[FREELANCE] As She’s Gone – SHINee

Title : As She’s Gone

Author : Dista Dee

Twitter: distadee

Facebook: http://facebook.com/distadee

Genre : Friendship, Romance, Angst

Rate : PG-13

Length : One Shoot

Cast : SHINee, Iris Lee (OC Member ke-5 2NE1)

 

*author’s note:

This fanfic is published in http://hallyucafe.com/

KEY

Dunia berputar di depan mataku. Rasanya seperti ada palu besar menghantam kepala, dada, kakiku .. sakit sekali. Lalu segalanya gelap.

Terbang, aku seperti melayang, kurasa bagian tubuhku yang lain sedang tidak di sini sekarang, entah sedang di mana.  Aku masih belum bisa mempercayainya; apa yang sedang kulihat, yang terbaring di depan mata kepalaku. Tubuhnya masih hangat ketika aku menyentuhnya, tidak kaku seperti yang mereka bilang bila sebuah nyawa meninggalkan tubuhnya. Tentu saja aku tidak mempercayainya, kami masih bersama sore ini, dia bahkan memberikan lollipop pemberian salah satu penggemarnya untukku karena tenggorokannya sedang tidak sehat.

Iris Lee tidak akan pernah meninggalkanku begitu saja.

Dulu aku pernah bertanya-tanya, ke manakah roh akan pergi bila tubuhnya tidak lagi bernyawa? Omma bilang, mereka akan pergi ke surga untuk menemani malaikat-malaikat kecil bermain, hingga berjalannya waktu mereka akan berubah menjadi salah satu di antara mereka. Tapi appa memberitahuku hal yang berbeda suatu hari, mengatakan bahwa roh ini tidak akan pergi ke mana-mana. Mereka akan tetap berada di sekitar kita, menjadi malaikat pelindung yang senantiasa menjaga kita dari segala bencana dan kesialan.

Sekarang aku pun bertanya-tanya kembali kalau dia berada di sini saat ini. Apakah dia di sampingku, apakah dia bisa melihatku meratapi kepergiannya, .. ataukah dia sudah pergi ke surga menemui para malaikat kecil itu … lalu untuk kesekian kalinya dadaku terasa sangat berat, sakit sekali.

Ketika kubuka mataku, dia sudah tidak lagi di sana, di depan mataku.  Butuh beberapa menit untukku menyadari bahwa ternyata aku yang tidak lagi berdiri di sisi bed, di dalam ruangan kecil di mana tubuhnya terbaring. Gyungshik hyung membawaku keluar ruangan dan membiarkanku duduk di koridor, sementara orang-orang berlarian lalu lalang.

“Bagaimana ini, bagaimana! Kenapa bisa seperti ini? Ya Tuhan Iris, aku tidak bisa percaya ini!” Nicole berlutut dan memelukku, dia menangis.

Banyak yang menangis saat ini, semua orang menangisi hal yang sama, orang yang sama. Mereka tidak percaya dengan kepergiannya, tidak percaya bahwa gadis yang mereka sayangi tidak akan lagi muncul di hadapan mereka dengan senyum manisnya, dengan canda tawanya, dengan komentar sinisnya.

Tidak tahu apa yang harus kukatakan, aku hanya diam menatap Nicole membungkuk di depanku. Aku ingin sekali menyuruhnya pergi, tidak ingin mendengar ratapannya karena ini membuat dadaku terasa semakin sesak. Maka aku mendorongnya menjauh, dia menangis pada orang yang salah, karena aku sedang ingin sendiri.

Nicole sudah tidak lagi di hadapanku ketika mataku kembali terbuka. Cepat sekali dia pergi sementara aku berkedip, entah di mana, aku pun tidak mendengar lagi suaranya. Sandara Noona berlari melewatiku, diikuti beberapa orang di belakangnya. Keadaannya kacau, berantakan. Masih ada bekas perban yang menutupi jahitan di kepala dan lengannya, tapi itu tidak menghentikannya berlari. Aku mengawasinya menghilang ke dalam ruangan, lalu keluar kembali tak lama kemudian dan merosot di depan pintu.

“Seharusnya aku mengecek tadi, dia tidak pernah lupa memakai sabuk pengaman sebelumnya … Tapi dia tidak sehat, .. waktu aku sampai di van dia sudah tidur … harusnya aku mengecek tadi, tapi aku tidak melakukannya. .. bagaimana ini? Neneknya mempercayakannya padaku, .. tapi aku tidak menjaganya dengan baik .. Bagaimana ini?”

Sandara Noona meracau tidak karuan sementara beberapa orang mencoba untuk menenangkannya. Aku mengawasinya dalam diam, bertanya-tanya apakah dia benar-benar sadar apa yang telah terjadi, apakah noona melihat wajahnya, yang terbaring di dalam ruangan, yang terlihat sangat damai dalam tidur pulasnya.

Sandara Noona tiba-tiba menangis ketika melihatku menatapnya.

Dia adalah sahabatku, teman terbaikku, yang tidak pernah lelah meminjamkan telinganya tiap malam mendengarkanku bercerita tentang apapun berjam-jam, meminjamkan pundaknya tiap kali aku merasa lelah, dan juga tawanya ketika aku benar-benar bosan.

Dia teman pertamaku di dalam perjalananku selama di California, seperti aku pun teman Korea pertamanya setelah 14 tahun dia hidup di US. Seorang New Yorker yang individualis, yang sedang belajar tentang arti keramah-tamahan negeri timur, seorang debater yang luar biasa cerdas, terima kasih pada kelas Sastra Inggris yang membuat kami menjadi self-body selama 4 minggu.

Tidak, dia bukanlah hanya sahabat terbaikku, dia adalah sisi lain dalam hidupku. Sebagian dalam diri Iris Lee, adalah Kim Kibum, dalam versiopposite gender.

Tidak begitu yakin sudah berapa lama aku duduk di sini, membiarkan orang berlalu lalang melewatiku. Tidak begitu yakin juga berapa banyak orang yang yang menangis memelukku, aku tidak bisa mengingat siapa mereka.

Lee Seunggi hyung adalah orang terakhir yang memelukku malam ini. Tidak ada air mata di wajahnya, tapi meskipun begitu matanya juga yang memberti tahuku bahwa dia habis menangis.

“Dia akan selalu mengingatku, Kibum ah, .. dia selalu menyebut namamu. Terima kasih karena telah menjadi teman terbaiknya selama ini.” Katanya seraya menepuk pundakku.

Aku menyukainya, Seunggi hyung itu, karena dia adalah sepupu yang sangat perhatian dan selalu bisa diandalkan di manapun dia berada. Aku sering juga mendengar namanya disebut dalam obrolan kami, semua orang tau Seunggi hyung menyayanginya seperti adik perempuannya sendiri, dan seperti aku menyayanginya sepenuh hatiku.

“Kibum ah,” Minho muncul dari balik koridor dan berlari mendekat bersama Jinki hyung. Dia satu-satunya orang yang tidak menangis dari semua orang yang ada di sini. Minho hampir tidak pernah menangis, jarang sekali aku menemukan sisi sentimental dalam dirinya dalam situasi seperti ini, dia selalu bisa menahan dirinya untuk tetap tegar dan menguatkan siapapun yang ada di sekitarnya, karena itu sebenarnya aku sedikit tenang ketika melihatnya datang.

Minho merangkulku sesaat sebelum dia beranjak dan memberanikan diri masuk ke dalam ruangan yang mulai sepi, mengikuti Jinki hyung yang sudah lebih dulu masuk bersama Jin hyung. Orang-orang bergerumun di depan pintu, penuh dengan sedu tangis dan histeria yang membuat kepalaku semakin berat. Aku butuh udara segar, di sini terlalu pengap dan banyak orang sementara dadaku terasa semakin sesak. Aku ingin beranjak pergi, tapi tidak ada satupun dari anggota tubuhku yang bisa kugerakkan. Aku bahkan tidak bisa berteriak, ini benar-benar membuatku frustasi.

“Kau baik-baik saja?” Entah sajak kapan Jinki hyung tiba-tiba saja berulut di hadapanku, wajahnya sedih. Ke arah lain di depan pintu Minho berjalan keluar seraya memeluk Seunggi hyung, matanya sembab.

Aku tau perasaannya. Aku tau di dalam hatinya, Minho selalu mengganggap Iris lebih dari seorang teman, tapi dia selalu menyangkalnya. Sebenarnya dia tidak perlu melakukan itu karena kami tinggal bersama selama bertahun-tahun, dan sudah lebih dari cukup bagiku untuk tau apa yang ada di dalam kepalanya tanpa dia harus mengatakannya secara gamblang. Bukannya aku tidak suka bila mereka berdua akan bersama, aku hanya tidak ingin mendengar dua orang menghujaniku dengan keluhan atas yang satu tentang yang lain, karena aku tau mereka tidak akan pernah menghabiskan hari tanpa berkelahi, tentang apapun itu.

Entah apa yang mengawali perasaan ini, tapi sesak di dadaku membuat tubuhku gemetar. Aku tidak akan melihat mereka berkelahi lagi, baru kusadari itu. Semua orang yang menangis membuat tenggorokanku tercekat, tiba-tiba saja mataku terasa perih. Aku berusaha sekuat tenaga mengucapkan sesuatu, tapi yang keluar dari mulutku hanyalah sebuah isakan.

“Hyung, .. Iris, .. apa yang harus kulakukan?”

* * *

MINHO

Ketika dia tidak akan pernah kembali lagi, baru kusadari aku sangat merindukannya.

“2NE1 kecelakaan. Van mereka terbalik di jalan tol, .. kudengar kabar Iris koma, Kibum sekarang salam perjalanan ke rumah sakit.” Kabar ini seketika membuatku tidak fokus dengan naskah program radio yang sedang kulakukan bersama Jinki hyung. Kami hanya bertatapan, selama 2 menit break tidak ada satupun di antara kami yang membuka mulut mengucapkan sesuatu.

Kibum tidak menjawab telponnya, tidak membalas pesan singkat yang kukirimkan berulang kali. Ini benar-benar membuatku frustasi. Aku melakukan beberapa kesalahan membaca naskah hingga banyak adlib yang harus ditambahkan untuk menutupinya, berkat  Jinki hyung dan otak jeniusnya dalam berpikir cepat. Tapi bagaimana aku bisa fokus malam ini bila dia terbaring entah di mana, entah bagaimana keadaannya dan Kibum sama sekali hilang dari peredaran.

Ketika tadinya kupikir keadaan kritis telah lewat karena karena staff radio sudah tidak terlihat tegang selama sisa akhir waktu siaran, Jin hyung membawakan kabar terburuk yang pernah kudengar.

“Dia tidak bisa melewatinya, .. aku akan mengantar kalian ke rumah sakit kalau kalian mau melihatnya untuk terakhir kali.”

Rasanya aku ingin berteriak dan mengancurkan semua isi studio ini, kenapa mereka melakukan ini padaku??

“SHINee Minho adalah orang yang sangat serius, kami tidak bisa berlamaan hanya berdua saja, karena situasinya pasti akan aneh.”

Itu adalah hal yang paling kuingat dari semua kalimat yang pernah keluar dari mulutnya. Dia mengatakannya saat kami syuting untuk Strong Heart beberapa bulan yang lalu, dan dia benar-benar menikmati membeberkan semua aibku saat itu.

Aku tau dia hanya bercanda ketika mengatakannya, karena nyatanya kami tidak pernah seaneh itu. Sudah cukup lama kami berteman, setelah Kibum mengenalkannya melalui video chat ketika masih trainee beberapa tahun lalu, dia gadis tercantik dari semua keturunan Korea yang pernah kulihat sepanjang aku hidup.

Pertemanan kami berjalan hanya ketika bermain pool bersama, salah satu hobi di mana aku tidak perlu mengalah untuk seorang gadis, karena kami sama-sama yang terbaik melakukannya. Dia pemain yang handal sebenarnya, karena itu aku tidak pernah lagi mau mengalah setelah dia menipuku sebelumnya dengan berpura-pura menjadi amatiran, tapi menghabiskan 9 bola dalam sekali main. Sejak itu aku tidak pernah lagi percaya apa yang dikatakannya, dia sama liciknya seperti Kibum.

Seseorang akan mulai dikenang ketika dia pergi untuk selamanya. Selama satu jam dalam perjalanan ke rumah sakit, setidaknya ada ratusan kata, kejadian dan ingatan yang terbayang di dalam benakku mengenang keberadaannya. Aku tidak bisa menjelaskan perasaan apa yang berkecamuk di dalam hatiku saat ini, selain perih, kecewa, dan sangkalan. Aku masih berharap, ketika sampai di rumah sakit nanti, aku akan melihatnya duduk bersandar di tempat tidur dengan senyum kemenangan tersungging di wajahnya, mengatakan bahwa aku kembali tertipu untuk kedua kalinya.

Melihatnya seperti orang yang tertidur pulas, meskipun memar dan jahitan menyamarkan wajahnya yang selama ini kukenal, tapi aku masih bisa melihatnya di sana. Dia tidak berubah, dan aku masih bertanya-tanya kalau dia hanya bercanda,

“Aku berjanji akan selamanya mengalah dalam apapun kalau kau memberitauku ini cuma main-main.” Kataku di telinganya.

Tapi kurasa itu hanyalah harapan belaka. Ketika dia sama sekali tidak bereaksi, ataupun bergerak menjawabku, aku dipaksa untuk percaya bahwa dia benar-benar pergi. Saat itu aku baru menyadari betapa aku tidak ingin kehilangannya, selama ini aku tidak pernah ingin mempercayainya, tapi aku benar-benar tidak ingin dia pergi.

Bagaimana dia bisa melakukan ini padaku??

Aku merasakan tangannya di pundakku ketika pagi itu aku berdoa untuknya. Tangannya yang hangat, dengan jari-jarinya yang panjang dan lentik, yang selalu terasa berbeda dengan lainnya. Aku selalu bisa mengenalinya ketika tangannya di pundakku, baru setelah itu kulihat senyum lebarnya menyapa dengan manja,

“Minho Appa,” sambil menirukan gaya Yoogeun, si jagoan kecil, tiap kali memanggil namaku.

Aku merasakan tangannya di pundakku, cukup lama. Sengaja aku tidak menoleh karena tidak ingin perasaan ini berakhir, aku merindukannya, dan aku ingin tangannya terus di pundakku. Aku tidak ingin dia pergi.

“Kau mau membacakannya untukku?” Key berdiri di hadapanku mengulurkan sebuah buku yang sering kulihat bersama Iris di manapun dia berada. Taemin menepuk bahuku sebelum aku beranjak dan berjalan ke tengah ruangan di mana orang-orang duduk di sekelilingku mengenang teman yang sangat kami sayangi.

“Sebuah kecelakaan tunggal menimpa van yang membawa anggota 2NE1 baru saja terjadi di Incheon Expressway. Grup band hallyu ini hendak menuju ke bandara Internasional Incheon untuk mengejar penerbangan mereka ke London selepas konser gabungan bersama YG family di Seoul Worldcup Stadium, sebelum akhirnya van mengalami pecah ban dan terbalik hingga sejauh 150 meter. Dilaporkan Iris Lee, salah satu member, dalam masa kritis mengalami patah tulang leher dan tulang belakang …”

… …. ….

TAEMIN

Kalian pasti bercanda, … iya, kan?

Mwojo?” Jonghyun hyung mengganti channel mencari siaran newsflash lain yang mengabarkan hal yang sama dengan detail yang berbeda, sementara tangannya yang lain sibuk dengan ponselnya mencoba menghubungi Kibum hyung yang sejak sore tadi seharusnya bersama Iris noona di belakang panggung dan ikut nonton konser YG family bersama beberapa temannya dan Gyungsik hyung.

Beberapa jam kemudian kami dikabari bahwa Noona telah pergi, untuk selamanya.

Apa yang sedang terjadi, aku sendiri masih belum bisa memahami. Iris noona sudah tidak sehat sejak dua hari yang lalu, dia memang tidak mengeluh tapi aku tau dari suaranya yang serak ketika Kibum hyung mengeraskan suaranya dari loudspeaker.

Jam tiga pagi Minho hyung pulang bersama Jinki hyung, disusul Kibum hyung yang baru kembali satu jam kemudian. Aku tidak bisa tidur karena Kibum hyung tidak beranjak dari sofa menatap layar TV dengan tatapan kosong sementara Minho hyung menemaninya. Akhirnya kami semua berkumpul di depan TV sepanjang sisa malam dan mencoba tidur meskipun tidak terlalu nyenyak.

Untung hari itu jadwal kami kosong, hingga ketika hari cukup siang kami terbangun dan tidak ada yang berani membangunkan Kibum hyung yang terlelap di sofa, konon katanya dokter memberinya obat penenang dengan dosis yang cukup tinggi karena dia harus istirahat. Minho hyung tidak ada bersama kami ketika itu, kami menemukannya duduk di dapur dengan telinga tersumpal earphone dan Ipad di atas meja. Kurasa dia tidak tidur semalaman, dan Gyungsik hyung tidak berani menanyainya, tidak ada satupun di antara kami yang berani.

Aku mungkin bukan teman terdekat noona, aku bukanlah sahabat terbaiknya seperti Kibum hyung, atau teman bermainnya seperti Minho hyung, tapi aku menyukainya. Dia satu-satunya gadis yang tidak pernah menyebutku ‘gwiyo’ atau ‘yeppu’ dan selalu memperlakukanku seperti pria dewasa. Noona bukan orang yang memiliki banyak teman, tapi dia memiliki teman-teman terbaik yang begitu perhatian, karena dia pun sosok yang sangat luar biasa.

Noona memberitahuku bagaimana bergaul dengan teman-temanku di sekolah, mengajarkanku untuk tidak memilih teman dan memperlakukan mereka secara sama meskipun mereka hanya ingin memanfaatkan ketenaranku. Dia membuatku menyadari betapa penting arti sebuah keyakinan terhadap apapun yang kita percaya, bahwa aku pun berhak menentukan apapun yang kuinginkan karena aku percaya itu yang terbaik untukku tanpa harus mengikuti keyakinan orang banyak.

“Kau hanya perlu tau, bahwa pada nantinya .. kau tidak akan menyesal dengan apapun itu yang kau putuskan. Nikmatilah waktumu selama kau masih bisa menimbangnya, jangan terburu-buru. Pikirkanlah dengan matang,” katanya suatu hari ketika lari sore di Hangang di waktu kosong kami.

Sepertinya sudah sejam Kibum hyung duduk di atas tempat tidurnya, dia duduk di sana sepanjang malam menatap halaman demi halaman buku milik noona. Hyung tidak menangis ketika membacanya, tapi seringkali kudengar dia menarik ingus dan mengelap hidung dengan jarinya, sementara aku duduk di atas tempat tidurku, bersandar di tembok menatapnya dalam diam.

Aku mungkin tidak akan bisa memahami perasaannya, ketika teman terbaikmu meninggalkanmu pergi ke tempat yang sangat jauh, dan kau tidak akan pernah bisa melihatnya lagi hingga kau pergi ke tempat yang sama seperti dirinya. Tapi aku tau rasanya merindukan seseorang, aku yakin rasanya tidak berbeda ketika aku merindukan Taesun hyung, omma dan appa, semua keluargaku di rumah, terutama ketika jadwal begitu sibuk dan tidak bisa menemui mereka dalam waktu yang lama.

Jonghyun hyung masuk ke dalam kamar dan menghampiri Kibum hyung,

“Aku baik-baik saja, aku tidak menangis,” kata Kibum hyung bahkan sebelum Jonghyuni hyung membuka mulut.

“Aku tau, .. Cuma mau memberi taumu kita harus berangkat sekarang,”

“Oke, aku akan menyusul lima menit lagi.” Jawab hyung pelan, dan aku meninggalkannya di kamar sendiri begitu Jonghyun hyung mengajakku.

Hari ini adalah pemakaman noona. Untuk pertama kalinya aku bertemu dengan keluarga ibunya yang datang dari Italia. Kudengar neneknya ingin membawa jenazah terbang ke NYC untuk memakamkannnya di samping ibunya yang konon telah meninggal sejak noona masih kecil, tapi paman Lee Jin Yoon, ayah noona, menolaknya karena tidak ingin membuat noona semakin lelah. Banyak orang datang mengantarkan kepergiannya, para fans juga berkumpul dan menaruh buket buka di depan pagar pemakaman sebagai rasa hormat mereka. Ini pertama kalinya aku melihat suasana sehening ini, dengan isak tangis dan doa dalam tiap nafas kami.

Semua orang di rumah duka begitu pemakaman berakhir. Kami duduk mengelilingi ruangan sementara beberapa orang berdiri di tengah secara bergantian bercerita untuk mengenang noona selama dia masih berada di sekitar kami. Mereka ingin aku bicara, tapi aku tidak tau apa yang harus kukatakan .. terlalu banyak, dan aku tidak bisa melakukannya.

Kibum hyung beranjak ke tengah ruangan membawa diary noona, cukup lama dia berdiri dalam diam, sementara orang-orang tidak mengalihkan pandangan mereka darinya.

Dia menghela nafas,

“Iris Lee, .. tidak sengaja meninggalkan diary ini di tasku sebelum dia naik panggung dua hari yang lalu… Dan diary ini, adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa dia masih ada di sampingku saat ini.” Kibum hyung terdiam sesaat dan menarik nafas dalam,

“Selama tujuh tahun kami berteman, kupikir aku sudah mengenalnya dengan baik. Ketika kupikir aku adalah orang yang paling mengerti dirinya dibanding orang lain, .. ternyata aku salah. Aku dikalahkan oleh sebuah diary. .. Dari sinilah aku mulai mengenal siapa Iris Lee sebenarnya, dari 500 halaman yang dituliskannya dengan sangat detail .. Kau mau membacakannya untukku?”

Semua mata kini beralih pada Minho hyung yang duduk di sampingku. Kibum hyung mengulurkan diary itu padanya dan Minho hyung bangkit untuk menggantikan Kibum Hyung di tengah ruangan.

“Ini adalah cerita tentang seorang teman yang ada dalam hidupku. Aku tidak begitu mengenal dia sebelumnya, tapi kami menjadi cukup dekat setelah sering bertemu dan mengobrol bersama. Kami bermain pool, dan selalu berkelahi .. aku tidak tahu kenapa dia tidak pernah mau mengalah untukku, padahal seharusnya pria selalu melakukannya. Ketika kurasa aku menikmati persahabatan ini, ternyata hati ini mengkhianatiku. Kadang ada saatnya ketika kau tidak bisa mengontrol apapun yang kau rasakan di dalam hatimu. …”

Minho hyung berhenti membaca dan menatap Kibum hyung ragu-ragu yang kemudian menyuruhnya untuk melanjutkan membaca. Suasananya mulai aneh di sini, kudengar orang-orang berbisik, dan kulihat Minho hyung tidak nyaman dan mulai terbata,

“ .. Aku bertanya-tanya bila dia juga menyukaiku. Kadang dia bersikap seolah sedang mencoba untuk menunjukkanku sesuatu, .. hatinya, tapi dia tidak pernah mengatakannya. Aku selalu menunggunya mengatakannya, tapi entah sampai kapan … dia terlalu keras kepala.”

Minho hyung berhenti lagi, kali ini lebih lama dengan matanya menyusuri tiap kata yang tertulis di dalam buku itu, lalu setelah beberapa saat dia melanjutkan dengan suara yang mulai bergetar, dan matanya yang basah.

“Kadang aku takut bila aku tidak akan pernah mendengarnya mengatakannya padaku, karena aku tidak mungkin mengatakannya lebih dulu. … Aku menyukainya, sangat menyukainya.  Jadi tolong katakan secepatnya, sebelum terlambat …”

Minho hyung berlutut di lantai. Untuk sesaat tidak ada yang bergerak hingga kami mendengarnya menangis, dan Jonghyun hyung bersama Jinki hyung bangkit untuk menenangkannya.

Kibum hyung pun mencoba untuk menahan air matanya, dia lalu bangkit dan berjalan cepat keluar ruangan. Aku bangkit mengejarnya keluar, hanya untuk menemukannya naik ke taksi dan pergi begitu saja. Sementara dari dalam ruangan kudengar suara tangisan Minho hyung semakin keras.

Aku tau ini akan terjadi, tapi tidak pernah menyangka ini kudengar setelah noona pergi untuk selamanya.

* * *

(END)

One response to “[FREELANCE] As She’s Gone – SHINee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s