[Korean Fan Fiction] In The Rain (Drabble)

Author : Lee Hyura

Title : In The Rain

Genre : Romance, Friendship

Length : Drabble

Cast :

–          Park Yurin (OC)

–          SHINee Minho

–          SHINee Key

Note : Bakal ada beberapa lirik Gee tapi fungsinya hanya pemisah waktu aja. Hehe.. ga ada hubungannya sama cerita. Cuma temanya aja yang sama. Dan di saranin buat yg baca drabble ini supaya liat fotonya juga supaya feel lebih kerasa lagi.
INGAT! yang dimiringin adalah flashback atau kata-kata dalam hati.
ff yang ada teasernya itu aku undur karena baru selesai setengah jalan. aku maunya dipost pas selesai sampe END. hehe

 

===InTheRain===

~Neomu neomu meotjyeo nuni nuni pusyeo
Sumeul mot shigeosseo tteollineun geol
Gee gee gee gee baby baby baby
Gee gee gee gee baby baby baby~

HVS yang tadi kosong menjadi membentuk sebuah gambar. Mulutku tidak hentinya bersenandung lagu GEE dari sebuah girlband yang bernama SNSD. Mungkin orang lain akan berkonsentrasi saat ia sedang menggambar. Namun aku tidak. Pikiranku sibuk melayang. Aku hanya memikirkan saat-saat aku bersamanya.

Hari itu aku bolos. Bukan bolos tapi aku kabur karena aku tidak lelah ditindas oleh teman-teman kelasku. Aku benar-benar lelah!

Sebelum aku memutuskan untuk kabur, hujan turun dengan deras. Saat teman-teman yang biasa menindasku datang ke kelas, entah mengapa tanganku segera menggenggam jas hujan pinkku. Saat mereka menghampiriku, aku berlari kencang menghindari mereka. Aku segera memakai jas hujanku saat tubuhku terkena air hujan. Aku terus berlari dan berlari sampai akhirnya aku sampai di taman. Aku hanya duduk di balik semak-semak –takut mereka akan menemukanku.

“Ya tuhan… ya tuhan… semoga mereka tak menemukanku,” gumamku beberapa kali. Tiba-tiba aku mendengar suara yang mendekatiku. Tubuhku membeku. Aku langsung mendongak ke belakang saat air hujan tidak lagi mengenaiku.

 

“Annyeong,” sapa seorang namja sambil tersenyum manis padaku.

 

“Huh?” bingungku. Otakku kosong karena shock.

 

“Annyeong,” ulangnya.

 

“Ah, ne. Annyeong,” balasku dan diam.

 

Dia berjalan hingga ia berdiri di hadapanku lalu berjongkok di depanku. Ia tersenyum manis. Pertama kalinya sejak aku masuk kelas neraka itu, ada orang yang tersenyum padaku semanis itu selain keluargaku.

 

“Sekarang sedang hujan,” ujarnya.

 

Aku mengernyit, “Ne, arasso. Lalu?”

 

“Untuk apa kau disini?” tanyanya.

 

Aku terdiam sejenak lalu menjawab, “Kabur dari teman-temanku.”

 

“Oh,” balasnya. Dia bangkit dan berjalan melewatiku. Aku bersyukur dia tidak menanyakan alasanku lebih lanjut.

 

“Mau ku temani?”

 

Aku menoleh dan mengerjap, “Mwo?”

 

Dia mengulurkan tangannya seperti mengisyaratkan ia ingin memberiku pertolongan untuk bangkit. “Aku temani. Mau?”

 

Aku terdiam sejenak untuk berpikir dan mengangguk. Aku menerima tangannya dan bangkit.

Aku tersenyum saat satu gambarku sudah selesai. Aku mewarnainya dengan pensil warna. Bibirku tidak bosannya menyanyikan lagu Gee. Ah akhirnya satu gambar selesai. Aku tersenyum lebar dan meletakkannya di sisi meja yang kosong.

~Naneun naneun babongabwayo
Geudae geudae bakke moleuneun babo
Geulaeyo geudael boneun nan~

Aku segera mengambil satu kertas HVS baru dan kembali menggambar. Otakku masih sibuk memutar kenanganku dengannya.

“Tunggu sebentar,” katanya sambil menyerahkan payungnya padaku lalu berlari meninggalkanku.

 

“Ya~” panggilku dengan tangan seperti ingin mencegahnya namun dengan cepat aku menarik tanganku kembali. Aku memutuskan untuk duduk di kursi taman. Hujan belum juga berhenti.

 

“Ya~” aku tersentak bangun karena kaget. Itu dia, dengan sebuah bola basket di tangannya.

 

“Ayo bermain bola,” ajaknya dengan senyuman lebar.

 

Aku menggeleng dan tersenyum tipis, “Aku mau tapi aku tidak bisa. Ini hujan dan aku juga memakai rok.”

 

“Aish~ kau takut sekali jatuh lalu aku melihat dalamanmu,” gumamnya. Wajahku langsung memerah karena yang ia katakan benar.

 

“Ok, kalau begitu, lihat aku bermain bola saja,” suruhnya. Aku mengangguk.

 

Selama beberapa waktu ia bermain bola, akhirnya ia berhenti bermain dan duduk di sampingku.

 

“Wae? Kenapa berhenti?” tanyaku pelan.

 

“Tidak asik kalo hanya bermain sendiri. Bagaimana permainan di ganti. Permainannya adalah kau harus merebut bola di tanganku. Semacam perebutan bola basket biasa saja. Eotte?” usulnya.

 

“Geurom,” jawabku. Tidak enak juga jika aku terus-menerus.

 

Aku mulai mencoba merebut bola dari tangannya. Ternyata itu cukup menyenangkan hingga sempat beberapa kali aku lupa jika saat itu masih hujan hingga aku melepas payungku.

 

Aku terkikik pelan melihat gambarku yang lagi-lagi selesai. Saat itu benar-benar menyenangkan dan konyol. Aku mengambil pencil warnaku dan mulai mewarnainya.

~O neomu neomu yeppeo mami neomu yeppeo
Cheot nune banhaetseo kkok jjipeun gul
Gee gee gee gee baby baby baby
Gee gee gee gee baby baby baby~

 

Aku menarik nafas dalam-dalam. 2 gambar sudah selesai sekarang. Tapi tanganku masih juga ingin bergerak untuk melukiskan ceritaku bersamanya.

“Pernah main hujan?” tanya sambil melempar bolanya menjauh.

 

“Ya! Kenapa bolanya dibuang?” tanyaku dengan nada kesal.

 

“Lupakan soal itu,” katanya sambil merampas payungnya dan membuangnya. “Main hujan itu seru loh,” lanjutnya sambil mengedipkan matanya padaku.

 

Aku terkikik. “Babo!”

 

“Mwo?”

 

“Aniya~” dan selanjutnya aku bermain hujan dengannya. Aku menyipratkan air kubangan sekitar dan menari pelan di tengah hujan. Ku rasa saat itu adalah saat-saat aku mendapatkan surga duniawiku.

 

~Eojjeomyeon joa (eojjeomyeon joayo)
Soojoobeun naneun (soojoobeun naneunyo)
(Molla molla molla molla) mollahamyeo maeil
geudaeman geurijyo~

“Istirahat dulu. Sepertinya kau lelah sekali,” serunya.

 

“Itu semua karena kau terlalu lincah,” protesku.

 

Dia terkekeh dan mengacak rambutku, “Kau lucu.” Jujur itu berhasil membuat pipiku memanas.

 

“Duduk disini saja di sini,” serunya sambil menarik tanganku hingga aku terduduk di sampingnya.

 

“Ya~ ini kan lumpur,” gerutuku.

 

“Biarkan saja. Disini lebih baik daripada di bangku taman,” sahutnya sambil mendongak menatap langit.

 

Tapi lama ia bangkit dan berlari mengambil payungnya lalu kembali ke sampingku. Dia memayungi dirinya dan aku.

 

“Mau mendengar cerita lucu tidak?” tanyanya. Aku langsung mengangguk cepat.

 

Langsung 2 gambar aku selesaikan dalam waktu yang sebentar. Kalau digabung dengan yang tadi, semuanya sudah 4. Aku benar-benar niat menggambar kenanganku dengannya. Keke..

~Yongiga eopneun geolkka
Eotteokhaeya joeun geolkka
Dugeun dogeun mam jorimyeo barabogo itneun nan~

Aku mulai menggambar lagi. Ah~ ada apa denganku? Kenapa aku sepertinya sangat merindukannya hingga aku melukis semua ini?

“Waw~ sudah 2 jam aku disini. Aku harus segera pergi,” ujarnya.

 

Aku langsung menoleh, “Kenapa cepat sekali?”

 

“Mollayo. Mianhae aku harus pergi. Payungnya boleh kau bawa pulang. Untukmu saja,” katanya sambil berlari menjauhiku.

 

“Hey! Tapi siapa namamu?” teriakku sebelum jarak kami semakin jauh.

~Neomu banjjak banjjak nooni booshuh no no no no no
Neomu kkamjjak kkamjjak nollan naneun oh oh oh oh oh
Neomu jjarit jjarit momi ddeullyuh gee gee gee gee gee
O juhjeun nunbit (oh yeah~) oh joeun hyanggee (oh yeah~)~

Sudah 6 gambar yang aku gambar hari ini. Beruntung hari ini semua guru sedang sibuk dengan urusan mereka hingga siswa-siswanya bebas hampir sekitar 6 jam. Aku jadi bisa menggambar sebanyak ini.

“Daebak~! Yurin-a~ gambarmu bagus sekali~ untukku, ya?” seru Key yang tahu-tahu sudah ada di sampingku dan mengambil salah satu gambarku.

Aku segera merebutnya, “Mianhae. Tapi aku tidak bisa memberikanmu semua ini. Tapi kau bisa memintaku untuk menggambar yang lain.” Aku memasang senyum bersalah.

“Gwencana. Aku bisa melihat semua hasil karyamu saja itu sudah membuatku senang,” katanya sambil tersenyum seraya meninggalkanku.

Aku segera menahan tangan, “Sungguh. Jika kau mau, aku bisa menggambarkanmu yang lain tapi jangan ini semua.”

“Aku juga bersungguh-sungguh, Yurin-a..” Key tersenyum lebar. Mata Key membulat saat ia melihat semua gambarku. “Kau membuat gambar bersambung, ya? Kau mau buat komik?”

“Anio. Hanya iseng saja,” bantahku cepat.

“Aku sarankan agar kau membuat komik saja. Pasti laku keras,” usulnya sebelum berlari meninggalkanku.

Jujur, sejak pertama kali sekaligus terakhir kali aku bertemu dengan namja itu, aku menjadi sedikit berani. Aku memprotes semua kelakuan para orang yang suka menganiayaku. Aku menawarkan pertemanan dengan mereka. Dan mereka menerimanya. Sejak aku bertemu dengannya pula, aku menyadari bakat melukisku.

Sayangnya, aku tidak bisa bertemu dengannya lagi sejak hari itu. Aku tidak tahu dia di mana. Setiap hati aku menunggu di taman itu tapi aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Bodohnya aku yang baru sadar kalau namja itu sudah berhasil merebut hatiku saat aku sudah tak bertemu dengannya lagi. Tapi ada dua kalimat yang selalu terngiang di kepalaku.

Aku segera mengambil selembar kertas HVS lagi dan mulai memainkan pensil 2Bku di selembaran itu.

“Namaku Minho. Ingat itu!” teriaknya sebelum akhirnya ia berlari lebih cepat dan sosoknya hilang di tikungan.

===InTheRain===

Anda mau plagiat atau mengatas-namakan drabble ini itu terserah anda *sok ada yg mau aja xD* tapi DILARANG KERAS PLAGIAT, COPAS, ATAU MENGATAS-NAMAKAN GAMBAR KARENA GAMBARNYA ADALAH MILIK SENIMAN KELAS SAYA YANG PALING SAYA KAGUMI YAITU ALIFTIA FEBRINA!! KALO SAMPE ITU TERJADI, BAKAL BERHADAPAN DENGAN SAYA!

Mian keliatannya kayak ngotot tapi saya hanya ingin melindungi hasil karya seniman favorit saya u,u *lebay~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s