[Lomba FF] Show Me Your Love (19)

Show Me Your Love

Lee Donghae

Song Miina (Ola / ID : shiningtaem)

Donghae POV

Baru sekali aku melihatnya dan aku sudah tidak dapat mengenyahkannya dalam pikiranku? Sebenarnya apa yang terjadi padaku saat ini? Aku hanya menatapnya dalam hitungan detik tapi dia mampu membuatku tidak mengalihkan pikiranku darinya seharian ini?

Aku belum pernah merasakan sebuah ketertarikan yang sangat kuat dari seorang wanita. Biasanya aku tertarik pada seorang wanita ketika aku sudah mengenalnya selama beberapa waktu. Tapi kenapa sekarang aku bisa merasa tertarik hanya dengan hitungan detik setelah melihatnya, aku bahkan tidak tahu siapa dia. Sepertinya aku sudah mulai gila!

“Kita sedang libur hari ini tapi tampangmu sangat kusut. Ada apa?” Eunhyuk bertanya padaku. Apa aku harus menceritakan padanya apa yang kurasakan sekarang? Apa nanti dia tidak akan menertawaiku mendengar cerita anehku ini?

“Tidak apa-apa hanya merasa sedikit lelah,” ujarku berbohong. Aku sebaiknya tidak mengatakan apapun pada siapapun sebelum aku yakin dengan apa yang kurasakan. Aku tidak mungkin jatuh cinta pada gadis itu kan?

Miina POV

Hwaaa,, bagaimana ini? Aku sudah sangat terlambat untuk pergi ke kampus. Bagaimana mungkin aku bisa bangun sesiang ini? Huh, ini semua pasti karena semalaman aku menonton drama itu. Akh, mata kuliah Mr.Han kali ini aku tidak boleh absen karena itu bisa membuatku mengulang semester depan. Otthoke??

Dengan sangat terburu-buru aku masuk kamar mandi, hanya menggosok gigi dan cuci muka tanpa mandi, rasanya tidak sempat untuk membersihkan diri lebih dari ini. Aku menyambar baju pertama yang terlihat oleh mataku dan mengenakannya lalu menyemprotkan parfume banyak-banyak ketubuhku. Memasukan buku-buku yang sekiranya kuperlukan kedalam tas dan langsung melesat pergi keluar apartemenku.

“Kenapa lift-nya lama sekali,” rutukku kesal melihat angka yang tertera di layar display. Masih dilantai 11 sedangkan tempatku berdiri adalah lantai 14. Menyebalkan!

Begitu pintu lift dihadapanku terbuka aku langsung masuk kedalamnya dan menekan tombol lantai dasar. Aku berharap tidak banyak yang akan menggunakan lift ini sehingga tidak akan banyak berhenti dam memperparah keterlambatanku.

Aku menghembuskan napas lega ketika sudah berada dilantai dasar. Ketika pintu lift terbuka aku mendapati beberapa orang pria berdiri didepan pintu lift. Mereka itu bertubuh besar tapi kenapa malah menghalangi jalanku. Dengan terpaksa aku menerobos barisan orang-orang yang menghalangi jalanku itu. Bahkan aku mengabaikan orang yang tidak sengaja terdorong oleh tubuhku. Aku tidak sempat meminta maaf karena hidup dan matiku sedang dipertaruhkan sekarang.

Donghae POV

Dua hari berlalu setelah pertemuan pertamaku dengan gadis itu dan akhirnya hari ini aku kembali bertemu dengannya. Mungkin dia tidak menyadari kehadiranku yang berada disampingnya karena sedaritadi dia hanya fokus dengan ponselnya.

Melihat pantulan wajahnya dari pintu lift dihadapanku membuatku terpesona. Gadis disampingku ini sangat manis, dia terlihat percaya diri dan santai hingga membuatku tidak bosan memandangnya. Pintu lift yang terbuka menyadarkanku dari lamunan tentang betapa manisnya gadis disampingku ini.

Aku bergegas masuk mengikutinya kedalam lift. Dia menekan tombol 14 sedangkan aku menekan tombol 12, wajahnya terlihat tenang saat menatapku, tidak menunjukkan keterkejutan seperti sebagian orang yang menatapku. Sekarang beberapa pertanyaan bermunculan dikepalaku. Apakah gadis ini juga penghuni apartemen ini? Apa dia benar-benar tidak mengenaliku, padahal aku tidak melakukan penyamaran sama sekali? Atau aku sama sekali tidak terlihat menarik dimatanya? Akh, padahal aku sangat tertarik padanya.

Aku sangat menikmati moment bersamanya berdua di dalam lift. Aku berharap tidak ada pengguna lift yang akan menginterupsi kebersamaan kami kali ini dan sepertinya keinginanku terpenuhi karena sampai lantai 11 tidak ada penghuni lain yang menggunakan lift yang membawaku dan gadis cantik ini.

Aku masih saja memandangi pantulan wajahnya dari dinding lift ketika tiba-tiba kurasakan lift bergoncang dan akhirnya tidak menunjukkan tanda-tanda akan bergerak kembali. Aku sangat terkejut ketika menyadari aku terjebak didalam lift yang rusak.

Aku berbalik dan menguatkan hatiku untuk berani menatapnya secara langsung. Ketika aku melihatnya aku mendapatinya tengah menatap kosong kearahku dan tiba-tiba saja dia menjerit ketika lampu lift padam.

“Aggashi. Gwenchana?” tanyaku sambil meraba-raba sekitarku untuk bergerak lebih dekat kearahnya.

Aku segera merogoh saku celanaku untuk menghidupkan ponselku supaya aku bisa menggunakan cahayanya untuk memudahkan melihat sekitarku. Aku mendapatinya berjongkok dipojokan lift sambil memegangi kedua sisi kepalanya, matanya terpejam dengan rapat.

“Aggashi. Gwenchana?” tanyaku sekali lagi dan kali ini aku berjongkok dihadapannya sambil menatapnya bingung. Dia terlihat sangat ketakutan.

“Aku takut gelap,” jawabnya dengan suara bergetar. Oh, pantas saja dia terlihat ketakutan seperti ini.

“Kau tenang dulu. Aku akan mencari bantuan,” aku lalu beranjak dan menerangi dinding lift untuk mencari tombol emergency. Setelah menekannya beberapa kali dan akhirnya ada jawaban dari seorang teknisi, aku langsung menceritakan keadaanku yang sedang terjebak dalam lift.

Author POV,,

Sudah hampir lima belas menit Donghae dan Miina terjebak didalam lift. Donghae sekarang sedang duduk dilantai lift sambil memegangi ponselnya untuk menerangi sekitarnya sedangkan Miina terduduk dipojokan lift dengan sorot mata ketakutan yang tidak hilang padahal Donghae sudah berusaha menerangi sekitarnya dengan cahaya ponsel.

“Aggashi, sebaiknya kita gunakan juga ponselmu untuk menerangi ruangan ini,” pinta Donghae sambil menatap gadis dihadapannya yang masih ketakutan. Gadis itu mendongak menatap Donghae matanya memerah menandakan dia menahan tangis.

“Ponselku habis baterai,” ucapnya dengan suara yang bergetar dan sarat akan ketakutan. Donghae mendesah karena dia menyadari kalau ponselnya juga sedang dalam kondisi hampir kehabisan baterai.

“Aku tidak tahu ponselku akan bertahan berapa lama. Tapi sepetinya hanya sebentar lagi. Kenapa teknisinya lama sekali,” baru saja Donghae berhenti bicara ketika tiba-tiba saja ponselnya mati menandakan baterainya habis. Donghae mendesah sedangkan gadis yang berada dihadapannya menjerit sekali lagi.

Miina POV

Aku sangat benci kegelapan dan sekarang aku terjebak diruangan sempit yang gelap. Aku bahkan bisa merasakan tubuhku gemetar dan keringat dingin membanjiri tubuhku. Tapi setidaknya aku masih beruntung karena aku tidak sendirian diruangan ini. Terlebih lagi aku menyadari siapa pria yang sedang bersamaku saat ini.

“Aggashi, sebaiknya kita gunakan juga ponselmu untuk menerangi ruangan ini,” pinta pria dihadapanku. Aku yang sedari tadi menunduk karena takut memandang kegelapan mendongak kearahnya, berusaha sekuat mungkin menahan tangisku.

“Ponselku habis baterai,” jawabku sambil menatap wajahnya. Aku bisa saja terpesona dengan wajahnya yang tampan dan matanya yang lembut menatapku jika saja kondisinya tidak seperti ini. Tapi untuk saat ini aku sedang sangat ketakutan. Aku benar-benar takut.

“Aku tidak tahu ponselku akan bertahan berapa lama. Tapi sepetinya hanya sebentar lagi. Kenapa teknisinya lama sekali,” baru saja pria dihadapanku selesai bicara ketika tiba-tiba saja ruangan kembali gelap gulita. Akupun menjerit ketika menyadari diriku lagi-lagi terjebak dalam kegelapan yang menyesakkan.

Aku sudah tidak bisa menahan rasa takutku hingga akhirnya aku menangis dan mencoba manggapai tubuh pria dihadapanku. Aku  melupakan rasa maluku saat menggapai tangannya dengan tanganku.

“Donghae-ssi kumohon jangan beranjak sedikitpun dariku,” ucapku dengan suara terisak.

“Gwenchana. Aku tidak akan menjauh darimu,” ucapnya menenangkan. Aku bahkan bisa merasakannya merangkul tubuhku dan tangannya mengusap pelan punggungku. Rasanya cukup menenangkan ketika menyadari aku tidak sendirian diruangan gelap ini.

“Gomawo,” hanya itu yang bisa kuucapkan atas kebaikannya saat ini.

“Kau tidak usah menangis. Ada aku yang menemanimu disini,” ucapnya kembali menenangkanku dan entah kenapa aku menuruti kata-katanya. Perlahan isak tangisku berhenti dan kelegaan menjalari hatiku tapi itu tidak berlangsung lama karena rasa sesak yang biasa kualami saat berada diruangan gelap dan sempit mulai menderaku.

“Donghae-ssi. Apa perbaikannya masih lama?” tanyaku dengan suara terengah. Tubuh Donghae yang sedang merangkulku tiba-tiba menegang ketika menyadari napasku yang semakin terengah dan lemah.

“Kau sesak nafas? Bertahanlah sebentar lagi,” ucapnya panic. Aku bisa merasakan tangan kanannya mengusap punggungku dan tangan kirinya mengibas-ngibas dihadapanku berusaha mengantarkan lebih banyak udara untuk kuhirup.

Aku berusaha untuk tetap mengatur napasku agar tetap sadar. Tapi dadaku benar-benar sesak dan aku tidak sanggup lagi untuk menghirup udara dengan benar, paru-paruku terasa penuh dan kosong disaat yang bersamaan.

“Bertahanlah aggashi. Kumohon,” aku masih bisa mendengar suara paniknya walaupun kurasakan kesadaranku mulai mengilang.

“Kumohon tetaplah bernafas,” itu kata-kata terakhir yang kudengar sebelum terjatuh kedalam ketidaksadaran.

Donghae POV,,

Gadis yang terjebak bersamaku ini ternyata phobia terhadap kegelapan dan ruang sempit. Buktinya dia pingsan ketika sebelumnya mengalami sesak nafas. Untung tak lama setelah dia kehilangan kesadaran pintu lift kembali terbuka dan aku langsung membawanya ke dorm lantai11.

Untung saja penghuni dorm lantai11 sedang berada di dorm sehingga memudahkanku untuk menolong gadis yang bahkan belum kuketahui namanya itu. Walaupun mereka terkejut tapi mereka mau membantuku menyadarkan gadis ini.

“Bagaimana Sara-ya. Apa dia baik-baik saja?” tanyaku pada kekasih Kyuhyun yang tadi kumintai tolong untuk menjaganya.

“Sepertinya dia baik-baik saja. Nafasnya sudah mulai teratur, mungkin sebentar lagi dia akan sadar,” aku yang berdiri diambang pintu hanya mengangguk melihat gadis yang kutolong itu masih terbaring lemah diranjang milik sungmin. Untung saja Sara sedang berkunjung dan mau membantuku menangani gadis ini.

“Kau seperti mengerti saja bagaimana caranya menangani orang pingsan,” tiba-tiba Kyuhyun sudah berada disampingku dan menyindir kekasihnya itu.

“Yaa. Aku ini dulu sempat diajari bagaimana caranya menangani kasus seperti ini ketika mengikuti kelas kesehatan ketika high school,” ucap Sara tak mau kalah. Aku tahu kalau sebentar lagi mereka akan bertengkar dan mulai saling meneriaki. Daripada mereka mengganggu gadisku yang sedang pingsan, tunggu! Gadisku? Mengapa rasanya menyenangkan menyebutnya sebagai gadisku? Akh, sebaiknya kuusir saja pasangan berisik ini agar tidak mengganggu ‘gadisku’.

“Kalian tolong jangan bertengkar disini. Biarkan gadis ini beristirahat dulu. Kalau mau bertengkar diluar saja,” ucapku sambil masuk kedalam kamar, mendorong Sara untuk keluar dan mengambil alih tempat duduknya.

“Oppa. Kau mengusirku?” Sara bertanya dengan nada terkejut.

“Aku hanya tidak ingin kalian mengganggunya,” jawabku singkat. Aku bisa mendengar Sara mendengus lalu kemudian mendorong Kyuhyun keluar kamar dan menutup pintunya.

“Miina (cantik), cepatlah sadar,” lirihku berbisik ditelinganya.

*****

“Siapa sebenarnya gadis itu Hae?” Teukie hyung bertanya padaku. Saat ini aku seperti sedang disidang oleh seluruh member yang berkumpul diruang tengah dorm lantai11.

“Aku tidak tahu. Kami bersama dilift ketika tadi lift mati dan dia ternyata phobia terhadap ruangan gelap karena tadi dia sempat ketakutan dan menangis sebelum akhirnya sesak nafas dan pingsan,” jawabku menjelaskan.

“Jadi kau tidak tahu siapa dia. Bahkan namanya kau juga tidak tahu?” sekarang giliran Eunhyuk yang bertanya padaku. Aku hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.

“Sepertinya dia penghuni apartement dilantai14, namanya Song Miina,” tiba-tiba Sara ikut membuka suara. Miina? Gadis cantikku?

“Maksudmu?” tanyaku bingung. Sara kemudian berjalan kearah kami dan menunjukkan sebuah kartu nama.

“Aku hanya penasaran dan membuka dompetnya. Aku mendapatkan kartu nama ini dan kartu penduduknya,” jawab Sara santai.

“Kau ini lancang sekali,” Kyuhyun menegurnya tapi Sara malah membalas tatapan kesal Kyuhyun dengan tatapan sinisnya.

“Aku hanya ingin membantu kalian. Bagaimana kalau keluarganya mencari dan melaporkan kepada polisi karena dia tidak pulang kerumah. Bukankah akan lebih baik jika kita mencari tahu mengenai dirinya dan mengabarkan pada kaluarganya kalau dia ada bersama kita? Kau itu terkadang bodoh sekali Cho Kyuhyun,” ucap Sara sarkastis.

Sebenarnya yang dikatakan Sara benar juga. Sebaiknya kami memberitahu keluarganya agar tidak cemas karena sampai tengah malam ini gadis itu belum juga sadar.

“Hyung, antar aku kelantai14. Mungkin dia tinggal dengan keluarganya dan sebaiknya kita memberitahu mereka,” ucapku menginterupsi Kyuhyun dan Sara yang sedang bertengkar. Teukie hyung mengangguk dan mengajakku keluar dorm menuju lantai14.

Miina POV,,

Kesadaranku mulai pulih, aku masih bisa merasakan pusing yang menghantam kepalaku dan sedikit rasa sesak disadaku. Tapi ketika aku mencoba menghirup nafas dalam-dalam aku merasa baik-baik saja. perlahan kubuka mataku dan mendapati diriku sudah berbaring diatas ranjang empuk.

Dimana aku? Aku menyadari ruangan ini bukan kamarku atau kamar seseorang yang kukenal. Kupaksakan tubuhku untuk bangun dan tiba-tiba saja serangan pusing kembali menghantam kepalaku membuatku meringis menahan sakitnya.

“Onnie. Kau sudah sadar?” ucap seorang gadis mengagetkanku. Kodangakkan kepalaku yang tertunduk dan mendapati seorang gadis yang kurasa lebih muda dariku sedang menatapku dan berjalan kearahku hingga akhirnya duduk ditepi ranjang yang sedang kududuki.

“Dimana aku dan siapa kau?” tanyaku bingung. Hal terakhir yang kuingat semalam adalah aku terjebak didalam lift yang gelap gulita bersama seorang Lee Donghae Super Junior. Oya, dimana pria itu sekarang? Kenapa aku bisa bersama dengan gadis ini jika orang terakhir yang bersamaku adalah pria itu?

“Kau berada di dorm Super Junior dan aku adalah seseorang yang terjebak dalam dunia ajaib mereka,” jawabnya santai. Aku tidak mengerti dengan maksud perkataan gadis dihadapanku ini, yang aku mengerti adalah aku sekarang berada di dorm mereka. Berarti semalam Lee Donghae itu memang menolongku.

“Lalu apakah Donghae-ssi yang membawaku kemari?” tanyaku ragu-ragu.

“Ne. Donghae oppa yang membawamu kesini semalam. Dia sangat cemas sampai-sampai menungguimu disini dan menolak pulang ke dorm atas,” ucapnya sambil tersenyum penuh arti kepadaku. Melihat gadis ini tersenyum membuatku menyadari kalau wajahnya sangat manis, tidak searogan ketika dia berbicara.

“Maaf karena sudah merepotkan kalian,” ucapku sambil membungkukan tubuhku beberapa kali.

“Gwenchana. Menyenangkan rasanya onnie-ku bertambah satu lagi,” ucapannya tidak kumengerti. Onnie-nya bertambah? Apa hubungannya denganku?

“Yaa. Park Sara, seharusnya kau memberinya sarapan bukannya mengobrol tidak penting seperti itu. Mianhae aggashi, gadis ini memang payah,” ucap seorang pria sambil bersandar diambang pintu. Ternyata dia tampan juga jika dilihat-lihat. Tapi sorot mata angkuhnya membuatku merasa tidak nyaman. Bagaimana mungkin banyak gadis menggilai seorang Cho Kyuhyun yang tampak mengintimidasi itu?

“Jangan mengganggu pembicaraan wanita Cho Kyuhyun-ssi. Kau mengganggu kenyamanan kakak iparmu sendiri,” sekali lagi aku tidak mengerti dengan perkataan Gadis dihadapanku ini. Aku masih bingung ketika tiba-tiba gadis dihadapanku pergi keluar diekori oleh Kyuhyun.

Sebenarnya siapa gadis itu dan kenapa dia bisa leluasa berada di dorm yang penuh dengan pria? Apa mungkin dia salah satu dari kekasih mereka yang tidak diketahui identitasnya oleh public? Aku terus bertanya-tanya dalam pkiranku ketika gadis itu kembali masuk kedalam kamar yang kutempati sambil membawa makanan dan minuman.

“Onnie makanlah dulu. Tadi kami sudah memesankan makanan untukmu,” gadis tadi menyerahkan nampan itu kepadaku dan karena aku memang lapar jadi langsung saja kusantap makanan itu.

*****

Aku baru saja kembali ke apartementku ditemani oleh Sara. Dia gadis yang tadi menemaniku saat di dorm Super Junior, ternyata dia adalah tunangan dari seorang Cho Kyuhyun tapi jika dilihat-lihat keduanya tidak terlihat seperti sepasang kekasih yang akan segera menikah, keduanya malah terlihat seperti anjing dan kucing yang selalu berselisih.

“Onnie tinggal sendiri?” tanyanya ketika melihat kondisi apartementku yang sepi.

“Ne. Aku tinggal sendiri karena kedua orang tuaku tidak terlalu menyukai suasana perkotaan yang bising dan ramai. Mereka tinggal dikampung halamanku, menikmati masa tua mereka,” ucapku menjelaskan sambil melangkahkan kakiku menuju dapur untuk mengambil minuman untuk tamuku ini.

“Pantas saat Donghae oppa dan Teukie oppa datang kesini semalam tidak ada yang membukakan pintu,” aku mendengar suaranya mendekat. Ketika kubalikkan tubuhku ternyata dia mengikutiku kedapur.

“Mereka semalam datang kemari setelah mengetahui kau tinggal disini. Kami khawatir kau tinggal dengan keluargamu dan mereka akan khawatir kalau kau tidak pulang karena kau belum sadar juga sampai lewat tengah malam,” ucapnya menjelaskan. Aku hanya tersenyum dan mengajaknya duduk disofa ruang tengahku.

“Terimakasih karena kalian sangat perhatian padaku,” ucapku tulus. Sepertinya aku harus mengucapkan terimakasihku untuk Donghae-ssi juga.

“Tentu saja kami akan memperhatikan orang yang sudah kami anggap sebagai keluarga. Bukankan mulai saat ini kita adalah keluarga?” lagi-lagi perkataan Sara tidak kumengerti. Apa alasannya menyebutku bagian dari keluarga?

Donghae POV,,

Kami member Super Junior M sedang dalam masa latihan untuk peluncuran mini album kami dan seharian ini adalah jatahku untuk melakukan rekaman. Sebenarnya aku tidak mau meninggalkan Miina-ku. Sejak kejadian semalam aku menyadari kalau aku menyukainya sejak pandangan pertama dan mulai saat ini aku tidak akan melepaskannya.

“Kau sedang terburu-buru?” tanya Eunhyuk ketika melihatku berulang kali menatap jam tanganku.

“Anieyo, hanya saja aku ingin cepat menyelesaikan recording ini. Aku mencemaskan Miina,” jawabku jujur. Seharian ini aku mengkhawatirkannya karena tadi Sara hanya mengatakan kalau Miina sudah lebih baik dan sudah pulang ke apartemennya.

“Kau mengkhawatirkannya?” tanya Eunhyuk lagi. Aku hanya mengangguk dan kembali menatap jam tanganku, berharap jarum-jarumnya bergerak lebih cepat.

“Kau menyukainya?”

“Ne?” tanyaku bingung sambil menatapnya. Apa dengan mudah perasaanku terlihat olehnya?

“Jangan berbohong padaku. Kau terlihat berbeda akhir-akhir ini karena kau terlihat seperti sedang kondisi sangat bahagia tapi semalam ketika gadis itu pingsan kau terlihat sangat khawatir. Kau tidak terlihat seperti orang yang baru pertama kali melihatnya,” bagaimana Eunhuk bisa dengan mudah mengetahui semua itu. terlalu dekat dengannya membuat semua perasaanku mudah terbaca olehnya.

“Katakanlah yang kau katakan tadi benar. Dia adalah gadis yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia telah mengusikku sejak pertama kali aku melihatnya,” sebaiknya aku mengaku saja padanya. Toh, dia akan terus mendesakku untuk bercerita dan  aku tidak mau diganggu seperti itu.

“Sudah kami duga,” ucapnya sambil tersenyum menunjukan sederet gusinya yang menurutku senyuman seperti itu adalah senyuman yang menyebalkan.

“Aku merasa semalam adalah jalan Tuhan untuk lebih mendekatkan kami. Kurasa sudah saatnya aku bertindak untuk dapat memilikinya,” Eunhyuk hanya menepuk pundakku perlahan menandakan dia mendukungku dan member semangat padaku. Lihat saja gadis cantikku, aku akan mendapatkanmu!!

*****

“Donghae-ssi?” gadis dihadapanku terlihat sangat terkejut ketika mendapatiku berdiri didepan pintu apartemennya. Dia terlihat sangat cantik sore ini.

“Boleh aku masuk?” tanyaku meminta ijin. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya bisa menguasai keterkejutannya dan mempersilahkan aku masuk dan duduk disofa ruang tengahnya.

“Ada perlu apa anda kemari?” tanyanya bingung ketika melihatku datang dengan membawa beberapa bungkusan makanan.

“Menjengukmu tentu saja. Aku sekalian membawakan beberapa makanan supaya kondisi tubuhmu lebih baik,” jawabku sambil menyerahkan bungkusan makanan yang kubawa.

“Ah, tidak perlu repot-repot. Aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang,” dia terlihat serba salah terhadapku.

“Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan direpotkan oleh gadis secantik dirimu,” ucapku sambil memamerkan senyuman andalanku. Wajahnya berubah menjadi bersemu merah. Berhasil!

“Tapi aku bahkan belum membalas kebaikanmu. Terimakasih karena semalam sudah menolongku. Aku merasa berhutang budi padamu,” ucapnya dengan nada suara malu-malu. Aigoo, betapa imutnya wajah gadis dihadapanku ini.

“Tidak usah merasa berhutang budi. Aku senang bisa membantumu,”

“Tapi setidaknya aku harus membalas kebaikanmu,” ucapnya berkeras.

“Baiklah, kalau kau memang mau seperti itu. kau bisa melakukan sesuatu untukku,” ucapku mencoba tenang, padahal jantungku berdetak dengan kencang. Apa aku tidak keterlaluan jika mengatakannya sekarang?

“Apa yang harus kulakukan untukmu Donghae-ssi? jika itu memungkinkan aku akan dengan senang hati melakukannya,” jawabnya bersungguh-sungguh. Sepertinya dia mulai masuk perangkapku.

“Aku punya dua permintaan padamu dan menurutku itu tidak sulit,” ucapku meyakinkannya.

“Pertama. Jangan memanggilku Donghae-ssi, aku kurang suka mendengarnya. Panggil saja aku oppa, umurmu lebih muda dariku kan?”

“Oe. Oppa? Baiklah sepertinya permintaan itu tidak memberatkanku Donghae oppa,” ucapnya sambil tersenyum manis sekali kepadaku. Aku suka mendengarnya memanggilku oppa, terdengar lebih intim.

“Lalu yang kedua adalaaahhh,,,” aku sengaja menggantungkan kalimatku. Dia terlihat penasaran dengan permintaanku selanjutnya.

Aku menggeser dudukku hingga lebih dekat dengannya. Aku bisa mencium aroma tubuhnya yang segar, aku suka aromanya. Manis!!

Dengan perlahan kudekati tubuhnya. Dia menatapku dengan tatapan terkejut dan mencoba menjauhiku ketika wajahku berjarak beberapa senti dari wajahnya. Kutarik tubuhnya lebih dekat denganku dan kubisikkan permintaanku tepat ditelinganya. Aku bisa melihat dia membelalakan matanya dengan sempurnya dan memandangku tidak percaya.

“MWO????” tanyanya menjerit. Geez, wajahnya sangat cantik tapi teriakannya bisa membuatku tuli.

Author POV,,

Miina menatap sebal pria yang dengan santainya memonopoli ruang tengah apartemennya. Merutuki dirinya yang tadi tidak melihat wajah tamu yang datang keapartemannya dan malah langsung membuka pintunya.

“Donghae-ssi. sampai kapan kau akan berada disini? ini sudah malam dan aku sudah mengantuk,” Miina mencoba mengusir Donghae yang masih dengan santai duduk disofa dan menonton acara televisi di apartemen Miina.

“Masa kau mengusir kekasihmu sendiri? Aku masih ingin disini, kalau kau mau tidur ya tidur saja,” ujar Donghae tanpa mempedulikan tatapan kesal dari Miina.

Miina hanya bisa mendengus mendengar perkataan Donghae. Kekasih? Sejak kapan gadis itu resmi menjadi kekasih pria manja dan menyebalkan macam Donghae? Memikirkannya saja Miina tidak mau apalagi menjadikannya kenyataan.

“Kau selalu mengatakan kalau aku ini kekasihmu. Memangnya kapan aku menyetujui permintaan tidak masuk akalmu itu?” tanya Miina tidak terima.

“Apanya yang tidak masuk akal? Gadis cantik dan manis sepertimu sepertinya cocok dengan namja lembut dan tampan sepertiku,” ucap Donghae percaya diri yang ditanggapi Miina dengan memutar bola matanya jengah.

“Terserah kau saja. Aku akan tidur dan kau jangan lupa mengunci pintunya ketika kau pulang nanti,” ucap Miina sambil berjalan menuju kamarnya.

“Ne. chagiya,” mendengar perkataan Donghae Miina hanya mampu mengerang sambil membanting pintu kamarnya hingga menutup, sedangkan Donghae tersenyum senang karena bisa menggoda gadisnya.

Miina POV,,

Sejak permintaan tidak masuk akalnya waktu itu, aku benar-benar dibuat repot olehnya. Hampir tiap hari dia datang ke apartementku dan bersantai seolah-olah tempatku adalah rumah pribadinya. Terkadang dia memang hanya diam dan tidak menggangguku tapi bukankah melihatnya selalu berkeliaran disekitarku itu sudah sangat membuatku terganggu??

Keadaan ini sudah kubiarkan selama hampir dua  minggu dan kekeras kepalaannya membuatku benar-benar kesal. Bukankah sudah jelas kalau aku menolak permintaan gilanya? Siapa yang akan menganggapnya waras jika dalam pertemuan kedua tiba-tiba saja dia memintaku menjadi kekasihnya? Aku bahkan sangsi saat itu dia mengetahui namaku.

Seperti hari ini. Tepat sebelum makan malam dia datang dan membawakan makanan. Memang itu menguntungkan bagiku tapi tetap saja aku merasa tidak nyaman dengan perhatiannya yang menurutku berlebihan, terlebih lagi kebiasaannya yang memanggilku ‘chagiya’. Demi Tuhan, aku benar-benar kesal dibuatnya.

Sebenarnya aku senang karena seorang lee Donghae member Super Junior yang mendunia menaruh hati padaku tapi bisakah dia mendekatiku dengan perilaku yang normal. Dulu Sara pernah mengatakan kalau member Super junior itu ajaib dan aku bisa merasakannya sekarang. Mereka memang tidak biasa.

Sepertinya tidak akan habis keluhanku jika itu berhubungan dengan seorang Lee Donghae, daripada aku semakin pusing dibuatnya sebaiknya aku tidur saja sekarang.

Perlahan kuhampiri ranjangku dan barbaring diatasnya, menarik selimutnya dan memejamkan mata. Berharap pria itu tidak menggangguku di alam mimpi. Tempat dimana aku bisa merasa bebas tanpa harus dihantui perilakunya yang gila itu.

*****

Mendekati penghujung bulan februari cuaca sudah tidak sedingin biasanya, bahkan cenderung menghangat dan udara terasa lebih segar. Aku sudah tidak sabar menyambut musim semi, aku sangat ingin melihat bunga bermekaran dengan indah.

Sudah hampir dua minggu ini pria itu tidak menggangguku. Entah karena alasan apa dia tiba-tiba menghilang dari kehidupanku dan itu sedkit menggangguku. Aku tahu kalau ini terdengar gila, tapi aku merasa ada sesuatu yang hilang saat dia tidak menggangguku. Aku aneh? Memang. Aku gila? Sepetinya iya.

Aku terkadang berharap dia tiba-tiba datang sambil membawa makanan atau DVD untuk ditonton bersama seperti biasa. Tapi sayangnya dua minggu ini apartementku sepi pengunjung, tidak sekalipun dia datang ketempatku sejak terakhir kali dia datang. Hari dimana aku mengusirnya habis-habisan.

Aku menyesal? Tidak. Hanya merasa kalau seharusnya aku tidak bersikap kasar seperti itu. karena bagaimanapun aku ini wanita dan tidak sepantasnya aku mengusir orang yang bertamu dengan baik-baik dan ya,, harus kuakui kalau dia itu menjadi satu-satunya orang yang menemaniku disaat aku kesepian.

Aku masih terus melangkah menuju halte dengan pikiran yang terus tertuju pada pria itu ketika tanpa kusadari aku menabrak seseorang.

“Ah mianhae. Aku benar-benar tidak sengaja,” ucapku sambil mengulurkan tanganku untuk menolong gadis yang terjatuh karena kutabrak tadi. Ketika gadis itu mendongakkan kepalanya aku benar-benar terkejut.

“Sara-ya”

“Onnie”

Donghae POV,,

Tiga bulan. Aku akan meninggalkannya selama tiga bulan dan aku harus menerima kenyataan kalau ternyata gadis yang kusukai dan kuharapkan menjadi kekasihku ternyata tidak menyukaiku sama sekali.

Awalnya aku berfikir kalau melakukan pendekatan yang terang-terangan bisa membuatnya luluh dan menerimaku, tapi ternyata semuanya tidak berhasil. Sekrang haruskah aku menyerah dan membuang semua harapanku terhadapnya?

*****

Pagi ini aku memulai kegiatan promosi dan syuting dramaku dengan perasaan yang buruk. Sudah lebih dari sebulan aku meninggalkannya dan semakin hari rasa rinduku semakin memuncak. Berkali-kali aku mencoba membuang semua perasaanku padanya tapi semakin sulit aku melupakannya.

Pesonanya benar-benar telah memerangkapku sedemikian rupa hingga membuatku gila. Bagaimana mungkin dalam pandangan pertama gadis itu membuatku jatuh cinta? Bagaimana mungkin sikapnya yang ketus padaku tetap membuatku tidak bisa berpaling? Mungkinkah ada yang salah denganku?

Miina POV,,

Aku benar-benar sudah gila. Bagaimana mungkin aku menjadikan kegiatan memantaunya melalui internet sebagai kegiatan wajibku setiap hari. Rasanya ada yang kurang jika sehari saja aku tidak mendapatkan kabar darinya, tidak melihatnya walaupun itu hanya dari foto-foto yang dikumpulkan fans-nya.

Seperti hari ini, aku menyempatkan membuka salah satu fancafenya dan mencari berita terbaru mengenai dirinya. Apa dia tidak merasa lelah? Melakukan syuting drama dan kegiatan promosi sekaligus? Aku terdengar menggelikan bukan? Sekarang aku merasa seperti gadis yang mengkhawatirkan kekasihnya. Ini benar-benar tidak masuk akal.

Setelah dia meninggalkanku selama hampir dua bulan, aku bukannya melupakan dirinya. Aku malah semakin terjerat dengan pesonanya. Kuakui sejak kejadian pingsan dalam lift malam itu aku memang sudah terpesona dan merasa tertarik dengannya. Hanya saja pikiran realistisku membuatku menutup mata dan hatiku ketika dia mulai mendekatiku.

Hari disaat aku bertemu dengan Sara di halte tempo hari membuatku tersadar kalau aku mulai membutuhkan kehadirannya dalam hidupku. Apa yang dirasakan Sara saat Kyuhyun pergi juga kurasakan. Rasa rindu, rasa khawatir dan lega saat mengetahui kalau hari ini dia terlihat baik-baik saja juga kurasakan. Apakah aku mulai jatuh cinta padanya? Pria manja yang mempesona?

Donghae POV,,

Aku diberi kesempatan pulang ke Seoul untuk melakukan recording terlebih dahulu untuk album Super Junior yang selanjutnya. Keadaanku yang akan tinggal lebih lama di Taiwan dibandingkan member lain membuatku harus mencuri-curi waktu untuk menyempatkan diri melakukan kewajibanku yang lain.

Saat aku menginjakkan kaki di lobby apartement kami aku kembali mengingat hari dimana aku pertama kali bertemu dengannya. Seiring dengan langkahku yang mendekati lift aku semakin merasa rindu pada Miina. Ternyata usahaku untuk melupakannya adalah sia-sia.

Aku berdiri dengan perasaan berdebar saat berada didepan lift. Entah kenapa tapi aku merasa kalau aku harus siap jika nanti bertemu dengannya aku akan kembali diacuhkan. Waktu dua bulan bukan waktu yang lama untuk melupakan orang sepwertiku dipikirannya. Mungkin sekarang dia sudah menganggapku tidak pernah hadir dalam hidupnya karena dia terlalu membenciku.

Dengan tidak sabar aku mengetuk-ngetukkan kakiku keatas lantai. Rasanya ingin segera membaringkan tubuhku diranjangku di dorm. Malam ini aku benar-benar lelah dan perasaanku sangat kacau. Siapa lagi yang bisa mengacaukan system kerja tubuhku selain Miina-ku.

Baru saja kepalaku berhenti memikirkannya ketika tiba-tiba saja aku melihat wajahnya saat pintu lift terbuka. Kepalanya tertunduk dan berjalan terburu-buru keluar lift. Dia tidak menyadari keberadaanku dan sepertinya tidak peduli ketika sekali lagi dia menubruk tubuhku. Dia terus saja melangkah meninggalkanku yang masih mematung menatapnya. Dia benar-benar tidak menganggapku ada.

Miina POV,,

Kenapa Eomma harus masuk Rumah Sakit disaat dia pulang ke Korea. Aku sudah merencanakan untuk mendatanginya di dorm dan meminta maaf karena telah bersikap kasar dan ketus selama ini. Kenapa Eomma harus sakit sehingga aku harus terburu-buru pergi kerumah sakit dan melupakan rencanaku untuk bertemu dengannya? Tapi walau bagaimanapun Eomma adalah segalanya bagiku

Dengan terburu-buru aku melangkah keluar dari lift. Kuacuhkan orang yang kutabrak ketika berjalan dengan tergesa-gesa. Kepalaku dipenuhi oleh bayangan Eomma-ku yang sedang berada di ICU karena serangan jantung yang mendadak. Tuhan, selamatkan Eomma.

*****

Sudah dua hari aku tidak pulang ke Apartement karena harus menemani Eomma dirumah sakit. bukannya aku tidak bisa pulang tapi karena ini kemauanku untuk terus menjaga Eomma hingga sadar yang membuatku tetap berada disini.

Hari ini dia sudah harus kembali ke Taiwan dan aku tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dan meminta maaf padanya. Apa ini adalah petunjuk dari Tuhan kalau aku harus menerima kenyataan jika Donghae bukanlah seseorang yang  Tuhan kirimkan untukku?

Aku sedang melamun ketika kurasakan tangan Eomma yang berada digenggamanku bergerak. Tentu saja aku terkejut dan bahagia ketika mendapati perlahan mata Eomma bergetar dan terbuka. Kelagaan merasuki hatiku ketika menyadari Eomma-ku sudah sadar.

*****

Disinilah aku sekarang, didalam mobil yang kukendarai dengan kecepatan diatas rata-rata untuk menuju apartement. Setelah dokter meyakinkan kalau kondisi Eomma sudah melewati masa kritis dan berangsur membaik, aku langsung bergegas untuk menemuinya. Berharap masih memiliki waktu untuk meminta maaf padanya.

Aku memarkirkan mobilku dengan terburu-buru dan langsung berlari menuju lift. Aku setengah berlari ketika melihat sebuat van melintas dihadapanku. Kaca jendela bagian penumpang terbuka dan menampakan sosoknya yang sedang menandang lurus kedepan.

‘Itu dia,, Itu dia,,’ aku berusaha mengerjar van didepanku ketka menyadari Donghae berada didalamnya. Tapi bukannya melambat tapi lkaju van malah semakin cepat.

“Donghae-ssi.. Donghae-ssi..” aku terus memanggil-manggilnya dan berlari mengejar van yang membawanya tapi tetap saja van itu tidak berhenti.

Ketika van sudah hampir keluar dari gedung parkir kakiku sudah tidak mampu mengejar karena lelah, hingga akhirnya aku terjatuh dan terduduk diatas lantai parkir yang dingin. Hilang sudah kesempatanku untu melihat wajahnya lagi. Tidak terasa lelehan airmata membasahi pipiku. Penyesalan yang kurasakan benar-benar menekanku hingga rasanya menyesakkan.

Aku masih terus menangis sambil menutupi wajah dengan kedua telapak tanganku ketika kurasakan seseorang menyentuh lembut kepalaku. Kudongakkan wajahku untuk menatap orang itu. benarkah apa yang kulihat ini? Tidakkah aku sedang bermimpi sekarang?

Donghae POV,,

Tidak terasa waktu dua hari yang kuhabiskan di Seoul. Rasanya aku masih ingin berada disini dan tidak ingin kembali ke Taiwan. Tapi itu tidak mungkin karena aku masih memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Aku sedang berada didalam van yang akan mengantarkanku kebandara karena dua jam lagi pesawatku akam berangkat. Sampai detik ini aku masih belum melihatnya lagi. Bahkan semalam aku sengaja datang keapartementnya tapi dia tidak membukakan pintunya untukku. Apa dia benar-benar membenciku?

“Donghae-ya. Apa kau mendengar suara orang yang memanggilmu?” tiba-tiba sana manajer hyung bertanya padaku.

“Entahlah. Sepertinya tidak ada. Kalaupun ada mungkin itu suara fans,” jawabku asal. Sekarang van sudah mulai berbelok keluar dari gedung parkir ketika aku melihat sekelebatan seorang gadis berlari dan terjatuh. Dari apa yang kulihat sepertinya gadi itu mengejar van ini.

Tunggu. Bukankan itu Miina?

“Stop. Hentikan mobilnya,” teriakku kencang hingga membuat sopir yang membawa van ini menghentikan van seketika dan tidak menunggu obil benar-benar berhenti aku langsung berlari memasuki area parkir. Aku mengabaikan teriakan manajer hyung yang terdengar kesal dengan ulahku.

Aku melihatnya disana. Terduduk sambil menutupi wajahnya, menangis. Perlahan kuhampiri dirinya dan berjongkok dihadapannya. Ragu-ragu kujulurkan tanganku untuk menyentuh kepalanya. Dia mendongak dan menatapku tidak percaya. Mata indahnya menangis dan terlihat sedih, memuatku ingin membawanya dalam pelukanku.

“Uljimma,,” hanya kata-kata itu yang bisa kuucapkan kepadanya. Aku takut untuk melakukan hal yang kuinginkan. Memeluknya. Aku takut dia yang membenciku bertambah kebenciannya. Sekarang aku hanya bertanya-tanya. Apa yang menyebabkan Miina menangis?

“Syukurlah kau mendengarku,” tiba-tiba saja dia memelukku dan itu membuatku benar-benar terkejut. Isak tangisnya semakin keras dan pelukannya terasa semakin erat. Apa aku sedang bermimpi sekarang?

*****

“Jadi kau benar-benar mengejarku tadi?” tanyaku tidak percaya ketika tadi dia menceritakan apa yang dia lakukan sehingga aku menemukannya menangis dilatai parkiran.

“Jangan tertawa. Tapi aku benar-benar menangis karena mengira kau tidak mendengarku dan memikirkan kemungkinan tidak bisa melihatmu dalam jangka waktu yang lama,” kata-katanya memang mungkin terdengar menggelikan karena keluar dari mulut seorang Song Miina, tapi untukku itu terdengar manis dan sangat menyentuh.

“Gomawo, karena sudah mengejarku dan memkirkanku,” aku bernar-benar terharu dan kini terisak karena mendengar perkataannya. Aku benar-benar bahagia.

“Yaa.. Yaa.. kenapa kau menangis? Bukankah seharusnya aku yang menangis huh?” tanyanya ketika melihatku menitikkan air mata.

“Karena aku senang mendengar perkataanmu tadi Miina-ya,” ucapku sambil memeluknya. Kurasakan tubuhnya tiba-tiba menegang hingga akhirnya kulepaskan pelukanku dan kutatap wajahnya yang menunjukkan keterkejutan.

“Wae?” tanyaku bingung.

“Kau memelukku?” tanyanya dengan nada suara tidak percaya. Aku hanya mengangguk karena itu memang yang kulakukan tadi.

“Huwaaaaa,,,, Kau tahu, selama dua bulan ini aku memimpikanmu memelukku dan akhirnya hari ini aku merasakannya juga. Huwaaaaa,,,” sekarang giliran diriku yang dibuat tercengang oleh kelakuannya. Tadi dia seperti kesal ketika melihatku terharu dan sekarang tiba-tiba saja dia menangis karena aku memeluknya?

Tapi tunggu dulu. Dia bilang sudah selama dua bulan memimpikanku memeluknya. Apa itu berarti dia…. No way!! Tidak mungkin kan dia merindukanku?

“Miina-ya? Apa kau merindukanku?” tanyaku serius sambil menatap wajahnya yang basah karena air mata. Seakan baru tersadar dengan apa yang terjadi, Miina buru-buru menghapus air matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya seakan ingin membuang pikiran buruk dari otaknya.

“Aku,, aku,,,,,,,” dia berbicara dengan terbata-bata. Aku tersenyum melihatnya, setidaknya aku tahu kalau dia merindukanku seperti aku merindukannya.

“Gwenchana. Aku juga merindukanmu,” aku melihatnya menundukan wajahnya yang memerah. Mengetahui kebenaran mengenai perasannya padaku membuatku sangat bahagia.

Sebulan kemudian,,,,,,,,,,,,

Donghae POV,,

Sebulan terakhir kehidupanku benar-benar terasa menyenangkan. Statusku rersmi berpacaran sekarang dan hari ini jadwalku kembali pulang ke Korea. Rasanya menyenangkan akhirnya bisa menatap wajahnya lagi secara langsung.

“Hyung,,, Ku pulang,” teriakku ketika memasuki dorm lantai12, tapi tumben dorm sepi sekali hari ini. Apa penghuni lain sedang memiliki pekerjaan? Menyebalkan sekali tidak ada yang menyambut kepulanganku.

Dengan langkah gontai aku memasuki dorm dan berjalan menuju kamarku untuk menyimpan bawaanku. Baiklah, sepertinya lebih baik aku langsung menuju apartemennya saja.

Baru saja tanganku akan menggapai knop dipintu ketika kudengar sura yang sangat kurindukan.

“Kapan kau sampai? Kenapa aklu tidak mendengarmu masuk?” dengan refleks aku membalikkan tubuhku untuk melihat asal suara yang terdengar dari belakangku.

Dia ada disana. Gadisku sedang berdiri menatapku dengan mata indahnya dan senyuman manisnya tersungging dibibir mungilnya. Miina-ku berada dihadapanku saat ini.

Tanpa berpikir panjang aku langsung menghambur kearahnya dan memeluknya erat. Menghirup aroma tubuhnya dan merasakan tubuhnya yang berada didekapanku tidak pernah terasa semelegakan ini.

“Bogoshiposeo,,,,” ucapku manja sambil terus memeluknya. Aku merasakan Miina-ku terkekeh mendengar ucapanku. Jangan katakana kalau dia menganggapku lagi-lagi terlalu berlebihan.

“Wae?” tanyaku bingung melihatnya yang terus tertawa.

“Ini aneh. Tapi aku juga merindukan sikap manjamu ini. Rasanya sudah lama sekali tidak mendengarmu bicara seperti ini,” jawabnya sambil kembali memelukku.

“Na ddo bogoshiposeo,” ucapnya lirih ditelingaku. aku tersenyum lebar saat menyadari kalau gadis yang kini sedang berada dipelukanku adalah benar-benar gadisku. Gadis yang memerangkapku dengan berjuta pesonanya sejak pandangan pertama. Gadis ini adalah Miina-ku, kekasihku yang cantik.

*****

Dddduuuuuaarrrr,,,,, pecah juga akhirnya ni FF, udah berhari-hari yang lalu selesai n baru bisa dipublish sekarang karena baru sempet Online by kompi hari ini,, asalnya aku mo nambahion beberapa scene di FF ini tapi ternyata ide yang membludak itu gak dibarengi dengan waktu yang luang n semangat untuk nulis jadilah FF ini endingnya gantung. Mian,,, *deep bow!!!

Oya FF ini khusus dibuat untuk My besties Ola yang memplokamirkan diri sebagai kekasih dari seorang ikan mempesona bernama Lee Donghae.. La, ini FF yang dirimu menangkan dari sekian banyak wanita yang menginginkan dipairing sama abang ikat nan georgeus ini… utang untuk FF Hae impas yaaa,,,

Untuk yang gak kepilih mohon maaf, bukannya kalian gak memenuhi kualifikasi tapi aku bener-bener bingung milih untuk pairing Hae karena banyak banget yang pengen dipairing sama dia dan kenapa haris Ola? Karena keliatan banget ni makhluk(?) tergila-gila banget sama Hae.

Untk pairing selanjutnya udah ada beberapa story line dikepala ini n tinggal dituangkan dalam bentuk tulisan tapi belum ada waktu untuk merealisasikannya jadi harap bersabar dan untuk pengumuman pairingnya bakalan aku umumin akhir minggu ini ya. Soalnya sekarang udah ngantuk banget…

Happy reading n comment-nya jangan lupa,,

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s