[Korean Fan Fiction] In Heaven (Kim Junsu JYJ/TVXQ/DBSK)

Author: ANGELAFT RACTA

genre: Angst, Romance

Cast: Kim Junsu JYJ/TVXQ, Song Ji Hyo (Actress)

Disclaimer: I Do not own the story and the casts(?).. read this and you’ll now why I wrote this disclaimer.

————————————————————-

“I didn’t even get to see her the last time and I just sent her away.” 

*************

(Author POV)

21 Juni 2011

Junsu merapikan rambutnya, memakai arloji mahalnya, mengikat dasi, merapikan jas, dan memastikan semuanya sempurna di hari yang penting baginya. Ya, hari ini Kim Junsu, seorang CEO perusahaan perangkat keras telekomunikasi akan mempresentasikan produk terbaru dari perusahaannya kepada calon-calon investornya.

Song Ji Hyo, kekasih Kim Junsu. Dengan rambut yang agak berantakan, mata sembap karena terus menerus menangis, dan pakaian yang benar-benar berbanding terbalik dengan kekasihnya menatap kearah gedung tempat Junsu berada dari sebrang jalan. Matanya terus menatap gedung tersebut seakan-akan dia benar-benar melihat Junsu disana. Padahal tentu saja, dengan jarak sejauh itu Junsu tidak akan terlihat.

Ji Hyo yang putus asa mencoba menelepon Junsu. Dia ingin meyakinkan dirinya kalau Junsu memang mencintainya, sebesar cintanya pada Junsu. Ya, 3 tahun sudah dia bersama Junsu, tetapi Junsu tidak pernah sekalipun menunjukkan sikap kalau dia mencintai kekasihnya, Ji Hyo. Ji Hyo lelah, putus asa menunggu Junsu akan membalas cintanya.

Junsu sibuk dengan presentasinya. Dengan gaya yang meyakinkan dia terus menerangkan mengenai produk barunya dan meyakinkan investor untuk menanamkan saham pada perusahaannya. Sesaat dia tahu HP-nya bergetar. Uri Ji Hyo. Begitulah yang tertulis di layar HP-nya. Dihiraukannya panggilan dari Ji Hyo tersebut dan dia kembali melanjutkan presentasinya.

Klik Ji Hyo memutuskan sambungan telponnya. Mata nanarnya kembali menatap gedung tempat Junsu berada. Tidak dipedulikannya lampu yang masih merah itu dan kakinya mulai melangkah ke gedung tempat Junsu berada. Kesedihan yang begitu mendalam membuat telinganya benar-benar tuli dan tidak mendengarkan klakson panjang dari sebuah mobil yang melaju kencang didekatnya.

TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNN!!!!!!!!! BBBRRAAAAKKKK!!!!

Tabrakanpun tak terhindarkan..

Sementara itu, Junsu menerima tepuk tangan dari audience-nya dan mendapatkan banyak ucapan selamat karena sukses besar dengan presentasinya.

***********

“I didn’t even get to see her the last time and I just sent her away”

***********

            “Aku pergi dulu.” Kata Ji Hyo sambil menangis. “Aku akan kembali dengan segera..”

            Pertengkaran hebat terjadi malam itu antara Song Ji Hyo dan kekasihnya, Kim Junsu. Tidak banyak yang dituntut Ji Hyo, dia hanya meminta Junsu agar meluangakn sedikit waktu untuknya. Ya, meskipun sudah menjadi kekasihnya, Junsu sering kali tidak peduli pada Ji Hyo. Tidak pernah menanyakan keadaan Ji Hyo. Dan tanpa sepengatahuan Junsu, Ji Hyo sudah sampai pada puncak lelahnya menunggu Junsu membalas cintanya.

            Mimpi Junsu berlanjut. Kali ini mimpinya menampilkan secara acak memori-memori yang telah dilaluinya bersama Ji Hyo. Sampai akhirnya gambar terakhir, menampilkan Ji Hyo sedang berada di tepi jalan, menangis, menatap nanar sebuah gedung tinggi didepannya.

            “It’s real, I love you this much.” Kata Ji Hyo dalam hati, tapi Junsu bisa mendengar dengan jelas suara hati kecil Ji Hyo. “Saranghae.” (aku mencintaimu).

            Ji Hyo melangkah tanpa melihat kalau lampu tanda menyebrang masih berwarna merah. Kesedihan yang menguasainya membuat telinganya tuli dan tidak mendengar suara klakson panjang dari sebuah mobil yang melaju dengan kencang………………………….

“As of right now, I can’t say anything

The miracle of you- it all seems like a fantasy

The last image of you seems to be locked only in my memories “

8 Agustus 2011

Zaaappp!! Junsu terbangun dari mimpinya. Mimpi itu lagi. sebulan lebih sejak kematian kekasihnya, Junsu masih saja memimpikan Ji Hyo. Dia terus memimpikan sosok Ji Hyo disaat detik-detik sebelum kematiannya seakan-akan dia melihat dengan mata kepala sendiri kematian Ji Hyo.

Dan aku seperti mendengar kata-kata yang ingin diucapkannya sebelum dia meninggal.

Hanya ada kesedihan, dan penyesalan sekarang. Apapun yang Junsu lakukan, dia tidak bisa mengembalikan Ji Hyo kembali ke pelukannya.

Sejak kepergian Ji Hyo, Junsu terus melakukan hal yang sama setiap harinya. Bangun tidur pukul delapan pagi setelah bermimpi tentang Ji Hyo, membuka kulkas dan mencari sebotol air putih, bersiap pergi ke kantor dan bekerja sampai larut, hingga ia pulang dan tertidur kembali.

“Pagi, sajangnim (direktur).” Sapa semua pegawainya saat ia berjalan melewati koridor sebelum ia tiba di ruangannya. Dari semua sapaan itu, tak satupun yang ia hiraukan.

“Kau lihat, Junsu sajangnim?”

“Tampan sekali…”

“Sayang dia gila kerja dan sombong sekali.”

“Apa dia benar-benar gila kerja?”

“Kalian karyawan baru sih, jadi kalian tidak tahu. Dulu sajangnim tidak seperti ini.”

“Lalu kenapa dia bisa berubah?”

“Sejak kekasihnya, Ji Hyo meninggal. Dia berubah…”

“Dia pasti depresi sekali.”

Junsu mendengarnya. Dia sering mendengar bisik-bisik dari karyawannya. Tapi dia hiraukan itu semua.

Time already passed like this

I try looking for your traces but they are erased

The last memories of you are locked in the rims of my tears

Sajangnim…” Seorang karyawan mengetuk pintu ruangannya. “Ini berkas yang harus kau tandatangani.”

“Letakkan saja di meja, akan kubaca nanti.”

Karyawan itu meletakkan berkas di meja kemudian permisi untuk keluar. Junsu duduk di kursi kebesarannya. Dibacanya berkas itu sekilas kemudian langsung menandatanganinya tanpa membaca lebih lanjut. Junsu membuka laci didekat mejanya, bermaksud untuk meletakkan berkas itu didalam lacinya. Tapi sesuatu yang lain mengalihkan perhatiannya.

Bingkai foto yang berisikan foto dia dan Ji Hyo…

JiHyo-ya, bogoshippeoyo (Ji Hyo, aku merindukan). Aku benar-benar merindukanmu. Andai kau tahu seberapa besar rindu ini, akankah kau tetap akan pergi meninggalkanku?

Don’t leave, don’t leave- can’t you stay?

Lies, lies, I don’t hear anything

I love you, I love you- can’t you show me?

Can’t you love me, love me, love me?

Don’t leave, don’t leave- can’t you stay?

Lies, lies, I don’t hear anything

I love you, I love you- can’t you show me?

Please come back

Junsu menatap jendela ruangannya yang langsung menghadap keluar. Langit biru bersinar cerah. Secerah wajah Ji Hyo dulu..

I wonder if you are watching me from somewhere

Even if I regret, it’s too late- I can’t see you anymore

The tears of the shadows of my memories are watching over that place

Andai aku bisa memiliki kesempatan kedua, aku akan melakukan semua yang tidak pernah kulakukan untukmu sebelumnya. Akan kuperbaiki semuanya. Akan kupastikan kau tidak akan pernah bersedih. Akan kujaga kau, akan kulimpahkan seluruh cintaku hanya untukmu, Ji Hyo.

************

Pukul 8 pagi hari

Seperti biasa, Junsu dibangunkan di pagi hari oleh jam weker di sebelah tempat tidurnya. Rutinitasnya di pagi hari juga dia lakukan sesudahnya. Membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral.

Ting tong… bel rumahnya berbunyi. Siapa yang mampir ke rumahku pagi-pagi begini?

Junsu mengenakan cardigan hitamnya sebelum membuka pintu. Dari kejauhan, terlihat bayangan seorang yeoja (perempuan) sedang berdiri menunggu seseorang membukakan pintu untuknya. Begitu Junsu membuka pintu…

Anyyeong! (halo).” Sapa yeoja yang berbaju kemeja putih, celana coklat, dan rambut agak sedikit berantakan. Senyum terkembang lebar di wajah yeoja itu. “Kau sudah bangun? Bagus, kita bisa sarapan bersama. Aku akan memasakkan sarapan untukmu.”

Junsu terpaku di tempatnya. Menatap sosok itu dengan wajah tidak percaya. Matanya membulat seakan-akan meyakinkan dirinya sendiri kalau yang dilihatnya itu memang nyata. Junsu yang menghiraukannya membuat yeoja itu kesal sehingga dia langsung masuk tanpa menunggu Junsu mempersilahkannya.

“Ji.. Ji Hyo?” Kata Junsu pada sosok yang sibuk menyiapkan sarapan di dapur. “Itu kau?”

Wae? (kenapa?) Apa kau sedang melihat hantu sekarang?”

Junsu masih tidak mengerti apa yang terjadi. Sesaat baru dia sadar keadaan rumahnya sedikit berubah dan kalender yang di tempelkannya di kulkas menarik perhatiannya.

8 Agustus 2008, 3 tahun sebelum kematian Ji Hyo, ini adalah saat dimana Junsu dan Ji Hyo baru menjalani hari-hari bersama.

Junsu langsung berlari memeluk Ji Hyo membuat Ji Hyo kaget dengan perlakuan Junsu yang tidak biasa ini. “Kau sedang apa sih?”

Jeongmal jeongmal bogosippeoso (aku benar-benar merindukanmu).”

“Kau sedang apa sebenarnya? Seperti sudah lama tidak bertemu denganku saja.” Junsu terus memeluk Ji Hyo tanpa menghiraukan Ji Hyo yang tidak tahu alasannya.

Tuhan, inikah hadiah yang kau berikan untukku? Inikah surga yang kau berikan untukku? Apa kau memberiku kesempatan kedua untuk memperbaiki semua kesalahanku? Akan kutepati janjiku Tuhan, akan kuperbaiki semua kesalahanku dan akan kubuat Ji Hyo bahagia. Terimakasih karena telah memberiku kesempatan kedua, Tuhan.

**********

“Pagi, sajangnim..”

“Selamat pagi semuanya.” Junsu tersenyum riang, dia benar-benar bahagia. Mengundang bisik-bisik dari karyawan-karyawannya.

“Junsu sajangnim terlihat bahagia sekali.”

“Memangnya kau tidak tau? Beberapa hari yang lalu sajangnim bertunangan dengan seseorang yang dijodohkan orang tuanya. Berani bertaruh, tunangannya itu pasti cantik sekali.”

“Pasti karena itu!”

Siapa peduli, tidak ada yang bisa membuatnya bersedih hari ini. Dengan langkah ringan dia memasuki ruangannya setelah memberi salam pada seluruh karyawannya.

Dibukanya buku agendanya dan terlihat beberapa janji yang sudah dibuatnya. Kemudian dia menambahkan beberapa catatan lagi.

Hal yang ingin kulakukan dengan Ji Hyo

1.      Bersepeda dengan Ji Hyo 

2.      Pergi ke pasar dengan Ji Hyo 

3.      Pergi ke departmen store dengan Ji Hyo

4.      Pergi membeli anjing dengan Ji Hyo

5.      makan malam dengan Jihyo

6.      mendengarkan musik jaz

Perasaan Junsu memang benar-benar ringan, tapi sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal disana. Ji Hyo, apakah memang dia akan mati 3 tahun lagi?

Dengan perasaan tak karuan, Junsu mengambil agenda baru dan menuliskan sesuatu pada tanggal 21 Juni 2011, hari dimana Ji Hyo seharusnya meninggal…

Jihyo kecelakaan… Begitulah kalimat yang dia tulis.

***********

18 Maret 2009

Ji Hyo mengenakan gaun putih dan topi jerami, tersenyum menghadap hamparan pemandangan di tepi sungai Han. Pagi hari ini udara sangat sejuk dan nyaman. Tepat sekali kalau Junsu mengajaknya bersepada. Karena itu dia membawa serta sepeda dengan keranjang rotan didepan miliknya. Junsu bilang hari ini mereka akan bersepada santai.

“Jagi! (sayang!)” Teriak Junsu dari kejauhan.

“Ne…” Ji Hyo berbalik dan kaget menemukan Junsu mengenakan pakaian ketat, pakaian yang memang ditujukan untuk berolahraga sepeda. Junsu juga membawa sepeda gunung. Ji Hyo menatap sedih pada gaun yang sedang dipakainya.

“Kenapa kau memakai pakaian itu?” Tanya Ji Hyo pada Junsu.

“Kita memang akan bersepeda bukan? Justru seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau berpakaian seperti itu?”

“Ka.. kau bilang kita hanya akan bersepeda santai…” Mata Jihyo memerah dan mulai basah oleh air mata. “Huwweeee!!! Hiks hiks, kenapa kau tidak bilang kita akan BEROLAHRAGA?”

Uljimalyo.. uljimalyo.. (jangan menangis).” Junsu mulai panik seperti dia sedang menenagkan anak kecil umur 5 tahun yang terus menangis karena tidak mau mengerti bahwa toko permen sudah tutup. “Haduh.. apa yang harus kulakukan? Uljimalyo… Jebal… (Jangan menangis, kumohon).”

Tapi Ji Hyo terus saja menangis.

“Huah! Kalau begini terus…” Junsu langsung mengambil tubuh Ji Hyo mengangkatnya.

“Kyaaa!! Junsu!!! Apa yang sedang kau lakukan??!!!”

Diambilnya sepeda Ji Hyo dan langsung meletakkan tubuh Ji Hyo diatas sepedanya. “Ayo bersepeda! Siapa yang peduli dengan pakaian yang kau kenakan!”

Akhirnya mereka berdua bersepeda penuh canda dan tawa pagi itu. Tak lupa udara cerah dan pemandangan sepanjang sungai Han menemani mereka berdua..

JiHyo-ya, apa kau bahagia?

***********

21 Oktober 2010

Ji Hyo menatap seluruh isi restoran itu dengan pandangan kesal. Sedari tadi tak henti-hentinya ia mentap jam tangannya. Sudah satu jam dia menunggu di restoran mewah itu, tetapi Junsu tak kunjung tiba.

Dengan tergesa-gesa Junsu berlari masuk kedalam restoran mewah tempat dia sudah membuat janji dengan Ji Hyo. Hari ini mereka akan makan malam berdua. Junsu tersenyum saat menemukan Ji Hyo yang cemberut. Tanpa menunjukkan rasa bersalah Junsu langsung duduk didepan Ji Hyo sambil memainkan gelasnya.

“Yak! Kau tidak tau sekarang jam berapa?” Ji Hyo tampak semakin kesal karena Junsu malah tersenyum seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

“Jam sembilan. Memangnya kenapa?”

“Tapi kita kan berjanji pukul delapan..”

Junsu mengangkat bahunya dan mulai minum wine lagi-lagi tanpa perasaan bersalah. Hal itu membuat Ji Hyo makin kesal dan hampir menangis. Tetapi detik pada saat air matanya akan jatuh, tiba-tiba sekelompok band beraliran jazz mulai memainkan musik di belakang Ji Hyo. Itu adalah band jazz yang sudah dipesan Junsu sebelumnya.

Ji Hyo tetap menangis, tetapi kali ini dia menangis karena terlalu bahagia. Dia bahagia pada Junsu yang begitu perhatian padanya dan selalu memberi kejutan.

Junsu menatap Ji Hyo lembut kemudian menggenggam tangannya. “Miyanhae (maaf).”

Ne.. gwenchana (ya, tidak apa-apa). Lain kali jangan terlambat lagi.”

“Janji!” Kata Junsu sambil memainkan cincin yang melingkar di jari manis Ji Hyo. “Ah Ji Hyo, cincin ini cocok sekali berada di tanganmu.”

“Ya, karena aku tunanganmu.”

Malam itu mereka makan malam dengan suasana romantis ditemani dengan alunan musik jazz.

            Ji Hyo-ya, apa kau bahagia?

***********

27 Februari 2011

Rumah Ji Hyo dipenuhi banyak bunga, semuanya tampak indah dan terawat. Di tengah-tengah bunga-bunga itu, ada satu bunga yang tampak paling indah. Dialah yang merawat semua bunga-bunga itu. Siapa lagi kalau bukan Ji Hyo.

Ji Hyo sedang melukis. Melukis sosok orang yang dicintainya, sang kekasih, Junsu. Setelah selesai, dia menatap hasil lukisannya dengan puas.

            Ya Junsu, aku sangat sangat bahagia bersamamu.

************

21 Juni 2011

Junsu merapikan rambutnya, memakai arloji mahalnya, mengikat dasi, merapikan jas, dan memastikan semuanya sempurna di hari yang penting baginya. Ya, hari ini Kim Junsu, seorang CEO perusahaan perangkat keras telekomunikasi akan mempresentasikan produk terbaru dari perusahaannya kepada calon-calon investornya.

Tetapi sejak tadi perasaannya tidak tenang. Seperti memiliki firasat sesuatu yang buruk akan terjadi. Dibukanya buku agendanya dan menatap catatan yang dia tulis di tanggal ini tiga tahun yang lalu.

Jihyo kecelakaan..

Apa? Tanggal apa ini? Kenapa aku menandai hari ini? Hari apa? Kejadian apa? Atau akan ada sesuatu yang terjadi? Kenapa tanggal ini begitu penting? Apa yang akan terjadi dengan JiHyo?

Sajangnim, komisaris dan para calon investor sudah berkumpul.”

“Sebentar lagi..” Kata Junsu seraya merogoh sakunya, mencoba menelepon Ji Hyo.

———————

Ji Hyo menatap sebuah pot bunga didepan rumahnya. Omo, bunga ini sudah layu. Sebaiknya aku pergi keluar membeli bunga lain. Bunga apa ya? Mungkin bunga matahari juga bagus. Warnanya kuning, cerah, seperti memancarkan kebahagiaan.

Ji Hyo tersenyum, menganggukkan kepalanya, mengambil tas dan pergi keluar untuk membeli bunga matahari. Tak lupa dia mengenakan headset untuk mendengarkan musik. Dia mulai melangkah keluar rumah…

…. dan meninggalkan HP-nya

———————

Tidak ada jawaban dari HP Ji Hyo. Junsu menghela nafas sambil mengembalikan HP-nya ke sakunya. Jihyo, semoga kau baik-baik saja

Junsu berdiri dihadapan komisaris dan semua calon investor, bersiap mempresentasikan produk baru perusahaannya. Tetapi mukanya masih terlihat cemas dan keringat dingin mulai bercucuran di wajahnya.

“Junsu-ssi, silahkan dimulai.” Kata salah satu komisaris utama perusahaan tempat Junsu bekerja.

Zaaaapppppp!!! Tiba-tiba didalam pikirannya muncul gambaran-gambaran mengenai JiHyo. Dia menangis menatap gedung besar didepannya. Mobil yang melaju kencang, bunyi klakson panjang yang memekakkan telinga. Jihyo…….

Hari ini adalah hari kematian Ji Hyo.

“Junsu-ssi!”

Drap drap drap drap.. Junsu berlari kencang meninggalkan ruang meeting. Berlari secepat yang ia bisa. Berlari tanpa menghiraukan tatapan keheranan dari semua orang yang berada di ruang rapat. Berlari untuk menemui kekasih yang dicintainya, Ji Hyo.

Just end it, end me- if you’re not going to be next to me

I’m sorry but I’ll leave now- following your footsteps

Following the road with no end- as I wander to find you

I’m afraid I will lose you and be sad  

Lega… Junsu begitu lega saat dia berhasil menemukan JiHyo yang memegang pot berisi bunga matahari. Tersenyum sambil menciumi bunga matahari yang dipegangnya.

Ji Hyo, kau tampak bahagia. Kata Junsu dalam hati.

“Ji Hyo-ya!!” Dipanggilnya Ji Hyo dari kejauhan, tapi JI Hyo sama sekali tidak mendengar karena dia masih menggunakan headset.

Orang-orang yang tadinya berada disamping-samping Ji Hyo untuk sama-sama menyebrang telah melangkahkan kaki mereka lebih dulu. Ah, sudah hampir merah lagi, kata Ji Hyo dalam hati. Cepat-cepat dia menyusul langkah-langkah lain sebelum lampu tanda menyebrang berubah kembali menjadi merah.

Baru saja Jihyo berada di tengah jalan, lampu tanda menyebrang sudah berubah menjadi merah. Tanpa Ji Hyo sadari, sebuah mobil melaju kencang menuju kearahnya.

Ji Hyo tidak sadar, tetapi Junsu dari jauh menyadarinya…

“JI HYO!!!!!!!” Teriak Junsu berusaha memperingati Ji Hyo. Tapi percuma, Ji Hyo masih tidak mendengar. Junsu langsung berlari ke tempat Ji Hyo.

Ji Hyo kaget melihat mobil yang melaju begitu kencang kearahnya. Tubuhnya mendadak kaku. Tangannya langsung melepas pot bunga matahari yang sedari tadi ia pegang, pecah. Kakinya sendiri seperti tidak mampu mengikuti perintah otaknya yang menyuruhnya berlari.

“JI HYOOO!!!!!!!” Junsu berlari, dia berhasil menangkap tubuh Ji Hyo. Tapi terlambat….

BRRRAAAAKKKKKKK!!!!!!!!!!!

Junsu, aku bahagia. Benar-benar bahagia……

***********

JI Hyo dan Junsu duduk di bangku kayu yang terletak di tengah-tengah hamparan padang rumput hijau menatap kearah matahari terbenam yang berwarna jingga didepan mereka. Tangan mereka saling menggenggam erat satu sama lain dan mata mereka saling bertatapan lembut.

“Ji Hyo, apa kau bahagia?”

“Ya, aku benar-benar bahagia.”

Matahari semakin lama semakin terbenam hingga akhirnya tinggal menyisakan semburat jingga di langit. Junsu menatap Ji Hyo kemudian mengalihkan pandangannya ke semburat jingga didepannya.

Thank you for teaching me how to love

Mereka saling bertatapan lagi.. berpelukan.. dan hidup bahagia selamanya…

Di surga….

************

(TAMAT)

16 responses to “[Korean Fan Fiction] In Heaven (Kim Junsu JYJ/TVXQ/DBSK)

  1. pantesan disclaimernya dtulis kyk gtu…
    gak bisa komen aku… baca ini smbil dngerin In Heaven, bener2 kebayang… jd mewek dech… T_T
    like this!

  2. Brarti yg trakhirnya itu mereka dua2nya mati yah?😥
    Aku baru ngeh pas baca ff ini loh, eonn. Kalo di MV-nya gk mudeng .__. *ktauan dodol*

    Biarin lah (?) yg pnting Jihyo ama Junsu-nya ngrasa bhagia sblum mati #DUAKK!

    Good job, Angel eonn!😀

  3. Ping-balik: Tampil layaknya pebaseball pro dengan jaket baseball kaskus | Toko Online Terbesar & Terbaik·

  4. Ping-balik: Gambar- gambar jaket dapat membuat kamu jadi pebisnis muda lho! | Toko Online Terbesar & Terbaik·

  5. Ping-balik: Dampak Positif & Mekanisme Pemekaran Desa | MINBAR BLOG·

  6. Ping-balik: Metode Penelitian Pariwisata | KEPARIWISATAAN BLOG·

  7. Akhirnya mengerti juga cerita MV in heaven lewat ff ini xixixi
    jujur awalnya aku bingung liat tuh Mv, terus penasaran juga sama bahasa korea yang digunakannya hahaha,,
    sekarnga penasaranku terjawab sudah hehe

    • Hahaha, yang bahasa korea itu, sebagian kudapat dari youtube (ada yg nerjemahin🙂 sebagian lagi (terutama yang tulsan2 di buku Junsu) itu aku minta tolong ke guru les bahasa koreaku buat nerjemahin😄 well, aku bisa baca hangul sih, cuma menurutku tulisan Junsu jelek banget ampe gak kebaca sama pembaca hangul pemula ini (aku) :p

  8. Kyaaa eonnie, ini ff nya bikin aku tau jalan cerita MV In Heaven haha
    jd kyk flashback gitu ya~ atau isyarat dr tuhan hmm..

    • Kalau aku sih ngeliatnya Junsu kembali ke masa lalu, soalnya ngeliat kalender yang bener-bener disorot abis pas MV-nya🙂 tapi itu perkiraan aku lho, perkiraan rang kan bisa beda-beda🙂

  9. Hehehe sepertinya hampir semua berkomentar ttg hal yang sama (baru ngerti MV-nya setelah baca FF ini), aku awalnya juga nggak ngerti, tapi setelah nonton dua kali baru aku ngerti😀 tapi ini juga cuma perkiraanku.. masing-masing persepsi orang kan bisa beda🙂

  10. sebelum baca ini ada ktemu versi lain (sebenernya s tadi dalam rangka cari apa s arti ucapan yng diucapin jj) dan emank gak ngerti ma ending t mv. hahaha….
    versi dua”nya bagus”^^ stelah baca jadi negrti jalan cerita dan apa yng terjadi diending

    versi satunya s yng aku baca, endingnya diubah gak kayak di mv. hohoho
    http://ffindo.wordpress.com/2011/11/21/in-heaven/ => klu mau isenk baca^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s