[FREELANCE] I Love Him, cause He is KIBUM – Key SHINee

 

Judul   : I Love Him, cause he is KIBUM…

Author : Jajangmyun

Main cast :

Kim Kibum SHINee a.k.a Kibum or Key

Kim Hyun Ri a.k.a Hyun Ri or YOU

Other cast:

Girl a. k. a Key’s Cousin (Her self)

Gendre            : Sad, romance, life etc.

Type/Length    : Oneshot

Rating             : General

 

Desclaimer : Kibum di sini adalah Kibum… Hyunri only my imagination, dan semua cerita hanya karangan belaka… jangan sampe yang fiktif jadi nyata… huaaa, gak mau….

Warning : FF ini udah di publis di blog aku dan beberapa blog lain J

^^^

Begin: Kau tau siapa aku tapi aku tak tahu kaulah dirinya…

Story :

Huftt, capek. Hari ini benar – benar melelahkan. Seharusnya aku menolak ajakan Yong In untuk ikut berpartisipasi dalam pameran fotographi itu. Hufftt, benar – benar melelahkan. Tanpa sadar aku sudah terduduk di taman yang indah ini. Ku tarik napas dalam – dalam. Benar – benar melegakan, menghilangkan penat – penat di kepalaku.

“Kau pasti sangat lelah”, ujar suara seorang namja yang ternyata duduk di sampingku. Aku lalu menoleh ke arahnya dan tersenyum.

“Minum ini, kau pasti benar – benar sibuk hingga tenggorokanmu kering “, ujarnya lalu perlahan meletak segelas cappuccino di antara aku dan dia.

“Camsahamida”, ujarku ragu – ragu.

“Tak perlu khawatir. Minuman itu asli cappuccino, tanpa campuran sedikitpun racun di dalamnya. Lagipula, mana mungkin aku mau membunuh orang dengan kopi yang seharum itu”, ujar namja itu lalu tersenyum. Pandangan matanya lurus kedepan, tanpa sedikitpun mecoba berpaling atau menatapku.

“Hmm, ini cappuccino yang benar – benar enak. Rasa Kopinya tidak terlalu pahit ataupun manis. Belum pernah aku merasakan cappuccino yang seperti ini”, ujarku.

“Itu buatan sepupuku”, ujarnya dan lagi – lagi tanpa menoleh sedikitpun.

“Oh ya, dari mana kau tau bahwa aku sangat lelah dan belum minum sama sekali?” tanyaku.

“Dari nafas dan suara mu”, ujarnya singkat lalu tersenyum. Namja ini, sepertinya tak asing bagiku, wajahnya mengingatkanku pada seseorang. Ah, tidak mungkin.

“Wah, pendengaranmu sangat tajam ya. Oh ya, siapa namamu? Aku Hyun Ri”, ujarku sambil mengulurkan tangan.

“Kibum imnida”, ia juga mengulurkan tanggannya, tapi tangannya tak mengarah ke arahku. Aku lalu mengibas – ibaskan tangan kiriku di depan mukanya. Buta. Lalu tangan kananku menarik tangannya dan membalas jabatan tangannya. Deg.. kurasakan jangtungku terhenti sejenak saat ku memegang tangannya. Perasaan apa ini? Tidak boleh, belum sampai setengah jam aku mengenalnya, tapi kenapa aku merasa bahwa jabatan tangan ini adalah hal yang paling aku tunggu semasa hidupku ya?

Kibum? Namanya kibum? Ah, tidak mungkin dia ‘Kibum’ yang aku fikirkan.

“Kibum?  Namamu mirip sekali dengan seseorang”, ujarku keceplosan.

“Seseorang? Siapa? ” tanyanya bingung.

“Ah, anni… Tidak perlu kita bahas. Lagian nama Kibum di Korea ini kan banyak”, ujarku.

Tak terasa sudah hampir dua jam aku mengobrol dengannya. Dia benar – benar anak yang ceria dan banyak akal. Perkataannya benar – benar lucu dan membuat siapa saja tak bosan ngobrol dengannya. Aku lalu memperhatikannya lagi, potongan rambutnya agak panjang sebahu, poninya menutupi separuh keningnya. Aku mengandai – andai bila saja potongan rambutnya lebih pendek sedikit dan poninya… ahh, sudahlah. Jangan lagi membayangkan hal – hal yang impossible seperti itu.

“Kibum Oppa”, ujar seorang yeoja sambil  berlari – lari. Aku lalu berdiri dan membantu Kibum berdiri. Yeoja itu lalu membungkukkan badannya sedikit ke arahku. Akupun membalas dengan sedikit membungkuk.

“Oppa, ahjussi mencarimu kemana – mana. Ternyata kau disini, ayo kita pulang”, ujar Yeoja itu lagi.

“Hyun Ri ssi, sampai bertemu lagi ya”, ujar Kibum lalu bergerak jalan.

“Ne, sampai bertemu lagi. Camsahamida karena anda telah menemani  Kibum Oppa”, ujar Yeoja itu.

“Cheonmaneyo”, jawabku lalu tersenyum dan melihat mereka berjalan menuju dan masuk ke dalam mobil. Aku kembali tersenyum saat yeoja itu membunyikan klakson mobilnya tanda berpamitan denganku. Aku pun kemudian bergerak untuk pulang.

^^^

Sudah sebulan semenjak pertama kali bertemu, aku dan Kibum sering menghabiskan waktu bersama di sini. Tapi, akhir – akhir ini Kibum tak ada, ke mana dia? Oh tuhan, kenapa aku sangat merindukannya? Apa aku mulai menyukainya? Atau karna ia… aku lalu mengeluarkan sebuah photo dari dalam tas ku. Itu adalah photo print biasa yang gambarnya pun aku dapat dari seseorang. Aku yakin, semua orang yang menyukainya pasti punya photo ini, jadi ini bukanlah photo yang special. Tapi, tetap saja, aku selalu berdesir saat menatap photo ini.

“Hyunri, itu kau?” ujar suara yang ku kenal.

“Ne”, jawabku lalu memalingkan wajahku dan melihat ke arah …. Key? Itu Key? Babo, mana mungkin. Aku lalu membantunya duduk.

“Kau habis memikirkan sesuatu”, ujar Kibum

“Ha?”, tanyaku kaget.

“Napasmu mengatakannya. Begitu berat dan penuh beban. Ada apa? Kau bisa membaginya denganku”, lanjut kibum.

“Gwecanna Kibum ssi”, jawabku lalu mencoba mengahpus air mata yang tak terasa mengalir di pipiku.

“Jangan memanggilku seperti. Aku merasa jadi terlalu tua”, jawabnya lalu terkekeh.

“Mian, jadi aku memanggilmu..”

“Oppa, Kibum oppa”, lanjutnya.

‘Kibum Oppa, tau kah kau? Dari dulu aku memang ingin memanggil seseorang dengan sebutan itu, tapi, tapi…  Ah, ini benar – benar menguras hatiku’

“Kau baik – baik saja Hyunri?” Tanya Kibum.

“Ne, oh ya, apa yang ada di tanggan kirimu Oppa?” tanyaku sambil melirik ke bungkusan kecil di tangan kirinya.

“Ini…”

“Biar kutebak, cappuccino?” tanyaku.

“Anni, aku malas membawakanmu cappuccino terus, maunya kau yang membawakanku lagi. Ini Coklat. Untukmu”, ujar Kibum lalu mengulurkan tangan kirinya ke depan. Aku lalu mengambilnya.

“Kau suka? Aku tidak tau mau membawakan apa, pelayan ku membelikan itu tadi”, lanjutnya.

“Suka, aku sangat suka coklat. Ini coklat pertama yang diberikan seseorang padaku. Hmmm, coklat dengan almond, benar – benar  favoriteku. Kau mau Oppa? Aku suapin ya”, aku lalu membuka bungkus coklat itu dan memaruhnya.

“Aaaa”, Kibum membuka mulutnya. Dia lalu mengunyah coklat itu.

“Huu…. Ban,,ya,,kk ,, sekali,,, yang,,, ka,,u ma,,sukkan”ujar Kibum masih dengan mulut penuh coklat. Aku hanya tertawa melihatnya. Mulutnya yang penuh coklat membuat pipi tirusnya menjadi lebih tembum, dan bibirnya jadi kelihatan kecil .

“Kamu tertawa ya? Apa yang aneh?” tanyanya saat coklat di mulutnya mulai habis. Aku kembali tertawa mendengar pertanyaannya. Ia lalu memajukan bibirnya cemberut saat aku tertawa yang kedua kalinya. Tawaku terhenti, ya, saat melihatnya seperti itu hatiku benar – benar teriris. Rasa rindu itu menyeruak lagi. Tidak, tidak, itu hanya ilusi, bukan dia, dia adalah Kibum. Tapi namanya juga Kibum, itu hanya nama trendnya saja. Anni, tidak boleh, aku tidak boleh terlalu berharap itu dia.

“Oppa, Oppa kemaren kemana saja, berhari –hari aku ke mari tapi Oppa tidak pernah terlihat?” tanyaku.

“Aku, aku… aku hanya melakukan check up, aku akan mendapatkan donor mata”, jawabnya.

“Benarkah?”, tanyaku bahagia.

“Ne, aku akan melihatmu sebentar lagi Hyun Ri”, jawabnya lalu tersenyum.

“Hyun Ri”, panggil Kibum.

“Ne Oppa”, aku lalu menatapnya. Matanya, hidungnya, garis wajahnya, semuanya mirip. Apalagi dengan  gaya rambutnya yang sekarang. Hanya saja wajah kibum lebih kurus dan pucat, serta ada sedikit goresan luka di lehernya.

“Hyun Ri, maukah kau ikut denganku?” tanyanya.

“Ke mana Oppa?” tanyaku bingung. Ia belum pernah mengajakku sebelumnya.

“Kau pasti akan senang”, jawabnya dan aku hanya menurut saja dengannya.

Ia membawaku menyusuri Dae Gu menuju ke sebuah rumah. Rumah ini memang tidak terlihat terlalu mewah di banding rumah yang lainnya, tapi ketika aku memasuki pekarangan rumahnya, terasa begitu sejuk dan menenangkan.

“Oppa”, ujar seorang gadis. Yah, itu gadis yang kemaren. Dia lalu berlari memeluk Kibum. Tampaknya ia benar – benar akrab dengan Kibum.

“Anneyong, kau pasti Hyunri  ssi. Benarkan?” tanyanya padaku.

“Ne”, aku lalu tersenyum padanya.

“Oppa bercerita banyak tentangmu. Dia bilang…”

“Sudah, tak usah di dengar. Dia ini memang bawel dan ribut”, ujar Kibum memotong ucapan gadis itu.

“Ayo ikut aku”, ujarnya. Aku hanya mengikutinya saja, lalu gadis itu menyusul kami.

“Hyun Ri ssi, kenapa kamu bisa betah berteman dengan Oppa?” tanyanya.

“Hmm, kibum itu orang yang baik , perhatian dan ceria. Aku sangat senang bisa bertemu dengannya”, jawabku.

“Ia, aku memang seperti itu”, ucap Kibum sambil tetap terus berjalan.

“Nah, sudah sampai. Gimana, indah gak?” Tanya Kibum. Aku lalu melihat sekeliling. Tak ada kata yang dapat melukiskan perasaanku saat melihat ini. Taman mawar biru. Wow… wow.. wow…

“Woow, aku belum pernah melihat ini sebelumnya. Benar – benar indah”, ujarku lalu berlari mendekati mawar – mawar itu.

“Hyun Ri, apa kamu bahagia?” Tanya Kibum.

“Ne oppa”, jawabku lalu asik kembali melihat mawar – mawar ini dari dekat.

“Aku ke dalam sebentar”, ujar Kibum lalu melangkah meninggalkan kami berdua. Aku dan sepupunya.

“Hyun Ri ssi, camsahamida”, ujar sepupu Kibum itu saat ia sudah berada di sampingku.

“Untuk apa?” kulihat mimic keseriusan di wajahnya.

“Camsahamida karena kau sudah mengembalikan Oppaku”, ujarnya lagi.

“Mian, aku tak mengerti”, aku kembali memandang wajahnya.

“Aku belum pernah melihat Oppa tersenyum sendiri, tapi akhir – akhir ini, aku lihat Oppa sering tersenyum – senyum sendiri. Aku selalu melihat mimic kegembiraan saat ia bercerita tentang kau padaku. Wajahnya benar – benar lepas. Camsahamida karena kau telah mengembalikan senyum dan keceriaan pada Oppaku”, ujarnya.

“Ooh, Cheonmaneyo. Aku senang karena dapat membantu. Lagipula aku tidak membantu banyak, Kibum memang orang yang ceria dan lucu. Banyak lelucon yang sering ia keluarkan”, jawabku.

“Ia, Oppa dulu orang yang sangat ceria, dia selalu bisa mencairkan suasana. Hyung – hyungnya selalu senang bila berada di dekatnya. Ia juga pintar dan perenang yang handal. Kalau saja…” ia terhenti, matanya mulai menerawang. Kulihat butirang bening siap tumpah dari matanya.

“Kalau saja apa?” tanyaku penasaran.

“Kalau saja Oppa…”

“Non, Kibum ssi, Kibum ssi”, ujar seorang pelayan terbata – bata. Ia terlihat sangat panic.

Aku segera berlari kedalam rumah. Apa yang terjadi dengan Kibum? Kenapa hatiku terasa sakit kalau – kalau terjadi sesuatu padanya? Aku lalu mendapati Kibum terbaring di atas sofa. Para pelayan terlihat sibuk membangunkannya.

“Apa yang terjadi?” Tanya sepupu Kibum dengan nada tinggi. Ia kelihatan sangat marah.

“Tadi… tadi.. Kibum ssi pingsan saat dia hendak membawakan ini keluar non”, ujar pelayan itu lalu menyerahkan sebuah kotak berwarna biru. Ku lihat Kibum mulai tersadar.

“Oppa, gwecanayo?” tanyaku lalu membelai pipinya.

“Gwecana. Aku hanya sedikit lelah”, ujarnya lalu mencoba meraba tanganku. Aku lalu menggenggam tangannya. Kenapa aku merasa sangat sedih bila ia seperti ini?

“Aku, hanya ingin memberi sesuatu padamu”, ujarnya lalu mencoba bangkit dan meraba  sesuatu.

“Ini?” Tanya sepupunya lalu menyerahkan kotak biru yang diberi pelayan tadi.

“Apa ini kotak biru?” Tanya Kibum.

“Ne Oppa”, jawab sepupunya.

“Ini untukmu”, ia mengulurkan kotak biru itu ke arahku.

“Bukalah”, ujarnya. Aku lalu membuka kotak biru itu. Sebuah dress berwarna biru. Dress yang sangat indah.

“Besok aku akan di operasi, dan tiga hari kemudian perbanku di buka. Aku ingin melihatmu menggunakan itu. Yah, memang bukan aku yang memilih itu, tapi aku yakin kau pasti akan cantik bila memakai itu. Jadi pakailah dress itu 4 hari lagi dan kita akan mengahabiskan waktu terindah bersama”, ujar Kibum panjang lebar.

Aku lalu menitikkan air mata. Ada pesan tersirat menurutku saat ia berkata seperti itu. Apa kau dia Kibum? Apa kau dia? Aku benar – benar berharap kau dia, walau hanya sehari itu, aku berharap bahwa kau benar – benar dia.

“Jangan menangis”, ia lalu mencoba meraba wajahku. “Boleh aku meraba wajahmu?” tanyanya.

“Ne”, ku ambil tangannya dan kuletakkan di wajahku. Ia lalu meraba pipiku dan beralih ke mataku. Ia lalu menghapus air mataku dan meraba leherku, kemudian kami hanyut dalam ciuman itu dengan air mata yang masih mengalir di pipiku.

Yah, kurasa. Aku memang mulai… aku memang mulai menyukaimu Kibum. Sarangeyo…

^^^

Aku beridiri tegang di sini. Dokter sudah siap untuk membuka perban Kibum. Perlahan lahan perban itu terbuka hingga tersisa dua kapas di kelopak mata Kibum. Dokter lalu mengambil kapas itu satu persatu.

“Buka matamu perlahan”, ujar Dokter.

Kibum membuka matanya perlahan. Ntah kenapa, saat ia membuka matanya, kulihat matanya semakin indah. Aku benar – benar menyukainya, lebih dari aku menyukai Key dulu.

“Kau Hyun Ri?” tanyanya padaku.

“Ne Oppa. Oppa bisa melihatku?” tanyaku. Ia mengangguk dan akupun berlari memeluknya. Aku menangis di pelukannya.

“Kamu sangat cantik Hyun Ri, lebih cantik dari yang di foto”, ujarnya.

“Gumawo Oppa” aku tidak begitu mendengar apa yang ia katakan. Tapi yang pasti ku tau ia memujiku karena ada kata – kata cantik tadi. Ia kemudian menegakkan kepalaku.

“Sekarang jangan menagis lagi ya”, ujarnya lalu menghapus air mataku. Aku lalu mengangguk dan tersenyum.

“Hyun Ri, tunggu aku 15 menit lagi. Aku akan segera berpakaian”, ujarnya lalu bangkit.

“Tapi Oppa, apa dokter sudah mengizinkan?” tanyaku lalu memandang kea rah dokter.

“Ne, iyakan Dok?” tanyanya. Dokter itu mengangguk.

“Baiklah, aku akan keluar Oppa”, ujarku lalu melangkah keluar.

Di luar aku duduk di kursi di samping pintu kamar Kibum. Aku lalu mengeluarkan foto itu. Ya, foto itu adalah foto Key. Aku mencintai Key bahkan melebihi cintaku pada cinta pertamaku. Aku tau Key hanya fatamorgana, tapi aku sangat menyukainya. Aku memandangi lagi foto Key. Ternyata ia benar – benar mirip dengan Kibum. Atau Kibum itu memang Key?

“Serius banget”, ujar Kibum yang ntah sejak kapan duduk di sampingku.

“Itu foto…” ucap Kibum terputus lalu memperhatikan foto di tanganku.

“Ne, ini Key. Ini Key Oppa. Dia benar – benar mirip denganmu Oppa”, aku lalu mendekatkan foto itu kesamping Kibum dan membandingkannya. Benar – benar mirip, atau lebih tepatnya sama.

“Apa kau Key Oppa?” tanyaku. Akhirnya pertanyaan yang sudah lama tersimpan dalam hatiku berhasil aku keluarkan.

“Anni, aku Kibum, bukan Key. Apa foto itu juga yang kau pandangi dulu?” tanyanya.

“Ne Oppa. Aku memang memandangi foto Key. Aku selalu memandangi foto Key”, ujarku lalu tertunduk dan memandang lagi foto itu.

“Seberapa besar arti Key buatmu?” tanyanya lagi.

“Besar, sangat besar. Mungkin kalau namanya bukan Key, maka aku tak pernah mengenalnya karena tidak ada nama SHINee”, jawabku.

“Dia idolamu? Apa kau pernah bertemu dengannya?” tanyanya.

“Ne, dia idolaku Oppa. Namanya sama sepertimu Kibum. Tapi bila ia hanya bernama Kibum, maka aku mungkin tidak akan pernah mengenalnya. Key itu namanya saat ia beraksi di atas panggung bersama ke 4 hyungnya. Dia yang selalu mengisi hariku semasa SMA dulu. Bertemu dengannya? Itu adalah harapanku sejak dulu. Tapi aku tau itu tak dapat terjadi lagi. Aku sudah telat, sangat telat”, jawabku.

“Telat? Mengapa? Apa kamu tak pernah berusaha dulu?” tanyanya.

“Pernah, aku berusaha. Aku berusaha belajar bahasa Korea, aku juga membuat akun – akun di jejaring social Korea. Aku bahkan sempat mengirim surat dan fotoku melalui temannya temanku yang berada di Korea. Aku tak tau apakah surat itu sampai atau tidak.  Dan kenapa telat? Karena SHINee hanya tinggal nama sekarang. SHINee hanya sejarah, sejarah suatu Boyband yang sempat membuat aku dan ketiga temanku Histeris saat melihat konser mereka walau hanya lewat internet. Aku benar – benar menyukai Key. Walau ekspresiku hanya datar – datar saja saat melihat Konsernya di KIFF melalui TV, tapi aku sangat bergetar Oppa, aku merinding. Saat itu aku belum tau yang mana Key, aku tau Key saat aku tak ada pilihan lagi di SHINee karena temanku yang lain sudah mematenkan Minho menjadi miliknya. Sejak saat itu aku mencoba menyukai Key dan ternyata aku benar – benar menyukai Key. Loh, kok aku jadi curhat sih?” tanyaku lalu mencoba tertawa.

Ia lalu menghapus air mataku. “Walau mungkin kau tak pernah bertemu Key, tapi kurasa Key masih tidak beruntung dibanding Kibum karena Kibum sudah bertemu denganmu”, ujarnya lalu berdiri.

“Ayo, kita berangkat sekarang”, ujarnya lalu menarik tanganku.

^^^

“Oppa kita kenapa kesini?” tanyaku saat Kibum membawaku ke Dongdaemun  Market. Ini surganya fashionista, itu yang kutau saat aku membaca artikel mengenai tempat – tempat di Korea.

“Aku suka belanja, dan aku pernah berjanji  akan mengajak seorang gadis berkencan denganku di tempat ini. Aku ingin membelikan beberapa baju untukmu”, ujarnya lalu menarik tanganku.

“Bagaimana dengan ini?” tanyanya saat mempaskan sebuah dress pink di badanku. Aku lalu menatapnya. Kulihat matanya,walau kini ia memakai kacamata hitam, tapi bentukknya benar – benar mirip, alisnya juga. Dan tingkah lakunya benar – benar sama seperti yang aku pernah baca di artikel mengenai Key. Apa dia Key? Pabo, dia kan sudah bilang bahwa dia bukan Key, tapi Kibum. Aku hanya tersenyum. Sejujurnya aku tidak begitu menyukai warna Pink. Tapi ntah kenapa aku sangat bahagia karena baju itu di belikan Kibum. Aku lalu mengedarkan pandanganku ke stan lain. Itu, itu baju yang sangat keren. Aku lalu berlari dan mengambil baju itu.

“Hyun ri, kamu cepet banget larinya”, ujar Kibum yang kini sudah memebayar dress pink tadi.

“Oppa, ini cocok buatmu”, ujarku lalu mempaskan baju itu kebadannya. Ia lalu tersenyum dan mengacak – acak rambutku.

“Uhh, berantakan ni Oppa. Pokoknya aku tetap akan membelikan ini buat Oppa, jangan menolak ya”, ujarku lalu membayar baju tadi.

Kami hanya membeli dua baju tadi. Aku sengaja mengajak Oppa pulang karena kusadari kondisinya masih belum fit saat ini. Kalau tidak kupaksa, mungkin sampai kiamat pun ia tetap di sini dan mencarikan baju untukku.

“Kita kesana yuk”, ujarnya lalu menarikku kesebuah toko eskrim kecil.

“Pak, es krim rasa cappucinonya dua ya”, ujarnya.

“Oppa, memang Oppa boleh makan eskrim?” tanyaku khawatir saat ia sudah menerima eskrim tadi.

“Sudah, gak usah khawatir. Cuma eskrim doang tak akan mencabut nyawaku secepat itu, walau pada akhirnya nyawaku pasti akan di cabut dengan cepat”, ujarnya lalu memakan eskrimnya.

“Ukhh…. Ukhh..” aku tersedak saat mendengar itu, aku tak tau apa ia mengatakan itu serius atau tidak, tapi yang kurasa ada pedih di hati saat dia berkata seperti itu.

“Gwencanayo? Kalau makan jangan terburu – buru”, ujarnya lalu membelai lebut tengkukku.

“Ne, gwencana. Oppa, siap ini , kita kembali kerumah sakit ya”, ujarku. Aku benar – benar khawatir melihatnya. Walau sikapnya terlihat ceria, tapi pucat di bibirnya tak bisa menutupi bahwa ia kurang fit saat ini.

“Jangan, sebentar lagi malam. Akan lebih enak bila kita menghabiskan malam di dekat sungai Han”, ujarnya lalu menarikku masuk ke mobil.

^^^

Indah, benar – benar indah. Aku… ah, tidak bisa ku ukir perasaanku kini dengan menggunakan kata – kata. Yang ku tahu, ini sangat indah.

“Oppa, kau tau, dari dulu aku sangat ingin mengahabiskan malam di sini berasama seseorang yang ku cintai”, ujarku lalu berlari ke pinggir suangai dan merentangkan tanganku.

“Oppa, aku memang harus mengakuinya. Sekarang kan udah modern dan gak jadi masalah kan kalau wanita yang bilang pertama kali. Sarangeyo Oppa”, ucapku masih sambil menatap sungai yang indah di hadapanku ini. Tak ada respon. Dimana dia?

“Oppa, Oppa …” aku lalu berbalik. Fiuh, sukurlah, ia tak apa – apa. Ia terduduk di salah satu kursi yang ada di sekitar tempat ini. Aku lalu menghampirinya.

“Oppa, kenapa kau duduk? Huh, hampir saja aku panic karena tak menemukanmu di sebelahku”, ujarku lalu duduk di sebelahnya.

“Mian, Mianne”, ia lalu melepas kacamatanya.

“Oppa, kenapa Oppa melepas kacamatamu? Itu tidak boleh Oppa, debu dapat merusak matamu”, ujarku lalu mencoba memasang kembali kacamatanya.

“Tak perlu. Aku ingin melihatmu sekali lagi. Aku ingin melihatmu langsung tanpa terhalang kacamata. Tanpa debu pun, mataku memang sudah rusak”, ujarnya lalu menatapku.

“Oppa, apa yang baru saja kau katakan?” ujarku heran melihatnya. Setiap ia putus asa seperti itu, ada rasa sakit di hatiku.

“Itu tidak penting”, ujarnya lalu menatap ke arah sungai.

“Anni Oppa, itu penting. Sangat penting. Taukah Oppa, setiap Oppa putus asa seperti itu, hatiku sakit Oppa, sakit dan teriris” ujarku, perlahan kurasa mataku mulai memanas. Ia menatapku dan mencoba menghapus air mataku.

“Tak perlu kau mengahpusnya Oppa. Untuk apa kau menghapusnya jika kau selalu membuatnya mengalir”, ujarku lalu tertunduk.

“Mianne, Mian karena aku selalu membuat mata indahmu basah. Sekali lagi, Mianne”, ujarnya.

“Oppa, berjanjilah padaku agar kau selalu bersemangat dan jangan pernah putus asa lagi. Arasso?” ujarku lalu menatapnya.

“Ne, arra. Hyun ri, sarange”, ujarnya lalu mengahapus air mataku.

“Nado sarange Oppa”, aku lalu masuk ke dalam pelukannya. Malam ini sangat dingin. Ntah karena memang cuacanya yang dingin atau karena bajuku yang memang tidak mendukung. Yah, dress yang di berikan kibum ini benar – benar membuatku kedinginan. Tapi kini ku rasa hangat, dadanya benar – benar berhasil menghangatkanku. Pelukan ini, pelukan terhangat yang pernah kurasakan.

“Hyun ri…” ujar Kibum. Aku lalu mengangkat kepalaku dan menatapnya.

“Ne Oppa, ada apa?” tanyaku. Ku lihat ia seperti ingin mengatakan sesuatu.

“Anni, tidak jadi”, ujarnya lalu tertunduk.

“Waeyo?” ujarku bingung melihat tingkahnya.

“Tidak, itu tidak penting. Oh ya, apa kamu masih menyukai Key?” tanyanya.

“Anni. Aku tidak menyukainya lagi”, ujarku lalu tersenyum. Ku lihat raut wajahnya berubah.

“Kenapa?” tanyanya.

“Karena aku sudah menyukaimu Oppa”, ujarku.

“Berarti aku sangat beruntung. Aku memang beruntung”, ujarnya lalu menatap bintang.

“Ne Oppa, beruntung, sangat beruntung”, aku ikut menatap bintang bersamanya.

END

Aku menutup lagi kotak itu. Memori  12 tahun silam saatku berada di korea. Ya, betapa bodohnya aku tidak menyadari bahwa kau benar – benar Key, tapi aku bahagia karena aku sempat mencintaimu. Aku sama sekali tak pernah menyangka bahwa hari itu hari terakhir kita bersama. Kau kini telah menyusul Hyung – hyungmu. Selamat tinggal Key, selamat jalan Kibum, aku akan selalu mencintaimu.

Finally end

AN      : Akhirnya di publish juga ni ff ku… Halo aku author baru di sini…. ini ff pertamaku yang di pajang di sini… Ni ff sebagian fiksi sebagian nyata, tapi semoga yang sedih – sedih gak kejadian beneran *curcol. Mian, kalo ffnya ancur baur dan geje. Gak tau kenapa, kalo nulis ff ttu enaknya yang sedih – sedih, jadi berharap banget dapat nguras air mata reader semua,hiks hiks hiks…, ya kalo gak nguras – nguras, minimal pedih pun jadi. Oke *maksa buanget. Koment, kritik, saran *apa sih, lebay deh* nya di tunggu… gumawo reader…

3 responses to “[FREELANCE] I Love Him, cause He is KIBUM – Key SHINee

  1. Ceritanya bagus, chingu.. Jdi dy adalah key kibum , n shinee udah bubar ceritanya, uwa..
    Oia, “dia dan ke 4 hyungnya”, bkannya key tu diurutan ke 3 dalam umur, cz dbwahny key tu minho ma taemin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s