[ONESHOOT] Only Learned Bad Things + Lyric & MV Baro B1A4

Author: ANGELAFT RACTA

Casts: Baro (B1A4), Cheonsa (OC), dan semua peran pembantu lainnya

Genre: Romance

Length: Oneshot

—————————————————————————————————————–

(Cheonsa POV)

        “Anyyeong!” Aku tersenyum lebar saat melihatnya datang. Aih, namjachinguku (pacar), bangga sekali aku bisa menyebutnya sebagai namchin-ku. Kau tahu kenapa aku begitu senang? Karena sekarang adalah kencan pertamaku dengannya.

Meskipun aku sudah berkata ‘anyyeong’. Namchin-ku hanya tersenyum saja. Aku tahu kalau dia bukan tipe orang yang ceria dan sama sekali bukan tipe orang yang romantis. “Sudah lama menunggu?”

Ani.” Kataku berbohong meskipun sebenarnya aku sudah menunggu selama satu jam. Kyaa, aku kelewat tidak sabar.

Perkenalkan namjachinguku. Namanya Baro, the most wanted namja di sekolahku. Salah satu personil B1A4, band sekolah yang digandrungi para yeoja seantero sekolah. Beruntung sekali aku bisa menjadi yeojachingunya setelah perjuangan kerasku.

Dulu aku hanya mengamatinya dari jauh. Lalu dengan dorongan dari teman-temanku, sedikit demi sedikit aku bisa lebih dekat dengannya. Berkenalan dengannya, hingga suatu hari aku mengumpulkan semua keberanian yang kupunya untuk menyatakan perasaanku padanya.

—————————————————————

(FLASHBACK)

       Sekali lagi aku menatap matanya di atap sekolah kami. Matanya yang menatapku tajam semakin menyurutkan keberanianku. Aish, ottoke (bagaimana ini)? Aku sudah terlanjur memanggilnya keatap sekolah, masa’ aku membatalkan niatku bergitu saja?

        “Cheonsa! Ayo!” Terdengar teman-temanku memberi semangat dari kejauhan. Meskipun berbisik, aku masih bisa mendengar teriakan mereka.

        Rasanya aku semakin tidak sanggup berdiri di hadapannya seperti ini. “Baro, aku…..” Bulir-bulir keringat dingin mulai mengalir. “Aku……”

        “Kau mau bilang saranghae bukan?” Ouch Baro, itu terlalu langsung. Aku baru saja mau membuka mulutku, menjelaskan ketika Baro mengangkat tangannya dengan memaerkan telapaknya kearahku. “Tak usah dilanjutkan, aku sudah tau. Sudah berkali-kali aku mendengar kata itu dari yeoja-yeoja di sekolah ini sampai-sampai aku bosan mendengarnya.”

        “La.. Lalu, bagaimana?”

        “Bagaimana apanya? Kau mau menjadi pacarku? Tidak terimakasih, aku tidak berminat.”

        Baro sudah akan pergi darisana sebelum aku menarik tangannya dan membuatnya berbalik kearahku, “Kumohon, jadilah namjachinguku.”

        “Kau!” Dengan kasar Baro menepis tanganku dari tangannya. “Baiklah, karena kau satu-satunya yeoja yang tidak menangis setelah kutolak dan BERANINYA menarik tanganku,”

        “Baiklah, maksudmu?”

         Lagi-lagi Baro berbalik hingga hanya bagian belakang tubuhnya saja yang bisa kulihat dan berjalan menuju tangga turun, “Kuperingatkan ya, aku bukan namjachingu yang baik!”

        Apa dia bilang? Dia bukan ‘namjachingu’ yang baik? Namjachingu? Apa itu berarti aku diterima? Kyaaaa!!!!!! Aku kelewat senang sekarang ini. “Khamsa hamnida Baro-ssi! Ah bukan, khamsa hamida jagi!!!”

        Baro terus berjalan tanpa berbalik. Tetapi tangannya yang mengangkat keatas setelah aku mengatakan ‘khamsa hamnida’ kuanggap itu sebagai isyarat ‘sama-sama’ darinya. Kyaa, mulai saat ini aku resmi menjadi pacar Baro, the most wanted namja di Paran High sekolahku tercinta! Rasanya saat ini aku menjadi yeoja paling berunung sedunia. Kyaaa, Baro!!

(END of FLASHBACK)

———————————————————————————–

Kami berkencan di sebuah cafe sederhana yang tak jauh dari Paran High. Di hari libur seperti ini cafe yang biasanya dipadati siswa-siswa Paran High jadi sepi dan sepertinya hampir semua meja kosong sehingga kami bebas memilih meja mana yang kami sukai.

Aku memperhatikan spot dekat air mancur yang tampak romantis itu. Suara air dari sana pasti terdengar sangat indah. Di sekitar sana pula ada beberapa pasangan yang tampak juga sedang berkencan. Pasti mereka juga berpikir kalau spot itu terlihat sangat cocok untuk berkencan.

Aku sudah akan berjalan kearah spot air mancur itu. Tapi tiba-tiba sebuah tangan menahan langkahku. Tangan Baro, “Jangan disana, terlalu ramai. Memusingkan. Disana saja!”

Baro menarik lenganku dengan kasar dan memilih tempat duduk didalam cafe yang benar-benar sepi dan sama sekali bukan tempat yang romantis. Ya sudahlah, namja kan memang sedikit tidak peka terhadap hal-hal romantis. Aku ini, terlalu memikirkan soal seperti itu sih, hihihi. Sudah, lupakan saja Cheonsa! Jangan sampai hanya gara-gara itu aku jadi bad mood dan kencan pertamaku dengan Baro jadi berantakan.

“Kau haus? Mau kuambilkan minum?”

“Eung!” Aku menangguk mengiyakan dan Baro membalasnya dengan senyum dan beranjak pergi dari sana. Hey kenapa dia langsung pergi? Memangnya dia tidak mau menanyakan dulu minuman yang kuinginkan?

“Maaf membuatmu harus menunggu lama.” Kyaaa.. akhirnya Baroku (menyenangkan sekali menyebut namanya sambil menambahkan ‘-ku’ di belakangnya) datang dengan membawa minuman rasa strawberry kesukaanku. Ah, apa mungkin dia sudah mengetahui apa-apa yang kusukai secara diam-diam?

Tangannya yang bagaikan pualam dengan cekatan mengambil kaleng itu, membukanya, dan memindahkan isinya kedalam gelas. Baik sekali dia mau menuangkannya untukku. “Gomawo.”

Baro tersenyum sampai akhirnya dia selesai menuang semua isi minuman kaleng tersebut kedalam gelas. Minuman strawberry dicampur es batu di hari yang sepanas ini, apalagi dituangkan oleh Baro sendiri pasti akan sangat nikmat. Sebentar lagi gelas itu akan berada di tanganku!

Sreeettt.. Ada tangan lain yang lebih cekatan mengambil gelas itu dariku. Baro? Dia yang mengambil dan langsung meneguk isi gelas itu. Kemudian dia berbicara lagi dengan nada seakan-akan tidak terjadi apa-apa “Habis ini kita kemana lagi?”

Sabar Cheonsa.. sabar.. Bukankah dia sudah memperingatkanku kalau dia bukan seorang namjachingu yang baik? Bukankah kau sendiri sudah tau kalau dia bukan tipe orang yang romantis? Tak mungkin juga dia mau menuangkan minuman untukku. Dia membelikannya untukku saja sudah untung.

“Kenapa kau tidak minum? Bukankah aku juga sudah membelikanmu minuman ini?”

Aku menatap kaleng minuman jeruk yang tidak kusukai karena terasa sedikit pahit. Aku juga menuangakn isinya kedalam gelas berisi es batu seorang diri. Aih, andai saja minuman jeruk ini dituangkan oleh Baro. Mungkin saja rasa jeruk yang tidak kusukai bisa jadi sedikit manis.

Sabar Cheonsa.. sabar, karena ini baru awal kehidupanmu bersama Baro.

*********

(Cheonsa POV)

“Kenapa kita harus kesini sih?” Keluh Baro saat aku mengajaknya ke toko aksesoris.

“Karena aku menginginkannya. Ayolah.. Please…” Akhirnya Baro mengangguk dan mengikuti langkahku memasuki salah satu toko aksesoris.

Wah, semua barang di toko ini semuanya lucu dan cantik. Gelang, anting, kalung, semuanya cantik-cantik.

Baro mengambil salah satu jepitan rambut bentuk pita berwarna pink yang terpajang disana. Aku melihat kearahnya heran. Kemudian dia menyibakkan sebagian poni-ku dan memasangkan jepitan pita itu di rambutku, “Yang ini cocok untukmu.”

Jeongmal? (Benarkah?)”

Kutanya seperti itu Baro malah terlihat kesal dan meletakkan kembali jepitan bentuk pita itu ditempatnya semula. “Ya sudah kalau kau tak percaya.”

Baro jagi, kenapa kau sensitif sekali sih? Aku kan bertanya ‘jeongmal’ bukan karena meragukan pilihanmu. Aku hanya ingin kau memujiku cantik atau manis. Bukan hanya sekedar ‘cocok untukmu’. Sabar Cheonsa… sabar.. Bukankah kau sendiri yang ingin menjadi yeojachingu-nya Baro?

Aku mengambil bando bunga-bunga berwarna pink yang tergantung tak jauh dari tempatku berdiri. Aww, cantik sekali. Aku mencoba memakainya dan melihat pantulan diriku di kaca. Tidak buruk. Rasanya aku pantas sekali memakai ini seakan-akan bando ini memang dibuat hanya untukku (apasih!).

“Ba….” Aku melirik ke sampingku. Tidak ada! Baro tidak ada disampingku. Ah, ternyata dia sudah ngacir sendiri ke bagian gelang dan jam tangan. “Baro!”

Baro langsung melihatku begitu kupanggil. Tapi tatapannya itu lho, seakan-akan suaraku hanya mengganggu kesenangannya saja. Iih, melihat dia kesal seprti itu aku jadi ingin mencubit pipinya, hhi. Aku memakai bando yang tadi kupilih kemudian menunjukkan aegyo (keimutanku) padanya. “Yang ini bagus tidak?”

Sreet, tatapan tajam itu lagi. “Hmm… yeoppo (cantik).”

Yeoppo? Tadi dia bilang cantik? Itu memang respon yang kuharapkan sih. Tapi dia hanya berkata yeoppo setelah itu dia langsung berbalik dan kembali sibuk dengan jam tangan-jam tangan yang terpajang disana. Ahh~~ betapa cemburunya aku pada jam tangan yang lebih diperhatikannya daripada aku yeojachingu-nya.

“Hey, jam tangan ini cocok sekali untuk dipakai manggung. Lebih baik kubeli saja.” Aa? Dia bahkan langsung membelinya tanpa menanyakan pendapatku dulu? Sabar Cheonsa… sabar… Tapi melihatnya yang tidak pernah peduli padaku benar-benar membuat hatiku sakit. Hey Baro, apa kau memang menganggapku ada?

Kesabaranku mulai habis saat melihatnya asik sendiri. Lebih baik aku pergi darisini. Bahkan mungkin dia tidak akan sadar kalau aku sudah pergi.

“Cheonsa-ssi!” Tangan Baro menahanku memegang pundakku lembut. “Hey, kau tampaknya tidak senang. Gwenchanayo (Kau tidak apa-apa)?”

Baro yang tersenyum seperti inilah yang membuatku menyukainya. Senyumnya itu meluluhkan kemarahanku. Apalagi tadi dia menyebutkan namaku. “Gwenchana (aku tidak apa-apa), aku hanya bosan berada disini. Koleksi mereka tidak ada yang bagus.”

“Kalau begitu, ayo kita pergi ketempat lain.” Baro menggiringku sambil merangkulku setelah aku meletakkan bando bunga tadi ketempatnya semula. Sekarang ini barulah aku merasa benar-benar menjadi yeojachingu-nya. Berada sedekat ini dengan Baro, aku beruntung sekali ^^.

**********

(Cheonsa POV)

Entah ini hanya perasaanku saja atau memang daritadi yang terlihat hanyalah pasangan-pasangan yang sedang berbahagia? Ah, mungkin aku hanya terbawa suasana saja. Tapi sungguhan lho, di jalanan ini hanya terlihat pasangan yang sedang bergandeng tangan dan saling tersenyum satu sama lain.

Aku menatap tanganku dan wajah Baro bergantian. Memangnya dia tidak ingin menggandeng tanganku? Meskipun aku bahagia sekarang karena sudah bisa berjalan disamping Baro, tetapi tentunya kebahagiaanku akan semakin lengkap apabila Baro menggandeng tanganku. Dengan begitu kami bisa terlihat seperti pasangan sungguhan (lha, memangnya sekarang kau bukan pasangan sungguhannya?)

“Hey!” Aku menunjuk kearah poster yang tertempel didepan pusat penjualan T-Shirt. “Ada diskon besar-besaran.”

“Lalu?”

Lalu? Kenapa dia bertanya seperti itu? Bukankah sudah jelas kalau itu tandanya aku ingin kesana. Tapi sepertinya Baro tidak menyukainya. “Tidak apa-apa. Ayo, kita lanjutkan berjalannya.”

Lagi-lagi Baro menarik tanganku dengan kasar. “Apa susahnya sih bilang kalau kau ingin kesana?! Cepat kita lihat barang-barang diskon itu sebelum aku berubah pikiran!”

Aku memperhatikan tanganku yang sedang digandeng Baro dengan kasar. Kenapa dia begitu membuatku bingung? Saat aku berpikir dia begitu perhatian padaku, dia malah bersikap menyebalkan. Dan sekarang, kau lihat? Saat aku berpikir dia menyebalkan, masih ada perhatian yang terselip disana. Baro, bisakah kau membiarkanku membaca sedikit isi kepalamu itu?

“Igo! (Ini!).” Baro mengambil salah satu T-shirt berwarna rose pink. “Terlihat pas sekali untukmu, Cheonsa-ssi”

Aku mengambil T-Shirt rose pink itu dari tangan Baro sambil tersenyum namun tidak mengatakan apapun. Lebih baik diam daripada membuat Baro salah sangka lagi seperti kejadian barusan.

Tunggu! Apa tadi dia bilang? Cheonsa-ssi? Dia memanggilku Cheonsa-SSI?? Seperti ada pisau tajam yang menyayat dan membelah-belah hatiku saat itu juga. Cheonsa-SSI? Apa dia menganggapku orang lain? Apa aku sama sekali tidak berarti untuknya? (catatan: -ssi, panggilan resmi untuk orang yang belum akrab atau pertama kali bertemu)

“Baro…” Awalnya aku menunduk karena tidak berani menatap langsung wajahnya. Kuberanikan diriku untuk mengangkat wajahku dan begitu sakit hatiku saat tau Baro sudah tidak ada lagi di sampingku. Dia malah asik dengan T-shirt yang terpajang di tempat yang aagk jauh denganku.

Apa kau menganggapku ada?” Gumamku pada diriku sendiri karena kuyakin dengan jarak kami sekarang dia bahkan tidak mungkin untuk mendengar suaraku.

Aku mencoba membunuh waktu yang sebenernya waktu itu sendiri yang lebih cepat membunuhku. Waktu terasa panjang dan lamaaaa sekali saat tak ada hal yang bisa kau lakukan bukan? Kulihat di sekeliling toko ini hanya ada pasangan-pasangan bahagia yang memilih kaus untuk mereka berdua. Sedangkan aku?

T-shirt rose pink yang dipilihkan oleh Baro tidak buruk. Bagus malah! Tapi aku melihat T-shirt dengan model dan corak yang sama hanya saja dengan warna yang berbeda, HOT PINK! Aku jadi bingung. Rose pink atau hot pink ini ya? Ah, sebaiknya aku meminta pendapat Baro. Bukankah bertanya pada pasanganmu adalah salah satu cara menghargai pasangan?

“Baro, aku…” Eh? Kemana perginya dia? Bukankah tadi dia masih ada di sekitar sini? Tatapan mataku menjelajahi setiap sudut toko tetapi Baro masih tak dapat kutemukan. “Baro!”

Krieeett.. pintu kamar pas yang tak jauh dariku terbuka. Sesosok namja keluar dari sana dengan T-shirt berwarna biru yang sepertinya sedang dicobanya. Kau tahu siapa namja yang kumaksud? Tentu saja, Baro!

“Terlihat cocok untukku!” Daripada bertanya padaku, dia lebih percaya pada penilaiannya sendiri saat melihat pantulan dirinya di cermin. Sikapnya itu… benar-benar tidak menghargaiku yang berstaus yeojachingunya.

Sudah cukup! Aku muak!

**********

(Baro POV)

Brraakkk!! Seseorang terdengar seperti sedang membanting hanger pakaian yang sedang dipegangnya. Bunyinya memang tidak keras, tapi cukup untuk membuatku (yang tak jauh dari sumber suara) menoleh. Ternyata yang tadi dibanting adalah T-shirt berwarna rose pink dan hot pink. Cheonsa-ssi?

Segera aku keluar darisana mengejar Cheonsa-ssi yang tadi juga keluar dari toko itu setelah membayar kaus biru yang tadinya hanya kucoba saja. Untungnya dia hanya seorang yeoja. Kecepatannya berlari tidak sebanding denganku. Tentu saja aku berhasil mengejarnya.

“Cheonsa-ssi!” Aku membalikkan tubuhnya dengan paksa. Tidak sulit, tentu saja tidak sulit karena dia seorang yeoja. Dia, Cheonsa-ssi, dia menangis. “YAK!”

Dia terus saja menangis meskipun aku sudah membentaknya. Menyebalkan! Kenapa sih yeoja cuma bisa menangis? “Kau! Apa-apaan tadi?! Tiba-tiba meninggalkanku sendirian kemudian berlari sambil menangis? Apa kau tidak menghargaiku heh? Kau datang bersamaku, maka kau juga harus pergi bersamaku! Arrasou (mengerti)?!”

Cheonsa-ssi masih terus menunduk tapi aku masih bisa melihat air matanya yang menetes. “Lalu bagaimana denganmu? Apa kau menghargaiku? Apa kau menghargaiku sebagai yeojachingumu?”

“Yak! Apa-apaan pertanyaanmu itu? Tentu saja aku….”

“Kau bilang jika datang bersama harus pergi bersama pula. Lalu, apa kau selalu ada bersamaku? Kemana kau saat aku menatap pasangan lain yang bergandengan tangan dengan iri?” Berani-beraninya dia memotong ucapanku! “Apa yang ada di pikiranmu saat yang kuiinginkan hanya sedikit pujian darimu? Ada dimana kau saat aku ingin menghargaimu dengan menanyakan pendapatmu? Sebenarnya siapa yang lebih tidak menghargai pasangannya?”

“Cheonsa-ssi….”

Mata itu, mata yang baru saja kusadari kalau mata itu begitu mempesona malah semakin redup sinarnya begitu aku memanggil nama pemilik mata itu. “Dan kau masih memanggilku ‘cheonsa-ssi’ disaat aku ingin mendengar kata ‘jagiya’ dari mulutmu.” (jagiya, panggilan untuk pacar.red);

***********

(Cheonsa POV)

Sudah seminggu sejak kejadian aku meninggalkan Baro yang masih menatapku tajam setelah perdebatan itu. Ya, aku meninggalkannya begitu saja tanpa kata-kata lainnya. Aku bahkan belum meminta maaf karena sudah bersikap seperti itu padanya. Aku tidak keberatan untuk meminta maaf padanya, mungkin ini salahku. Bukankah aku yang sudah berkata pada diriku sendiri untuk siap menerima Baro bagaimanapun perlakuannya terhadapku?

Berkali-kali aku menelepon Baro tetapi hasilnya tetap sama. Begitu terdengar nada sambung, tak lama kemudian terdengar nada telepon diputus. Baro, apa kau benar-benar marah padaku? Lihatlah aku Baro! Aku sedang berjuang meminta maaf padamu. Maafkan aku, Baro.. Maafkan aku…

Aku mengambil iPhone-ku dengan putus asa. Selagi menunggu tersambung, aku menatap pada kalender hari ini yang sudah kutandai dengan spidol. Tertulis ‘my birthday’ disana.

Aku menggigit bibirku berharap Baro secara sengaja atau tidak sengaja menekan tombol hijau dan mengangkat telpon dariku. Kumohon Baro, biarkan aku berbicara. Hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku tidak butuh kejutan, aku tidak butuh hadiah, aku tidak perlu ucapan selamat darimu. Cukup agar hubungan kita baik-baik saja. Bukan yang seperti ini.

Tuuutttt… tuuuuuttt…. tersambung! Dan… Klikk!!! Diputuskan..

Aku menghela nafas panjang dan lagi-lagi menatap kalender itu. Meskipun mataku tertuju pada kalender, pikiranku tertuju pada Baro. Baro, apa mungkin ini semua merupakan salahku sejak awal? Apa aku yang terlalu memaksanya untuk menjadi namajachinguku? Apa aku terlalu mengekangnya?

Apa sebenernya sejak awal ini hanyalah cinta yang bertepuk sebelah tangan?

**********

(Baro POV)

OK girl neoegeman yes man mwodeunji da haejulge. OK girl ijebuteo nikkeoya I love youuuuuuu.”

Cih, lagi-lagi suara Sandeul terdengar mengganggu dari iPhone-ku. Aish, kenapa lagu ini yang kupilih menjadi ringtone iPhone-ku? Lagu yang berjudul ‘OK’, lagu debut boyband dimana aku tergabung didalamnya, B1A4. Sedangkan Sandeul, dia adalah salah satu anggota B1A4  yang menyanyikan bagian chorus lagu OK. Saat inipun aku sedang berkumpul dengan chingu-deul (teman-teman) B1A4

Buukkk!!! Gongchan, si maknae B1A4 melemparku dengan bantal. “Hyung! Angkat teleponnya! Aku sudah muak mendengar suara Sandeul hyung dari iPhone-mu terus menerus!”

Memangnya kau saja yang muak! Aku juga muak, Gongchan! Andai aku bisa menghentikan deringnya. Oh tunggu, tentu aku bisa! Tinggal ku ‘sentuh’ (kan iPhone, cuy! Tinggal ‘touch’ :p) tombol merah yang menandakan tanda putusnya telpon dan.. zlaapp.. bunyi itupun berhenti.

Yeojachingu (pacarmu)?” Sandeul, mengapa kau mendadak peduli? Bukankah kau sedang sibuk bersama member yang lain? “Kenapa tidak diangkat?”

“Biar saja.” Jawabku enteng. “Dia menyebalkan. Ternyata memiliki yeojachingu itu merepotkan.”

“Kau membencinya?”

Aku tidak menjawab pertanyaan dari CNU hyung. Tidak ingin menjawabnya.

“Kau menyesal pernah mejalani hubungan dengannya? Apa kau merasa lebih baik dia menghilang dari hidupmu? Kau tidak menyukainya?”

“Siapa bilang aku tidak menyukainya!” Akhirnya kujawab juga pertanyaan bertubi-tubi itu. “A.. Aku hanya….”

“Kau mencintainya bukan?”

Ani (tidak).”

“Tak usah mengelak, Baro.” Leader kami, Jinyoung hyung mulai belagak sok tau. “Aku sudah sangat mengenalmu. Kau mencintainya, Baro! Kau saja yang tidak sadar dengan perasaanmu sendiri. Aku sudah tau sifatmu yang tegas dan selalu sinis. Kalau kau tidak mencintainya, kau bahkan tidak mau repot-repot seperti itu pada Cheonsa-ssi, bahkan untuk berkencan dengannya.”

“Tapi kan itu karena dia yang mengajak. Kalau saja dia tidak memaksaku untuk berpacaran dengannya, aku pasti sudah menolaknya. Keberadaan yeoja hanya akan menghambat karirku di B1A4, hyung!”

Arra (aku tahu/aku mengerti), mungkin akan sedikit menghambat tapi itu bukan berarti kau tidak boleh berpacaran bukan? Lagipula dengan sifatmu, aku yakin kau bahkan tidak akan tersenyum pada yeoja yang tidak kau suka. Sekarang aku tanya, apa kau pernah tersenyum didepan Cheonsa-ssi?”

Tersenyum? Tentu saja pernah! Terkadang aku berpikir kalau Cheonsa-ssi itu sangat manis dan lucu. Terutama pada saat dia memasang aegyo-nya. Bahkan ada perasaan senang pada saat dia membalas senyumanku.

‘Baby u u u u u…’  Sepotong lagu kami yang berjudul only learned bad things yang kujadikan ringtone untuk e-mail mengalir dari iPhone-ku. Dari Cheonsa….

Miyanhae (maaf) untuk segala perbuatanku yang tidak menyenangkan. Mungkin kau berpikir kalau aku hanya menjadi pengganggu di kehidupanmu. Maafkan aku. Sekarang si pengganggu ini akan pergi. Jeongal miyanhae untuk semuanya.’

“Apakah itu dari Cheonsa-ssi? Apa katanya?”

Sekali lagi aku menatap pesan tersebut tak percaya. “Ka… kami putus.”

Putus? Begitu saja? Tidak ada hubungan apa-apa lagi antara aku dan dia? Kembali pada kehidupan masing-masing? Kembali ke kehidupanku yang membosankan yang hanya diisi oleh 4 babo namja (cowok bodoh) (4 babo namja = Jinyoung, CNU, Sandeul, dan Gongchan).

Piipp.. piip.. Sekarang apa lagi? Kenapa iPhone-ku tidak berhenti berbunyi sih? Ternyata hanya sebuah pengingat.

Today: Cheonsa’s birthday

Aigho! (ya ampun!) Bagaimana aku bisa lupa kalau hari ini adalah ulang tahun Cheonsa? Tanggal ulang tahunnya yang diam-diam kutanyakan pada teman-temannya hanya karena aku ingin membuatnya senang di hari bahagianya. Aish! Namja macam apa aku! Dihari ulang tahunnya aku malah membuatnya sedih.

Kalau kau tidak mencintainya kau pasti tidak akan mau repot-repot seperti itu…  kembali terngiang kata-kata Jinyoung hyung. Apa itu benar hyung? Apa itu berarti aku mencintainya? Hyung, tahukah kau kalau dongsaengmu ini bingung dengan perasaannya sendiri?

Pluukk, Jinyoung hyung menepuk pundakku. “Aku tahu kau sama sekali tidak menginginkan ini. Kau tentunya tahu apa yang harus kau lakukan bukan?”

Aku menatap hyung-ku dan aku selalu tahu kalau hyung-ku selalu ada untukku dan selalu dapat mengerti diriku. “Ya hyung! Kali ini aku harus menunjukkan kalau aku mencintainya.”

**********

(Cheonsa POV)

“Yak! Cheonsa! Cih, gadis macam apa yang masih tidur jam segini! Ayo bangun! Teman-temanmu sudah menunggumu diluar!” Aduh umma (Mama), ada apa sih ribut-ribut di siang bolong begini? Aku baru putus umma! Aku lelah dan biarkan aku tidur!

“Cepat bangun dan bersiap! Teman-temanmu mengajakmu pergi keluar. Hari ini hari ulang tahunmu bukan? Cepatlah, mereka ingin merayakan ulang tahunmu!”

Cih, kalau ini memang hari ulang tahunku seharusnya umma membiarkanku tidur dan menangis sepuasnya. Tapi teman-temanku sudah terlanjur datang. Mau bagaimana lagi. Akhirnya aku bersiap juga dan pergi bersama mereka.

Mungkin menghabiskan waktu bersama mereka dapat membuatku melupakan Baro untuk sementara.

***********

(Baro POV)

“Silahkan masuk, Baro-ya . Kamar Cheonsa ada di lantai dua.” Ahjuma (Bibi) membukakan pintu rumahnya untukku.

Khamsa hamnida, ahjuma (terimakasih bibi).”

Akhirnya dengan sedikit kerjasama dengan ahjuma umma-nya Cheonsa dan beberapa teman Cheonsa, aku dan chingu-deul B1A4 dapat masuk ke kamar Cheonsa.

“Balon?”

“Ada!”

“Kado?” Kado? Tentu saja ada, aku sudah membelinya sebelum kesini. Bodoh! Untuk apa aku bertanya kembali. “Kue tart?”

“Ah, aku lupa!” Sandeul Babo! Dasar tidak dapat diandalkan. Padahal aku sudah menyuruhnya untuk membeli kue tart juga. “Aku pergi dulu. Selagi aku membeli kue tart, mulai saja mendekorasi ruangan ini!”

Dengan bantuan Jinyoung dan CNU hyung, serta uri maknae (si bungsu) Gongchan, aku mendekorasi ruangan itu dengan warna pink. Kau tentu bertanya-tanya bukan bagaimana aku dapat masuk kemari dengan mulus? Oh Gongchan sayang, aku tak akan melupakan jasamu.

Rahasianya adalah uri maknae yang ternyata diam-diam seorang cassanova sejati. Beberapa teman Cheonsa adalah teman kencan Gongchan (BEBERAPA, bukan SATU ORANG). Dengan sedikit rayuan dari Gongchan akhirnya mereka bersedia memberikan alamat Cheonsa dan juga bersedia untuk mengajak Cheonsa keluar untuk beberapa saat. Umma-nya Cheonsa juga. Dengan satu kedipan Gongchan dia takluk dan mengijinkan kami mengacak-acak kamar Cheonsa.

“Untuk urusan merayu yeoja, sepertinya kau harus banyak belajar pada Gongchan!”

Cih! Apa bagusnya sih si maknae yang baru kemarin berumur 17 tahun!

“Kenapa kau menatapku seperti itu, hyung?” Aish ternyata dia sadar kalau sedang kuperhatikan. “Jangan-jangan…..”

Bletaaakk!! Mungkin sedikit jitakan dariku dapat membuatnya sadar kalau ‘pesona’nya sama sekali tidak mempan buatku!

“Dekorasi sudah oke, kado juga sudah ada, balon, pita, semuanya sudah. Kau ingin kami melakukan apa lagi?”

Ini belum lengkap hyung! Ada satu yang kurang! Krriieett, pintu kamar Cheonsa terbuka. “Maaf terlambat, ini kue tart-nya.”

“Sempurna!”

**********

(Cheonsa POV)

Terkadang teman-temanku sedikit aneh(oke, bukan sedikit, mungkin memang SANGAT aneh). Mereka yang mengajakku keluar untuk merayakan ulang tahunku, tapi pada akhirnya mereka bingung sendiri akan pergi kemana. Bukankah seharusnya mereka sudah menentukan tempatnya lebih dahulu? Akhirnya kami hanya berkeliling Seoul dengan bus.

“Sudah pulang?” Umma menyambutku. “Bagaimana pestanya?”

“Pesta apanya! Kita hanya berdiri di bus dari satu halte ke halte lainnya sampai rute bus-nya habis. Aku tak habis pikir dengan mereka.”

Umma mendekatiku dan mengusap tanganku sambil merangkulku. “Hh, kalau begitu sebaiknya kau pergi ke kamarmu untuk beristirahat. Kau pasti lelah bukan? Ngomong-ngomong, Saengil chukkae (selamat ulang tahun).”

Aku mencuri sebuah ciuman dari umma-ku sebelum aku pergi keatas, ke kamarku yang berada di lantai dua. Sebenarnya aku takut masuk ke kamarku sendiri. Takut apabila aku sendirian disana maka aku akan mengingat Baro kembali.

Pelan, aku membuka pintu kamarku. Awalnya aku tidak merasa curiga sama sekali. Tetapi…

Waw! Kamarku berubah total. Ada banyak warna pink dimana-mana. Balon, pita, lilin yan dirangkai berbentuk hati. Umma-kah yang menyiapkan ini semua?

Aku sedang sibuk mengamati dan mengagumi kamarku saat seseorang menepuk pundakku. Aku berbalik dan… “Baro?”

Baro? Dia benar-benar Baro? Baro yang membawa serangkai bunga berwarna pink dan tersenyum sambil mengatakan. “Saengil chukkae!”

“A… Aku.. Baro…” Tak terasa air mataku menetes. Aku kehilangan kata-kata untuk mengungkapkan rasa senangku.

Jari-jarinya yang hangat menyentuh wajahku dan menghapus air mataku. Siapa lagi pemilik jari-jari itu selain Baro. “Miyanhae. Aku yang seharusnya meminta maaf. Aku sama sekali tidak lolos kualifikasi untuk menjadi namjachingu yang baik. Seharusnya aku berterimakasih padamu yang telah memilihku.”

“Baro…”

Tangan Baro yang kuat menarikku agar aku jatuh kedalam pelukannya. “Terimakasih telah memilihku. Saranghae Cheonsa-ssi (aku mencintaimu, Cheonsa). Ah, bukan, Saranghae Cheonsa jagiya.”

Kata-kata itu.. Semua kata-kata yang ingin kudengar dari Baro “Nado saranghae.”

**********

(Cheonsa POV-Epilog)

Apa yang lebih indah dari ini? Oke, mungkin ada banyak yang lebih indah dari ini tetapi bagiku, ini adalah salah satu hal terindah yang pernah ada dalam hidupku. Namja yang kucintai ternyata mencintaiku juga. Sekarang aku tidak perlu lagi ragu tentang hal itu.

Pesta ulang tahun kecil-kecilan ini berlangsung meriah di kamarku. Apalagi aku merayakannya bersama 5 namja tampan (siapa lagi kalau bukan B1A4). Gongchan tak henti-hentinya menggodaku tetapi kemudian dihalau oleh Baro yang ternyata sangat protektif. Hihi, mereka semua lucu sekali. Jinyoung oppa, leader mereka juga sangat imut. Tetapi dibalik wajahnya yang imut itu dia sangat bijaksana lho. Lalu ada CNU oppa dan Sandeul yang suaranya bagus.

Kemudian mereka berlima menyanyikan sebuah lagu untukku. Menurut mereka sih ini lagu dari Baro yang dipersembahkan khusus untukku. Lagunya berjudul only learned bad things. Isi lagu itu lebih banyak berupa permintaan maaf (lirik dan translationnya nanti akan kutuliskan di akhir cerita ini).

“Sekarang waktunya melihat kadomu. Hyung, memang kau membelikan apa buat Cheonsa noona?” (catatan: noona, panggilan untuk kakak cewek dari adik cowok).

“Ngg.. Kadonya kutinggalkan di mejamu. Ngg, bukan barang mahal sih. Ah, ya sudahlah. Aku pulang dulu. Kadonya kau lihat saja setelah aku pergi darisini, ok?” Lho, kenapa Baro mendadak malu-malu seperti itu sih?

“Yah, kenapa kita sudah harus pulang? Aku penasaran, memangnya kado apa yang kau berikan?”

Akhirnya Baro terpaksa menyeret Sandeul dan member yang lain agar segera pulang. “Sudah! Ayo pulang saja! Aku ingin cuma Cheonsa yang tau!”

Hihihi, lagi-lagi aku tertawa melihat mereka yang selalu bertengkar manis satu sama lain. Setelah aku mengantar mereka sampai pintu depan. “Hati-hati dijalan ya!”

Sambil menyeret keempat member yang masih memaksa ingin masuk, Baro tersenyum padaku. Kemudian dari jauh dia melingkarkan tangannya diatas tubuhnya kemudian menempelkan telapaknya ke kepala sehingga tangannya berbentuk hati. Bibirnya beregerak tanpa suara tapi aku tahu kalau bibirnya membentuk kata ‘saranghae’.

Kini waktunya aku mencari kadoku. Diatas meja?

Omo..” Aku terkejut saat melihat kado-kado diatas meja. Yang ada diatas meja itu adalah minuman kaleng rasa strawberry yang tidak jadi diberikan Baro di kencan pertama kami, lalu ada bando dengan bunga yang kupakai di toko aksesoris tetapi tidak dihiraukan Baro, juga ada T-shirt dari toko T-shirt tempat dimana kami bertengkar. Benda terakhir yang kulihat adalah sebuah kalung dan sebuah notes kecil dengan tulisan diatasnya.

‘I’ll give you what you didn’t get it last time.’

Oh, inikah yang membuatnya malu-malu itu?

Aku tersenyum dan tak tahan untuk tidak tertawa. Kuambil iPhoneku dan langsung mencari nama Baro di kontak.

Yeobboseyyo (halo?)”

Saranghae Baro jagi!

**********
TAMAT, tapi masih ada lampiran lirik lagu only learned bad things + translation lho…🙂

—————————————————————————

ONLY LEARNED BAD THINGS (HANGUL ROMANIZATION)

saramdeuri bojanha nunmul jom dakkgo gogae deureobwa
mianhada haetjanha mureupirado kkurheo boilkka

heunhan malsilsu gatgo ireoke ulmyeon naega mwoga dwae
saranghae raneun mallon deo isang neoreul dallael su eopgesseo

maeil hyu hyu hyu hyu hyu
gin hansumeul baeteumyeo neul banseonghae

Baby U U U U U
jalharyeogo haneunde an dwae

motdoen malman baewoseo motdoen jitman baewoseo chakhan ni mam mollaseo
mwonga jakkuman kkoyeo kkoyeo

ajik cheori eobseoseo gipeun sarangi eoryeowo
sarang geukkajit geo geunyang mireobutyeo
saenggageul haetdeon naega meongcheonghaesseo

mianhae deo jalhalge (deo jalhalge naega deo jalhalgeHey~ yeah)
mianhae hwa pureojwo
naega da jalmotaesseo

banjjakbanjjak byeolcheonji
nae nune neon wangbi
i bami
dagal ttaejjeum alge doen ni maeryeok
jamgwojin maeum hankyeon
salposi bureul jipyeo
dalkomhan moksori
gin saengmeori like jyaseumin

Baby U U U U U
Baby U U U U U
ni gaseumi apeumyeon nan jjijeojyeo

Baby U U U U U
naega jeongmal akkineun neonde

motdoen malman baewoseo motdoen jitman baewoseo chakhan ni mam mollaseo
mwonga jakkuman kkoyeo kkoyeo

ajik cheori eobseoseo gipeun sarangi eoryeowo
sarang geukkajit geo geunyang mireobutyeo
saenggageul haetdeon naega meongcheonghaesseo

eorin naega jaju hagien
sarangiran mari eosaekhae

‘mianhae deo jalhalge’
gikkeot ireon ppeonhan gamdong eomneun malman

jebal o jebal
jom deo nal jikyeobwajwo
nae noryeok ni mideum geu kkeuten haengbongman isseo

ja ije geuman ulja
geuman ttuk nunmul dakkja

geurae eolmana joha
neon useul ttae jel yeppeo yeppeo Yeah

joheun malman baewoseo joheun geotman baewoseo nado neoreul darmaseo
meotjin aeini doelge OK

orae orae gal geoya eotteon yeoninboda orae
sajugo sipeun geot meogigo sipeun geot
sandeomicheoreom manha jinsimiya

saranghae neol saranghae (neol saranghae naega deo saranghae Hey~ yeah)
saranghae neol saranghae
saranghae neol saranghae (deo Oh deo)
saranghae neol saranghae

———————————————————————————-

(Only Learned Bad Things-Translation)

 

People are looking so wipe your tears and lift your chin up

I said I’m sorry. Should I get on my knees?

What would I become if you cry at my common mistake of words

I don’t think I can comfort you with ‘I love you’ anymore

Everyday sigh sigh sigh sigh sigh

I let out a deep sigh and always reflect on my actions

Baby U U U U U

I want to do good, but I can’t

Because I only learned bad words, bad actions, and don’t know your heart

something always gets twisted twisted

Because I’m still immature, a deep love is hard

I, who thought ‘What’s love, just keep pushing forward’

was stupid

I’m sorry, I’ll do better (Better, I’ll do better Hey~ yeah)

I’m sorry, don’t be mad

I did wrong

Twinkling, twinkling a land of stars

In my eyes, you are a queen

Your charms, that I knew about

after this night was almost over

In a edge of your locked heart,

I slightly light a fire

Your sweet voice

Long, straight hair like Jasmine

Baby U U U U U

If your heart is hurting, I become torn

Baby U U U U U

You are who I really cherish

Because I only learned bad words, bad actions, and don’t know your heart

something always gets twisted twisted

Because I’m still immature, a deep love is hard

I, who thought ‘What’s love, just keep pushing forward’

was stupid

For a young person like me, the word ‘love’

is too awkward to say often

‘I’m sorry, I’ll do better’

And at most, I tell you words that obviously have no feelings

Please, oh, please

Just watch over me a bit more

At the end of my efforts and your trust, there’s only happiness

Alright, let’s stop crying now

Wipe away your tears now

Isn’t that much better

You are the prettiest prettiest when you smile, yeah

I’ll learn good words, good actions, and be like you to

become an amazing boyfriend OK

We’ll go for a long, long time. Longer than any other couple

There’s a mountain full of things that I want to

buy you, feed you. It’s the truth

Love you, I love you (I love you, I love you more Hey~ yeah)

Love you, I love you

Love you, I love you (More, oh more)

Love you, I love you

————————————————————————————————————–

 


Gimana FF-nya chingu?? Silahkan di komen dan like-nya.. Yang rajin ngomen ama nge-like bakal kepilih buat FF request trip selanjutnya.. siapa tau kamu yang kepilih🙂 mau request FF? Baca keterangannya disini

8 responses to “[ONESHOOT] Only Learned Bad Things + Lyric & MV Baro B1A4

  1. lucu,seru! jinppa-ku emang leader plg imut lah~ *lho kok jadi jinyoung
    bagus min,aku suka. romantis tapi ada sedikit comedy nya. goodjob

  2. Persissss.. persis sekali.. aku yang cuma ngeliat mvnya udah susah percaya sama Baro.. (padahal aku suka dia) mvnya gak lengkap.. tapi setelah tau percakapannya .. ‘blood tipe B is Bad Boy TT^TT’ tapi kalau Baro bisa berubah.. aku mau bersabar jadi yeojachigu-nyaa>\\<
    ( mengungkapkan isi hati-_-)
    Oh ya.. aku Alya~ ^^

  3. ini persis kayak MV nya. tapi ff ini malah bikin aku lebih ngeh sama ceritanya :3 Daebak laah :)) ._.b *maaf komen telat*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s