[Korean Fan Fiction] I Can’t Be With Him – Part 1

 

Main Cast :

  • Lee Jinki
  • Shin Jibyung
  • Lee Taemin

Other Cast :

  • Other SHINee members
  • Park Younggeun

Genre : Romance, Friendship, Family

Rating : General

Length : Continue/Chaptered

Author : Mira~Hyuga

Disclaimer : Ide cerita sebenernya dari temenku, Icha a.k.a Park Younggeun *nunjuk2 cast*. Cuma aku yang nuanginnya ke ff dan ngembangin ide briliannya itu sedemikian rupa, jadinya gini deh. Keke~ Jadi ini bukan murni hasil imajinasi aku. ^^ *disclaimer macam apa ini?*

>>><<< 

PART 1

Gangnam Senior High School, salah satu sekolah elit berstandar internasional di kota Seoul yang mempunyai sistem pembelajaran yang apik, disiplin dan berkualitas. Penuh dengan murid-murid yang berprestasi dan tidak pernah absen mendapatkan penghargaan setiap tahunnya. Bangunan sekolah, kelas-kelas tempat belajar mengajar dan juga fasilitasnya sangat memadai, sehingga tidak akan ada yang berani menolak tawaran untuk bersekolah di sekolah terfavorit ini.

Hari pertama di minggu ketiga pada bulan September…

Bel istirahat pertama—setelah jam pelajaran ke 3-4 selesai—pun berakhir. Terlihat beberapa guru yang berturut-turut keluar dari kelas tempat mengajarnya masing-masing, disusul dengan menghamburnya murid-murid yang juga keluar untuk jajan di kantin, ke perpustakaan atau sekedar berjalan-berjalan sambil mengunjungi kelas lain.

Di sudut belakang kelas 2-2, seorang murid laki-laki—yang memakai kacamata minus yang tebal—tampak tidak terpengaruh dengan teman-temannya yang satu-persatu mulai meninggalkan kelas. Dia tetap sibuk dengan buku geografi di tangannya.

Lee Jinki. Salah satu siswa peraih beasiswa untuk bersekolah di Gangnam SHS—hingga lulus—karena kecerdasannya di bidang akademik. Namun karena sifatnya yang pendiam dan jarang berbicara (tapi terkadang ‘sangtae’ di saat-saat tertentu dan juga ceroboh) membuatnya kurang dikenal di lingkungan tempatnya bersekolah ini. Jumlah temannya saja bahkan masih bisa dihitung oleh jari tangan. Selain itu, Jinki juga sebenarnya adalah salah satu penghuni panti asuhan di Gangdong, sejak pertama kali dia mengetahui dunia.

“Jinki-ya!”

“Ne?”

Kim Kibum, salah satu teman sekelasnya mendekatinya dengan sikap bosan, lalu menutup buku yang sedang Jinki baca dan membantingkannya ke atas meja.

“Ya! Waeirae?” protes Jinki tak terima.

“Kajja! Bantu kami bertanding hari ini!”

“M-mworago?!”

“Ayolah, kami kekurangan orang.”

“Ani, ani. Sebaiknya jangan aku. Kalian bisa sial.”

“Ah~palli…!! Kamu teman kami. Tidak ada alasan untuk menolak permintaan seorang teman, kan?” Kibum menyeret Jinki yang masih bersikeras tidak ingin mengikutinya.

“Ta-tapi… aku—”

“Palli~!”

“ANI!!”

“Haisssh~” Kibum berbalik sejenak, menatap Jinki yang masih bertahan di ambang pintu, berpegangan pada dinding sekeliling pintu agar Kibum kesulitan menyeretnya. Tapi kemudian Kibum menarik Jinki dengan jauh lebih kuat, membuat pegangan Jinki terlepas. Kali ini Kibum tidak hanya menarik tangannya, tapi mengalungkan lengannya di bahu Jinki dan menekan kepala Jinki ke bawah ketiaknya. (O.o)

“Kim Kibum! Ya! Aisshh~”

Sementara itu, seorang siswi yang berada di kelas yang sama dengan kelas Jinki dan Kibum, beberapa kali tersenyum geli memperhatikan tingkah kedua laki-laki itu.

“Apa-apaan sih mereka itu?” gumamnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Ya! Jibyung-ah!” seorang siswi lainnya melongokkan kepalanya ke dalam kelas, memanggil siswi tadi.

“Ah~ne, Young Geun-ah… Wae?”

“Aissh~ jinjja! Kukira tadi kamu mengikutiku keluar! Tidak ingin lihat pertandingan basket antara angkatan kita dan senior?”

“Oh~ ne, ne. Kajja!”

>>><<<

Bel usainya jam pelajaran terakhir berbunyi. Seperti biasa, sejumlah guru keluar dari masing-masing kelas yang diajarnya, disusul dengan murid-murid yang menghambur keluar.

Jibyung masih membereskan alat tulisnya ketika Young Geun memanggilnya dan melambaikan tangan, “Aku duluan, Jibyung-ah…”

“Ah~ ne. Annyeong…” balas gadis itu, kemudian berdiri dan menyampirkan tas selempangnya pada bahunya. Ekor matanya menangkap Jinki yang juga baru mulai melangkah hendak keluar. Dia menoleh, memperhatikan namja itu yang berjalan dengan santai sampai akhirnya menghilang di balik pintu.

Jibyung menghela napas sejenak dan juga berjalan keluar.

“A-aigoo~ Jinki sunbae! Omo~”

Beberapa siswi kelas 1 menghampiri Jinki dengan ekspresi kagum. Jinki berhenti berjalan dan tersenyum simpul ke arah mereka yang sekarang membungkuk sedikit ke arahnya. Namja itu balas membungkuk, lalu kembali berjalan.

“Jinki sunbae! Aku mendukungmu masuk tim basket!!” seru salah satu dari siswi-siswi itu. Kebetulan mereka tadi melihat pertandingan basket tersebut, dan otomatis juga melihat bagaimana Jinki bermain di lapangan. Namja itu, tanpa diduga, beberapa kali mencetak poin untuk tim angkatannya tadi, meskipun memang tetap saja kalah dengan selisih angka yang sangat sedikit.

Jinki kembali berhenti dan membalikkan tubuhnya lagi ke arah mereka, tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, “Ne, gomawoyo…” sahutnya singkat.

“Omooo~” pekik siswi-siswi itu lagi. Jibyung yang melihat pemandangan itu tanpa sadar terus tersenyum geli. Namun senyumannya hilang begitu saja saat dua orang namja berpakaian seragam menghampirinya.

“Agasshi…” panggil mereka.

Jibyung diam-diam menghembuskan napas dengan berat dan berjalan di depan mereka, tidak mempedulikan tatapan-tatapan murid-murid yang berada di dekatnya, namun sesekali balas membungkuk saat adik-adik kelasnya menyapanya.

>>><<<

…Panti Asuhan Gangdong, 6:49 pm…

Jinki memasukkan semua barang-barangnya ke dalam sebuah ransel besar berwarna hitam miliknya. Peraturan tetaplah peraturan. Panti asuhan yang ditempatinya ini tidak bisa lagi menampung anak yang berusia 17 tahun atau lebih. Dan Jinki, beberapa bulan yang lalu dia baru saja menginjak usia ke-17, yang berarti dia juga terpaksa harus meninggalkan tempat tinggalnya selama belasan tahun ini.

TOK! TOK! TOK!

“Jinki-ya, boleh aku masuk?” suara bernada lembut itu terdengar dari luar kamarnya.

“Ah~ ne, eommoni. Dwaeyo.” Jawab Jinki yang sejenak menghentikan aktivitasnya. Detik berikutnya, seorang wanita paruh baya memasuki kamar dan mendekati Jinki dengan senyuman tulus di bibirnya.

“Sudah siap?” tanya wanita yang sudah Jinki anggap sebagai ibunya sendiri itu.

Jinki tersenyum dan kembali melanjutkan kegiatannya tadi, “Sedikit lagi.” Jawabnya singkat.

“Perlu kubantu?”

“Ani… aniyo. Aku bisa sendiri, eommoni.”

Wanita itu tersenyum dan mengusap kepala Jinki sekilas, “Mianhae~ aku harus melepasmu mulai sekarang.”

“Gwaenchana. Justru aku berterimakasih karena eommoni masih menampungku beberapa bulan ini.”

“Onew kecil yang selalu merengek ingin digendong, Onew yang selalu mengalah pada teman-temannya tanpa memikirkan dirinya sendiri, Onew yang pintar dan selalu memilih untuk menyendiri dan memilih belajar daripada melakukan hal yang lain, Onew yang selalu membuat kami bangga, dan Onew yang mandiri… Sekarang sudah tumbuh menjadi Jinki yang tampan, sopan, ramah, semakin cerdas dan juga semakin membuat kami bangga.” Wanita itu menatap lurus, menerawang masa lalu Jinki, sedangkan Jinki yang mendengarnya hanya tertawa kecil, mendekat ke arah wanita itu.

“Lalu… apa aku sering membuatmu kesal?” tanya Jinki kemudian.

“Ani… Tidak pernah sedikitpun.”

“Cheongmal?”

“Jinjja-ya… Kamu anak yang patuh.”

“Apakah eommoni menyayangiku?”

“Yaa~ tentu saja, kamu ini!”

Jinki tertawa lagi, menggaruk pipinya yang tidak gatal, lalu berkata, “Gomawoyo…”

“Aku sangat menyayangimu, hingga rasanya sulit sekali melepasmu pergi.”

“Eommoni…”

Wanita itu mulai terisak pelan, “Aku akan merindukan Onew.”

“Ani, eommoni. Aku akan sering datang ke sini nanti. Uljimayo…!”

“Onew-ya…”

Jinki merentangkan kedua tangannya dan menyambut pelukan wanita itu, mengusap-usap punggungnya dengan lembut, sembari sesekali mengangguk menanggapi nasihat yang diberikan eommoni’nya itu.

“Berusahalah menggapai cita-citamu di luar sana. Kamu pasti berhasil. Jaga kesehatanmu dengan baik, jangan sampai merepotkan orang lain di sekitarmu. Arasso? Jangan lupakan kami…!”

“Arasso.”

>>><<<

…Shin’s House, 8:23 pm…

Jibyung berdiri di balkon kamarnya, menatap hamparan kota Seoul pada malam hari. Sesekali dia berdengung menyanyikan lagu yang saat ini sedang didengarkannya dari iPodnya. Angin malam berhembus membelai rambut pirang-panjangnya dengan lembut. Jibyung merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara di sekitarnya banyak-banyak. Dia mendongakkan kepalanya menghadap langit malam yang gelap dan memejamkan kedua matanya.

Jibyung membuka matanya lagi, karena merasakan setetes air membasahi pipinya. Dia terdiam beberapa saat, hingga tetesan-tetesan itu turun semakin banyak dan lebat, “Hujaaaan!” pekiknya kemudian sembari berlari kecil ke dalam kamarnya dan menutup pintu balkonnya rapat-rapat.

“Aigoo~ bajuku basah…” gumamnya, lalu cepat-cepat memasuki kamar mandi yang ada di dalam kamarnya itu untuk mandi dan mengganti bajunya.

***

Setelah menggunakan piyama hangat berwarna violet kesukaannya, Jibyung berjalan ke arah tempat tidurnya dan duduk di sisi tempat tidurnya itu. Dia memeriksa iPhone’nya sebentar, lalu untuk beberapa saat dia hanya memainkan mobile game di  iPhone’nya itu, dan setelah merasa matanya mulai lelah, gadis itu berhenti bermain dan mematikan lampu tidur, lalu membaringkan tubuhnya dan menarik selimut tebalnya hingga menutupi tubuhnya dari kaki sampai leher.

>>><<<

TTAAARR!

Jinki menunduk dan sedikit meringis takut saat petir bergemuruh dengan sangat kencang. Sekitar dua jam berlalu, dan hujan masih turun dengan lebat. Namun hingga saat ini dia belum juga menemukan tempat yang bisa ditinggalinya. Seluruh tubuhnya sudah basah kuyup dan menggigil karena terguyur hujan. Dia sampai di sebuah halte bus yang sudah sepi, dan entah untuk yang keberapa kalinya Jinki memutuskan untuk berteduh sejenak.

Beberapa saat kemudian, hujan mulai reda, dan Jinki kembali meneruskan perjalanannya, “Fuuhh~ dinginnya~” gumamnya sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya yang seolah terasa membeku.

Kini Jinki tiba di dekat sebuah rumah yang sangat besar bergaya asia modern *ngawur!* yang cukup menarik perhatiannya.

“Aigoo~ di dalamnya pasti hangat sekali…” ujar Jinki pelan sambil membetulkan letak kacamatanya. Dan entah kekuatan apa yang membuatnya mendapatkan keberanian, hingga cukup membuatnya mendekati rumah itu, bahkan berniat masuk ke dalamnya. “Eommoni, maafkan aku. Hanya untuk sekali ini saja.”

***

Yang disadari Jinki selanjutnya adalah; dia sudah berada di sebuah balkon rumah dengan posisi terduduk dan memeluk kedua lengannya. Dia sendiri bingung bagaimana bisa sampai di tempat ini, padahal beberapa waktu sebelumnya dia masih memandangi rumah ini di luar.

“Astaga~ apa yang baru saja aku lakukan?” tanyanya pada diri sendiri dengan napas terengah-engah, sambil mengingat-ingat apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Dia menatap ke dalam ruangan yang berada di belakang balkon ini melalui pintu kaca balkon itu. Di dalamnya gelap sama sekali, sampai Jinki tidak bisa melihat apapun yang ada di sana.

“Kurasa bermalam di sini untuk semalam saja tidak akan ada masalah.” putus namja itu kemudian, lagi-lagi pada dirinya sendiri. “Hyaa~ tasku basah sekali…” pekiknya pelan dan menurunkan ranselnya dari punggungnya, lalu mengubek isinya yang ternyata juga basah sebagian besarnya. Seketika Jinki menghela napas berat sembari menyandarkan punggungnya ke pintu balkon, membuat pintu itu terbuka tiba-tiba.

“Aa~” kaget Jinki dengan suara yang agak kencang saking terkejutnya, karena dia mengira tubuhnya akan terjatuh. Namun ternyata tidak, kepalanya membentur lantai lagi di dalam sana. Dan yang kembali membuat Jinki semakin terkejut adalah suara pelan yang terdengar dari ruangan itu.

“Nuguya?”

Cepat-cepat Jinki berdiri dan masuk ke dalam ruangan itu, kembali menutup pintu balkon. ‘Sudah terlanjur basah..’ pikirnya, ‘…ah tidak. Tubuhku memang sudah terlalu basah.’ (-___-“)

“Siapa itu?” tanya suara itu lagi dengan parau, dan di detik berikutnya terdengar suara-suara lain—tepatnya suara menggapai-gapai(?)—yang Jinki dengar.

“A-aa~ jangan nyalakan lampunya!” desis Jinki refleks.

“Kenapa kamu tahu aku akan menyalakan lampu? Siapa kamu?” tanya suara itu lagi, yang bisa Jinki tebak bahwa itu suara perempuan.

“Pokoknya jangan dinyalakan!” sebenarnya Jinki sendiri tidak tahu apa maksudnya menyuruh orang itu untuk tidak menyalakan lampu. *GUBRAK!*

“Terserah apa katamu.” Kata orang itu ketus, dan setelahnya lampu menyala menerangi kamar yang cukup luas itu, sehingga keduanya bisa sama-sama melihat satu sama lain. Namun ketika hal itu terjadi dan mereka saling bertatapan, keduanya hanya bisa ternganga lebar dan membulatkan mata masing-masing, “Lee Jinki!” kaget yeoja itu.

“S-Shin Jibyung-ssi!” Jinki sama terkejutnya, “Ah~ jadi ini rumahmu?”

“Ya! Apa yang kamu lakukan di sini?!” tanya Jibyung balik dengan suara setengah berseru. Jinki terdiam, dan sebelum dia sempat menjawab, Jibyung kembali membuka mulut karena mendengar suara langkah-langkah kaki yang mendekati kamarnya, “Sembunyi! Cepat sembunyi!” desisnya.

“Eodiga?” tanya Jinki bingung sekaligus panik.

“Ppalli!” desis Jibyung lagi, lalu mematikan lampu dan kembali berbaring di atas tempat tidurnya, sementara Jinki masih bingung mencari tempat bersembunyi.

Langkah-langkah kaki itu semakin mendekat, hingga akhirnya pintu kamar Jibyung terbuka dan seseorang kembali menyalakan lampu, “Agasshi!” panggil orang itu.

Jibyung pura-pura terganggu dan menggeliat malas, “Waeyo?” tanyanya sambil mengucek mata.

“Apakah sudah terjadi sesuatu di sini?”

Jibyung mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamarnya, untuk memastikan bahwa Jinki sudah bersembunyi.  Dan ternyata memang namja itu sudah tidak terlihat. Tapi Jibyung tetap berpura-pura dengan mengerutkan dahinya sehingga terlihat bingung, “Memangnya ada apa?” tanyanya.

“Kami mendengar suara teriakan Anda barusan.”

“Teriakan? Benarkah? Ah~ mungkin aku hanya mengigau. Aku ingat barusan aku bermimpi dikejar-kejar haraboji saat dia masih muda.” Kata Jibyung sekenanya, namun dengan nada mengantuk, dan pria itu berusaha menahan tawanya mendengar perkataan Jibyung, “Sudahlah. Kamu keluar saja, aku mengantuk sekali.” Kata Jibyung lagi sembari menarik selimutnya lagi.

“Ye, Agasshi. Jweseonghamnida. Maaf saya sudah mengganggu istirahat Anda. Saya permisi, Agasshi.”

“Ne! Sudah sana pergi! Selamat malam…”

Setelah mendengar suara pintu kamarnya ditutup rapat-rapat dan yakin bahwa dia sudah menjauh, Jibyung berjalan pelan sambil memanggil Jinki dengan suara rendah, “Jinki-ssi, sudah aman. Kamu boleh keluar sekarang. Jinki-ssi…”

“Ah~ ne.” sahut Jinki yang baru saja keluar dari tempat persembunyiannya; di bawah tempat tidur Jibyung.

Jibyung membulatkan mata melihat Jinki keluar dari sana, “Aigoo~ kamu bersembunyi di sana?”

“Ne, memangnya kenapa?”

“Ah~ aniyo.”

Jibyung memperhatikan Jinki dari ujung rambut hingga ujung kaki, dan dia baru sadar bahwa Jinki tengah basah kuyup, “Omo~ kamu basah.” Katanya. Sekarang dia tahu lantainya jadi basah karena Jinki.

“Ne. Aku kehujanan.” Jawab Jinki sambil mengangkat bahu.

“Lalu… apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Jibyung lagi.

Sesaat, Jinki terlihat bingung dan kemudian menjawab, “Molla.”

“Eh?”

“Aku tidak tahu.”

“Oh~ kalau begitu, bagaimana caranya kamu bisa masuk ke kamarku?”

“Molla.”

“Ne?!”

“Aku juga tidak tahu. Sebenarnya aku hanya sedang mencari tempat tinggal, tapi entah bagaimana caranya aku bisa sampai di sini.” Jinki menggaruk tengkuknya dan tersenyum canggung.

“M-mworago? Mencari tempat tinggal?”

“Ah~ ne. Aku baru saja keluar dari panti asuhan.” Jinki menjawab dengan nada datar, membuat Jibyung membulatkan mulutnya membentuk huruf o, sementara wajahnya terlihat menunjukkan rasa prihatin. Bisa-bisanya dia tenang-tenang tidur di kasurnya yang hangat saat temannya sendiri terkena guyuran hujan deras dan kedinginan di luar sana. Dia juga baru tahu selama ini teman sekelasnya ini tinggal di panti asuhan.

“Sekarang… apa yang akan kamu lakukan?” tanya Jibyung lagi setelah terdiam beberapa saat.

Jinki menatapnya sekitar tiga detik, dan kemudian menunduk, “Itu dia. Molla na do…” katanya polos.

(-_____-) “Err~ arasso. Kita lupakan hal itu!”

Terciptalah suasana hening di sekitar mereka—setelah itu. Jibyung melirik jam dinding di kamarnya yang ternyata sudah menunjukkan hampir pukul 11 malam. Dia kemudian menghela napas panjang dan berjalan ke arah lemari, mengeluarkan sebuah handuk dan menyerahkannya pada Jinki, “Keringkan dulu tubuhmu…!” sarannya.

“Gomawoyo…” Jinki menerima handuk itu. “Maaf aku membuat kamarmu kotor dan basah.”

“Gwaenchana. Kalau ingin mengganti bajumu, di kamar mandi saja.” kata Jibyung sambil menunjuk pintu kamar mandinya.

Jinki mengeluarkan bajunya yang tidak basah dari ranselnya, dan kemudian berjalan ke kamar mandi. Tapi sebelum membuka pintu kamar mandi itu, Jinki menoleh kembali ke arah Jibyung, “Apakah tidak apa-apa?”

“Ani, gwaenchanayo. Cepat ganti saja dulu bajumu, daripada kamu kedinginan dan kena flu nanti..!”

Jinki mengangguk lagi, lalu masuk ke kamar mandi. Sebenarnya dia masih bingung dan tidak percaya dengan apa yang terjadi padanya sekarang ini. Seperti mimpi saja, di malam selarut ini dia berada di rumah orang lain, tanpa permisi pula. Untung saja ini rumah Jibyung yang notabene teman sekelasnya sendiri. Jika rumah orang lain mungkin dia akan langsung diusir. Tapi tetap saja, apa benar dia sedang mengalami dan melakukan ini sekarang?

Sementara Jinki di dalam kamar mandi, Jibyung duduk diam di sofa yang ada di kamarnya, mencoba berpikir dengan jernih sembari sesekali menghembuskan napas panjang. Apa benar itu Lee Jinki? Apa benar Lee Jinki baru saja masuk ke kamarnya melalui balkon dengan tubuh basah kuyup? Lee Jinki, kutu buku di kelasnya yang bahkan tidak terlalu dekat dengannya itu sekarang, di malam selarut ini, sedang berada di kamar mandinya? Dan dia… baru saja ‘menyelamatkan’ Jinki dari pengawal-pengawalnya? Jibyung bahkan masih terkejut dengan semua yang terjadi secara tiba-tiba ini.

Jibyung menghela napas sekali lagi dan melihat jam dinding di kamarnya itu, 11. 07 pm, sebentar lagi tengah malam. Lalu tatapannya beralih pada ransel Jinki yang terletak begitu saja di samping sofa yang didudukinya, “Mencari tempat tinggal, ya?” gumam Jibyung yang kini mengalihkan tatapannya lagi ke arah daun pintu kamar mandi yang masih tertutup itu, dan tersenyum tipis, “Jinki-ssi…”

Beberapa menit kemudian Jinki keluar dari kamar mandi dengan baju yang berbeda. Dia tidak menemukan Jibyung di tempat tidurnya, maka dari itu dia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar, dan akhirnya menemukan Jibyung yang duduk di sofa.

“Aa~ Jinki-ssi, sudah selesai?”

“N-ne. Terimakasih banyak, Jibyung-ssi…”

“No problem.” Jibyung tersenyum simpul dan berjalan mendekati Jinki, “Kajja, ikut aku!” katanya sambil lalu, berjalan mengarah ke pintu masuk kamarnya.

“Ne?” Jinki tak mengerti.

“Ayo… bawa barang-barangmu itu…!”

“M-mwo?” Jinki mengerutkan alisnya, tapi kemudian berkata lagi setelah tahu maksud perkataan Jibyung, “Ah~ ani, aniyo. Aku akan pergi ke tempat penginapan saja.”

“Semalam ini?! Kamu yakin?” tanya Jibyung sangsi sembari berbalik menunjuk jam dindingnya.

Jinki melirik jam dinding itu, lalu mengangguk dengan agak ragu, “N-ne. Lagipula besok hari libur.” Katanya.

Jibyung mengerutkan alis dan tangannya berkacak pinggang, “Lalu untuk apa kamu sembarangan masuk ke kamarku dan mengganggu tidurku, kalau nyatanya kamu hanya menumpang mengganti bajumu dan pergi lagi?” ujarnya sakrastik, dan kemudian melanjutkan, “Aku sudah terlanjur membantumu dan kamu sudah terlanjur ke sini.”

Jinki tampak mati kutu dan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tapi juga mengiyakan kalimat terakhir Jibyung. Memang benar, sudah terlanjur.

“Kajja, ppalliwa! Aku ingin cepat kembali tidur.” Jibyung berbicara lagi, kali ini dengan intonasi yang tidak beraturan. Jinki masih diam di tempatnya, namun kemudian segera mengambil ranselnya ketika Jibyung menatapnya tajam.

“Baiklah.” Ucap namja itu pelan.

Jibyung menggerakkan tangannya, mengisyaratkan agar Jinki mengikutinya. Lalu gadis itu membuka pintu kamarnya perlahan, mengintip sebentar dari celah pintu yang terbuka untuk memastikan tidak ada siapapun di depan kamarnya. Setelah dirasa situasinya aman, Jibyung menyembulkan badannya keluar, diikuti Jinki di belakangnya.

Mereka berjalan mengendap-endap menuju sebuah ruangan lain yang berada di lantai dua itu. Sesekali Jibyung mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dan memperingati Jinki agar tidak berisik, begitupun dengan Jinki yang melakukan hal yang sama dan mengangguk-angguk saja saat Jibyung memperingatinya.

Akhirnya mereka memasuki ruangan yang dituju. Jibyung menyalakan lampu ruangan yang ternyata kamar itu. Kamar yang lebih kecil dari kamar Jibyung dan dekorasinya juga lebih sederhana. Seluruh dinding di ruangan itu dilapisi warna putih bersih. Di tengah ruangan terdapat satu tempat tidur besar dengan sebuah meja kecil di sampingnya, di samping kanan ruangan ada sebuah lemari pakaian dan cermin besar yang berdiri bersandar pada dinding, dan di sisi lain ada juga sebuah pintu yang sepertinya pintu kamar mandi.

Jinki menatap Jibung di depannya yang sedang menutupi mulutnya yang sedikit terbuka karena menguap, “Jinki-ssi?” panggilnya dengan suara pelan.

“Ne?” sahut Jinki pelan juga.

“Kau tidur di sini. Gwaenchanha?” kata Jibyung datar.

“Ah~ ne, cheongmal gomawoyo. Besok pasti aku sudah mendapat tempat tinggal.”

Jibyung menatap Jinki sebentar, dan tersenyum simpul, “Baiklah, aku sebenarnya mengantuk sekali. Aku kembali. Jangan lupa kunci pintunya untuk berjaga-jaga ada pelayan yang tiba-tiba masuk ke sini!” ujarnya cepat, sambil lalu, berjalan menuju pintu.

“Jibyung-ssi!”

Yeoja itu menoleh lagi mendengar Jinki memanggilnya, “Wae? Kalau hanya ingin meminta maaf atau berterimakasih lagi, aku tidak akan menerimanya.”

Jinki yang memang sebenarnya ingin mengucapkan terimakasih jadi gelagapan, “A-ani. Selamat malam…”

Jibyung bergumam pelan dan kemudian keluar dari kamar itu, kembali berjalan mengendap-endap lagi menuju kamarnya. Namun sebelum membuka pintu kamarnya, Jibyung berhenti sejenak dan menatap daun pintu kamar yang sekarang ditempati Jinki itu, lalu tanpa sadar kedua ujung bibirnya tertarik sehingga membentuk sebuah senyuman yang lebar. Setelah itu, akhirnya dia memasuki kamarnya lagi dan bersiap untuk tidur lagi setelah mematikan lampu.

>>><<<

…Tomorrow morning, 08:06 am…

“Haraboji, selamat pagi…” sapa Jibyung pada seorang pria paruh baya yang sedang duduk di atas kursi meja makan, menekuni sarapannya. Pria itu tersenyum, membalas sapaan cucunya itu dengan gumaman dan senyuman lebar. Jibyung duduk di kursi di samping tempat kakeknya itu, dan segera menyantap sarapannya sendiri dengan lahap.

Meja makan yang sebenarnya cukup untuk 10 orang itu hanya terisi oleh dua orang, membuat kesunyian pun dengan sekejap menyelimuti ruang makan itu. Hanya sesekali terdengar suara dentingan pelan karena benturan peralatan makan yang mereka gunakan. Tapi Jibyung sudah terbiasa dengan hal ini. Bahkan terkadang dirinya harus duduk sendiri di sini, ditemani beberapa pelayannya yang berdiri di sekeliling meja makan dan seolah menontonnya yang sedang makan.

Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka selesai menyantap sarapan, “Jibyung-ah, kenapa tidak mengajaknya sarapan bersama?” tanya haraboji sembari menyeka sekeliling bibirnya dengan serbet.

“Nugu?” tanya Jibyung heran seraya meneguk minumannya.

“Laki-laki yang ada di dalam kamar tamu di lantai dua.” Jawab haraboji datar, namun berhasil membuat Jibyung tersedak hebat dan membulatkan matanya kaget.

Bagaimana caranya kakeknya ini tahu bahwa dia sedang ‘mengamankan’ seseorang? Dan… astaga! Jibyung juga sebenarnya baru ingat bahwa Jinki masih ada di rumah ini.

“Wae? Kenapa sampai tersedak seperti itu?” lagi-lagi haraboji bertanya dengan nada datar, namun Jibyung tahu beliau bermaksud menyindirnya.

“Ha-haraboji, dia… dia sebenarnya… Ah~ jamsimanyo! Aku akan memanggilnya sebentar…” Jibyung segera berlari menaiki tangga menuju lantai atas, dan mengetuk pintu kamar yang sekarang ditempati Jinki. Akan gawat sekali kalau sampai kakeknya salah paham. Lebih baik berterus terang saja.

Jinki yang juga sedang mondar-mandir di dalam karena bingung harus melakukan apa, tersentak kaget saat mendengar seseorang mengetuk pintu. Dengan ragu dia mendekati pintu. Jinki sempat mengira bahwa itu salah satu pelayan di rumah ini, sebelum suara yang sudah familiar itu terdengar memanggilnya, “Jinki-ssi, kamu sudah bangun? Jinki-ssi…”

“Ne.” sahut Jinki segera sambil membuka pintu. Di depannya Jibyung berdiri, menatapnya dengan khawatir. “…aku sudah bersiap-siap untuk pergi.” Ujar Jinki pelan.

Tapi Jibyung menggelengkan kepalanya, “Aniyo, kita harus mengurus sesuatu dulu di sini.”

“Ne?”

Jibyung meraih tangan Jinki dan menarik namja itu menuruni tangga untuk menemui kakeknya, “Kakekku, entah bagaimana caranya sudah tahu kamu menginap di sini.” Bisik Jibyung.

“Mwo?”

“Jinjjaro… Sekarang jelaskan saja yang sebenarnya terjadi, oke?”

“Ne.” Jinki mengangguk seraya membetulkan letak kacamatanya. Entah kenapa dia jadi merasa gugup dan sedikit takut saat melihat pria paruh baya itu sedang duduk santai sembari membaca surat kabar.

“Haraboji…”

Mendengar panggilan Jibyung itu, pria yang bertubuh agak tambun tersebut menghentikan kegiatan membacanya dan menatap Jinki dan Jibyung yang berdiri di dekatnya.

“Annyeong haseyo… Lee Jinki imnida.” sapa Jinki sopan dengan tubuh membungkuk 90o.

“Jelaskan semuanya!” ujar haraboji pelan dan datar.

“Ehm~ algesseumnida.” Jawab Jinki dan Jibyung bersamaan. Jinki menunduk sementara Jibyung menatap kakeknya dengan berani.

“Tatap lawan bicaramu, nak!”

Jinki yang semula menunduk segera mengangkat kepalanya hingga tatapannya bertemu dengan pria itu, “Ne.”

>>><<<

“…karena hari sudah sangat malam, aku menyuruhnya untuk menginap di kamar tamu saja, haraboji.” Tutur Jibyung, menyambung penjelasan Jinki sebelumnya.

“Ne. Tapi hari ini juga saya akan kembali mencari tempat tinggal.” Sambung Jinki lagi.

Haraboji terdiam, menatap kedua remaja di depannya itu lama tanpa mengatakan apapun. Ia tahu Jinki dan Jibyung tidak menutup-nutupi sesuatu dan sudah berterus terang padanya, hanya dengan menatap ke dalam mata mereka. Kemudian ia mengangguk-angguk dan tersenyum simpul, “Kau sudah mendapatkan tempat tinggal.” Ucapnya.

“N-ne?!” Jinki menatap bingung Jibyung yang juga sedang menatapnya dengan pandangan yang sama.

“Rumah ini terlalu sunyi. Kurasa tidak ada salahnya kalau penghuninya bertambah seorang.”

Jinki melebarkan mata sipitnya karena terkejut, begitupun dengan Jibyung yang melakukan dan merasakan hal yang sama, “Jadi… jadi… haraboji…” ucap Jibyung terbata-bata.

“Kalian ini bodoh atau bagaimana?! Apakah perkataanku kurang jelas? Kau tidak perlu mencari tempat tinggal lagi, karena kau sudah mendapatkannya sekarang. Arasso?” kata haraboji pada Jinki.

Jinki hendak menolak. Bagaimanapun dia merasa tidak enak kalau harus tinggal di sini, “Ta-tapi… saya… saya masih bisa—”

“Lebih baik isi dulu perutmu! Waktunya sarapan.” sela haraboji yang kemudian meninggalkan ruang makan.

Kini di meja makan itu hanya ada Jinki dan Jibyung yang saling terdiam. Jinki masih merenung memikirkan perkataan haraboji barusan, sementara Jibyung juga diam sambil bersyukur dalam hati karena akhirnya kakeknya itu mengerti dan tidak sedikitpun memarahi mereka. Lalu Jibyung meminta seorang pelayan menghidangkan makanan untuk Jinki, dan segera dipatuhi pelayan itu.

“A-aniyo, tidak usah. Aku tidak ingin merepotkan kalian…” tolak Jinki pelan.

Kruuuek~ kruyuuuuk~

Jibyung tertawa kecil melihat Jinki yang terlihat meringis, “Perutmu sepertinya tidak bisa kompromi.” Katanya pelan.

Tidak lama kemudian sepiring sandwich tuna, segelas air putih dan segelas susu terhidang di depan Jinki, membuat namja itu tersenyum kikuk dan berterimakasih pada pelayan yang menghidangkannya.

“Ayo dimakan…! Jangan ragu!” ujar Jibyung tersenyum.

“Bagaimana denganmu?” tanya Jinki.

“Aku dan haraboji sudah selesai tadi.”

“Oh~” namja itu mengangguk mengerti dan mulai memakan sandwichnya, “Emm~ mashitta.” Pujinya, sejenak melupakan masalah yang sedang dihadapinya. Jibyung mengangguk setuju, sembari mengayunkan kedua kakinya di bawah meja.

“Tapi… apa di rumah kamu tinggal dengan kakekmu saja? Sepi sekali, ya?”

Jibyung langsung menghentikan ayunan kakinya. Pertanyaan Jinki itu secara tidak langsung sedikit menohok batinnya. Jibyung menatap Jinki sebentar, lalu menatap seluruh kursi kosong di meja makan itu dengan sorot mata sendu, “Menurutmu?” ucapnya sambil menghela napas, dan menatap Jinki lagi.

Jinki terlihat berpikir setelah sesaat tertegun melihat perubahan sikap yang ditunjukkan Jibyung. Tangannya bergerak membetulkan kacamatanya, kemudian menjawab singkat dan agak ragu, “Molla.”

Jibyung tertawa kecil mendengar jawaban yang dilontarkan Jinki itu, apalagi Jinki mengucapkannya dengan wajah tanpa ekspresi.

“Sudah tidak aneh lagi, rumah ini memang selalu sepi. Bukankah haraboji sudah mengatakannya barusan?”

“Ne… Ah~ tapi di sini banyak pelayan. Sewaktu-waktu mereka pasti membuat keributan, kan?” ucap Jinki lagi sembari menatap Jibyung polos. Yeoja yang duduk di sampingnya itu perlahan tersenyum dan kemudian tergelak, membuat pelayan-pelayan yang ada di sana saling berpandangan heran.

“Waeyo? Apakah itu lucu?”

Jibyung berhenti tertawa, dan digantikan dengan senyuman hambar. Dia tidak menjawab, membuat Jinki memilih untuk segera menghabiskan sarapannya.

“Sudah selesai?” tanya Jibyung saat Jinki sedang meneguk minumannya.

“Ne. Gomawoyo. Ehm~ Jibyung-ssi, kurasa aku… tidak bisa menerima penawaran kakekmu.”

Jibyung mengerutkan alisnya mendengar keputusan Jinki itu, “Waeyo?”

“Aku hanya… merasa tidak enak saja. Aku sudah berjanji pada seseorang untuk tidak merepotkan orang lain.”

Jibyung memalingkan wajahnya, menatap lurus ke depan sembari sesekali mengangguk kecil.

“Ya, aku sangat-sangat berterimakasih padamu karena mengizinkanku menginap di sini, walaupun aku masuk dengan cara yang tidak sopan dan memalukan. Cheongmal gomawo…”

“Entah kenapa aku jadi tertarik menghitung berapa kali kau mengucapkan terimakasih.” Ucap Jibyung pelan, membuat Jinki terkekeh sejenak.

“Ah~ kurasa lebih baik aku pergi sekarang. Mumpung hari masih pagi. Terim… a… kasih makanannya, Jibyung-ssi. Dan tolong sampaikan pada kakekmu, aku tidak bisa.”

Jibyung mengangguk kecil, dan Jinki langsung berlari kecil menaiki tangga untuk sekedar mengambil barangnya yang masih disimpannya di dalam kamar. Sementara Jibyung sendiri hanya bisa menatap punggung Jinki sambil menghela napas panjang. Lalu yeoja itu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan pelan menuju halaman belakang rumahnya.

>>><<<

Setelah sampai di lantai dua, Jinki memasuki kamar yang tadi ditempatinya untuk mengambil barang-barangnya. Namun benda yang dicarinya, ranselnya, tidak ada di seluruh kamar. Padahal Jinki yakin ransel itu disimpannya di dekat meja kecil di samping tempat tidur, dan sebelum Jibyung memanggilnya, ransel itu masih ada di sana. Tapi kenapa sekarang tidak ada?

Jinki mencari sekali lagi di dalam lemari, di dalam laci meja(?), di bawah tempat tidur(?), di atas lemari bahkan di kamar mandi *loh?*, namun dia tetap tidak menemukannya, dan hal itu membuatnya jadi bingung sendiri. Tapi kemudian Jinki memutuskan untuk menanyakannya pada pelayan-pelayan yang ada, siapa tahu ada yang melihatnya. Di dalam ranselnya itu terdapat benda miliknya yang sangat berharga, tidak boleh hilang!

Langkah Jinki terhenti ketika dia sampai di dekat kamar Jibyung, sebab pria paruh baya yang tadi berbincang dengannya sedang berada di sana, berdiri beberapa meter di hadapan Jinki. Jinki segera membungkuk sopan ke arah pria berkacamata itu.

“Aku ingin bicara lebih banyak denganmu. Duduklah!” beliau menunjuk sofa di dekatnya sambil menatap Jinki yang kelihatan bingung.

>>><<<

Jibyung menjatuhkan tubuhnya di atas sebuah kursi kayu panjang yang berada di dekat sebuah kolam ikan di halaman belakang rumahnya itu. Dia memejamkan mata dan merentangkan kedua tangannya sambil bersandar ke sandaran kursi, menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Hal ini sudah biasa dia lakukan, karena cukup membantu memperbaiki perasaannya.

[“Jibyung itu anak tunggal di keluarganya, dia juga cucuku satu-satunya.”

“Hanya dia?”

“Hanya dia. Kedua orang tuanya adalah orang yang sangat sibuk, hampir tidak punya waktu untuknya dan lebih mementingkan pekerjaan. Mereka sangat jarang berada di rumah, hanya pulang sekitar tujuh kali dalam setahun, tidak pernah lebih.”

“NE?!”]

Jibyung membuka matanya kembali sembari menghembuskan napas panjang yang mengakhiri kegiatan rutinnya itu. Dia juga menurunkan kedua tangannya kembali, sementara tatapannya tertuju ke langit biru yang dipenuhi awan putih yang berarak terdorong angin pagi yang sejuk. Sekelompok burung terbang beriringan di udara, membuat Jibyung segera berdiri sambil merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah digital camera mini untuk kemudian mengarahkan lensanya ke arah burung-burung itu.

[“Makanya tidak jarang anak itu merasa sangat kesepian. Dia sangat sering merasa kecewa. Di saat orang lain mendapat perhatian dan kasih sayang orang tua di sekitarnya, Jibyung bahkan tidak berani mengharapkan kasih sayang itu, karena dia tahu dia akan merasa kecewa untuk yang ke sekian kalinya.”

“Apakah dia… tidak punya teman bermain?”

“Asal kamu tahu saja. Teman-teman sebayanya dulu jadi menjauhinya karena mereka menganggap Jibyung membosankan dan terlalu serius.”

“Waeyo?”

“Pola pemikiran Jibyung selalu lebih dewasa dari umurnya, sehingga teman-temannya itu terkadang tidak mengerti jalan pemikirannya dan menganggapnya membosankan. Kau tahu, dewasa sebelum waktunya…”]

Belum puas hanya dengan memotret sekali, Jibyung kembali mengarahkan lensa kamera digitalnya itu ke sembarang arah, memotret objek apapun yang dia anggap menarik, sampai akhirnya lensa kameranya itu menangkap balkon kamarnya yang memang menghadap ke sini. Tiba-tiba saja dia jadi memikirkan bagaimana cara Jinki masuk ke kamarnya lewat balkon itu? Dan tiba-tiba pula perasaan yang sudah lama tidak dirasakannya lagi—atau tidak ingin dirasakannya lagi karena dia sudah terlalu sering merasakannya—kembali memenuhi rongga dadanya.

>>><<<

“… setelah tahu bahwa itulah penyebab teman-temannya menjaga jarak dengannya, Jibyung memilih untuk tidak banyak bicara jika berada di dekat mereka. Tapi justru itu membuat teman-temannya menganggapnya semakin membosankan, dan semakin menghindarinya. Bisa kau rasakan betapa kecewa dan kesepiannya anak itu.”

“Ne.” Jinki menundukkan kepalanya.

“Sejak saat itu, hingga sekarang, Jibyung memilih untuk menutup diri dan tidak ingin bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya, demi menjaga perasaannya sendiri, untuk tidak merasakan kecewa lagi.”

“…” kali ini Jinki tidak merespon, hanya tetap menunduk sembari mengangguk-angguk kecil. Pantas saja dia sering melihat yeoja itu sendiri, kalau tidak bersama Young Geun. Mungkin hanya Young Geun lah yang bersedia menjadi teman Jibyung, atau memang Jibyung yang hanya memilih Young Geun sebagai temannya?

Sebenarnya Jinki tahu bagaimana rasa kecewa yang Jibyung rasakan. Benar, karena dia juga mengalaminya. Mengenai orang tua. Jinki bahkan tidak tahu siapa orang tua kandungnya, yang tega menyerahkannya ke panti asuhan. Kisahnya memang berbeda, tapi kekecewaan yang dirasakan mungkin sama saja, dan bisa jadi Jibyung lebih parah, karena yeoja itu lebih sering merasakannya.

“Untuk pertama kalinya, setelah 8 tahun belakangan ini seolah tidak peduli dengan orang lain, dia bersedia membantumu tadi malam, bahkan merahasiakan keberadaanmu di rumah ini pada kami.” Lanjut haraboji dengan nada bicara yang terdengar menahan geli, sementara Jinki menatapnya dengan terkejut.

“Dan dia tulus melakukan itu, tanpa mempedulikan perasaannya sendiri yang mungkin akan kembali dikecewakan karena kau menolak permintaanku untuk tinggal di sini.”

“M-museun malieyo?”

“Aigoo~ kau terlihat cerdas, tapi kenapa seolah sulit sekali mencerna setiap perkataanku? Dengar ini! Aku memaksamu untuk tinggal di sini. Arasso? Aku ingin cucuku kembali ceria seperti dulu. Dan aku yakin kamu yang bisa melakukan itu.”

“Ah~ tapi… saya merasa tidak enak. Malah seharusnya Anda marah pada saya atau menghukum saya karena masuk ke sini dengan cara yang-”

“AKU MARAH PADAMU SEKARANG! DAN AKAN LEBIH MARAH LAGI KALAU KAU TETAP MENOLAK PERMINTAANKU! Uhuk~ uhuk~”

“Ah! Gwaechasseumnikka?” ujar Jinki cemas karena haraboji tiba-tiba saja terbatuk karena berbicara terlalu keras. Namun tiba-tiba terlintas sebuah ide di benak Jinki, “Sajangnim…” panggilnya pelan.

“Aku bukan Sajangnim.” Sahutnya ketus.

“Oh~ juiseonghamnida. Tapi… saya ada sedikit saran.”

“Hmm~ apa itu? Malhaebwa!”

“Bagaimana kalau saya… tinggal di sini, sekaligus menjadi… pelayan?”

>>><<<

To Be Continued

Maaf kalo aneh… *bow* Leave a comment, please! ^^ Thanks before😀

5 responses to “[Korean Fan Fiction] I Can’t Be With Him – Part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s