[FREELANCE] The Waiter Boy and the Prince part 4 (END) – 2MIN (Minho + Taemin SHINee)

 

Klik disini untuk membaca the waiter boy and the prince part 1

Klik disini untuk membaca the waiter boy and the prince part 2

Klik disini untuk membaca the waiter boy and the prince part 3

Author: Carla Bz (Cathleya). Facebook: click here Twitter: @CattleyaMille

Genre: Romance, yaoi

Rating: PG-13

Casts: Minho (SHINee), Taemin (SHINee), Tuan Choi, Nyonya Choi, Kim Jonghyun (SHINee), Key (SHINee), Onew (SHINee)

————————————————————————————————

Taemin POV

“Apa yang kau katakan pada Minho, hyung? Kenapa dia bisa semarah itu padamu?” Tanyaku pada Jjong hyung, sambil mengobati luka-lukanya di ruang kesehatan.

“Kurasa dia cemburu… aww, pelan-pelan Taemin, appo…” Jjong hyung meringis kesakitan.

“Eh mian mian… Cemburu? Maksud hyung?”

“Dia cemburu karena aku menyukaimu”

“Menyukai… menyukai apa maksudnya, aku tak mengerti? Dan kenapa ia harus cemburu?”

“Aishh, bagaimana ini? Apa aku perlu mengatakannya sekarang…” Jjong hyung menggaruk kepalanya yang aku yakin sama sekali tidak gatal.

“Jangan menatapku dengan wajah polos seperti itu Taemin, kau membuatku semakin gugup dan berdebar-debar…” Jjong hyung semakin salah tingkah.

“Katakan padaku, ada apa hyung?”

“Yah, aku menyukaimu Taemin…” Katanya malu-malu. Apa? Benarkah Jjong hyung menyukaiku, dan Minho cemburu? Kenyataan bahwa Minho cemburu padaku lebih menarik perhatianku sebenarnya dari pada pernyataan cinta Jjong hyung barusan.

“Aku… aku… benarkah Minho cemburu?”

“Ahh, aku kalah telak rupanya, hahaha… kau lebih tertarik tentang Minho yang cemburu padamu rupanya daripada pernyataan cintaku yang tulus tadi, ckckck”

“Ani… bukan begitu hyung, itu…”

“Aku mengerti Taemin, sudahlah. Haha, tapi Taemin izinkan aku menjagamu ne. aku akan memeperlakukanmu lebih baik daripada Minho. Kalau perlu aku bisa menjadi sahabatmu.”

“Itu….”

“Jebal…” Katanya memohon, dan aku mengangguk mengiyakan ke arahnya sambil tersenyum lembut.

Harus ku akui, aku sangat senang karena Jjong hyung adalah teman pertamaku. Miris sekali rasanya, mengingat selama 17 tahun hidupku aku tak pernah memiliki teman, temanku hanya Minho hyung. Hyung? Haruskah aku memanggilnya hyung lagi? Tidak, setelah semua yang dia lakukan padaku aku tak mau memanggilnya hyung lagi.

Setiap kali aku mencoba berteman dengan seseorang, aku selalu berakhir dengan mereka menjauhiku, atau memusuhiku tiba-tiba. Dan setelah aku selidiki, ternyata semuanya gara-gara Minho, dan aku tak mengerti otak orang itu terbuat dari apa. Dia menyebarkan cerita tentang statusku—yang mati-matian dia pertahankan—bahwa aku Cuma pelayannya! Dia bahkan tak segan-segan mengancam orang-orang yang mencoba berteman denganku. Huh, kurasa benar-benar ada masalah dengan otaknya! Bahkan aku dilarang memanggilnya hyung. Entahlah, kenyataan bahwa aku adalah adiknya… dia membenci itu.

Tapi harus aku akui, aku merindukan Minho hyung yang dulu….

 

Minho POV

Taemin benar-benar menjauhiku, sepertinya dia benar-benar membenciku sekarang. Aku merindukannya, sungguh. Memang hanya dengan menyuruh-nyuruhnya sajalah satu-satunya cara agar aku bisa berdekatan dengannya. Dan dia tak pernah menolaknya. Walaupun tetap saja dia enggan hanya untuk melihat wajahku. Dia hanya melakukan apa saja yang aku perintahkan tanpa banyak protes seperti biasanya. Dia mengerjakan dengan cepat dan setelah itu pergi begitu saja dari hadapanku, seolah aku ini adalah makhluk transparan yang sama sekali tak terlhat olehnya.

Keadaan ini benar-benar membuatku frustasi, apalagi sekarang dia semakin dekat dengan Jonghyun. Aku benci itu. Ah, apa aku cemburu? Molla.

Hari ini hujan deras sekali, tapi aku merasakan hawa panas yang terasa abnormal di cuaca sedingin ini. Aku melihat Taemin sedang berpayung berdua dengan Jonghyun menuju gerbang sekolah. Pemandangan yang menyebalkan bukan?

Aku cepat-cepat mengambil handphone-ku dan meneleponnya, “Taemin, jemput aku sekarang! Aku kehujanan di gedung sekolah!”

Terdengar suara telepon diputus, tapi aku tau dia pasti akan segera datang. Karena selalu seperti itu, dia malas bicara denganku, ingat? Jadi da selalu memutuskan teleponnya, tapi dia tetap akan datang. Benar saja, dia datang dengan wajah kusut. Dia menyerahkan payungnya. Oh? Kurasa dia hanya membawa satu payung, “Kenapa diam saja? Kau tak akan pulang? Ayo berpayung berdua saja!” Kataku berusaha menurunkan nada bicaraku, tapi tetap saja dengan nada memerintah.

Dia menatapku dengan pandangan jijik, kemudian berjongkok dan memalingkan mukanya. “Mwo? Kau tak mau pulang bersamaku? Kau mau tunggu disini sampai malam hah? Ayo cepat ikut saja” dan dia sama sekali tak bergeming, masih bertahan dengan posisinya tadi tanpa menghiraukan ajakanku. Kau tau Taemin, kau benar-benar membuatku kesal!

“Ah, sudahlah. Terserah kau saja! Aku pulang duluan!” kataku, dan lagi-lagi dia mengacuhkanku.

sesampainya di rumah, aku dimarahi habis-habisan oleh umma karena Taemin belum pulang juga, padahal hari sudah gelap, dan cuaca di luar masih hujan deras. Apa mungkin dia masih di sekolah? Seharusnya tadi aku paksa saja dia pulang bersamaku. Minho pabo!

“Cepat kau jemput dia di sekolah Minho!” perintah umma kepadaku.

“Ahhh, ummaaa…”

“Minho!!!”

“Arra, arra, aku berangkat sekarang” yah, aku memang benar-benar mengkhawatirkannya karena dia belum pulang juga selarut ini. Tapi belum sempat aku keluar rumah, dia datang dengan basah kuyup.

“Mianhae Umma, aku pulang terlambat” katanya pelan, suaranya agak parau karena kedinginan.

“Taemin, kenapa hujan-hujanan? Minho baru saja akan menjemputmu” Kata umma sambil memeluknya, “Minho, cepat ambilkan handuk!”

“Tidak perlu umma, aku langsung ganti baju saja di rumah. Aku permisi umma”

“Ne, ne… jangan lupa minum teh hangat ya, kau kedinginan nampaknya. Setelah itu langsung istirahat,” kemudian dia hanya mengangguk dan pergi ke rumahnya.

“Awas kau Minho! Kalo Taemin sakit gara-gara kamu, umma akan mengumpankanmu pada singa lapar!” kata umma sambil melotot ke arahku. Aku tau umma tak serius, tapi tetap saja, membuatku merinding membayangkannya.

***

Taemin POV

Bugghhhh!!! Aku terjatuh dari tempat tidurku, masih merasa pusing gara-gara insiden kemarin aku hujan-hujanan. Minho pabo! Minho Sialan, Minho menyebalkan!!!

“Mwo?? Sudah jam 7?? Kyaaa, aku terlambatttt!!” kataku panik, dan aku buru-buru berdiri, tapi tak lama kemudian jatuh lagi, oh kepalaku benar-benar pusing. Dan kurasa aku benar-benar demam. Mungkin sekali ini aku bolos sekolah saja.

Aku kembali ke tempat tidur, dan langsung berbaring. Ketika mengecek handphone, aku melihat 5 panggilan tak terjawab dari kodok jelek (baca: Minho). Kenapa dia memanggilku?

Tapi ternyata dia meneleponku lagi, “Taemin! kemana saja kau hah? Kenapa baru mengangkat teleponku?”

“….”

“Aku terpaksa berangkat duluan, karena kau lama sekali. Apa kau dandan dulu?”

“….”

“Oh, ayolah, kenapa kau diam saja? Jawab aku! Kenapa kau belum ke sekolah juga?”

“….”

“Woiiiii!! Ah sudahlah, aku ketinggalan buku PR-ku di meja belajar kamarku. Cepat ambilkan ke sekolah sekarang”

“Aku….”

“Cepat antarkan, aku tunggu!” pip. Dia mematikan ponselnya sebelum aku mengatakan apapun. Hhhh, dia mulai lagi! Bagaimana ini? Apa aku harus tetap ke sekolah?

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke sekolah, dan aku sama sekali tak ingat untuk mandi, apalagi sarapan. Aku buru-buru naik bus yang sudah penuh sesak, rasa pusing dan mual mulai membuatku gontai. Huh, kalau saja aku tak ingat kalau orangtuanya lah yang telah mengurusku dan menyekolahkanku, aku tak mau bersusah payah seperti ini dan menuruti semua kemauannya! Lihat, penampilanku sekarang pasti terlihat sangat berantakan, wajah kusut, seragam terbuka kancingnya dan berantakan, akupun tak menyisir rambutku, bahkan aku lupa memakai sepatu! hanya memakai sandal rumah. Pantas saja sejak tadi orang-orang memandangku aneh.

Aku terlambat. Sudah kuduga. Dan penjaga gerbang tak memperbolehkan aku masuk karena ini sudah yang ke-empat kalinya aku terlambat. Terpaksa aku mengirimnya pesan singkat ‘aku menungggu di gerbang’ hanya itu. Kemudian aku berjongkok menunggunya karena aku benar-benar pusing dan lemas. Aku menunggunya selama seharian! Dan dia tidak datang juga. Tidak taukah dia, aku membutuhkan perjuangan untuk sampa kesini? Tapi kurasa dia tak peduli, memang apa yang dia pedulikan tentangku? Jadi kurasa sebaiknya aku  pulang saja dan berhenti menunggunya seperti orang bodoh. Dan lagipula, aku sudah tidak kuat lagi berdiam lebih lama di tempat ini. Awas saja kau Minho bodoh!

Tapi bagaimana kalau dia marah dan mengadu pada orangtuanya? Mau ditaruh dimana mukaku? Lagi-lagi aku mengalah dan menunggunya. Aku menyender dekat gerbang sekolah. Hah, kurasa aku benar-benar  tampak menyedihkan sekarang. Dan aku pun tertidur…

“Hyung… tunggu aku…”

“Taeminnie kau lama sekali, cepat kejar aku” katanya sambil tertawa. Sungguh dia sangat tampan saat tertawa seperti itu. Aku akhirnya kelelahan mengejarnya, dan mempoutkan bibirku kesal karena tak berhasil mengejarnya.

“Haha, Taemin kau menyerah? Oh, lelah rupanya? Baiklah, hyung gendong ne?” dan aku langsung mengangguk-anggukan kepalaku, dia tersenyum dan mengacak rambutku, “Kau ini, ayo naiklah”

“Ne…” Hangatnyaaa, punggung Minho hyung terasa hangat. Dan aku mengeratkan pelukanku di gendongannya.

“Aissh Taemin, kalau kau memelukku seperti itu, aku akan kehabisan napas”

“Hehehe”

“Ahhh hyung lelah, ternyata kau benar-benar berat Taemin. sekarang gantian kau yang menggendongku Taemin”

“Eh?”

“Kenapa memasang wajah seperti itu? Ayolah sekali-kali kau yang menggendongku”

“Ani, aku tak mau! Aku ingin kau terus menggendongku”

“Ahahaha, baiklah tuan putri….” blush, wajahku memerah.

“Hyung…”

“Hyung…” Mimpi. Mimpi yang sama. Kilasan masa kecilku dengan Minho. Sungguh aku benar-benar merindukan Minho yang dulu, kalau perlu aku ingin berhenti jadi keluarga Choi, asal dia mau kembali menjadi Minho hyung-ku yang dulu.

Aku terbangun saat sekolah mulai bubar? Apa aku tertidur selama itu? Dan Minho benar-benar tidak datang! Jadi usahaku untuk pergi ke sekolah benar-benar sia-sia. Ingin menangis rasanya, dadaku sakit sekali tuhan, dan ini tak ada hubungannya dengan sakitku…

Aku melihat mobil Minho keluar dari sekolah, dan kulihat dia sedang tertawa dengan seseorang di dalamnya, Yuri noona? Apa gara-gara aku sakit, pandangan mataku jadi mengabur? Tapi tidak, itu benar-benar Yuri noona, aku tak salah lihat. Haha, ternyata aku benar-benar BODOH! terus berharap dia akan datang, padahal mengingatmu saja dia tidak melakukannya Taemin! dan aku masih saja menunggunya seharian  disini seperti orang bodoh! dan aku memang benar-benar bodoh. Yuri noona… begitukah? Gara-gara diakah?

Aku menggapai-gapai tanganku, agar dia melihatku. Tapi mobilnya terus saja berjalan melewatiku. Sungguh, ini jauh lebih menyakitkan daripada demam-ku. Dan akhirnya aku menyerah, airmataku tumpah. Aku tak peduli orang-orang memandangku kasihan, aku terus saja berjalan sempoyongan. sampai pandangan mataku gelap, dan aku tak ingat apa-apa lagi.

***

Minho POV

“Gomawo, Minho-ya… lain kali kau antar aku pulang lagi ne?” kata Yuri sambil tersenyum di depan rumahnya. Mengantarmu pulang lagi? Jangan harap! Kalau saja tadi kau tak membantuku berbicara pada Seonsaengnim yang akan menghukumku gara-gara aku tak membawa buku PR-ku, sungguh aku tak mau mengantarkannya pulang seperti sekarang!

Taemin? kemana dia? Kenapa tadi dia tak ada di sekolah, dan tak membawa buku PR-ku, gara-garanya aku hampir dihukum dan terpaksa mengantar nenek sihir itu pulang. Kemudian aku mengecek ponselku, dan kulihat sebuah pesan masuk dari Princess Taeminnie. Nama kontak yang belum kuganti sampai sekarang. Aku membelalak kaget saat membacanya. Jadi dia benar-benar datang ke sekolah tadi? Apa dia terlambat dan dilarang masuk ke sekolah? Apa dia menungguku? Perasaan bersalah menghantuiku. Saat aku sampai di rumah, aku pun tak melihatnya di rumah. Taemin dimana kau? Mianhaeyo…

Aku merasa jantungku akan copot saat Jonghyun menelepon. Da mengabarkan kalau Taemin ada di rumah sakit sekarang. Dia pingsan di depan sekolah, dan kepalanya terbentur aspal jalan karena terjatuh begitu keras. Aku langsung pergi ke rumah sakit bersama umma. Selama perjalanan ke rumah sakit aku terus mengutuk diriku, dan aku tak akan memaafkan diriku sendiri kalau sampai terjadi sesuatu pada Taemin-ku.

“Jonghyun!” aku memanggilnya saat tiba di rumah sakit, dan…. Bugh! Dia menonjokku keras tepat di wajahku. “Kau benar-benar brengsek Minho! Apa kau menyulitkannya lagi hah? Taukah kau, saat aku temukan dia, penampilannya benar-benar berantakan, wajahnya benar-benar pucat, dan dia menangis!! apa yang kau lakukan hah?” dia berteriak keras sambil menarik kerah kemejaku. Dan aku tak berusaha melawannya, karena aku memang pantas diperlakukan seperti itu.

“Sudahlah Jonghyun, tenanglah, ini rumah sakit. Dimana kamar Taemin? biarkan aku dan Minho melihatnya” kata Umma, Jonghyun melepaskan tangannya dan tampak malu, kemudian dia mengantar kami ke kamar Taemin. Taemin sudah sadar, tetapi kepalanya di perban, dan dia tampak lemah sekali, terlihat ringkih dengan tubuh kurusnya.

“Taeminnie, kau tak apa-apa nak? Umma khawatir sekali…” umma langsung berlari memeluknya, dan Taemin hanya tersenyum lemah, “Gwenchana Umma, aku baik-baik saja” katanya lembut.  Aku hanya berdiri di dekat pintu, aku takut mendekatimu Taemin, aku takut akan melukainya lebih jauh lagi.

Dia melihat ke arahku, “Minho kemarilah” Kata umma memanggilku, aku berjalan ke arahnya sambil menundukkan kepalaku. “Kalian bicaralah, umma tunggu diluar ne…” dan umma pun menghilang di balik pintu.

Selama beberapa menit dalam keheningan, aku mulai membuka suaraku,” Taemin mianhae… Aku… benar-benar tidak tau kau benar-benar ke sekolah tadi.” Kataku gugup, dan dia tersenyum. Hei, dia tersenyum? Apa kau malaikat Taemin? padahal aku membuatmu seperti ini, dan kau masih bisa tersenyum? Sungguh, ini tak adil. Mengapa aku bisa membenci malaikat kecilku ini? Dan tak sadar, airmataku pun mengalir. Ini hal yang jarang terjadi, seorang Choi Minho menangis… dia merengkuhku dan mengusap-usap punggungku. Hangat…

Kurasakan kemejaku basah. Bukan,  bukan karena airmataku. Tapi airmata Taemin, apa dia juga sedang menangis?

“Aku merindukanmu hyung… aku merindukan Minho hyung yang dulu. Kumohon, kembalilah seperti dulu. Jangan tinggalkan aku lagi, hiks… jangan acuhkan aku lagi, jangan membenciku lagi, hiks… Aku rela berhenti jadi keluarga Choi asal kau mau kembali menjadi Minho hyung-ku yang dulu. Kumohon…” katanya sambil tersedu-sedu di pelukanku. Aku benar-benar kaget dengan kata-katanya.

“Taemin…” aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku, dan hanya memeluknya semakin erat. “Mianhae…”

***

“Kenapa umma senyum-senyum seperti itu?? Sungguh mengkhawatirkan!” kataku saat berada di mobil.

“Aissh kau ini! Anii, hanya saja umma teringat masa-masa umma muda dulu saat melihat kau dan Taemin tadi di rumah sakit”

“Eh??? Umma mengintip???”

“Hehehe, sedikit..”

“Ummaaaaaa….”

“Tak apa, bukankah bagus? Mungkin sebentar lagi Taemin benar-benar akan menjadi keluarga Choi, hihihi. Hanya saja aku tak habis pikir dengan pemikiran bodohmu selama ini Minho… jadi selama ini kau pikir, kalau Taemin adikmu kau tak bisa menikah dengannya, begitu? Hahaha, alasan yang benar-benar konyol… kupikir kau benar-benar membencinya Minho…”

“Umma, berhentilah menggodaku! Aku… aku hanya… eh? Benarkah aku benar-benar bisa menikahi Taemin, umma?”

“Hihihi….”

“Umma, ayolah jawab aku!”

“Hihihhi”

“Umma!!!”

***

2 jam sebelumnya, di rumah sakit…

            “Ta… taeminnie…” kataku malu-malu, sambil melepaskan pelukan yang terasa singkat tadi.

            “Eh?”

            “Biarkan aku memanggilmu seperti dulu, dan kau boleh memanggilku hyung lagi, Minnie…”

            “Hyung…”

            “Mianhae Taemin, selama ini aku… aku… bodoh. aku membencimu tanpa alasan, aku benci kau jadi adikku, bukan karena iri sebenarnya, tapi lebih karena… karena kupikir aku takkan bisa menikah denganmu kalau kau adikku, Taemin…” Blush, wajahku memerah saat mengucapkan kata-kata itu, Taemin bengong menatapku tak percaya, dan kemudian tersenyum geli.

            “Kenapa tertawa???”

            “Hehehe, tidak hyung… eumm, menikahiku?”

            “Ah itu… aku… ah kau benar-benar menyebalkan Taemin!”

            “Saranghae hyung…” katanya sambil tersenyum manis. Seseorang tolong aku, kurasa jantungku sebentar lagi akan meledak karena berdebar terlalu kencang saat ini.

            “Eh? Na… na do Taeminnie…” Ahhh, lagi-lagi wajahku memerah. Ini memalukan!

            “Taemin, aku minta maaf soal…” tapi kata-kataku tak pernah selesai, karena tiba-tiba saja Taemin mencium bibirku. Lembut… dan manis…

Tuhan, jangan dulu ambil nyawaku sekarang hanya karena jantungku berdebar terlalu cepat dan berhenti berdetak secara tiba-tiba… aku tak mau itu terjadi tuhan… karena aku sangat bahagia sekarang… hehehe… apa ada yang lebih membahagiakan dari ini tuhan? Kurasa tak ada…

***

(TAMAT)

 

Apa ada yang kangen sama lanjutan cerita ini? Reader: gak adaaaa *author nangis di pojokan*

Aku rasa endingnya benar-benar aneh. Karena aku bikinnya pas abis kena marah dosen di seminar judul-ku *curcol*

Tapi akhirnya cerita ini selesai juga… gomawo, buat yang udah baca cerita ini dari awal. Meski sebenernya aku ngarep ada yang berkenan komentar di ceritaku. Hehe.

Gomawo juga buat ibu yang empunya asianfanfictionstory ini, karena udah ngepost cerita ini di blog-nya. Buat judulnya, juga buat editan gambarnya, jeongmal gomawo…

Yah, tadinya siapa yang kenal sama author amatir yang namanya Cattleya kan?😄

Semoga aku bisa balik lagi sambil bawa ff yaoi lainnya, annyeong… J

 

 

 

14 responses to “[FREELANCE] The Waiter Boy and the Prince part 4 (END) – 2MIN (Minho + Taemin SHINee)

  1. Annyeong,,,

    Critax bagus kok anin,,happy ending,,aq krain Ğǟ bkalan happy ending hehehe,,o ўά anin klo bleh ksh saran crita ini dilanjutin dunk dibuat squelx gituuu,,hehehe,,,and anin ditunggu critaa2 kreasi anin ƔάϞƍ laennyaa,,,ŷââ,,
    gomawoooo

  2. Thoooorrrr mian aku lgsg komen di part akhirnya j, hehehehe

    Wakakakakak minhooooooo km lucu sekaliiii ternyata krn alesan itu km bbwt spt itu sm minnie…. Ckckckck

    Tae…. Kesabaranmu membuahkan hasil ne… Aseeeeeekkkk

    Thoooorrr bikin epilog dooooong… Aku pgn tw klnjtn hbgn tumin stlh mrka baikan… Ayolah thooooooorrrr pliiiiiissssss *lempar kolor tumin*😀

  3. Ping-balik: [FREELANCE] The Waiter Boy and the Prince part 3 – 2MIN (Minho + Taemin SHINee) | Asian Fan Fiction Story·

  4. emmm…ceritanya lumayan seruu sih tapii kok aku ngerasa jalan ceritanya tlalu cepatt yahh..terlalu ngebut gituuu,tapiii over all bagusss kok…good job thor😀
    minho yg terkenal ice prince tyata bsa marah2 juga yahh tpii kasian si tetem disuruh2 muluuu #huahhh,nangis gedor2 pintu..poor taeminnie*
    but at least HAPPY ENDING..daebak!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s