai yang jernih terbentang di hadapanku. Sungai ini memang jernih, tapi tidak sejernih pikiranku. Aku hanya bisa duduk ditepi sungai ini sambil meratapi tape recorder ku yang beberapa bagiannya sudah terpisah.

“Jongwoon! Seharusnya kau lebih memperhatikan pelajaranmu! Ini! Benda ini bukan yang membuat nilai-nilaimu turun drastis! Kalau begitu benda ini sebaiknya kumusnahkan saja kalau memang hanya itu cara agar kau memperhatikan sekolahmu!”

 

Masih terngiang kata-kata umma sebelum dia membanting tape recorderku dan membuatnya menjadi seperti ini. Umma benar-benar membuatku marah. Setelah membereskan pecahan dan membawanya, aku kabur dari rumah.

Lihat saja, karena umma tombol merah yang kugunakan untuk mulai merekam sampai terlepas dari tempatnya yang seharusnya. Apa gunanya bagian yang sudah tercerai-berai ini! Lebih baik kubung saja ke sungai! Kuayunkan tanganku ke belakang agar bisa melemparnya sejauh mungkin sekaligus melampiaskan kemarahanku pada umma.

“JANGAN DIBUAAAANNNGGGG!!!!” Brrruukkk!!! Aduh! Siapa sih ini yang menubrukku dan menghentikan niatku? Begitu kubuka mataku, aku melihat sosok yeoja yang tidak asing sepertinya. “Jangan dibuang! Kakekku bisa memperbaiki benda-benda yang sudah rusak seperti ini asal bagian-bagiannya tidak hilang! Jadi jangan dibuang!”

Satu-persatu bagian tape recorder itu dibereskan oleh yeoja itu. Yeoja itu tampak sedikit berbeda dengan kesan yang kudapatkan saat aku melihatnya perama kali. Dulu dia tampak sedikit boyish dengan rambutnya yang cepak. Tapi sekarang tampaknya rambut itu sudah cukup panjang dan… yeoppo (cantik). “Jangmi?”

“Hey! Darimana kau tahu namaku? Tunggu, jangan-jangan…” Kening Jangmi berkerut. “Ah! Aku ingat! Kau namja yang membeli tape recorder ini dari kakekku beberapa bulan yang lalu. Yang uangnya receh itu kan? Kakek sampai kerepotan menghitungnya! Kau tahu, pada akhirnya kakek memberikan semua uang recehmu untuk kumasukkan dalam celengan tanah liat milikku. Sekarang tape ini rusak sampai seperti ini. Wah, kau berhasil menyiksanya!”

“Bukan aku…” Tatapanku tidak lepas dari puing-puing (lho?) tape itu. “Umma-ku.”

“Umma-mu?”

Sepanjang jalan menuju toko kakeknya, aku menceritakan semua kejadian pada saat umma membanting tape recorder-ku. Tentang kisah-kisah bersama tape recorder itu sejak aku membelinya dari kakeknya. Tentang aku yang hobi sekali merekam suaraku sendiri untuk sekedar iseng bila aku tidak ada kerjaan. Oh ya, aku juga mengenalkan diriku.

Tak hanya omongan tentang diriku, Jangmi juga menceritakan perihal dirinya yang tinggal berdua saja dengan kakeknya di ruko. Orang tuanya tinggal di luar negeri dan sibuk bekerja. Dan juga ternyata Jangmi tidak seumuran denganku. Jangmi adalah seorang Hunbae (junior). Dia lebih muda dua tahun dariku dan kami bersekolah di sekolah yang sama.

“Kakek!”

“Jangmi-ya!” Pak tua yang wajahnya tak banyak berubah menyambut kami berdua dengan ramah. “Kau bawa temanmu? Ayo masuk!”

Ani (bukan) Kakek. Dia bukan temanku. Baiklah, mungkin kami bisa berteman sekarang. Tapi dia pelangganmu, kek! Dia memiliki masalah dengan ini.” Pecahan-pecahan tape recorder itu sekarang berada diatas meja si kakek.

“Masih bisa dibetulkan. Selagi kau menunggu sebaiknya kau bermain dengan Jangmi dulu. Jangmi-ya, ajak dia bermain.”

Ne~ (Ya~).”

Jangmi mengajakku ke toko musik yang waktu itu sempat kuperhatikan sewaktu akan membeli radio. Itu lho, toko musik yang tepat di sebelah toko kakeknya Jangmi. Ternyata Jangmi cukup akrab dengan pemilik toko itu karena dia sering bermain disana.

“Jongwoon, kenalkan, ini Yiruma ahjussi (paman) pemilik toko ini. Permainan pianonya benar-benar keren. Ahjussi, ayo mainkan sebuah lagu di pianomu, jebal (please..).”

Ting.. ting.. Melodi-melodi yang dimainkan Yiruma ahjussi memang benar-benar indah. Jangmi sama sekali tidak berbohong. Jika kau mendengarkannya sambil menutup mata, mungkin kau langsung akan merasa berada di suatu tempat yang damai.

“Kau tahu Jongwoon, melodi ini ciptaan Yiruma ahjussi sendiri. Ahjussi memberi judul lagu ini river flows on you. Lagu yang romantis bukan?”

Aku setuju dengan Jangmi. Benar-benar lagu yang romantis dari tangan seorang pemilik toko alat-alat musik. Sayang sekali jika orang ini hanya berakhir di toko alat musik ini. Se-Korea inipun belum tentu ada yang dapat memainkan musik seindah ini. Tetapi baru saja aku akan menikmati musik ini dengan seksama, tangan ahjussi sudah memainkan melodi terakhirnya.

Daebak (Cool!) ahjussi! Kau memang hebat! Sekarang giliranku yang bermain piano!” Yiruma ahjussi menyingkir dan membiarkan Jangmi duduk di bangkunya.

Jangmi sedang bersiap-siap bermain piano sewaktu Yiruma ahjussi memberiku sebuah penutup telinga. “Gunakan ini! Kau akan memerlukan ini kalau piano sudah dalam penguasaan Jangmi.”

“Baiklah, aku akan mulai! JEEEENNNGGGG!!!!”

Huwaa!! Aku mengerti kenapa Yiruma ahjussi memberiku penutup telinga ini. Piano ditangan Jangmi = neraka. Yang dia lakukan hanyalah menekan-nekan tuts secara acak kemudian menjerit-jerit senang. Telingaku sampai sakit mendengarnya. Ini, seperti melodi kematian dari dewa kematian yang paling kejam yang pernah ada.

“Minggir!” Perintahku pada Jangmi dan Jangmi menurutinya. “Kau cuma merusak piano Yiruma ahjussi! Biarkan aku yang memainkannya.”

“Kau bisa?”

“Sedikit. Tapi setidaknya jauuuhhh lebih baik darimu!”

Aku mulai meminkan melodi yang diajarkan oleh songsaenim (guru) di sekolahku. Melodi sederhana yang mudah dimengerti anak kecil. Meskipun aku berkonsentrasi pada permainan pianoku, aku tetap merasakan tatapan kagum dari Yiruma ahjussi dan Jangmi.

Daebak Jongwoon-ah!”

Gomawo (terimakasih) ahjussi. Tapi aku lebih suka bernyanyi daripada bermain piano.”

Jeongmal? (really?) Aku ingin mendengar kau bernyanyi. Ahjussi, aku ingin mendengar Jongwoon bernyanyi. Bisakah kau mengiringinya dengan pianomu?” Jadi begitulah, pada akhirnya aku bernyanyi diiringi permainan piano Yiruma ahjussi.

Pandanganku terfokus pada Jangmi yang duduk diam memperhatikanku. Kau percaya itu? Seorang Jangmi yang tidak bisa diam dan hyperactive itu langsung diam dan terpaku melihatku bernyanyi? Hehehe, kau pasti tersihir dengan pesona seorang Kim Jong Woon ini bukan?

Jinjja daebak! (benar-benar hebat!) Jongwoon, kau benar-benar berbakat. Aku yakin aku tak salah menilaimu! Dengan sedikit bantuan dariku kau pasti akan menjadi seorang superstar. Ayo nyanyikan satu lagi!”

Kemampuan vokalku biasa saja, tetapi banyak orang berkumpul didepan toko Yiruma ahjussi untuk melihatku. Siapa sih yang tidak tertarik melihat anak kecil yang lucu (aku) sedang bernyanyi. Terutama para turis asing, mereka pasti menganggapku maskot anak kecil di Korea.

Hello! My name is Jangmi.” Apa-apaan sih dia? Malah asik dengan turis-turis asing itu dan dengan pedenya berbicara dengan mereka dengan Bahasa Inggris yang benar-benar pas-pasan. Baru kutahu sisi Jangmi yang lain yang tidak tau malu!

“Begitulah Jangmi, anak yang ceria dan.. yah~ sedikit pengatur dan tidak tahu malu. Kau teman barunya bukan, eh, Jongwoon?”

Aku mengangguk sambil mengamati Jangmi yang masih asik mengobrol dan mengambil muka dengan turis-turis asing itu dari jauh seraya berbicara dengan Yiruma ahjussi.

“Kau tahu, Jongwoon, kau memiliki segala yang diinginkan oleh Jangmi. Umma (ibu) dan Appa (ayah) yang berada dekat denganmu, kemampuan bermain piano dan bernyanyi. Jangmi dari dulu sebenernya ingin pandai bermusik. Orang tuanya adalah pemusik. Dia pikir kalau dia juga menjadi pemusik seperti orang tuanya, maka dia akan berada dekat dengan orang tuanya yang sibuk bermain musik di luar negeri.”

Yiruma ahjussi tertawa kecil sebelum dia melanjutkan kata-katanya. “Tapi sayang dia tidak berbakat untuk itu. Kau sudah dengar bagaimana dia bermain piano bukan? Vokalnya juga…. kau mengerti maksudku bukan?”

Lagi-lagi aku mengangguk menatap Yiruma ahjussi. Sebenarnya akan kemana arah pembicaraan ini? Kenapa Yiruma ahjussi menceritakan itu semua padaku?

“Karena itu, sebaiknya kau mensyukuri dan mengoptimalkan bakatmu. Kau memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Kembangkanlah dan aku sependapat dengan Jangmi, kau akan menjadi superstar jika kau serius mendalami bakatmu.”

Begitulah pertemuan pertamaku dengan Yiruma ahjussi. Setelah itu aku kembali ke toko kakek Jangmi dan menemukan tape recorder-ku yang sudah diperbaiki. Hari itu aku berpisah dengan Jangmi namun kembali lagi pada hari-hari berikutnya. Begitulah, aku menghabiskan masa kecilku bersama Jangmi dan menghabiskan hariku di toko alat musik milik Yiruma ahjussi. Terkadang Jangmi juga bermain ke rumahku sehingga dia sudah akrab dengan orangtua dan nenekku yang tinggal bersamaku. Ya ya, lagipula anak tidak tau malu seperti dia pasti cepat akrab dengan siapapun.

(END FLASHBACK)

—————————————————————————————————

“Sukses selalu manajer hyung!” Tanganku berjabatan dengan tangan manajer hyung yang akan berhenti memanajaeri super junior. Kami memang mengadakan sebuah farewell partyuntuk melepas manajer hyung. “Khamsa hamnida (terimakasih) untuk bantuanmu selama ini.”

“Ya, aku juga, Yesung. Aku ingin berterimakasih sekaligus minta maaf.”

“Minta maaf untuk apa, hyung?”

“Karena pernah melarangmu memakan makanan enak sewaktu akan konser.”

Kuputar ingatanku kebelakang dan aku ingat kejadian sebelum konser super junior K.R.Y (Kyuhyun, Ryeowook, Yesung) dimana aku adalah penyanyi utamanya. Saat itu aku lapar dan melihat gorengan yang enak namun berminyak. Hampir saja aku memakannya tetapi tidak sempat karena keburu ketauan oleh manajer hyung dan dia langsung memperingatkanku kalau makanan berminyak tidak baik untuk suaraku.

Gwenchana (tidak apa-apa), hyung. Lagipula kau benar, makanan berminyak tidak baik untuk suaraku.”

Sebenarnya dahulu aku tidak terlalu peduli pada suaraku ataupun makanan yang kumakan. Tetapi sedikit demi sedikit aku mulai perhatian pada hal-hal tersebut karena seseorang.

—————————————————————————————————

(FLASHBACK)

Kwungha high school.. Tidak hanya Senior high, Kwungha juga merupakan sekolah yang menyatu dengan junior high. Aku sedang memasuki tahun keduaku di Senior high sedangkan Jangmi berada di sekolah yang sama namun masih menjadi murid paling senior di Kwungha junior high.

Kantin sekolah ini berisik sekali ketika jam istirahat makan siang tiba. Saking ramainya aku jadi malas mengantri untuk mengambil jatah makan siangku. Huh, lebih baik aku mencuri makanan milik Changmin yang hari ini membawa udah goreng, tahu goreng, dan berbagai gorengan lainnya. Hmm, sepertinya enak.

“Kau mau ke game center sepulang sekolah nanti, Jongwoon?”

Ne! Aku butuh hiburan dan mungkin aku butuh melihat beberapa yeoja. Cih, aku juga ingin memiliki yeochin (pacar).” Jawabku enteng.

“Bukannya sudah ada?”

Alisku bersatu saking herannya. “Belum, aku belum punya yeojachin (pacar).”

“Lalu siapa dia?” Changmin menunjuk seseorang yang berdiri di belakangku. Dan…

Gyyaaaa!! Anak itu lagi! “Jangmi! Sedang apa kau disini?”

Aku baru saja akan melahap udang goreng yang kucuri dari Changmin sebelum tangan Jangmi yang lebih cepat itu mengambilnya dari tanganku dan memasukkannya ke mulutnya sendiri. “Hmm.. enak..”

“Hey! Apa yang kau lakukan! Itu makan siangku!”

Jangmi mengambil tempat duduk diantara aku dan Changmin (cih, apa-apaan dia menggeserku seenaknya). Dia menatapku tajam. “Babo (bodoh!)! Goreng-gorengan tidak baik untuk suaramu! Lagipula mana air mineral? Seharusnya sebagai penyanyi kau membawa air mineral kemanapun kau pergi. Pastikan tenggorokanmu selalu basah!”

Aish, apa-apaan anak ini. Aku kan hanya anak SMA biasa. Bukan penyanyi seperti yang dia bilang. Oke, aku memang menyanyi di beberapa acara sekolah dan juga bernyanyi di sebuah kontes bernyanyi. Tapi itu juga aku ikut karena Jangmi yang mendaftarkan dan MEMAKSAKU. Kau tahu, apapun keinginan Jangmi benar-benar tidak dapat ditolak.

Sekarang aku jadi sedikit sulit ‘mengambil’ gorengan dari kotak makan siang Changmin karena Jangmi mengahalangiku dari Changmin. Changmin tidak menolak saat aku mengambil udang goreng lainnya karena matanya sibuk menatap Jangmi dengan heran. Tapi lagi-lagi… Seeettt tangan Jangmi berhasil merebutnya dari tanganku.

“Sudah kubilang kau tidak boleh makan gorengan! Aku sudah mendaftarkan namamu untuk jadi pengisi acara di prom night sekolah seminggu lagi, jadi sebaiknya kau menurutiku untuk seminggu kedepan. Tidak ada protes! Kulakukan ini untukmu juga!”

Urrgghh dia ini! Lagi-lagi seenaknya mendaftarkan namaku. Kenapa tidak namanya sendiri yang dia daftarkan. Anak ini! Dasar hyperactive, tidak tau malu, dan seenaknya! Coba saja kalau ada sesuatu yang dapat membuatnya diam.

Bukannya memang ada sesuatu yang dapat membuat Jangmi diam…’ gumamku dalam hati.

“Hm.. ngomong-ngomong udang goreng ini enak sekali. Kau temannya Jongwoon? Siapa namamu? Joneun Jung Jang Mi imnida (namaku Jung Jang Mi).”

Changmin masih memandangnya keheranan. “NeChangmin imnida.”

“Ah, Changmin-ssi, udang gorengmu enak sekali. Boleh aku minta satu lagi? Sayang sekali Jongwoon Babo tidak boleh memakannya. Kalau begitu jatah si babo ini biar aku saja yang menghabiskannya.”

Aish, anak ini masih tidak tau malu! Blettak!! “Yak~! Seenaknya saja! Hei, begini-begini aku ini sunbae (senior)-mu! Seharusnya kau memanggilku Jongwoon sunbae dan panggil Changmin dengan Changmin sunbae! Atau setidaknya panggil aku oppa (panggilan untuk kakak cowok dari adik cewek.red)!”

Shireo (Tidak mau)!” Jangmi cewek aneh itu malah menatap Changmin dengan tatapan aneh. “Aku sih tidak keberatan memanggil Changmin oppa. Tapi aku tidak mau memanggil orang babo sepertimu dengan panggilan kehormatan!”

YAK!

Baru saja aku ingin memarahinya lebih lanjut, Jangmi malah kabur. “Aku pergi dulu. Jongwoon, jangan lupa untuk tidak makan goreng-gorenan dan es sampai prom night minggu depan. Selalu bawa air mineral kemanapun kau pergi. Oh ya, kau juga harus datang ke toko Yirma ahjussi untuk berlatih. Yiruma ahjussi sudah bersedia melatihmu. Perhatikan makanan dan waktu tidurmu! Kau harus tidur minimal enam jam dalam sehari. Dan… Ah ya,gomapsumnida (terimakasih) untuk udang gorengnya Changmin oppa. Anyyeong!”

Sialan, memangnya dia pikir dia siapa seenaknya mengatur-ngatur kehidupanku. Kehidupanku benar-benar sengsara karenanya. Aku kesal dan sebisa mungkin tidak menuruti perintahnya. Pada akhirnya aku tidak jadi tampil pada prom night itu karena aku menderita radang tenggorokan pada hari H. Terlalu banyak memakan makanan berminyak dan minum minuman dingin katanya.

“Hikss.. maaf Jongwoon ini karena aku lalai dalam mengawasimu jadinya kau tidak bisa tampil. Jeongmal miyanhae (maaf sekali).” Lho, bukannya yang tidak bisa tampil itu aku? Kenapa malah Jangmi yang menangis seperti ini?

Air mata itu. Baru pertama kali aku melihat air mata Jangmi setelah bertahun-tahun bersamanya. Jangmi yang biasanya ceria dan lugu sekarang wajahnya justu basah oleh air mata. Dan itu adalah air mata yang disebabkan oleh aku? Aku jadi merasa benar-benar bersalah telah membirkan air mata itu terjatuh.

Aku duduk disampingnya mencoba menenangkannya sembari mengusap kepalanya. “Sudahlah Jangmi, bukan kau yang salah. Ini karena aku tidak mengikuti nasehatmu. Lagipula kan hanya aku yang tidak bisa tampil. Kau masih bisa melihat penampilan yang lain bukan? Changmin sendiri akan tampil bersama boyband-nya.”

“Ta… Tapi, aku hanya ingin mendengarmu bernyanyi.”

Hh, anak ini benar-benar keras kepala. “Bukannya kau sudah sering mendengarku bernyanyi ketika kau memaksaku latihan di toko Yiruma ahjussi?”

Anak keras kepala ini menggeleng. “Kau… terlihat sangat berbeda diatas panggung. Aku memang menyukai keduanya, kau yang bernyanyi di toko alat musik Yiruma ahjussi, maupun kau yang bernynyi diatas panggung. Tapi.. tapi kulihat kau benar-benar menyukai panggung.”

Kau benar Jangmi, kau benar! Aku sangat mencintai panggung. Aku merasa benar-benar menjadi diriku ketika aku berada disana. Tatapan dan tepuk tangan penonton adalah kekuatanku. “Tapi kau tahu sendiri kalau orang tuaku tidak menyutujui aku untuk bermusik bukan. Aku tidak bisa selamanya seperti ini. Bermusik secara sembunyi-sembunyi, aku tidak bisa.”

“Aku tahu. Orang tuamu ingin kau selalu fokus pada sekolah dan menjadi sarjana besar suatu saat nanti bukan?” Aku mengangguk menanggapinya. Jangmi sudah mengenal keadaanku. Plukk, tiba-tiba dia menyandarkan kepalanya di pundakku. “Jongwoon..”

“Huft, baiklah. Kau sepertinya memang hanya ingin mendengar suaraku. Kalau begitu sebaiknya aku bernyanyi untukmu.”

Sambil tetap menjadikan pundakku sandaran bagi kepalanya, aku menyanyikan sebuah lagu untuk Jangmi. Salah satu lagu yang sedang nge-hits di kalangan anak-anak asia timur saat ini. Lagu dari boyband asal Taiwan (F4) yang berjudul falling in love with you. Entah kenapa aku malah menyanyikan lagu ini. Mungkin karena nadanya menenangkan dan kuharap Jangmi senang mendengarnya.

Kau tahu, Jangmi mungkin anak yang tidak bisa diam seperti cacing kepanasan. Tapi saat dia mendengarku bernyanyi, dia akan berubah 180 derajat. Dia akan diam dan dari matanya terpancar kekaguman. Inilah salah satu caraku untuk menjinakkan Jangmi.

Aku sedikit kaget dengan gerakan tiba-tiba yang dilakukan Jangmi. Tiba-tiba dia menegakkan kepalanya dan kemudian tampak sibuk mencari sesuatu dalam tasnya.

Eh? Dia mencari air mineral botol? “Tak usah dipakasakan Jongwoon. Pulihkan radang tenggorokanmu terlebih dahulu, baru bernyanyi. Memaksakan bernyanyi seperti itu juga tidak baik untuk pita suaramu. Dan, sepertinya lagi-lagi kau tidak membawa minum seperti yang kuperintahkan waktu itu. Jongwoon, kau harus tetap menjaga pita suaramu tetap basah. Minum ini! Tak usah khawatir, aku belum menyentuh botol itu sama sekali. Aku memang membawakannya untukmu.”

Air mineral ini bukanlah air mineral dingin. Hanya air mineral dengan suhu normal. Untukku? “Gomawo kenapa kau harus repot-repot seperti ini?”

“Sudah kubilang aku akan membantumu menjadi penyanyi. Lagipula aku kan fans nomor satumu.”

Gomawo.”

“Jongwwon-ah..” Lagi-lagi Jangmi menyandarkan kepalanya di pundakku. “Kau benar-benar perwujudan dari art of voice.”

Hihihi, terkadang Jangmi bisa menjadi anak yang lembut dan manis seperti ini juga ya. Tapi itu hanya terjadi pada saat itu saja. Keesokan harinya dia berubah kembali menjadi Jangmi berduri ketika aku dan Changmin menginap bersama di rumahku.

Yak! Jongwoon-ah! Apa yang kau lakukan jam segini!” Sosok Jangmi tiba-tiba muncul saat aku dan Changmin sedang asyik bermain game.

“Seharusnya aku yang bertanya! Apa yang kau lakukan di kamarku jam segini! Cih, untuk apa umma mengizinkanmu masuk.”

Sreett…. Jangmi merebut stik nintendo-ku dan malah bermain melawan Changmin.

Yak (oii)! Jung Jang Mi! Kau ingin membuatku marah? Pulang sana!”

Shireo (tidak mau)! Aku harus memastikan kau tidur tepat waktu meskipun ada Changmin disini. Daritadi aku melihat dari luar kalau lampu kamar ini terus menyala. Karena itu aku nekat kesini menyuruhmu tidur! Kurang tidur tidak baik untuk suaramu. Changmin oppa, hiraukan si babo. Ayo kita main game berdua.”

Aish! Anak ini!!!!!! Kemauannya benar-benar tidak bisa ditentang! Akhirnya rencana main game semalam suntuk bersama Changmin digagalkan oleh si iblis kelas berat, Jung Jang Mi. Pesta piyama malam ini jadilah mengikut sertakan peserta tidak diundang (kau tahu siapa maksudku bukan). Oke, ini bukan pesta piyama bertiga, ini hanya pesta piyama berdua (hanya Jangmi dan Changmin). Sedangkan aku tertidur karena meminum obat tidur yang diam-diam dimasukkan Jangmi kedalam minumanku.

Dan satu kejutan lagi menantiku. Jam makan siang, tumben aku tidak melihat si berisik Jangmi daritadi. Tidak ada yang menyodorkanku minum, tidak ada yang berisik menyuruhku memperhatikan makananku. Oh, ini surga! Sekarang aku bisa makan makanan berminyak.

Ting tong ting ting… tong tong ting ting.. suara seperti itu hanya akan terdengar jika akan diumumkan sesuatu via speaker sekolah. Karena itu kantin yang tadinya berisik sekarang menjadi tenang.

Ehem.. ehem.. tes tes satu dua tiga.. oh, sudah tersiar ya? Baiklah, anyyeong hasseo chingu-deul (Halo teman-teman semuanya). Perkenalkan, aku Jung Jang Mi kelas 3-4 Kwungha junior high. Perkenankanlah aku menghibur chingu-deul pada siang hari yang panas ini dengan lagu yang menyejukkan hati.” Ternyata anak berisik itu daritadi tidak muncul dihadapanku karena sedang sibuk di ruang siaran toh. Tunggu, bagaimana cara dia menghibur kami semua?

Terdengar suara seperti sebuah kaset diputar dan sayu-sayup terdengar suara piano yang indah….

When I’m down.. and oh my soul so weary..

Oh tidak! Dasar si anak autis itu! Kenapa dia bisa mendapatkan rekaman suaraku yang kurekam saat sedang bernyanyi diiringi piano Yiruma ahjussi? Oh! Pasti gara-gara pesta piyama di kamarku waktu itu. Sialan! Jadi dia mencuri koleksi rekaman suaraku yang iseng kuambil dengan tape recorder itu ya?

When troubles come, and my heart burdened me..

 

Lagu itu masih terdengar ke seluruh penjuru Kwungha high. Sementara yang lain sibuk mendengarkan atau bertanya-tanya siapa penyanyinya, aku langsung berlari menuju ruang siaran. Anak itu harus dihentikan dengan segera!

You raised me up, so I can stand on mountain

You raised me up, to walk on stormy seas

I’m strong, when I’m on your shoulder

You raised me up, to more than I can be

Aku masih belum sampai di ruang siaran sampai lagu itu selesai diputar dan tepuk tangan yang meriah terdengar dari seluruh penjuru sekolah.

Bagaimana chingu-deul? Itulah sedikit hiburan pada siang hari ini. Ah ya, yang tadi kuputar itu sebenarnya adalah suara emas dari Kim Jong Woon anak kelas 3-1 Kwungha senior high. Kalau ingin mendengar suaranya secara langsung silahkan hubungi saja orangnya.”

Sial! Aku terlambat! Anak itu (Jangmi) sudah berhasil mempermalukanku. Saat aku mendobrak pintu ruang siaran aku masih melihatnya yang asik bercuap-cuap di depan mike.

Wew, orangnya sudah hadir di ruang siaran. Silahkan Jongwoon-ssi, ucapkan anyyeong pada penggemar barumu.”

            Greb! Mungkin aku harus mencekiknya agar dia diam. “JUNG JANG MI! APA YANG KAU LAKUKAN?”

“Errr, Jongwoon-ssi, kita masih on air lho..”

“BERHENTI MEMPERMALUKANKU!!!!!”

“KYYYAAAAA!!! Uhuk.. uhuk.. Jongwoon-ssi, jangan mencekikku.         KYYYAAA!!! JONGWOON, AMPUUUNNN!!! JANGAN BUNUH AKU!!!!!”

(FLASHBACK END)

——————————————————————————————————

**********

(BERSAMBUNG)

9 responses to “A Lot of Love (Jung Jang Mi + Yesung) – part 1

  1. annyong….
    Slam knal chingu..
    Q reader bru dsni….
    Melinda..
    16 yo..

    Hmm…
    Daebak ff’a…
    Xixixi..
    I love yesung’s voice…
    Lanjut yah chingu..
    Next part’a q tunggu….

    • Anyyeong🙂 gomawoyo.. iya nih.. sedang dalam proses.. pengennya besok atau lusa udah beres (kalo nggak ada yang ngegangguin aku kayak film/situs2 yang pengen aku tonton) hahaha.. ditunggu chingu🙂

  2. annyeong ^^ aku readers baru disini .

    ceritanya bagus chingu .
    apalagi main castnya Yesung😀
    lanjutannya ditunggu yaa …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s