[Korean Fan Fic] Your Appa is Cassanova-Part 1(Leeteuk-Suju)

Title : Your Appa is Casanova

Rate : G

Genre : drama (??-i’m not sure)

Cast : Park jung Su (eeteuk)

          Defi

          Park Chun Hyang (jung su’s daughter)

part : 1 of 2

“Oke, Defi kau harus tenang. Jangan gugup ok! Kau pasti bisa!” aku mencoba memberi suntikan semangat pada diriku sendiri. Hari ini adalah saat nya pengumuman dua mahasiswa yang akan mengikuti program pertukaran mahasiswa selama 4 semester yang berarti itu 2 tahun di Korea. Ya, untuk itupun sangat susah. Aku harus menempuh seleksi yang bertahap-tahap dan setelah lolos seleksi aku diharuskan mengikuti kursus selama 6 bulan untuk mempelajari bahasa dan budaya mereka. Dan itu belum tentu juga aku yang terpilih mengikuti program itu di kloter pertama. Okelah, masih ada kloter ke dua, ke tiga, dan ke empat, tapi itu artinya aku harus menunggu berbulan-bulan lagi. Aku pasti tidak akan sabar.

Aku menghembuskan nafasku lagi saat sampai di depan papan pengumuman. Dan terpampanglah sebuah pengumuman yang sangat-sangat aku nantikan. Pengumuman yang hampir membutaku mati saat itu juga. Kupejamkan mataku sebentar dan berdoa.

“Eh, gokil lo def! kok bisa sih elo yang dikirim ke korea duluan?” aku terlonjak kaget. Laras, teman seperjuanganku yang sama-sama mengikuti program ini berdiri di sebelahku dengan tatapan tak percaya nya.

“Apaan sih lo ras?”

“Ck~ jadi lo belum baca pengumuman?” aku menggelengkan kepalaku. “Come on! Lo termasuk dua orang beruntung itu defi!!!” Aku masih menatapnya bingun dan tidak percaya. “Lo liat deh pengumuman di depan mata lo!” aku kembali menatap papan pengumuman.

PROGRAM PERTUKARAN MAHASISWA

INDONESIAN ART UNIVERSITY-SEOUL ART UNIVERSITY

1.       SPRING STAR SNAZZY (IN67805)

2.       DEFI INDRIANI SAFITRI (IN87407)

Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku. Seolah tak percaya. Aku menatap Laras yang ada di sampingku. Dia hanya mengedikkan bahunya. “Lo serius? ini beneran kan ras?” laras menggeleng-gelengkan kepalanya dan bersandar di tembok.

“Lo pikir, kampus bakal membuat pengumuman yang dimain-mainkan huh?”

“KYAA~~~!!! GUE BERANGKAT JUGA!!!” aku memeluk dan mengguncang-guncang tubuh Laras.

“Stop it! Bisa remuk badan gue kalo lo beginiin. Udah ah, lo ditunggu ketua prodi tuh di ruangannya. Gue ke kelas dulu ya, ada mata kuliah tari international. Bye!” Laras meninggalkan ku di depan papan pengumuman. Lalu dia membalikkan badannya. “By the way, Chukahaeyo chingu! Wait me in there!” aku tersenyum melihat Laras dan segera menuju ke ruang Kaprodi.

TOKKK… TOKK… TOKK…

Aku mengetuk pintu ruang Kepala Program Studi. “Ya, silahkan masuk!” aku mendengar suara dari dalam. Dan ku putar kenop pintu. Aku melongokkan kepalaku. Seorang wanita paruh baya dengan kaca mata minus yang bertengger di hidungnya tersenyum kepadaku. Di depannya duduk seorang gadis berkulit kuning langsat dengan rambut dikucir kuda. Yang bisa aku tebak pasti itu Snazzy. Gadis itu membalikkan badannya dan tersenyum kepadaku.

“Ayo, silahkan duduk. Kebetulan kalian datang di waktu yang bersamaan.” Aku segera mengambil tempat di sebelah Snazzy. “Seperti yang kalian tahu, kalian akan dikirim ke Korea dalam rangka student exchange antar kampus kita dengan Seoul Art university. Dan, semua keperluan kalian seperti passport dan tiket pesawat telah siap dan kalian hanya tinggal berangkat. Di sana nanti kalian tidak kami ijinkan tinggal di apartement atau flat. Kalian akan tinggal bersama keluarga angkat kalian.” Perempuan paruh baya yang aku tahu namanya Bu Gretha berdasar papan nama yang diletakkan di atas mejanya menyerahkan dua buah kertas yang berisi foto dan tulisan kepadaku dan Snazzy.

“Ini adalah data keluarga angkat kalian. Spring Star Snazzy, kau akan tinggal dengan keluarga Daniel Kim. Dia adalah keturunan Kanada-Korea. Tuan Daniel Kim memiliki 2 orang anak dan seorang istri keturunan Indonesia-Korea. Jadi, saya pikir kamu akan lebih gampang beradaptasi di situ.”

“Sebentar Bu, di foto keluarga ini terdapat seorang pria yang kira-kira berumur 24 tahun. Siapa dia?” Snazzy menunjukkan foto yang dia pegang.

“Oh, dia adalah adik dari tuan Daniel Kim. Dia juga tinggal di rumah tuan Daniel.” Snazzy mengangguk mengerti.

“Dan… Defi Indria Safitri. Kau akan tinggal dengan seorang pria single parent yang memiliki anak berumur 14 tahun. Namanya Park Jung Su. Tuan Park Jung Su terbilang masih muda, berumur 27 tahun. Kau tidak perlu khawatir dalam beradaptasi, tuan Park Jung Su adalah orang yang ramah dan bersahabat.” Aku menganggukkan kepalaku.

“baiklah, ini passport dan tiket kalian. Kalian akan berangkat 2 hari lagi. Tolong segera persiapkan keperluan kalian. Saya kira cukup, kalian bisa pulang dan mulai berkemas. Terima kasih.” Kami tersenyum dan keluar meninggalkan ruangan Bu Gretha.

“Wah, def liat deh di foto keluarga angkat gue. Adik tuan Daniel Kim cakep banget!!” Snazzy menunjukkan fotonya padaku. Oke, pria itu memang tampan. Berpostur atletis, tinggi, berparas tampan.

“Iya, cakep juga nih. Wah, bisa lo gebet nih Zy?”

“Apenye? Eh, tapi semoga aja deh. Secara gue juga jomblo. Hahaha. Nah, yang jadi masalah…” Snazzy berhenti di depanku dan menatapku.

“Apa?”

“Dia udah punya cewek belom? Ah, bakal seret nih kalo dia udah punya cewek.” Snazzy tertunduk lesu. Aku tertawa dan menepuk pundaknya.

“Lo tuh!” aku tertawa keras di depannya.

“Eh, liat foto keluarga angkat lo dong!” Aku menyerahkan foto tadi ke Snazzy. “Eh, tadi Bu Gretha bilang dia single parenta ya? Wah, masih muda udah single parent. Umurnya 27 anaknya umur 14 tahun? Gokil def! jangan-jangan dia cowok hidung belang dan waktu muda dulu dia ngehamilin anak orang dan nikah. Ihh, ngeri banget def!”

“Ah, ngasal lo Zy!” Aku merebut foto dari tangan Snazzy. “Udah ah, gue mau pulang! Sampai ketemu 2 hari lagi di bandara!” aku berlalu dan meninggalkan Snazzy.

Hari ini adalah hari keberangkatanku ke Seoul. Aku dan Snazzy dan keluarga beserta teamn kami turut mengantar ke bandara internasional Soekarno-Hatta. Aku melihat papan keberangkatan. 10 menit lagi kami akan menaiki pesawat yang mengantar kami ke Seoul. Bahkan untuk detik ini aku masih tidak percaya jika aku akan menginjakkan kaki di negeri gingseng itu. Aku tersenyum sendiri membayangkan apa yang akan terjadi disana nanti.

“Eh, kenapa lo senyum-senyum sendiri huh?” Laras yang berdiri di sebelahku menyenggol pelan bahuku dan membangunkanku dari lamunanku itu. Di tangannya sebuah kamera SLR siap untuk dia utak-atik. Di sebelah nya berdiri pacarnya yang sama-sama mempunyai hobi gila seperti dirinya. Kamera. Aku bahkan bisa menebak jika mereka putus nanti pasti mereka bakal lebih rela dibandingkan harus kehilangan kamera kesayangan mereka.

JEPRETTT…

“Ishhh, apaan sih lo ndrew? Main jepret aja.” Aku tersenyum kecut saat Andrew pacar Laras menjepretkan kamera Polaroid nya. Dia mengibas-ngibaskan hasil jepretannya tadi.

“Buat kenang-kenanga def. gue belum punya foto lo dengan ekspresi cengo kayak gitu.”

“heh, sejak kapan lo jadi hobi ngambil gambar gue? Udah bosen lo ngmabil gambar Laras huh?”

“bukan gitu. Bosen? Nggak lah.” Andrew tersenyum malu-malu. Sementara Laras masih sibuk dengan kamera nya. “gue lagi iseng aja def.”

“Nggak lucu.” Sebuah pengumuman yang menyuruh penumpang untuk segera memasuki area pemberangkatan karena pesawat akan segera lepas landas. Aku dan Snazzy memeluk keluarga dan teman kami sebelum akhirnya kami meninggalkan mereka menuju Seoul.

“““““““““““““““““““““““

“Welcome to the Seoul International Air port.” Kata yang akudengar saat aku menginjakkan kaki di bandara yang super megah ini. Aku memejamkan mataku dan menghirup nafas dalam-dalam. Hmhh, inikah aroma udara dari Negara yang selama ini aku impikan? Segar, hangat dan ramah.

“Ayo, kita pasti sudah ditunggu keluarga angkat kita.” Pada detik itu juga Snazzy membuyarkan kesenangan sesaat ku itu. Aku meliriknya sebal. Kami pun berjalan menuju pemerikasaan tas dan mengambil barang kami lalu membawanya dengan troli. Aku melongokkan kepalaku mencari penjemputku. Aku membaca satu-satu papan nama yang dibawa oleh beberapa penjemput. Lalu aku menemukan penjemputku dengan menggunakan kacamata hitam dan setelan jas yang menurutku sangat… eye catching.

“Penjemputmu mana?” Snazzy menyenggol bahuku tapi matanya masih mencari-cari penjemputnya.

“Seperti nya orang dengan kaca mata hitam itu. Dia membawa plang nama bertuliskan nama ku. Penjemputmu mana?”

“Ah, akhirnya ketemu juga. Gue duluan ya def.” dia memelukku sebentar dan melepaskannya. “sampai ketemu di kampus ok! Lo dah nyimpen nomor handphone gue kan?” aku mengangguk. “Good! Jadi kita lo bisa sms atau telepon gue kalo ada perlu. Bye!” dia melambaikan tangananya dan mendorong troli nya menuju penjemputnya. Aku masih melihatnya. Aku yakin pasti itu Tuan Daniel dan istrinya dan… seorang pria bertubuh tinggi dan tampan? Ah, itu pasti adiknya.

“Excusme, are you Defi from Indonesia?” seorang pria berdiri di depanku dan membuatku sedikit terlonjak kaget.

“y-yes… i-I’m.” jawabku ragu-ragu.

“Ah, I guess it! Hello, I’m Jung Su Park.” Dia mengulurkan tangannya dan tersenyum manis menunjukkan lesung pipi nya yang kecil.

“Ah, ne. joeneun Defi imnida. Bangapseumnida.” Aku membalas jabatan tangannya dan sedikit menunduk.

“Appa!!! Lama sekali? Aku lelah menunggu di mobil!!” seorang gadis kecil berjalan ke arah kami dengan wajah dilipat-lipat.

“Chun hyang! Itu tidak sopan! Kau tidak lihat Appa sedang menjemput keluarga baru kita?”

“Chun hyang?” aku menaikkan alisku. Nama anak ini aneh sekali. Sama dengan legenda korea yang pernah aku baca. The legend of Chun Hyang. Legenda percintaan yang menceritakan seorang gadis miskin bernama Chun Hyang yang mencintai seorang pangeran bernama Lee Mong Hryong.

“Ah, maaf. Ini putriku Park Chun Hyang.” Gadis kecil itu tersenyum lembut dan berdiri di sebelahku.

“Eonni! Wah, akhirnya kau datang juga. Aku senang sekali kau datang. Aku jadi punya teman. Appa selalu meninggalkanku sendiri di rumah.” Gadis itu mecibir ayahnya. “kau tahu, dia terlalu sibuk dengan nenek lampir ganjen.”

“Chun Hyang! Jaga ucapanmu!”

“Appa! Waeyo? Memang begitu kan?”

“anak ini!” tuan park menjewer telinga putrinya. Aku tertawa melihat kejadian itu.

“Appa! Appooo~~~”

“maaf, anakku memang sedikit cerewet. Lebih baik kita pulang.” Tuan park mendorong troli dan berjalan di sebelahku. Sementara Chun Hyang menggandeng tanganku erat dan sesekali dia mengajakku bercanda.

““““““““““““““““`

“Chunnie, tolong antar defi ke kamarnya.” Ya, semua orang korea pasti sulit mengucapkan namaku dengan benar. Seperti orang betawi yang sulit mengucapkan huruf “f” dan berubah menjadi “p”.

“Appa! Jangan panggil aku dengan chunnie lagi! Kekanak-kanakkan.” Tuan park tersenyum dan mengacak-ngacak rambut anaknya itu.

“Sudah, antarkan dia ke kamarnya. Chunnie!” lagi-lagi tuan park menggoda anaknya dan sukses membuat anaknya ngambek.

“APPAAAA!!!!”

“araso, uri chunnie. Ka!” chunnie menganggandeng tanganku dan membawaku ke kamar baruku. Dia membukakan pintu kamar nya.

“Ini kamar mu eonni.”

“Gomawo chunnie… eh, maaf!”

“Ah, lupakan saja. Appa memang suka sekali memanggilku seperti itu. Tidak masalah jika eonni juga memanggilku seperti itu.” Lalu dia duduk di kasurku. Akupun menyusulnya duduk di sebelahnya.

“Ehm, maaf. Boleh aku menyakan sesuatu?”

“Apa?”

“Apakah, Amma mu…”

“Dia sudah meninggal.” Chunnie menundukkan kepalanya. “Amma dan Appa ku sudah meninggal saat aku berumur 3 tahun.”

“Tunggu… tuan park bukankah Appa mu?”

“dia adalah pamanku. Namun, saat kedua orangtua ku meninggal dia yang merawatku sejak kecil bahkan dia rela tidak bermain dengan teman sebayanya hanya untuk merawatku.”

“benarkah?” jadi, apa kata Snazzy itu salah. Dia bukan lelaki hidung belang apa yang seperti dia katakana.

“Iya. Bahkan aku sangat menyayangi nya melebihi orang tuaku.” Aku mengangguk mengerti. Aku melihatnya menghela nafas berat dan merebahkan dirinya di kasurku. Sepertinya aku mulai menyukai keluarga kecil ini. Aku ikut merebahkan diriku di kasur.

TTOK TTOK TTOK…

Suara ketukan dari pintu membuatku terbangun. Aku berjalan menuju pintu dan membuka pintu. Ternyata tuan park. “Maaf, aku harus pergi. Bisa titip Chunnie?”

“Ah, baiklah tuan park.”

“Tunggu, jangan panggil aku tuan park.” Katanya lembut.

“Lalu? Ajusshi?”

“tidak tidak! Panggil aku oppa saja. Mengerti?”

“tapi..”

“aku terlihat tua jika kau panggil seperti itu. Hahaha.” Sahutnya bercanda. Aku mengangguk.

“APPA MAU BERTEMU NENEK LAMPIR ITU LAGI?” nenek lampir? Tiba-tiba saja Chunnie sudah berdiri di sampingku dan berteriak, membuatku sedikit menjauhkan telingaku dari suara cemprengnya. “appa selalu begitu! Meninggalkanku sendiri! Appa tidak pernah memperhatikanku lagi!” dia meninggalkan kami begitu saja yang berdiri mematung di pintu. Aku menatap tuan park… ah, tidak maksudku jung su oppa yang sama juga kagetnya melihat tingkah Chunnie. Dia hendak mengejar Chunnie namun aku menghalangi nya dan memintanya untuk aku saja yang mengatasi semua ini.

“Biar aku saja. Oppa pergilah!” aku berjalan mengikuti Chunnie ke kamarnya. Saat aku membuka pintu aku bisa melihat wajahnya yang sangat kesal. Aku duduk di sebelahnya. “kau kenapa?”

“aku kesal dengan appa! Dia selalu saja sibuk dengan nenek lampir itu!”

“nenek lampir? Maksudmu?”

“wanita-wanita di sekitar appa!” Aku mwngelus pundaknya lembut.

“kau tahu kapan appa mu benar-benar serius menjalin hubungan dengan wanita?” dia menggeleng.

“mungkin appa tidak pernah berpacaran karena sibuk mengurusku.”

“kau sudah tahu jawabannya. Mungkin appa mu membutuhkan wanita yang bisa mengurusmu dan dia.”

“tapi…” dia menghapus air matanya. “wanita yang terakhir appa kenalkan padaku sangat menyeramkan! Di depan appa saja dia bersikap manis, tapi tatapan nya akan berubah jika memandangku. Seakan dia akan mebunuhku.”

Aku tersenyum geli mendengar pengakuan gadis berumur 14 tahun. “kenapa kau tidak bilang pada appa mu?”

“sudah, eonni! Tapi appa malah menuduhku yang tidak-tidak.” Dia meraih bantal di dekatnya dan meremas-remanya. “kalau saja calon istri appa itu seperti eonni.”

“eh? Maksudmu.”

“entah kenapa, aku nyaman jika di dekat eonni.”

“kau ini bicara suka asal-asalan. Lebih baik kita istirahat saja.” Aku beranjak dan hendak menuju kamarku.

“eonni, tidur bersamaku ya? Sekali saja!” ok, aku tidak dapat menolak permintaan gadis kecil ini. Aku mengangguk setuju dan kami pun tertidur.

““““““““““““““““““““““““

Hampir menjelang malam aku terbangun dan melihat chunnie masih tertidur pulas di sebelahku. Aku berjalan keluar kamar dan menuju dapur. Rasanya tenggorokan ku ini kering sekali. Saat aku menuruni tangga, aku melihat tuan park… ah, tidak maksudku Jung su oppa. Dia duduk di meja bartender sambil menenggak sepertinya secangkir kopi. Dia membalikkan badanya, dan tersenyum kecil. Aku baru sadar dia memiliki dua lesung pipi kecil saat tersenyum dan… Tuhan! Dia terlihat tampan dengan baju casual seperti ini.

“Kau sudah bangun?” tanyanya seraya menenggak kopinya.

“ehm? Seperti yang anda lihat! Apa aku sedang tidur sekarang? Atau aku seperti sedang pulang jogging?” kataku bercanda dan menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.

“kopi?”

“tidak, terima kasih. Aku tidak begitu suka kopi. Mungkin aku hanya membutuhkan segelas air putih sekarang.” Lagi-lagi dia tersenyum dan beranjak dari duduknya mengambilkanku segelas air putih. “Terima kasih.”

“with pleasure!” jawabnya lembut. Dan kami pun diam untuk beberapa saat. Sibuk dengan pikiran masing-masing. “apa chunnie merepotkanmu tadi?”

“ah, tidak. Kami mengobrol banyak tadi.”

“maaf, merepotkanmu dengan tingkahnya.” Aku menggeleng.

“justru aku senang ada teman mengobrol.” Lalu aku bisa melihat ekspresi wajahnya berubah. Tatapanya kosong kedepan. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan.

“sebenarnya, Chunnie adalah anak dari kakak ku. Tapi orang tua Chunnie meninggal saat dia masih kecil, untuk itu aku memutuskan membesarkannya dan menjadi ayahnya yang sah. Aku sangat menyayangi Chunnie. Dia amanat kakak ku. Tapi, akhir-akhir ini aku bingung dengan sikapnya.”

“apa, oppa pernah mencoba bertanya padanya.” Dia tersenyum kecil.

“sangat aneh ya, saat kau memanggilku ‘oppa’ seperti ada yang menggelitik.” Dia menengguk kopinya lagi. “aku sudah pernah menanyakannya. Dan kau tahu jawabannya? Karena aku dekat dengan seorang wanita yang kau tidak perlu tahu namanya. Menurut nya, wanita itu menatapnya dengan tatapan ingin membunuhnya.”

“kau percaya?” dia menggeleng.

“tentu saja tidak. Aku yakin, Chunnie hanya mengada-ngada.”

“bagaimana, jika Chunnie benar?”

“dan tebakan Chunnie benar! Dia bukan wanita yang baik. Tadi, aku memergokinya tengah bercumbu dengan atasannya di kantornya. Sungguh menjijikkan! Saat itu juga aku memutuskannya.” Aku terbelalak kaget dan menutup mulutku dengan kedua tanganku. “dan kini aku merasa bersalah pada Chunnie. Aku bingung bagaimana harus meminta maaf padanya.”

“aku… aku… tidak tahu jika akhirnya seperti itu. Terkutuk sekali wanita itu! Tega-teganya dia menyakiti pria sebaik oppa!” uppsss… aku keceplosan! Aku merutuki diriku sendiri. Kini dia menatapku dengan alis berkerut. Aku tahu sekarang wajahku seperti udang rebus. “maksudku, tidak seharusnya dia menyakiti oppa seperti itu.” Aku tersenyum getir dan dia tertawa terbahak-bahak di depanku.

“lihatlah wajahmu depi!” sepertinya aku harus familiar dengan panggilan depi ketimbang defi. “wajahmu memerah. Hahahahahaha!”

“Oppa! Hentikan!” dia masih terus tertawa dan memegangi perutnya.

“Ok, ok! I’m so sorry.” Dia menarik nafas panjang dan berusaha menahan tawanya. “now, what I must doing? I know that Chunnie really hate me. And I’m so sorry to Chunnie.”

“besok, hari libur bukan?” dia mengangguk. “bagaimana kalau kau ajak dia ke taman hiburan?”

“not bad! Baiklah, besok temani aku dan Chunnie ke taman hiburan.” Aku mengguk setuju. Dia melirik jam dinding yang ada di dapur. “sudah saat nya makan malam. Aku belum menyiapkan apa-apa. Kita makan di luar saja bagaimana? Kau bisa bangunkan Chunnie untuk bersiap dan sepertinya kau juga harus cuci muka dulu.” Aisshh, lagi-lagi! Aku tidak menjawabnya dan meninggalkannya menuju kamar Chunnie untuk membangunkannya dan makan malam.

““““““““““““““““““““`

Hari ini, aku, Jung Su oppa dan chunnie akan pergi ke Lotte world. Yah, aku terus saja tersenyum sejak tadi pagi. Kalian tahu kenapa? Aku tidak bisa membayangkan betapa indahnya tempat itu. Apakah akan seidah negeri dongeng? Aku hanya bisa melihat tempat itu dari acar reality show atau beberapa perfom boyband atau girlband saja. Dan yang paling aku ingat tentang tempat itu adalah saat aku menonton reality show good daddy. Sejak saat itu aku ingin sekali ke tempat itu. Dan aku tidak akan menyia-nyiakan hari ini. Aku akan memuaskan hariku seharian di tempat itu, bahkan aku akan menginap disitu jika perlu. Hahahaha.

Akhirnya kami sampai juga di tempat itu. Jung su oppa membeli tiket. Iseng-iseng aku melihat harga tiket yang tercantum di loket. Apa?!! Aku yakin harga tiket itu bisa untuk makan ku selama satu bulan. Mahal sekali! Tapi, mungkin tidak begitu mahal disini. Kita tahu kan, mata uang di Indonesia dan korea berbeda. Harga tiket saja lebih mahal dari harga tiket masuk ke Dunia fantasi. Aku hanya bisa menelan ludah dan menggeleng-gelng tidak percaya! Dan kalian tahu, apa yang aku pikirkan selama ini benar! Lotte world sangatlah indah. Benar-benar seperti negeri dongeng! Chunnie langsung menarik tanganku memasuki beberapa wahana. Jung Su oppa mengikuti kami di belakang.

“Eonni! Kita naik itu yuk!!” dia menunjuk pada sebuah wahana yang disebut Viking. Aku mengangguk antusias. “Appa! Ayo!” Chunnie menggandeng tangan kami berdua. Here we go! We start to get a scream now! Hahaha.

Aku rasa 3 menit sama dengan 3 jam saat menaiki Viking. Perutku terasa di aduk-aduk dan lemas sekali. Yang membuatku heran, Chunnie malah tertawa riang. Ishhh, gadis kecil ini! Dia terus saja menggandeng tanganku dan appa nya.

“Appa!”

“ehm?”

“kau tidak merasa ada yang aneh?”

“apa?”

“lihat sekeliling Appa. Semua mata wanita tertuju pada Appa. Ckckckck~” aku melihat sekelilingku. Ah, benar saja. Semua wanita tengah menatap jung Su oppa. Bahkan ada yang terang-terangan menggodanya. Aku hanya tersenyum kecut. Hey, ada apa denganku ini? Kenapa aku begitu peduli? Toh, dia bukan siapa-siapa ku saat ini. “aku risih melihatnya Appa!” Chunnie mulai merengek.

“biarkan saja!”

“tapi aku tidak suka!” Chunnie memajukan bibirnya dan berlagak marah. Tapi, tiba-tiba di tersenyum kecil. Dia menarik tanganku dan tangan Jung su oppa dan menyatukannya. What the…! “aku rasa dengan begini mereka tidak akan berani lagi menggoda Appa. Ayo jalan!” aku hanya bisa D-I-A-M M-E-M-A-T-U-N-G!!! tuhan! Apa lagi yang dilakukan bocah kecil ini! Dan kami pun tertegun saat seseorang memanggil nama Jung Su Oppa.

“Jung Su!!!! Hya, Park Jung Su!!!” siapa dia??

-TBC-

5 responses to “[Korean Fan Fic] Your Appa is Cassanova-Part 1(Leeteuk-Suju)

  1. Eonni!!! Lanjut lanjut lanjut ^^ Pengen baca lanjutannya.. kalo bisa sih sesegera mungkin.. hahahaha.. keren keren keren.. Kalau jadi anak angkat Teuki Oppa kayaknya seru kali ya punya Appa ganteng terus dikenalin ke temen-temen suju-nya (maunya!) Aah, untung Oppa dan Eonni guru2 les bahasa KOrea-ku bisa manggil namaku dengan sempurna (mereka orang Korea soalnya n emang rada susah ngomong “F”)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s