[Korean Fan Fiction] Second Chance (3shoot) 2 of 3

Author : Faranisa Nadya

Title : Second Chance

Genre : Angst, Romance, Family, Friendship

Length : 3shoots

Cast :

–       T-Ara Hyomin

–       CN Blue Jonghyun

Other cast:

–       T-Ara members

–       CN Blue members

link untuk baca first shoot

===SecondChance===

“Hyomin wesseo,” salam Hyomin pelan sambil mengganti sepatu berhaknya dengan sandal rumah. Ia segera berlari kecil dan mencari sosok Jonghyun. Ia bersembunyi di balik sofa ruang tengah sambil melirik ke segala arah layaknya pengintai.

“Syukurlah dia belum pulang,” desah Hyomin lega sambil memutari sofa yang ada di depannya dan merebahkan tubuhnya di sofa.

Matanya membulat saat menyadari bukan sofa yang ia duduki tapi sesuatu. Dia segera bangkit dan hampir berteriak. Untungnya sebuah tangan segera menutup mulutnya.

“Kau sudah mendudukiku lalu mau merusak gendang telingaku dengan teriakkanmu itu, uh?” desis Jonghyun kesal.

Hyomin melepas tangan Jonghyun sambil menggelengkan kepala. Lalu ia membungkukkan badannya. “Mi-mianhae. Aku tak tahu kok sedang tidur di sofa ini,” kata Hyomin cepat.

“Terserah,” tanggap Jonghyun lalu bangkit dan pergi ke kamarnya.

“Dingin sekali dia. Bahkan sedingin-dinginnya aku, aku tak akan sedingin itu,” cibir Hyomin kesal.

Ting.. Tong..

Hyomin mendesah lalu segera berlari ke teras apartemennya. Ia melihat ke layar yang ada di samping pintunya yang selalu memperlihatkan siapa tamunya. Hyomin terbelalak saat melihat layar itu memperlihatkan gambar teman-temannya yang sedang membicarakan sesuatu hal yang sepertinya sangat seru.

“Mau apa mereka datang ke sini? Aigo~ kenapa mereka itu penasaran sekali sih dengan namja dingin itu?” Hyomin berdecak kesal.

Hyomin mendongak saat mendengar sebuah suara. “Ya, Hyomin-ah! Kami tahu kau ada disana. Sekarang bukakan pintunya atau kau akan mendapatkan sesuatu yang spektakuler besok!” ancam Boram.

Hyomin menelan air liurnya lalu meraih gagang pintu dengan ragu. Ia berdecak jengah lalu menarik tangannya. “Mereka tidak bersungguh-sungguh,” tekan Hyomin yakin.

“Kami tidak main-main, Park Sunyoung,” tekan Eunjung tiba-tiba.

Hyomin langsung menekan sebuah tombol untuk menjawab kata-kata temannya itu. “Jangan pernah memanggilku dengan nama itu atau kalian tidak akan bertemu denganku lagi!” bentaknya lalu menekan tombol itu mematikan layarnya seakan urusannya dengan para tamunya sudah selesai.

Hyomin kembali ke ruang tengah. Ia menyalakan tv dan mengerucutkan bibirnya. Kelihatannya ia benar-benar marah. Jonghyun keluar dari kamarnya untuk minum pun memilih untuk bersandar di kusen pintunya dan memandang wajah gadis yang sedang marah itu. Ia terkekeh pelan melihatnya.

“Mwoya? Apa ada yang lucu disini?” tanya Hyomin dengan nada sinis.

Jonghyun mengangguk, “Wajahmu lucu.”

Hyomin langsung menyentuh wajahnya, “Jinjjayo? Wajahku menjadi jelek, ya? Atau muncul keriput?”

Jonghyun tergelak melihat reaksi Hyomin, “Kau… kau begitu konyol!”

Hyomin langsung bangkit dan menghentakkan kakinya. “Berhenti tertawa!” kesalnya.

Dia segera berlari dan membungkam mulut Jonghyun kasar. Jonghyun meringis dan melepaskan tangan Hyomin. Namun bibirnya tersenyum menahan tawa. Melihat itu, Hyomin segera membungkam mulut Jonghyun lagi agar tidak menertawainya lagi.

“Ya!” protes Jonghyun sambil menjauh.

“Habis kau menyebalkan!” sahut Hyomin.

Ia berbalik badan. Namun kaki kanannya keselengkat kaki kirinya hingga akhirnya ia kehilangan keseimbangan dan jatuh. Yang lebih tragis adalah ia jatuh ke depan. Mungkin wajahnya terluka. Jonghyun hanya meringis pelan saat melihatnya.

“Ya~” panggil Jonghyun saat melihat Hyomin belum juga bangkit.

Wajahnya langsung khawatir dan berlari menghampiri Hyomin. Ia membalikkan tubuh Hyomin dan menyandarkan kepala gadis itu di lengan kirinya. Jonghyun menepuk-nepuk pipi Hyomin pelan tapi Hyomin belum juga bereaksi. Dia segera menyentuh kening Hyomin.

Hangat, mungkin kecapekan, pikir Jonghyun.

Ia segera membopong Hyomin ke kamarnya dan membaringkannya di atas kasur. Ia menutup tubuh Hyomin dengan bed cover dan keluar untuk mengambil air untuk mengompres kening Hyomin.

Setelah melakukan semua itu, Jonghyun memperhatikan sekitar kamar Hyomin. Sebuah buku di atas meja belajar membuatnya penasaran. Ia berjalan perlahan menghampiri meja itu dan meraih buku itu. Saat ia mau membuka buku itu, terdengar suara Hyomin menggeram. Jonghyun langsung berlari keluar dari kamar Hyomin dengan buku itu di tangan.

Jonghyun’s pov.

Aku memperhatikan buku itu. Buku dengan cover kusam. Sepertinya tidak terawat. Itu karena banyak coretan tak jelas di covernya. Sepertinya cover buku itu menjadi tempat luapan emosi gadis itu.

Aku meletakkan buku itu di meja ruang tengah dan pergi ke dapur. Dari tadi tenggorokanku sudah serat. Aku yakin aku harus segera minum.

Saat tenggorokanku tidak lagi terasa kering, hpku berdering. Aku mendesah lalu mengangkatnya. Aku yakin aku harus menjaga jarak antara handphoneku dan telingaku.

“Yoboseyo,” sapaku.

“Lee Jonghyun~! Neo eoddiseo?” suara Jungshin lah yang membalas salamku. Sudah ku duga. Hah~

“Apartemen,” jawabku singkat.

“MWO? Kenapa kau tidak datang?” suara Minhyuk menyahuti jawabanku.

“Mianhae~ tapi aku tak bisa pergi ke pesta ulang tahun kekasih Yonghwa hyung. Ada urusan penting disini. Annyeong~” aku segera menutup teleponku. Kalau tidak, urusannya pasti akan panjang.

Aku kembali ke ruang tengah dan duduk di sofa lalu menyalakan tv. Aku baru sadar akan buku yang ku ambil dari kamar Hyomin saat melihatnya. Aku mengambilnya lalu mengganti posisi menjadi seperti mau tidur di sofa itu. Aku mulai membukanya perlahan.

Saranghae, Umma…

Aku tersenyum membaca kata-kata manis itu di bawah foto seorang ibu dan anak yang ku yakin itu adalah Park ahjumma dan Hyomin.

He is a devil!!

Mataku melebar saat melihat sebuah foto lelaki yang wajahnya di coret-coret. Foto itu jadi seperti pria yang bertanduk, gigi panjang dan memakai jas. Sepertinya Hyomin sangat membenci orang ini.

Dia cover belakang, aku membaca tulisannya. Semoga Umma bisa segera terbebas dari iblis itu. Saranghae, Umma… Nan Bogoshipeunde…

Hatiku berdesir membaca tulisan itu. Tiba-tiba sebuah suara membuatku tersentak. Aku langsung menoleh ke asal suara. Ah, sial! Matilah aku!

Author pov.

“Ya!” bentak Hyomin kesal saat melihat Jonghyun membuka album fotonya. Hyomin segera merampasnya dengan kasar lalu melemparnya ke pintu kamarnya. Jonghyun tersentak melihatnya.

“Apa maksudmu mencuri benda itu dari kamarku, eh?” tanya Hyomin membentak.

“M-mian…”

“Kau kira kata maaf cukup?”

Jonghyun langsung bangkit dan berjalan sampai di hadapan Hyomin, “Maaf.. Sungguh.. tapi aku ingin mengatakan sesuatu yang penting.”

“Mworago?” tagih Hyomin dengan nada geram.

“Dia merindukanmu. Kembalilah~”

Hyomin langsung terdiam mendengarnya.

“Dan.. kau sudah baikan?” tanya Jonghyun lembut sambil menyentuh kening Hyomin. Hyomin hanya diam saja tak merespon.

Next day.

“Ya! Jonghyun-ssi~! Turunkan aku~!” histeris Hyomin saat Jonghyun menggendongnya ala bridal menuju mobilnya. Semua orang yang melihat itu terkikik pelan dan saling berbisik dengan sampingnya.

“Salah kau sendiri tidak mau mengikutiku saat aku bermain lembut,” tanggap Jonghyun tak peduli.

“Aish!! Kau menyebalkan~ kenapa bisa-bisanya aku percaya pada Umma kalau kau takkan merepotkanku sih?.” Hyomin menggeram kesal.

“Sudah diam dan jadilah anak yang baik,” desis Jonghyun. Hyomin hanya mencibir pelan. Sedangkan Jonghyun tersenyum kecil.

“Memang harus ya kau memaksanya saat di kampus? Kenapa tidak saat di apartemen tadi pagi?” keluh Hyomin.

“Memang kenapa?”

“Aku malu! Lihatlah~ kita diperhatikan banyak orang tahu..”

“Lalu? Memang aku peduli?”

Hyomin memandang Jonghyun dengan tatapan kesal, marah dan bingung. Dia benar-benar tak tahu harus mengatakan apa pada orang itu agar mengurungkan niatnya. Dan juga, ia harus menyiapkan kalimat panjang untuk meluruskan hal ini pada sahabat-sahabatnya yang ia yakin sekarang sedang sibuk membicarakan dia dan pria itu.

>>>

“Shireoyo~” tolak Hyomin pelan sambil merengut.

Jonghyun mendesah lalu menatapnya tajam, “Perlu aku gendong lagi?”

Hyomin menjauhkan kepalanya dan menggeleng pelan, “S-shireo.”

“Lalu?”

“Geurom.. aku masuk sendiri. Hu!” geram Hyomin lalu meniup poninya gemas dan berlari ke pintu utama rumah mewah itu. Tak lama di kembali menuruni tangga penghubung pintu utama itu dengan halaman dengan wajah melas.

“Mwoyeyo?” tanya Jonghyun datar.

Hyomin menggeleng, “Aku tak mau. Aku takut~ tak usah ya? Ya? Jebal~”

Jonghyun langsung menghampiri Hyomin dan menggendongnya ala bridal lagi sampai ke depan pintu lalu menekan bel setelah menurunkan Hyomin. Hyomin langsung menggerutu pelan.

“Hyomin-ah?” panggil seorang wanita lirih saat pintu yang besar itu terbuka.

“U-umma,” sahut Hyomin ragu sambil melirik Jonghyun dan Ummanya bergantian.

“Akhirnya kau pulang. Bogoshipo~” Ummanya segera memeluk Hyomin erat.

“Umma memasak banyak makanan untukmu. Aku tahu kau pasti kekurangan gizi selama ini hingga tubuhmu ini kurus,” seru nyonya Park.

“Ini bukan kurus, Umma~ tapi proposional,” protes Hyomin kesal.

“Terserah apa katamu. Yang pasti kau harus makan banyak untuk mengembalikan gizimu. Dan kau, Jonghyun.. kau harus ikut kami makan,” tegas nyonya Park.

“M-mwo?” Jonghyun terbelalak kaget mendengarnya.

“Dengar itu! Kau itu juga kekurangan gizi, Jonghyun-ssi,” cibir Hyomin.

“Kau jauh lebih kekurangan gizi dariku,” sahut Jonghyun sinis.

Hyomin langsung melirik tubuhnya, “Jeongmal? Ah~ ku kira ini proposional.” Hyomin mengerucutkan bibirnya.

>>>

“Ya! Apa ini yang namanya istri yang baik? Suami pulang, malah asik berbincang dengan yang lain?” sebuah suara berhasil membuat wajah Hyomin pucat saat ia, Ummanya dan Jonghyun sedang bercanda bersama.

“Ah, mianhae..” nyonya Park segera bangkit menghampiri suaminya. Ia segera meraih jas suaminya itu namun malah di tepis dengan kasar oleh suaminya.

“Terlambat!” bentak tuan Park. Lalu ia menatap dingin Hyomin, “Masih ingat rumah rupanya. Kenapa tak usah pulang selamanya saja, eh?”

“Itu maumu, uh? Boleh, aku kabuli! Siapa pula yang ingin tinggal dengan monster sepertimu kecuali Umma? Eobseo! Aku tak sudi tinggal dengan iblis yang tak tahu terima kasih sepertimu!” sahut Hyomin geram.

“Yang sebenarnya tak tahu terima kasih itu kau, bodoh!”

“Aku? Memang kau berjasa padaku? Kau hanya memberiku nama yang jelek itu. Apa itu? Park Sunyoung? Aku saja geli dengan nama itu! Dan baiklah, terima kasih untuk genmu karena berkat genmu, aku bisa hidup di dunia ini. Tapi memang aku menginginkan hidup di dunia sebagai anakmu? Tidak sama sekali! Aku sangat menyesal jadi anakmu!”

PLAK! Sebuah tamparan Hyomin dapatkan dari Appanya itu hingga meninggalkan bekas merah. Hyomin tetap menatap geram—bahkan lebih geram—pada tuan Park. Jonghyun terbelalak melihatnya. Nyonya Park segera berlari menghampiri Hyomin dan memeluknya juga tak lupa mengelus bekas tamparannya.

“Jangan sakiti dia lagi… Sudah cukup kau menyakitiku. Jebal,” mohon nyonya Park.

Hyomin paling benci scene dimana Ummanya itu memohon pada iblis dihadapannya. Dia berdecak geram. Jonghyun hanya mengerjap melihatnya. Ia bingung harus melakukan apa.

“Diam!” tuan Park langsung menarik tangan istrinya dan menghempaskannya seperti membuang sampah. Mata Hyomin langsung memanas.

“Ya!” teriak Jonghyun memprotes.

“Diam!” bentak Hyomin sambil menarik tangan Jonghyun keluar rumah. Jonghyun hanya pasrah tangannya di tarik oleh Hyomin.

>>>

Hyomin duduk di sofa sambil memeluk lututnya. Terdengar suara isakannya. Jonghyun yang sedari bersandar di ambang pintu kamarnya dan menatap nanar Hyomin pun akhirnya masuk ke kamarnya dan membawa keluar gitarnya. Dia menghempaskan dirinya di samping Hyomin.

“Ng?” Hyomin langsung menghapus air matanya dan mendongak –menatap Jonghyun.

Jonghyun mulai memetik gitar dengan tangannya dan mata tertutup seolah ia sangat menikmatnya.

Tell me Tell me, tell me about love, Tell me Tell me, share your love with meLove me Love me, let me hug you, Kiss me Kiss me, I love only you

I’m like a fool when you smile, you’re like a pretty doll when I look at youMy heart beats so fast. My everyday becomes happy because of you.

I want you oh my love, please look at only me. Even when the world changes, I love only you,Oh my love, my heart always beats whenever I see you. I’ll cherish only you.

(L.O.V.E GIRL) Hold my hand and Fly (L.O.V.E GIRL) Trust me and Fly high(L.O.V.E BOY) Yes, we can fly to the sky (L.O.V.E BOY) I want to take you there baby

 (CN Blue – L.O.V.E Girl)

 

Jonghyun melirik Hyomin yang menikmati lagu dengan mata tertutup. Ia tersenyum lalu melanjutkan lagunya.

>>>

“Aku benci dia. Sangat membencinya. Aku heran kenapa Umma tetap saja mau bertahan dengan iblis yang selalu menyiksanya itu. Dan sialnya aku tak bisa membantunya,” kata Hyomin lirih. Jonghyun hanya diam dan mendengarkan ceritanya.

“Sejak kecil aku sudah pindah ke rumah nenekku karena permintaan Umma. Mungkin itu karena ia tak tahan melihatku juga di siksa oleh Appa. Tapi anehnya.. kenapa dia tak mau juga meninggalkan lelaki biadab itu?” Hyomin menatap Jonghyun lirih. Jonghyun menghela nafas dan mengedikkan bahunya.

>>>

“Hyomin-ssi~” panggil Jonghyun.

Jonghyun membuka pintu kamar Hyomin namun ternyata ia tak ada. Saat hendak menutup pintu, ia melihat sebuah buku di atas meja belajarnya. Awalnya Jonghyun tak ambil peduli namun ia akhirnya masuk dan membaca buku itu.

“Lee Jonghyun saranghae?” gumamnya bingung saat membaca tulisan besar di halaman pertama itu.

“Dia… mencintaiku?”

===SecondChance===

10 responses to “[Korean Fan Fiction] Second Chance (3shoot) 2 of 3

  1. ceritanya keren , jonghyun jadi gak dingin lagi sama hyomin .

    hyomin kurang harmonis dengan appanya.

    penasaran sama kelanjutannya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s