[FREELANCE] – Wings of Love (Hangeng a.k.a Hankyung super junior; Lee Jinki a.k.a Onew SHINee))

Author: Carla Bz (Cathleya). Facebook: click here Twitter: @CattleyaMille

Genre: Romance, yaoi

Rating: PG-13

Length: Oneshot

Casts: Jae in (OC), Hangeng a.k.a Hankyung (super junior), Lee Jinki a.k.a Onew (SHINee), Lee Taemin (SHINee), Kim Heechul (super junior)

——————————————————————————————————————————————————–

Prolog

Yeoja itu selalu berada disana, entah apa yang ditunggunya. Terkadang dia melamun atau tertidur, tapi wajahnya selalu nampak bersedih dan menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Bahkan seingatnya dia tak tau siapa orang yang ditunggunya atau apa yang ditunggunya. Atau apa tujuannya duduk di tempat ini. Hanya saja seolah-olah ada yang menarik dirinya untuk duduk di tempat itu.

Angin musim gugur membelai rambut yeoja itu. Lagi-lagi ia duduk di bangku taman kecil itu, satu jam dua jam hingga berjam-jam. Tak ada yang dilakukannya, hanya duduk dan melamun saja. Sampai dia tertidur.

Suara celoteh anak-anak membangunkannya, dia menyadari waktu telah sore karena taman telah ramai oleh anak-anak yang baru pulang sekolah. Dia tersenyum melihat anak-anak itu saling bercanda dan berkejaran. Aneh rasanya, tapi ia merasa pernah melakukan itu semua, tapi ia lupa kapan.

Yeoja itu berdiri dan berniat untuk pulang karena hari sudah sore, tubuhnya terasa pegal karena berjam-jam duduk di bangku taman itu. Tapi tiba-tiba tubuhnya menegang, matanya menatap sesosok namja yang sedang bermain dengan anak-anak kecil di taman itu. Entah kenapa ia merasa begitu merindukan sosok itu, sosok yang bahkan tidak dikenalnya. Lama ia menatap namja yang sedang tertawa itu, kemudian namja itu melihat ke arah yeoja dan tersenyum padanya, tapi hanya sekilas karena ia sudah menghilang ditarik anak-anak kecil itu keluar dari taman. Yeoja itu masih terpaku di tempatnya. Matanya terasa panas, ia tak menyadari bahwa dirinya tengah menangis.

—– —– —– —–

“Yaa, nuna! Ternyata kau ada disini, aku mencarimu kemana-mana. Eh, nuna menangis? Kenapa?” kata seorang namja dengan napas terengah-engah sehabis berlari.

“Eh? Nuna juga tidak tau kenapa nuna menangis. Taemin-ah, mengapa kau mencariku?” tanya yeoja itu ke dongsaengnya sambil menghapus airmatanya, matanya masih terasa panas.

“Baiklah kalau nuna tidak mau cerita. Umma mencari nuna, katanya handphone nuna tidak aktif. Jinki hyung ada di rumah dari tadi, dan kebingungan karena nuna tidak bisa dihubungi dan tak ada dimanapun. Tapi sudah kuduga nuna ada disini. Aku bingung apa sih yang dilakukan nuna disini setiap hari selama berjam-jam?” cerocos Taemin tak sabar. Yeoja itu hanya menggigit jari dan menggeleng, Taemin mengerti dan menarik tangan nuna nya itu.

“Lagi-lagi tak tau tujuannya datang kesini, nuna tau? Itu terdengar aneh. Sudahlah ayo kita pulang, umma dan Jinki hyung sudah menunggu nuna, aku tak mau mereka khawatir terlalu lama” kata Taemin sambil berjalan dan memegang tangan nuna nya.

Sesampainya di rumah, yeoja itu melihat umma nya yang sedang mengobrol dengan seorang namja. Saking asyiknya mengobrol mereka tidak menyadari  kedatangan yeoja itu dan Taemin.

“umma, aku menemukannya sedang melamun di tempat biasa!” Taemin melapor.

“Jae in! Lagi-lagi kamu di tempat itu? Handphone kamu kenapa tidak aktif? Lee Jinki menunggumu dari tadi kau tau?”, umma bertanya seperti kereta express, cepat sekali. Jae in hanya tersenyum dan memandang ke arah Jinki.

“Aku hanya duduk disana umma, dan aku tidak membawa handphone. Dan aku tau Jinki oppa sedang menungguku. Karena itu sebaiknya umma simpan dulu pertanyaan umma, karena aku akan berbicara dengan Jinki oppa” kata Jae in lembut. Umma nya sudah ingin memprotes tapi kemudian diurungkannya dan melangkah ke dapur bersama Taemin.

Jae in duduk di sebelah Jinki oppa yang tersenyum kepadanya. “Oppa, bosan menungguku?” tanya Jae in

“Tidak, umma mu menemaniku mengobrol. Tadi menyenangkan sekali, sehingga aku lupa sedang menunggumu. Lagipula aku tidak akan pernah bosan untuk menunggumu” kata Jinki sambil tersenyum, senyum itu yang disukai Jae in. Dekat dengan Jinki selalu membuat Jae in nyaman. Dia sudah seperti kakak bagi Jae in, walaupun sebenarnya Jinki adalah tunangan Jae in. Entah mengapa Jae in tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Jinki selain perasaan seperti seorang adik kepada kakaknya. Entah karena pertunangan mereka hanya hasil perjodohan, atau entah karena mereka sudah berteman sejak kecil, sehingga aneh rasanya bila tiba-tiba menjadi tunangan.

Jinki pun tau perasaan Jae in terhadapnya hanya sebagai seorang kakak, tapi Jinki akan terus bersabar dan menunggu sampai Jae in bisa menerimanya bukan hanya sebagai seorang kakak, tapi sebagai seorang namja yang nantinya akan menjadi suaminya Jae in.

“Gomawo oppa…”, kata Jae in, alis Jinki berkerut bingung “untuk?”

“Karena oppa tidak pernah bosan menungguku, dan selalu tersenyum padaku” kata Jae in. Ucapan itu sangat dalam artinya, Jinki mengerti lalu ia tersenyum, senyum yang sangat disukai Jae in.

“Jadi… kamu duduk di taman itu lagi?” tanya Jinki, dan Jae in mengangguk. “dan tiba-tiba bingung mengapa kamu ada disana, dan tak terasa kamu sudah duduk disana selama berjam-jam?” Jinki melanjutkan.

“Begitulah” Jae in enggan berkomentar, karena ia selalu seperti itu. Ia bahkan lupa kapan pertama kali ia melakukan hal aneh seperti itu. Kedengarannya tidak normal memang. Tanpa sadar duduk di taman seperti menunggu orang, ia sama sekali tidak ingat untuk apa ia berada disana, tapi hatinya selalu mengatakan ia sedang menunggu seseorang, ia tak tahu siapa… umma, Taemin, dan Jinki tau kebiasaan anehnya itu, maka tak heran apabila Jae in menghilang tiba-tiba, artinya Jae in sedang duduk di taman kecil itu. Untung tidak terlalu jauh dari rumah, sehingga umma bisa langsung menyuruh Taemin untuk menyusul Jae in.

Kemudian Jae in seperti teringat sesuatu, “Oppa, tadi aku melihat seorang namja, aku tidak mengenalnya. Tapi aneh mengapa aku merasa merindukan sosok namja itu, dan aku tak menyadari kalau aku menangis saat melihat namja itu pergi. Itu aneh sekali bukan?” kata Jae in dengan polosnya.

Kepala Jinki dimiringkan, agak sedikit cemburu mendengar Jae in membicarakan namja lain, padahal sebelumnya Jae in tak pernah bercerita tentang namja manapun kepadanya. “Mungkinkah namja itu seseorang di masa lalu kamu Jae in?”

“Tidak mungkin oppa, karena aku sama sekali tak mengenalnya. Ini aneh sekali, aku tak tau apa yang terjadi denganku oppa” kata Jae in

“Sudahlah, kau lelah Jae in. Sebaiknya kamu istirahat. Aku kemari hanya ingin memberikan kamu ini” Jinki menyerahkkan selembar tiket taman bermain ke tangan Jae in

“Wahh, tiket taman bermain?” Jae in terlihat senang sekali.

“Besok berdandanlah yang cantik Jae in, aku akan menjemputmu jam 10. Aku pulang dulu Jae in. Salam buat Umma mu dan Taemin yaa” kata Jinki sambil melangkah keluar rumah. Sebelum Jinki naik ke mobilnya, Jae in berteriak “Gomawoo oppa! Hati-hati..” kata Jae in sambil nyengir, dan Jinki melambai memasuki mobilnya.

Esoknya Jae in sudah siap dan berdandan dengan sangat cantik. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia pergi ke taman bermain. Rasanya sudah lama sekali… kemudian tubuhnya menegang dan ia menangis lagi. Ia benar-benar lupa kapan terakhir kali pergi ke taman bermain dan bersama siapa, tapi ia merasa itu adalah hal paling membahagiakan dalam hidupnya. Dan Jae in pun menangis tersedu-sedu, hatinya terasa sesak dan sakit sekali.

“Nuna cepatlah, Jinki hyung sudah menunggu di luar. Dan nuna lagi-lagi menangis. Sayang sekali make-up nuna harus rusak gara-gara nuna menangis lagi. Aku bingung kenapa nuna sering sekali menangis. Dan aku yakin nuna tidak tau alasan nuna menangis, aneh sekali. Sudahlah, cepat hapus airmata nuna dan segera temui Jinki hyung” seperti biasa Taemin selalu berbicara dengan kecepatan tidak wajar, agak mirip umma.

Jae in menghapus airmatanya dan segera membereskan dandanannya agar tidak terlihat seperti habis menangis. Kemudian dia keluar kamar sambil menjitak kepala Taemin, dongsaeng satu-satunya itu, Jae in nyengir dan hatinya merasa lebih baik baik sekarang. Apalagi setelah melihat Jinki yang melambai ke arahnya sambil tersenyum.

“Sudah siap?”tanya Jinki

“Ne, oppa” kata Jae in sambil mengangguk. Kemudian mereka pergi setelah melihat muka Taemin yang sebal karena tidak diajak. Umma bersikeras untuk membiarkan Jae in dan Jinki pergi berdua saja, padahal semalaman Taemin sudah merengek ingin ikut.

Sesampainya di taman bermain mereka mencoba semuua wahana permainan dan Jae in terlihat sangat senang, ia tidak henti-hentinya berteriak dan tersenyum. Jinki mersa lega akhirnya bisa mengembalikan senyum Jae in. Karena Jinki menyadari kalau akhir-akhir ini Jae in terlihat  murung dan bingung.

“Jae in…” panggil Jinki lembut saat mereka berdua berada di bianglala. Saat itu hari sudah gelap, dan pemandangan dari atas terlihat indah sekali.

“Ada apa oppa?” tanya Jae in sambil tersenyum.

“Tidak, aku hanya senang sekali melihatmu tersenyum seperti itu. Aku… aku suka sekali jika kamu tersenyum Jae in… sangat cantik. Apa mungkin aku bisa melihat senyum seperti ini suatu hari nanti?” kata Jinki sambil agak gugup.

Deggg. Jae in mematung. Dia ingat kata-kata itu, dia ingat tempat ini, dia ingat suasana ini. Seperti waktu itu…. kapan? Jae in sama sekali tidak ingat. Kata-kata itu rasanya pernah diucapkan seseorang padanya, seseorang yang sangat ia rindukan. Tapi siapa? Jae in mendadak ingin berteriak dan menangis karena saat ini dadanya sangat sesak dan begitu sakit. Ia yakin ia melupakan sesuatu, melupakan seseorang. Dia mencengkeram dadanya begitu kuat menahan sakit di hatinya. Jinki kebingungan dan segera melepaskan cengkraman tangan Jae in, karena itu bisa melukai Jae in. Jae in terlihat kacau, dan Jinki bingung merasa bersalah telah mengucapkan sesuatu yang membuat yeoja di depannya menangis dan terlihat kacau. Walaupun ia sendiri tidak tau dimana letak kata-katanya yang salah.

“Jae in… Jae in… Jae in…” berkali-kali Jinki memanggil nama yeoja itu, tapi sepertinya Jae in tidak mendengarnya, pikiran Jae in sedang tidak berada disini. Jinki terlihat sangat bingung melihat keadaan Jae in, sehingga Jinki membawa Jae in turun dari bianglala itu, dan Jae in masih terlihat bingung.

Ini aneh sekali, pikir Jae in. Karena kata-kata itu pernah diucapkan oleh seorang namja. Jinki…bukan. bukan…bukan Jinki… Jae in yakin bukan Jinki, tapi namja lain. Dan Jae in yakin dia benar-benar merindukan namja tersebut, dan menunggu… menunggu? Tunggu. Dia ingat sesuatu.

“OPPA! Antarkan aku ke suatu tempat!” kata Jae in tiba-tiba, mengagetkan Jinki. Jinki segera mengantar Jae in ke tempat yang dimaksud Jae in. Sebuah taman kecil di pinggiran kota, tempat Jae in biasa melamun dan menunggu seseorang. Itu yang dia ingat, dia selalu menunggu seseorang.

Jae in berlari menuju tempat duduknya, dan Jinki mengejar di belakangnya. Tapi tempat duduknya tidak kosong seperti biasanya, ada seseorang sedang duduk disana. Seseorang yang ia tahu sangat ia rindukan, dan mendadak ia mengingat semuanya…

—–flash back—–

Jae in sedang duduk diatas bianglala bersama seorang namja yang tak henti-hentinya menatap Jae in sambil tersenyum. Pipi Jae in memerah menyadari dirinya sedang ditatap oleh namja yang disukainya itu.

“Yaaa. Hankyung-ah, kenapa kau menatap ku terus sambil tersenyum-senyum seperti itu? Kau suka padaku hah?” kata Jae in salah tingkah. Semakin salah tingkah saat melihat Hankyung hanya senyum dan tak menjawab pertanyaan Jae in.

“Hankyung-ah, ada apa denganmu? Kau aneh sekali”, kata Jae in masih salah tingkah. Akhirnya Jae in menyerah dan lebih memilih memandang pemandangan malam kota seoul dari atas bianglala ini.

“Aku hanya senang sekali melihatmu tersenyum seperti itu. Aku suka sekali jika kamu tersenyum Jae in… sangat cantik. Apa mungkin aku bisa melihat senyum seperti ini suatu hari nanti?”, kata Hankyung masih dengan senyum yang membuat Jae in salah tingkah.

“Apa kau sedang menggodaku Hankyung-ah??” gerutu Jae in. Sudah lama memang Jae in menyukai teman sekelasnya ini. Padahal dia tau dulu ketika Hankyung masih menjadi murid baru di sekolahnya, dia sangat menyebalkan sekali dan seringkali membuat Jae in marah. Tapi karena suatu kejadian, ketika Hankyung menolong Jae in dari gangguan anak-anak nakal, mereka jadi sahabat baik. Jae in menyadari bahwa Hankyung ternyata orang yang sangat baik, dan entah sejak kapan ia mulai menyukai Hankyung. Dan Jae in sangat senang sekali ketika Hankyung mengajaknya ke taman bermain ini.

“Lihat siapa yang salah tingkah ini? Hahahaha” Hankyung tertawa keras sekali. Itu membuat Jae in marah dan kesal sekali.

“Puas kau tertawa?? Babo!”, tatapan mata Jae in yang berkaca-kaca membuat Hankyung merasa bersalah. Karena bukan ini maksud Hankyung, dia bermaksud menyatakan cinta kepada Jae in di tempat ini. Tapi dia tidak bisa menahan untuk tidak menggoda Jae in ketika  melihat Jae in yang salah tingkah.

“Mian hae… aku tidak bermaksud menggodamu Jae in”, kata hankyung. Tidak ada reaksi apapun dari Jae in, Jae in hanya menunduk dan menangis. Akhirnya Hankyung melanjutkan,  “Aku suka kamu Jae in. Dari dulu sejak aku sering menggodamu dan membuatmu marah. Aku memang sengaja membuat pertengkaran-pertengakaran kecil, agar kau melihatku, memandangku. Sampai akhirnya kita bersahabat. Aku sangat menyukai senyummu, aku suka tawamu, aku suka melihat wajahmu ketika marah, aku menyukai segalanya tentang kamu Jae in…”, kata Hankyung lembut sekali, tidak pernah sekalipun Hankyung selembut ini kepada Jae in. Jae in pun tau bahwa Hankyung kali ini benar-benar tulus dan bukan hanya menggodanya. Pelan-pelan Jae in mengangkat kepalanya dan menatap Hankyung.

“Kau tidak sedang menggodaku Hankyung-ah?” akhirnya Jae in mengeluarkan suara yang terasa tercekat di tenggorokannya, karena sejak tadi ia tegang dan menahan napas.

“Aku benar-benar menyukaimu Jae in… dan aku tidak sedang menggodamu…” kata Hankyung tulus.

“Babo! Kenapa tidak kau katakan langsung hah? Kenapa harus menggodaku dan membuatku menangis terlebih dahulu. Aku juga suka kamu Hankyung-ah” kata Jae in, akhirnya tersenyum dan memeluk Hankyung.

Hankyung masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan. Dia sangat tegang ketika Jae in memeluknya, dan bertanya-tanya apakah ini mimpi, tetapi kehangatan Jae in menyadarkannya bahwa ini bukan mimpi…

Jae in tidak berhenti tersenyum ketika sampai di rumah, dan Taemin tak henti-hentinya menggoda Jae in, sampai akhirnya Jae in melempar bantal ke muka Taemin dan menyuruhnya keluar dari kamarnya. Dia ingin tidur hari ini dan mimpi indah.

Pagi itu di sekolah Jae in tidak melihat Hankyung. Hankyung memang sering membolos dan tidur di ruang kesehatan, tapi hari ini Jae in belum melihat Hankyung sama sekali. Jae in kesal karena ini adalah hari pertama mereka sebagai sepasang kekasih dan Hankyung sudah hilang entah kemana.

Sebuah sms masuk dari hankyung yang isinya: tunggu aku di tempat biasa sepulang sekolah… aku punya kejutan untukmu…

Efek sebuah sms dari Hankyung itu ternyata sangat mempengaruhi Jae in, karena ia tidak berhenti tersenyum dan tak sabar menunggu pulang sekolah. Ia penasaran dengan kejutan dari Hankyung dan ia sangat merindukan Hankyung. Aneh sekali, padahal dia baru bertemu Hankyung tadi malam, tapi sudah benar-benar merindukannya.

Bel yang ditunggu pun akhirnya datang. Jae in segera mengepak tasnya dan berlari menuju taman tempat mereka biasa bertemu. Taman itu sepi sekali, tapi ketika jam-jam pulang sekolah taman ini selalu ramai dilalui anak-anak sekolah. Jae in mencari Hankyung di taman itu, tapi tak menemukannya juga. Ia berpikir mungkin Hankyung terlambat. Ia duduk di bangku favorit mereka berdua. Dia menunggu dengan tidak sabar, dan berkali-kali mengecek jam tangannya dan Hankyung tak kunjung datang.

Tidak jauh dari taman itu, sebuah kecelakaan terjadi. Sebuah motor tertabrak truk besar, dan pengemudi motor itu meninggal di tempat kejadian. Diketahui pengemudi itu masih menggunakan seragam SMA, dan memegang sebuah kotak di tangannya. Remaja itu Hankyung…

Jae in masih menunggu… angin musim gugur membelai rambutnya dan membuatnya tertidur di bangku tersebut. Dan ketika dia bangun ia tidak pernah ingat dia sedang apa di taman itu. Dia ingat harus menunggu seseorang, tapi siapa? Dia tidak ingat. Dia tidak mengingat Hankyung sama sekali, tidak seorangpun mengingatnya. Tidak ada yang pernah mengingat nama Hankyung. Bahkan orangtuanya pun tidak, mereka merasa tidak memiliki anak sama sekali. Nama Hankyung pun hilang dari ingatan semua orang yang pernah mengenalnya. Hankyung seolah-olah lenyap dari muka bumi ini.

Jae in menatap pohon-pohon yang berguguran di taman itu, ketika angin musim gugur itu membelai wajahnya, ia mengeluarkan airmata. Ia tidak tau mengapa ia menangis, tapi rasanya sedih sekali, dadanya sesak sekali. Ia tidak berhenti menangis di tempat itu.

Setiap hari di musim gugur, entah kenapa Jae in selalu datang ke tempat itu, dan merasa sedang menunggu seseorang, tapi ia tidak tahu siapa yang ditunggunya. Dan seringkali ia menangis di tempat itu karena merindukan seseorang. Musim gugur tahun berikutnya pun sama saja. Begitupun dengan musim gugur-musim gugur selanjutnya.

—–end of flash back—–

Jae in mematung di tempatnya berdiri, dia menyadari tempat duduknya tidak kosong, ada seseorang yang duduk disana. Orang itu melihat Jae in, dan tersenyum ke arahnya. Betapa Jae in sangat merindukan senyum itu, wajah itu, sosok itu. Itu wajah orang yang selalu ditunggunya di tempat ini. Hankyung.

Jae in masih mematung, kepalanya terasa pening, semua ingatan tentang Hankyung kembali, itu membuatnya merasa mual, dan dadanya masih terasa sesak.

Hankyung berjalan perlahan ke arah Jae in dan menatap mata Jae in yang telah sembab, “Jae in… gomawo telah menungguku selama ini, walaupun kau tak tau, aku selalu melihatmu, mengawasimu Jae in… mian hae… karena membuatmu selalu bersedih dan kacau karena selalu menungguku selama 10 tahun ini, aku tau kau tak bisa begitu saja melupakanku, tidak seperti orang-orang lain yang langsung melupakanku ketika memori tentang diriku di hapus dari ingatan semua orang…”, kata Hankyung lembut, selembut yang masih di ingat Jae in. Jae in masih menatap Hankyung tak mengerti, dan tidak berkata apa-apa.

“Jae in, aku tak punya waktu banyak, aku datang hanya untuk memberikan ini kepadamu..’ Hankyung memberikan sebuah kalung dengan liontin sebuah sayap kecil, Jae in menerimanya dengan tangan gemetar.

“Aku tau kamu tak bisa melupakanku, jadi aku mengembalikan semua ingatanmu tentang ku, aku ingin kau menyimpan memori itu hanya untukmu. Mian aku tak bisa menceritakan alasanku menghapus memori tentang diriku dari semua orang bahkan orangtuaku, sedih sekali rasanya. Tapi ini jalan yang kupilih… tersenyumlah Jae in,  aku suka sekali melihat senyummu itu, dan berbahagia lah. Percayalah aku akan selalu ada disisimu, kalung itu tandanya. Itu adalah sayapku, malaikat pelindung mu…”

“Kamu tak perlu lagi menungguku Jae in, itu hanya akan menyakitimu. Sekarang kau harus melepasku karena sudah ada yang menunggumu, selalu menunggumu… buka hatimu untuk orang lain Jae in”, Hankyung menatap ke seseorang yang berdiri di belakang Jae in. Lee Jinki.

Sosok Hankyung mulai mengabur, Jae in yang dari tadi diam langsung berteriak kencang sekali, “HANKYUNG-AH!!! JANGAN PERGI LAGI!!!”

“Aku harus pergi Jae in…” kata Hankyung lembut.

Jae in kembali menangis, “kemana?”, tanya Jae in hampir berupa bisikan. Tiba-tiba Hankyung memeluk Jae in lama sekali. Kemudian sosok Hankyung mulai mengabur dan Hankyung menghilang saat itu juga. Jae in tak bisa menahan tangisnya saat pelukan Hankyung mulai mengabur dan sosok Hankyung pun hilang. Jae in terduduk dan lemas.

Lee Jinki tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya, dia merasa sakit melihat Jae in yang ia sayangi menderita seperti itu. Jae in telah menunggu orang itu selama 10 tahun, dan ia terus-menerus menderita karena tak bisa mengingatnya. Jinki melihat ketika tangis Jae in pecah, dan terduduk lemas. Jinki menangkapnya dan memeluk Jae in dengan erat. Jinki membopong Jae in dan mendudukannya di bangku yang tadi di duduki Hankyung. Jae in masih terdiam dan terlalu lelah untuk menangis.

Tiba-tiba Jae in menyandarkan kepalanya ke bahu Jinki, “Oppa, tetaplah seperti ini sampai aku bangun…”, kata Jae in dengan suara serak. Jinki mengangguk dan membiarkan Jae in tertidur di bahunya. Tak lama Jinki pun tertidur di bangku tersebut.

Epilog

“Sedang lihat apa kau? Mencoba bolos lagi??” tanya seseorang di belakang Hankyung, yang membuat Hankyung mendengus begitu tau yang berdiri dibelakangnya adalah malaikat pencabut nyawanya.

“Itu bukan urusanmu!” kata Hankyung ketus, tanpa menoleh ke arah namja yang kini ada disampingnya itu. Hankyung masih menatap dua manusia yang sedang tertidur di sebuah bangku taman sepi. Wajah mereka begitu tenang dan damai. Ini sudah menjadi keputusannya, setidaknya ia masih bisa melihat yeoja yang disayanginya itu bersama seseorang yang akan selalu menjaganya.

“Mmmh, cukup cantik… tidak heran mengapa kau memilih jalan ini untuknya, walaupun itu berarti kau harus pergi dari dunia ini dan tak bisa lagi melihatnya lagi. Kau cukup baik juga yaa”, kata namja itu sambil nyengir

“Tentu saja aku baik, kim heechul babo!” kata Hankyung sambil menoleh dan tak tahan untuk ikut nyengir.

“Aishhh, panggil aku hyung! Setidaknya aku sudah menolongmu, dan tak sadarkah kau kalau aku ini pencabut nyawamu hah?” kata Heechul sambil menjitak kepala Hankyung.

“Kau yang bersikeras mengatakan padaku, kau tak mau dipanggil hyung, itu menjadikan mu terlihat tua. Walaupun aku tak pernah tau usia malaikat sepertimu ini. aku heran mengapa tuhan menciptakan malaikat babo sepertimu” kata Hankyung.

“Yaa. Dulu saja kau ketakutan melihatku. Aku ingat wajahmu ketika kecelakaan itu terjadi, dan setelah aku mencabut nyawamu, kau kaget sampai mati, oh tidak kau memang sudah mati, haha” kata Heechul dengan senyumnya yang menyebalkan.

“Aku tidak takut padamu, lagipula penampilanmu tidak seperti malaikat pencabut nyawa pada umumnya yang sering aku lihat di tv-tv, kau terlihat babo sekali. Tapi aku benar-benar berterimakasih padamu hyung…” kata Hankyung tulus. Heechul terlihat terharu dan terlihat hampir menangis.

“Ah… kau ini. seperti waktu itu… kau memohon padaku untuk bisa kembali ke duniamu hanya untuk memberikan kalung ini kepada Yeoja yang tertidur itu, kau kecelakaan saat akan memberikan kalung itu bukan?” kata Heechul, dan Hankyung pun mengangguk. Kemudian Heechul pun melanjutkan, “dan kau memohon dengan tatapan seperti ini, aku tak tahan melihat tatapan memelasmu itu kau tau?” kata Heechul.

“Aku tau hyung, dan aku berterimakasih karenanya. Kau mengabulkan permohonanku, walaupun imbalannya aku harus menjadi malaikat sepertimu dan memori tentangku akan terhapus dari ingatan semua orang” kata Hankyung sambil berkaca-kaca.

“Selalu menangis seperti ini, sudahlah… tapi sedang apa kau disini? Bukankah waktumu sudah habis untuk berada di dunia ini?” tanya Heechul.

“Kau benar hyung. Aku hanya ingin melihat yeoja itu untuk terakhir kalinya lebih lama, karena aku takkan pernah melihatnya lagi”, kata Hankyung menatap nanar yeoja yang tertidur di depannya itu.

“Kau benar-benar menyayanginya yaa? Kau melakukan semua ini hanya untuknya. Bahkan kau memohon kepada tuhan untuk bisa bertemu dengannya.  Bukankah kau sudah pernah kembali di depannya sebagai manusia, saat hari pertama musim gugur?”, kata Heechul.

“Ne hyung, tapi aku bodoh karena aku tau ia tidak bisa mengingatku. Aku harus segera pergi hyung, perjanjianku dengan tuhan sudah habis waktunya, aku akan kembali ke dunia malaikat dan tak pernah kembali ke dunia manusia lagi, dan ini terakhir kalinya aku melihat yeoja itu. Tentu saja kau masih bisa bertemu denganku kalau kau mau hyung, tapi tidak di dunia ini…”, kata Hankyung, dan Heechul pun memeluknya. “kau manis sekali Hankyung. Aku pasti akan selalu mengunjungimu disana, apa tidak apa-apa kau tak melihatnya lagi? Bukankah itu berarti kau tak bisa melindunginya lagi?”tanya Heechul sambil melepas pelukannya.

“Aku tau namja disampingnya akan menggantikanku menjaganya hyung. Dan aku masih punya kau yang akan memberiku kabar tentangnya dari dunia ini. Aku benar-benar harus pergi hyung, waktuku sudah habis” Hankyung pun melangkah pergi, sayap putihnya mengembang dan Hankyung sudah siap untuk pergi sebelum Heechul berteriak ke arahnya “HANKYUNG-AH, aku berubah pikiran! Jangan panggil aku hyung, arraseo? Kau malaikat termanis yang pernah aku temui” kata Heechul sambil menangis, dan Hankyung pun tersenyum sambil melambai dan pergi…..

(TAMAT)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s