[FREELANCE-Japan Fan Fiction] LIFE (Koike Teppei WAT, Junnosuke Taguchi KAT-TUN)

Title     : Life

Author : Cattleya (twitter :

Cast     : Yui (OC), Koike Teppei (WAT),  Junnosuke Taguchi (KAT-TUN)

Genre  : Romance, Friendship

Rating : PG 13

Length : Oneshot

——————————————————————————————————————————-

***

Aku menundukkan kepalaku, sekolah… entah kenapa seperti mimpi buruk bagiku. Mimpi buruk yang tak pernah berakhir.

Lagi-lagi…

Aku berada di toilet bertuliskan ‘rusak’, terkunci. Atau bisa disebut sengaja dikunci dari luar. Aku memeras bajuku yang basah kuyup karena mereka menyiramku dengan air sisa mengepel lantai. Aku memandang diriku sendiri, sungguh menyedihkan….

***

 “O-ohayo! (P-pagi!)”

“Hem” aku menoleh dan memandangnya malas, dia lagi! Kenapa dia selalu menemukanku dalam keadaan menyedihkan seperti ini?

“Mandi pagi? Tapi tidak seharusnya bajumu basah semua kan?” dia terkekeh geli.

“Kau meledekku hah?”

“Hahaha, kau galak sekali. Tetapi sama sekali tak bisa membalas perbuatan mereka padamu. Ini pakai pakaian olahragaku, kau pasti kedinginan.” Katanya sambil menyerahkan baju olahraganya padaku, dan aku langsung mengambilnya. Kemudian berlari untuk mengganti seragamku yang sudah basah sepenuhnya.

“Sudah?”

“Kau masih menungguku?” aku kaget, karena ternyata dia menungguku berganti pakaian.

“Hehehe, sepertinya aku terlambat masuk kelas. Iko! (ayo!) kalau terlambat bersama tidak akan malu kan?”

“Hem!” Aku mengangguk dan kaget saat dia menggandeng tanganku menuju kelas. Koike Teppei, nama anak yang sedang menggenggam tanganku. Dia tidak bisa dibilang temanku, karena di kelas pun kami tak pernah berinteraksi sama sekali. Dia orang yang ceria dan sangat populer di kelas. Sedang aku, hanyalah gadis pendiam, kutu buku, yang di jauhi bahkan sering di bully oleh teman-temanku sendiri karena aku dianggap aneh.

“Koike…”

“Panggil aku Teppei-kun saja, Yui-chan!”

“Yu-yui Chan?” kaget karena aku baru dipanggil seperti itu oleh seseorang di sekolah ini. Biasanya hanya keluarga dan teman-teman kecilku saja yang memanggilku begitu.

“Kenapa?” tanyanya bingung.

“A-ano.. “

“Kamu tak suka aku panggil Yui-chan?”

“Bu-bukan begitu”

“Ahhh, baiklah mulai sekarang aku panggil kamu Yui-chan, kita berteman yaa” ya ampun wajahnya benar-benar polos, pantas saja dia mudah sekali berteman dan semua orang menyayanginya. Akhirnya aku mengangguk dan memperbolehkannya memanggilku seperti itu. Jujur, dalam hati aku senang sekali mendapat teman sebaik dan seceria Teppei.

***

“Taguchi-kun, ini daftar murid yang akan mengikuti festival sekolah” kataku sambil menyodorkan selembar kertas ke arahnya.

“Arigatou” katanya,  mengambil kertas ditanganku tanpa menoleh ke arah-ku, yah itu sudah biasa terjadi. Lagipula siapa yang peduli? Selalu diacuhkan. Itu sudah makanan sehari-hari untukku. Taguchi, tetanggaku sekaligus sahabat kecilku. Meski dia orang yang pendiam dan kaku, tapi aku tau dia adalah orang yang hangat. Sekarang saja dia mulai berubah saat semua orang di sekolah ini menjauhiku dan menganggapku aneh. Dan tetntu saja setelah dia menjabat sebagai presiden school di Horikoshi Gakuen ini.

            “Sawada” bahkan dia tak lagi memanggil nama kecilku, dia memanggil nama keluargaku.

“Hem?”

“Di festival nanti, kau mau berperan sebagai sadako?”

“Nanii-ka? (Apa?)”

“Setelah mencari-cari, ternyata Cuma kamu yang paling cocok dengan peran itu”

“Taguchi-kun…”

“Baiklah, kau sudah setuju. Kau harus bersiap latihan nanti siang”

“Cho-choto matte! (Tu-tunggu!)” Percuma, dia sudah melangkah pergi dan meninggalkanku. Apa-apaan dia itu? Apa wajahku se-menyeramkan itu?

***

“Busu!!(Jelek!!)”

“Kutabare!(Mati saja kau!)”

“Aho!(Tolol!)”

“Kimoi(Menjijikan)”

Umpatan-umpatan kotor dan kasar yang kuterima setiap harinya, aku menganggapnya hanya sebagai makanan sehari-hari, entahlah aku terlalu angkuh—atau terlalu takut untuk membalas kata-kata mereka. Aku lebih memilih diam dan menganggap kata-kata mereka hanya angin lalu.

“Yui-chan!” Teppei berlari-lari menuju arahku, dia tersenyum saat aku menoleh dan menatapnya datar.

“Aku tak tau kalau kau juga ikut andil di festival itu, hehehe, kudengar kau jadi sadako, benar?” dia terkekeh geli.

“Huh, menurutmu itu lucu?”

“Kyaaa, kaa-waaa-iiii nee (lucunyaaaa)” Orang yang aneh, tidak sadarkah dia? Justru yang lucu itu yaa dia sendiri. Berkata seperti itu dengan gaya yang super imut. Membuat ujung bibirku tergoda untuk tersenyum. Padahal aku terkenal kaku dan tak pernah tersenyum.

“Kau tersenyum! Haha”

“Na-nai! (Ti-tidak!) ah, sudahlah. Mau apa mencariku?”

“Mau pulang bersama?” Tanyanya.

“Aku mau latihan” jawabku singkat.

“Tentu saja setelah latihan, aku juga kan dapat peran di festival itu”

“Eh? Hontou? (benarkah?) Jadi apa?”

“Aku… jadi pohon” Katanya malu-malu.

“Ahahahaha” akhirnya aku tertawa juga. Dia menatapku kaget, seolah aku telah melakukan sesuatu yang sangat aneh, “Eh, gomen ne(maaf)” Aku buru-buru menghentikan tawaku saat dia terus diam dan menatapku aneh.

“Cantik… ternyata kau cantik jika tertawa seperti itu. Hei, teruslah tertawa dan tersenyum… aku suka”

“Eh?”

***

Terlihat hiruk pikuk kesibukan di aula tempat akan diselenggarakannya festival Horikoshi gakuen.  Tapi justru sang bintang utama, Junnosuke Taguchi hanya diam di sudut, mengetuk-ngetukkan pensilnya diatas kertas putih yang sedari tadi masih saja kosong.

“Ano… Taguchi-kun” Sapa ku menghampirinya.

“Hem?” Katanya masih serius dan tak mengalihkan pandangannya dari kertas itu.

“Apakah aku terlihat aneh memakai pakaian ini?” Tanyaku kaku saat mencoba pakaian yang akan dikenakan saat festival nanti—kostum sadako. Padahal dulu aku biasa bermain dan berbicara dengannya. Entahlah aku merasa canggung jika berhadapan dengannya sekarang-sekarang ini.

“Kau meminta pendapatku?” Lagi-lagi, dia selalu saja membalikan pertanyaanku. Apa katanya? Tentu saja! Memang dia pikir sedang apa aku disini? Dan aku hanya diam menatap matanya, sampai akhirnya dia mengalihkan pandangannya dari kertas itu dan mulai memandangku, “Sama saja seperti biasanya, tak ada bedanya” Katanya datar.

“Ah baiklah. Wakateru (Aku mengerti)” Dan aku beranjak meninggalkannya. Dan aku tak mengerti kenapa airmataku tiba-tiba saja mengalir.

“Eh, Sawada” Katanya lagi, dan aku hanya diam dan tak mau membalikan badanku, aku tak ingin dia melihatku menangis. “Tidak jadi…” Lanjutnya.

***

“Yatta!!(Berhasil!!)” Teriak teppei kegirangan saat ia berhasil mendapat poin besar dari game DDR. Dia mengajakku main di game centre sehabis beres-beres di aula tadi. Sebenarnya dari tadi hanya Teppei yang bermain, aku hanya mengekor dan kadang-kadang tersenyum melihat tingkahnya yang kekanakkan.

“Kau lapar?” Tanyanya saat melihat aku yang hanya diam, tanpa berniat ikut bermain dengannya.

“Tidak juga” Jawabku asal.

“Ayo makan! Aku lapar, kau yang traktir”

“Eh? Nande? (Kenapa?)”

“Haha, aku hanya bercanda, aku yang traktir, iko!”

Entah mengapa, berjalan bersamanya terasa begitu menyenangkan. Aku lebih sering tersenyum akhir-akhir ini, meski orang yang membenciku masih saja banyak, tapi aku merasa lebih santai sekarang, karena aku tau ada Teppei disampingku.

Hari ini aku bermain seharian dengannya, ke game centre, ke karaoke, makan, bahkan sempat berfoto bersama, aku terlihat sangat kaku di foto tersebut. Tapi hari ini aku sangat senang bisa bermain bersamanya.

Aku terus tersenyum saat memandang fotoku dengannya, dia menyadarinya dan tertawa jail ke arahku. Terus meledekku karena wajahku berubah merah padam.

***

Aku berlari saat Yori dan teman-temannya mengejarku, aku sudah bertekad tidak akan tertangkap kali ini. Aku segera berlari sebelum Yori sempat mengerjaiku lagi hari ini. Aku sudah berjanji pada Teppei akan melawan atau paling tidak aku harus berlari dan tak membiarkanku dikerjai lagi oleh mereka.

Aku sembunyi di dekat gedung olahraga yang sepi, karena siswa lain sudah memulai pelajaran di kelas masing-masing.

“Huh, aku pasti terlambat lagi” Kataku kesal, dan setelah memastikan mereka sudah berhenti mengejarku, aku beranjak berdiri dari tempat persembunyianku dan melangkah menuju kelasku.

“Baka! (Bodoh!) kau pikir kau bisa lari dari kami hah?” Teriak Yori ke arahku dari atas tangga lantai 2. Dan mereka tertawa.

“Awas!!” Teriak salah satu dari mereka bertepatan dengan sebuah vas bunga yang melewati kepalaku hanya dengan jarak beberapa senti.

“Ah, meleset” Dia berlagak kecewa. Mereka tertawa terbahak-bahak saat melihat wajahku yang sudah benar-benar pucat.

“Kau tak bisa lari lagi…” Kata Yori yang sukses membuatku gemetar ketakutan…

***

Sakit…

Aku berjalan terseok-seok dengan tubuh penuh luka, mereka benar-benar mengerjaiku habis-habisan, tanpa memberiku kesempatan untuk melawan. Aku muak dengan diriku yang lemah ini.  Aku tersenyum miris saat membayangkan apa yang akan dikatakan Teppei saat melihat keadaanku sekarang.

Ngomong-ngomong soal Teppei, aku belum melihatnya hari ini. Entahlah, kupikir aku merindukannya. Aku ingin bertemu dengannya meski reaksinya nanti hanya akan menertawakan penampilanku sekarang. Tapi jelas aku tak bisa ke kelas dengan keadaan seperti ini.

Aku memandang wajahku di depan cermin toilet, tampak sangat menyedihkan. Kemudian buru-buru membasuhnya dan membersihkan luka-lukaku, “Teppei…” Gumamku pelan dan kemudian tersenyum saat membayangkan wajahnya yang sedang tersenyum. Tiba-tiba saja wajahku memanas, aku merasa malu meski tak ada siapapun yang melihatnya, apa aku jatuh cinta pada lelaki bodoh itu?

“Dimana Teppei?” tanyaku saat aku sudah masuk ke kelas. Kelas yang tidak seperti dugaanku, ternyata sangat sepi, hanya ada beberapa gelintir orang di dalamnya dengan wajah sedih. Ada apa ini, apa aku melewatkan sesuatu pagi ini?

“Dimana Teppei?” lagi-lagi aku bertanya pada mereka yang tersisa dan masih saja diam tak menjawab pertanyaanku, membuatku kesal dan beranjak meninggalkan mereka, mungkin sebaiknya aku mencarinya sendiri.

“Sawada… Teppei meninggal tadi pagi…” kata temanku dengan lirih. Apa katanya? Apa katanya? Mereka pasti bercanda, sungguh keterlaluan! Baru kemarin aku bermain dengannya seharian, Jangan bercanda! Aku berlari meninggalkan mereka yang kebingungan, dan mencari Teppei di seluruh gedung Horikoshi Gakuen. Aku terus berlari, bahkan mencari di tempat-tempat yang biasa dilalui Teppei. Dadaku begitu sesak, bukan, bukan karena kelelahan berlari, tapi aku menyadari semua ini percuma, karena aku tak bisa menemukannya dimanapun. Dan tak sadar aku pun menangis di pinggir jalan, meraung-raung seperti orang gila, tak mempedulikan tatapan orang-orang yang memandangku kasihan.

Tidak kusangka ini begitu menyakitkan, lebih perih daripada luka-luka ditubuhku. Kehilangan seseorang yang begitu berarti. Tepat disaat aku mulai menyadari perasaanku yang sesungguhnya.

Aku melangkah melewati pekarangan rumahnya. Setidaknya aku harus memastikan dengan mataku sendiri, mungkin saja ini adalah salah satu rangkaian acara kejutan untuk festival sekolah nanti, mungkin saja ini hanya skenario, dan hanya aku yang tak diberitahu. Jika benar, akting mereka benar-benar bagus.

Tidak ada teriakan ‘surpriseee’ disana, yang ada hanya teriakan kesedihan dan raungan kehilangan. Suara-suara yang begitu menyayat, membuat lututku gemetar dan kakiku melemas. Aku memutuskan untuk berbalik pergi dari sana, kurasa aku takkan sanggup melihatnya. aku berlari dan terus berlari….

***

“Yui, ada yang menjengukmu…” Suara okasan (ibu) yang berteriak dari arah ruang tamu. Aku memang tidak masuk sekolah sejak Teppei meninggal karena kecelakaan saat akan berangkat ke sekolah. Aku mendengarnya dari temanku yang melihat kejadiannya, karena kejadiannya berlangsung di depan halte bus Horikoshi gakuen.

Krek. Suara pintu terbuka dan kepala Taguchi menyembul di baliknya, tersenyum.

“Huh, kupikir kau sakit apa…” Katanya sambil duduk di tepi ranjangku, aku hanya mendengus pelan dan membenamkan wajahku ke buku yang sedang kubaca.

“Ini sudah seminggu sejak kematiannya, bagaimana ya pendapatnya jika ia melihatmu terpuruk dan tidak mau sekolah gara-gara dia?” Katanya santai sambil melihat-lihat isi kamarku, dan matanya melihat sebuah foto kecil di meja belajarku. Foto-ku saat kecil sedang tersenyum bersama lelaki kecil lainnya—Taguchi kecil.

“Kau masih menyimpannya…” Katanya pelan.

“Apa?” Kataku pura-pura tak mendengar, padahal aku tau persis apa yang sedang dibicarakannya.

Dia tak menjawabku, dan mengambil satu foto lainnya di meja itu, fotoku yang sedang tersenyum kaku disamping seorang lelaki yang tersenyum ceria, terlihat sangat kontras dengan ekspresiku yang kaku. Itu foto terakhirku bersama Teppei, itu saat aku kalah main game dan disuruh mentraktirnya untuk foto box, makanya di foto itu aku terlihat kaku dan cemberut.

“Sangat jauh berbeda, padahal dulu kau terlihat manis, tidak seperti di foto ini… kaku” Katanya lagi santai, dan menyimpan kembali foto itu di mejaku.

“Apa kau kemari hanya untuk mengomentari foto-fotoku?” tanyaku sinis ke arahnya.

“Menurutmu?” dia bertanya balik.

“Tidak bisakah sekali saja kau tidak membalikan pertanyaanku?”

“Yui-chan…” seketika aku menegang saat ia memanggilku dengan panggilan kecilku dulu, “Kau banyak berubah” Katanya lagi. Apa katanya? Bukannya dia yang berubah? Dia yang mulai menghindari dan menjauhiku sejak jabatan presiden school disandangnya, bahkan dia membiarkanku dan tak menolongku saat aku di bully oleh teman-temanku.

Aku membuka mulutku untuk protes dan membalikan semua kata-katanya barusan, tapi dia memotongku, “Kau berubah menjadi… jauh lebih cantik, membuatku malu saat berhadapan denganmu dan bingung apa yang harus aku lakukan terhadapmu. Ah, ini sungguh memalukan” katanya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lelucon apa lagi ini?

“Apa kau membenciku?” Katanya lagi.

“Apa?” Tanyaku bingung.

“Ah sudahlah, kapan kau akan kembali ke sekolah? Kau masih memikirkannya? Ibumu bercerita banyak padaku”

“Okasan…?”

“Hem” Dia mengangguk dan tersenyum lembut, “Kembalilah ke sekolah Yui, aku akan menunggumu…” Katanya lagi dan beranjak keluar dari kamarku meninggalkanku yang masih mencerna kata-katanya barusan.

“Taguchi!!” Aku memanggilnya lagi hampir berteriak, dan dia menoleh ke arahku, “Sejak kapan kau mulai memperhatikanku?”

“Sejak dulu…” Katanya santai dan melangkah pergi dari kamarku dan menutup pintunya perlahan.

***

FIN

3 responses to “[FREELANCE-Japan Fan Fiction] LIFE (Koike Teppei WAT, Junnosuke Taguchi KAT-TUN)

  1. Woaaaa..
    Teppei kun T^^T *nangis jambakin wentz #eh.
    Kenapa dia mati sih u.u
    Cerita na keren x) endingna gantung.-.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s