[Korea Fan Fiction] Can U Smile.OS – Taemin SHINee

Title: Can U Smile

Genre: Angst

Rated: G

Cast: Taemin ,Choi Rin Rin (oc)

Length: one shoot

Aku berjalan mengikutinya dengan kamera ditanganku. Berusaha membidik nya. Namun, dia tetap berjalan sembari membaca buku di tangan kanannya tangan kirinya dia masukkan ke dalam kantong celana seragamnya. Dikupingnya terpasang headset. Dia berjalan tanpa memperdulikan lingkungan sekitarnya, terus berjalan menuju halte dan akan terus membaca buku hingga naik bus dn turun di halte dekat sekolah. Akan terus begitu hingga ia memauki kelas.

. Aku dia mematung dengan kamera ditanganku. Aku meliriknya sekilas. Dia membalikkan badannya dan menatapku aneh. Aku melemparkan senyum kaku kearahnya. Dia menaikkan sudut bibirnya dan berjalan mendekatiku.

TUKKK…

Dia memukulkan bukunya tepat di ubun-ubun kepalaku. “Aww!!” aku menggosok-gosokkan tanganku di kepalaku alih-alih mengurangi rasa sakit. Dan meringis menahan sakit menatapnya.

“sampai kapan kau akan terus mengikuti huh?” tanyanya angkuh.

“sampai aku bisa melihatmu tersenyum.” Jawabku. Dia berjalan meninggalkanku. Aku menjajari langkahnya yang lebar-lebar itu dengan sedikit berlari. “ayolah, tersenyum sedikit saja.” Aku berjalan mundur dan memohon dihadapannya.

BRUKKK…

Kakiku tersandung batu. Dengan suksesnya aku tersungkur di jalanan yang keras ini. Aku menggosok-gosok pantatku yang sakit. Aku melihat reaksinya. Datar. Huh, selalu saja. Padahal, kalau orang lain melihatku pasti sudah tertawa terpingkal-pingkal.

“bodoh!” dia menjulurkan tangannya berniat membantuku. Aku meraih tangannya dan berdiri. “Taemin, apa kau pernah menonton spongebob squarepants?”

“kekanak-kanakkan.” Dia kembali berjalan. Aku kembali menjajari langkahnya.

“sudah jawab saja.” Paksaku.

“ya pernah. Kotak kuning dan sahabat bintangnya yang bodoh.”

“dan kau adalah squidwerd nya.” Dia menatapku penuh tanda Tanya. “kau itu seperti kehilangan kotak tertawamu. Jangankan tertawa, senyum saja aku tidak pernah melihatnya.” Dia berhanti berjalan mencondongkan tubuhnya dan menatapku lekat. Aku sedikit mundur.

“sejak kapan kau peduli padaku Rin?” tanyanya tajam.

“ehm.. sejak… sejak… kita berteman dari kecil. Kau sungguh berbeda 2 tahun ini. Kau tidak pernah tersenyum. Aku rindu dengan senyumanmu yang dulu.” Aku menatapnya takut.

“apakah aku harus menjelaskan padamu lagi kenapa aku seperti ini?” aku diam. Dia kembali berjalan aku mengikutinya.

“ayolah Taemin, Umma mu akan sedih jika melihatmu seperti ini.”

“jangan ikut campur, nona Rin Rin. Kau urus saja hidupmu sendiri.” Sebuah bus berhenti di depan kami saat kami sampai di halte. Kami segera naik ke dalam bus dan mengambil tempat. Dia membuang pandangannya ke luar jendela. Aku kembali membidikkan kameraku ke mukanya.

“aku bukan artis Rin Tin Tin!!” dia menyingkirkan kamera dari wajahku. Aku sedikit kaget saat dia kembali memanggilku dengan panggilan Rin Tin Tin. Itu nama panggilan yang dia berikan saat kami kecil. Karena menurutnya namaku lucu mengingatkannya pada film kartun favoritnya Rin Tin Tin. Aku tersenyum mendengarnya.

“sejak kapan kau kembali memanggilku Rin Tin Tin? Sudah lama aku tidak mendengarnya.” Taemin mendengus kesal.

“karena aku jengkel kau ikuti terus.” Jawabnya datar. Aku tersenyum geli. Dan kembali berkutat dengan kameraku.

<3<3<3

Aku meletakkan tasku di bangku dan duduk dengan tenang. Taemin berjalan melewatiku dan duduk di belakangku. Ya, kami memang sejak taman kanak-kanak dan senior high school selalu bersama-sama dan selalu satu kelas. Aku membalikkan dudukku menghadap kearahnya.

Dia menatapku dengan tatapan bertanya ‘wae?’ aku hanya menggelengkan kepalaku. Dia mencibir dan kembali berkutat dengan buku bacaannya. Buku tua yang selalu ia bawa kemana-mana. Aku heran, apa bagusnya buku itu dengan sampul tua yang lusuh dan halaman buku yang sudah kecoklatan. Aku jadi penasaran dengan isi buku itu. Dia tidak pernah lepas dari buku itu semenjak Umma nya meninggal 2 tahun lalu. Ya, kematian Umma nya sangat membuat nya terpukul bahkan dia mengurung dirinya hampir selama 3 bulan. Tidak mau makan dan tidak mau keluar kamar. Appa nya sampai putus asa menghadapi putra terseyangnya itu dan merupakan putra satu-satunya. Dia memang sangat dekat dengan Umma nya. Bahkan sejengkal pun dia tidak mau berpisah dengan Umma nya.

Hinnga malaikat memanggil Umma nya terlebih dahulu. Umma nya terbunuh tepat di depan matanya. 2 tahun lalu sebuah pencurian terjadi di rumahnya. Menurut cerita dari Umma ku, Taemin disandera oleh pencuri itu yang membawa sejata api. Pada saat itu dia dan Umma nya berdua saja dirumah. Sementara Appa nya sedang pergi keluar negeri untuk sebuah pekerjaan. Taemin yang saat itu masih duduk di bangku Junior High School tidak mampu melawan tubuh pencuri yang kekar walaupun dia seorang pria. Dia terus meronta. Setelah menguras harta keluarga Taemin, pencuri itu menghempaskan tubuh Taemin.

Taemin mengambil sebuah botol wine didekatnya bermaksud memukulkan botol itu pada pencuri itu. Dan berhasil dia memukul tengkuk pencuri itu. Namun, sesuatu hal yang dia tidak pikirkan. Pencuri yang lain menodongkan pistol ke arah Taemin dan melepeskan peluru panasnya.

DARRRR…

Taemin menutup matanya. Dia tidak merasakan sakit sedikitpun. Dia membuka matanya. Pencuri itu lari terbirit-birit. Taemin terpana. Dilihatnya Umma nya tergeletak bersimbah darah di depannya. Dia segera merengkuh tubuh Umma nya. Namun, terlambat. Tuhan, terlalu berbaik hati memanggil Umma nya. Semenjak kejadian itu, dia selalu diselimuti rasa bersalah karena tidak bisa melindungi Umma nya.

“Tidak bosan menatapku seperti itu terus Rin?” tanyanya dengan nada sinis. Aku menggelengkan kepalaku dan tersadar dari lamunanku. Aku membalikkan badanku membelakanginya.

<3<3<3

Jam istirahat. Taemin berjalan meninggalkan kelas. Aku menghela napas berat. Pasti dia akan ke taman seperti biasa. Duduk di bawah pohon, mendengarkan lagu dari headset nya sembari membaca buku usang itu. Aku berjalan mengikutinya. Saat sampai taman aku ikut duduk di sebelahnya dan terus memperhatikannya. Tapi, tidak sedikitpun dia menganggapku ada di sebelahnya. Aku melepaskan headset di telinganya. Dia menatapku sebal.

“aku ingin tahu lagu apa yang selalu kau denganrkan.” Dia menarik tanganku dan menghempaskannya.

“kau tidak perlu tau Rin Tin Tin!” aku mendengus kesal dan melipat kedua tanganku. Aku menatapnya lagi dan tatapanku jatuh pada buku yang dia baca. Sebuah bohlam lampu muncul di atas kepalaku. Aku menarik buku yang dia baca dan sedikit menjauh darinya. Wajahnya tampak sedikit marah.

“Berikan buku itu nona stalker!”

“tidak mau mehrong… aku ingin tahu buku apa yang kau baca.” Dia menghentakkan kakinya. Kesal. Aku mundur ketakutan. Wajahnya sudah semerah udang rebus menahan marah. Dia berjalan mendekatiku dan tangan kirinya mencengkram lenganku erat. Dan…

CUPPPP…

Aku membelalakkan mataku. Apa yang dia lakukan? Suhu tubuhku rasa-rasanya meningkat dan kakiku melemas. Aku dapat merasakan deru nafasnya menyapu wajahku. Tangan kananya berjalan menyusuri tanganku mengambil buku yang aku pegang dan mengambilnya. Lalu seketika dia melepaskan ciuman itu. Tubuhku terhuyung.

“aku harap kau tidak perlu mengurusi ku lagi nona stalker.” Aku masih mematung di tempatku dan memegang bibirku yang basah oleh ciumannya. Dan dia berjalan meninggalkanku.

“aku tidak tahu kau akan melakukan ini.” Dia berhenti berjalan dan menatapku lagi.

“tapi kau…” kataku terputus.

“aku apa?”

“kau mencuri ciuman pertamaku.”

“bagus bukan? Aku, sahabatmu sendiri yang mengambilnya bukan lelaki lain yang tidak kau kenal.” Aku menatapnya terkejut. Berusaha mencari keseriusan dimatanya.

“sahabat kau bilang?” dia mengangguk. “benar, kau memang sahabtku. Tapi itu dulu. 2 tahun belakangan ini kau bukan seperti Taemin sahabat yang aku kenal. Yang selalu ceria dan tersenyum. Kau sangat asing dimataku.” Aku mendengus kesal dan berjalan meninggalkannya. Sungguh, aku lelah. Aku putus asa. Aku berlari meninggalkan sekolah dan pergi ke tempat dimana dulu aku dan Taemin sering menghabiskan waktu bersama. Di sebuah rumah pohon dekat danau. Aku menumpahkan semua keputus asaan ku, kekesalanku disini. Baiklah, kalau memang itu maunya. Aku akan mundur.

<3<3<3

“aku pulang!” sahutku saat memasuki rumah. Aku melihat Appa tengah bersantai menonton televisi. Aku mengabaikannya dan berjalan menuju kamar. Melempar tas ranselku dan merebahkan tubuhku. Memjamkan mataku merasakan kenyamanan. Sebuah ketukan pintu membuat aku membuka mataku. Aku berjalan dengan malas-malasan dan membukankan pintu. Aku melihat Appa beridiri di depan pintu.

                “ada apa Appa?” tanyaku dan mempersilahkan Appa masuk. Dia duduk di kursi belajarku. Sementara aku duduk di kasur.

                “Taemin…” dia menghela nafas berat. Aku menatap matanya. Sebuah keputus asaan tergambar jelas di matanya. Selama inikah aku mengabaikan duniaku? Lama aku tidak melihat wajah Appa, gurat-gurat kesedihan tergambar jelas di wajahnya. “Taemin, kau anak Appa satu-satunya. Sampai kapan nak kau akan seperti ini terus?” Appa berjalan dan duduk di sebelahku merangkul pundakku lembut. Aku tidak bisa melihat matanya. Aku membuang pandanganku.

                “aku salah kan Appa?” kataku pelan. “aku penyebab Umma meninggal kan?” Appa makin mempererat pelukannya.

                “tidak nak. Ini semua sudah takdir Tuhan.”

                “lalu, kenapa Appa tidak menatapku sama sekali saat pemakaman Umma?” tanyaku dengan nada keras. Berusaha menahan tangisku.

                “Appa masih berat menerima kenyataan. Kau akan tahu nanti jika kau kehilangan orang yang kau cintai.” Aku diam. Tidak menjawabnya. Di hari pemakaman itu, Appa sama sekali tidak menatapku dan mengunci diri di kamar. Pada saat itu aku menganggap Appa membeciku dan menyalahkan atas semua kejadian yang menimpa Umma.

                “maafkan Taemin Appa. Aku tidak bisa memenuhi pesan Appa untuk menjaga Umma.” Appa menggeleng. Dia merengkuh tubuhku dan menangis. Pertahananku runtuh. Air mata itu turun di pipiku. Aku sesak harus menyembunyikan ini sendiri.

                “tidak ada yang perlu dimaafkan. Tolong, kembalilah menjadi Taemin ku yang dulu.” Aku melepaskan pelukannya. Inikah rasnya berbicara dari hati ke hati dengan Appa.

                “akan aku coba Appa.” Kataku pelan. Aku kembali memeluknya.

<3<3<3

                Pagi yang cukup cerah. Aku merapikan seragamku dan memakai headset ku. Memutar lagu di playlist ipod ku. Dan menenteng buku ini. Aku berjalan keluar rumah. Bisa kutebak, pasti Rin Rin telah menunggu di depan rumahnya dengan kameranya. Ya, rumah kami memang bersebelahan. Aku berjalan enteng meninggalkan pekarangan rumah dan menutup pagar. Kenapa dia tidak ada? Aku melihat dia tidak di tempat biasanya. Apa dia sudah berangkat? Bukankah bagus? Jadi, tidak ada yang mengikutiku lagi.

                Aku kembali berjalan menuju halte. Aku membalikkan badanku. Dan sedikit menggeleng. Benar, dia tidak mengikutiku hari ini. Aneh sekali. Aku tidak mau memikirkannya lagi. Dan melanjutkan perjalananku menuju halte dan kembali mendengarkan lagu dari ipodku sembari membaca buku ini.

                Sesampainya di kelas. Aku melihat Rin telah duduk di bangkunya. Sedikitpun dia tidak menatapku. Dia sibuk dengan novel di tangannya. Novel? Tidak. Tidak mungkin novel akan setebal itu. Itu seperti buku kedokteran yang bisa membuat orang patah tulang leher jika ditimpuk. Aku tidak mengabaikannya dan duduk di bangku ku.

<3<3

                Hampir  seminggu ini, Rin mengabaikanku.apa yang terjadi dengannya. Setiap aku melihatnya di kelas, dia selalu berkutat dengan buku tebal di hadapannya. Selalu begitu tak pernah berubah. Baiklah, aku merasakan sesuatu yang hilang dalam hidupku. Seperti potongan puzzle yang hilang di hatiku. Aku muak dengan semua ini. Tanpa basa basi lagi aku menarik tangan Rin keluar kelas. Dia sempat berontak, namun aku mengabaikannya. Aku menariknya menuju taman. Dia menghempaskan tanganku.

                “apa yang kau lakukan?” dia memegangi tangannya yang aku cengkram tadi dan menatapku marah. Tiba-tiba saja kinerja otakku menjadi error, aku memelukanya seakan aku tidak ingin melepaskannya.

                “Taemin, apa yang kau lakukan?” tanyanya pelan.

                “jangan seperti itu. Tolong hentikan!” kataku. Dia ikut merengkuh tubuhku dan menyandarkan kepalanya.

                “kau yang membuatku berhenti.” Aku melepaskan pelukanku dan menatap matanya.

                “baiklah, aku akan memulainya lagi.” Dia tersenyum. Dia mengankat tangannya dan menarik sudut-sutu bibirku.

                “seperti ini. Tersenyumlah seperti ini.” Rasanya urat-urat senyum ke terlalu kaku untuk tersenyum. “Kaku sekali.” Dia memukul lenganku ringan.”berjanjilah padaku untuk terus tersenyum.” Aku mengangguk. “ikuti aku.” Dia menggerak-gerakkan wajahnya. “ini namanya senam wajah. Supaya otot-ototmu mengendur.” Aku mengikutinya. Tapi, dia malah terpingkal-pingkal melihat wajahku.

                “sudahlah. Kita kembali ke kelas. Rasanya urat senyumku sudah putus.”

                “aku akan membuatmu tersenyum.”

<3<3<3

Hari ini, aku dan taemin berangkat sekolah bersama. Memang, aku dan dia selalu berangkat bersama. Tapi, ini berbeda. Aku biasanya selalu berjalan di belakangnya dengan kameraku. Kini aku berjalan di sampingnya. Dia tidak lagi memasukkan tangn kirinya di saku celana seragamnya, tetapi dia gunakan tangannya unutuk menggandeng tanganku. Sementara tangan kanannya seperti yang kalian tahu, membaca buku usang itu. Tiap kali aku bertanya buku usang itu dia psti enggan menjawab. Dan telinganya tak bisa lepas dari headset yang dia pakai. Kami berjalan santai menuju halte dan menanti bis datang.

Selama menunggu bisa di halte aku mengeluarkan catatan kecil dari dalam tas ku dan membuat coretan kecil di kertas itu. Menuliskan sesuatu yang Taemin tidak ketahui. Dia melirikku sekilas, dengan cepat aku menutupi catatan kecil itu dan menjulurkan lidahku. Dia menghela nafas dan mengedikkan bahunya. Kembali aku membuat catatan kecil.

Taemin menarik tas ku unutuk berdiri. Ternyata bis kami sudah datang. Di dalam bis kami hanya diam. Sibuk dengan kegiatan kami. Aku mengeluarkan sebuah buku tebal dari dalam tasku dan mulai membacanya.

“sejak kapan kau membaca buku tentang kanker otak?” aku menatap wajahnya dan tersenyum.

“sejak seminggu yang lalu. Pamanku seorang dokter ahli kanker otak. Suatu hari, dia mengajakku ke rumah sakit melihat pasiennya. Kau tahu, di rumah sakit tempat paman ku bekerja terdapat sebuah bangsal anak-anak.” Tatapanku menerawang jauh ke luar jendela. Aku tahu Taemin menatap ku. “mereka tertawa dan bermain. Padahal, mereka sendiri tahu maut dengan tiba-tiba akan menjemput nyawa mereka.” Aku mengalihkan pandanganku padanya.

“dan kau ingin menjadi dokter untuk mereka?”

Aku mengangguk. “bukan dokter yang mampu menyembuhkan penyakit mereka. Bahkan, hingga saat ini belum ditemukan obat yang bisa menyembuhkan mereka. Mungkin, dengan membuat mereka bahagia adalah obat yang paling mujarab.” Dia menaikkan kedua alisnya dan menatap keluar jendela. Bis pun berhenti di halte sekolah kami. Kami berjalan dari halte menuju sekolah.

“tanganmu dingin sekali.” Tanya Taemin yang menggenggam erat tanganku.

“ini kan musim dingin. Jelas saja tanganku dingin.” Aku merapatkan syal dan mantel yang aku pakai. Dia menatap dan meniliti wajahku.

“wajahmu pucat sekali.”

“ehm, karena mungkin terlalu dingin. Ayo cepat kita masuk kelas.” Aku berjalan menarik tangannya tapi dia menahanku. Taemin mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah sapu tangan dan mengusapkannya di sekitar hidungku. Dan dia menunjukkan sapu tangannya. Darah. Aku mengusap hidungku dengan tanganku. Benar, hidungku berdarah.

“kau sakit?” tanyanya khawatir. aku menggeleng.

“tidak. Aku hanya kedinginan. Ayo cepat kita masuk kelas.” Baru dua langkah tubuhku terhuyung dan semuanya mengabur, kepalaku berdenyut dengan kencang. Taemin menagkap tubuhku.

“Tolong… b-bawa aku ke rumah sakit.” Dia segera memanggil taksi dan menuntun tubuhku menaiki taksi. Kepalaku terus berdenyut dengan kencang aku meremas mantelku menahan rasa sakit.

“Ajushi, tolong bawa kami ke rumah sakit. Cepat!” pintanya pada supir taksi itu. Air mataku meleleh. Rasa sakit ini terlalu berat. Aku mencengkram mantel Taemin yang merangkul tubuhku.

“S-sakit Taemin.” Kataku terbata.

“tenanglah, sebentar lagi kita sampai.”

“T-tolong telpon pamanku. Nomornya ada di handphone ku.” Taemin merogoh saku mantelku dan mengambil handphone ku dan mulai menghubungi pamanku.

“k-katakan padanya aku ingin menemuinya.” Sambungan telepon tersambung.

“paman, ini aku Taemin. Rin Rin…”

                “ada apa dengan Rin Rin.”  Suara telepon dari seberang.

“dia sakit. Dia ingin menemui mu.”

“cepat bawa kemari.” Taemin menutup teleponnya. Satu belokan lagi kita sampai di Rumah sakit. Supir taksi menghentikan mobilnya di depan rumah sakit, Taemin segera membayar. Dan menuntunku keluar. Seorang susuter segera menangkap tubuhku dan membawaku ke ruangan.

“anda tunggu saja di luar.” Taemin menghentikan langkahnya dan melepaskan gengagamannya. Saat sampai di ruangan paman segera menanganiku dan memberiku obat penenang. Dai segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

“suster, tolong tangani dia sebentar. Aku mau menghubungi orang tuanya dulu.” Paman keluar ruangan.

<3<3<3

Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Rin begitu kesakitan? Aku tidak bisa tenang jika hanya duduk menunggu disini. Aku berjalan mondar-mandir. Saat itu juga pamannya keluar dari kamar nya. Aku berjalan menghampirinya. Namun, nampaknya ia menghubungi seseorang. Orang tua Rin Rin mungkin. Setelah selesai berbicara di telepon dia berjalan menghampiriku.

                “paman, Rin Rin tidak apa kan?” tanyaku cemas.

                “ikut aku sebentar bisa.” Jawabnya ramah. Dia mengajakku ke sebuah ruangan rumah sakit. Ruangan ini tidak seperti rumah sakit pada umumnya. Semuanya di dekor dengan rapih, beberapa boneka berjajar di ranjang. Paman mengajakku duduk di salah satu sofa.

                ‘ini adalah kamar rawat Rin Rin.” Aku menatap paman bingung.

                “maksud paman?”

                “hampir satu tahun ini dia divonis kanker otak stadium akhir. Dan hampir satu tahun ini dia tinggal di rumah sakit ini.”

                “tidak mungkin paman, setiap hari dia selalu menunggu ku di depan rumahnya. Jadi, tidak mungkin dia menghabiskan waktunya disini.”

                “memang. Setiap pagi dia selalu memintaku untuk mengantarnya pulang dan menunggumu di depan rumahnya.” Aku meremas tanganku. Jadi selama ini dia…

                “lalu bagaimana keadaanya sekarang?”

                “kita hanya bisa berdoa. Waktunya tidak banyak lagi.”

                “apa yang paman katakan?! Rin tidak akan pergi!” seruku penuh dengan emosi. Pintu ruangan terbuka. Aku melihat Rin tergeletak tak berdaya di ranjangnya. Wajahnya pucat. Suster memindahkan Rin ke ranjangnya dan memasang infuse. “Rin…” panggilku dan membelai rambutnya.

                “aku tinggal dulu.” Paman meninggalkanku di ruangan rawat Rin. Aku meraih tangannya yang pucat dan dingin. Dia membuka matanya perlahan dan menatapku. Dia tersenyum.

                “Rin Tin Tin, kau sudah sadar?” dia mengangguk.

                “kau pasti sudah tahu bukan?” aku mengangguk. “maaf, aku menyembunyikan ini darimu. Aku hanya tidak ingin menyusahkanmu.” Aku mengecup keningnya. “mau temani aku?”

                “kemana? Kau masih lemah.” Jawabku lembut.

                “aku tidak apa-apa Taemin. Aku ingin menemui adik-adik kecilku di bangsal anak-anak.”

                “baiklah.” Aku membantunya bangun dan mendudukkannya di kursi roda membawanya ke bangsal anak-anak. Aku tahu, itu pasti tempat yang tadi pagi Rin ceritakan. Kami sampai di sebuah bangsal yang penuh dengan anak-anak.

                “adik-adik! Aku datang!” sahut Rin saat kami memasuki bangsal itu. Semua anak-anak berteriak dan berlonjak gembira.

                “Yeiyy, Rin eonni datang!” seorang gadis kecil berjalan dan memeluk RIn.

                “Rin noona!!” sahut seorang bocah laki-laki. “noona, dia pacarmu yang sering kau ceritakan itu?” dengan cepat Rin menutup mulut bocah laik-laki itu dan memintanya untuk diam.

                “kenalkan, dia namanya Taemin hyung.” Bocah laki-laki itu tersenyum. Rin menatap wajahku. Aku tersenyum kaku. “kalian ajak Taemin hyung main ya?” bocah laki-laki itu mengangguk dan mengajakku bermain meningglakan Rin. Aku menatap Rin dan memberi ku isyarat untuk bermain dengan mereka.

<3<3<3

Hari ini, aku berfikir jika hari terakhir aku melihat dia. Aku mengajaknya bermain di bangsal anak-anak. Aku memperhatikannya dari jauh. Mengamati setiap gerakannya dan ekspresi wajahnya. Berusaha membuat kenangan tersendiri. Aku tersenyum melihatnya telah kembali menjadi Taemin ku yang dulu. Dia tertawa! Tuhan, inikah hadiah terindah darimu untukku di akhir hidupku? Dia terus tertawa dan tersenyum. Sungguh, aku akan lega jika harus meninggalkannya.

“Taemin!” panggilku. Dia menoleh dan menunjukkan senyum terindahnya. Aku mengajaknya pergi setelah berpamitan pada anak-anak manis ini. Aku memeluknya satu per satu dan sedikit menitikan air mataku.

“kita kembali ke kamar?”

“tidak. Kita ke rumah pohon yuk. Aku ingin ke sana.”

“jangan Rin. Aku bisa dimarahi paman dan orangtua mu.”

“aku sudah ijin kok. Ayolah.” Rajukku. Dia membawaku ke rumah pohon. Saat sampai di rumah pohon, kami terpaksa hanya duduk di tepi danau. Karena kondisi fisikku yang tidak memungkinkan. “Taemin, aku dingin.”

“apa aku bilang.” Dia mendesah pelan dan merapatkan mantel yang aku pakai. Aku menyadarkan kepalaku di bahunya. Dia merangkul tubuhku. “masih dingin?” aku menggeleng.

“kau ingat saat kita kecil, kita suka sekali bermain disini.”

“dan bermain lempar batu kodok di danau.” Lanjutnya. Kami tersenyum mengingat masa lalu. “dan aku selalu kalah.” Aku tertawa.

“aku senang, kau bisa tersenyum lagi.”

“ini karena mu Rin Tin Tin. Karena mu aku tersenyum, dan karenamu aku tertawa. Terima kasih.”

“aku ingin tahu tentangmu.”

“kau tahu semuanya.” Jawabnya singkat.

“dua hal yang aku tidak ketahui darimu.”

“apa?”

“lagu yang selalu kau dengarkan. dan buku usang yang selalu kau baca.” Dia melepaskan headset yang menggantung di lehernya dan memakaikannya di telingaku. Memainkan lagu dari ipod nya. Sebuah lagu mengalir. Petikan gitar yang indah, harmonisasi yang manis. Aku memejamkan mataku menikmati lagu itu.

“itu, adalah lagu yang Umma ku nyanyikan sebagai lagu tidur saat aku tidur. Lagu yang bercerita tentang seorang yang ditinggal pergi oleh cintanya. Dengan berat hati dia melepaskan cintanya itu. Dan terus berusaha untuk tetap tersenyum meskipun itu pahit.”

“tragis.” Sahutku. Dia menatapku. “lalu buku usang itu?”

“kau mau tahu?” aku mengangguk. Taemin mengeluarkan buku usang itu dari balik jas sekolahnya. Dan menyerahkan buku itu padaku. Aku membukanya lembar demi lembar. Sebuah coretan kecil dan sebuah foto yang aku yakini itu adalah Taemin kecil.

“buku usang itu adalah milik Umma ku, bisa dibilang itu diary umma ku. Dia selalu menceritakan semuanya di buku itu. Saat dia bertemu Appa, saat dia menikah, saat dia mengandung, melahirkan dan membesarkanku.” Aku menitikan air mataku. Dan menyerahkan kembali kepada Taemin.

“terima kasih.” Kataku lemah.

“untuk apa?”

“telah tersenyum hari ini.” Dia mengusap pundakku lembut. Aku memejamkan mataku perlahan.

<3<3<3

“Rin, jangan tinggalkan aku.” Dia mengangguk lemah. Aku merasakan semilir angin yang membelai rambut kami dan memejamkan mataku. Menikmati indahnya surya di sore hari. Aku menggenggam  tangan Rin. Dingin.

                “Rin, ayo kita kembali.” Dia diam tidak menjawab. Aku mennguncang tubuhnya. “Rin bangun! Bangun!” air mataku tumpah. Dia tetap tidak bangun. Tubuhnya telah tak bernyawa. Baru saja dia berjanji untuk tidak meninggalkanku tapi dia meninggalkanku. “RIN!!!” teriakku frustasi dan memeluk tubuhnya.

<3<3<3

                Hari ini tepat seminggu semenjak kematian Rin. Aku masih melanjutkan hidupku. Aku tidak ingin Rin sediah melihatku. Aku yakin dia pasti sudah di surga bersama Umma dan memperhatikanku di atas sana. Kini, aku sendirian berjalan menuju halte tanpa Rin disisiku lagi. Aku menatap langit dan tersenyum. Sebuah bis berhenti di depanku. Namun, aku mengurungkan niatku menaiki bis itu. Aku memutar arah dan berjalan menuju danau duduk di rumah pohon kami.

                Aku mengeluarkan buku usang milik Umma. Namun, sebuah kertas terselip di salah satu halaman. Aku mengambilnya dan mulai membacanya.

My smiling Taemin,

Bagaimana kabarmu? Baik bukan? Maaf jika aku harus meninggalkanmu. Bukan keinginanku untuk meininggalkanku. Tapi, Tuhan yang meminta aku kembali disisi Nya. Jika aku di surga, dan bertemu Umma mu. Aku akan bercerita tentangmu 2 tahun ini. Hehehe.

Hal terindah sebelum aku pergi adalah aku melihatmu tersenyum dan tertawa. Dan aku kembali menemukan Taemin ku yang hilang. Hmhh, kadang aku juga berpikir Tuhan memang tidak adil. Secepat itu aku mengenalmu secepat itu juga aku harus pergi dari hidupmu. Taemin, bagaimana jika aku merindukanmu nanti? Aku tidak bisa lagi memelukmu dan mencium aroma mu. Jika aku harus memilih jalan hidupku, aku ingin terus berada di sisimu dan dipelukanmu. Tapi, itu bodoh bukan? Hahaha.

Jika memang kita berjodoh. Mungkin kita tidak dijodohkan di dunia. Tapi, kita akan kembali di pertemukan di surga. Kita akan berjodoh di alam yang lain. Atau kita akan berenkarnasi dan berjodoh di kesempatan yang lain. Aku mencintaimu, taemin dengan segenap hatiku.

p.s: dan, dapatkah kau selalu tersenyum untukku walaupun aku tidak lagi disisimu?

Your Rin Tin Tin~<3

                Aku memeluk kertas dari Rin. Air mataku telah tumpah dari tadi. Aku akan menpati janjimu Rin, kita akan berjodoh di kesempatan yang lain. Aku berjanji padamu akan tersenyum. Aku juga mencintaimu melebihi apapun. Hanya kau yang ada dihatiku.

-END-

4 responses to “[Korea Fan Fiction] Can U Smile.OS – Taemin SHINee

  1. WAEYO????? Kenapa Rin Tin Tin-nya mesti meninggal.. huwweeeee… hiks hiks hiks… teganya kau meninggalkan TAemin sendirian.. kejam.. padahal Taemin juga baru ditinggal ibunya… Sini TAem, sama aku aja #DigamparTaemintz

  2. Ceritanyaaaa.bikin.terharuu~~:'((.Aku.sempet.netesin.air.mata.dibagian.akhirnya..Authornya.sungguh.kreatif.Bikin.part.2nya.dooong..=)

  3. Aku baru nemu FF ini, dan ini mengharukan nyentuh bgt.. Sayang rin tin-tin meninggal, perasaan aku campur aduk bacanya, sampek ikut meneteskan air mata pas ENDing.. ;(;( Whuuuaa~~DAEBAK pokok.nya >FIGHTINg buat author, Keep writing!!!<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s