[FREELANCE] The Waiter Boy and the Prince part 2 – 2MIN (Minho + Taemin SHINee)

Klik disini untuk membaca the waiter boy and the prince part 1

Author: Carla Bz (Cathleya). Facebook: click here Twitter: @CattleyaMille

Genre: Romance, yaoi

Rating: PG-13

Casts: Minho (SHINee), Taemin (SHINee), Tuan Choi, Nyonya Choi, Sulli f(x)

——————————————————————————————————–

The waiter boy and the prince

—-Part 2—-

Minho POV

Aku mondar-mandir di kamarku, melempar bantal frustasi. Oh, apa aku keterlaluan tadi? Pasti saat ini dia sedang menangis. Ingin sekali saat ini aku ada disampingnya, memeluknya dan menenangkannya, tapi…

“SIAL!!” aku memukul sisi tempat tidurku yang terbuat dari besi. “Aww, sakit ternyata” yah, tentu saja Choi Minho pabo!

Seseorang mengetuk pelan pintu kamarku, “Minho, umma masuk ne?” Suara umma, benar saja dia langsung masuk tanpa menunggu jawabanku terlebih dahulu. Umma kaget melihat keadaan kamarku yang sangat berantakan.

“Mau apa umma ke kamarku?” Tanyaku sinis.

“Umma ingin tidur bersamamu…”

“Heh?”

“Bercanda sayang, hahaha. Oh, ayolah, padahal sudah lama kita tidur bersama”

“Umma!!”

“Oke, oke. Umma hanya ingin berbicara denganmu. Tapi sebelumnya umma ingin bertanya, apakah tadi ada singa mengamuk yang masuk ke kamarmu? Atau ada kapal perang yang nyasar dan menabrak kamarmu?”

“Huh??” Aku hanya mendengus sebal.

“Kyaa, kyeoptaa! Wah, anak umma tampan sekali jika sedang marah seperti ini”

“Oh, umma berhentilah menganggapku seperti anak kecil!!”

“Apalagi jika sedang merajuk seperti sekarang” Umma pura-pura tidak mendengarku.

“Umma!!!!”

“Kau tidak suka dianggap anak kecil lagi, tapi sikapmu tadi sungguh kekanakkan sekali Minho”

“Maksud umma?”

“Soal Taemin…”

“Aku malas membicarakannya!”

“Baik umma akan tidur disini, mengelonimu kalau perlu. Sampai kita bisa berbicara dengan baik. Bagaimana?”

“Kalau begitu aku tidur diluar saja!!” Aku beranjak keluar dan meninggalkan umma di kamarku. Cih, siapa juga yang mau tidur dengan umma. Tapi, aku mesti tidur dimana? Ini dingin sekali.  Aku berjalan menuju halaman belakang, dan melihat ke arah rumah Taemin, lampunya masih menyala, mungkinkah dia belum tidur?

Aku memberanikan diriku berjalan ke arah rumah kecil Taemin, dia tinggal sendiri disana. Sebenarnya orangtuanya dulu adalah pelayan setia di rumah keluarga Choi, sampai mereka meninggal dan karena umma dan appa-ku kasihan melihat Taemin yang masih kecil sudah kehilangan orangtuanya, Taemin diangkat anak oleh keluarga Choi dan otomatis ia menjadi adik-ku. Tapi walaupun ia sudah menjadi keluarga Choi, ia bersikeras tetap tinggal di rumah kecilnya, dan membantu pekerjaan di rumah keluarga Choi.

Semua nampak sempurna bukan? Keluargaku bahagia bisa memiliki anak semanis dan sebaik Taemin. Dan Taemin bisa merasakan hangatnya keluarga. Tapi tidak denganku, aku iri padanya, orangtuaku sangat menyayanginya. Di sekolah pun dia selalu menjadi juara, dan orangtuaku tak henti-henti membanggakannya di depanku. Itu membuatku muak padanya. Padahal dulu aku sangat menyayanginya, selalu bermain dan tertawa bersamanya. Aku ingin kembali seperti saat-saat itu. Mungkinkah sampai sekarang aku masih menyayanginya? Ah, andwae! Itu tidak mungkin. Aku membencinya, sangat membencinya.

Kenapa aku bodoh sekali, di cuaca sedingin ini aku pergi keluar tanpa mengenakan jaket sama sekali. Aku menggigil saat angin menerpa kulitku. Sebentar lagi sampai minho, ayo tahanlah, aku hanya ingin melihat keadaannya saja.

Aku sampai di depan rumah Taemin, tapi kemudian tersadar. Sedang apa aku disini? Untuk apa aku mengecek keadaanya? Bukankah aku membencinya? Ah, sebaiknya aku kembali ke rumah, lagipula disini dingin sekali.

Aku berbalik berniat kembali ke dalam rumah, dan meminta maaf saja pada umma, atau mungkin sekali-sekali tidur bersama umma pun tak apa. Tapi tiba-tiba aku mendengar suara yang mengagetkanku. Bugggh!

Ah, apa itu? Suaranya berasal dari rumah Taemin, aku buru-buru berbalik dan mencoba membuka pintu rumahnya. Tidak bisa dibuka, apa sudah dikunci? Tapi pintunya membuka sedikit, dan aku mencoba mendorongnya, tapi berattt. Seperti ada sesuatu yang menahannya. Apa mungkin Taemin berada di balik pintu ini? Apa sesuatu terjadi padanya? Aku benar-benar khawatir dan mendorong pintu itu perlahan, sehingga aku bisa masuk walaupun itu agak sulit.

Aku melihat Taemin meringkuk di balik pintu, dan matanya sembab. Oh? Menangiskah? Aku mengecek keadaannya, tidak ada yang aneh. Apa dia terjatuh saat tertidur? Hihihi, kelakuannya sama sekali tidak berubah, aku terkekeh pelan. Tapi kemudian tersadar lagi, untuk apa aku mengingat hal-hal seperti itu, cih.

Tapi kasihan juga melihatnya tertidur seperti itu, jadi aku menggendongnya dan menidurkannya di atas tempat tidurnya, kemudian menyelimutinya. Ah, apakah aku mesti mencium keningnya juga? Andwae andwae andwae! aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Ini sudah cukup, aku sudah bersikap baik hari ini, dan umma harus tau.

Aku melangkah pulang, tapi kemudian berbalik lagi melihat wajahnya yang sedang tertidur, “Yeppeo…,” gumamku. Dan kurasakan wajahku memanas. Ah apa ini, kenapa wajahku memerah? Aku sudah gila. Ummaaaaaa….

***

Taemin POV

Hari ini aneh sekali, Minho sama sekali tidak menyulitkanku dan menyuruhku hal yang aneh-aneh. Bahkan saat di ruang makan tadi dia hanya diam dan tak berkomentar, padahal biasanya dia marah-marah kalau aku ikut makan bersama di ruang makan. Dan yang lebih aneh lagi, di ruang makan tadi Choi Umma bercerita tentang Seekor singa yang menyelamatkan tuan putri. Cerita macam apa itu? Aku baru mendengarnya. Dan kuperhatikan wajah Minho memerah dan menunduk saat Choi Umma bercerita.

Dan hal yang paling aneh adalah, tadi pagi aku terbangun sudah berada di atas kasurku, padahal seingatku aku tertidur di balik pintu, kelelahan karena menangis. Apa mungkin aku tidur sambil berjalan? Yah mungkin saja, aku tak punya ide lain tentang itu.

“Taeminnie, hari ini pergi berangkat bareng Minho saja yaa,” kata Choi Umma sambil mengelus rambut almond-ku.

“Eh? Aku naik bus saja Umma…”

“Tidak boleh! Naik mobil saja. Minho sudah menunggu di mobil”

“Tapi umma…”

“Sudahlah, tidak perlu takut pada Minho ne. Kau naik saja. Hati-hati sayang”

“Ne umma” akhirnya dengan gugup aku naik ke mobil, Minho sudah duduk di dalamnya memandang keluar. Dia tampak kaget saat melihatku naik ke mobilnya. Tapi tidak berkata apa-apa, hanya membalikkan tubuhnya menatap kembali ke arah jendela. Wih, tumben? Biasanya dia langsung mengusirku.

Selama perjalanan ke sekolah, kami terdiam dengan pikiran masing-masing. Ada yang aneh dengan makhluk disampingku ini. Dia tampak tenang, tidak meledak-ledak seperti biasanya. Aaahhh, damainya….

“Minho…” aku penasaran, jadi aku memanggilnya. Tanpa melihat ke arahnya, karena takut akan reaksinya. Dia hanya mendengung pelan.

“Minho…” aku mengeraskan suaraku, masih penasaran.

“Diam atau kau kuturunkan!” teriaknya. Hah, ternyata masih saja buas. Aku pikir hari ini dia kejedot atau apa gitu sampai berubah menjadi pendiam. Ternyata masih sama saja. Akhirnya aku terdiam sampai mobil berhenti di depan gerbang sekolah. Kami berpisah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

***

Minho POV

“Minho, aku lihat kau datang ke sekolah bersama adikmu yang manis itu tadi pagi?” Tanya temanku jonghyun saat jam istirahat.

“Dia bukan adikku! Dia pelayanku!” aku melotot ke arahnya. Kesal.

“Aishh, ya ya ya. Itu maksudku, tumben sekali kau berangkat bersamanya?”

“Bukan urusanmu!”

“Kau galak sekali, aku kan hanya bertanya”

“Lebih baik tutup mulutmu!”

“Lagi PMS ya?” tanya temanku yang lain, Key. Aku melotot ke arahnya.

“Minho-ya, tanpa melotot pun matamu sudah sangat besar, kau tak perlu melotot seperti itu membuatku gemas saja, hahaha” Key tertawa nyaring, membuatku heran sebenarnya, seorang namja memiliki suara cempreng, seperti umma-ku saja.

“Apa katamu??” kataku marah.

“Kenapa harus marah-marah sih? Apa karena belum melihat adikmu yang cantik itu di kantin ini ya?” Kata Onew, temanku yang lain. JLEB! Tepat sasaran. Itulah yang membuatku gelisah dari tadi. Kenapa dia belum muncul juga di kantin, padahal jam istirahat sudah berbunyi dari setengah jam yang lalu.

“A-Andwae!” kataku mengelak, tapi tidak bisa menyembunyikan kegugupanku.

“Benarkah? Ah, lihat itu dia datang!!” Kata Key keras sambil menunjuk ke arah koridor samping, dan secara otomatis aku langsung menengokkan kepala-ku. Dan… deng-dong, semuanya tertawa kencang sambil menahan perutnya. Ah, aku tau. Mereka menipukuku! Menyebalkan!

“Minhooo, kau ini lucu sekali. Hahahaha”

“Kalian benar-benar menyebalkan!” aku marah dan bangkit dari tempat duduk-ku. Dan masih kudengar mereka tertawa terpingkal-pingkal di belakangku.

Mungkin aku harus mencari pelayan sialan itu, ini semua gara-garanya. Aku dipermalukan oleh teman-teman bodohku itu.

Aku berjalan ke kelasnya, dan melongokkan kepalaku. Dia tidak ada di kelasnya. Eoh? Aku benar-benar seperti orang bodoh, untuk apa aku mencarinya? Bukankah aku tinggal memanggilnya, dan dia akan segera datang kepadaku seperti biasanya? Kemudian aku mengambil ponselku dan meneleponnya.

“Siall, Taemin kenapa tidak diangkat?? Kemana perginya bocah sialan itu!” Aku marah-marah dan pergi ke atap, kupikir aku akan membolos saja dan tidur di atap.

Sesampainya di atap…

“Aku sudah lama menyukaimu…” aku mendengar seorang yeoja yang sedang menyatakan cinta pada seseorang. Tapi aku tak bisa melihat wajah mereka, karena terhalang tumpukan meja bekas.

“Taemin, apa jawabanmu?” kata yeoja itu lagi. Apa katanya barusan? Taemin? Aku buru-buru melihatnya sampai menjatuhkan tumpukan meja di depanku dan mengagetkan 2 orang dengan acara pernyataan cintanya itu. Akhirnya aku bisa melihat jelas siapa mereka. Sulli… dan Taemin? Mereka kaget melihatku. Tentu saja.

“Iya Sulli… aku mau jadi pacarmu…” apa? Taemin menerimanya? Ternyata mereka melanjutkan acara mereka, tanpa peduli ada aku yang sedang menontonnya. Sialan Taemin! Kenapa aku harus marah melihat adegan di depanku ini? Tapi bodohnya, aku masih belum beranjak dari tempatku. Sampai akhirnya mereka pergi begitu saja melewatiku, dan aku tersadar saat Taemin berbisik ke arahku, “Sudah cukup mengintipnya, acaranya sudah selesai” Omoooo, aku memalingkan wajahku, malu.

***

(bersambung) Klik disini untuk membaca The waiter boy and the prince part 3

JAngan lupa komen dan like-nya ya chingu ^^

 

9 responses to “[FREELANCE] The Waiter Boy and the Prince part 2 – 2MIN (Minho + Taemin SHINee)

  1. Ping-balik: [FREELANCE] The Waiter Boy and the Prince part 1 – 2MIN (Minho + Taemin SHINee) « Asian Fan Fiction Story·

  2. Senangnya jadi admin bisa baca lanjutan cerita ini dulan…😀 TAEMIN BABOOOOOOOOO!!!!!!!!! (Dari tadi di twiter bikin status ini terus) Kenapa si Sully malah diterimaaaa???? GAK RELLLAAAAA!!!!! TAEMIN HANYA MILIKKU SEORANG!!! #lho??

    • padahal aku takut banget ga ada yang suka, huweee *nangis di ketek dubu~*
      oh? aku jarang banget buka twitter, kekeke~
      *ngerusuh sambil bawa-bawa banner 2min* Andwae, Taemin hanya milik Minho seorang, hahaha😄 *gubrak*

  3. Ping-balik: [FREELANCE] The Waiter Boy and the Prince part 3 – 2MIN (Minho + Taemin SHINee) « Asian Fan Fiction Story·

  4. Ping-balik: [FREELANCE] The Waiter Boy and the Prince part 4 (END) – 2MIN (Minho + Taemin SHINee) « Asian Fan Fiction Story·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s