[Lomba FF] You Are My Love (24)


Request         :  no 42

Tittle                : You Are My Love

Main Cast        : Leeteuk, Jung Yoo Jin (OC)

Support cast     : Super Junior member, Super Junior M member

Author             : Radistha

Twitter             : @tha_radistha

Facebook         : Tha Radistha

Genre               : Romance

Length             : Oneshot

Annyeong,,,, Radistha here, mo coba ikutan lomba walaupun masih amatiran. Sebenernya FF ini udah sempet aku publish di blog sendiri (radistha.wordpress.com) dengan judul yang sama n cast yang sama, jadi kalo misalnya ada yang udah sempet baca n nganggap ini FF hasil jiplak, itu gak bener. Ini FF asli aku yang buat dengan keringat dan jerih payah (??).

Semoga reader disini berkenan membaca dan memberi comentar setelah membaca. Kalo ada typo mohon maaf ya, namanya juga manusia penuh dengan khilaf n kesalahan. Dan untuk admin yang udah mau post FF abal ini aku ucapin terima kasih. Haapy reding all,,,, n jangan lupa Like and Commentnya. Kamsahamnida,,,

 

Leeteuk POV,,

Hidup ini rumit dan membingungkan. Disaat aku sedang merasa sangat terpuruk dan membenci jalan hidup yang Tuhan berikan untukku tiba-tiba saja Tuhan mengirimkannya untuk membuatku tersadar jika ternyata Tuhan akan menyiapkan keindahan disetiap akhir dari keterpurukan. Dan saat ini aku sedang merasakannya.

“Oppa, sepertinya kau sangat bahagia. Apa ada hubungannya dengan pekerjaan atau mungkin seorang gadis?” Sara dongsaeng kesayanganku yang merupakan kekasih dari magnae evil kami mulai merecokiku dengan pertanyaan seperti detektifnya.

“Memangnya kenapa kalau aku bahagia? Aku hanya sedang merasa bersemangat saja akhir-akhir ini,” jawabku acuh sambil terus membaca susunan jadwalku untuk seminggu kedepan. Akh, jadwalku cukup padat ternyata, bagaimana caranya aku bisa menemukannya kalau seperti ini?

“Bersemangat? Oppa ingatlah usiamu itu sudah tidak muda lagi, jangan terlalu bersemangat, itu tidak baik untuk kesehatanmu,” ucapnya sambil menatap iba kearahku. Sial. Bagaimana mungkin gadis berwajah polos sepertinya bisa memiliki sifat mengerikan?

Tapi sepertinya yang dikatakan Sara memang benar. Terlalu bersemangat tidak baik untuk kesehatanku. Bukan karena alasan seperti yang dikatakan Sara tapi terlebih karena semangat yang kurasakan bisa membuatku gila secara perlahan kalau tidak bisa menemukannya dalam waktu dekat.

*****

Dua tahun sejak terakhir kali kami bertemu tidak membuat debar jantungku melambat saat kembali menatap wajahnya. Semua yang ada pada dirinya masih tetap sama seperti apa yang ada dalam ingatanku. Mungkin hanya pembawaan dirinya yang sudah berubah, dia terlihat lebih dewasa dan anggun sekarang.

Jung Yoo Jin, seorang gadis yang meninggalkanku karena kesalahanku sendiri. Kesalahan terbesar sepanjang hidupku karena telah menyia-nyiakan gadis sehebat dirinya. Membuatku meratapi kebodohanku hingga hari ini.

Dia adalah alasanku untuk tetap bertahan hingga saat ini, alasanku untuk tetap fokus pada apa yang kuhadapi, alasan untukku selalu bertambah kuat setiap harinya, dialah alasanku tetap berada didunia ini.

Mungkin banyak yang bertanya tentang sosok gadisku ini. Bagaimana mungkin seorang gadis biasa bisa memiliki pengaruh yang begitu kuat untukku? tunggu, siapa yang mengatakan kalau gadisku ini seorang gadis biasa? Dia adalah gadis terhebat yang pernah kukenal. Satu-satunya gadis yang bisa membuatku merasa sangat berarti didunia ini.

Flashback,,,,

Hari ini akhir pekan dan merupakan jadwal libur bagi Super Junior karena sudah hampir selama tiga minggu kami tidak mendapatkan libur karena sedang gencar promosi album kedua kami. Jadi sepertinya hari ini kami bisa istirahat seharian di dorm.

Tapi pagi yang tenang itu tidak bisa bertahan lama karena tiba-tiba saja salah satu manager Super Junior menelponku dan mengatakan kalu hari ini kami harus fitting pakaian untuk pemotretan yang akan dilakukan lusa.

Dengan langkah gontai aku mendatangi dongsaengku satu-satu dan membujuk mereka untuk bersiap-siap. Jangan katakan kalau aku merasa baik-baik saja, hatiku juga sama seperti mereka yang mengeluhkan kegiatan yang mendadak seperti ini.

Sesampainya dibutik yang telah ditentukan kami langsung bersiap-siap untuk melakukan fitting pakaian dan disanalah pertama kali aku melihatnya. Gadis muda yang sangat bersemangat dan energik bergerak kesana-kemari menyiapkan berlusin-lusin potong pakaian untuk dicoba oleh seluruh memberku.

Ketika dia sedang membawa sederet pakaian yang sudah selesai kami coba tiba-tiba saja pakaian yang dibawanya terjatuh dan berhamburan kelantai. Aku yang melihatnya langsung saja membantunya membereskan pakaian yang berantakan itu.

Awalnya dia menolak bantuanku untuk ikut memberskan kekacauan yang dibuatnya tapi karena pakaian itu sangatlah banyak dan tidak mungkin dia membawanya seorang diri akhirnya dia mau untuk kubantu. Hal itu membuatku mengetahui kalau gadis ini adalah gadis yang mendiri dan bertanggung jawab.

“Kamsahamnida Leeteuk-ssi karena telah membantuku membereskan semuanya,” ucapnya sopan sambill membungkukan tubuhnya beberapa kali. Nilainya bertambah dimataku, gadis ini sangat sopan.

“Gwenchanayo. Bukan masalah besar untukku, lagipula aku senang bisa membantumu,” ucapku tulus.

“Baiklah kalau begitu sebaiknya kita kembali ke ruang fitting, mungkin teman-temanmu mencarimu,” ajaknya sambil mempersilahkanku keluar dari ruang penyimpanan pakaian. Sebaiknya kugunakan kesempatan ini sebaik mungkin untuk berkenalan dengan gadis cantik dan baik hati dihadapanku ini.

“Ah, maaf agasshi apa anda salah satu pegawai disini? sepertinya saat beberapa waktu yang lalu kami kemari aku tidak melihatmu disini,” ucapku memecah kesunyian ketika kami berdua menuju ruang fitting.

“Benar, saya mahasiswa magang disini,” ucapnya malu-malu. Ya Tuhan wajahnya cantik sekali.

“Jung Yoo Jin-ssi! darimana saja kau ini? Aku mencarimu sedaritadi,” ucap Mr.Kim pemilik butik ini ketika melihatku dan gadis cantik disebelahku memasuki ruangan fitting.

“Maaf sajangnim. Aku baru dari ruang penyimpanan untuk membereskan pakaian yang selesai difitting barusan,” ucapnya sedikit gugup. Apa mungkin dia takut dengan boss-nya itu. Tapi tunggu dulu, tadi Mr.Kim memanggil namanya bukan? Jung Yoo Jin, nama yang cantik secantik wajah dan sifatnya.

*****

Sejak hari itu kami jadi lebih sering bertemu karena butik Mr.Kim merupakan sponsor bagi pakaian kami dan itu membuatku lebih sering bertemu dengannya karena ternyata dia mengurusi wardrobe untuk Super Junior. Menyenangkan.

Hubungan kami yang asalnya hanya sebatas pekerjaan lama-lama menjadi lebih dekat lagi. Yoo Jin adalah gadis yang sangat menyenangkan, bahkan member Super Junior memanggilnya eomma karena sifat lembut dan keibuannya.

Ketika waktu magang Yoo Jin di butik milik Mr.Kim berakhir kami bersikeras untuk tetap mempertahankan Yoo Jin untuk menjadi coordi kami karena kami sudah sangat nyaman bekerja bersamanya. Bagaimana tidak, hanya Yoo Jin yang mau bekerja merangkap seperti itu. Menjadi seorang coordi dan menjadi pengasuh bagi kami semua.

Sudah hampir satu tahun yoo Jin berada didekatku dan sudah hampir satu tahun juga aku menyimpaan perasaan  cintaku untuknya. Aku masih takut untuk mengungkapkan perasaanku padanya. Aku takut akan membuat hubungan kami menjadi canggung kalau dia tidak menerima cintaku. Jadilah aku berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan perasaanku padanya.

“Kau akan menjadi gila sendiri kalau menyembunyikan semuanya terus-terusan,” Heechul memergokiku ketika aku sedang serius memperhatikan gerak—gerik Yoo Jin yang sedang mengurusi keperluan memberku yang lain.

“Maksudmu?” tanyaku pura-pura tidak mengerti.

“Kau kira kami bodoh dan bisa dikelabui dengan mudahnya? Kami tahu kau menyukainya,” ucap Heechul sambil menunjuk Yoo Jin dengan dagunya. Apa semudah itu mereka mengetahuinya? Apa aku kurang pandai menutupi semuanya.

“Ungkapkanlah perasaanmu sebelum semuanya terlambat. Kau ingin didahului oleh orang lain? Kau yakin tidak akan menyesal?” ucap Heechul misterius.

“Apa maksudmu?” tanyaku penasaran dan Heechul menatapku dengan puas. Sepertinya aku telah masuk keperangkapnya. Sial.

“Teruslah berpura-pura tidak peduli dan kau akan berakhir dengan kekecewaan. Kau pikir hanya kau yang menyukai Yoo Jin, Huh? Kau salah Park Jung Soo-ssi,” ucap Heechul lalu meninggalkanku. Apa maksud dari perkataannya barusan. Apa dia juga menyukai Yoo Jin? Andwee, jangan sampai aku kehilangan gadisku. Aku tidak akan sanggup kehilangannya.

Sudah kuputuskan kalau hari itu juga aku memutuskan untuk menyatakan cintaku karena aku tidak ingin kehilangan satu-satunya wanita yang mampu membuatku tersenyum sepanjang hari hanya dengan memandang wajahnya.

“Akh, lelahnya,” tiba-tiba saja Yoo Jin menhempaskan tubuhnya di sofa disampingku sambil memijat tengkuknya. Wajahnya terlihat lelah dengan selapis keringat membasahi keningnya.

“Apa sangat lelah?” tanyaku sambil menyodorkan sebotol air mineral kearahnya. Dia tersenyum dan mmengambil minuman dariku lalu meneguknya hngga menyisakan setengah.

“Tidak selelah kalian. Tapi setidaknya aku puas dengan pekerjaanku hari ini, hari terakhir memang harus sempurna kan?” ucapnya lesu. Matanya menerawang dan terlihat kecewa. Tadi dia mengatakan hari terakhir? Apa maksudnya dengan hari terakhir?

“Maksudmu? Kenapa kau bilang hari ini hari terakhir? Apa kau berniat meninggalkan kami?” kau akan meninggalkanku? Tidak bisa, ini tidak bisa kubiarkan begitu saja. demi Tuhan aku mulai panik sekarang.

“Aku sudah memutuskan untuk berhenti dan fokus pada kuliahku. Oppa tahu kan kalau aku sudah tingkat akhir dan harus segera menyelesaikan skripsiku?” aku melihatnya tersenyum tapi kenapa senyuman itu terlihat menyakitkan dimataku? Seolah-olah tidak rela untuk berhenti.

“Jin-ah, kau akan meninggalkanku?” ucapku tiba-tiba. Bodoh, bagaimana mungkin aku bicara seperti itu? seolah-olah hanya aku yang akan ditinggalkannya, bukakah masih ada member lain yang juga akan merasa kehilangan? Walaupun mungkin aku yang akan paling merindukannya nanti.

“Aku juga akan merindukan kalian nanti. Aku sudah terbiasa mengasuh kalian semua, mungkin nanti aku akan kesepian karena tidak akan mendengar celotehan dan pertengkaran tidak bermutu kalian, tapi itulah kehidupan, ada yang datang dan ada yang pergi,”

Aku hanya mampu menatapnya sendu. Haruskah kukubur lagi perasanku padanya? Sanggupkah aku menjalani hariku tanpa melihat wajahnya lagi? Bagaimanpun juga selama setahun ii aku bertahan karena kehadirannya disekitarku.

“Jin-ah, jangan tinggalkan aku,” ucapku memohon. Aku bisa melihat kebingungan diwajahnya ketika mendengarku berkata seperti itu.

“Oppa. Kau ini kenapa? Kenapa jadi cengeng seperti itu?” tanyanya bingung.

“Aku hanya tidak ingin kau pergi dari sisiku. Aku tidak ingin kau meninggalkanku. Aku,, Aku,, Aku hanya ingin kau selalu mendampingiku. Kumohon,” ucapku tanpa berfikir. Aku hanya ingin dia tahu betapa pentingnya ia untukku. Betapa aku sangat membutuhkannya untuk tetap berada disampingku.

“Oppa. Aku tidak mengerti,” ucapnya dengan kebingungan yang meningkat.

“Saranghae Jin-ah,” akhirnya. Akhirnya aku mengucapkan mantra cintaku, mengungakapkan perasaan terdalamku. Melupakan ketakutanku akan perasaan tertolak yang menghantuiku.

“Oppa,,,” ucapnya tak mampu berkata-kata. Wajahnya menunjukan kalau ia sangat terkejut dengan perkataanku. Ketidakpercayaan, kebingungan dan keterkejutan menghiasi wajah cantiknya hingga membuatku semakin gemas dibuatnya. Kapan gadisku ini tidak terlihat cantik?

“Kumohon, jangan tinggalkan aku,” aku memohon sambil berlutut dihadapannya. Berusaha agar dia tidak pergi menjauh dari hidupku.

“Babo,,” tiba-tiba saja Yoo Jin tertawa sambil mendorong pelan kepalaku. Yaa! Apa-apaan bocah ini.

“Oppa. Aku bilang aku akan berhenti tapi aku tidak akan pergi selamanya. Aku hanya cuti selama tiga bulan dan nanti aku akan kembali lagi. Jangan berindak bodoh karena mengira aku akan pergi selamanya,” ucapnya sambil tertawa. Apa? hanya cuti tiga bulan? Tapi dia mengataiku bodoh karena mengiranya akan pergi meninggalkanku. Apa dia tidak menganggap serius pernyataan cintaku?

“Tapi aku serius Jin-ah. Aku tidak bertindak bodoh. Aku bersyukur kalau kau hanya cuti dari pekerjaanmu tapi yang kukatakan benar-benar serius,” ucapku sambil menatapnya tajam. Tubuhku yang mesih berlutut dihadapannya yang sedang duduk disofa membuat mata kami sejajar dan memudahkanku melihat ekspresinya.

Aku tahu dia terkejut dengan perkataanku tapi entah kenapa, aku dapat melihat binar kebahagiaan dimatanya. Apa dia merasakan yang sedang kurasakan sekarang. Tuhan, tolong katakan kalau dia juga mencintaiku.

“Oppa, kau benar-benar serius? Kau mencintaiku?” tanyanya memastikan. Aku hanya mengangguk mengiyakan.

“Kenapa lama sekali? Kenapa kau baru mengatakannya sekarang? Kau membuatku menunggu selama hampir setahun. Kau menyebalkan,” ucapannya membuatku benar-benar terkejut. Apa ini artinya dia juga mencintaiku?

“Ne oppa. Naddo Saranghae,” ucapnya kemudian menjelaskan semuanya.

Oh Tuhan, terimakasih karena kau telah mengabulkan semua doaku. Membiarkan gadisku ini tetap berada disampingku.

End Flashback,,,,

Leeteuk POV,,

Mengenang masa laluku dengannya membuatku kembali merasakan bahagia dan sedih disaat yang bersamaan. Dengannya aku melewati hari-hari terindah dan terberatku. Dia ada ketika kami Super Junior memenangkan penghargaan pertama kami, dia juga ada ketika kami menuai sukses dengan album kami bahkan dia ada ketika aku benar-benar terpuruk saat kami kehilangan salah satu member kami. Dia, Jung Yoo Jin adalah orang yang selalu mendampingiku dalam setiap langkahku hingga akhirnya kebodohanku membuatku melepaskan genggaman tangannya ditanganku, meninggalkanku untuk berdiri dan melangkah sendiri.

Terkadang aku berdoa agar aku diberi kesempatan untuk menebus semua kesalahanku waktu itu. Seandainya waktu itu aku tidak egois dan mau sedikit berkompromi dengan hidupku sendiri. Seandainya saja aku mengikuti kata hatiku untuk mengikatnya, menjadikannya milikku. Tapi aku benar-benar tidak memiliki kekuatan untuk itu, aku benar-benar sedang terpuruk ketika dia memberikan pilihan padaku.

Bukankah penyesalah selalu datang belakangan?

Yoo Jin POV,,

Kenapa aku harus bertemu lagi dengan mereka disaat seperti ini? Kenapa project pertamaku setelah kembali ke Korea adalah menangani grup-nya? Apa maksud dari semua ini Tuhan?

“Nunna bogoshippo,” tiba-tiba saja Eunhyuk memelukku dengan erat. Ini memang pertemuan pertama kami setelah dua tahun tidak bertemu. Mereka sudah banyak berubah sekarang, lebih terlihat dewasa dalam penampilan.

“Nunna,,,” tiba-tiba saja tubuhku terhimpit oleh tubuh-tubuh kekar para namja ini. Mereka memelukku dengan erat. Tahukah betapa sesaknya napasku saat Donghae, Siwon, Sungmin, Kyuhyun dan Ryewook ikut memelukku? Kukira aku akan mati karena kehabisan napas.

“Yaa!! Yaa!! Kalian ingin membunuhku. Huh?” teriakku karena mereka tidak kunjung melepaskanku. Baru setelah aku berteriak mereka melepasku. Penilaianku ternyata salah. Mereka masih saja kekanak-kanakan seperti dulu.

“Kalian ini benar-benar menyebalkan. Lihat Zhoumi dan Henry, mereka terlihat sopan tidak seperti kalian yang langsung menyerangku,” ucapku kesal sambil berjalan kearah Zhoumi yang sudah merentangkan tangannya untuk menyambutku dalam pelukannya. Zhoumi memang selalu sopan pada siapa saja.

“Nunna. Lama tidak bertemu, kau semakin cantik saja,” ucapnya sambil tersenyum sangat manis kearahku.

“Whoa. Ternyata kau sudah pintar merayu, huh? Siapa yang mengajarimu menjadi seperti ini?” tanyaku dan hanya dijawab dengan senyum simpul Zhoumi. Aku benar-benar merindukan mereka.

“Nunna tidak mau memelukku?” sebuah suara menginterupsi pikiranku yang mulai berkelana ke beberapa tahun lalu.

“Henry-ah. Kemana pipi tembammu? Kau terlihat lebih tampan sekarang,” ucapku sambil mencubit pipinya. Bocah kecilku sudah terlihat dewasa sekarang.

“Nunna. I miss you so much,” ucapnya sambil memelukku. Tapi tindakannya setelah itu membuatku menarik kembali kata-kataku. Aku merasakan tubuhku terangkat dan diputar-putar sejenak tapi itu cukup membuatku pusing.

“Yaa. Kalian semua ternyata tidak ada yang berubah. Tidak sedikitpun bertambah dewasa,” kesalku ketika mereka semua malah menertawakanku yang merasa pusing akibat ulah Henry tadi.

*****

Aku tahu ini akan menjadi buruk ketika aku diberi perintah untuk melakukan pekerjaan ini. Mengurusi photoshoot untuk album terbaru Super Junior-M. Awalnya aku sempat menolak pekerjaan ini, tapi kedudukanku sebagai orang baru dalam dunia fashion membuatku tidak bisa menolak. Aku tidak boleh melewatkan kesempatan baik seperti ini.

“Nunna. Kenapa tidak memberi kami kabar sama sekali?” Donghae bertanya padaku ketika kami semua sedang berada diruang rias. Dia sudah selesai bersiap dan hanya tinggal menunggu Eunhyuk selesai didandani.

“Semuanya sangat mendadak pada saat itu. Kau tahu sendiri kalau saat itu semuanya sedang tidak berjalan baik,” ucapku lemah. Mengingat saat-saat itu membuatku merasakan kesedihan yang sudah mulai sedikit terlupakan.

“Tapi tahukah nunna kalau setelah nunna pergi semuanya menjadi bertambah buruk,” kali ini Siwon yang bicara. Entah kenapa, tapi mendengar perkataan Siwon membuat kesadaran akan salahnya keputusanku semakin kuat. Seharusnya aku tidak pergi dan meninggalkan mereka.

“Aku tahu. Tapi adakah pilihan lain untukku saat itu? disaat aku harus memilih antara karir yang cemerlang dan cinta yang belum pasti. Aku sendiri sangat sadar akan kesalahan yang telah kuperbuat,” aku berusaha menahan tangisku. Bukankah aku sudah bisa bertahan selama ini? Kenapa aku harus menjadi rapuh lagi ketika aku sudah membulatkan tekadku untuk menghadapi masa laluku?

“Bukan salahmu, seharusnya kami tidak egois saat itu. Seharusnya kami melarangmu pergi, Seharusnya kami mengatakan kalau kami semua membutuhkanmu, eomma,” perkataan Sungmin membuatku menitikkan air mata sambil tersenyum. Aku merasa sedih sekaligus bahagia karena masih ada yang memanggilku eomma. Mereka ini benar-benar,,,

“Sudahlah. Ini hari yang membahagiakan, kenapa malah harus dinodai dengan tangisan? Seharusnya kita merayakannya kan?” tiba-tiba saja Eunhyuk bergabung bersama kami. Ternyata dia sudah selesai bersiap.

“Tumben kau pintar Hyung,” celetuk Kyu yang langsung diamini oleh yang lain sedangkan Eunhyuk cemberut dibuatnya. Mereka ini kapan bisa bertindak wajar dan normal satu sama lain. Menyadari aku bisa menangis dan tertawa bersama mereka membuatku menyadari kalau aku merindukan mereka, merindukan keluargaku.

*****

Proses pengambilan gambar hari ini berlangsung lancar. Mereka sudah terbiasa melakukan hal-hal seperti ini. Kami banyak bercanda hari ini jadi mood kami sangat baik sehingga tidak sulit untuk mendapatkan gambar yang bagus.

“Nunna. Bagaimana jika kita merayakan hari ini dengan makan malam bersama?” Eunhyuk menawarkan untuk makan malam bersama? Apa dia sudah berubah menjadi dermawan?

“Kau mengajakku makan malam? Kau bersedia membayariku makan?” tanyaku tidak percaya sambil memandangi Eunhyuk yang sedang cengengesan.

“Aku mengajak nunna makan tapi biar tuan muda Choi Siwon yang mentraktir kita” ujar Eunhyuk sambil menunjukkan gummy smile-nya,, Dasar, bocah ini tidak berubah sama sekali.

“Yaa. Kau ini seenaknya saja memutuskan sesuatu. Siapa bilang aku mau mentraktimu makan malam? Kau ini terlalu percaya diri Hyuk-ah,” tolak Siwon mentah-mentah.

“Ini demi eomma kita Won-ah, masa kau mau pelit padanya?” dasar Eunhyuk, seharusnya dia berkata seperti itu pada dirinya sendiri.

“Sudahlah. Kalau kalian terus rebut seperti ini lebih baik aku saja yang mentraktir kalian. Otthe?” karena aku tidak ingin ada keributan makanya lebih baik aku saja yang mengalah.

“ANDWEE!!!” mereka semua berteriak serempak. Aku menjadi bingung dibuatnya. Mereka ini sebenarnya mau apa sih?

“Baiklah,, Baiklah,, hari ini aku yang mentraktir kalian makan,” akhirnya Siwon mengalah dan disambut oleh sorakan yang memekakan telinga dari member lainnya. Aku hanya tersenyum melihat tingkah ajaib mereka.

Flashback,,,

“Oppa. Aku tahu ini bukan waktu yang tepat untukku mengatakan ini. Tapi menurutku ini sangat penting bagi mita berdua,” ucapku ketika menemui Soo oppa di dorm-nya.

“Wae Jagi? Apa ini sangat penting? Lebih penting dari masalah yang sedang kuhadapi sekarang?” tanyanya dengan wajah lesu. Aku tahu dia sedang banyak pikiran saat ini. Bayangkan saja, kehilangan salah satu member di depan mata tanpa mengetahuinya sama sekali? Memang bukan hal yang mudah untuk dilalui.

Mendengarnya berkata seperti itu membuatku merasa tidak berharga baginya. Seolah-olah aku tidak penting dihidupnya, tapi aku mencoba mengerti dengan keadaannya sekarang. Maka aku hanya tersenyum merespon perkataannya padaku.

“Ani oppa. Hanya saja ini menyangkut kelangsungan hubungan kita,” aku mencoba memperjelas arah pembicaraan yang kumaksud.

“Memangnya ada apa dengan hubungan kita Jagi? Bukankah kita baik-baik saja?” tanyanya dengan raut wajah bingung.

“Semuana baik oppa. Hanya saja aku ingin meminta kejelasan darimu mengenai hubungan kita. Kita sudah bersama selama hampir dua tahun. Sebenarnya kemana arah hubungan kita ini oppa?” tanyaku ingin memastikan. Aku melihatnya hanya memandangiku dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan. Antara tidak percaya dan menilai keseriusanku untuk membicarakan masalah sensitive ini.

“Ada apa tiba-tiba kau bertanya seperti ini?” tanyanya denga raut wajah bingung yang menjadi-jadi.

“Aku hanya ingin memutuskan arah hidup yang benar untukku,” jawabku.

“Maksudmu apa jagi?” tanyanya semakin tidak mengerti. Baiklah, aku akan mengatakan mengenai keharusanku memilih untuk saat ini.

“Aku ditawari beasiswa ke Eropa untuk melanjutkan pendidikan design-ku dan aku harus secepatnya mengambil keputusan,” jelasku.

“Lalu hubungannya dengan hubungan kita apa Jagi?” tanya Soo oppa bingung.

“Aku hanya ingin memantapkan pilihanku antara memilih pendidikan dan karier atau dirimu,” sebenarnya sulit untuk mengatakan ini tapi aku benar-benar harus memlih, karena jika aku memilih pendidikan dan karier maka aku harus meninggalkannya dan bersedia menetap lama di Eropa untuk bekerja di perusahaan yang memberiku beasiswa tapi jika dia menginginkanku mendampinginya maka aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi pendampingnya.

“Aku,, aku tidak tahu jawabannya untuk saat ini. Hanya saja untuk saat ini tidak ada hal lain yang lebih penting selain Super Junior untukku,” rasanya menyakitkan mendengarnya berkata seperti itu. Dia tidak menjadikanku prioritas pada hidupnya sedangkan aku menjadikannya prioritas dalan pilihan hidupku. Apa selama ini cintaku bertepuk sebalah tangan?

“Baiklah kalau begitu jawabanmu. Sepertinya aku juga memiliki jawabanku sendiri,” ucapku sambil berlalu meninggalkannya. Sepertinya apa yang kucoba pertahankan selama ini sia-sia belaka. Seharusnya aku menyadari jika memiliki kekasih seorang superstar adalah kesalahan untukku. seharusnya sedari dulu aku tidak membiarkannya mengisi hari-hariku.

Keputusanku sudah bulat sekarang. Selamat tinggal Soo oppa,,,,

End Flashback,,,

Yoo Jin POV,,

Hari yang kutakutkan terjadi juga, ketika aku sedang melakukan pemotretan untuk sebuah majalah aku melihatnya. Aku melihat Jung Soo oppa sedang menatapku. Apa yang dilakukannya disini? Kenapa dia bisa ada distudio yang sama dengan studio tempatku bekerja?

Dengan terburu-buru aku meninggalkan studio tempatku bekerja dan menyerahkan semua pekerjaan untuk pemotretan hari ini pada assistenku. Aku harus segera pergi dan menjauh darinya. Aku masih belum ingin bertemu dengannya.

Aku setengah berlari menuju lift. Segera menekan tombol lift untuk mengantarku turun. Berharap Jung Soo oppa tidak menyadari keberadaanku saat ini. Setelah pintu lift terbuka aku langsung masuk kedalamnya dan menekan tombol lantai dasar, tapi sayang sebelum pintu lift tertutup tiba-tiba saja sebuah tangan menghentikan gerakan menutup pintu lift hingga membuatnya terbuka kembali.

Leeteuk POV,,

Aku melihatnya lagi. Ternyata penglihatanku beberapa waktu yang lalu itu tidak salah. Dia memang telah kembali ke Korea, dia terlihat terkejut ketika mendapatiku menatap kearahnya. Apa dia mau menghindariku lagi seperti yang dia lakukan saat aku melihatnya kemarin?

Benar dugaanku. Dia terburu-buru meninggalkan ruangan studio tempatku bertemu dengan salah seorang teman lamaku untuk membicarakan beberapa pekerjaan. Kali ini aku tidak akan membiarkannya menghindar lagi. Banyak yang harus kukatakan padanya. Permintaan maaf dan pejelasan padanya.

Setelah berpamitan pada temanku, aku langsung berlari mengejarnya keluar. Aku sempat bingung untuk mencarinya kemana tapi aku tetap mengejarnya kearah lift. Siapa tahu dia berencana untuk meninggalkan gedung ini.

Aku melihat pintu lift hampir tertutup dan mencoba meraihnya secepat yang kubisa. Setelah pintu yang hampir tertutup itu terbuka aku bisa melihatnya dengan jelas berdiri disana dengan tatapan takut dan terkejut. Apa seenggan itu dia bertemu denganku.

Kuberanikan diriku untuk ikut masuk kedalam lift, hanya ada kami berdua disana. Aku berdiri tepat dihadapannya yang masih menatapku tidak percaya. Bibirnya agak pucat dan tubuhnya mematung dihadapanku. Gadisku takut untuk bertemu denganku?

“Lama tidak bertemu Jin-ah,” ucapku dengan nafas yang masih terengah setelah berlari mengejarnya.

Yoo Jin hanya memandangiku dengan mata yang semakin melebar dan tubuhnya bergerak semakin menjauh dariku, hingga akhirnya tertahan oleh dinding lift dibelakangnya. Kutundukan wajahku untuk mengumpulkan keberanianku untuk meminta maaf padanya.

“Mianhae. Aku sudah sangat benyak menyakitimu,” ucapku setelah berani memandang wajahnya. Ekspresi Yoo Jin masih tetap sama, masih menunjukkan keengganan untuk menatapku.

“Jin-ah. Aku hanya ingin kau tahu kalau aku menyesal melepasmu pergi. Aku tidak bisa hidup dengan baik tanpamu. Aku terlalu mencintaimu dan,,” ucapanku terpotong ketika tiba-tiba lift terhenti dan beberapa orang memasuki lift hingga tubuhku terdorong dan hampir menghimpit tubuh Yoo Jin yang berada dihadapanku.

Tubuh kami yang hampir menempel membuatku merasa sangat ingin meraihnya kedalam pelukanku. Melindunginya dari desakan orang-orang disekitar kami. Aku meletakkan kedua tanganku disamping tubuhnya dan menjaganya agar aman dari desakan sambil menundukan wajahku agar tidak dikenali karena dengan bodohnya aku pergi tanpa menggunakan atribut penyamaranku.

“Kemarilah,” aku sangat terkejut ketika Yoo Jin meraih kepalaku dan menyembunyikannya di bahunya. Melindungiku dari pandangan orang lain yang berada disekitar kami. Caranya sangat berhasil karena orang-orang langsung mengalihkan pandangannya dari kami yang terlihat sangat intim dengan posisi seperti ini. Aku yang seperti memeluk Yoo Jin dan Yoo Jin yang menahan kepalaku dibahunya.

*****

“Gomawo,,” ucap kami bersamaan. Aku tersenyum sedangkan Yoo Jin semakin menundukkan wajahnya masih menghindari tatapanku.

“Kau tidak berubah,” ucapku sambil menatap kearahnya. Merekam setiap gerak geriknya diingatanku mencocokan dengan sedikit memori yang msaih teringat jelas diotakku. Gadis yang berada disampingku ini benar-benar gadis yang kurindukan selama dua tahun terakhir.

“Kudengar kau sudah mulai menjalankan bisnis butikmu sendiri di Seoul?” tanyaku mencoba mengobrol dengannya. Salah satu hal yang kurindukan darinya.

“Hmm,” dia hanya berguman mengiyakan. Aku masih gugup untuk bicara dengannya hingga akhirnya hanya keheningan yang ada diantara kami.

“Kenapa tadi kau menghindariku?” akhirnya pertanyaan itu terlontar juga dari bibirku. Aku melihatnya yang langsung menatap kearahku mencari alasan dari pertanyaanku yang tiba-tiba.

“Kenapa kau mengejarku?” dia berbalik bertanya seperti menantangku untuk mengatakan maksud dari kata-kataku sebenarnya.

“Aku ingin menyelesaikan masalah yang ada diantara kita. Aku ingin menjelaskan semuanya padamu,” ucapku sambil menatapnya. Kukira dia akan menghindari tatapanku lagi tapi ternyata dia masih tetap menatapku seorah-olah aku adalah lawannya.

“Tidak ada masalah diantara kita Jung Soo-ssi,” ucapnya tenang sambil tetap menatapku. Dia memanggilku dengan sapaan formal, membuatku meringis mendengarnya. Apa dia sudah tidak memiliki perasaan padaku?

“Tentu saja ada. Keegoisanku adalah masalah diantara kita. Seandainya aku tidak melepasmu mungkin aku tidak akan merasa kehilangan segalanya. Kau tahu bagaimana rasanya kehilangan keluarga dan cintamu pada saat yang bersamaan? Aku sangat tahu rasa sakitnya seperti apa,” ucapku sambil memandang langit, menatap kegelapan yang terasa familiar dengan hidupku dua tahun terakhir ini.

Yoo Jin POV,,

Berbicara berdua dengannya dalam kondisi apapun tetap membuatku berdebar-debar. Walaupun aku tahu kalau dia tidak akan menyalahkanku tapi rasa bersalahku padanyalah yang membuatku menghindarinya. Aku belum pantas untuk bertemu dengannya. Aku belum bisa mengembalikan kebahagiaannya yang sempat kurenggut dulu.

Menurutku menjaga jarak dengannya adalah tindakan yang tepat untuk saat seperti ini.

“Tidak ada masalah diantara kita Jung Soo-ssi,” ucapku mencoba tenang sambil menatap wajahnya. Wajah yang kurindukan setengah mati tapi harus rela kulepaskan karena kebodohanku.

“Tentu saja ada. Keegoisanku adalah masalah diantara kita. Seandainya aku tidak melepasmu mungkin aku tidak akan merasa kehilangan segalanya. Kau tahu bagaimana rasanya kehilangan keluarga dan cintamu pada saat yang bersamaan? Aku sangat tahu rasa sakitnya seperti apa,” ucapnya lemah sambil menatap kelangit yang ternyata sudah berubah menjadi gelap. Sesakit itukah dampak yang kutimbulkan untuknya? Rasa bersalahku meruntuhkan tembok yang kubangun untuk menghindarinya.

“Biarkan aku menebus kesalahanku dulu. Aku,,, mianhae,” entah bagaimana aku bisa berkata seperti itu. melihat kepedihan diwajahnya membuatku ingin menghapus semua rasa sakitnya. Menggantikannya untuk menerima kesakitannya. Menggantikannya dihukum atas semua penderitaan.

Dia menatap kearahku yang sekarang sedang menangis. Ternyata memang sangat menyakitkan menahan semua perasaan sedih, kecewa dan menyesal seperti ini. Rasanya tubuhku tak mampu lagi menahan rasa sakit yang telah kubuat sendiri hingga akhirnya menyakiti orang yang kucintai juga.

“Bukan salahmu. Ulljima, kumohon jangan menangis. Aku paling tidak bisa melihat wanita menangis, apalagi wanita itu wanita yang sangat kucintai. Jeball, ulljima,” ucapnya sambil menghapus air mataku. Segala pengertiannya semakin membuatku merasa bersalah. Seharusnya dulu aku tidak meninggalkannya.

“Aku yang salah karena tidak memintamu untuk tetap tinggal disampingku. Aku terlalu pengecut untuk mengatakan kalau kau adalah hidupku. Saat itu aku terlalu ingin menunjukkan pada dunia kalau aku adalah menusia yang kuat. Tapi ternyata aku adalah manusia yang rapuh tanpamu Jin-ah,” ucapnya panjang lebar.

Aku tidak bisa menghentikan tangisku. Rasanya terlalu menyakitkan mengetahuinya sangat menderita tanpaku.

“Aku yang mninggalkanmu. Aku yang menyakitimu, aku yang bersalah padamu,” ucapku berkeras. Aku tidak ingin dia menyalahkan dirinya lagi sebagai penyebab berpisahnya kami berdua.

“Kau masih saja keras kepala,” ucapnya tersenyum dan langsung menarikku masuk kedalam pelukannya.

“Seandainya aku menahanmu disisiku pasti kau tidak akan pergi tapi dengan bodohnya aku berpura-pura kuat hingga akhirnya kau memilih jalan hidup yang menurutmu lebih menjanjikan. Kau tidak salah Jin-ah, aku seharusnya menjanjikan hidup yang bahagia padamu bukannya melepasmu,” aku hanya bisa terisak mendengar perkataannya. Entah bagaimana tapi aku merasa kalau Soo oppa juga sebenarnya tidak ingin melepasku.

“Kita perbaiki semuanya dari awal. Aku tidak ingin menjadi orang bodoh untuk kedua kalinya dengan melepasmu disaat sekarang kau sudah ada dihadapanku lagi,” ucapnya setelah melepas pelukannya dan menatap mataku lembut. Tatapan yang meneduhkan dan selalu membuatku berdebar.

“Apa oppa masih mau menerimaku yang sudah pernah meninggalkanmu?” tanyaku tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkannya.

“Bodoh. Seharusnya aku yang bertanyapadamu. Apakah kau masih mau menerimaku yang egois ini? Untuk saat ini aku hanya bisa berjanji kalau kau adalah satu-satunya wanita yang ingin kujadikan tempatku bersandar dan tempatku pulang disaat aku lelah. Mungkin akan merepotkanmu tapi aku hanya menginginkanmu,” aku tersenyum mendengar kata-katanya. Darimana dia belajar kata-kata seperti itu? apa Donghae meracuni roommate-nya ini?

“Oppa. Kau terdengar seperti Donghae,” ucapku sambil tertawa. Aku bisa melihatnya cemberu. Bibirnya yang maju seperti itu terlihat tidak pantas untuk umurnya yang sekarang.

“Aku serius Jin-ah,” rengeknya tidak terima ditertawai olehku. Melihatnya yang manja seperti membuatku semakin ingin menggodanya. Dulu dia yang sering menggodaku tapi sekarang aku ingin menggodanya.

“Akan kupikirkan oppa. Tunggulah beberapa waktu lagi. Aku belum bisa memastikannya sekarang,” ucapku dengan ekspresi yang sengaja kubuat sangat serius. Aku melihat wajahnya berubah serius dan sepertinya berfikir mengenai perkataanku barusan.

“Jangan buat aku menunggu terlalu lama karena aku ingin menikah sebelum wamil. Ingin mengikatmu sebelum aku yang meninggalkanmu nanti,” mendengarnya berkata seperti itu membuatku sangat terkejut. Menikah? Denganku? Sebelum wamil? Apa dia baru saja melamarku?

“Oppa??” tanyaku tidak percaya.

“Aku serius Jin-ah. Maka dari itu jangan buat aku menunggu lama,” ucapnya sangat serius.

“Dasar bodoh. Kalau kau melamarku itu seharusnya kau melakukannya dengan cara yang romantis agar aku tidak menolaknya. Tapi apa yang kau lakukan ini? Tidak ada cincin, tidak ada bunga dan tidak ada lagu romantis,” ucapku sambil memukuli lengannya. Tapi dengan cepat Soo oppa menahan tanganku digenggamannya.

“Untuk apa itu semua kalau sudah ada kau yang sangat sempurna dihadapanku?” ucapnya mulai menggombal lagi. Aku hanya mendesah kesal mendengarnya.

“Lalu bagaimana jawabanmu?” tanyanya lagi sambil menatapku dengan lebih lekat.

“Kita baru bertemu lagi setelah dua tahun berpisah dan kau langsung melamarku? Kau itu terlalu percaya diri oppa,” ucapku mengingatkan.

“Itu bukan masalah selama kita masih saling mencintai,” ucapnya penuh percaya diri. Aku mendengus menanggapinya.

“Kau yang masih mencintaiku belum tentu kan aku masih mencintaimu,” ucapku enteng. Aku bisa melihat matanya melebar mendengar ucapanku.

“Yaa. Kalau kau tidak mencintaiku kau tidak akan mungkin melindungiku di lift tadi dan tidak akan mungkin marah ketika aku melamarmu dengan cara tidak romantis seperti tadi,” ucapnya marah. Aku semakin ingin menggodanya tapi melihatnya yang sangat bersungguh-sungguh membuatku mengurungkan niatku. Bukankah menyelesaikan masalah dengannya dan kembali mendampinginya adalah keinginanku juga. Jadi apa salahnya.

“Sebaiknya kau segera temui orang tuaku sebelum aku merubah pikiranku lagi,” ucapku menggantung. Biar saja dia menabak maksud dari ucapanku.

“Apa hubungannya dengan orang tuamu. Yang kubutuhkan sekarang adalah jawaban darimu bukan orang tuamu,” ucapnya masih belum mengerti maksud pembicaraanku.

“Oke aku tahu kalau semakin tua seseorang maka tingkat berfikirnya akan berkurang tapi aku tidak menyangka bahwa kau juga mulai mengalami gejala seperti itu. Seharusnya kau mengerti apa peran orang tuaku untuk hubungan kita ini,” aku benar-benar dibuat gemas olehnya.

“Ah, kau ingin aku meminta ijin untuk melamarmu pada kedua orang tuamu?” tanyanya bersemangat. Aku hanya mengangguk mengiyakan. Dia tersenyum lebar sekali menunjukan wajah malaikatnya.

“Baiklah. Tapi sebelumnya kau harus kuhukum,” ucapnya kemudian. Aku menatapnya bingung.

“Kau harus membuatkanku makan malam karena tadi berani-benarinya mengataiku tua,” Yaa!! Apa-apaan dia ini. Aku kan hanya berkata jujur.

Enam bulan kemudian,,,,

Leeteuk POV,,

“Oppa batalkan rencana pernikahan kita karena ini sangat memalukan,” ujarnya tiba-tiba. Aku yang baru saja selesai berganti pakaian sangat terkejut melihat gadisku ini sudah berada dihadapanku.

“Wae jagi? Ada apa kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu?” tanyaku bingung.

“Aku benci melihatmu seperti itu. Mana Soo oppa yang kukenal seperti malaikat itu? Mana Soo oppa-ku yang kukenal tidak pernah bertingkah macam-macam? Oppa, kau mengerikan,” aku semakin heran melihatnya berteriak-teriak seperti itu. Keadaan dorm memang sepi tapi aku merasa tidak enak kalau ada member lain yang mendengarnya berteriak-teriak seperti ini.

Kuraih tangannya dan kuajak dia duduk diatas ranjang dikamarku. Memintanya untuk lebih tenang dan menjelaskan padaku apa maksud dari perkataannya itu. Setelah kupikir Yoo Jin mulai tenang ternyata aku salah, dia malah melemparku dengan ponselnya.

“Lihat apa yang kau lakukan? Kau ingin membunuhku perlahan-lahan?” ucapnya dengan penuh emosi. Aku hanya menatapnya bingung lalu beralih menatap ponsel yang berada digenggamanku.

Ah, jadi inikah masalahnya? Kalau ini masalahnya aku memang benar-benar tidak bisa melarangnya marah.

“Oppa puas berpose seperti itu? Dengan pakaian seperti itu? Oppa tidak merasa malu? Oppa tidak sadar umur? Oppa tahu respon orang-orang yang melihat teaser picture oppa  itu? Banyak yang menganggapnya menjijikan!!” ucapnya dengan nada tinggi.

“Jagi ini tuntutan pekerjaan. Aku hanya melakukannya sesuai dengan apa yang harus kulakukan. Tolonglah jangan marah,” ucapku memohon.

“Oppa, aku tidak akan marah padamu jika itu menyangkut pekerjaan. Hanya saja aku tidak suka jika ada orang yang berkata buruk tentangmu. Kau seharusnya menyadari apa yang kau lakukan dan dampak apa yang akan kau terima. Akh, aku menyesal tidak menemanimu saat pemotretan kemarin,” ucapnya dengan nada yang lebih lembut. Ternyata masih mudah membujuknya untuk tidak marah padaku.

“Mianhae Jagi,”

“Ya sudahlah sebaiknya aku pergi sekarang. Masih banyak pekerjaan yang harus kulakukan,” ucapnya sambil beranjak pergi meninggalkanku.

“Yaa. Kau mau kemana? Masa kau datang kesini hanya untuk marah-marah dan meneriakiku saja?” tanyaku ketika melihatnya melangkah keluar kamarku.

Yoo Jin berhenti didepan kamarku dan berkata dengan tenang, “Urusanku denganmu sudah selesai dan sekarang aku akan kembali bekerja.”

“Kau ini kenapa semakin hari semakin acuh padaku. Lama-lama sifatmu menjadi semakin menyebalkan seperti Sara,” ucapku kesal.

“Apa? oppa mengataiku menyebalkan?” tiba-tiba saja Sara sudah berdiri disamping Yoo Jin. Bagaimana mungkin dia bisa ada disini.

“Kalau oppa bingung kenapa aku bisa ada disini, itu karena aku yang mengantar onnie kesini,” ucapnya dengan nada bicara menyeramkan. Bagaimana mungkin gadis kecil sepertinya bisa terlihat menyeramkan.

“Oppa juga mengataiku menyebalkan?” sekarang giliran Yoo Jin yang menyerangku. Akh, mati aku!!

“Bukan seperti itu Jagi. Aku hanya tidak ingin kau semakin acuh padaku, itu menyebalkan,” ucapku agak ngeri membayangkan respon yang akan diberikan kedua gadis dihadapanku.

“Lebih menyebalkan memiliki kekasih sepertimu yang melakukan pose menjijikan dengan pakaian yang bahkan tidak pantas disebut pakaian,” ucapnya sambil berlalu meninggalkanku. Aku bahkan bisa mendengar Sara terkikik mengikuti langkah Yoo Jin, sedangkan aku hanya bisa mendesah pasrah dikatai menjijikan olehnya.

Tuhan, aku terima jika ini memang takdirku memiliki kekasih seperti Yoo Jin. Tapi walau bagaimanapun juga aku masih tetap bersyukur dia marah padaku, itu tandanya dia memperhatikanku. Perhatiannya menunjukkan kalau dia mencintaiku. Hehehehe,,,,

10 responses to “[Lomba FF] You Are My Love (24)

  1. nice,,,
    ternyata leader bisa galau juga gara2 cinta,, demi tanggung jawab sama grup sampe ngorbanin cinta,, tapi untung bisa balikan lagi ma Yoo Jin,,

  2. ​”̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮ ,,,,walopun udah pernah baca tp tetep aja suka pas baca lagi,,,,kerenlah pokoknyaaa,,,intinya cinta tak akan lari kemana,,,,hahahahah,,,teuk dibilang tua,,,tp emang bener sihhh,,,,yoo jin asikkk bgt dehhh,,,dipeluk sm member suju yg lain,,,aku kan jadi iri,,,*plakkkkk* syukurlah akhirnya mereka bs bersatu lagi,,,paling g dgn berpisah mereka jd bs lebih instropeksi diri,,,,ahhh my hae ngajarin kata2 romantis buat uri leader,,,good job haebo,,,,nice ff tha,,,biarpun udh baca tetep keren n bikin semangat bacanyaaaa,,,,,*hug*

  3. ahhhhhhh leader tunduk sama pacar ni..hahahhaha

    mau juga dunk d peluk2 ma oppadeul…kgk pa2dah gw sesak napas… akakakkk…

    suukkkaaa
    DAEBAK lha pokoknya…
    mamtabh jaya

    ^^

  4. walaupu dah pernah d bca, tp tetp seru untk kembali d bca.
    Penyesalan slalu datg blakangan kn teukppa, tp akhr y teukppa bersatu jg dgn jin oennie. Hidup dgn baik n bhagian dgn jin oenni y oppa. Kabari yg lain kalo mau nikah.
    Eonnie tha daebak… Faithing oem.

  5. Penyesalan slalu datg blakangan kn teukppa, tp akhr y teukppa bersatu jg dgn jin oennie. Hidup dgn baik n bhagian dgn jin oenni y oppa. Kabari yg lain kalo mau nikah.
    Eonnie tha daebak… Faithing oen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s