[FREELANCE] My Baby? – Choi Minho SHINee

Author: Carla Bz (Cathleya). Facebook: click here

Genre: Romance, Humor, AU

Casts: Minho (SHINee)

————————————————————————————————

“Hei, hei lihat tuh, itu Choi Minho kan?”

“mana?”

“itu yang lagi gendong bayi di punggungnya!”

“kyaaa! Minho namja idola sekolah ini ternyata udah punya bayi??”

“oh, tolong pukul aku. Pasti ini mimpi… Minho-kuuu, aku patah hatiii”

“hei, hei sadarlah. Aku malah prihatin sama dia, dia kan masih SMA tapi sudah punya bayi, kira-kira siapa umma bayi itu ya, tidak bertanggung jawab! masa membiarkan appa yang masih SMA itu membawanya ke sekolah?”

“aisssh, aku pun tak habis pikir…”

“tapi… benarkah itu anaknya?”

“babo!lihat wajah bayi itu sama persis dengan Minho, matanya pun sama, sudah jelas itu anaknya!”

“oh! Aku rasa aku benar-benar patah hati!”

Yeoja-yeoja itu berisik sekali ketika melihat Minho datang ke sekolah dengan menggendong seorang bayi. Mereka tak berhenti bergosip, bahkan ada yang sengaja berteriak ke arah Minho agar Minho mendengar percakapan mereka.

Tapi sedikitpun namja itu tak peduli, ia terus berjalan ke ruangan kepala sekolah dengan wajah mantap. Sambil berkali-berkali menghela napas dan meyakinkan dirinya bahwa ini hanya mimpi buruk yang akan berlangsung sementara.

[Minho Pov]

Kenapa mereka tidak berhenti membicarakanku sih? Ayo Minho, ruangan kepala sekolah tinggal beberapa langkah lagi, sabarlah! Tapi, mereka benar-benar berisik! Bahkan mereka bilang aku menghamili anak dibawah umur, dan terpaksa harus menjaga bayi ini. Lagipula siapa yang aku hamili? Pacaran pun aku belum pernah! Itu fitnah kejam kawan-kawan -_-‘

Oh, masa muda penuh kedamaian dan memiliki kisah cinta yang aku idam-idamkan tampaknya hanya sekedar impian mulai dari sekarang, menyebalkan sekali ini semua terjadi padaku.

Ini semua gara-gara ulah noona-ku yang tidak bertanggung jawab itu, lihat saja kalau bertemu akan langsung ku cincang habis!

[flashback]

Biasanya aku selalu terlambat bangun pagi, karena aku harus kerja sambilan, dan  terkadang pekerjaanku baru selesai malam sekali. Orangtuaku sudah meninggal, jadi aku harus menghidupi diri sendiri untuk makan dan menyewa apartemen kecil ini. Dulu aku tinggal bersama noona-ku, sebelum ia pergi meninggalkanku bersama pacarnya. Aku tak pernah mendengar kabarnya lagi selama beberapa tahun, kabar yang kudengar terakhir kali adalah  bahwa ia sudah menikah dengan pacarnya yang bahkan sampai sekarang pun aku belum tau namanya. Sedikitpun aku tak peduli.

Tapi pagi ini aku terbangun gara-gara tangisan seorang bayi. Hah? Bayi?? Aku benar-benar membuka mataku dan melihat seorang bayi—tidak, tepatnya anak berumur sekitar 1 tahun lebih, karena ia sedang berjalan dengan kaku dan berkali-kali terjatuh menuju arahku.

“Kyaaaaaaaaaaaaa!! Bayi!!!” Itu teriakan pertamaku pagi ini. Aku berlari mencari siapa pemilik bayi ini, tetapi tak menemukan siapapun, hanya menemukan sebuah tas berisi sekaleng susu, botol susu, sedikit pakaian sang bayi, popok, kain gendongan punggung, dan surat. Ya surat, aku membuka surat itu dengan terburu-buru dan mengabaikan tangisan bayi itu.

Dongsaeng-ku yang paling tampan,

Kau pasti kaget kan melihat seorang anak di apartemen kecilmu itu? Haha, mianhae… Maafkan noona-mu ini Minho. Suamiku, appa dari anak itu terlibat hutang dalam jumlah besar, kami sedang dikejar-kejar penagih hutang. Kami sedang melakukan pelarian, dan tak mungkin membawa-bawa anak itu.

Suatu saat, apabila kondisi keuangan kami sudah membaik, aku akan membawa anak-ku kembali, selama waktu itu kau harus menjaganya dengan baik, ok!

aku harap kali ini kau mau membantuku Minho, kau memang dongsaeng kesayanganku…

Noona yang selalu menyayangimu

 

“apa-apan orang itu? noona sialannnnn!! Pergi kemana kau??” ah, aku benar-benar frustasi dibuatnya. Kenapa noona itu babo sekali, aku masih sekolah dan harus kerja sambilan. Bagaimana mungkin aku bisa mengurus anak ini? Dan aku tak punya siapa-siapa untuk kumintai tolong menjaga anak ini.

Aku melirik sekilas ke arah anak itu, dia sudah berhenti menangis, dia sedang tertawa sambil memainkan rubic milikku, dan tersenyum dengan pose aegyo. Choi Minho, jangan sampai luluh dengan senyuman bayi itu! Bayi itu benar-benar mimpi buruk buat ku.

Anak itu berjalan, tapi kemudian terjatuh dan akhirnya merangkak ke arahku. Aku masih terpaku di tempatku saat anak itu memeluk kakiku dan memanggilku “appa!!” hah? Kurasa dia pikir aku appa-nya. Aku menggendongnya walaupun dengan agak takut-takut, dan kurasa itu tidak terlalu sulit. Setelah kuperhatikan selama beberapa saat ternyata anak itu benar-benar mirip denganku, terutama matanya.

“hei, aku bukan appa-mu. Appa-mu orang yang tak bertanggung jawab dan meninggalkanmu bersamaku, arasseo?” kataku mengajaknya bicara, tidak peduli ia mengerti atau tidak, tapi kuharap ia mengerti. Tapi dia hanya memainkan matanya di gendonganku, dan lagi-lagi memanggilku “appa!” baiklah, hanya itu kata-kata yang dihapalkanya kurasa. Kuijinkan kau memanggilku appa hanya karena kau ini lucu sekali.

“namamu… aisssh noona itu benar-benar babo!! Bahkan ia tak menyebut nama anak ini. Baiklah aku panggil kamu Yoogeun. Yah, Yoogeun. namamu mulai sekarang adalah Yoogeun…”dia kelihatan senang dengan nama pemberianku.

“Kyaaaaaa!!!!!” itu teriakan kedua-ku pagi ini. Hari ini aku terlambat pergi sekolah gara-gara urusan dengan bayi ini.

Aku berangkat ke sekolah dengan tergesa-gesa, mandi super kilat dan sarapan seadanya. Dan aku terpaksa membawa Yoogeun ke sekolah karena tak ada yang bisa aku mintai tolong untuk menjaga Yoogeun, tak lupa aku membawa perlengkapan Yoogeun yang ditinggalkan noona sialan itu.

Sudah kuduga, ini terlihat aneh sekali membawa bayi ke sekolah. Karena aku menjadi pusat perhatian seluruh sekolah—yah, walaupun biasanya juga aku menjadi pusat perhatian, tapi itu karena wajahku sangat tampan! Tapi ini berbeda, mereka memandangku dengan tatapan aneh, jijik, dan prihatin.

Aku menggendong Yoogeun di belakang punggungku dengan menggunakan kain gendongan yang ditinggalkan noona, seperti sedang menggendong tas yang sangat berat. Ah, nasib ku benar-benar buruk. Image ku sekarang bukan lagi namja tampan dan dingin yang disegani seluruh yeoja di sekolah ini, tapi namja yang telah memiliki anak, apa-apaan itu?

Sebenarnya aku bukanlah namja tampan yang dingin seperti dugaan orang-orang terhadapku. Aku hanya benar-benar pemalu, itulah alasan mengapa selama ini aku tak pernah pacaran. Benar-benar payah! Bahkan aku tak bisa mengungkapkan perasaanku kepada Kim Hae Rin, yeoja manis yang kusukai selama hampir 3 tahun ini. Entah apa pendapatnya kali ini setelah melihat aku membawa bayi ini, ia pasti tak mau dekat-dekat denganku.

[end of flashback]

Aku terus berjalan, dan tak mengindahkan tatapan aneh dari teman-temanku, aku masuk ke ruangan kepala sekolah. Aku bisa lihat dari tatapannya, bahwa dia bertanya “mengapa kau membawa anakmu ke sekolah?” tapi dia hanya menatapku penasaran.

“mmm, Jungsoo seonsaengnim… “ kataku ragu kepada kepala sekolah yang duduk di depanku.

“ya? Kuharap kau mau menjelaskan siapa anak di punggungmu itu” katanya tegas, sambil membetulkan letak kacamatanya.

“ini… Yoogeun…” oh, aku benar-benar bingung mesti mulai darimana. Seseorang tolong aku. Aku tak mungkin bilang ini anak noona-ku, itu alasan klise walaupun itu memang kenyataannya. Tapi pasti aku mesti menjelaskan semuanya termasuk mungkin akan menjelek-jelekkan noona-ku sendiri. Tapi lebih tak mungkin lagi kalau aku bilang dia anakku!

“dan…?”

“aku harus menjaga anak ini… aku… ini bukan anakku seonsaengnim, percayalah!”

“lalu anak siapa?”

“aku menemukannya  di depan apartemenku (hei, aku memang menemukannya tadi pagi, jadi aku tak berbohong kan?)”

“kalau begitu serahkan ke polisi”

“tidak bisa!” aku kaget dengan suaraku yang tiba-tiba menjadi keras, “maksudku, aku akan mengurusnya. Anak ini… mirip denganku (jelas mirip! Dia anak noona-ku), aku tak tega membiarkannya dibawa oleh polisi dan… dan… pokonya pasti anak ini akan menderita dengan segala macam proses dari kepolisian”

“bagaimana apabila orangtua anak ini mencarinya?” pertanyaan ini membuatku tertawa dalam hati, tak mungkin mereka mencari anak ini kan? Justru mereka sendiri yang menyerahkannya padaku.

“bagaimana mungkin orangtua yang meninggalkan anak ini akan mencarinya seonsaengnim?”

“serahkan kepada yang bisa menjaganya. Kau masih sekolah Minho. Dan kau hidup sendiri, itu pasti akan sulit untukmu”

“aku… aku bisa menjaganya. Jebal! Kumohon! Izinkan aku membawa anak ini ke sekolah” aku sudah bertekad menjaga anak ini, dan kurasa tak ada pilihan lain.

“aku mengerti niat baikmu Minho… tapi… baiklah, apa kau bisa menjamin kalau anak ini tidak akan mengganggu teman-temanmu yang lain?”

Aku mengangguk dengan yakin, “ya, aku bisa menjaganya sehingga dia tidak mengganggu yang lain”

“yah, itu sudah menjadi keputusanmu. Aku izinkan asalkan tidak mengganggu yang lain” kata kepala sekolah akhirnya.

“khamshamnida seongsaengnim!” kataku sambil membungkuk berkali-kali ke arahnya.

“dan bawa surat izin ini ke Kangin seonsaengnim, dia pasti akan mengerti. Pergilah ke kelasmu” katanya lagi, aku pun tersenyum dan mengangguk sambil keluar dari ruangan kepala sekolah.

***

“Minho, bayimu menangis tuh! Ini kan sedang ujian, mengganggu saja” kata seorang teman dibelakangku. tanpa kau beritahu pun aku sudah tau kalau Yoogeun sedang menangis. Punggungku terasa panas, basah. Ah! Aku lupa memberinya popok hari ini. Mengapa dia menangis di saat seperti ini. Aku sedang ujian! Yah, aku terpaksa mengumpulkan ujianku lebih awal walaupun belum seperempatnya aku isi.

Aku berlari menuju kamar mandi, seragamku sudah basah oleh kencing Yoogeun. “aissshhh, Yoogeun harusnya kau bilang bila ingin pipis. Appa sedang ujian kau tau!” aku memarahi Yoogeun, tapi anehnya itu malah membuatnya berhenti menangis, dan tertawa. Baik, aku mungkin terlihat lucu di matanya. O ya, aku sudah setuju dia memanggilku appa, setidaknya sampai appa yang sebenarnya menjemputnya.

Aku segera mengganti celananya, dan kali ini tak lupa memberinya popok. Aku mendengus kesal ketika melihat teman-teman sekelasku baru selesai ujian. aku menunduk dan hendak pulang, tapi seseorang memanggilku, “Minho-ya!”

“Hae Rin?” aku kaget melihat Hae Rin berdiri di depanku. Walaupun kami sekelas, aku tak pernah berbincang dengan yeoja yang aku suka ini.

“Minho, kau bisa ikut ujian ulang. Aku sudah bicara dengan Kangin seonsaengnim tadi, dan dia mengijinkanmu ikut ujian ulang” katanya sambil berseri-seri.

“mwo? Wae?” tanyaku bingung.

“aisssh, kau ini. Aku tau kau belum mengerjakan ujianmu tadi, kau buru-buru keluar gara-gara Yoogeun-mu menangis kan?”

“ne, tapi…”

“sudahlah, ujiannya sekarang. Seonsaengnim menunggumu di ruangannya. Sini, berikan Yoogeun padaku, aku akan menjaganya selama kau ujian” katanya sambil mengulurkan tangannya meminta Yoogeun.

“hah? Kau serius?“ tanyaku masih tak percaya. Dia menggelengkan kepalanya, “sudah berikan Yoogeun padaku, kau pergilah.” Aku pun memberikan Yoogeun ke tangan Hae Rin, dan melesat ke ruangan seonsaengnim.

Jantungku masih berdebar, aku yang tak pernah bicara pada Hae Rin, tiba-tiba saja dia mau menjaga Yoogeun untukku dan memohon kepada Kangin seonsaengnim yang terkenal galak itu untuk mengijinkanku ujian. apa itu artinya dia tidak membenciku gara-gara gosip yang beredar di sekolah ini? Kenyataan itu membuatku benar-benar berbunga-bunga. Kangin seonsaengnim yang biasanya terlihat menyeramkan pun nampak aegyo sekali di mataku kali ini.

***

Aku sedang duduk di taman bersama Hae Rin dan Yoogeun. Kami berdua duduk kaku dan tak ada yang berbicara. Aku sendiri pun bingung harus berbicara apa, karena aku benar-benar gugup.

“Minho-ya, bagaimana ujianmu?” tanyanya memulai pembicaraan

“aku…mmm, aku mengerjakannya dengan baik… berkatmu… mak… maksudku, karena kamu memohon pada seonsaengnim dan karena aku tau Yoogeun akan aman bersamamu, gomawoyo Hae Rin” oh! Aku tak tahan, aku benar-benar gugup sekarang.

“aaaah, syukurlah kalau begitu… boleh bertanya sesuatu?”

“tentu saja”

“mmm, Yoogeun benar-benar anakmu?”

“bukan, aku hanya menjaganya saja”

“ah, tapi kurasa Yoogeun benar-benar mirip dengamu Minho-ya”

“ya, itu karena dia anak noona-ku”

“noo itu karena dia anak noona-ku”ar mirip dengamu Minho-ya”ku tau Yoogeun akan aman bersamamu”n untukku dan memohon kepada Kangina?” tanyanya tak mengerti, aku hanya mengangguk, “panjang ceritanya, suatu saat pasti akan ku ceritakan padamu Hae Rin-ah”

Kemudian yang terjadi selanjutnya benar-benar membuatku terkejut. Dia tiba-tiba berdiri dan membungkuk 90 derajat ke arahku, “Minho-ya! Izinkan aku menjadi umma Yoogeun selama waktu kau menjaganya! Kurasa… kurasa aku menyukai Yoogeun!”

Aku ternganga dengan pernyataannya tadi. Aku masih melongo dan tak menjawab apapun, tangannya yang melambai-lambai di depan mataku menyadarkanku, “ya! Minho-ya, kau mendengarku?”

Aku terkesiap sadar dari kekagetanku. Aku menelan ludah dan berkata ragu, “kau mau menjadi umma Yoogeun?”

“bukankah aku sudah bilang tadi? Perlu aku mengulangnya lagi?”

Aku hanya nyengir, dan mengangkat Yoogeun tinggi-tinggi ke atas kepalaku, “Yoogeun! Yoogeun! Appa menemukan umma buatmu! Kau senang Yoogeun? Hahaha” Yoogeun tertawa saat aku angkat tinggi-tinggi, aku tau diapun merasakan kebahagiaanku saat ini. Hae Rin tersenyum melihat tingkah kami, sungguh appa dan anak yang aegyo sekali bukan? Haha.

***

“Minho-ya, topi biru ini lebih cocok untuk Yoogeun”

“anii, warna hijau lebih cocok untuknya” ini perdebatan kami di Dongdaemun—sebuah pusat pertokoan. Kami terlihat seperti sepasang suami-istri muda yang baru memiliki anak.

“wah, wah kalian benar-benar pasangan muda yang serasi ya… anak kalian benar-benar aegyo” seru seorang ahjuma yang juga sedang memilih pakaian untuk anaknya. Aku dan Hae Rin hanya tersenyum dan membungkuk. Setelah itu kami tertawa terbahak-bahak setelah keluar dari toko itu.

Hari ini aku libur kerja, aku mengajak Yoogeun dan Hae Rin jalan-jalan. Sebut saja ini kencanku dengan Hae Rin kalau saja tidak membawa Yoogeun. Tapi aku harus berterimakasih pada Yoogeun, gara-garanya aku jadi sedekat ini dengan Hae Rin.

“Hae Rin-ah ayo kita ke tempat bermain anak” ajak-ku

“Yoogeun baru 17 bulan Minho-ya, berjalan saja dia masih belum lancar. Aku takut dia nanti malah terinjak-injak disana”

“ayolah, itu takkan terjadi selama kita menjaganya. Bukankah kita adalah umma dan appa terhebat se-korea selatan, ahaha” seru ku sambil menggendong Yoogeun di pundakku. Yoogeun tertawa sambil menarik-narik rambut ku.

“ayo Yoogeun! Kita bermain sepuasnya hari ini” kataku keras dan berjalan mendahului Hae Rin. Hae Rin akhirnya menyerah dan mengikuti kami di belakang.

***

Aku sedang bermimpi berlarian di taman bunga bersama Hae Rin, tapi tiba-tiba sesuatu yang hangat membangunkanku “kyaaa, Yoogeun! Kau kencing di perutku!” aku buru-buru bangun dan melihat Yoogeun yang masih tertidur walaupun celananya sudah basah karena kencingnya.

Aku membuka celananya dan berniat mengganti celananya dengan yang bersih, tapi saat kusentuh badannya, terasa panas. Kuraba dahinya Yoogeun, memang panas. Aku panik, kurasa Yoogeun sedang demam, aku bingung dan segera menelepon Hae Rin.

Tidak sampai setengah jam Hae Rin datang sambil terengah-engah, “bagaimana Yoogeun?” tanyanya khawatir.

“aku tak tau, tadi pagi tiba-tiba saja badannya terasa panas. Kurasa dia sedang demam, kita harus membawanya ke dokter” kataku panik.

“tidak perlu, anak kecil memang terbiasa demam seperti ini. Kita hanya perlu merawatnya”

“baiklah, apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“jangan panik Minho-ya, kau kompres dahinya menggunakan air dingin.  Aku akan membuatkannya bubur bayi, yang kucampur paracetamol (obat penurun panas) di dalamnya. Kurasa itu akan membuat demamnya turun. Ayo lakukan sekarang Minho, jangan bengong seperti itu”

Seharian itu kami sibuk merawat Yoogeun yang demam, melihat Yoogeun lemah seperti itu membuatku sedih dan merindukan Yoogeun yang ceria seperti biasanya. Biasanya pagi-pagi dia sudah membangunkanku sambil menampar-nampar pipiku. Yoogeun, cepatlah sembuh.

Aku melihat Hae Rin yang mengelus-elus Yoogeun dengan sayangnya, benar-benar calon istri idaman—mikir apa sih aku ini?. Beruntungnya Yoogeun memiliki umma yang perhatian seperti Hae Rin.

aku harus pergi kerja hari ini, setelah dengan agak ragu meninggalkan Yoogeun yang sedang sakit berdua saja dengan Hae Rin. Tetapi akhirnya aku berangkat juga, dengan agak terlambat.

Selama bekerja, aku tak bisa berkonsentrasi karena selalu memikirkan Yoogeun. Aku sempat salah mengantarkan pesanan makanan tamu dan dimarahi oleh manager di restoran tempat aku bekerja. Akhirnya aku meminta izin untuk pulang lebih awal karena khawatir, yah setelah ceramah panjang lebar dari managerku karena seharusnya aku bisa bekerja lebih lama selama libur musim panasku ini.

Aku buru-buru pulang setelah mendapat izin dari managerku. Tepat jam 8 malam aku sampai di apartemenku dan melihat Yoogeun sedang tidur dengan pulasnya di pelukan Hae Rin yang juga tertidur. Aihh, aku iri sekali melihatnya. aku menyelimuti mereka berdua sambil tersenyum melihat wajah mereka yang benar-benar aegyo saat tidur.

Aku segera mengganti pakaianku, dan ikut tidur di sebelah Yoogeun. Posisinya Yoogeun berada diantara aku dan Hae Rin. Dan aku tertidur sambil menggenggam tangan Hae Rin. “selamat tidur Yoogen, selamat tidur Hae Rin…”

***

“Ya! Kalian ini sedang apa??” teriakan seorang yeoja pagi itu membuatku terbangun. Aku kaget karena posisiku saat itu dekat sekali dengan Hae Rin sambil menggenggam tangannya. Padahal tadi malam jarak kami cukup jauh karena terhalang oleh Yoogeun. Yoogeun? Dimana dia?

Aku kaget karena ternyata Yoogeun sedang ada di pangkuan yeoja yang berteriak tadi sambil tertawa-tawa. Ya, yeoja itu adalah noona sialan itu, umma asli Yoogeun. Aku melirik Hae Rin, nampaknya ia juga sama kagetnya denganku.

“noona?? Sedang apa disini?”

“aku hanya menemui anakku dan mengambilnya kembali. Kamu sendiri sedang apa? Mengapa membawa seorang yeoja ke apartemenmu hah?”

“kau mau mengambil Yoogeun? Dia Hae Rin, umma Yoogeun”

“tentu saja aku akan membawanya kembali. Yoogeun? Nama anak ini taekyung! Dan apa maksudnya umma? Umma taekyung itu AKU!”

“Yoogeun nama pemberianku, kau sendiri yang babo tidak memberitahuku namanya. Ya, dia umma Yoogeun dan aku appa-nya karena kamilah yang menjaga Yoogeun saat kau kabur meninggalkannya disini. Dan aku tak mau kau membawa Yoogeun kembali, aku terlanjur menyayanginya”

“dia anakku. Aku berhak membawanya kapanpun Minho. Kalau kau benar-benar menginginkan anak, kau bisa membuatnya sendiri” katanya sambil melirik kearah Hae Rin. Apa-apaan maksudnya? “bagaimanapun aku berterimakasih karena kau mau menjaganya. Ayo Taekyung kita pulang” katanya lagi sambil membawa Yoogeun melewati pintu apartemenku.

***

“sudahlah Minho, jangan murung seperti ini. Dari awal juga Yoogeun—maksudku Taekyung, memang anak noona-mu kan. Jadi dia berhak membawanya kapanpun” kata Hae Rin di taman.

“aku merindukannya, Hae Rin. Kenapa noona selalu seenaknya seperti itu? Dulu dia seenaknya menitipkan Yoogeun padaku—jangan menatapku seperti itu, aku akan memanggilnya Yoogeun sampai kapanpun, tak peduli nama sebenarnya siapa karena itu adalah nama pemberianku. Sekarang noona pun mengambil Yoogeun seenaknya dariku. Aku tidak bisa menerima itu!”

“Minho-ya, tentunya Yoogeun lebih baik bersama umma-nya. Kau bisa sekolah dan bekerja dengan tenang tanpa gangguan Yoogeun lagi”

“kau sendiri bagaimana? Apakah kau merindukannya?”

“aku? Ya, aku sangat merindukannya. Berminggu-minggu bersamanya membuatku merasa seperti seorang umma sesungguhnya”

“dan memang seperti itu menurutku. Kau umma yang benar-benar baik Hae Rin… maukah kau… mmm… menjadi umma yang sesungguhnya dari anakku suatu hari nanti?” kataku dengan gugup, ini lebih seperti pernyataan cinta, dan itu membuatku sesak napas menahan rasa gugup.

“mwo? Mak..maksudmu aku… aku…mmm… ya… aku mau Minho-ya…” katanya sambil tersenyum malu, pipinya memerah, benar-benar aegyo. Begitupun dengan aku, aku merasa malu sekaligus senang. Aku bahkan tak bisa menatap wajahnya saat itu.

Selamat datang masa muda dengan kisah cinta indah yang aku idam-idamkan… teriakku dalam hati.

***

Kringgggg, suara beker di kamarku membangunkanku pagi itu. Aku menatapnya, jam 7 pagi. Aisshh, aku terlambat sekolah lagi hari ini.aku segera menyeret tubuhku menuju kamar mandi masih sambil mengantuk. Dan aku berhenti mendadak saat melihat Yoogeun tersenyum padaku. Yoogeun?? Benarkah? Aku mengucek-ngucek mataku. Aku rasa aku masih mengantuk dan membayangkan Yoogeun yang tersenyum dengan wajah aegyo-nya ke arah ku saking aku merindukannya.

Tapi setelah aku mengucek mataku berkali-kali, dia tetap berada disana dan tersenyum, “appa!” serunya sambil merangkak ke arahku, “appa!” katanya sekali lagi.

“Yoogeun! Kau benar-benar Yoogeun-ku? Hahaha, kau kembali??” kataku berteriak senang, sambil menggendongnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Yoogeun hanya tertawa, dan lagi-lagi memanggilku, “appa!” dia masih mengingatku sebagai appa-nya, dan aku senang karenanya. Benar-benar senang, akhirnya Yoogeun kembali bersamaku. Tapi, siapa yang membawanya kali ini? Tak mungkin dia berjalan sendiri kesini kan?

Ah, akhirnya aku melihatnya, sebuah surat (lagi-lagi) dan aku tak perlu menduganya lagi dari siapa surat itu, pasti dari noona bodoh itu lagi. Kali ini apa lagi alasanmu hah?

Aku membuka surat itu dengan malas-malasan. Dan terlihat tulisan buruk noona-ku, sepertinya ia menulis surat ini dengan terburu-buru. Aku membacanya dengan cepat,

Minho-ya,

titip anakku lagi! Kumohon! Ternyata suamiku terlibat hutang lagi. Kurasa dia benar-benar suami yang payah. Yah, intinya kau harus menjaga anakku lagi. Kali ini tidak akan lama…

 

ya, surat yang benar-benar singkat, tapi setelah membacanya aku tersenyum. “kau noona paling babo yang aku punya, hahaha. Yang penting kau bersamaku lagi Yoogeun” kataku masih sambil menggendong Yoogeun.

“Hae Rin, tampaknya kau harus menjadi umma sekali lagi…”

***************

(TAMAT)

9 responses to “[FREELANCE] My Baby? – Choi Minho SHINee

  1. Annyeong
    wouww ampir aja aku kira beneran anaknya Minho ckck
    padahal itu anak noonanya ya
    tapi kok mrpnya ma Minho

    Apa Minho mirim ma noonanya?

    hahahaha
    Minho yg awalnya ga demen ma anak kcil
    jdi ga bisa ngelepasin Yoogeun gtu
    oh ia berarti dari awal Hae rin juga udh suka ma Minho ya?😀

    gomawo ^^

  2. Hihi,, ide ff ini lucu deh🙂
    Cuman klo aku jadi hae rin sih gmw jadi umma palsu yoogeun, secakep apapun minppa,, wkwk^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s