[Japan Fan Fiction] Chocoberry Love Story – Yamada Ryosuke (Hey Say Jump!)

Title:  Chochoberry Love Story

Author: Cherry
Genre:  Romance

Rating:  PG-17
Type:  Oneshot
Characters: Yamada Ryosuke (Hey Say Jump!) , Nishimura Naomi (OC)

Note: Lagi inget manga kaichou wa maid sama/my sweet kaichou. Coba bayangkan kalo Ryo-chan beneran baca manga kayak gitu. ~XD *digeplak masa*

“Naomi!” aku berbalik mendengar seseorang memanggil namaku. “Mau ikut kami belanja untuk valentine? Dua hari lagi tanggal 14 kan!”

Aku menggeleng cepat, tanpa berkata apa – apa aku bergegas berlari meninggalkan mereka. Valentine katanya, huh. Buang – buang waktu, tidak bermanfaat, aku tak habis pikir kenapa ada hari seperti itu di dunia. Seperti orang bodoh gadis – gadis ribut memborong semua cokelat untuk diberikan pada seseorang yang mereka sukai. Memangnya tidak bisa mereka melakukan hal yang lebih bermanfaat selain ribut kesana kemari mencari cokelat dan memilih bungkusan paling cantik, lalu dengan wajah tolol mendekati seseorang sambil menyerahkan bungkusan itu.

Aku tak akan pernah melakukankan, sekali lagi AKU TAK AKAN PERNAH MELAKUKAN HAL KONYOL SEMACAM ITU. Pegang ucapanku!

Bagiku ada yang lebih berarti dari pada valentine, cokelat atau cowo – cowo bodoh itu. Hari ini aku akan bertemu dengan Takumi-chan, Usui Takumiku tercinta yang jauh lebih baik dari cowo – cowo aneh dan menyebalkan itu. Sosok yang begitu sempurna, baik, romantis meskipun jahil dan yang lebih penting TIDAK AKAN PERNAH PENYAKITIKU SEPERTI COWO – COWO TIDAK TAHU DIRI ITU!!!

Aku berlari makin kencang, seketika aku menerobos pintu masuk toko buku itu, sudah tidak sabar ingin ‘menyentuh’ Takumi-chanku tercinta. Suasana toko buku siang itu lumayan ramai. Tapi aku tak peduli, aku bergegas menuju rak bagian manga. Seketika mataku berbinar begitu melihat gambar Takumi-chanku telah terpampang dengan manis di cover depannya. Ah, Takumi-chanku, aku begitu merindukanmu, kenapa kau membuat aku menunggu selama ini he. Aku hampir saja hendak menuju ke tempat Fujiwara sensei agar dia segera mempertemukanku denganmu.

Perlahan tanganku bergerak hendak mengambil Takumi-chan itu yang seolah sedang memanggilku untuk menyentuhnya dan membawanya pulang. Manga itu tinggal satu – satunya, ah….beruntungnya aku. Aku tau kalau aku memang sudah ditakdirkan untuk bersama Takumi-chan.

Aku membelalak ketika sebuah tangan juga terulur memegang sisi satunya lagi buku itu. Tangan kami tak bergerak, sama – sama masih memegang manga itu. Aku menoleh hendak melihat siapa yang berani – beraninya hendak merebut Takumi-chanku. Siapapun dia akan ku hadapi!

Are (eh)?” aku mengerjap kaget melihat sesosok cowo ‘cantik’ yang sekarang juga tengah menatap ke arahku. Masaka, itu kan….Yamada Ryosuke, Prince of a thousand girl. Pangeran seribu gadis begitu dia dijuluki, menurut gosip yang beredar hampir setiap hari semua gadis bertekuk lutut dan rela melakukan apa saja untuk bisa jadi pacarnya. Populer, handsome, kind dan yang terpenting single! Tak ada satu orangpun yang berhasil menguak misteri kenapa sang pangeran belum juga punya pacar sampai saat ini.

Dan sekarang dia disini, di depanku, menyentuh manga kaichou wa maid sama terakhir yang sudah ku tunggu – tunggu dan harusnya jadi milikku, aku pasti sedang bermimpi di siang bolong.

“Ini milikku!” ucapnya tiba – tiba. Aku mengangkat wajah kaget mendengar nada suaranya yang dingin. Oh apanya yang pangeran berwajah malaikat dan berhati baik? Nada suaranya sungguh tak enak didengar. Tak tahukan dia bahwa aku menunggu lama untuk manga ini, berlari – lari dari sekolah sampai ke sini, dikejar anjing, hampir menabrak tiang, terkena tendangan bola seorang anak kecil dan setelah sampai disini aku melihat manga itu tinggal satu – satunya dan aku masih harus BEREBUT dengan pangeran yang katanya baik hati ini tapi malah tidak mau mengalah sama sekali. Kamisama, cobaan itu TERLALU BERAT!

“Tapi aku yang melihatnya duluan!” bantahku tak mau kalah. Aku menarik manga itu ke arahku.

“Aku yang menyentuhnya pertama kali!” dia kembali menarik manga itu ke arahnya.

“Ini milikku, lepaskan!” aku mencoba menariknya lagi.

“Kau yang lepaskan, ini milikku!” akhirnya adegan tarik – menarik tak bisa terelakkan. Aku tak akan mengalah, apapun yang terjadi aku harus memiliki manga itu, aku harus memiliki Takumi-chanku!

Brreeettt! Aku kaget mendengar bunyi itu, seketika aku menghentikan kegiatan tarik menarik itu, aku menelan ludah lalu menatap ke arah manga di tanganku, lebih tepatnya potang manga! Kyaaaaaaaaaaa….robeeeeeeeeeek. Takumi-chankuuuuuuuuu!!!!

“Ini…ini salahmu, kenapa kau tak mau berhenti menariknya!” wajah menyebalkannya sama shocknya denganku, dan bagusnya sekarang dia menyalahkanku. Memangnya dia pikir dia tak salah, kalau saja dia tak ikut menarik manga itu mungkin saja aku sudah pulang dan bisa membawa Takumi-chan yang begitu aku rindukan selamat sampai di rumah. Dasar cowo sinting berkepribadian ganda, menyebalkan, tak tau diri, aaaarrrrrrgggghhhhh!!!!!

Seketika aku maju mendekatinya dan mendekatkan tanganku ke lehernya, mencekiknya rasanya belum akan membuat hatiku puas.

“Ohok……sesak….ta.…tasukete (to…toloong)…ohok.!” dia berusaha keras melepaskan cengkeramanku pada lehernya, tapi tak bisa. Aku marah, dan aku tak pernah main – main soal itu.

Orang – orang mulai menyadari apa yang terjadi dan menatap ke arah kami. Tak lama pemilik toko buku datang dan melerai kami, mempertanyakan soal manga yang robek dan tentunya kami dipaksa mengganti!

Setelah meletakkan selembar uang aku memandang ke arahnya, dia ternyata juga sedang menatapku dengan tatapan tajam sambil mengelus – elus lehernya pelan. Wajahnya masih memerah akibat cekikanku tadi.

“Dasar cewe otaku tidak waras!” bisiknya sambil masih menatapku tajam.

Aku balas menatapnya, “dasar cowo gila berkepribadian ganda!”

***

“Takumi-chanku…hueee….Takumi-chanku…!” aku bergumam sambil mengacak – acak rambutku frustasi. Beberapa toko sudah ku datangi tapi tetap saja aku kehabisan volume terbaru kaichou wa maid sama itu. Semua gara – gara cowo sialan itu!!

“Ssst…lihat tuh si Nishimura kenapa, ngomong sendiri gitu!”

“Sudah biarkan, salah – salah kau bisa dibacok!” aku tak mempedulikan, lagipula aku sudah biasa mendengar ucapan – ucapan seperti itu. Kadang aku iba melihat mereka, mereka bahkan tak bisa membedakan antara otaku dan psikopat.

Aku berjalan keluar kelas, suntuk, kesal, pusing, semua menyatu dalam otakku. Kemana lagi aku harus mencari manga itu, semua tempat sudah aku datangi tapi tetap saja hasilnya sama, stoknya habis! Huh…gara – gara cowo itu. Cowo aneh bermuka dua yang ternyata juga otaku sama sepertiku. Pangeran seribu gadis? Ckckck, tak cocok untuknya, yang cocok harusnya Pangeran seribu wajah!!!! Chotto matte (tunggu dulu), apa penggemar – penggemarnya sudah tau kalau dia seorang otaku?

“Ho, si cewe otaku rupanya!” panjang umur. Baru saja aku berpikir mengenainya kini dia telah berada di depanku, berpangku tangan sambil memasang wajah angkuh dan mulai berjalan ke arahku. Aku tak habis pikir gadis – gadis tergila – gila padanya, tak ada yang bisa dilihat darinya, cuma yahhhhh…wajahnya yang memang sempurna.

Aku melengos, seolah dirinya tidak otaku saja.

“Masih meratapi nasibmu yang malang gara – gara tidak bisa mendapatkan Takumi-chan mu he?” ucapnya sambil tersenyum menyebalkan. Ugh, sial! Dia tahu kalau aku belum mendapatkan volume terbaru dari manga maid sama itu, Takumi-chan kuuuuuu!

“Susah sekali memang!” dia berjalan makin dekat. “Tapi aku sebentar lagi akan mendapatkannya.”

“Apa?” ucapku kaget.

“Ku bilang sebentar lagi aku akan mendapatkan volume terbaru kaichou wa maid sama yang kau idam – idamkan itu!” ulangnya lebih jelas. Mataku membulat, maid sama??? Takumi-chankuuuuu!

“Dimana…dimana aku bisa mendapatkannya?” tanyaku menggebu – gebu.

Matanya menyipit, senyum menyebalkan itu masih mengembang di wajahnya, “Siapa bilang aku mau memberitahumu!”

Oh Kamisama (Oh God), dia mulai lagi!

“Kau tak mau memberitahu padaku?” aku menatapnya tajam.

“Hmmm…rasanya tidak untuk cewe yang telah berani mencekikku sampai aku hampir mati dan mempermalukanku di depan orang banyak!”

Aku menghela nafas sejenak, lalu menatapnya lagi, “Jangan paksa aku untuk mengatakan itu pada semua orang!”

“Apa?” tanyanya sambil sedikit memiringkan kepalanya, matanya menatapku penasaran.

“Ehm…” aku berdehem kecil menghindari tatapan matanya, mendadak panas dingin melihat wajahnya yang….yaaahhh…harus ku akui, menggemaskan!

“Bahwa kau otaku (maniak komik, anime, etc)!”

Nani (apa)?” dia makin mendekatkan wajah ke arahku, melebarkan matanya. Kamisama, aku tak tahu kenapa tapi rasanya jantungku mau copot melihat wajahnya sedekat itu.

Refleks aku mendorong tubuhnya menjauh. “Aku bilang aku akan bilang kau otaku berkepribadian ganda yang hobi membaca manga kaichou wa ma…..hhmmpphh…!” belum sempat aku melanjutkan kalimatku dia membekap mulutku cepat.

“Yamero! (Berhenti!)” bisiknya sambil menatap sekeliling, memastikan disekitar sini sedang tidak ada orang. Dia melepaskan tangannya dan menekan kedua bahuku.

“Jangan coba – coba berkata apapun!” ucapnya penuh penekanan.

“Apa peduliku!” jawabku sambil memalingkan wajah. “Aku tak takut, bahkan jika kau hasut orang – orang satu sekolah untuk memusuhiku!”

Nafasnya menerpa hangat wajahku, ku pikir sebentar lagi dia pasti meledak seperti kemarin.

“Ku mohon!” tapi yang terjadi sungguh diluar dugaanku, dia malah menatapku dengan sorot mata memelas, dan….dan…tatapannya ituuuuu…! Rasanya aku makin tak sanggup menatap wajahnya.

“Kalau begitu antar aku ke tempat itu!”

***

Yattaaa (Horeeee!!! Yeeyyy)…Takumi-chaaaaan!” aku melompat – lompat kegirangan sambil mengayun ayunkan bungkusan di tanganku. Didalamnya tentu saja ada manga kaichou wa maid sama yang baru aku dapatkan. Aku bahkan memilih tidak mempedulikan cowo yang berjalan di sampingku. Biar saja dia malu sekalian, aku yang bertingkah kekanak – kanakan seperti ini saja tak malu, kenapa harus dia yang ribut.

Aku masih berjalan sambil meloncat – loncat bahagia. Sekali lagi aku yakin bahwa aku memang ditakdirkan bersama Takumi-chan, sekali lagi aku yakin lebih baik bersama Takumi-chan daripada cowo manapun di dunia. Tapi kali ini Takumi-chan membawa bencana, karena terlalu semangat meloncat – loncat, kakiku tersandung batu, keseimbanganku hilang dan aku nyaris roboh.

“Hati – hati!” sebuah suara berbisik tepat di telingaku, lengannya kini melingkar erat di pinggangku, menahan tubuhku agar tidak jatuh. Jantungku seperti mau meledak, aku bisa merasakan wangi tubuhnya, rasanya aku tak tahu semerah apa wajahku saat ini.

Ano (Mmm), jadi sampai kapan kita mau begini?” ucapannya menyadarkanku, aku buru – buru berdiri dan menjauh darinya.

Gomen (maaf), arigatou (terimakasih)!” jawabku pelan, hampir tak terdengar. Aku menunduk, tak berani mengangkat wajah untuk menatapnya. Tapi kemudian ku rasakan tangannya mengacak rambutku pelan.

“Baka, makanya kalau jalan lihat – lihat!” ucapnya sambil tersenyum.

“A…aku ke arah sana!” tunjukku, masih tak berani memandang wajahnya. Demi Tuhan, dia pasti menyadari wajahnya yang memerah sekarang, dia pasti akan berpikir macam – macam, atau mungkin kege-eran, sial!

Tanpa menunggu jawaban darinya, aku setengah berlari ke arah yang tadi aku tunjuk. Mukaku terasa panas, jantungku berdetak tak terkendali, huaaaaa….ada apa denganku….Takumi-chaaaaaaan! Aku menarik nafas dalam – dalam, mencoba menenangkan diri, berharap ini cuma berlangsung sesaat saja.

“Nona….” tiga orang pria, atau lebih tepatnya bapak – bapak menghadang jalanku di sebuah gang yang lumayan sempit. Mataku menyipit memandang mereka.

“Ayo berfoto bersama kami nona!” seorang bapak mendekat ke arahku. Aku mundur.

“Kami mohon nona, sekali saja!” mereka mendekat bersama ke arahku.

“Yamete (Berhenti) !” ucapku tegas, melihat mereka tertawa aneh saat menatapku membuatku mundur ketakutan.

“Lihat dia, kulitnya putih bersih, matanya bulat, bibirnya merah, imut sekali!”

“Kawaii moe! (Cewek imut!)”

Astaga! Mereka ternyata para otaku gila. Kamisama (Tuhan)…tasukete (Tolong aku), mengapa tempat ini sepi sekali!!!

“Ayo kita bawa saja, jadikan koleksi!”

Hueeeeee…apa katanya?????

“Jangan mendekat! Atau aku akan berteriak!” ucapku nyaris menjerit, aku terjepit sekarang, tidak bisa kabur kemanapun sementara mereka makin mendekat ke arahku.

“Jangan takut nona, jangan takut…ayo ikut bersama kami!”

Tasuketeeeeeeeeeee….. (TOLLLOOOONNNGG)!!!!!!” jeritku sekuat tenaga saat salah seorang dari mereka mencengkram lenganku.

“Oi kakek – kakek mesum!” sebuah suara menghentikan gerakan mereka, serentak semuanya mengarah ke sumber suara. Aku terpana melihat sosok cantik itu mendekat ke arah kami. Makin dekat dan sekarang dia telah berdiri di depan tiga orang bapak – bapak ini. Dia menarik lenganku dengan sekali sentakan hingga lengan sebelah kananku terlepas dari cengkeraman bapak – bapak itu. Dia merangkul bahuku, menarikku merapat ke tubuhnya.

“Nona itu bersama kami!” seorang bapak angkat bicara sambil menatap kami tajam.

“Tidak bisa kakek, dia milikku!” aku bengong mendengar ucapannya, perlahan aku menoleh ke arah wajahnya. Dia masih menatap kakek – kakek itu tenang.

“Anak muda, serahkan nona itu!” tiga kakek itu mendekat ke arah kami. Kami mundur, Yamada tidak melepaskan rangkulannya dari bahuku. Aku tak bisa membayangkan cowo secantik dia akan berkelahi menghadapi tiga bapak – bapak mesum dan otaku yang badannya jauh dari kata kurus.

“Lari saat ku beri aba – aba!” ucapnya berbisik padaku.

“He?” aku menatap wajahnya tak mengerti.

“Sekarang!” ucapnya tiba – tiba sambil menarik tanganku. Kami lari tunggang langgang menjauhi bapak – bapak itu yang kelihatannya kaget karena tak menyangka kami akan lari. Dia tidak melepaskan pegangan tangannya saat kami berlari,

“Kesini!” dia menarikku ke sebuah celah sempit antara dua gedung yang tidak begitu besar. Kami menahan nafas saat tiga bapak – bapak mesum itu lewat, berharap mereka tidak menemukan kami disini.

Aku menghela nafas lega saat tiga sosok itu berlari menjauh dari kami. Aku terduduk lemas dan masih terengah – engah, Yamada ikut mendudukkan dirinya di sebelahku.

Arigatou ne (terimakasih), kalau bukan gara – gara kau aku tak tahu lagi bagaimana nasibku di tangan bapak – bapak itu!” ucapku sambil masih terengah – engah.

Baka! (Bodoh!) Kan sudah dari tadi ku bilang, hati – hati!” jawabnya juga terengah – engah. Ku lihat keringat mulai bercucuran menetes di kulit mulus wajahnya.

Kowaii ne (menakutkan) ...aku tidak pernah bertemu orang – orang seperti itu sebelumnya!” aku bergidik ngeri. “Otaku memang menyebalkan!”

“Kalau begitu kenapa kau mau jadi otaku?” aku menoleh cepat ke arahnya, kaget. Baru kali ini ada orang yang menanyakan alasanku jadi seorang otaku, umumnya yang lain cuma diam dan menjauhiku.

“Dan sepertinya kau cinta mati pada Takumi!” tambahnya.

“Mmm…iya, dia sosok sempurna menurutku. Dan lagi dia tidak akan menyakitiku seperti cowo – cowo didunia nyata!” jawabku jujur. Selama 17 tahun hidup di dunia dan belum pernah sekalipun pacaran itu bukan merupakan suatu kebanggaan.

“Tidak ada cowo di dunia nyata yang sebaik dia!”

“Darimana kau tahu?”

“Setidaknya itu yang aku rasakan!” ucapku pelan, ingat peristiwa – peristiwa yang aku alami. Sekalinya menyukai orang, dia pasti sudah punya pacar, sekalinya disukai, pasti oleh cowo aneh, maniak dan menyebalkan. Dan aku dianggap boneka oleh cowo – cowo disekitarku, cuma untuk diganggu dan dipermainkan.

“Teman – teman sekelasku dulu sering menggangguku sampai aku berteriak – teriak seperti orang gila pada mereka. Giliran pada cewe yang cantik saja mereka baik, giliran aku pasti selalu diusili! Padahal sudah tak terhitung banyaknya aku marah dan ngambek berkali – kali pada mereka!” seperti air mengalir cerita itu meluncur begitu saja dari mulutku, cerita yang belum pernah didengar oleh siapapun sebelumnya.

“Hmmpph…!” aku menoleh cepat kearahnya saat ku lihat dia seperti menahan senyum.

Nande (kenapa)?” tanyaku tak mengerti.

“Kau tahu kenapa mereka bersikap begitu padamu? Itu karena wajahmu saat marah itu lucu sekali. Menggemaskan!” aku menatap Yamada kaget, tapi dengan cepat aku menunduk sebelum dia menyadari perubahan wajahku.

“Ne Nishimura….” aku mengangkat wajah lagi, menatapnya. Dia menatap cermat ke arah wajahku.

“Retak!” tunjuknya pada kaca sebelah kiri kacamataku. Tanpa bisa ku cegah dia mencopot kacamataku dan menunjukkannya padaku.

“Ah, aku bahkan tak sadar dari kapan itu retak!” tiba – tiba Yamada menganggkat tinggi – tinggi kacamataku dan menerawang – nerawang melihat kacanya.

“Ini kacamata apa he? Lebar sekali. Minus?”

“Bukan!”

“Lalu?”

“Mataku normal!”

“He?” dia menatapku heran. “Lalu kenapa pakai kacamata? Yang bentuknya aneh dan kebesaran seperti ini pula!”

“Karena kalau tanpa kacamata penglihatanku jelas!”

Yamada menggeleng – gelengkan kepala pelan, “Dasar baka, lebih bagus kau tidak pakai kacamata tahu!”

Hontou (benarkah)?” aku menatap tepat ke arah matanya untuk pertama kalinya, tanpa perantara kacamataku.

Dia mengangguk pelan, menatapku dalam dan dengan tangannya dia menyibakkan sebagian poni yang menutupi mataku,”aku jadi bisa melihat matamu dengan jelas.”

***

“Nishimura…yamero (Berhenti)!” seseorang meneriakkan namaku, tapi aku tak peduli. Aku terus berjalan meskipun setiap pasang mata terus menatapku saat aku lewat.

“Nishimura!” aku makin mempercepat langkahku. Kamisama, tasukete! Aku tak ingin bertemu dengannya, aku malu.

Aku setengah berlari saat dia berteriak lagi, “Naomi!” hampir saja aku hendak berhenti dan berbalik ketika dia meneriakkan nama kecilku. Tapi melihat orang – orang di sekitarku semakin menatapku kaget, aku mengurungkan niat itu.

Aku menghentikan langkahku tepat di tengah lapangan basket. Nafasku terengah – engah, mukaku panas, dan aku masing menggenggam erat benda persegi empat di tanganku.

“Kenapa kau mengikutiku?” tanyaku.

“Harusnya aku yang bertanya padamu. Kenapa kau tiba – tiba berada di depan kelasku, lalu lari begitu saja saat melihat wajahku?” aku meremas cokelat itu makin erat. Aku tak mungkin berkata kalau aku mau memberinya cokelat dan membeberkan kalau dia cowo pertama di dunia nyata yang bisa membuatku berdebar, dan…dan…mengakui kalau aku termakan ucapanku sendiri. Satu lagi, dan aku adalah gadis bodoh yang terkena karma dan lupa sebuah fakta bahwa sang pangeran Yamada Ryosuke ini penggila strawberry. Semua gadis yang memberinya cokelat pasti ada unsur stawberrynya. Simpelnya, cokelat rasa strawberry.

Nandemonai! (Tidak ada apa-apa)” ucapku pelan. Aku berbalik, dia tersenyum sambil menatapku.

“Memang lebih baik tanpa kacamata kan. Kau jadi membuat semua orang menoleh padamu!” aku melengos cepat, menyadari perubahan warna wajahku yang memang akhir – akhir ini tidak terkontrol setiap berada di dekatnya.

Dia berjalan mendekatiku perlahan, lalu menarik tanganku dan mengambil benda persegi di tanganku.

“Cokelatnya sudah mencair!” ucapnya. Aku mengangguk pelan, seperti orang idiot mengantri berjam – jam untuk mendapatkan cokelat itu, ternyata aku membeli cokelat yang salah pula dan sekarang aku tak berhasil memberikannya pada orang yang ku maksud. Meskipun cokelat itu sekarang sudah ada di tangan orang itu, tapi mustahil seorang Yamada Ryosuke mau menerima cokelat meleleh tanpa strawberry milik seorang gadis otaku sepertiku.

“Strawberry itu dari fansmu juga?” aku menunjuk bungkusan di tangan kirinya.

“Bukan, ini ku bawa dari rumah!” ucapnya, lalu dia menatapku sambil tersenyum manis. “Tapi aku tak akan membaginya denganmu!”

“Aku juga tak minta!” aku melengos cepat. “Strawberry itu kan asam, aneh sekali justru bagi yang suka!”

Dengan tenang dia membuka bungkusan cokelatku, mengambil satu butir strawberry lalu mengoleskan cokelat yang sudah meleleh ke ujung strawberry itu, lalu dia menggigitnya. Dia mengunyah strawberry itu dengan nikmat.

“Ne….” aku menoleh dan menatap tepat ke arah bola matanya, untuk kesekian kalinya tanpa ada penghalang apapun, tanpa kacamata anehku. Perlahan dia mendekatkan wajahnya pada wajahku dan tanpa ku duga bibirnya yang kemerahan menyentuh lembut bibirku. Dia menjauhkan wajahnya dan tersenyum sambil menatapku.

“Manis kan?” ucapnya lembut.

Aku kali ini tidak bisa menyembunyikan perubahan wajahku lagi. Aku mengguk pelan, sementara dia menderaikan tawa renyahnya dan mengusap pelan kepalaku, kali ini aku membiarkan dia menatap rona wajahku yang senada dengan warna strawberrynya.

END

8 responses to “[Japan Fan Fiction] Chocoberry Love Story – Yamada Ryosuke (Hey Say Jump!)

  1. Hyaa sweet bgt ceritanya >< Mau jadi si Naomi :3 Btw ini pertama kalinya aku baca FF Jepang, istilah2 dlm bhs. Jepangnya aku jga masih berasa aneh tpi karena ada artinya d sampingnya jadi tau deh😀 Rasanya kaya lagi baca manga pas baca FF ini deh, pokoknya suka ^^b

  2. ceritanya cakep,,,
    walau masih ada kata2 yg kerasa kurang pas githu,, tp tetep,,, keren!!
    ganbatte ne!!
    buat ff jepangnya dibanyakin yh,,, klo bisa kou-chan banyakin yh!! *maklum he’s my ichiban*
    sekali lagi GANBATTE!!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s