[FREELANCE] I Hate Namja, Choi Minho SHINee – part 2 & 3

Author : Ulie Aya’aya Wae

Title     : I Hate Namja

Genre   : Angst, Romance

Cast :

Beom (OC)

Choi Minho

Kyuhyun & Kang Hyori ( Ortu Beom)

Kim Jae (OC)

———————————————————————————————–

Pagi hari di apartment Minho.

Sinar matahari yang tembus melalui jendela membuat Boem terbangun. Matanya sembab hingga susah untuk dibuka lebar. Di perhatikannya sekeliling yang tampak berbeda dari biasanya, dinding bercat sky blue membuat suasana ruangan itu terasa adem dan damai.

“Dimana aku..??” gumamnya.

TREENG!!

Beom langsung menghampiri sumber suara itu. Suara benda yang terjatuh itu membawa langkah Beom menuju dapur. Jalannya sedikit pincang akibat rasa sakit di telapak kakinya ditambah tubuh yang terasa pegal di sana sini. Terlihat Minho sedang sibuk dengan masakannya. Beom memperhatikan sambil bersandar diantara penghalang pintu dan melipat kedua tangannya di dada layaknya seorang majikan yang mengawasi bawahannya.

“Morning..” sapa Minho dengan senyuman manisnya. Beom membalas nya dengan senyuman yang agak di paksakan.

“Apa nasi gorengku membuatmu terbangun??” ujar Minho sambil menata masakannya itu di meja makan.

“Berisik!!” keluh Beom sambil melirik ke peralatan masak.

“Aku sengaja menjatuhkan nya supaya kau terbangun!” Minho terkekeh.

“Ayo sarapan..” ajaknya.

Beom langsung duduk dan menyantap nasi goreng itu tanpa merasa sungkan. Suapan demi suapan berhasil masuk dengan cepat. Perut nya terasa perih karena tidak di isi dari kemarin. Minho hanya melongo melihatnya.

“Pelan-pelanlah nanti tersedak!” Minho menyodorkan air minum.

“Nasi gorengmu ENAK! Kenapa tidak jualan saja??” candaan Beom membuat Minho tertawa kecil. Kekhawatirannya sedikit berkurang karna mood Beom sudah kembali normal, bukan lagi Beom yang putus asa dan kacau seperti kemarin.

Setelah sarapan Beom duduk di sofa sedangkan Minho mengambil kotak obat

“Angkatlah kakimu..!” titah Minho kemudian duduk di samping Beom.

“Eh…??” Beom mendongak.

“Kalau ga di obati nanti bisa infeksi!!” Minho mengangkat paksa kedua kaki Beom kemudian diletakkan dipangkuannya. Beom jadi duduk menyamping sedangkan Minho duduknya sedikit bergeser. Minho mengoleskan obat anti septik pada luka di telapak kaki Beom, terlihat kulit-kulit ari nya mengelupas dan goresan luka-luka kecil di seluruh kakinya.

“Aww..” Beom meringis kesakitan. Minho mendongak lalu mengoleskan anti septik itu sambil meniup pelan lukanya.

“Sekarang sikutmu… lipatlah kemejannya!!” tambahnya. Beom melipat lengan kemeja panjangnya. Lipatannya terhenti saat Beom menyadari ada sesuatu yang aneh.

“Heh..? bajuku..??” Beom kontan melipat kakinya yang terlentang serta melipat kedua tangannya di dada berbentuk hurup X saat menyadari bajunya berbeda dari yang kemarin di kenakannya.

Flashback

Minho POV.

Aku harap Beom bisa beristirahat di rumahnya. Kejadian hari ini benar-benar membuatnya tertekan. Hari sudah terlalu malam jadi aku mengantarkannya pulang lalu memapahnya masuk kedalam rumah. Tatapan cemas dari Ny.Hyori sangat terlihat jelas tapi berbanding terbalik dengan tatapan Tn.Kyuhyun yang tampak kecewa dan penuh amarah. Tanpa di sangka Tn.Kyuhyun menampar Beom dengan sangat keras sehingga membuatnya langsung kabur keluar. Aku juga terkena imbasnya,’

BUUGK!!

Satu pukulan Tn.Kyuhyun mendarat di pipiku, untungnya pukulan itu sedikit meleset karna aku mengelak jadi tidak membuatku terluka. Dia mengira Beom meninggalkan pernikahannya karena ingin hidup bersamaku. lucu sekali! Seandainya itu benar, aku sangat senang sekali karna itulah harapanku, saat Beom mencintaiku.

Aku langsung menyusul Beom setelah menjelaskan secara singkat kejadian sebenarnya pada mereka. Aku melihat Beom berlari tanpa memperdulikan lalu lalang kendaraan yang ramai. Aku terus mengejarnya, aku sangat kaget saat salah satu mobil hampir menabrak Beom. Aku menghampirinya, mendekapnya kemudian membawanya kepinggir jalan. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya hingga membuat kami basah kuyup. Aku hendak mengantarkan Beom kembali kerumahnya, tapi dia menolak lalu akupun membawa Beom ke apartemen ku. sesampainya di apartemen, dia langsung terlelap. Aku menghubungi Kimjae yang tinggal di gedung yang sama dengan apartemen ku  dan menyuruhnya untuk menggantikan pakaian Beom. Hari ini benar-benar sangat melelahkan, aku merebahkan tubuhku di sofa sampai akhirnya terlelap dan merelakan kasur empukku hanya untuk Beom seorang.

End POV

 

“Si..si..siapa yang menggantikan bajuku??” ucap Beom gagap.

“Menurutmu..??” Minho mendelik tajam. “Apa kau juga lupa kalau kita melakukan ‘itu’ semalam??” tambahnya sambil tersenyum nakal dan mengedipkan satu matanya.

“MWO..? A.k.u.. d.a.n.. k.a.u..??” Beom terlihat shock dan wajahnya berubah menjadi pucat.

Sejenak mereka terdiam, Beom mencoba mencari kebenaran di mata Minho sedangkan Minho menatap Beom dengan pandangan yang serius.

“HAHAHAHA…” tiba-tiba keheningan itu pun pecah, Minho tertawa terbahak bahak sambil memegang perut nya.

“YA!!” bentak Beom saat menyadari dirinya di bohongi. Beom memukul-mukul tubuh Minho.

“AWW.. ampun.. ampun..!” rengek Minho tapi Beom tidak menggubrisnya, dia terus memukul Minho dengan murka. Tiba-tiba Minho tidak sengaja mendorong keras kedua bahu Beom sehingga tubuhnya jadi tersungkur ke tepi sofa. Posisi Beom jadi terjebak diantara kedua lengan Minho. Tubuhnya tidak bisa di gerakan karna tubuh Minho hampir merapat padanya. Minho tertawa kecil karna berhasil membuat Beom berhenti memukulnya sedangkan Beom terbelalak karna Minho hampir menindih tubuhnya. Pandangan mereka saling membaur, jantungnya mendadak berdetak kencang. Sejenak mereka terdiam dalam posisi seperti itu, Minho menatap Beom dengan tajam.

“Seandainya tadi malam aku melakukan ‘itu’.. apa kau bersedia menikah denganku??” ucapnya pelan.

Glek… Beom menelan ludah, tubuhnya menjadi panas dan pipinya memerah seperti udang rebus.

TING…TONG…

Suara bel membuyarkan mereka. Minho tersenyum manis dan mengacak-acak rambut Beom kemudian beranjak dari sofa menuju pintu. Seorang yoeja bernama Kimjae datang dengan membawa paper bag. Dia hanya melangkah 2 kali,melirik ke arah Beom lalu tersenyum padanya. Beom hanya mengangguk sebagai sapaan.

“Agasshi.. aku lihat di tubuhmu banyak sekali luka.. kalau perlu ke dokter lah!!” usul Kimjae.

“Ne.. kamsahamnida..”

“Tidak perlu.. Beom hanya butuh DOKTER MINHO!!” sambung Minho sambil menunjuk diri nya sendiri sambil terkekeh. Beom melotot ke arahnya sementara Kimjae hanya tersenyum simpul.

“Oppa.. aku harus kerja!” ucapnya sambil menyerahkan paper bag berisi baju pengantin Beom pada Minho.

“Agasshi cepat sembuh! Annyeong..” tambah Kimjae berpamitan. Beom hanya mengangguk.

“Fiuuhh..” Beom mendesah pelan sambil mengusap dadanya.

“WAE..? apa kau KECEWA karna bukan aku yang melucuti bajumu? Hahaha..” ejek Minho sambil melangkah menghampiri Beom.

“YA.. MINHO-SSI!!”  bentak Beom sambil melepar bantal sofa ke wajah Minho. Merekapun lalu tertawa dan bercanda seperti biasanya.

 

3 Month Later

Beom Diary..

Semilir angin membelai wajahku dengan lembut dan membuat rambutku seolah menari-nari di sore yang cerah itu. Perasaan yang benar-benar menyenangkan, pernikahan yang gagal tidak membuatku terpuruk selamanya. Masih ada cinta yang datang untukku, cinta yang tanpa di sangka sangat besar dan tulus. Cinta dari teman terbaikku, CHOI MINHO!

Senyuman manis tersungging di bibir Minho saat melihat Beom dari kejauhan. Tangannya dilambaikan seolah memanggil Beom untuk mendekat.

“Gimana..??” tanya Minho saat Beom tiba di hadapannya.

“Di tolak!!” keluh Beom yang langsung masuk ke dalam mobil. Minho ikut mengikutinya.

“Coba ku baca..” Minho mengambil map berisi lembaran kertas yang di genggam Beom tapi dia merebutnya kembali.

“Andwee.. kau boleh baca! kalau INI..?” Beom mengacungkan lembaran-lembaran kertas itu “Sudah menjadi sebuah novel!”

“Aiisshh.. siapa tahu aku bisa bantu dan mengoreksi kekurangannya!” ucap Minho menyarankan tapi itu malah membuat Beom cemberut dan tambah kesal.

 

Beom POV

Lagi-lagi aku meminta Minho menjemputku. Dia tersenyum manis dan melambaikan tangannya padaku saat aku keluar dari kantor penerbit. Dia bertanya tentang hasil nya tapi karena kesal aku hanya menjawabnya singkat lalu masuk kedalam mobil. Minho mencoba merebut dan membaca naskah novelku, tapi aku tidak membiarkannya. Huh.. bagaimana aku bisa membiarkan Minho membaca naskahku yang semua isi nya bercerita tentang kehidupannku bersama nya. Pasti dia bakal tinggi hati kalau sampai tahu aku menyukainya dari dulu, tepatnya setahun yang lalu saat aku masih bersama

Kevin.

END POV

 

Beom sekarang menjadi seorang penulis. Kegemarannya menulis diary membuat dia jadi lebih kreatif dan mulai menulis sebuah cerita. Cerpen dan cerbung merupakan hasil karya nya yang slalu dia kirim ke sebuah majalah untuk di terbitkan. Tidak terlalu sulit untuknya menulis sebuah cerpen, karna hampir semua cerita yang dia angkat adalah pengalaman nyata yang pernah dia dan teman-teman nya alami. Beom tipikal orang pemerhati, dia lebih senang diam dan mengamati orang-orang daripada berbicara yang tidak penting. Obsesi Beom sekarang adalah membuat novel, walaupun sering di tolak penerbit tapi dia tetap berusaha mencapai itu semua.

2 bulan terakhir hubungan Beom dan Minho semakin dekat. Minho sudah menjadi supir pribadi yang slalu mengantar dan menjemput Beom disaat dia ada keperluan. Minho bahkan memberikan kode apartment nya supaya Beom bisa dengan leluasa bolak balik ke apartment nya. Beom memerlukan tempat yang tenang untuk menulis, dan pilihan nya jatuh pada apartment Minho sebagai tempat ideal nya. Tidak ada komitmen hubungan diantara mereka, hanya saling berbagi dan mengisi kekurangan masing-masing, tentu nya perasaan saling mencintai dan menyanyangi yang semakin tumbuh besar di antara mereka sekarang. dan sejak kedekatan itu Beom memanggil Minho dengan sebutan OPPA.

Setelah dari kantor penerbit Minho langsung mengantarkan Beom ke sebuah cafe yang berada di salah satu mall. Di sana sudah ada Kang Hyori yang sedang duduk sendirian. Mereka sudah janjian untuk makan siang karena hari ini adalah hari pernikahan orang tua Beom yang ke25 tahun. Beom sengaja merencanakan makan siang ini untuk memberikan kejutan pada orang tua nya.

“Annyeong…” sapa Minho pada omma nya Beom, Kang Hyori. Hyori hanya mengangguk.

“Omma.. mana appa??” tanya Beom saat hendak duduk.

“Emh.. appa mu ada keperluan mendadak jadi tidak bisa datang!” jawab Hyori dengan raut muka yang sedikit kecewa, “Ayo kita pesan saja.. omma sudah lapar!” tambahnya sambil melambaikan tangan kearah pelayan.

“Yaaahhh…padahal ini kan untuk perayaan pernikahan omma dan appa” Beom mendesah pelan.

“Wae..?” Hyori mendelik.

“Aniyo..” Beom mengelak lalu mengalihkan pembicaraan.

Makan siang itu dijadikan kesempatan untuk Hyori bertanya tentang hubungan Beom dan Minho kedepannya. Hyori slalu ingin bukti keseriusan Minho terhadap anaknya itu, Hyori ingin melihat Beom cepat menikah dan memberinya seorang cucu. Tapi Beom tetap pada pendirian nya bahwa dia dan Minho hanya sekedar teman dekat, dan jawabannya itu slalu membuat Minho kecewa.

Setelah makan siang selesai Minho langsung menuju parkiran untuk mengambil mobil sedangkan Beom dan Hyori menunggu di pintu depan mall. Lumayan lama mereka menunggu, hilir mudik orang-orang menjadi pemandangan tersendiri untuk mereka. Sesekali Beom berbisik pada Hyori tentang orang-orang yang di lihat nya.

“Omma.. lihatlah yoeja berbaju merah itu” Beom mendekatkan suaranya ke kuping Ommanya sambil melirik ke yoeja yang berdiri kira-kira dua meter di samping mereka.

“Wae..?” jawab Hyori sedikit berbisik.

“Pacar nya om-om, botak lagi hehe..” ucap Beom saat melihat yoeja itu dicium oleh namja yang umurnya sepantaran dengan appa nya. Beom segera mengalihkan pandangannya ke depan saat yoeja itu mendongak kearah nya.

“Ssstt… yoeja itu berjalan kearah kita!!” Hyori mencubit lengan Beom. Beom melotot dan membuka mulutnya seraya berkata “Aw..”

“EHEM..” yoeja itu berdeham dan menatap sinis saat ber pas-pasan dengan Beom, sementara Beom pura-pura so sibuk berbincang dengan omma nya. Kemudian setelah yoeja dan pasangannya itu berlalu Beom hanya terkekeh geli. Beom masih melihat ke samping kanan dan memperhatikan pasangan beda usia itu.

“Sayang! cantik-cantik ko mau sama OM-OM!” pekik Beom dalam hati. Tiba-tiba matanya beralih pada seorang namja separuh baya yang hendak masuk ke mall lewat pintu samping. Beom serasa mengenal namja itu, dia menyipitkan mata nya untuk memperjelas pandangannya yang sedikit kabur.

Tiiiiiddddd….

Suara klakson membuyarkan pandangan Beom. Minho melambaikan tangan di dalam mobil itu.

“Kaja..” ajak Hyori. Beom menghampiri mobil Minho sambil sesekali menengok ke belakang.

“Beom-ah.. masuklah!!” ajak Minho.

“Waeyo..??” sambung Hyori yang merasa aneh dengan tingkah anak nya itu.

“Oppa.. tolong antar dulu omma, aku masih ada perlu!” ucapnya tiba-tiba.

“Heh..? Wae..?” Minho dan Hyori saling melirik heran.

“Gwenchana omma.. cuma ada sesuatu yang harus aku beli!” Beom memegang bahu Hyori dan melirik tajam kearah Minho seolah memohon untuk menuruti perintah nya.

“Nanti telepon yah!” tegas Minho.

“Ye.. oppa!” Beom langsung berlari ke dalam mall setelah mobil Minho melaju.

Beom mempertajam penglihatannya ke sekeliling mall. Memasuki tiap toko untuk mencari namja separuh baya yang mengenakan kemeja putih berpolet biru tadi. Beom berdiri dan terdiam di tengah-tengah, matanya di fokus kan melihat orang-orang sekaliling, di depan, belakang, samping kiri, samping kanan, mata nya terus menjelajahi tiap sudut mall.

“Apa aku salah lihat..?” gumam Beom dalam hati. Napas nya mendesah pelan lalu tertunduk. Dilangkah kan kaki nya perlahan dan terhenti saat melihat sepasang kaki menghalangi jalannya. Beom mendongak dan melihat orang yang sekarang berdiri di hadapannya.

“Kau..??” orang itu mengarahkan telunjuk nya tepat di depan hidung Beom.

“Mianhae..” Beom sekilas menatap orang itu lalu tanpa sengaja pandangannya mengarah ke lantai 2 dan menemukan sosok yang dari tadi di cari nya. Beom langsung berlari dan menaiki lift tanpa menghiraukan panggilan orang itu yg merasa mengenalinya. Beom terus membuntuti namja separu baya itu sampai ke food court dan saat terlihat wajah nya dengan jelas, dia baru yakin kalau namja itu benar-benar appa nya sendiri, Cho Kyuhyun. Beom langsung mendekati appa nya, tiba-tiba matanya terbelalak dan langkahnya terhenti seketika.

“Mworago..?? A.P.P.A..?!”

—————————————————-

 

PART 3

Beom POV

Aku langsung pulang ke rumah setelah melihat kejadian di mall tadi, aku bergegas menemui omma dan meminta penjelasan darinya. Seminggu yang lalu saat aku dan omma belanja, aku tidak sengaja melihat appa makan siang dengan seorang yoeja, mereka terlihat sangat akrab. Omma bilang bahwa yeoja yang bernama Seo Hyun itu adalah rekan bisnis appa. Saat itu aku mencoba menghampiri mereka tapi omma melarangku katanya appa tidak akan suka kalau urusan bisnis nya di ganggu. Bagiku saat itu omma terlihat aneh, omma tak henti-hentinya memandangi appa dan yoeja itu sampai akhirnya omma memutuskan untuk pulang. Di mall tadi aku melihat sosok yang mirip dengan appa, aku terus membuntutinya untuk memastikan dan saat sampai food court aku baru yakin kalau orang itu benar-benar appa. Aku pikir appa telat menemui kami karena makan siang yang kami rencanakan waktunya di majukan satu jam dari waktu yang sudah di tentukan. Aku hendak menghampiri appa, tapi langkahku terhenti saat appa melambaikan tangannya kearah yoeja yang sudah tak asing lagi untukku. Yoeja yang bernama SeoHyun itu datang bersama seorang anak kecil berumur 3 tahunan, dan anak kecil itu memanggil appaku, APPA!!

END POV

 

Hyori POV

Tiba-tiba Beom datang mengejutkanku, tanpa mengetuk pintu dia langsung menghampiriku yang sedang duduk di meja rias.

“Omma.. apa maksudnya ini?” tanya Beom sambil memperlihatkan foto di ponselnya. Aku terbelalak melihat foto itu, tapi aku mencoba untuk tenang dan menjawab pertanyaanya.

“Emh.. bukannya itu appa dan rekan bisnis nya, Seohyun?! Wae??”

“Omma.. anak kecil yang bersama Seohyun memanggil appa dengan sebutan appa!!” nada Beom sedikit meninggi.“Apa omma bisa menjelaskannya??” tambahnya penuh penasaran.

Aku hanya diam, mencoba untuk setenang mungkin dan kembali mengoleskan krim malam pada wajahku.

“Beom-ah.. sudah malam, tidurlah!” pintaku lalu beranjak menuju tempat tidur. Beom meraih tanganku dan menatap tajam.

“Apa diamnya omma itu, berarti yang aku pikirkan adalah BENAR?!” tanya nya dengan suara yang lirih. Terlihat matanya mulai berkaca-kaca tapi aku mencoba senyum, mencoba untuk tegar walaupun hatiku ingin sekali menjerit. Aku memegang kedua bahu Beom, membelai rambutnya dan memberikan ketenangan padanya.

“Beom.. percaya tidak? Kalau semua yang terjadi dalam hidup ini adalah sebuah takdir? Mungkin memang berat, tapi kita tidak bisa menolaknya karna sudah ada Tuhan yang mengatur ini semua!” aku mencoba menjelaskannya secara halus. Beom menatapku nanar dan berusaha menyelidik maksud yang aku bicarakan.

“Hump.. mungkin sudah waktunya!” aku bergumam dan mendesah pelan, berusaha menguatkan hatiku untuk bicara jujur dan menjelaskan semuanya tanpa menyakiti Beom.

“Setiap orang pasti mempunyai kesalahan, baik omma, appa,  ataupun Beom sendiri. Yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa intropeksi, supaya kesalahan itu tidak terulang kembali!” aku membawa Beom duduk lalu mengusap punggungnya perlahan.

“Jadi.. maksud omma, appa dan Seohyun terus anak itu…??” tanya Beom terbata-bata sambil terisak.

“Ne..” jawabku singkat, aku yakin dia sudah mengerti apa yang aku maksudkan. Aku memeluk Beom dengan erat, tetesan air hangat terasa mengucur ke bahuku dengan deras walaupun tidak mengeluarkan suara. Aku membelai rambutnya dan tanpa sadar air mataku pun ikut jatuh membasahi pipi.

“Cukup! cukup omma..!” ucapnya lirih lalu berdiri.“Wae..?? omma masih membelanya padahal appa sudah menyakiti hati omma!!” tambahnya dengan suara yang tinggi. Beom menatapku penuh amarah, matanya memerah karna terlalu banyak mengeluarkan air mata. Kemudian dia pun berlalu meninggalkanku.

“Beom.. LieBeom..” panggilku dan berusaha menyusulnya, dia menepis tanganku lalu pergi entah kemana.

“Mianhae Beom.. jeongmal mianhae” kakiku tiba-tiba melemas sampai tidak kuat menopang tubuhku, aku terpuruk dalam tangisan. dan suasana yang kelam ini mudah-mudahan cepat berakhir. Aku benar-benar bersalah karna telah merahasiakan masalah ini selama 4 tahun.

End Hyori POV

Beom langsung pergi ketempat yang slalu bisa menenangkan hatinya, apartment Minho jadi tujuannya. Jam 10 malam Beom tiba disana, suasana nya sangat sepi, lampu-lampu di tiap ruangan mati dan hanya lampu kamar tidur yang terlihat terang. Beom menyalakan semua lampunya kemudian memeriksa tiap ruangan untuk mencari Minho, tapi dia tidak menemukanya. Beom mengambil selembar kertas dan ballpoint  lalu duduk di bawah meja dan menulis sesuatu di kertas itu.

Kim Jae POV

Malam ini adalah malam yang paling menyenangkan untukku, akhirnya aku bisa membujuk Minho oppa untuk makan malam diluar bersamaku. Kami makan di sebuah restoran jepang kemudian berjalan jalan di sepanjang sungai HAN. Rasanya seperti bermimpi, apalagi pas Minho oppa melepaskan jaketnya untukku. Dia benar-benar perhatian, hal-hal yang slalu aku impikan akhirnya malam ini terkabulkan. Rencananya sesampai di apartment, kami akan bergadang nonton dvd sampai pagi, dan saat itulah aku akan menyatakan cintaku.

End Kimjae POV

 

Jam 11 malam Minho dan Kimjae tiba di apartment, Minho sedikit was-was karna ruangan yang tadinya gelap berubah jadi terang. Minho melihat seseorang tertidur di meja ruang tengah, tidurnya terduduk sambil melipat kedua tanganya di meja dan menjadikan tangannya sebagai bantal.

“Oppa.. nuguya??” tanya Kimjae dan berusaha melihat secara dekat orang yang tertidur itu. Minho hanya tersenyum karna sudah mengenalinya tanpa melihat wajah orang itu secara langsung.

“Kau pulanglah.. ini sudah malam!!” titah Minho sambil menyeret Kimjae kearah pintu.

“Oppa.. bukan nya kita akan nonton??” Kimjae mengacungkan disc yang tadi di belinya.

“Emh.. besok lagi yah?!” Minho mencondongkan tubuhnya, menatap Kimjae lalu mengacak-acak rambut bagian depannya. kemudian Minho mengantar Kimjae ke pintu luar.

“Huh.. kenapa yoeja itu slalu mengganggu rencanaku?!” gumam Kimjae sambil melirik kearah Beom sebelum akhirnya dia pergi.

Minho menghampiri Beom kemudian duduk di hadapannya. Di perhatikannya wajahnya dengan seksama, Minho mengelus-elus lengan Beom dengan jari-jari nya. Pandangannya menyelidik ke selembar kertas yang berada di bawah dekapan tangan Beom, di ambilnya kertas itu secara perlahan kemudian Minho membacanya.

Beom Diary

Aku tahu Tuhan itu maha pengasih dan penyanyang. Aku tidak pernah meragukan-Nya sedikitpun, tapi sekarang aku merasa kasih sayang Tuhan sedang tidak berpihak padaku. Entah jalan apa yang hendak Tuhan gariskan untukku, akhir-akhir ini kehidupanku sangat berat, kacau, sampai napasku terasa sesak. Aku benci hari ini.. aku benci kenyataan ini. Aku kira, aku sudah merasakan semua rasa sakit di dunia ini saat pernikahanku gagal, tapi ternyata salah.. kenyataan tentang keluargaku ternyata lebih menyakitkan, AMAT SANGAT MENYAKITKAN!!

 

“Apa lagi yang terjadi??” tanya Minho dalam hati. Minho menatap Beom khawatir lalu membelai rambutnya, membiarkan jari-jari nya bermain di rambut Beom yang terurai, menyibak rambut yang menghalangi kening dan wajahnya, kemudian mencium keningnya dengan lembut.

Muach..

Ciuman Minho membuat Beom terbangun, “Oppa..” Beom mendongak dan melihat Minho sedang tersenyum manis ke arahnya.

“Sudah lama kah..? mianhae..” tanya Minho.

“Gwenchana… oppa, bolehkah aku menginap malam ini??” Beom menatap penuh harapan. Minho hanya tersenyum lalu duduk di samping Beom dan menyandarkan tubuhnya di sofa.

“Waeyo..?” Minho mengacungkan sehelai kertas, mencoba menyelidik maksud yang Boem tulis di kertas itu.

“Ani.. “ jawab Beom gagap lalu merebut kertas itu kemudian melipatnya rapi “Ini bahan untuk cerpenku!!” tambahnya.

“Jeongmal..?” Minho mengangkat satu alis nya. Beom mengangguk lalu menghela napasnya panjang.

“Oppa, apa kau pernah merasa sangat sedih? dan menganggap hidup ini tidak adil..?!” Beom melirik Minho dan menatap nya tajam.

Minho sedikit menyunggingkan bibir nya “Ye.. pasti semua orang pernah merasa seperti itu!”

“Onje..? Wae..?” tanya Beom penasaran.

“Saat melihatmu hendak menikah!!”

“Eh..?” Beom menatap heran.

“Untungnya GAGAL, jadi sekarang aku lega ekeke..!” Minho terkekeh.

“OPPA!!” Beom meninggikan nada suaranya dan cemberut karna Minho menjawab pertanyaan nya asal.

“Emh.. saat omma meninggal 2 tahun yang lalu! aku merasa Tuhan tidak adil, di tambah appa meninggalkanku tanpa sebab dan aku harus bertangung jawab atas segala hutangnya. Mungkin saat itu, aku adalah orang yang paling menyedihkan di dunia ini!” Minho menghela napasnya panjang, matanya terlihat sendu.“Beom.. percaya saja, kalau segala sesuatu itu pasti ada hikmahnya!”

Beom tersenyum pahit dan menatap Minho dalam.

“Tadinya aku tidak akan pergi kepemakaman omma karna terlalu sedih, tapi setelah aku pikir-pikir kembali, aku memutus kan datang karna itu hari terakhir aku melihat omma!, kalau saat itu aku tidak datang, mungkin aku juga tidak akan pernah bertemu denganmu!” cecar Minho.

“Heh..??” Beom mencoba menyelidik maksudnya.

“Masih ingat kan hari pertama kita bertemu??” sambung Minho kemudian. Beom mengangguk.

“Jadi… hari itu..?” Beom  mencoba bertanya tapi ucapannya terhenti karna melihat Minho mulai berkaca kaca.

“Ne.. hari itu.. hari pemakaman omma! Aish.. sudahlah, aku tidak mau mengingatnya lagi!” Minho hendak berdiri tapi Beom menahan lengan nya. Beom mengaitkan tangannya ke lengan Minho dan menyandarkan kepalanya di bahu namja itu.

“Oppa.. kau adalah namja satu-satu nya yang baik padaku!” ucap Beom pelan.

“Jeongmalyo..?”

“Ne.. mereka jahat padaku! hanya kau seorang yang baik!” tegas Beom.

“Sebagai balasan kebaikanku, kau harus slalu bersamaku, OK?!” Minho mengalengkan tangannya ke pundak Beom. Beom mendongak lalu tersenyum manis.

“Janji..?” Minho mengacungkan jari kelingking nya.

“Ne.. janji!” Beom menyambut jari kelingking Minho dengan jari kelingkingnya hingga kedua jari mereka saling mengait.

“Oppa, aku lapar! bisa kah kau buatkan nasi goreng seperti yang dulu?” pinta Beom

“OK! Tapi syarat nya kau harus mentraktirku makan malam di restoran! Deal..?”

“Heh.. bagaimana bisa, sepiring nasi goreng di setarakan dengan makanan restoran?!” protes Beom sambil manyun.

“Yah.. itu seh terserah! pilihan ada di tangan mu!” Minho dengan evil smile nya.

“Cih.. PEMERASAN!”

“Hahahaha…” Minho tertawa penuh kemenangan lalu beranjak menuju dapur. Beom  mengambil kertas yang tadi di lipatnya sambil sekilas melirik kearah Minho kemudian menyimpan kertas itu di kolong sofa.

*Continue

3 responses to “[FREELANCE] I Hate Namja, Choi Minho SHINee – part 2 & 3

  1. Rupanya Beom mendam perasaan juga sama Minho. Padahal Minho sudah sering menunjukkan perasaannya. Apa Beom tidak merasa? Eomma Beom cukup tegar. Salut.
    Nice story. Lanjut!

  2. wowww permasalahan keluarga beom ternyata rumit banget yaaa
    semoga minho selalu ada disampingnya yaaa
    lanjut ya thor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s