[FF Request] If I Die Tomorrow (Kang Minhyuk C.N.Blue, Choi Young Rae) part 2 END

Author : ANGELAFT RACTA

Title : If I Die Tomorrow

Lenght : Oneshot

Genre: Angst, Romance

Cast: Choi Young Rae (OC), Kang Minhyuk (C.N. Blue), C.N. Blue

Disclaimer: The celebrities’ names/images are merely borrowed and do not represent who the celebrities are in real life. No offense is intended towards them, their families or friends. The original characters and plot are the property of the author. Please do not copy without permission.

BUat yang baru nangkring di blog ini, klik disini untuk membaca If I Die Tomorrow part 1

—————————————————————————————

(Youngrae POV)

            Aku terbangun di pagi hari dan menemukan tubuhku berada dalam pelukan hangat Minhyuk. Kulirik jam dinding yang berada tidak jauh dari spot-ku. Jam 7 pagi. Masih terlalu pagi untuk membangunkan Minhyuk. Susah payah aku melepaskan diri dari pelukan Minhyuk dan pergi menuju dapur untuk membuat sarapan. Tentunya setelah berpakaian dengan pakaian yang lebih pantas.

            Sarapan selesai, aku kembali ke kamarku dan meletakkan sarapan setelah menyingkirkan mangkuk samkyetang semalam. Minhyuk masih tidur, jadi aku hanya memperhatikan wajahnya yang damai saat tidur.

            “Hoaeemmm…”

            Ah, dia terbangun. “Selamat pagi, Minhyuk Oppa.”

            Hanya untuk lelucon, karena dia memanggilku Youngrae-ah, maka aku akan memanggilnya ‘Oppa’. (catatan penulis: Oppa, digunakan untuk memanggil laki-laki yang lebih tua).

            “Selamat pagi..” Balasnya sambil menyingkirkan selimut. Begitu dia menyingkirkan selimutnya, terlihat dia masih bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana jeans-nya. Melihat ini membuat mukaku bersemu merah, malu.

            “Kenapa mesti malu, bukankah kau sudah melihat seluruhnya?”

            Dikatakan seperti ini membuatku tambah malu. Jadi buru-buru aku mengalihkan pandanganku kearah lain. “Sarapan sudah siap.”

            “Gomawo.”

            Kami makan berdua sambil sesekali bercanda dan tertawa. Kesedihan yang membuatku menangis semalam hampir seluruhnya terlupakan jika aku sedang tertawa bersamanya seperti ini. Meskipun setiap kali melihat wajahnya yang pucat atau lemah, sekali lagi aku teringat kalau (mungkin) umurnya tidak lagi panjang.

            “Minhyuk, bagaimana kalau hubungan ini kita lanjutkan kearah yang lebih pasti.”

Kata-kata itu meluncur dari mulutku begitu saja dan langsung membuat kami berdua sama-sama menghentikan kegiatan kami. Mata kami beradu, hening.

“Ma.. Maksudmu?”

“Bagaimana kalau kita berpacaran saja.”

Minhyuk tampak ragu, dia mengalihkan pandangannya seakan-akan tidak mau melihat mataku. “Itu tidak mungkin.”

“Kenapa?”

“Kau sudah tau alasannya.”

“Tidak, aku tidak tau!”

“Aku pergi dulu, terimakasih untuk sarapannya.” Dengan cepat Minhyuk berpakaian dan menuju pintu depan.

Aku yang tidak terima begitu saja langsung mengejarnya sebelum dia membuka pintu keluar. “Kenapa? Bukankah kita telah melakukannya semalam?”

“Untuk yang semalam…” Minhyuk masih belum mau menatapku. “Maafkan aku. Aku tidak bermaksud begitu.”

“Apa karena aku lebih tua?”

“Tidak.. Bukan..”

“Lalu apa? Apa karena kau menganggap umurmu tidak akan lama lagi? Begitu? Begitukah?”

Minhyuk terdiam..

Tubuh Minhyuk sudah menghadap pintu keluar sedangkan aku berdiri di belakangnya, menunduk sambil tetap memegang bagian belakang bajunya. Lagi-lagi aku menangis. “Jawab aku!”

“Kau tidak akan pernah mengerti…”

Minhyuk membuka pintu dan langsung keluar, meninggalkanku tanpa melihat kearahku lagi. Meninggalkanku yang masih menangis, meringkuk menatap punggung Minhyuk yang tampak semakin menjauh. Minhyuk meninggalkanku…

**********

(Minhyuk POV)

“Kami pergi dulu, Minhyuk-ah. Jaga dirimu baik-baik!” pamit Yonghwa jyung sebelum dia dan anggota C.N.Blue yang lain meluncur menuju MBC untuk menjadi bintang tamu pada acara radio mereka malam ini sekaligus berlatih sampai larut malam untuk persiapan panggung music bank.
“Aku bukan anak kecil lagi, hyung!”
“Bukan itu maksudku.” Yonghwa hyung menepuk pundakku. “Kau masih sakit bukan?

Apa perlu kutinggalkan Jungshin untuk tetap disini?”

“Tak perlu.”

“Atau perlu kutelepon Yongrae noona?”

Yongrae-ah.. Apa dia baik-baik saja? Air mata dan isakan tangisnya kembali terngiang di benakku . “Tidak, Tidak perlu.”

“Baiklah, kami pergi dulu.”

Aku mengantar mereka hingga ke pintu depan dorm. Sunyi, sekarang hanya ada aku sendiri disini. Dorm ini tidak pernah sepi sejak kami pertama kali menempati dorm ini. Kalau tidak benar-benar kosong, minimal terisi 2 orang di dalamnya sehingga aku tidak pernah sekalipun sendirian di dorm ini.

Youngrae-ah, apa teman sekamarnya sudah pulang? Apa dia masih sendirian di apartment-nya?? Sejak hari itu aku tidak lagi bertemu dengannya. Aku takut.. Aku takut aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak mencintainya. Sementara aku tidak boleh mencintainya atau membuatnya mencintaiku lebih dalam lagi. Sudah cukup aku membuatnya terus menangis. Aku tidak mau melihatnya menangis lagi nantinya. Youngrae-ah, semoga kau cepat melupakanku.

Sejak hari itu aku selalu berdoa agar tidak ada badai atau petir yang menakutkan Youngrae. Kuharap dia bisa tenang dan baik-baik saja. Youngrae-ah~~~

Bodohnya aku, kenapa aku malah melakukan itu dengan Youngrae. Padahal seharusnya aku sudah berpikir. Dengan kami seudah melakukannya, tentu berat bagi Youngrae jika harus melepasku. Minhyuk babo! (Minhyuk bodoh!)

Drrttt.. Drrtt.. Eomma calling. Begitulah yang tertulis di layar HP-ku. “Yeobeoseyyo, eomma.”

Minhyuk-ah. Kau baik-baik saja disana?

Kau baik-baik saja? Adalah salah satu pertanyaan terberat. Akhir-akhir ini orang-orang selalu bertanya seperti itu. “Ne, eomma. Bkau sendiri bagaimana eomma? Bagaimana perkembangan kasus Appa.”

Eomma menghela nafas berat. “Appa masih dalam pengawasan pengadilan. Uang yang kau kirim kemarin memang cukup untuk menjadi jaminan, tapi tidak cukup untuk membayar semua kerugiannya.”

“Baiklah eomma, aku akan mencoba mengirimkan uang lebih banyak lagi.”

Baru saja aku akan menutup sambungan, eomma langsung buru-buru memanggilku. “Minhyuk-ah!”

Ne?

Jangan memaksakan dirimu.”

Eomma… Boggosippeoyo (aku merindukanmu). Eomma, sebenernya aku ingin menceritakan semua yang terjadi padaku. Tentang penyakitku, tentang keputus asaanku, tentang Youngrae…….

Tetapi melihat keadaan Eomma, sangat tidka memungkinkan kalau aku berkeluh kesah sekarang. Aku harus segera mencari cara agar bisa membantu Eomma dan Appa.

Sekali lagi hening. Dan lagi-lagi bayang-bayang Youngrae hadir disaat suasana hening. Andai saja kau tahu kalau aku tidak bisa melihatmu menangisiku sambil meringkuk sebelum aku pergi hari itu.

Aku tidak sepandai Yonghwa hyung dalam memainkan keyboard. Tetapi aku masih bisa memainkannya jika memang harus bermain keyboard. Seperti yang sekarang kulakukan karena aku sedang tidak memiliki kegiatan lain untuk dilakukan.

Iseng, aku bermain dengan peralatan-peralatan Yonghwa hyung yang biasa digunakan untuk menciptakan lagu. Tangan dan jari-jariku bergerak begitu saja sehingga tanpa sadar aku sudah menciptakan satu lagu tanpa lirik dalam waktu yang relatif singkat.

Untuk liriknya….

Aku menerawang sebentar ke langit-langit…….

Youngrae-ah..” Gumamku…

**********

(Author POV)

            “Minhyuk-ah!” Teria Yonghwa begitu memasuki dorm. “Kami pulang!”

            “Sepertinya sepi sekali..”

            “Molla..” (Tak tahulah)

            Yonghwa memasuki kamarnya dan kaget menemukan Minhyuk tertidur didekat peralatannya. Kemudian Yonhwa menemukan bukti bahwa peralatannya telah dipakai seseorang, tersenyum karena tau siapa pelakunya ketika menemukan kertas berisi lirik lagu dibawah lengan Minhyuk serta alunan melodi indah yang sudah direkam Minhyuk sebelumnya.

            “Cukup bagus untuk ditampilkan nanti.”

**********

(Minhyuk POV)

            “Kau bukannya masih sakit? Apa kau yakin kau bisa tampil malam nanti?” Lagi-lagi aku membuat hyung-hyungku khawatir. Aku mengangguk mengiyakan. Lagipula aku harus bekerja lebih giat supaya bisa segera mendapatkan uang untuk membantu Eomma dan Appa.

            “Kenapa sih kau tidak ke rumah sakit saja?”

            Kenapa kau tidak ke rumah sakit saja? Petanyaan bagus hyung, dan mendengar sekali lagi vonis terhadapku? Lebih baik tidak. “Tidak usah hyung, sepertinya hanya demam biasa. Sebentar lagi juga sembuh.”

            “Baiklah..” Kata Yonghwa hyung mengiyakan. “Kalau kau memang bersikeras.”

            Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan. Rasanya semakin hari aku semakin lemah. Daya penglihatanku juga semakin buruk. Parahnya lagi terkadang aku merasa aku tidak bisa berdiri diatas kakiku sendiri.

            “Hyung…”

            “Ne?”

            “Apa yang akan kaulakukan seandainya kau mati besok?”

            Yonghwa hyung malh tertawa mendengar pertanyaanku. “Kau bercanda? Aku tidak mungkin mati besok! Memangnya kau belum lihat hasil pemeriksaan kesehatanku? Aku benar-benar sehat! Hmm.. baiklah, jika aku memang mati besok, maka aku ingin bersama dengan orang yang kucintai untuk terakhir kalinya.”

            Bersama dengan orang yang kucintai untuk terakhir kalinya? Tanpa memikirkannyapun aku sudah tau pasti siapa orang yang kucintai selain Eomma dan Appa. Tetapi dia juga yang mengetahui kalau hidupku tidak akan lama lagi.

            Segara kuketik pesan singkat dari HP-ku untuk seseorang. Kau tentu tahu siapa yang kumaksud bukan? Sebelum aku menyesal. Sebelum aku menutup mataku selamanya. Sebelum aku terlahir menjadi sosokku yang lain.

            “Hyung?”

            “Ne?”

            “Bagaimana jika aku mati besok?”

**********

(Youngrae POV)

            Tidak ada yang kulakukan sejak Minhyuk meninggalkan apartemenku. Hanya meringkuk didalam kamar, menangis hingga mataku bengkak, aku bahkan tidak menerima sesuap makananku untuk mengganjal perut. Tidak, saat seperti ini ragaku memang hidup, tetapi jiwaku hampa.

            Minhyuk, aku masih tidak mengerti kenapa dia menolakku. Aku yakin dia mencintaiku juga. Dari caranya memperlakukanku, matanya, suaranya, belaiannya, semuanya. Dia jelas-jelas mencintaiku. Tetapi kenapa dia tidak mau memiliki seutuhnya?

            Apa karena dia memikirkanku? Apa karena dia takut aku menangis jika dia meninggalkanku? Tetapi ditinggal dengan cara seperti ini lebih menyakitkan dibandingkan jika seandainya dia meninggalkanku pergi untuk selama-lamanya. Yang kuinginkan hanyalah berjuang, menemaninya melawan maut tanpa sedikitpun meninggalkannya.

            Tiba-tiba HP-ku berdering menandakan sebuah pesan masuk

 

“Untuk terakhir kalinya..

Kumohon, datanglah ke music bank

Malam ini -Minhyuk-“

Music Bank? Untuk terakhir kalinya?

**********

            “Minyuk Oppa!!!!!” Teriak salah satu fans yang berada tidak jauh dariku. Ya, aku bergabung dengan semua boices (fanbase C.N. Blue) disini. Ada yang meneriakkan nama Yonghwa, Jonghyun, Jungshin, dan tentu saja, Minhyuk.

            Melihat Minhyuk di panggung, betapa inginnya aku berlari ke panggung dan memeluknya seperti waktu itu. Tapi tentunya itu tidak mungkin. Aku hanya bisa berharap aku dapat memeluknya sekali lagi. Entah itu terkabul atau tidak.

            “Penampilan terakhir kami di malam ini.” Yonghwa sang leader mulai memimpin panggung. “Kami akan membawakan satu lagu khusus.”

            “Wooooooo!!!! Oppa!!!!!!” Aku hanya bisa menutup kupingku rapat-rapat mendengar teriakan ini.

            “Melody and lyric by Kang Minhyuk….”

            Aku bertanya-tanya… Lagu ciptaan Minhyuk? Bukankah biasanya Yonghwa atau Jonghyun yang menciptakan lagu? Kali ini Minhyuk melepaskan stik drumnya dan beralih menuju piano. Jonghyun dan Jungshin sama-sama bermain gitar dan Yonghwa hanya memegang vocal.

 

Enough dear..

Wipe your tears

Look at the sun that shine only for you

Smile, that’s all I want to see

Before I fly into the heaven

 

            Tunggu, jika memang benar ini lirik ciptaan Minhyuk. Apa maksudnya lirik ini? Kenapa lagu ini terdengar mellow, tidak seperti lagu C.N. Blue lainnya?

 

If I Die tomorrow…

Hug me till the last because

I wanna die in your arm

I wanna see you smile for the last time

I wanna see your eyes that clean and bright without the tears

You, that’s all I want

 

            Mataku terfokus pada Minhyuk yang tampak damai dengan pianonya. Minhyuk, apa maksudmu? Apa maksud semua ini?

If I Die tomorrow..

Don’t cry, because you already know

That I’ll never leaving you even for the second

I’ll be the wind that blow to you

I’ll be your sun that warmt up your day

I’ll be in your dream everytime you sleep

 

Don’t cry..

Please sing a lullaby for me

Like you always do..

If I close my eyes, the last word that i want to hear is..

‘Have a nice dream’

Meskipun sudah berkali-kali aku menangis, air mataku tidak pernah kering dan sekarang mereka, air mataku memancar kembali. Wae? Kenapa Minhyuk? Apa maksudmu menciptakan lirik sendiri, Minhyuk, jawab aku!

            “Eonni, kenapa kau menangis tersedu-sedu? Lihatlah, Minhyuk Oppa sampai memperhatikanmu..” Kata salah satu fans yang daritadi meneriakkan nama Minhyuk.

            Kulihat memang Minhyuk melihat kearahku. Tersenyum dengan senyum yang entah kenapa terlihat begitu damai seakan-akan telah menyelesaikan tugas terakhirnya. Tiba-tiba tangannya berhenti memainkan melodi piano, melihatku cukup lama sambil tersenyum dan kemudian…

            Trriiiinnngggg bunyi suara piano yang tertekan beberapa tuts-nya bersamaan dikarenakan sesuatu yang menimpa tuts-tuts itu secara tiba-tiba. Kepala Minhyuk.

            “Yak! Minhyuk-ah!!!!”

            “Minhyuk Oppaaaa!!!”

            Semua panik melihat sosok Minhyuk yang tiba-tiba terjerembap begitu saja diatas pianonya. Matanya terpejam, meski begitu aku bisa melihat senyuman Minhyuk di wajahnya.

            “Saranghae, Minhyuk-ah…” Ucapku lirih pada sosok jauh yang sekarang sedang digotong menuju ambulans.

**********

(Yonghwa POV)

            Aku tahu! Aku sudah merasakannya sejak beberapa minggu yang lalu. Aku yakin kalau Minhyuk sedang tidak dalam kondisi yang baik. Tapi dia terlalu memaksakan diri dan dia tidak mau dibawa ke rumah sakit. Beginilah hasilnya! Lagipula memangnya kenapa dia harus memaksakan diri?

            Minjung eusanim (dokter) keluar dari ruangan tempat Minhyuk terbaring. Segera saja kami mengerumuni Minjung eusanim. “Eusanim, bagaimana keadaan Minhyuk?”

            “Kami belum tahu secara pasti, tapi barusan telah dilakukan pemeriksaan dan hasilnya akan keluar beberapa jam lagi.”

**********

(Youngrae POV)

            Kugenggam tangan lemah didekatku selagi pemiliknya masih terbaring diatas kasur berseprai putih. Tangan itu terasa dingin. Sesekali kumainkan tanganku di wajahnya, di kepalanya. Kubelai kepala itu dengan penuh kasih sayang.

            Kurasakan sesuatu di telapak tanganku. Beberapa rambut Minhyuk tersangkut disana. Rambutnya sudah rontok. Sudah berapa lama? Sudah seberapa lemah daya tahan tubuhnya?

“Minhyuk-ah… Bisakah kau bertahan kali ini?”

            Perlahan Minhyuk membuka matanya tersenyum saat melihatku duduk disebelahnya. “Youngrae-ah..”

            “Ne, aku disini.”

            “Saranghaeyo.. Jeongmal saranghamnida.. (Aku mencintaimu, aku benar-benar mencintaimu).”

            “Nado.. nado saranghaeyo.. (aku juga mencintaimu)”

***********

(Minhyuk POV)

            Aku menyuruh Youngrae untuk pulang ke apartemennya sebentar. Sejak hari aku pingsan diatas panggung itu dia selalu menungguiku tanpa mempedulikan dirinya sendiri. Jadi kali ini aku menyuruhnya untuk beristirahat di apartemennya.

            Sekarang ku sendirian di ruang rawatku. Sendirian, sampai akhirnya Minjung eusanim masuk. “Anyyeonghaseyo, Minhyuk-ssi.”

            “Anyyeonghaseyo eusanim. Maaf merepotkanmu lagi kali ini.”

            Minjung eusanim menggeleng kemudian menatapku cemas. “Sebaliknya, kau yang harus memaafkanku. Hasil tesmu sudah keluar.”

            Apalagi? Apa kali ini vonis matiku sudah semakin dekat.

***********

(Minhyuk POV)

            “Minhyuk-ssi, sebelumnya aku ingin bertanya. Apa kau pernah melakukan tes kesehatan di rumah sakit lain setelah mendapatkan tes dari rumah sakit ini waktu itu?”

            Aku menggeleng. “Belum.”

            Raut wajah Minjung eusanim yang berubah-rubah serta keringat dingin yang mengucur di wajahnya membuatku semakin penasaran. “Katakan eusanim, apa yang sebenarnya terjadi padaku?”

            “Kau terkena typhus.”

            “APA? Jadi kali ini aku terkena penyakit yang lain? Kanker darah, tumor, kali ini thypus? Besok apa lagi? Hernia?”

            “Bu.. bukan itu maksudku Minhyuk-ssi.”

            “Lalu apa?”

            “Kau hanya terkena thypus. Tidak ada kanker darah, tidak ada tumor otak.”

            Hening…

            Satu…

            Dua..

            Tiga..

            “Apa maksudmu?”

            “Ya, kami telah melakukan pengecekkan berulang-ulang. Kau hanya terkena thypus, Minhyuk-ssi. Thypus ini diakibatkan karena kau terlalu lelah dan beban mental. Thypus inilah yang membuat badanmu lemah dan terkadang kau merasakan pusing yang amat sangat, tetapi tak usah khawatir kau akan sembuh total beberapa minggu lagi jika kau tetap berada dalam pengawasan.”

            “Lalu bagaimana dengan kanker darah dan tumor otakku? Apa mereka lenyap begitu saja?”

            “Tidak. Aku juga kurang mengerti. Tetapi setelah melakukan pengecekkan berulang kali, tidak pernah ada kanker darah ataupun tumor otak dalam dirimu. Sepertinya waktu itu hasil tesmu tertukar dengan orang lain. Jeoseonghamnida. Atas nama rumah sakit ini aku mohon maaf yang sebesar-besarnya.”

            “Lalu kenapa aku pernah mimisan? Bukankah itu salah satu tanda kanker darah?”

            “Apa waktu itu hari sangat panas? Mungkin kau mimisan karena kepanasan.”

“Kenapa aku merasa pusing saat pengambilan darah?”

            “Anemia! Kau kekurangan darah. Dan itu juga yang menyebabkan daya tahan tubuhmu lemah. Atau bisa jadi karena kau tidak makan sebelumnya.”

            “Kenapa penglihatanku jadi tidak jelas.”

            “Matamu minus, sebaiknya kau segera memesan kacamata.”

            “Kenapa rambutku rontok?”

            “Itu juga tanda-tanda orang thypus.”

            Hening lagi…… Ini.. Ini.. Tiba-tiba ada telepon dari Eommaku.

            “Yeoboseyyo?” (halo?)

            “Minhyuk-ah! Kudengar kau pingsan di panggung. Apa benar?

            “Ne eomma, tapi sekarang aku tidak apa-apa.”

            “Aish! Ini karena kau tidak pernah menjaga kesehatanmu. Pokoknya mulai sekarang kau tidak usah terlalu memaksakan diri!” Ada yang aneh dengan suara Eomma. Eomma terdengar sangat bersemangat dan… sangat bahagia.

            “Kyaaa!! Minhyuk-ah, guess what! Appa-mu menang di pengadilan. Appa-mu terbukti tidak bersalah. Sekarang Appa-mu mendpatkan semua uangnya kembali. Bisnis Appa berjalan sangaaaat lancar.”

            MWWWWWOOOOOOOO??????? (Appppppaaaa????)

            Kabar-kabar yang kudapat membuatku senang tidak karuan. Bagaimana tidak!! Aku hampir tidak bisa tidur selama beberapa bulan terakhir. Sekarang aku yakin aku dapat tidur DENGAN TENANG! Ups, tapi aku tidak mau tidur selamanya ya, hehehehe.

            “Minhyuk-ssi, aku tahu kau memiliki hak untuk menuntut rumah sakit ini ke pengadilan. Atas nama rumah sakit ini aku memohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga kau bermurah hati untuk tidak membawa perkara ini ke pengadilan.”

            Mendadak sebuah ide jahil nyempil di otakku. “Eusanim, apa Youngrae-ah sudah tau kabar ini?”

            “Youngrae-ah? Bukannya dia itu noona (kakak perempuan)-mu? Well, dia belum tahu, tapi nanti akan kuberitahukan.” (Catatan penulis: -ah digunakan untuk memanggil seseorang yang umurnya lebih muda)

            “Baiklah, aku tidak akan menuntut rumah sakit ini.”

            “JINJJAA???” Mata Minjung eusanim membelak saking senangnya.

            “Tetapi jangan dulu beritahukan Youngrae soal kalau ternyata aku sehat-sehat saja.” Mengerjai Youngrae sedikit lagi tentu mengasyikan.

            “Baiklah, kuterima syarat itu. Khamsa hamnida (terimakasih) Minhyuk-ssi.”

            “Ne, eusanim…”

            Minjung eusanim baru saja akan berbalik keluar sebelum akhirnya dia kembali bertanya. “Minhyuk-ssi, kalau aku boleh tau, alasan apa yang membuatmu tidak melakukan pemeriksaan ke tempat lain? Padahal seandainya kau melakukan hal itu, kesalahan ini akan lebih cepat ditemukan.”

            Aku terdiam.. berpikir.. memang sih, aku tidak perlu mendengar sekali lagi vonis terhadapku karena pada dasarnya aku tidak akan melakukan kemoteraphy. Tetapi alasan sebenernya adalah…

            “Karena aku takut jarum suntik :p”

            GEDUBRAKKK!!!!

 **************** (TAMAT)

22 responses to “[FF Request] If I Die Tomorrow (Kang Minhyuk C.N.Blue, Choi Young Rae) part 2 END

  1. Ping-balik: [FF Request] If I Die Tomorrow (Kang Minhyuk C.N.Blue, Choi Young Rae) part 1 of 2, NC 17 « Asian Fan Fiction Story·

  2. Jiaaaah gak jadi mati /dor. Aku udah setel lagu2 galaunya cnblue biar lebih menghayati eh rupanya tipus doang huahahaha xD *dilempar minyuk* wkwk eh coba ada sequel nya? Kan pgn tau juga gimana reaksi youngrae+member CNBLUE nya :p ff nya keren bgt thor ^^b oiya, salam kenal~:D

  3. Ping-balik: If I Die Tomorrow – C.N. Blue (NC17) « My Room·

  4. bener-bener gedubrak!! huaa, aku pikir beneran angst, minhyuk ga jadi mati, kkkk
    takut jarum suntik?? alasan macam apa itu, haha😄
    Penasaran itu lagu if I die tomorow ada do google ga yah? bikin sendiri atau emang beneran ada lagunya? keren bangett liriknya
    SEQUEL SEQUEL…., gantung nih kisah cintanya ma yongrae-nya
    endingnya ga nyangka, hahaha ngakak deh

  5. IGE MWOYA ?? -______-
    ahhh minhyuk udh sampe bkin lgu if I die tomorrow lagi…haha demi apaaa

    padahal mnurut gw si mihyuk bakalan koit pas pingsan di panggung….
    endingnya kocak deh !! daebak~ ^^

  6. eonnniii >.< tanggung jawab
    aku dah siapin tissue segala loh buat nangis2an
    tau2nya ga jadi
    huwaaaaaa

    tadinya aku pikir alesan dia ga mau cek ke rumah sakit laen
    itu krn dia ga mau denger vonis itu lagi
    eh tau2nya malah gara2 takut disuntik toh =="

    masih gantung nih yg bagian Youngraenya
    ntar mau diapain si Youngrae ma Minhyuk
    jail juga si Minhyuk ternyata
    *penasaran*

    share more
    gomawo ^^

  7. yaaah.. awalnya sedih tiba2 jadi lawak gara2 salah paham, tapi endingnya masih gantung.. ga ketauan minhyuk ama youngrae jadian atau gak.. lanjutin dong.. bikin epilognya gitu

  8. aaah gila kali aku udah nangis segugukan gara2 minhyuk pingsan ternyata tipes hoaaah -.-
    keren thor🙂 happy ending aku suka sekali bener2 kaya didrama korea uuuy hahaha

  9. Aku setujuuuu….. aku juga takut suntikan.. liat gambar nya ajah ngak mau.. iiat secra langsung apa lagi… apa lagi yang sangat adalah… takut di tusuk nya..😛

  10. Aduhhh sumpah ngakak,, endingnya ngajak ribut😀

    udh sedih”a ternyata cuman slh tes. Authornya bener” pinter ngelabuin readers yg udh nebak”
    hahahahaha nice FF
    kece FF

  11. thor thor mana nih sequellnya…
    haruz tanggung jawab donk q udah nangis2 ria nih tp gag ad sequelx… aiiishh… ayo lah.. xixixi #plak dtmpar author

  12. whoaaa ngakak guling2 pas tau minhyuk cuma sakit thypus xD padahal udah kebayang-bayang lagu star(ost. heartstring) tuhh😀 nyesek nya dapet, comedy nya juga dapet, daebakk!

  13. Pas baca akhir akhirnya, serasa mau nimpukin author-_- udah ampe sedih sedih juga thor, taunya cuma kena typus-_- tapi bagus thor, keren! Kkkkkkkk~😀😛

  14. udah sesenggukan ngehayalin endingnya.tpi terakhir cma kena typhus.elah -_-
    Sbagai ganti udah bikin greget,kasih sequelnya dong.gantung nih ff nya thor.tpi serius ini ff DAEBAK^^

  15. Menye bat asli, gua udah melow tampang melankolis etaunya salah paham yapake matanya segala minus hahaha but thats so damn awesome!! Author Daebakk~~!!😉😂😂😂💕

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s