[Korean Fan Fiction] My Little Girl

Cast :

  • Leeteuk (Park Jungsoo)
  • Song Ahrin
  • Park _____ (YOU)

A/N : Annyeonghaseyo… Aku Mira.. Salam kenal ya, warga(?) AFF… ^^ *bener gak tuh nama blognya?* Ini FF debutku… Maaf baru ngepost sekarang, soalnya kemarin2 lagi sibuk sama tugas sekolah. Kekeke~ Ah iya, FF ini pernah juga di post di sini.

Oke, langsung aja di scroll ke bawah…😀

Happy reading! And don’t forget to leave a comment! ^.^

>>><<<

(Jungsoo POV)

“Bayi perempuan. Chukkahamnida.”

Aku mengulurkan kedua lengan pada perawat di depanku untuk menerima tubuh seorang bayi yang baru 30 menit yang lalu terlahir ke dunia ini. Puteriku. “Kamsahamnida.”

Kupandangi wajah bayi itu lekat-lekat, dan aku menyadari sesuatu. Dia amat sangat mirip dengan ibunya. Setiap detail bentuk wajahnya benar-benar tidak ada satu pun yang berbeda. Ahrin pasti senang mengetahui ini.

“Annyeong, ddal-ah…” gumamku pelan. Dia menggeliat pelan dalam balutan selimut lembutnya. Aku tidak bisa menghentikan senyumanku. “Ayo temui ibumu.”

Aku menggendongnya masuk ke dalam sebuah kamar. Senyuman hangat istriku yang masih berbaring langsung menyambut kami. Tanpa mengatakan apapun aku mengangsurkan bayi ini padanya, namun dia tidak langsung menggendongnya, hanya membelai sedikit pipi mungilnya, sambil tetap tersenyum, “Jungsoo appa…” kekehnya pelan, membuatku semakin lebar tersenyum.

“Ahrin eomma.” balasku, dan dia tertawa lagi. “Dia sangat mirip dengan eommanya.”

“Ne.”

“Kamu tidak senang?” tanyaku heran dengan jawabannya yang sedatar itu. Tapi Ahrin tidak menjawab lagi dan hanya tersenyum.

“Aku…” Ahrin menggenggam tanganku, “… sangat ingin mendengarnya memanggilku eomma. Tapi… sepertinya aku tidak bisa… menunggu lebih lama lagi.”

Aku tercekat. Kutatap mata teduhnya dalam-dalam seraya balas menggenggam tangannya. Genggaman tanganku semakin erat ketika aku menemukan kepasrahan pada sorot matanya, “Ahrin-ah…”

“Aku harap… dia tidak seperti aku yang lemah dan sakit-sakitan. Karena itu kamu harus menjaganya dengan baik.”

“Tidak hanya aku yang akan menjaganya, tapi kita. Kita akan membesarkannya bersama.”

“Nan motthaesso (aku tidak bisa). Aku sudah terlalu lelah.”

Tatapanku beralih pada bayi perempuan yang masih tertidur di gendonganku. Kamu terlalu memaksakan diri demi anak ini, Ahrin-ah.

“Aku lelah bukan karena dia.” ujar yeoja yang amat kucintai ini, seolah tahu apa yang aku pikirkan. Dia tersenyum lagi, “Aku hanya ingin, setidaknya memberimu satu kebahagiaan sebelum aku pergi.”

“…” Aku terlalu kalut sampai tidak bisa mengatakan apapun.

“Saranghae, Park Jungsoo.”

Dan tiba saatnya kedua matanya menutup perlahan, namun senyuman itu terus terpatri dengan indah di bibirnya. Pegangan tangannya melemah di tanganku, dan jatuh perlahan ke sisi tubuhnya, menggantung di sisi tempat tidur, diiringi suara melengking panjang yang terdengar memekakan telingaku.

“Ahrin-ah… ireona… Ireona, Song Ahrin! AHRIIIN~!”

Kamu memang memberikan satu kebahagiaan, tapi juga menorehkan satu luka yang amat dalam pada hatiku.

(End of POV)

>>><<<

… 4 years later…

“Appa… ireonayo…” seorang gadis kecil berumur 4 tahun melompat kecil memanjat tempat tidur dimana seorang pria masih berbaring di atasnya. Gadis kecil itu mengusap pelan rambut pria yang disebutnya appa, kemudian mencium pipinya sekilas, “Appa~ ireonayo…”

“Appa masih mengantuk, _____-ah. Jangan ganggu appa.”

_____ menggembungkan pipinya dengan kesal. Padahal hari ini saja dia ingin ayahnya yang mengantarnya ke sekolah, bukan baby sitternya seperti biasa. Tapi melihat wajah tampan yang masih terpejam itu, dia mengerti kalau appanya itu sangat lelah. Karena itu _____ turun dari tempat tidur dengan perlahan setelah sebelumnya menepuk pelan pipi sang appa.

Setelah mendengar suara pintu kamar yang menutup, Jungsoo membuka matanya secara perlahan, kemudian menghela napas dalam dan bangun dari tidurnya. Selama ini dia memang sengaja menghindari berlama-lama bersama _____, putrinya sendiri, karena dia selalu teringat Ahrin setiap menatap wajah _____. Karena itu Jungsoo menyerahkan _____ untuk diurus pembantu rumah tangganya, sementara dia sendiri menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Hampir setiap hari dia berangkat pagi dan pulang ke rumah setelah lewat tengah malam, sehingga meminimalisir waktu pertemuannya dengan _____, dan berarti juga membuatnya lebih jarang teringat Ahrin.

>>><<<

… 2 years later…

Tidak seperti biasanya, kali ini _____ menangis keras ketika Jungsoo menolaknya untuk sarapan bersama, “Appa, ireonaaa! Tidak bisakah *hiks* sekali saja kita sarapan bersama? *hiks* Aku ingin appa menyuapiku makan *hiks* seperti yang dilakukan *hiks* orang tua teman-temanku. Appaaa! *hiks* APPAA~”

“DIAM!!”

_____ terlonjak mendengar Jungsoo membentaknya. Tangisannya terhenti seketika, “Appa… *hiks*”—tapi hanya sebentar, dan setelah itu dia kembali menangis, dan kali ini lebih keras, “AAAPPAAA~! HUHU~ APPAAA~”

“Keluar!” bentak Jungsoo lagi, namun tidak sekeras tadi. Dia sadar dia tidak bisa seenaknya membentak anak kecil, apalagi hanya karena masalah sepele seperti ini.

Tapi _____ tetap di tempatnya, sambil tetap menangis. Dengan suara yang kembali meningkat, Jungsoo berteriak memanggil pembantu rumah tangganya untuk membawa gadis kecil itu keluar dari kamarnya.

>>><<<

Jungsoo mendudukkan dirinya di samping tempat tidur _____, menatap wajah anaknya yang sedang tertidur itu dengan tatapan sendu. Dia teringat perkataan guru _____ tadi siang.

“Mungkin dia mengalami shock dan takut yang sedikit berlebihan, sehingga membuatnya terlihat murung sekaligus kasar terhadap teman-teman sebayanya akhir-akhir ini. Apakah ada masalah di rumah anda, Pak? Atau ada yang membuatnya takut? Mungkin karena itu dia jadi seperti ini. Sebaiknya jangan dibiarkan, saya khawatir hal ini terus berkelanjutan dan jadi serius.”

“Mianhae, _____-ah.” Ucap Jungsoo lirih, lalu mengelus pelan pipi _____ yang terasa panas karena memang dia sedang demam (Jungsoo tahu dari pengasuhnya). Pria itu merasa bersalah karena akhir-akhir ini memang dia selalu meledak-ledak tanpa kendali di depan _____. Dia yakin _____ takut padanya yang sedang marah.

Tidak ingin berlama-lama memperhatikan wajah _____ yang mulai membuatnya kembali mengingat Ahrin, Jungsoo bangkit berdiri dan melepas jas kerjanya, lalu menyampirkannya di kursi belajar _____. Dia tertegun sesaat begitu melihat beberapa lembar kertas yang terletak di atas meja belajar tersebut.

Di kertas yang paling atas, Jungsoo melihat gambar seorang gadis kecil yang berdiri berdampingan dengan seorang pria dan saling tersenyum. Dan di bawah gambar si pria, tertulis ‘Jungsoo appa’ dengan crayon berwarna hijau lumut. Selain itu, di dalam awan kecil di atas kepala si gadis kecil, juga tertulis, ‘Nae appa ga joheun saramiya…^^’. (Appaku orang yang baik)

Jungsoo tersenyum miris, tapi kemudian dia melihat kertas berikutnya yang terletak di bawah kertas tadi. Dia agak terkejut melihat gambar yang tertera di sana. Tidak jauh berbeda dengan gambar di lembaran tadi, tapi di sana, di tengah gambar si gadis kecil dan juga si pria, terdapat sosok seorang wanita yang—sepertinya sengaja—tidak diwarnai, sehingga seluruh tubuhnya hanya berwarna putih dan ada sebuah lingkaran semacam cincin di atas kepala si wanita yang juga sedang tersenyum itu.

Di bawah gambar-gambar itu, Jungsoo membaca tulisan yang ditulis dengan crayon bermacam warna, ‘Kami tetap keluarga yang bahagia meskipun eomma sudah pergi. Eomma, gomawoyo. Karenamu aku bisa hidup dengan appa.^^’

Jungsoo merenung lama di tempatnya berdiri saat ini. Merenung betapa bodoh dan egoisnya dirinya selama ini. Yang dia pikirkan hanya bagaimana cara agar dia bisa melupakan bayangan Ahrin, sementara perkembangan anaknya sendiri tidak diperhatikannya dengan baik. Betapa sangat bodohnya dia selama ini, menjadikan Ahrin sebagai alasan untuk tidak dekat dengan _____. Dan benar-benar bodohnya dia selama ini, karena baru sekarang dia mengerti bagaimana perasaan gadis kecilnya.

“Baiklah, appa akan menjagamu dengan sangat baik mulai saat ini.”

Tidak peduli hal itu akan membuatku tidak bisa melupakan ibumu atau tidak.

>>><<<

Jungsoo memang sungguh-sungguh dengan tekadnya, terbukti dari dia yang dengan senang hati menyuapi _____ dengan bubur keesokan harinya, dan bahkan seharian itu dia tidak berangkat ke kantor demi menjaga _____ yang masih sakit.

_____ tentu saja merasa senang dengan hal itu, meskipun dia terlihat masih sedikit takut, karena dia pikir mungkin bisa-bisa saja Jungsoo membentaknya lagi secara tiba-tiba. Tapi melihat Jungsoo yang terus tersenyum padanya dan tidak pernah membentaknya, bahkan tertawa bersamanya saat mereka menonton siaran kartun di televisi, _____ tidak lagi merasakan takut, tidak sama sekali.

>>><<<

“Aigoo~ mayday, mayday, pesawat akan segera jatuh! Kami kehilangan bahan bakar, sementara di depan ada lubang hitam! Oh tidak! Kami tersedot masuk!”

“Aaaa~” _____ membuka mulutnya lebar-lebar dan melahap sesendok makanan terakhir yang disodorkan Jungsoo padanya. Kemudian mereka tertawa bersamaan. “Nyam~ nyam~ aku kenyang…” ucap _____ riang, setelah menghabiskan segelas susu cokelat hangatnya.

Jungsoo mengusap pelan kepala _____, “Sudah kenyang? Kalau begitu… ayo berangkat!” katanya.

“Kajja~!”

Sekarang Jungsoo selalu mengantar _____ ke sekolahnya setiap hari. Memang tempat sekolah _____ dan kantor tempatnya bekerja tidak searah, tapi Jungsoo selalu berusaha menyempatkan diri menjemput juga puterinya itu dari sekolahnya, bahkan juga menyempatkan diri makan siang bersama di sebuah restoran.

Dan tanpa Jungsoo sadari, tumbuh perasaan lain dalam hatinya.

>>><<<

Tahun demi tahun berlalu, dan _____ tumbuh dengan sangat baik, dia mulai menginjak masa remaja yang tidak ingin lagi disebut anak kecil namun malah lebih manja dari saat dia masih balita.

Tiba-tiba, di suatu pagi yang cerah…

“APPAAAAA! APPAAA! AAAA-APPAAA~!”

Jungsoo melompat turun dari tempat tidurnya dan dengan tergesa berlari memasuki kamar _____, tempat teriakan putrinya itu berasal. Jungsoo menggedor pintu kamar mandinya sambil berseru, “_____-ah, waeirae?”

“Appaaa! Eotteokhae?!” isak _____ dari dalam kamar mandi, membuat Jungsoo semakin khawatir.

“Buka pintunya, _____-ah!”

Terdengar suara kunci yang terputar, lalu pintu pun terbuka dengan perlahan. _____ menyembulkan kepalanya dari dalam. Wajahnya memerah, penuh dengan air mata, “Appa… aku berdarah. Eotteokhae?”

“Mwo?!” seru Jungsoo terkejut. _____ membuka pintu dengan lebih lebar, kemudian mengarahkan telunjuknya ke dalam, tepatnya ke sesuatu yang tergeletak di atas kloset. Jungsoo mendekati benda itu, memegangnya dan menelitinya sambil mengernyitkan dahi.

“Eotteokhae, appa?! Aku akan segera mati~!”

“Waegeuraeyo?” seorang wanita paruh baya yang dulu mengasuh _____ muncul dan menatap _____ dengan cemas karena gadis itu masih menangis, lalu mengintip ke dalam kamar mandi, melihat Jungsoo yang entah sedang melakukan apa.

“Eommoni… Ada darah di celana dalamku.😦 *hiks*”

“Berdarah? Jjankkam. Apa yang kamu rasakan?”

“Itu dia. Padahal aku tidak merasakan apa-apa eommoni. Tapi kenapa bisa berdarah? Hiks~”

Wanita yang disebutnya eommoni itu tersenyum, “Gwaenchana, _____-ah. Itu hanya menstruasi. Kamu sedang dalam masa puber, sudah saatnya mengalami itu.”

“Eh?” tangisan _____ terhenti seketika. Sementara Jungsoo yang mendengarkan itu dari dalam kamar mandi dengan refleks menjatuhkan benda yang dipegangnya, yang tidak lain adalah celana dalam _____. Dan setelah itu dia terjengkang ke belakang. (.__.)

*

Meskipun _____ semakin terlihat persis seperti Ahrin, dari wajah maupun sifat dan sikapnya, Jungsoo justru semakin lebih jarang teringat akan Ahrin ketika melihat sang puteri. Dan seiring berjalannya waktu, Jungsoo akhirnya menyadari bahwa dia merasakan suatu perasaan lain pada _____, dan dia tahu itu bukan lagi perasaan cinta seorang ayah pada anaknya, bukan juga perasaan cinta karena _____ cerminan Ahrin, tapi perasaan cinta dari seorang pria terhadap wanita, dan Jungsoo membenci perasaan itu, karena memang tidak boleh ada perasaan semacam itu di antara orang yang memiliki hubungan darah seperti mereka, bukan?

Malam ini mereka tengah duduk-duduk di ruang keluarga sembari melihat-lihat album foto Jungsoo dan Ahrin. Berkali-kali _____ berkomentar tentang kemiripan dirinya dengan ibunya, “Aku seperti melihat diriku sendiri.” katanya sambil menunjuk sebuah foto dimana Ahrin tengah bermain dengan anak anjing. “Neomu yeppeo.”

“Keureom.” Jungsoo mengusak rambut _____ pelan.

“Ah~ appa! Berapa umurmu saat kalian mengambil gambar ini?” kali ini gadis berumur 16 tahun itu menunjuk foto selca Jungsoo dan Ahrin di sebuah kapal pesiar.

“22?” jawab Jungsoo agak ragu.

“O-jinjjayo?! Sekarang umurmu 38 tahun, tapi wajahmu tetap seperti di foto ini! Oh, well, kecuali rambutmu yang sudah banyak ubannya (=..=)”

Jungsoo tergelak mendengar perkataan gadis kecilnya, “Benarkah?”

“Ne. Appa tetap tampan.” Kata _____ lagi dengan tersipu.

>>><<<

“Appa… dengan melihat bintang di malam hari seperti yang kita lakukan sekarang… apakah… appa merindukan eomma?”

“Keureom. Dan selain karena melihat bintang, karena kamu juga appa selalu teringat pada eommamu.”

“Karena aku mirip dengan eomma?”

“Mm~”

Tapi sekarang tidak lagi. Aku melihatmu sebagai dirimu sendiri.

“Keundae, appa… Aku juga selalu bercermin jika merindukan eomma, menatap bayanganku sendiri lekat-lekat. Dan dengan begitu, aku bisa merasakan kehadiran eomma di sisiku.”

“Dia akan selalu ada di sisimu.”

“Aku percaya, kok. Appa juga, kan?” _____ menatap Jungsoo, dan Jungsoo melakukan hal yang sama.

“Pasti. Appa akan selalu bersamamu.” Jungsoo tersenyum, dan kemudian terpaku menatap manik mata _____. Jantungnya berdetak berkali-kali lebih cepat, dan dia memaki dirinya sendiri ketika beberapa saat kemudian merasakan bibirnya menyentuh bibir _____. Gadis itu membelalakkan matanya, dan Jungsoo segera menarik diri sambil menampar wajahnya secara mentalisasi.

Sejenak hening…

“Sudah terlalu malam, _____. Tidurlah.”

Tanpa mengatakan apapun _____ berdiri dari duduknya dan berlari kecil memasuki rumahnya. Dia sangat terkejut dan butuh waktu yang lebih lama untuk mencerna apa yang baru saja terjadi.

Sementara Jungsoo kembali merutuki dirinya, dia mendongak menatap langit malam yang penuh dengan bintang-bintang, lalu menghela napas panjang, “Ahrin-ah… nan eotteokhae?”

>>><<<

PLAKK!!

Jungsoo melemparkan pena yang baru saja digunakannya ke atas meja kerjanya sendiri. Dengan kedua telapak tangannya, dia mengusap wajah lelah bercampur kesal dan juga frustasinya itu seraya mengerang pelan.

Jungsoo tahu perasaannya pada _____ semakin besar, dan dia tahu dia tetap harus membunuh perasaan itu meskipun secara perlahan dia sendiri mulai menikmatinya. Dan sebenarnya dia sudah membuat sebuah keputusan. Keputusan terekstrim yang pernah dipilihnya seumur hidupnya. Keputusan terkejam yang pernah diambilnya selama hidupnya. Keputusan yang sudah pasti akan membuat satu-satunya orang yang sangat dicintainya berbalik membencinya. Tapi memang itulah yang harus dia pilih. Dia harus sangat egois *lagi*, daripada perasaan itu berkembang berkali-kali lipat lebih besar.

Jungsoo memusatkan perhatiannya pada sebuah frame foto yang terletak di atas meja kerjanya itu, “Ahrin-ah, kuharap kamu tidak akan membenciku juga karena aku mengambil tindakan ini. Mianhae.”

>>><<<

“Park _____! Gawat! Cepat bereskan barang-barangmu ke dalam koper ini sebelum kita terlambat!” Jungsoo berlari-lari kecil ke dalam kamar _____ dengan sebuah koper di tangannya. Dia meletakkan koper itu begitu saja di atas tempat tidur _____, lalu berlari kecil lagi ke sebuah lemari dan mengeluarkan baju-baju _____ dan melemparkannya dengan sembarangan juga ke atas tempat tidur _____. Sementara _____ yang baru saja bangun dari tidurnya mengerjap berkali-kali, berusaha mengumpulkan kembali kesadarannnya.

“Park _____!! Cepat sadar dan bereskan baju-bajumu! Cepat!”

“Waegeurae, appa?”

“Kita harus segera pergi! Cepat bersiap-siap kubilang!! Jangan lebih dari 30 menit!” seru Jungsoo, kemudian berlari keluar dari kamar _____ dan memasuki kamarnya sendiri untuk juga bersiap-siap.

_____ masih mengerjap-ngerjapkan matanya dengan bingung, tapi begitu mengingat kata ‘gawat’ yang tadi sempat diucapkan Jungsoo dengan nada panik, dia segera melompat dari tempat tidurnya, menyambar bathrobe-nya dan segera mandi.

>>><<<

“PARIS?!” _____ berseru nyaring saat melihat tiket pesawat yang mereka beli. Orang-orang yang berada di sekitarnya menatapnya dengan heran, tapi _____ terlihat sama sekali tidak memedulikan itu, “Appa! Apa yang akan kita lakukan di Paris? Dan kenapa kita harus ke Paris?”

“Emm~ boleh dikatakan… liburan sekaligus… hadiah ulang tahun?”

_____ segera menutup mulutnya yang sontak menganga, “Saengil… seonmul?”

Jungsoo mengangguk dan tertawa sebentar, “Bukankah hari ulang tahunmu sudah kurang dari 3 hari lagi?”

“Appa…” gumam _____ masih kurang percaya. Dia memang sudah ingin ke ‘kota impian’ itu sejak lama, dan belum lama ini dia mengatakan keinginannya itu pada Jungsoo.

“Sudahlah. Kajja, kita harus segera check in.” Jungsoo merangkul bahu _____ dan berjalan ke arah gerbang keberangkatan.

“Keundae, hanya karena ini pagi-pagi sekali appa sudah menyuruhku cepat-cepat membereskan baju-bajuku? Bukan karena ada bahaya yang mengancam kita?!” seru _____ tiba-tiba tersadar.

“Ehehe~ kejutan…”

“APPA!!”

Jeongmal mianhae, ddal-ah…

>>><<<

“Paris. Aku sedang berada di Paris. Appa, apa aku sedang bermimpi? AAAW! APPA! Kenapa mencubitku?!” seru _____ saat mereka sudah keluar dari bendara

“Sakit, kan? Kamu sedang tidak bermimpi. Ayo, kita cari hotel dulu.” Ucap Jungsoo dengan sangat santai. Dia kemudian melangkah lebar ke pinggir jalan untuk menyetop taksi sambil menarik kopernya.

“A-appa! Jamkkanman!” _____ yang masih setengah terkagum-kagum berlari-lari kecil menyusul ayahnya itu.

>>><<<

“Appa payah.” Ejek _____ saat mereka sudah sampai di hotel tujuan dan turun dari taksi yang mereka tumpangi. Jungsoo hanya nyengir sambil membuat pose peace, tapi juga menjitak pelan kepala _____.

Jungsoo tidak tahu kalau _____ menguasai bahasa asing seperti bahasa negara yang saat ini mereka kunjungi, meskipun belum terlalu fasih. Jungsoo baru tahu saat _____ mengobrol dengan supir taksi tadi dengan bahasa Perancis, yang sejenak membuat Jungsoo merasa menjadi orang bodoh di tengah mereka. Tapi dia juga merasa lega karenanya. Sepertinya _____ mempelajari sendiri bahasa asing itu.

“Saat memesan kamar nanti, kamu saja yang bicara dengan resepsionistnya, ya?”

_____ mencebikkan bibirnya setelah mendengar perkataan ayahnya itu, tapi kemudian mengangguk semangat.

>>><<<

“Wah~ pemandangannya terlihat lebih indah dari atas sini.” gumam _____ yang sedang berdiri di balkon kamar hotel yang mereka tempati.

Jungsoo merangkul bahunya dari samping, “Kamu senang?”

“Keureom! Appa, gomawo!” pekik _____ sembari memeluk Jungsoo. Pria itu mencium puncak kepala _____ dan mengusapnya lembut. “Appa yang terbaik.”

Jungsoo tersenyum lagi, menampakan lesung pipinya yang menawan. Namun diam-diam, di saat yang bersamaan dia juga menelan ludahnya dengan berat.

Jeongmal mianhae, nae ddal.

>>><<<

Esoknya mereka bersenang-senang mengunjungi berbagai tempat indah di kota itu, sampai seharian penuh. Berfoto bersama di setiap tempat, walaupun Jungsoo tahu itu hanya akan jadi kenangan saja.

*

…Eiffel Tower…

Mereka—Jungsoo dan _____—sengaja pergi ke menara Eiffel di penghujung hari itu untuk merayakan ulangtahun _____. Dan kini mereka sedang duduk-duduk di dekat menara tersebut.

“Make a wish~” seru Jungsoo sambil membawa sebuah kue tart berukuran sedang yang terdapat lilin berbentuk 17 di atasnya.

_____ tersenyum, memejamkan matanya dan berujar dalam hati, “Tuhan, terimakasih telah mengabulkan keinginanku. Permohonanku kali ini, mohon wujudkanlah segala keinginan appa.”

>>><<<

“Appa, apa appa menyayangiku?” tanya _____ tiba-tiba, saat keduanya sedang berbaring di atas tempat tidur dengan posisi Jungsoo memeluk _____.

“Hm? Kenapa bertanya seperti itu?” respon Jungsoo agak terkejut.

“Ani, aku hanya ingin mendengar appa mengatakannya dengan jujur dan tulus dari hati. Aku takut ternyata appa menyayangiku karena aku sangat mirip dengan eomma.”

Kali ini Jungsoo benar-benar terhenyak. Tapi segera kembali menguasai perasaannya, “Ani, appa sangat… mencintaimu, sebagai dirimu sendiri. Kamu bisa mendengar detak jantung appa?”

“Ne. Cepat sekali.” Kata _____ pelan.

Jungsoo menghela napas, “Aku benar-benar mencintaimu, Park _____. Dan benar-benar tulus dari hatiku.” Ucapnya, memang benar-benar dari dasar hatinya. Tapi dia tidak ingin _____ menangkap maksud sebenarnya dari perkataannya, bahwa dia mencintai _____ sebagai pria pada wanita.

Jibyung terkekeh, “Baiklah, aku percaya.”

Dan Jungsoo berusaha menahan air matanya yang nyaris menetes. Dan untungnya cahaya yang temaram membuat _____ yang sempat mendongak tidak melihat air matanya.

“Kalau begitu appa tidak boleh meninggalkanku. Aku juga… mencintai appa. Mencintai appa sebagai… cinta pertamaku.”

“A-apa… maksudmu?” desis Jungsoo seraya melepaskan pelukannya pada _____ dan menjaga jarak dengan gadis itu.

“Aku tidak tahu bagaimana, tapi aku… benar-benar mencintai appa, seperti appa mencintaiku.”

Jungsoo tercekat, “Ka-kamu… tahu?”

_____ tersenyum manis, “Arayo.”

Dengan tiba-tiba Jungsoo bangkit menjadi duduk dan berkata pelan tanpa menatap _____, “Andwae.”

“?”

“Kamu tidak boleh merasakan hal seperti itu. Kamu… anak kandungku, _____-ah. Kita mempunyai hubungan darah.”

“Waeyo, appa? Apakah itu salah? Dan bagaimana denganmu? Bukankah appa juga merasakan hal yang sama?”

“Andwae! Pokoknya kamu harus menghilangkah perasaanmu itu. Kalau perlu, benci saja aku.”

“Appa…”

Jungsoo berdiri dan beranjak dari kamar itu menuju ruang tengah. Sementara _____ masih terpaku di tempatnya. Dan karena pernyataan _____ itu, Jungsoo semakin yakin bahwa keputusan yang akan diambilnya tidak salah. Dia harus terlihat membenci _____ agar anaknya itu juga bisa lebih mudah membencinya.

>>><<<

3 AM…

Jungsoo menatap lekat wajah _____ yang masih tertidur dengan damai—selama beberapa menit, hingga tanpa sadar dia menangis dalam diam. Dia mendekatkan tubuhnya perlahan pada _____, mendekatkan wajahnya hingga dia bisa merasakan hembusan napas _____ yang teratur menerpa dagunya. Dan sebelum keyakinannya goyah lagi, Jungsoo mencium kening _____ lama. Air matanya mengalir perlahan melalui pipinya dan menetes di atas pipi _____.

“Annyeong, ddal-ah. Jaga dirimu baik-baik. Mianhae, tapi kamu harus membenci appa.”

>>><<<

“Appa!” _____ memperhatikan setiap sudut dapur, namun tidak melihat orang yang dicarinya di sana. “Appa, eodisso?”

“…”

“Appa!!” kali ini _____ membuka pintu kamar mandi, tapi juga nihil. Tidak ada Jungsoo juga di sana. “Appa!” panggilnya lagi, namun tetap tidak mendapat jawaban. _____ menyambar handphonenya, menekan tombol angka 1 dengan agak lama, yang langsung menyambungkannya pada nomor Jungsoo.

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau—”

PIP!

“Ck~ sebenarnya kemana appa?”

Baru saja _____ memutuskan untuk menunggu sebentar, karena dia berpikir siapa tahu ayahnya sedang berjalan-jalan di luar, dia baru menyadari sesuatu saat selesai mandi. Tas yang kemarin dibawa Jungsoo sekarang tidak ada di kamar itu. Padahal tadi malam benda itu terletak di atas koper yang juga mereka bawa kemarin.

Dengan agak kalut karena berbagai pikiran negatif sudah berlarian begitu saja di pikirannya, _____ mengambil pakaiannya secara serabutan dan juga memakainya dengan tergesa-gesa. Bahkan dia tidak sempat menyisir rambut panjangnya sebelum berlari keluar. Yang pertama kali dilakukannya adalah bertanya pada resepsionis hotel yang mereka tempati. Dengan bahasa Perancis yang dikuasainya, dia menyebutkan ciri-ciri Jungsoo dan menanyakan apakah petugas resepsionis itu melihatnya atau tidak.

Dan _____ hampir saja kehilangan harapannya melihat petugas resepsionis itu menggelengkan kepala. Tapi kemudian dia berlari lagi keluar dari lobby hotel, memutuskan untuk mencari Jungsoo di tempat-tempat yang sempat mereka kunjungi kemarin.

Namun sayangnya tidak ada hasil apa-apa, bahkan hingga malam menjelang, _____ tetap tidak menemukan Jungsoo dimanapun. Dengan langkah yang sudah sedikit diseret, dia terduduk di tempat dimana mereka merayakan ulang tahunnya kemarin, di dekat menara Eiffel.

“Appa…” ucapnya dengan suara serak. Dia sudah menangis sejak beberapa jam yang lalu, dan saat ini pun air mata masih mengalir membasahi pipinya. Mata dan hidungnya sudah memerah dan rambutnya berantakan sama sekali.

Appa meninggalkanku…

>>><<<

…5 years later…

Jungsoo berdecak melihat sebuah mobil Porsche hitam di belakangnya yang terus mengikuti laju mobilnya kemana pun. Dia berbelok ke kanan, mobil itu melakukan hal yang sama. Dan saat dia membanting setir ke kiri, dan mobil itu juga melakukan hal yang sama.

Hingga akhirnya mobil itu melaju dengan lebih kencang hingga sekarang posisinya sejajar dengan mobil Jungsoo. Karena itu Jungsoo bisa melihat siapa yang mengemudikan mobil tersebut. Dan dia benar-benar tercekat begitu menyadari siapa itu.

Seorang gadis berambut pendek seleher dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, menutupi kedua matanya. Jungsoo tahu, itu wajah perempuan yang selalu mengisi kehidupannya selama ini. Wajah dua orang perempuan yang berbeda. Dan wajah itu… menyeringai, ekspresi yang tidak pernah Jungsoo lihat sama sekali.

“_____…”

Dengan masih tetap menyeringai, gadis itu menunjuk ke arah depan. Jungsoo mengikuti arah yang ditunjuknya, dan matanya langsung membelalak begitu melihat beberapa orang anak sedang menyebrangi jalan yang akan di lintasinya.

Tidak ingin membuat orang lain menjadi korban, Jungsoo memutar stir ke arah kanan, dimana pembatas jalan yang lumayan tinggi berdiri kokoh. Dan entah bagaimana caranya, Jungsoo sudah berada diluar mobil dengan darah segar yang mengalir dari sekujur tubuhnya.

>>><<<

Beberapa kali Jungsoo mengerjap, membiasakan cahaya yang baru dilihatnya lagi setelah sekian lama terjebak dalam kegelapan. Yang pertama kali dilihatnya dengan jelas adalah langit-langit yang seluruhnya berwarna putih. Jungsoo menggerakkan kepala ke samping secara perlahan untuk memperhatikan sekelilingnya. Dia sempat melihat punggung seorang perempuan yang berpakaian elegan keluar dari ruangan ini.

Bayangan seorang gadis berambut pendek yang menyeringai kepadanya langsung muncul begitu saja di benak Jungsoo, dan potongan-potongan kejadian lain juga melintas secara acak di kepalanya. Dia melihat bagaimana dirinya berada di dalam sebuah mobil yang jungkir-balik berkali-kali, hingga tubuhnya keluar dari mobil itu melalui pintunya dengan keadaan bersimbah darah.

Hingga beberapa menit ke depan, Jungsoo sama sekali tidak bergerak dan hanya berusaha menguraikan satu-persatu potongan kejadian lain yang juga mulai bermunculan bersusulan di kepalanya, hingga membentuk serangkaian peristiwa yang telah dialaminya.

Dan kemudian sebuah pertanyaan muncul di benaknya, “Benarkah yang kulihat itu _____?”

>>><<<

“Akhirnya kau sadar juga, Tua Bangka.”

Kedua mata Jungsoo membulat begitu melihat seseorang berdiri di sisi tempat tidurnya. Dia tahu itu _____. Orang yang ditinggalkannya sendirian di Perancis 5 tahun yang lalu. Meskipun sangat terkejut, Jungsoo bersyukur dalam hati karena _____ masih bisa menemuinya dalam keadaan tidak cacat sedikit pun.

_____ menyeringai lagi, kemudian menyuntikkan udara ke saluran transfusi darah yang Jungsoo gunakan. Dan Jungsoo tahu ini berarti keberadaannya di dunia ini hanya tinggal beberapa detik lagi.

Perlahan udara yang disuntikkan itu terdorong masuk ke dalam tubuh Jungsoo. Pria itu mencoba tidak mempedulikan rasa aneh dalam tubuhnya dengan terus menatap _____ dan perlahan menyunggingkan sebuah senyuman, tepat ketika gadis itu mengatakan, “Annyeong, appa.”

Penglihatannya sudah mulai melemah, yang akhirnya Jungsoo hanya bisa melihat warna hitam. Dia juga merasakan tubuhnya tidak lagi bisa merasakan apapun, dan hanya melayang di ruang hampa udara, “Gomawo, _____-ah.”

(End of POV)

(Jungsoo’s POV)

Setelah aku benar-benar tidak merasakan apapun—bahkan tidak merasa melayang—kucoba membuka mata, dan secara perlahan namun pasti aku melihat sesosok wanita berpakaian putih di depanku. Wanita yang wajahnya paling sering kulihat.

“_____?” ucapku ragu. Apa aku masih hidup, sehingga masih bisa melihat _____ di depanku?

“Jungsoo-ya…”

Sekarang aku bisa merasakan kedua mataku melebar mendengarnya memanggilku. Bukan. Dia bukan _____. Dia Ahrin. Istriku. Kuperhatikan sosoknya, dan baru kusadari bahwa dia memang bukan _____. Pakaiannya jelas berbeda dengan yang _____ kenakan tadi.

“Ahrin-ah…”

Dia mengangguk, lalu mengulurkan tangannya padaku, “Welcome home, yeobo.”

Terimakasih, Tuhan. Terimakasih telah mempertemukanku dengan orang yang paling kucintai. Dan _____, terimakasih telah membenciku. Teruslah hidup dengan baik. Temukan orang yang bisa kamu cintai dan juga mencintaimu sepenuhnya. Maafkan appa yang mungkin sudah membuatmu menderita dan sendirian sekian lama. Appa harap kelak kamu mengerti maksud tindakan yang appa ambil saat itu. _____-ah, saranghae. Aku mencintaimu… sebagai anakku.

Dua kata terakhir, selama tinggal🙂.

>>><<<

FIN

6 responses to “[Korean Fan Fiction] My Little Girl

  1. DAEBAK! aku shok banget waktu jungsoo mencintai ‘aku’ anaknya sendiri. kukira ‘aku’ ini gak cinta juga sama jungsu, eh ternyata sama aja. beneran bikin jantung ikut deg deg an.
    kok ‘aku’ jadi jahat gitu sech sampai bunuh appa sendiri, apa gak ada jalan lain ya supaya mereka teteo jadi anak n appa. sad ending, bener-bener bikin aku shok.

  2. Makasih..😀

    Bner nih bikin shock? O.oa

    Itu YOU-nya jdi jahat krena Jungsoo ninggalin dia sndirian di Paris. Kan pasti susah, tuh, kalo sndirian di negara orang? Tapi YOU akhirnya bisa bangkit and brniat blas dndam ama appanya sndiri. Dan trnyata emg itu yg diharapin Jungsoo, makanya dia bilang ‘gomawo’ pas YOU bunuh dia.. Kkk..😄

    Makasih ya, komennya.. :*

  3. yaampun ini plot cinta terlarang tapi bikin degdegan.
    demi apaaaah Jungsoo naksir anaknya sendiri,
    endingnya tragis tapi DAPET BANGET XDD
    i like this, keep writting, author🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s