[Korean Fan Fiction] Because I don’t know how to love (chapter1)

Title            : Because I don’t know how to love

Author         : Kim Sae na a.k.a Devi

Rating         : PG 13/straight/on writing

Genre         : Romance/life/friendship/a little bit comedy

Cast            : Big Bang –   G-dragon a.k.a Kwon Ji yong,T.O.P a.k.a Choi Seunghyun

Zea           –    Kevin  a.k.a Kim Ji Yeop,Park Hyungsik,Ha Minwoo

Kim Sae na

Lee Hyun nie

Kim Yoonmi

Disclaimer   : G-dragon and T.O.P are belong to YG Entertainment and

their Parent

Kevin,Minwoo,and Hyungsik are belong to Star Empire

Entertaiment and their parent

I don’t make money from this fanfic. It’s just for fun. Please

Don’t sue me.

Chapter 1

Lovin’ you That would continue forever Lovin’ you I had a dream

Lovin’ you Any day, without change Lovin’ you was shining

As if I could meet you again tomorrow,

Like anytime, I hope you could look back

Before all the things I’ve seen with you become memories

(DBSK – Lovin you)

Author pov

 

Suatu malam yang dingin.Cuaca sama sekali tidak bersahabat,dinginnya menusuk tulang,membekukan sendi-sendi tubuh.Di sebuah rumah,terdengar isakan tangis,menyayat hati. Membelah keheningan malam yang semakin mencekam. Suara tangisan itu terdengar jelas dari kamar seorang namja.

“Oppaaa…hiks hiksss..ireonaa..oppaa,jangan tinggalkan aku..” seorang yeoja sedang berlutut di hadapan sesosok tubuh seorang namja yang masih terbaring kaku. Wajahnya damai,tanda ia pergi dengan tenang. Seluruh keluarganya,omma dan appanya,sudah merelakan ia pergi,karena mereka semua tahu namja itu akan pergi,hanya saja waktunya yang belum ditentukan.

Tapi tidak begitu dengan seorang yeoja yang menangis dan mengguncang tubuh namja itu,berharap namja itu membuka matanya lagi.Tetapi usahanya sia-sia,namja itu tidak membuka matanya,tidak akan pernah lagi,jiwanya sudah pergi ke tempat di mana ada keabadian.

“ Sae na-ah,sudahlah,oppamu sudah pergi,nak.”seseorang mengelus kepala yeoja itu.Dia adalah ibu dari yeoja itu,ia juga merasa terpukul kehilangan anak laki-lakinya,terlebih jika anak perempuannya bersikap seperti itu.

“ Aniyaa,omma,oppa hanya tertidur dan aku harus membangunkannya..” yeoja itu masih saja terus mengguncang tubuh namja yang sudah tak bernyawa itu.

“ Sae na-ya,jangan seperti itu,kau membuat oppamu tidak tenang nantinya.” Seorang lelaki paruh baya,berlutut di samping yeoja itu,wajahnya menunjukkan rasa lelah yang teramat sangat. Kesedihan juga terlihat dari matanya. Ia berusaha juga membujuk anak perempuannya itu agar merelakan kepergian oppanya.

Yeoja itu berusaha tegar,berusaha memahami kalau memang sudah waktunya oppa tersayangnya itu pergi. Sekarang tidak ada lagi tangan yang akan melindunginya.Tidak ada lagi orang yang membuat harinya ceria. Tidak ada lagi yang dapat membuat ia selalu tersenyum. Mulai hari ini seorang Kim Sae na akan berubah menjadi sosok yang sama sekali berbeda dari Sae na yang dulu.

***

3 years later…

 

Seorang yeoja berlari memasuki kelasnya. Ia melirik jam tangan yang meligkar di pergelangan tangannya. 5 menit lagi bel masuk berbunyi. Ia harus segera sampai di kelas,kalau tidak mau terlambat.

“ Hahhhh…Hahhhh….” Yeoja itu mengatur nafasnya yang sudah tidak karuan karena di pakai berlari. Ia berjalan menuju tempat duduknya.

“ Seongsaenim belum datang kan? Untung saja aku tidak terlambat.”

“ Hyun nie.. Hyun nie.. kapan sih kau tidak terlambat?” yeoja bernama Lee Hyun nie itu hanya cemberut mendengar tanggapan temannya itu.

“ Mollayo,terlambat sudah jadi kebiasaan sih..” Hyun nie hanya tersenyum jail.

“ Aishhh…”

“ Sae na kenapa sih wajahmu itu selalu saja terlihat murung? Ayolah tersenyum..” Kali ini Hyun nie menarik wajah Sae na agar berhadapan dengannya. Lalu memainkan pipi chubby Sae na,menarik-nariknya,membentuk sebuah senyuman di wajah Sae na.

“ Yaaa! Hentikan Hyun nie.Pipiku sakit tahu..” Sae na mengusap pelan pipinya yang memerah. Bukan karena malu melainkan efek dari tarikan Hyun nie.

“ Hahahahahaaa.. Habisnya aku jarang melihatmu tersenyum. Waeyo? Sedang bertengkar dengan Ji yeop?”

“ Aniya,kau tahu aku jarang bertengkar dengannya.”

“ Pasangan yang serasi…”

“ Biasa saja tuh.” Pandangan Sae na beralih ke jendela kelasnya. Langit cerah berwarna biru dengan awan-awan yang berarak pelan digelitik angin.

Flashback

“ Sae na ayo ke sini..” sebuah suara memanggil seorang yeoja kecil dengan rambut yang dikuncir dua.

          “ Oppa,pelan-pelan,tunggu aku..” yeoja kecil itu berlari berusaha mengejar oppanya yang sudah jauh di depan.

           “ Kajja..” namja itu berbalik menghampiri adiknya dan menarik tangan yeoja itu agar mengikutinya.

          Dua insan yang berbahagia di tengah senyuman mentari pagi yang menyapa setiap manusia agar bangun dari tidurnya. Berlarian diantara pepohonan,bagaikan kupu-kupu yang lepas dari sangkarnya. Begitu bebas,begitu lepas,seakan tidak mempunyai masalah dunia.

          “ Yahh kita terlambat.” Namja itu mendesah kecewa diiringi tatapan heran dari adiknya.

          “ Terlambat untuk apa,oppa?”

          “ Untuk melihat pemandangan indah yang akan tercipta di sana.” Namja itu menunjuk ke arah sebuah saung yang terletak di tengah-tengah hamparan kebun dan pepohonan. Tertutupi oleh rimbunan pohon,menyembunyikan keindahan di dalamnya.

          “ Memang pemandangan apa?” Yeoja itu mulai tertarik dengan perkataan oppanya.

          “ Pemandangan matahari terbit..”

 

Flashback End

 

          “ Kim Sae na… Apakah dia tidak masuk hari ini?”

Sae na tersadar dari lamunannya ketika Hyu nie menyikutnya keras-keras,

Berusaha menyadarkan Sae na dari lamunannya,mengembalikan Sae na ke dunia nyata. Membuyarkan semua kenangan yang tersimpan rapi di memori otaknya.

“ Ahh Ne,seongsaenim..” Sae na mengangkat tangannya. Lee Seongsaenim hanya meliriknya sekilas lalu mulai mencoret buku absennya.

“ Apa yang sedang kau pikirkan,Sae na?”

“ Aku teringat..” Sae na menggantungkan kalimatnya. Hyun nie yang sudah bersiap-siap mendengarkan mendesah kecewa.

“ Teringat apa? Siapa?” tanya Hyun nie tidak sabar.

“ Seseorang paling penting dan paling berasa di hidupku.”Sae na hanya tersenyum getir. Mengingat sosok yang sudah tidak dapat digapainya lagi.

“ Ahh aku tahu..” Hyun nie tersenyum mengerti. Sae na tidak sepenuhnya yakin Hyun nie tahu siapa sosok itu. Sae na yakin Hyun nie salah menebak siapa sosok yang dimaksudnya tadi.

***

          “ Selamat datang kembali,Tuan muda..” seorang pelayan membawa masuk sebuah koper hitam berukuran sedang dan di belakangnya terdapat sesosok namja berpostur tinggi. Dengan cueknya ia memasang headset di telinganya dan tidak meperdulikan sapaan dari kepala pelayan yang tadi membukakan pintu untuknya.

Pelayan itu membuka pintu sebuah kamar yang terletak di lantai dua rumah itu. Pintu dengan kaca yang diukir,menambah nilai seni tersendiri bagi rumah itu,yang setiap pintu ruangannya bermodel sama tetapi dengan ukiran yang berbeda.

“ Ghamsahamnida.” Pelayan itu membungkuk lalu pergi meninggalkan kamar namja itu.

“ Keadaan Seoul sejak 4 tahun lalu tidak berubah banyak..” Namja itu melihat pemandangan kota Seoul yang terhampar jelas dari jendela kamarnya. Kota yang sama seperti terakhir kali ia meninggalkan kota ini.

Tok Tok Tok

Namja itu menoleh,ia dapat siluet bayangan seseorang yang sedang berada dibalik pintu kamarnya yang tertutup. Namja itu melangkahkan kakinya dengan malas menuju pintu,ia merasa terganggu dngan hadirnya orang ini. Ia masih ingin menikmati pemandangan kota Seoul yang ia rindukan.

“ Mianhaeyo,tuan muda,anda dipanggil oleh Tuan besar di ruangan kerjanya.” Seorang pelayan membungkuk di hadapannya.

“ Baiklah aku akan segera ke sana.” Namja itu menutup pintu kamarnya dan segera beranjak menuju kopernya. Ia membuka risleting kopernya dan mengambil beberapa potong baju dan handuknya.Setelah itu ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamarnya.

Kenapa haraboji memanggilku?

 

***

Sae na pov

Hari ini kembali aku teringat sosok oppaku. Betapa aku merindukan dia,selam tiga tahun ini aku berusaha menjadikan sosok oppaku sebgai kenangan,tetapi itu sulit. Kenyataan bahwa oppa mengenalku lebih dari siapa pun mengetahui diriku,tanpa sadar membuatku bergantung padanya.

“ Chagi..”

“ Annyeong oppa…” Aku menyapa Ji yeop oppa sambil tersenyum manis. Benarkah aku tersenyum?

“ Hari ini aku ingin mengajakmu ke suatu tempat,Sae na-ya..” Ji yeop oppa duduk di kursi yang berada di depanku.

“ Ke mana oppa?”

“ Aku sudah tahu dari ommamu,Sae na,kau sudah lama tidak pergi ke sini,aku yakin kau senang pergi ke salah satu tempat dalam kenangan masa kecilmu.”

“ Ahhh. Jeongmalyo oppa? Aku penasaran kau akan membawaku ke mana. Kau tahu oppa,saat aku kecil ada banyak sekali tempat yang aku kunjungi.”

“ Tapi tempat ini berbeda,Sae na.. Kau akan tahu nanti. Kajja,kita harus cepat,kalau tidak bisa-bisa kita sampai di sana malam hari.” Ji yeop oppa menarik tanganku menuju mobilnya. Sepanjang jalan di koridor,tangannya tidak perah lepas dari tanganku,seakan-akan aku hartanya yang paling berharga,kalau aku terlepas sedetik saja dari genggamannya,maka aku akan hilang seperti asap.

Beberapa yeoja melirik sinis ke arahku. Aku tahu Ji yeop oppa adalah salah satu namja populer di sekolah ini. Banyak orang yang meyayangkan keputusan Ji yeop oppa untuk berpacara denganku. Aku bisa memaklumi jika semua orang berkata begitu,karena aku pun merasakan hal yang sama. Ji yeop oppa sudah kelas 3,sebentar lagi ia lulus,sedangkan aku masih kelas 1,masih tergolong junior yang bisa ditindas.

Namun itu semua tidak akan pernah terjadi,aku tidak akan pernah ditindas oleh siapapun. Ji yeop oppa akan selalu menjadi tameng bagiku,melindungiku dari segala ancaman di luar. Memperlakukanku bagaikan mutiara berharga. Ia berusaha melindungiku,terkadang perlakuannya membuatku sedikit risih. Ia terlalu mengkhawatirkanku,seakan-akan aku ini gadis lemah.

Ku akui aku merasa nyaman saat bersamanya,suatu perasaan yang sudah lama aku rindukan. Suatu rasa di mana aku kembali ke masa kecilku yang bahagia. Suatu rasa yang membawaku terbang. Dialah pemilik semua rasa itu,membuatku tidak bisa lepas darinya.

End of the pov

***

Hyun nie pov

 

Tatapan matanya begitu membius

Mematikan setiap sendi tubuhku

Membawaku ke kedalaman bola matanya

Mata itu..

Sesuatu yang kurindukan

Ada dalam kelamnya hidupku saat ini

Bagai pelita ia mampu bersinar

Seakan membawa harapan

Bahwa aku harus terus hidup

Demi melihat mata itu..

“ Annyeong haseo,agassi,anda mau pesan apa?” suara namja menyadarkan aku dari lamuanan. Aku menoleh dan menatapnya. Dia… pemilik mata indah itu… ada di hadapanku saat ini. Waktu seakan berhenti berputar. Aku bisa meraskan jantungku berdebar tidak karuan saat ini.

“ Ehhh, aku pesan satu waffle blueberry dan satu ice coffee.” Aku menyerahkan buku menu padanya. Dia mengambil buku itu dan beranjak pegi. Aku ingin mencegahnya,mencegah setiap langkahnya yang semakin menjauh. Aku masih ingin melihatnya lebih lama lagi. Memahami kegelapan bola matanya yang seakan berbicara.

Dia.. Satu-satunya namja yang pernah hadir di hidupku yang kesepian. Aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Pertama kalinya.. Cinta? Apakah akan seperti ini rasanya? Wajarkah? Pantaskah aku jatuh cinta? Padanya yang seterang bintang malam,walaupun cahaya bintang masih kalah oleh cahaya rembulan,sang ratu penguasa kegelapan malam.

Bintang.. muncul setiap malam,berlomba-lomba menampakkan sinar mereka yang agung,berusaha tidak kalah oleh terangnya rembulan yang seakan-akan menyedot perhatian. Setia muncul setiap malam,walaupun terkdanga cahayanya tertutup awan gelap. Namja itu.. yang bahkan aku tidak ketahui namanya,seperti bintang,muncul dengan sinarnya yang malu-malu,tertutupi oleh awan dan bulan.

Aku tidak akan pernah bosan melihatnya dari sini. Mengamati setiap tingkah lakunya,merekamnya dalam memori otakku. Berusaha agar bayangannya tidak hilang. Aku meyukai saat-saat seperti ini,saat aku mengejarnya,berusaha mengejarnya yang bahkan tidak tahu apa-apa mengenai diriku ini.

“ Agassi,ini pesanan anda.” Ia meletakkan sepiring waffle dan secangkir ice coffee di hadapanku. Setelah aku mengucapkan terima kasih,ia hanya membalasnya dengan senyuman. Senyumnya manis,tapi aku tidak menyukai senyumnya,aku lebih menyukai bola matanya yang indah itu.

Apa cara yang harus ku tempuh agar bisa melihatmu terus? Agar bisa menahanmu tetap di sini? Agar bisa menyentuhmu? Agar bisa memberitahumu bahwa aku menyukai keindahan dari dalam dirimu….

Tanpa sadar aku terus memperhatikannya,aku tidak menyentuh sedikit pun makanan dan minuman yang tersaji di hadapanku. Entah sudah berapa lama aku di sini.

“ Mianhaeyo,agassi,kami sudah akan tutup.”

“ Ohh,mian,bisakah makanan dan minuman ini dibungkus?”

“ Ne,silahkan tunggu sebentar.”

Aku pun mulai mencari sosoknya ke setiap sudut ruangan. Ke mana dia?

“ Siapa yang sedang kau cari,Hyun nie-ssi?”

Tiba-tiba saja namja ya itu berdiri di depan mataku.Tunggu sebentar.. darimana dia tahu namaku?

“ Darimana kau tahu namaku?”

Namja itu hanya tertawa. Mungkin saja ia menertawakan ekspresi bodohku. Bodoh? Aishhh … Seperti apa wajahku sekarang? Dalam sekejap rasa kagumku berubah menjadi rasa was-was,jangan-jangan dia orang jahat?

“ Itu tidak penting,selain namamu,aku juga tahu kau bersekolah di Seoul Internasional high school,kau hanya tinggal sendiri di sini karena orang tuamu sedang berada di Kanada,kau itu pendiam,kutu buku,jahil,dan kadang-kadang bawel.”

Aku melongo dengan suksesnya.Namja ini mulai terlihat membahayakan. Ada apa ini? Mengapa ia mengetahui semua itu?

 

End of the pov

***

Sae na pov

            Aku melihat pemandangan dari luar kaca mobil,aku memang merasa tidak asing dengan jalan-jalan ini. Sepertinya aku pernah ke tempat ini sebelumnya. Tapi itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Aku sudah hampir melupakannya,lebih tepatnya,ingin melupakan semua itu.

“ Sae na-ya,Gwechanayo? Wajahmu pucat.”

Aku menoleh dan mendapati Ji yeop oppa memandangku dengan tatapan khawatir. Aku tersenyum,aku senang dengan sifatnya yang perhatian padaku.

“ Tenang saja oppa,aku baik-baik saja.” Aku mengambil tasku,hendak mengeluarkan sesuatu.

“ Auwww..” aku merasa jariku tanganku tertusuk sesuatu yang tajam. Darah perlahan mulai menetes dari tanganku yang terluka. Aku mengambil tissue dan mulai mengelap lukaku. Aku membalut tanganku dengan tissue agar darahnya berhenti mengalir. Aku melirik Ji yeop oppa yang masih konsentrasi menyetir,dalam hati aku takut ia melihatnya dan malah mengkhawatirkanku.

Darah itu tidak berhenti mengalir,aku segera mengambil selembar tissue lagi untuk menutupi lembaran tissue pertama yang sudah banjir oleh darahku. Lembaran tissue yang kedua pun segera penuh oleh darahku. Astagaaa kenapa darah ini tidak berhenti mengalir?

Aku pun mengambil selembar tissue lagi,begitu terus sampai akhirnya aku kehabisan tissue dan untungnya darahku sudah berhenti mengalir di lembaran tissue terakhir. Aku melihat berlembar-lembar tissue yang berserakkan di atas rok seragamku. Banyak sekali jumlahnya,padahal aku hanya terkena luka kecil tapi kenapa darah yang keluar sebanyak ini.

“ SAE NA….Kau kenapa?” Ji yeop oppa menghentikkan mobilnya di pinggir jalan dan bisa dilihat dari wajahnya. Ia terlihat sangat syok dengan lembaran-lembaran tissue berlumuran darah.

“ Gwechana oppa,tadi tanganku terkena ujung buku yang tajam sehingga mengeluarkan darah.” Aku tidak berbohong,tanganku memang hanya terkena ujung buku yang tajam. Namun entah mengapa darah yang harusnya keluar sedikit,malah sebanyak ini yang keluar.

“ Kau tidak bisa membohongiku,Sae na,tidak mungkin kalau hanya luka kecil darahnya bisa sebanyak ini.” Ji yeop oppa meraih tanganku untuk melihat seberapa besar luka di tanganku. Ia tertegun karena memang luka yang ada di sana hanya sedikit.Jari-jari tangannya sedikit basah oleh darahku yang masih mengalir dari luka yang terbuka.Walaupun sudah tidak sebanyak tadi.

“ Apa perlu kita ke rumah sakit?”

“ Aniya,oppa,tidak usah..” Aku hendak meraih tasku. Tetapi aku merasakan tangan kananku,yang tadi terkena luka dan mengeluarkan banyak darah,menjadi kaku. Aku berusaha menggerakkan tanganku.Ji yeop oppa memandangku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia segera menjalankan mobilnya lalu mengambil arah memutar. Aku mendesah pelan,aku sudah tahu,ia akan membawaku ke mana.

“Oppa,aku tidak perlu ke rumah sakit. Antar aku pulang..” Aku merengek sepanjang jalan. Persis seperti anak kecil yang tidak dibelikan permen.

“ Aniya,Sae na,kau kehilangan banyak darah tadi.”

“ Oppaaa,jebal,oppa,aku tidak ingin membuat ommaku khawatir.”

“ Hmm..baiklah,aku akan mengantarmu pulang. Tapi kalau kau merasa sakit lagi,segera hubungi aku.”

Aku hanya mengangguk pasrah. Setidaknya Ji yeop oppa tidak akan membawaku ke rumah sakit. Aku tidak mau membuat omma khawatir dan sedih memikirkanku.

***

          Setelah mobil Ji yeop oppa melaju meninggalkan rumahku. Aku segera masuk ke dalam. Entah mengapa aku merasa pusing,mungkinkah ini akibat kejadian tadi? Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Semoga aku sehat-sehat saja,semoga aku tidak terkena penyakit yang aneh.

“ Omma,aku pulang..”

“ Sae na,kau sudah pulang,nak..Kebetulan sekali omma mau pergi dulu. Kau tolong bereskan rumah dan memasak makan malam ya?”

“Omma mau ke mana?” Aku bertanya dengan suara serak.

“ Omma mau ke butik sebentar. Tadi Nona Lee menghubungi omma,katanya akan ada pemeriksaan seluruh karyawan dan yang kinerjanya bagus akan naik pangkat.”

“ Ahhh,aku doakan agar omma bisa naik pangkat.” Aku menatap wajah ommaku. Aku ingin sekali membantunya,meringankan bebannya. Namun apalah dayaku,ommaku tidak pernah mengijinkan aku mengambil kerja part time.

“ Omma pergi dulu ya..”

Sejak perusahaan appa bangkrut setahun yang lalu,appa pergi menjadi frustasi dan meninggalkan aku dan omma dengan setumpuk hutang. Siang dan malam omma bekerja untuk menutupi kebutuhan kami sekaligus untuk membayar hutang-hutang appa. Hampir saja aku tidak bisa melanjutkan sekolahku ke jenjang SMA,untungnya di sekolahku yang sekarang aku menerima beasiswa sehingga beban biaya untuk sekolahku berkurang.

Setelah setahun berlalu kondisi keluargaku sudah lebih baik. Sedikit demi sedikit hutang appa berhasil kami lunasi,walaupun belum semuanya lunas. Omma tidak pernah tahu setelah kematian oppa dan kepergian appa,tanpa aku sadari aku kehilangan kepercayaan terhadap namja. Dua orang namja yang paling dekat di hidupku pergi meninggalkanku dengan cara yang menyakitkan. Dua sosok tempatku belajar tentang sosok seorang namja. Dua sosok yang membuatku sakit hati dengan kepergian mereka.

Tetapi berbeda dengan Ji yeop oppa. Dialah satu-satunya namja yang berhasil membuatku tersenyum kembali. Menggantikan apa yang sudah hilang,mengembalikan keceriaanku walaupun tidak sama seperti dulu. Itulah yang membuatku bergantung padanya. Lagipula omma sangat menyayangi Ji yeop oppa seperti anak kandungnya sendiri. Berarti tidak salah aku memilihnya sebagai namjachinguku.

 

End of the pov

 

***

Ji yeop Pov

Apa aku berlebihan dalam memperlakukan Sae na? Apa aku terlalu khawatir terhadapnya? Aku rasa aku mempunyai alasan yang kuat mengapa aku melakukan semua itu. Aku terlalu mencintainya. Cinta? Aku rasa aku lebih dari cinta padanya. Terobsesi? Mungkin..

Mungkin juga aku menganggapnya sebagai pengganti apa yang hilang dari hidupku. Egoiskah aku? Selama ini hanya menganggap Sae na orang lain. Mencintai dan melindunginya demi sesuatu yang berharga. Pelarian? Tidak tepat menyebut Sae na sebagai pelarian. Aku benar-benar mencintainya hanya saja untuk suatu alasan.

Alasan aku harus selalu bersamanya. Alasan aku begitu melindunginya,

Bahkan terlalu over protective padanya. Sehingga tidak jarang Sae na marah padaku karena aku terlalu menganggapnya seperti anak kecil. Tetapi aku tahu Sae na tidak bisa marah lama-lama padaku,karena ia mengerti alasan aku melindunginya. Walaupun alasan yang aku katakan padanya bukan alasan sesungguhnya. Melainkan hanya kebohongan untuk alasan yang sebenarnya.

Aku tidak bisa mengatakan alasan yang sebenarnya pada Sae na. Aku telah berjanji pada seseorang untuk tidak melakukan itu.Dan aku akan berusaha menepati janjiku padanya. Aku meraih ponselnku dan membuka salah satu folder berisi file foto.

Aku mengamati satu per satu foto yang berada dalam folder itu. Aku merasakan sesuatu yang kuat menghantam dadaku. Sakit… Aku sudah lama tidak melihat foto-foto ini.Tetapi hari ini aku kembali membukanya. Sekaligus membuka kenangan lamaku yang menyakitkan.

Aku berusaha menahan air mataku agar tidak menetes. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri agar tidak menangisinya lagi. Itu akan membuatnya sedih. Aku tidak mau membuatnya sedih dan tidak akan pernah menyakitinya

Tok Tok Tok

Aku berjalan dan membuka pintu kamarku. Ommaku berdiri dengan tatapan yang sulit diartikan.

“ Ji yeop,waeyo? Kau menangis?”

“ Aniya,omma,Nan gwechana,ada apa?”

“ Ada yang ingin bertemu denganmu.”

Aku melangkahkan kakiku menuju ruang tengah rumahku. Aku sangat terkejut mengetahui siapa yang ingin bertemu denganku. Aku hanya bisa mematung melihat orang itu.

“ Annyeong ji yeop,apa kabar?”

End of the pov

***

One response to “[Korean Fan Fiction] Because I don’t know how to love (chapter1)

  1. Ping-balik: [Korean Fanfiction] Whether I Hate You or Not (Chapter 7A-To Love You More) | Asian Fan Fiction Story·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s