[Lomba FF] Michin Geoni (27)

Title                : 미친 거니/Michin Geoni/GOING CRAZY

Author            : Ai_ELF

Rated               : PG-17

Cast                 :

– Cho Soo Rin (OC)

– Lee Donghae   (Super Junior)

Genre              :

– Sad

– Drama

– Angst

About fanfict             :

– this fanfiction is dedicated to someone who request on number 25.

(·  Cho Soo RIn (OC Yeoja) + Donghae  . Genre: bebas)

Songfict :

–  Song Ji Eun (Secret) – Going Crazy (미친 거니)

Contact:

Twitter: @Ai_ELF

Fb: Sastya Maharani

Blog: Koreanfiction.wordpress.com

______________________________________________________________________________ 

 

>>>>well … just enjoy it guys 😀 <<<<

 

– Prolog –

Jika suatu saat kau mencintai seseorang, biarkan dia nyaman bersamamu bukan biarkan dirimu merasa nyaman di dekatnya. Jika suatu saat kau mencintai seseorang, bukan memikirkan bagaimana nasibku tapi bagaimana nasib kita. Bukan memikirkan egomu, tapi pikirkan perasaannya. Tapi jika suatu saat ada seorang datang kepadamu dengan segala cintanya yang mengalir hanya untukmu maka biarkan dirimu sedikit masuk ke dalam kehidupannya. Jika kau menganggap dia buruk maka jangan sekali-sekali kau melakukan hal yang tidak seharusnya kau lakukan. Jika suatu saat kau ketakutan karena seseorang yang selalu menggilaimu maka jangan sekali-sekali kau berusaha berlari. Karena saat kau berlari darinya maka kau tidak akan pernah mengerti bagaimana perasaannya yang selalu ingin ada untukmu. Perasaan itulah cinta yang sebenarnya. Apa cinta itu buta? Ya… cinta itu buta karena dia akan selalu ada untukmu walaupun saat itu kau sangat tidak mengharapkannya. Cinta… dia akan menutup mata, hati, pikiran, telinga dia akan menutup semuanya dari segala hal selain dirimu. Dia benar-benar buta arah… cinta yang menyedihkan, tapi kau tak akan bisa hidup tanpa cinta…

Cinta memang egois, tapi itulah cinta yang sebenarnya. Walaupun kau menjauhinya dia akan menjadi pelari yang sangat cepat, dia akan menjadi pelari yang terus mengejarmu. Terus mengejarmu hingga kau lelah menjalani hidup ini. Terus mengejarmu hingga kau berpikir bahwa kematian akan menyelesaikan segalanya. Semua tentang kisah cinta ini, hal yang sangat sulit dimengerti. Aku tak bisa berpihak pada siapapun. Karena cinta memang bukanlah sebuah kepastian. Ya… cinta tak memiliki kepastian akan siapa yang benar dan siapa yang salah…

            Bukankah cinta itu akan selalu mengikutimu? Dia akan menjadi bayanganmu. Dia akan selalu berusaha untuk dekat denganmu. Menjauh pun sia-sia karena dia akan selalu berusaha bersamamu. Ketika kamu senang dia akan datang secara diam-diam dan ikut merasakan yang kau rasakan. Ketika kau ingin ketenangan maka dia dia akan menemanimu, memperhatikanmu dari jauh tetap dalam diam. Ketika kau kesepian maka dia akan datang dan menemanimu. Ketika kau marah dia bersedia menjadi bahan pelampiasanmu walaupun itu menyakitkan. Segala kesakitan tidak dia rasakan, ya… karena dia telah tergila-gila padamu. Tahukah kau saat kau ingin berlari, berlari dari semua masalah dalam hidupmu maka dia akan datang padamu, menemanimu berlari hingga kau lelah dan berhenti. Dan ketika kau besedih maka dia akan datang dan mendekapmu. Mungkin ketika dia berusaha menghentikan tangis dan kesedihanmu namun dia gagal maka dia akan menangis bersamamu, berharap bisa meringankan bebanmu dengan ikut membagi tangis dan kesedihan bersama.

            Cinta itu ibarat air…

            Sesuatu yang sangat dibutuhkan. Tapi ketika terlalu banyak air kau tidak akan menyadari betapa pentingnya itu bagi kehidupanmu. Bahkan terkadang kau justru mengeluh kenapa dia selalu ada. Baru ketika kau tertawa, bersedih, ataupun bosan namun taka da siapapun di sampingmu… tidak ada lagi orang yang mencintaimu di sisimukau baru akan sadar. Kau akan menangis sejadi-jadinya berharap dia kembali. Dan saat itulah yang paling menyakitkan. Kau akan menyadari betapa berharganya dia bagi kehidupanmu. Penyesalanmu yang sia-sia.

– prolog end –

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

 

Donghae  ’s  POV

 

Apakah begini yang disebut cinta buta?

Apakah begini harus menjalani kehidupan dengan cinta yang tak terbalaskan?

Sakit…

Sungguh sakit…

Kesakitan ini…

Segala yang terjadi dalam hidup ini memang begitu menyakitkan dan menyedihkan…

Jika boleh ,aku akan memilih untuk tidak pernah ada…

Karena kesalahanku yang paling fatal adalah aku yang terlahir di dunia ini…

Tapi semua telah terjadi…

Aku selalu berjalan mendampingimu…

Apakah kau tidak ingin melihat ke dalam hatiku?

Melihat untuk sekejab saja…

Melihat segala kegilaanku akan dirimu…

Dirimu yang begitu sempurna…

Kau…

Apapun yang terjadi…

Tetaplah dirimu yang terindah dalam hidupku…

Apapun yang terjadi kau tetap yang terindah bagiku…

– Donghae  ’s POV end-

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

– Author’s POV-

Lampu disko yang berkelap-kelip menjadi pemandangan yang indah di club ini setiap malam. Malam yang indah untuk mereka yang mencari kebebasan dan ingin bersenang-senang. Alunan musik dari DJ malam itu mengiringi jalannya malam yang semakin larut. Semakin larut club itu semakin ramai. Soorin meraih gelas di hadapannya lalu berusaha meminumnya. Dia membalikkan gelas yang dipegangnya namun tidak ada setetes alkoholpun yang tersisa dalam gelasnya.

“Aku mau lagi!” Bentaknya pada bartender sembari memukulkan gelasnya di meja.

“Kau sudah mabuk. Tak ada lagi untukmu,” jawab bartender di hadapannya.

“Apa? Aku belum mabuk…haha…”

“Yang begitu kau bilang tidak mabuk. Sudahlah aku akan memanggil taksi untuk mengantarmu pulang.”

“Biar aku saja yang mengantarnya,” seseorang mendekati Soorin.

“Kau siapa?” Tanya bartender itu.

“Aku temannya… akan kuantar dia,” jawab orang itu lagi.

“Soorin kau mengenalnya?” Tanya bartender pada Soorin.

“Ng… dia? Ya ya,” jawab Soorin kurang meyakinkan dengan keadaannya yang setengah sadar.

“Kau dengar? Percayalah aku akan mengantarnya.”

“Baiklah. Soorin temanku jadi jaga dia,” pasrah si bartender yang ternyata teman Soorin.

“Ya. Aku mengerti.”

“Tunggu. Siapa namamu?”

“Lee Donghae  . ”

Lelaki yang bernama Donghae   itu meraih tangan Soorin dan memapahnya keluar dari club itu.

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

Keesokan harinya Soorin terjaga dari tidurnya. Dia mengerjabkan matanya berkali-kali sambil memegang kepalanya yang masih terasa sakit karena dia meminum alkohol sangat banyak tadi malam. Soorin berjalan menuju kamar mandi lalu membasuh wajahnya. Dia memandang bayangannya dalam kaca. Dia lalu mengernyitkan dahinya. Mengingat-ingat yang terjadi tadi malam. Rasanya dia masih di club. Lalu siapa yang mengantarnya pulang? Dia berusaha mengingat terus namun tidak berhasil. Dan akhirnya dia menyerah sendiri. Dia lalu mandi dan mengganti pakaiannya yang masih berbau alkohol.

Tak lama kemudian Soorin menuju kamarnya lalu mendapati sebuah memo di mejanya yang bertuliskan “selamat pagi sayang…semoga tidurmu tadi malam nyenyak.” . Soorin mengerutkan dahinya melihat memo itu.

“Siapa yang meletakkan ini di sini?” gumam Soorin keheranan. Seingatnya dia tinggal sendirian. Lalu memo itu, bagaimana seseorang bisa masuk ke rumahnya dan meletakkan memo itu?

“Ah…sudahlah aku tak peduli,” gumam Soorin lebih kepada dirinya sendiri sembari membuang memo tadi ke tempat sampah.

Soorin menuju ke garasi, menaiki mobilnya dan segera menuju ke tempat kerjanya di sebuah butik terkenal di Seoul. Soorin merupakan seorang desainer muda yang terkenal di Seoul. Dengan umurnya yang baru 19 tahun dia sudah menjadi seorang desainer ternama. Dia segera menuju ruang kerjanya. Namun tanpa dia ketahui ada sepasang mata yang sedari tadi terus mengedarkan pandangannya ke arah Soorin. Soorin meletakkan tasnya di meja kerjanya namun saat itu juga matanya langsung tertuju pada sebuket bunga yang tergeletak dengan indahnya di atas meja kerjanya. Di dalamnya terdapat sebuah memo dengan kertas berwarna biru bertuliskan “yellow acacia…I give you this flower with all my heart…with love…♥”

Soorin mencium aroma bunga itu sejenak. Dia masih berpikir siapa orang yang memberikan bunga itu untuknya. Seingatnya bunga acacia warna kuning melambangkan cinta rahasia. Benar-benar suatu rahasia yang membuatnya penasaran. Dia kembali melihat memo itu dan sepertinya mengingat sesuatu. Tulisan dalam memo itu, sama dengan tulisan dalam memo yang tadi dia dapatkan di kamarnya. Mungkinkah yang mengiriminya memo dan bunga itu adalah orang yang sama? Namun Soorin tidak punya waktu untuk terus berlarut-larut dalam rasa penasarannya akan bunga dan memo itu.

-end of author’s POV-

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

Donghae  ’s POV

Siapa aku ini? Aku mungin memang tidak pantas baginya. Aku hanyalah seorang biasa bernama Lee Donghae   yang mengagumi seorang yang hebat seperti Soorin. Kang Soorin, dia adalah teman sekolahku semasa SMP dulu. Sudah sejak lama aku memendam perasaanku padanya. aku selalu mengaguminya tanpa berani mengatakannya pada Soorin. Aku memang pengecut. Aku benci diriku yang seperti ini namun aku tahu pasti, ketika aku mencoba memberanikan diri untuk mendekati Soorin dia pasti akan menolak kehadiranku. Entahlah… mungkin dia tidak menyukaiku. Sejak SMP pun jika aku berusaha mendekatinya dia akan selalu berpaling dariku dia menolakku mentah-mentah. Namun hal itu tidak mengurangi rasa cintaku padanya. aku benar-benar mencintainya. Segalanya akan kulakukan untuknya. Segalanya akan kuberikan padanya asal dia mau menerima cintaku. Tapi pada kenyataannya aku masih terlalu pengecut untuk mendekatinya sekali lagi seperti semasa sekolah dulu. Aku takut… aku takut sakit hati untuk kedua kalinya. Aku tidak bisa mendengar kata-kata yang membuatku sakit lagi.

Pada akhirnya aku akan menjadi pengagum rahasiamu. Biarlah untuk saat ini rasa cintaku aku pendam sendiri saja. Biarlah aku menjadi orang yang dianggap pengecut asalkan aku bisa selalu mengetahui keadaan Soorin. Segala tingkah lakunya, segalanya yang dia lakukan aku akan selalu berusaha mengetahuinya. Untuk saat ini semua itu sudah cukup bagiku. Aku sudah puas bisa melihat dirinya dari jarak yang cukup dekat seperti sekarang ini. Walaupun terhalang kaca ruang kerjanya. Tapi aku masih bisa melihat jelas wajahnya yang cantik. Senyumnya yang selalu membuat hatiku bergetar tidak karuan. Semuanya masih tertangkap jelas dalam pandangan mataku. Itu sudah cukup bagiku.

Aku berjalan menjauhi butik tempat Soorin bekerja. Aku memainkan kunci yang aku genggam. Kunci rumah Soorin. Akulah yang mengantarnya saat dia mabuk berat. Akhirnya aku bisa mendapatkan kunci rumah Soorin. Mungkin dia sudah sadar kehilangan kunci ini ya? Haha… biarlah. Mungkin suatu saat kunci rumah ini akan berguna. Tapi tunggu, jangan bepikiran buruk tentang diriku. Walaupun aku memiliki kunci rumah Soorin tapi aku tak akan berpikiran buruk untuk datang dan berbuat jahat padanya. karena aku mencintainya. Aku sungguh tidak ingin hal buruk terjadi padanya.

-end of Donghae  ’s POV-

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

I follow in your shadow

I make a phone call

I become thrilled at the sound of your shaking breath

My heart runs after your increasingly quick steps

I think I’ll go crazy

The long night gets darker

Under the dead streetlamp in front of your house

I’m watching you through the crack in your window

Until the night ends

Come on and find me

You keep playing a suffocating game of hide-and-seek with me

You, you, you

You’re inseparable from me

 

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

– Author’s POV-

 

 Lee Donghae  …

 

Seorang yang terperangkap dalam cinta yang begitu dalam…

Cinta yang membuatnya bisa melakukan apa saja asal bisa mengamati pujaan hatinya…

Cinta ini menyedihkan…cinta yang membuat menangis …tapi cinta yang membuat bahagia…

Ya… cinta ini menyakitkan namun cinta inilah yang membuat Donghae   tetap bisa tersenyum…

Malam itu Soorin baru saja pulang dari tempat kerjanya. Dia merebahkan dirinya di kasur. Baru saja ingin memejamkan mata namun handphonenya berbunyi.

“Yoboseyo…” jawab Soorin dengan suaranya yang terdengar begitu lembut.

Satu detik…

Dua detik…

Tiga detik…

Tak ada jawaban sama sekali…

“Nuguseyo??” Tanya Soorin sekali lagi.

Namun tetap tak ada jawaban yang menyebabkan Soorin memutuskan telepon itu.

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

Donghae   terpaku di seberang sana. Dia menggenggam handphonenya dengan erat tanpa berani mengatakan sepatah kata pun. Baginya dapat mendengar suara Soorin begitu jelas seperti di telepon tadi adalah hal yang sangat menyenangkan. Suara lembut Soorin yang membuat hatinya berdebar-debar membuatnya membisu dan tak bisa berkata apa-apa. Terlampau senang sampai-sampai Donghae   mencium layar handphonenya. Mendengar suara Soorin bagaikan mendengar suara merdu seorang bidadari baginya.

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

Seperti biasa Soorin bangun pagi-pagi dan bersiap untuk bekerja. Setelah siap dia segera menuju tempat kerjanya. Lagi-lagi ada sebuket bunga yang tergeletak dengan indahnya di meja Soorin. Masih bunga yang sama, juga dengan memo yang sama persis dengan memo kemarin. Soorin menjadi sangat heran akan semua hal itu. Dia bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Siapa orang yang mengiriminya bunga dan memo tersebut.

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

Still Author’s POV

Donghae   berjalan ke  arah rumah Soorin. Hari ini hari sabtu sehingga dapat dipastikan Soorin libur dan dia pasti ada di rumah. Dan benar saja, ketika Donghae   sampai di sana dapat Donghae  lihat dari jendela, Soorin sedang berkutat di depan laptopnya. Donghae  terus memperhatikan Soorin, dan dia menjadi tersenyum sendiri melihat paras cantik pujaan hatinya itu. Seharian itu Donghae  terus saja memperhatikan Soorin hingga hari sudah larut dan Donghae  memutuskan untuk pulang. Namun langkahnya terhenti ketika dia melihat mobil Soorin keluar dari garasi. Donghae  pun memutuskan untuk mengikuti Soorin. Dia melajukan motornya di belakang mobil Soorin.

Sampailah di club tempat di mana Soorin sering menghabiskan waktunya di hari libur. Donghae  masih tetap mengikutinya. Di sana Soorin banyak sekali minum sehingga membuat Donghae  jadi khawatir. Dia pun menghampiri Soorin.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Donghae  pada Soorin.

“Hik…siapa kau?” jawab Soorin sedikit tidak jelas.

“Hey kau…yang beberapa hari lalu membawanya pulang kan?” Tanya seorang bartender yang ditemui Donghae  beberapa hari lalu ketika dia membawa Soorin yang mabuk berat pulang ke rumahnya.

“Oh…ya.” jawab Donghae  singkat.

Malam itu Soorin yang sedang mabuk berat mulai berbicara yang tidak jelas. Dia bercerita tentang memo dan bunga yang selalu dia dapatkan setiap hari. Dia juga bercerita bahwa dia merasa selalu diikuti seseorang. Tanpa dia sadari, orang itu tepat berada di depannya.

Setelah beberapa saat berlalu akhirnya untuk yang kedua kalinya Donghae  mengantarkan Soorin pulang. Namun kali ini Donghae  tidak membawa Soorin pulang ke rumahnya namun ke rumahnya sendiri.

Pagi itu Soorin terbangun dari tidurnya. Dia merasa sekelilingnya berbeda.

“Selamat pagi…” sapa Donghae  yang sudah ada di balik pintu kamar itu. Membawa nampan berisi roti isi dan susu.

“K…kau…siapa?” Tanya Soorin dengan gugup.

“jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu. Namaku Donghae  … tadi malam kau mabuk jadi aku bawa saja kau kesini”

“Tadi malam?”

“Iya…kau pasti tidak ingat ya”

“…”

“Hmm..ini kau sarapan dulu. Kau jangan khawatir. Aku tidak akan menyakitimu.”

“N..ne…”

“Oh ya..bajumu…bau alkohol…mandilah dulu. Itu bajunya sudah kusiapkan.”

Donghae  keluar dari kamar itu meninggalkan Soorin yang masih kebingungan. Dan setelah 30 menit Soorin keluar. Soorin melihat-lihat isi rumah Donghae  dan semua hal yang ia temui di rumah itu membuatnya menjadi merasakan sesuatu yang aneh. Rumah Donghae  penuh dengan fotonya. Foto dirinya yang bukan hanya beberapa namun ada ratusan. Semua tertempel dengan rapi di dinding rumah Donghae  . Soorin bergidik menyadari hal itu. Sungguh, foto-foto di rumah Donghae  sepertinya hasil jepretan Donghae  sendiri. Dan sampailah Soorin di sebuah kamar. Pintu kamar itu sedikit terbuka dan Soorin memutuskan untuk masuk. Di sana ada banyak sekali foto dirinya berserakan. Di tempat tidur, meja, lantai semua ada fotonya.  Ketika Soorin hendak kembali betapa kagetnya dia karena sudah ada Donghae  di ambang pintu. Donghae  berjalan mendekat ke  arah Soorin. Soorin pun mundur dengan tatapan takut dan langkah yang sedikit gemetar.

“K..kau..siapa kau?”

“Aku? Kau tidak mengingatku , Cho Soo Rin ?”

“K…kenapa kau tahu namaku?”

“Ije nal bwa!” (lihat aku!) Donghae  mendekati Soorin, menggenggam tangan Soorin dan mendekatkan wajahnya ke  arah Soorin.

“…” tanpa menjawab apapun Soorin memalingkan wajahnya.

“Apa kau tidak ingat aku?”

Soorin memberanikan  diri untuk menatap Donghae  . Dan saat itu dia baru menyadari sesuatu.

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ ­

A hundred times

Tens of thousands of times

I’ve called you

But why, why is there no answer?

Did you forget?

It’s already been a thousand days since we met

I prepared a gift you’d like

I sit on the street you frequently travel

I’m waiting for you

I know my love

Don’t call it obsession, you don’t know love

Don’t say I’ve gone crazy

You don’t know my heart

You can never be separated from me

 

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

 

Author’s POV

Soorin memperhatikan Donghae  namun belum ada sedikitpun kata yang keluar dari bibir mungilnya.

“Lee Donghae  … apa tidak sedikitpun kau menyadari sesuatu,Cho Soo Rin ?” Tanya Donghae  sekali lagi.

“K…kau…Donghae …?” Tanya Soorin sedikit tidak yakin.

“Ya…kau mengingatku,Cho Soo Rin ?” Tanya Donghae  sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Soorin. Dan Soorin pun langsung menghindar.

“K…kau…semua ini… rumahmu…foto-fotoku… kau…jangan-jangan…”

“Kau begitu cepat menyadari itu ya…”

“Haish! Kau sudah membuatku hampir gila dengan semua yang kau lakukan!” Soorin langsung mendorong Donghae  hingga jatuh kemudian meninggalkannya sendiri.

Donghae  terkekeh kecil, entah apa yang dia pikirkan saat ini.

Donghae  menatap Soorin yang semakin menjauh dari pandangannya melewati jendela ruang tamunya. Dia membalikkan badannya berjalan menuju kamarnya. Menatap semua hal yang berhubungan dengan Soorin di rumahnya. Dia menatap foto-foto gadis pujaannya tersebut. Donghae  berbaring dan menatap langit-langit kamarnya sembari memperhatikan foto Soorin yang dia genggam. Memperhatikan setiap sudut foto tersebut, berharap Soorin ada di sampingnya saat ini. Berharap Soorin adalah pendampingnya. Ya… dia memang benar-benar telah gila. Menggilai seseorang yang sama sekali tidak mengharapkan kehadirannya. Donghae  mencium foto itu dengan lembut, berharap saat itu Soorin datang dan dia bisa menciumnya. Ketika saat itu terjadi dia tidak akan pernah melepaskan Soorin, sang dewi cinta yang telah menakhlukkan hatinya. Soorin, gadis yang selalu bisa mengendalikan perasaannya, mengendalikan hatinya.

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

 

Still Author’s POV

Soorin melangkahkan kakinya keluar dari rumah Donghae  . Dia sungguh tidak menyangka dengan apa yang telah terjadi. Beberapa saat kemudian dia menaiki taksi menuju rumahnya. Sepanjang jalan menuju rumahnya dia terus memikirkan Donghae  . Lee Donghae    , dulu dia pernah satu sekolah dengan Soorin. Bagi Soorin Donghae  hanyalah sekadar teman biasa. Benar-benar tak ada rasa dalam hati Soorin untuk Donghae  . Namun lain halnya dengan Donghae  . Karena seorang Lee Donghae    adalah pengagum Soorin. Sejak pertama mereka berdua bertemu Donghae  sudah menaruh hati pada Soorin. Namun Soorin tidak pernah sedikitpun memandang Donghae  . Bagi Soorin, Donghae  hanyalah manusia yang paling tidak dia harapkan kehadirannya.

Kala itu mereka berdua masih sama-sama SMP dan bagi Soorin, Donghae  hanya main-main saja. Namun kenyataannya tidak begitu. Donghae  benar-benar mencintai Soorin. Dia benar-benar akan melakukan apapun agar Soorin menjadi miliknya. Setiap pagi Donghae  selalu datang ke rumah Soorin untuk mengajaknya berangkat sekolah bersama. Namun selalu ditolak Soorin karena Soorin merasa risih. Setiap hari di jam istirahat Donghae  diam-diam selalu mengikuti Soorin, mengikutinya dan memperhatikan setiap gerak-gerik Soorin. Segalanya tentang Soorin dia akan berusaha mencari tahu. Segalanya yang dia pikir bisa membuat Soorin mengerti betapa dia peduli pada Soorin. Segalanya telah dia lakukan namun Soorin tidak pernah membuka hatinya pada Donghae  . Semua hal yang Donghae  lakukan adalah hal memuakkan bagi Soorin. Dia juga merasa tidak nyaman karena Donghae  seakan-akan seperti penguntit. Selalu menjadi baying-bayang mengerikan bagi Soorin.

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

 

Pagi itu Soorin terbangun karena suara dering hand phonenya. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian menatap layar hand phonenya. Nomor yang sama dengan yang meneleponnya malam lalu. Soorin langsung menyadari itu pasti Donghae  . Dengan ketakutan dia segera membuang hand phonenya ke lantai. Dia memandangi sekeliling kamarnya dengan rasa takut. Dia takut jika Donghae  akan selalu mengikutinya. Beberapa saat kemudian Soorin tersadar dia harus segera berangkat bekerja. Dia langsung melupakan rasa takutnya dan bersiap menuju tempat kerjanya. Dia menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya. Menatap dirinya di cermin.

“Soorin… tenang… kau harus tenang…” Gumamnya lebih kepada dirinya sendiri.

Tanpa Soorin sadari Donghae  saat itu berada di dekatnya. Memperhatikannya dari celah pintu yang sedikit terbuka. Dari celah yang luput dari pandangan Soorin. Namun terlihat bayangan Donghae  dari cermin kecil di samping Soorin dan ketika Soorin berbalik arah menghadap cermin, Donghae  segera pergi.

Tak berapa lama kemudian Soorin sudah rapi. Dia keluar dan akan segera berangkat ke tempat kerjanya. Dia membuka gerbang rumahnya, ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Kotak surat. Kotak surat itu terbuka dan Soorin pun melihatnya sejenak. Di sana dia menemukan sebuah kotak kecil berwarna biru, warna kesukaannya. Kemudian Soorin langsung membuka kotak kecil yang indah tersebut. Namun betapa terkejutnya dia karena yang dia temukan di dalam kotak itu adalah segenggam helaian rambut. Dengan ketakutan, Soorin langsung membuang kotak itu. Dan dia tahu, pasti Donghae  yang mengirimkannya.

Sesegera mungkin Soorin menuju tempat kerjanya. Dia tidak mau lagi mengalami hal-hal aneh di rumahnya. Setidaknya dia bisa merasa aman di butik tempat kerjanya karena di sana banyak orang yang bersamanya. Soorin baru akan menuju ruang kerjanya namun Donghae  mengikutinya. Tiba-tiba Donghae  menghampirinya, memegang bahu Soorin. Soorin langsung menoleh, namun ketika melihat Donghae  di hadapannya dia langsung melepaskan tangan Donghae  dari bahunya dengan kasar.

“Pergi!!” bentak Soorin pada Donghae  .

Donghae  hanya diam sembari mengulurkan sebuket bunga pada Soorin. Namun Soorin segera menangkis tangan Donghae  . Dia lalu segera pergi meninggalkan Donghae  . Donghae  masih terus menatap Soorin hingga Soorin benar-benar hilang dari pandangannya.

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

 

Still Author’s POV

Hari itu Soorin pulang larut malam. Sesampainya di rumah dia merebahkan tubuhnya di kasur. Dia menatap langit-langit kamarnya sembari memikirkan segala hal tentang Donghae  . Tiba-tiba dia bangun dari tempat tidur dan beranjak menuju gudang di belakang rumahnya. Dia mengambil sesuatu di sana. Tak berapa lama kemudian ada senyum yang tampak di sudut bibirnya.

Keesokan harinya seperti biasa Soorin pergi ke tempat kerjanya. Dan seperti biasa pula dia bertemu Donghae  .

“Soorin…”

“Kau… kau ini kenapa ha? Selalu mengikutiku!”

“Soorin dengarkan aku…”

“Apa? Apalagi yang ingin kau katakan?”

“Aku mencintaimu Cho Soo Rin … tidak bisakah kau menerimaku?”

“Cinta? Apa yang kau tahu tentang cinta? Aku tidak peduli dan tidak akan pernah peduli padamu!”

“Soorin…”

“Kau tidak dengar apa yang baru saja aku katakan? Aku sungguh tidak mengharapkan kehadiranmu di dunia ini!”

Soorin pergi meninggalkan Donghae  yang masih terdiam mendengar kata-kata Soorin. Entah mengapa dia merasa bahwa dia kehilangan separuh dari kekuatannya, dia kehilangan semangat hidupnya karena orang yang dia cintai telah meninggalkannya begitu saja.

Malam itu Donghae  pulang dengan hati yang hancur. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa agar Soorin mau menerimanya. Dia telah benar-benar gila. Semuanya hanya untuk Cho Soo Rin . Segala hal dalam hidupnya tak dapat lagi ia kendalikan. Pikiran,perasaan,hati,perkataan dan segalanya, semuanya miliknya tapi seorang Cho Soo Rin  telah mengendalikan segalanya. Segala emosinya, Soorin yang membuat emosinya kacau. Dia benar-benar hilang arah tanpa Soorin.

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ ­

Author’s POV

Soorin baru pulang dari tempatnya bekerja. Dia berjalan menuju parkiran dan segera setelah menemukan mobilnya dia menyetir pulang. Tapi ternyata tujuannya menjadi berubah. Dia berbalik arah menuju club tempat biasanya dia melepas lelah jika sedang punya banyak masalah. Dia melajukan mobilnya dengan cepat ke club yang dimaksud. Sesampainya di sana dia segera mencari seorang temannya. Ada hal yang harus dia lakukan…

“Aku butuh bantuanmu,” kata Soorin tanpa basa basi begitu menemui temannya di club itu. Dia lalu memberitahukan sesuatu pada temannya itu.

“Lakukan malam ini,” lanjut Soorin.

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

 

Panas…

Bukan panas yang seperti kau bayangkan…

Ini panas api…

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ ­

 

Malam itu Donghae berjalan sendiri menuju ke apartemennya setelah membeli makan malam. Namun, tanpa ia duga, ada beberapa orang yang menculiknya. Mereka membekap mulut Donghae dan membuatnya kehabisan napas karenanya.

Orang-orang itu membawa Donghae ke sebuah gedung yang tak terpakai lagi. Mereka menghempaskan tubuh Donghae dengan kasar. Dan merantai kaki Donghae. Namun, tanpa Donghae sangka…

Di depannya berdiri seorang gadis yang sangat familiar. Cho Soo Rin.

“Aku ingin kau mati,” kata Soorin dengan tatapan jijik pada Donghae.

“Soorin… Apa maksudmu?”

Tak ada jawaban. Soorin hanya diam lalu berlalu pergi. Dan saat itu Donghae masih terpaku dalam diam saat dia mulai menghirup bau bensin di sekitarnya. Dan ketika orang-orang yang membawanya makin menjauh, mereka menyalakan korek api lalu melemparnya. Dalam sekejab, sekitar Donghae sudah timbul api.

Donghae berusaha melepaskan rantai di kaki kirinya agar dia bisa mencari jalan keluar. Namun sial, tak mungkin ada tangan kosong yang melepas besi.

Dan mata Donghae menangkap sebuah gergaji besi. Dia lalu berusaha mengambilnya dengan susah payah. Setelah bisa mengambilnya Donghae berusaha menggergaji rantai di kakinya. Namun sia-sia. Donghae seperti dikejar waktu karena api semakin membesar setiap detiknya. Satu-satunya cara adalah…

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ ­

Hari itu sesuatu yang tak disangka Soorin sungguh terjadi. Lee Donghae. Datang kembali ke kehidupannya. Namun, sesuatu berubah. Kaki kiri Donghae tak ada lagi. Karena malam itu, Donghae memutuskan menggorok kakinya sendiri agar bisa selamat.

Donghae tersenyum dari pintu tempat kerja Soorin. Senyum yang tulus…

“Donghae…” kata Soorin pelan.

“Soorin… Apa kau benar-benar membenciku?”

“Aku…”

“Maafkan aku jika aku bersalah padamu… Aku sungguh mencintaimu Cho Soo Rin.”

“Kenapa kau masih mencintaiku? Padahal aku sudah hampir membunuhmu…”

“Bagiku… Mudah untuk memaafkanmu… Dan sangat sulit… Atau bahkan tak bisa melupakanmu…”

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ ­

 

Cinta itu menyakitkan…

Tak pernah mengenal arah…

Dia Lee Donghae yang terjebak cinta…

Cinta buta yang mendalam…

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ ­

Setelah kejadian itu, Soorin tak pernah sekasar dulu pada Donghae. Dan suatu hari Soorin mengajak Donghae untuk berjalan-jalan di sebuah danau di daerah pegunungan yang cukup jauh dari Seoul tempat Soorin tinggal.

Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Canggung akan apa yang ingin dibicarakan.

Dan sampai mereka sampai di tujuan.

“Donghae…Apa kau masih mencintaiku? Tanya Soorin.

“Selamanya…”

“Kau salah mencintaiku. Kau bodoh karena percaya padaku Lee Donghae.”

Dan dalam sekejab, Soorin terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia seolah tak peduli bahwa di depannya ada danau yang menghampar jelas. Dan 3 detik kemudian, mobil itu tenggelam di dalam danau itu. Dengan segera Soorin keluar dari mobil tersebut. Dan Donghae… Dia tak bisa kelaur dari sana. Karena dia tidak bisa berjalan, dan juga sebelumnya Soorin merusak pintu mobil di dekat Donghae.

Soorin keluar dari danau dengan tubuh basah kuyub. Dari atas danau tersebut dia bisa melihat bayangan Donghae yang masih kebingungan di dalam sana. Berusaha membuka pintunya namun tak berhasil. Dan 2 menit kemudian, segalanya menghilang… Mobil dan Donghae…

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ ­

 

Kini cinta telah tenggelam dalam sebuah rasa benci. Dia menghilang…

Dia pergi…

Telah 1 bulan berlalu sejal hari itu. Sejak kematian Donghae. Namun, kini Soorin merasakan kehilangan yang sangat. Ternyata… Cinta itu adalah yang ia butuhkan. Dia membutuhkan cinta itu…

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ ­

 

Soorin’s POV

Lee Donghae…

Maafkan aku…

Bolehkah aku menyusulmu?

Aku datang Lee Donghae…

Aku menyesal telah mengabaikanmu…

Mengabaikan cintamu…

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ ­

Cinta itu akan bersatu…

Bersatu di alam sana…

Alam yang fana…

Jiwa mereka bersatu…

Cinta itu…

Membunuhmu…

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ ­

 

 

END

One response to “[Lomba FF] Michin Geoni (27)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s