[FREELANCE] Endless Qualm (part 1 of 4) – SHINee

Title        : Endless Qualm

Author     : kuku.rama (chrysalis) ; twitter @choihyewook

Cast(s)     : SHINee, OC

Length      : 4 Chapters

Genre       : Psy-thriller, angst, fluff, SI, SA

Rating            : NC17

Disclaimer   : I OWN this story and Choi HyeWook but not the other

characters. Do not copy (without copyright) or steal it.

If you try, I will sue. Oops, I mean I will kill you

              soon.

Part 1 of 4 : Abstract

Gadis itu meringkuk, memeluk kedua lututnya. Ia terus menerus menghela nafas, sesekali barisan rapat giginya bergesekan dengan bibir salemnya. Choi HyeWook merasakan kepalanya berdenyut pelan, keringat dingin keluar dari tiap pori-pori tubuhnya, lengket, perutnya terasa seperti diaduk.

HyeWook mengutuki badai yang sudah membuat Perusahaan Listrik memadamkan listrik di kompleks perumahannya. Ia menatap api lilin yang menerangi kamarnya dengan was-was, berbagai khayalan gila mulai berkelebat di benaknya. Hanya desah nafas dan luapan kemarahan angin yang terdengar. Jantungnya berdetak tiga kali lebih cepat saat mendengar suara langkah yang diseret di luar kamarnya.

Oppa.” desisnya.

Nafasnya terhenti ketika pintu kamarnya berderik, terbuka.

Laki-laki berusia tak lebih dari sembilan belas tahun dengan t-shirt putih polos dan celana panjang berwarna senada menatap HyeWook dari ambang pintu sambil melipat tangannya.

“Kau tidak mengantuk?”

Nafas HyeWook tertahan menatap laki-laki yang mulai mendekatinya.

“Mau Oppa temani?”

Tangan hangat laki-laki itu menggosok lembut pipi HyeWook.

“Ya, Oppa temani.”

Choi MinHo berbaring di sebelah HyeWook yang semakin mengigil ketakutan.

“Tidurlah, Chérie. Aku sudah menjagamu.” suara berat MinHo seakan menghipnotis HyeWook untuk mengikuti semua perintahnya.

MinHo melingkarkan tangannya ke tubuh mungil HyeWook, menggosok bahu HyeWook pelan. Nafas panas yang menyapu tengkuk HyeWook membuat debar jantungnya semakin kencang.

MinHo meraba dada HyeWook, melepas dua kancing atas piyama gadis itu kemudian menarik kerahnya hingga bahu HyeWook terlihat.

Tubuh HyeWook menegang. Ia menahan nafasnya saat merasakan sebuah benda dingin menempel di pangkal lehernya. Perlahan benda itu bergerak, mengiris kulitnya. HyeWook mengerang, MinHo mencengkeram bahunya, menjilat darah yang menetes dari pangkal leher HyeWook. Ia menangkupkan bibirnya pada garis tipis yang dibuatnya di pangkal leher HyeWook.

MinHo menyukainya, cairan merah itu terasa lebih manis daripada sirup cherry favorit HyeWook. Bosan, ia bangkit, melepaskan piyama HyeWook. Mencari bagian mana lagi yang ingin ia rasakan.

HyeWook meronta dalam pelukan MinHo, ketakutan saat pisau lipat yang digenggam MinHo menyentuh dadanya.

Oppa.” rintihnya. “Jangan!”

“Apa yang barusan kau katakan? Jangan?”

MinHo menekan pisaunya, membuat luka kecil di belahan dada HyeWook. Gadis itu sudah nyaris pingsan saat pisau itu beralih ke jantungnya. HyeWook menggigit bibirnya keras-keras sehingga . . .

Tes!

MinHo menyeringai puas melihat tetesan darah yang mengenai lengannya. Ia segera membalikkan tubuh HyeWook, menindih kemudian mengulum bibirnya.

HyeWook terus menjejak, meronta namun usahanya sia-sia, tenaga MinHo terlalu kuat untuk dilawan. Udara di sekitarnya terasa pengap dan anyir, dadanya sesak.

“Mmh.”

MinHo melepaskan bibirnya, terengah setelah invasi buasnya barusan. Ia menjilati bibirnya, mengais sisa-sisa darah yang masih menempel. Tangannya menggapai pipi HyeWook, mengelusnya sayang.

BYARR!

Keduanya mengerjap, terkejut karena listrik sudah menyala. MinHo bangkit, pandangannya berpendar, ia mengucek matanya untuk memperjelas penglihatan. HyeWook tak bergeming dari posisinya. Ia terengah, kedua tangannya masih mencengkeram seprai yang kini sudah kusut. Kulit pucatnya mulai terasa dingin karena terpaan air conditioner dalam kamarnya dan hanya pakaian dalam yang menutupi tubuh bagian atasnya.

Lima, sepuluh, lima belas menit. MinHo sudah lelap dalam pelukan HyeWook yang masih menyenandungkan lullaby untuknya. Tangan gadis itu terus membelai rambut MinHo yang sesekali menggerung pelan. HyeWook tak bisa melepaskan dirinya dari MinHo, ia takut jika MinHo akan menghukumnya lagi dengan cambukan ataupun tetesan air jeruk nipis pada luka-lukanya.

Telunjuk MinHo tiba-tiba menempel di bibir HyeWook, memintanya berhenti bersenandung.

“Pejamkan matamu, Chérie. Istirahatlah.”

HyeWook mengangguk, memejamkan matanya. MinHo kembali membenamkan wajahnya ke dada HyeWook

“Nice dream.”

***

GEDUBRAK! BRAKK!

HyeWook merintih, tubuh bagian belakangnya terasa sakit karena membentur bufet.

“Siapa yang menyuruhmu untuk terlambat bangun?”

MinHo menjambak rambut HyeWook.

Oppa, maaf.”

“Maaf? Apa Choi MinHo pernah menerima kata maaf?”

DUAKH!

HyeWook merintih, dahinya terasa sangat sakit. Sekali lagi MinHo membenturkan kepala HyeWook ke dinding.

Op . . pa . .

DUAKH!

Cairan merah pekat meluncur turun dari dahi HyeWook. MinHo menghempaskan tubuh HyeWook dengan kasar ke parquet, meninggalkannya.

HyeWook mencoba bangkit,  menahan sakit dan perih yang menusuk-nusuk kepalanya.

“Hukuman untuk gadis pembangkang belum cukup.”

MinHo mengusapkan tangan kirinya ke luka HyeWook.

“AAARGH!! OPPA, SAKIT!”

HyeWook berusaha menyingkirkan tangan MinHo yang berlumur garam dari lukanya. Kepalanya terus berdenyut hebat, rasa perih menjalar keseluruh tubuhnya.

OPPA, HENTIKAN!!!”

HyeWook mulai menangis, MinHo menggosokkan tangannya dengan kasar ke luka HyeWook sebelum menelanjangi dan membawanya ke kamar mandi. Ia mendudukkan HyeWook dalam bathtub, menyalakan shower kemudian membanjur lukanya dengan air panas.

“Op . . uhuk, uhuk.”

HyeWook gelagapan, rasa anyir dan asin bercampur dalam mulutnya. MinHo mematikan shower, menatap HyeWook yang terengah-engah.

“Kau punya waktu tujuh menit untuk bersiap dan tidak ada sarapan.”

***

HyeWook menyandarkan tubuhnya pada pegangan tangga, masih lima belas anak tangga lagi yang harus ia daki dengan punggung yang terasa nyaris patah. Diliriknya jam tangan hitam yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Lima menit lagi JiSung Sonsaengnim akan memasuki kelas, sementara ia masih terjebak dengan rasa sakit sialan yang menjajah punggungnya.

Kim JongHyun meniti anak tangga lama-lama, ia tahu JiSung Sonsaengnim akan mengusirnya jika ia terlambat memasuki kelasnya sebanyak lima kali dan ia menginginkannya. Matanya tertumbuk pada HyeWook yang bersimpuh di anak tangga.

“Hei, anak emas! Kau ingin membolos pelajaran Appamu, ha?”

HyeWook menatap tajam JongHyun dengan mata berkaca-kaca. HyeWook mendesah, ia berdiri, tertatih-tatih menaiki tangga.

“Kau tidak apa-apa?”

JongHyun menjajari langkah HyeWook yang mulai limbung.

“Ngh.”

HyeWook jatuh terduduk.

“Hei?”

Ia menepis tangan JongHyun.

“Pergilah! JiSung Sonsaengnim akan mengusirmu dari kelasnya karena kau sudah lima kali terlambat.”

“Tapi kau-”

“APA PEDULIMU!”

“Cih, menyusahkan!”

JongHyun segera mengangkat tubuh HyeWook.

“Turunkan aku!”

“DIAM!”

HyeWook terhenyak, kaget karena JongHyun tiba-tiba membentaknya.

“Aku hanya ingin membantumu, setelah itu aku akan pergi.”

“Kenapa membantuku?”

Eomma tidak pernah mengajariku untuk membuat seorang gadis menangis.”

“Huh, memangnya siapa yang menangis.”

Mereka telah sampai di depan pintu kelas. HyeWook menggesernya.

Syllehamnida.”

“Kim JongHyun, kau-”

“Maaf, Sonsaengnim. JongHyun terlambat karena aku.”

***

HyeWook mengemasi buku-bukunya, ia lebih memilih dua belas jam berada di sekolah daripada rumah yang terasa seperti neraka.

“Kau perlu bantuan untuk turun?”

HyeWook menggeleng. JongHyun meraih lengan HyeWook, menahan gadis itu agar tidak beranjak dari tempatnya.

“Ya?”

“Apa punggungmu masih sakit?”

“Sedikit. Hngh, aku harus keluar sekarang, Oppa sudah menjemputku.”

Tidak ada tanda-tanda JongHyun akan melepaskan tangannya.

“Jong, bisa lepaskan tanganmu?”

“Ba . . baiklah. Hati-hati.”

HyeWook mengulas senyum tipis dan berlalu.

JongHyun mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya ke lantai sebelum akhirnya menyusul HyeWook keluar. Tiba-tiba ia merasa khawatir dengan gadis introvert itu. Benar saja, HyeWook masih meniti tangga lama-lama. JongHyun tersenyum mendekatinya kemudian mengangkat tubuh HyeWook tanpa permisi.

“Kya!!!”

Sebuah seringai terukir di bibir JongHyun.

Every princess has a servant, right?

HyeWook mendesah. Sebenarnya ia ingin memprotes sikap kurang ajar JongHyun, namun ia mengurungkan niatnya. JongHyun cukup membantu kali ini. Ia melingkarkan tangannya ke leher JongHyun untuk berpegang.

JongHyun terkikik, ia merasa amat-sangat-konyol karena ulahnya sendiri.

“Hei, clumsy girl.”

HyeWook berjengit, tidak terima perkataan JongHyun barusan. Seenaknya saja ia menilai orang.

“Mana jemputanmu?”

“Ah, eh. Turunkan!”

“Apa?”

“Turunkan aku, cepat!”

HyeWook tidak ingin MinHo melihat JongHyun membopongnya. MinHo tidak suka melihat HyeWook disentuh orang lain. Ia mulai panik saat melihat sosok MinHo yang mendekat ke arahnya dengan senyum lebar, ia meronta.

“Turunkan!”

“Hei, hei, baiklah. Pelan-pelan saja.”

HyeWook menapakkan kakinya ke tanah, tepat saat MinHo berada di hadapannya. JongHyun mengangguk kecil.

Chérie, kenapa kau lama sekali?”

Tangan MinHo terulur, mengacak poninya. Mungkin lebih tepatnya mencakar luka di dahi HyeWook.

“Ma . . af.”

“Oh ya, apa terjadi sesuatu dengan dongsaengku yang manja ini?”

HyeWook meringis, MinHo bisa saja membuat lukanya berdarah lagi.

“Hum, ia mengatakan punggungnya sakit karena terjatuh dari tangga tadi pagi. Kupikir lebih baik aku membantunya.”

“Terima kasih-”

“Kim JongHyun.”

“JongHyun, kau sudah bersedia membantu si manja ini.”

HyeWook segera berbalik dan masuk ke mobil saat ia merasakan sesuatu menetes dari dahinya.

“Sama-sama.”

“Baiklah, kami pulang dulu.”

JongHyun melangkahkan kakinya setelah mobil hitam milik MinHo menghilang dan terhenti ketika menyadari simpul tali sepatunya terlepas. Ia merunduk, segera membenahinya sebelum tersungkur di dalam bus seperti kemarin, memalukan. Tanpa sengaja matanya melirik tetes-tetes cairan merah yang terlihat masih baru di tanah.

“Darah?”

***

“Siapa yang mengizinkan JongHyun menyentuhmu?”

“Ti . . tidak ada.”

MinHo mengangkat dagu HyeWook, menatap lurus bola matanya. Ia menyukai pancaran ketakutan dari iris cokelat pekat milik HyeWook.

“Dan kau tahu apa yang harus kulakukan?”

“Me . . menghukumku.”

“Gadis pintar.”

“Ukh.”

MinHo mengelupas darah kering pada luka HyeWook, membuatnya basah lagi.

“Aish, lukamu berdarah. Oppa bersihkan, ya?”

HyeWook menggeleng kuat-kuat.

“Tunggu sebentar. Jika posisimu bergeser satu senti saja, aku akan menambah hukumanmu.”

HyeWook menelan ludah, ia yakin MinHo tidak akan membersihkan lukanya dengan alkohol.

“Buka lukamu!”

HyeWook menjepit poninya sehingga lukanya jelas terlihat. MinHo meletakkan secawan air dan kapas di meja. HyeWook menahan nafas saat MinHo mendekatkan kapas basah ke lukanya.

“NGGH, UGH, OPPA SAKIT!”

Aroma anyir, pekatnya garam dan jeruk nipis bercampur menjadi satu.

“DIAM!”

Kapas putih di tangan MinHo berubah kemerahan. HyeWook terus menjerit, meronta.

Op . . pa hen . . ti . . kan . .”

Tubuh HyeWook melemas, MinHo mengosongkan air di cawan bening itu ke luka HyeWook sampai akhirnya gadis itu pingsan.

***

MinHo menempelkan kasa ke luka HyeWook. Ia menatap gadis itu lama-lama, tangannya mengelus pipinya gemas. Kelopak mata HyeWook bergerak, membuka perlahan

“Selamat malam, Chérie.”

HyeWook menyibak selimutnya, bangkit.

Oppa mau makan malam apa?”

“Kita keluar malam ini.”

“Kemana?”

MinHo meletakkan sebuah kantong di pangkuan HyeWook.

“Pakailah, kutunggu di bawah.”

MinHo mengecup puncak kepala HyeWook sebelum menutup pintu kamarnya. HyeWook membuka kantong yang diberikan MinHo. Halter dress berwarna cokelat kehitaman yang sangat cantik.

“Lima menit, Chérie.”

“Baik.”

HyeWook segera melucuti pakaiannya dan memakai dress yang diberikan MinHo. Ia menatap canggung pantulan dirinya di cermin, hanya setengah pahanya yang tertutup dan seluruh punggungnya terlihat. Beruntung tidak ada lebam di punggungnya, MinHo bisa marah besar jika ada lebam di tubuhnya.

Chérie.”

“Ah, ya?”

HyeWook segera merapikan rambutnya dengan sedikit foam, menyemprot parfum ke punggung dan lehernya.

“Aku melupakan ini.”

MinHo meletakkan sepasang stiletto hitam di hadapan HyeWook kemudian memakaikannya.

Stand up!

HyeWook meraih tangan MinHo, berusaha menyesuaikan diri dengan hak stiletto yang cukup tinggi. Pelan-pelan MinHo menuntun HyeWook menuruni tangga menuju mobil.

Berbagai pertanyaan berkelebat di benak HyeWook, tidak biasanya MinHo bersikap seperti ini.

“Pakai ini, aku tak ingin kau terlihat pucat.”

MinHo meletakkan lipgloss warna peach dalam genggaman HyeWook.

Oppa.”

“Ya?”

“Apa Oppa akan menjualku?”

——————————————————–

(bersambung) klik disini untuk membaca Endless Qualm part 2  ‘Accost’

23 responses to “[FREELANCE] Endless Qualm (part 1 of 4) – SHINee

  1. ASTAJIM! MINHO KENAPA KAMU NAK! TOBAT NAAK!! TOBAAAT! *reader ganyante*digebuk author*ngadu sama key*
    Kesambet apa yowoh,itu si minho jadi sadis begonoh😦
    Taemin jangan ikut2an ya de,mending maen sama noona daripada sama minho *dibunuh taemints*
    Lanjut thor! Lanjutkan!! Penasaran!!!

  2. sumpah demi apa minong kejemm bgd >.< *pletakk!! getok minong pke spatula key (?)*
    iiihh author ayo duunk d lanjut buru d lanjutt ..
    ini keren bgd SUMPAH … b^^d

  3. Karena cerita ini aku merasa bersyukur jadi administrator asianffstory official email.. tau kenapa? Karena aku bisa baca cerita ini duluan SEBELUM DI POST… pas bacanya… nyesek… ampe gak napas.. nggak nyangka, Minho oppa yang selama ini image-nya baik dimataku, sekarang……. nyesek…. nyesek adalah: Nggak sabar nunggu lanjutan cerita ini.. good luck author!!!!

    • uwahh ayo buru buru next chapterny d publish, ,saya penasarann tauuk >o<
      tiap mlm pasti ngecekin nii blog, ,soalny penasaran bgd iih😀

  4. Ping-balik: [FREELANCE] Endless Qualm (part 2 of 4) – SHINee « Asian Fan Fiction Story·

  5. aarrgghhh jinja, sebenernya gw gak suka baca yg trailer atopun sadlistic gitu, tapi ahhh jinja~ gw penasaran ceritanya,
    ya alloh itu minho tega amatttttt *gigit kasur(??)* (~’_’)”~

  6. Yaampun sumpah demiapapun parah banget nyiksa nya ew, apalagi yang pake jeruk nipis, ga kebayang parah… Si minho ckck, emang cocok kalau jadi peran kayak gini /disiksa. Itu minho kelainan jiwa, ya? Atau sister complex? Parah, parah, ngacak poni aja ampe berdarah gitu, taunya nyakar. Eiy, gue merinding-_-

    Nice ff author-aa!

  7. OMMO … itu minho PSYCHO ya????????????
    iiiiiiiiiiihhhhhhhhhhh .. ( bergindik ngeri ) minho sadis bgt ya … nyiksa cherrie …. itu cherie kok ky nya ” tergantung ” ya sama minho … dah jelas2 minho sadis bgt … tp minho jg bisa perhatian bgt ……………. aneh tuh ….

    nexttttttttttttttttt …………………….

  8. si Minho itu sejenis psycho yang aneh. hahahah.

    “Every princess has a servant, right?“ <– Nice b^^

    Oia, aku rada janggal sedikit nih author. Kan katanya punggung HyeWook itu sakit banget sampe2 digendong gitu sama Jjong. Tapi ko pas pake halter dress itu tau2 ada kalimat 'untung tidak ada luka lebam'. Aku rada ga mudeng. ^^v
    oKEY, aku langsung ke next chap.

  9. Huhuhu minho jd psycho T_T…. Ngbayangin luka d ksih garam sm air jeruk’?’ hwaaaa jd mrinding disco…
    D akhir crita sy agak” gk konec, udah d siksa kyak gitu,d hantam” kyak gitu masak iya masih mulus? Alias gk ada lebam, hehe ^^V sip bwt authorny dech fighting!!!

  10. Owh ya ampun koq tega sich siksa dongsaeng sendiri, tpi apa memang dongsang kandung ya? blum paham nich ma critanya, koq disiksa trus hubungan minho ma hyewook apa ? aigo penasaran next part ya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s