[FREELANCE] Don’t Say Goodbye (MBLAQ)

Title        : Don’t Say Goodbye

Author       : kuku.rama

Cast(s)      : MBLAQ, JungGaEul, OC

Length       : Mini drama (5 chap)

Genre        : AU, SI, Fluff, Angst

Rating       : PG

Disclaimer   : I OWN this story but not the characters. Do not copy (without coyright) or steal it. If you try, I will sue. Oops, I mean I will kill you soon!

———————————————————————————————————–

Part 1 of 5 :

Langit terlihat seperti bulatan kapas yang telah digunakan untuk membersihkan tumpahan tinta, hitam pekat. Angin berhembus kencang, menggugurkan daun Apricot yang terlihat seperti confetti.

Sepi, tentu saja, mana ada orang yang pergi ke taman di cuaca seburuk ini. Rintik hujan membuatku semakin mempercepat langkah, melewati pohon Sakura, Maple, dan Persik. Menuju satu titik, tempat yang membuatku merasa-

Agasshi.”

Aku tertangkap, ia menggenggam pergelangan tanganku, menjagaku agar tetap terlindung dalam naungan benda bening berdiameter sembilan puluh sentimeter yang dipegangnya.

Agasshi sedang flu, kali ini aku tidak akan membiarkan Agasshi mandi hujan.”

Kugembungkan pipiku, menatap lurus manik matanya. Ia balas menatapku dengan seulas senyum lembut di bibirnya.

Aku menghela nafas, kalah.

“Baiklah, kita duduk di sana.”

Aku menunjuk sebuah bangku yang berada di dekat air mancur.

“Aku tidak ingin pulang sekarang.”

“Tapi Aga-

“Kau mau membantahku?”

Ia menggeleng, menggandengku menuju tempat yang kumaksud.

Agasshi tolong pegang payungnya, bangkunya basah.”

Kuterima payung yang disodorkannya, sepuluh detik sebelum aku melemparkannya.

Agasshi!”

Aku tertawa melihatnya berusaha melindungiku dari derasnya hujan, usahanya sia-sia karena kami berdua sudah basah kuyup sekarang.

“Kau sengaja ingin memelukku?”

“Oh, eh, maaf.”

Ia melepaskan dekapannya.

“Aku hanya bertanya, bukan memintamu untuk melepaskannya.”

“Ehm, baik.”

Sekali lagi ia membawaku dalam dekapannya.

“Kyaaa!”

Tubuhnya menimpa tubuhku, bibir kami bersentuhan, bertaut satu sama lain hingga menimbulkan letupan-letupan kecil dalam dadaku.

“Maaf.”

Ia bangkit dari atasku, kemudian menolongku.

“Aku kehilangan keseimbangan saat Agasshi-”

Ia menatapku sejenak.

Agasshi baik-baik saja?”

Aku tidak menjawab, banjuran air hujan membuat pandanganku sedikit mengabur.

“Buram.”

Ia menyentuh lenganku, sedikit mengguncangnya

Agasshi?”

Tubuhku limbung, kepalaku terasa sangat berat yang terakhir kudengar hanya suaranya yang memanggilku.

***

Agasshi mengalami demam tinggi kemudian pingsan selama beberapa jam.”

Aku mengangguk mendengar penjelasan kepala pelayan Ahn.

“Joon kemana?”

“Saya rasa ia ada di bawah, perlu saya panggilkan?”

“Ya.”

“Baik saya permisi.”

Kupejamkan mataku sejenak, kepalaku masih terasa pusing.

Agasshi memanggilku?”

“Ya, kemarilah.”

Kutepuk pinggiran ranjangku, memintanya duduk.

Agasshi harus banyak istirahat agar cepat sembuh.”

“Hei, berani sekali kau memerintahku. Memangnya kau siapa!?”

BodyguardAgasshi, aku tak ingin makan gaji buta karena Agasshi terus-menerus berada di rumah.”

Kunaikkan sebelah alisku, ia tertawa kecil.

“Aku hanya bercanda. Aku tak ingin Agasshi terus berada di rumah karena sakit.”

Pintu kamarku terbuka, kepala pelayan Ahn membawa nampan yang berisi semangkok sup, obat, dan air minum.

Agasshi harus segera memakannya sebelum dingin.” kata Joon setelah kepala pelayan Ahn pergi.

Aku hanya menatap sup krim ayam yang masih mengepul.

“Aku tidak ingin makan.”

Agasshi harus makan.”

Ia menyendok supnya.

“Nanti saja.”

Aku benci tatapan itu, tatapan yang mampu meluruhkan setiap amarahku.

“Atau aku harus memaksa Agasshi.”

Ia mendekatkan sendok ke bibirku, terpaksa aku memakannya.

Agasshi harus menghabiskannya.”

“Pelan-pelan, kau pikir tidak panas?!”

Ia menyuapiku sambil terus menasehatiku seperti seorang ayah kepada putrinya.

“Joon, sudah.”

Aku menolak saat ia hendak menyuap lagi.

“Tapi Agasshi belum menghabiskannya.”

“Aku tidak kuat, lebih baik aku minum obat saja daripada muntah.”

Ia meletakkan mangkok yang dipegangnya, menyodorkan beberapa butir obat dan segelas air putih padaku.

“Baiklah, Agasshi harus istirahat sekarang.”

Ia menyelimutiku kemudian beranjak.

“Siapa yang menyuruhmu pergi? Kau temani sampai aku tidur.”

Aku menggeser posisiku, memberinya tempat untuk duduk.

“Nyanyikan sebuah lagu untukku.”

“Apa?”

“Sesukamu.”

Ia bersenandung lembut, mengantarku perlahan ke alam mimpi.

***

Kurasakan sebuah sentuhan lembut di kepalaku.

GaEul.”

Aku mengerjap, membuka mata dengan malas.

Oppa.”

“Bagaimana keadaanmu?”

“Sudah lebih baik.”

Ia menepuk puncak kepalaku.

“Kau tidak boleh keluar hari ini.”

“Tapi-”

“Jika melanggar, kau akan dihukum.”

“Aku bukan anak kecil, Oppa!”

“Ya, dan harusnya kau bisa mengerti kondisimu.”

“Aku hanya-”

“Hanya tidak peduli dengan kesehatanmu.”

Aku merengut.

“Sudahlah, Oppa keluar saja.”

Aku membungkus tubuhku dengan selimut, memunggunginya. Tak lama kudengar pintu kamarku ditutup. Aku melempar selimutku, berjalan ke kamar mandi.

Kutuangkan tiga tetes aromatherapy mint sebelum merendam tubuhku dalam bathtub. Setelah kurasa cukup, aku mulai merendam tubuhku dalam air hangat.

Aku masih tidak habis pikir, sebenarnya untuk apa Oppa memberiku bodyguard. Kurasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, aku bukan putri seorang presiden atau mafia. Hanya putri seorang pengusaha yang bisa dikatakan cukup sukses. Lihat, dalam dorama saja Goo JunPyo ataupun Kang HaeNa tak perlu diikuti bodyguard selama dua puluh empat jam, tidak seperti aku. Yah, meskipun aku tidak benar-benar menganggap Joon sebagai bodyguard.

Agasshi.”

“Tunggu sebentar.”

Kukeringkan tubuhku kemudian memakai baju mandiku.

Joon bersandar di pintu dengan kemeja kotak-kotak, celana jeans dan Reebok putihnya. Matanya terpejam, tangannya terlipat di dadanya, wajahnya terlihat sedikit lelah.

“Joon.”

Ia terkejut saat melihatku, semburat merah terlukis halus di pipinya.

Deo . . . Deoryeonnim mengizinkan Agasshi untuk keluar hari ini, permisi.”

***

 

“Aku memang mengizinkanmu keluar, tetapi bukan dengan Joon.”

“Bukan dengan Joon? Lalu?”

“Sebentar lagi, tunggu saja.”

Jangan katakan Oppa akan memberiku satu bodyguard lagi, Joon sudah lebih dari cukup untuk melindungiku.

Deoryeonnim, Dokter Park sudah tiba.”

Aku berjengit, SangHyunOppa?

“Persilakan Dokter Park masuk.”

Kutatap punggung Manager Choi dengan mata membulat. Aku akan dibawa ke rumah sakit?

“Ehm, Oppa. Kurasa lebih baik aku ke kamar dan beristirahat.”

“Tidak, kau harus menemuinya.”

Aku tidak tahu apa yang dibicarakan antara Oppa dan SangHyunOppa, sampai ia membawaku ke dalam Mercedes hitamnya.

Ini kali pertamanya aku pergi tanpa Joon, entah mengapa aku malah merasa risih dan tidak nyaman.

“Kita akan kemana?”

“Kau akan segera tahu.”

Oppa tidak berniat membawaku ke rumah sakit dan membedahku, kan?”

Ia tertawa.

“Mana mungkin, ByungHee tidak akan mengampuniku jika itu terjadi.”

“Bisa saja jika Oppa adalah salah satu sindikat penjual organ manusia.”

Ia mencubit pipiku.

“Katakan kau ingin kemana, aku akan menurutimu.”

“He hehe, bioskop.”

***

“Joon.”

Kuguncangbahunyapelan.

“Uungh.A . . .Agasshi.”

“Kaujangantidur di sini, bisasakit.”

“Aku bermaksud menunggu Agasshi. Tapi malah tertidur.”

“Bodoh.”

Aku menariknya agar bangkit.

“Temani aku keluar.”

Agasshi baru saja pulang, kenapa ingin kel-”

Kuletakkan telunjukku di bibirnya.

“Ikut dan tak usah banyak bicara.”

###

Agasshi ingin sesuatu?”

“Tidak, kurasa seperti ini saja sudah cukup.”

Ia menyandarkan kepalanya ke bahuku, memejamkan mata.

“Jangan tidur di sini, Agasshi bisa sakit.”

“Aku tidak akan sakit jika kau bersamaku.”

Uap putih menyeruak dari bibir mungilnya.

“Dingin.”

“Sudah kubilang, kita kembali saja.”

Ia menggeleng, bersikeras untuk tinggal.

“Aku ingin melihat hujan meteor.”

“Kita masih bisa melihatnya di tempat lain. Lihat, Agasshijadipucatbegini.”

“Joon.”

“Kali ini aku tidak akan menuruti perintah Agasshi.”

Kuangkat tubuhnya, ia meronta.

“Turunkan! Aku bisa berjalan sendiri!”

“Berpeganglah atau Agasshi akan jatuh!”

“Ugh.”

Ia melingkarkan tangannya ke leherku, mulai meniup nafasnya ke wajahku. Wangi orange mint menggelitik hidungku.

Agasshi, hentikan!”

Ia terkikik, mengulanginya sampai aku menatap lurus-lurus mata cokelatnya.

“Apa?”

“Tidak, lupakan.”

Ia bersenandung pelan, lagu yang sama dengan yang kunyanyikan semalam.

Someday I’ll wish up on a star

and wake up where the clouds are far

behind me

“Hei!Kenapa membawaku ke mobil?”

“Karena aku akan membawa Agasshi ke suatu tempat.”

“Kemana?”

***

Ia meneguk secangkir besar cokelat panas dengan mata yang berbinar-binar.

“Uuuh, hangatnya~”

Ia menatapku, seulas senyum terlukis di bibirnya.

“Jadi sebenarnya kau tinggal di sini?”

“Ya. Maaf sudah lancang mengajak Agasshi ke apartemenku.”

Ia menggeleng.

“Aku justru berterimakasih kau mengajakku ke sini. Ini kali pertamanya aku bisa duduk tenang di balkon tanpa ada yang meneriakiku, menyuruh masuk.”

“Angin malam memang tidak baik untuk kesehatan Agasshi. Aku akan mengambil selimut lagi.”

Aku beranjak dari sebelahnya namun ia mencengkeram tanganku, menahan agar aku tidak berpindah.

“Tidak perlu, apa kau kurang puas melihatku sepertikimbap begini?”

Digembungkan pipi pucatnya. Tubuhnya memang terbungkus selimut hijau yang terlihat seperti lapisan nori padakimbap.

Ia menarikku duduk. Aku mengalah, bersandar pada lapisan kaca tebal dan mulai menyesap kopiku.

“Joon.”

“Hmm?”

“Aku mau itu.”

Ia menunjuk cangkir besar yang sedang kugenggam.

Agasshi tidak boleh minum kopi.”

“Sedikit saja.”

Ia berusaha meraih cangkirku. Aku berdiri, mengangkat cangkirku tinggi-tinggi.

“Joon, berikan padaku!”

Agasshi jangan bersikap seperti anak kecil!”

“Sejak kapan kau boleh membantahku!?”

“Ini demi kebaikan Agasshi.”

“Berikan!”

Ia mulai merengek, berusaha mengambil cangkirku.

Agasshi harus minum obat, karena itu Agasshi tidak boleh minum kopi.”

“Tapi aku bisa minum obat dua jam sesudahnya!”

“Jika Agasshi tidak bisa tenang, aku tak akan memberikannya pada Agasshi.”

Ia kembali duduk, begitu juga denganku.

“Memangnya kopi itu sekeras apa?”

Agasshi belum pernah minum kopi sebelumnya?”

Oppa dan eomma melarangku. Kau tahu kan, sejak kecil aku selalu bergantung pada benda-benda sialan itu.”

Ia menyesap kopi yang kuberikan. Sedetik kemudian ekspresinya berubah, berusaha menikmati separuh ingin memuntahkannya.

“Aaah, pahit!!!”

Aku tertawa saat melihatnya berusaha menghilangkan rasa pahit dengan meneguk cokelatnya. Ia mengerjap, menggigit bibirnya, pipinya menggembung.

“Kau tidak bilang kalau kopi itu pahit.”

“Aku sudah melarang, tapi Agasshi bersikeras. Tak ada pilihan selain menuruti Agasshi.”

Ia menunduk, menyandarkan tubuhnya ke lenganku.

“Apa kau tidak punya pilihan, sampai-sampai kau mau mengasuhku seperti ini?”

“Maksud Agasshi?”

“Menjagaku sangat membosankan, bukan begitu? Kau tidak merasa sedang mengasuh balita saat bersamaku?”

“Tentu saja aku senang bisa menjaga Agasshi.”

“Aku ingin kau mengatakan apa yang kau rasakan. Anggap saja aku orang yang memiliki status sosial di bawahmu. Kau boleh marah padaku jika perlu.”

Aku merasa ia bukan seperti Agasshi yang kukenal.

Agasshi sedang ada masalah.”

Ia menggeleng.

“Tidak. Aku hanya ingin tahu apa yang kau rasakan jika hidupmu ditentukan oleh satu garis lurus.”

“Sejujurnya aku sedikit kesal karena tidak bisa melarang Agasshi.”

Ia tersenyum.

“Terkadang Agasshi suka memaksakan diri.”

“Lalu?”

“Hanya itu.”

“Kau tidak ingin memberontak?”

2 responses to “[FREELANCE] Don’t Say Goodbye (MBLAQ)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s