[Korean Fan Fiction] Love in Summer (OneShoot)

Author : Lee Hyura

Title : Love in Summer

Genre : Romance, Angst*hmm..*, drama and tragedy

Cast :

–          Beast Gikwang

–          Boyfriend Jo Twins

–          Cho Kyurin (OC)

–          Lee Hyuri

–          Another artists

=== Love in Summer===

Kyurin memakai bando warna biru langitnya lalu menyisir poni di depan cermin. Dia tersenyum. Setelah menurutnya dia sudah cukup cantik, dia berlari kecil ke meja belajarnya untuk mengambil sekotak coklat batang dan keluar rumah menuju taman dekat rumahnya.

“Annyeong,” sapanya sambil membungkukkan badan pada seorang anak kecil yang sedang berayun di ayunan.

Anak itu menghentikan ayunannya dan tersenyum, “Annyeong. Aku sudah menunggumu dari tadi.”

“Mian. Keluarga besarku datang ke rumahku hari ini. Umma mau memberikan coklat batang ini hanya jika aku mau membantunya membawakan beberapa minuman ke ruang tamu. Itu sebabnya aku terlambat,” jelas Kyurin.

“Gwencana kalau alasannya untuk membantu umma mertua,” tanggap anak itu sambil terkekeh.

“Siapa yang kau panggil mertua, huh? Memang kau sudah menikah denganku apa?”

“Suatu saat nanti aku pasti akan menikah denganmu. Oh iya! Aku bawa 2 ice cream. Cocok kan untuk musim panas seperti sekarang?” Anak itu menyondorkan dua cup ice cream.

Kyurin mengangguk, “Aku mau rasa coklat.”

“Tentu saja kau pilih yang rasa coklat. Aku hanya membawa rasa coklat,” cibir anak itu sambil menyerahkan salah satunya.

Kyurin terkikik, “Biar. Setelah makan ice cream, baru kita mengobrol sambil makan coklat batangku, ya.”

“Ok!!” seru anak itu sambil menyendokkan ice cream ke mulutnya.

“Aku sangat menyukai musim panas. Aku bersyukur karena tuhan menciptakan musim panas,” gumam Kyurin.

“Nado,” sahut anak itu.

9 years later.

Kyurin pov.

Aku mengusap air mataku. “Aku benci musim panas. Kenapa harus ada musim panas di dunia ini?”

Mungkin 8 tahun yang lalu aku bisa menyerukan betapa aku menyukai musim panas. Saat ada namja itu. Namja musim panas, itulah panggilanku karena kami hanya bertemu saat musim panas. Entah sejak kapan aku sadar bahwa aku menyukainya. Aku datang ke taman hanya untuk berbagi makanan dengannya. Begitu dengannya. Saling berbagi tanpa mengenal satu sama lain.

“Kenapa kau tak pernah datang lagi sih? Andai kau datang, mungkin aku takkan sebenci ini pada musim panas. Ahh!” aku mengerang kesal. “Andai aku tak sebodoh itu saat kita masih bisa bertemu, aku pasti takkan lupa menanyakan namamu!”

Pasti bingung kenapa aku membenci musim panas, kan? Aku akan menjawabnya.

Karena namja musim panas itu? Aniya~ tak ada hubungannya dengannya.

Lalu? Jujur saja aku seperti di kutuk!

Maksudnya? Aku selalu putus dengan pacarku atau tidak cintaku bertepuk sebelah tangan setiap musim panas. Entah itu awal musim panas, pertengahan, maupun akhir musim panas. Hari ini aku merasakannya lagi. Sudah ketiga kalinya aku mengalami putus cinta. Sial!!

Pacarku yang pertama ialah Jungmin. Aku mencintainya, sangat! Yeah walaupun awalnya aku hanya berpacaran dengannya untuk main-main. Aku dan dia sama-sama bertaruh dengan teman kami masing-masing. Saat kami saling menceritakan tentang hal itu, kami membuat perjanjian. Hasilnya kami sama-sama memenangi taruhan itu namun kami juga saling jatuh cinta akhirnya. Tapi saat pertengahan musim panas, dia di paksa sekolah di luar negeri oleh orangtuanya dan menyebabkan kami putus.

Yang kedua adalah namja yang menurutku sempurna hingga aku bingung kenapa dia bisa-bisanya jatuh cinta padaku. Dia sering dipanggil Gong Chan oleh teman-temannya. Untuk kasusnya, aku tak mengerti mengapa ia memintaku untuk mengakhiri hubungan kami. Bahkan sebelum ia meminta putus, dia sempat merebut ciuman pertamaku. Ah sial! Aku menangis lagi hanya karena mengingat semua itu.

Yang terakhir sekaligus namja yang memutuskanku hari ini adalah Lee Junho. Kami terpaut beberapa tahun namun aku dan dia saling mencintai. Dia berhasil menyembuhkan lukaku karena diputuskan oleh Gong Chan dengan alasan yang tidak aku mengerti dan bahkan aku tak tahu apa alasannya saat itu. Dia polos, sangat polos. Namun dengan kepolosan, dia berhasil mewarnai kehidupanku. Tapi ….

Aku mendongak saat selembar tissue berada di depan wajahku.

“Tissue. Untukmu,” kata Hyuri –sahabatku.

Aku tersenyum sedih, “Gomawo, Hyu.”

“Ada cerita sedih apa lagi di musim panas tahun ini?” tanyanya datar sambil duduk di sampingku.

“Junho oppa dijodohkan oleh orangtuanya,” jawabku.

“Karena orangtuanya tak setuju dia berpacaran dengan anak sekolah, makanya ia dia dijodohkan?”

“Maja.”

“Dan namja polos itu menurut?”

Aku mengangguk, “Kenapa kau bisa tahu?”

Hyuri mengangkat bahunya, “Molla. Ini hanya akan terulang kembali tahun depan. Apa kau tak lelah jatuh cinta lalu sakit hati?”

Aku menggeleng, “Bukan keinginanku untuk jatuh cinta.”

“Aku jadi tak sabar menunggu ceritamu tahun depan di musim panas, di saat kita lulus nanti,” katanya –menyibir sambil menyikutku dan tertawa. Aku tersenyum kecil.

A few months later.

Author pov.

 

Kyurin focus pada layar laptopnya –tanpa menghiraukan setiap perkataan guru. Toh saat itu pelajaran matematika –pelajaran yang paling ia benci dan guru sedang menerangkan beberapa rumus yang ada di internet. Kyurin bisa berpura-pura memperhatikan kumpulan angka-angka itu padahal sebenarnya ia sedang membaca sebuah fanfiction di sebuah blog.

“Apa itu seru, Kyurin-ah?” bisik Hyuri yang juga sedang membaca fanfiction.

“Seru… aku saja sekarang sedang berusaha supaya tak menangis. Sedih sekali ceritanya. Kalau aku menangis, pasti kita ketahuan kalau kita tak melihat kumpulan angka sialan itu,” jawab Kyurin dengan berbisik juga.

“Minta linknya,” pinta Hyuri.

“Tunggu. Aku kirim ke wall-mu,” balas Kyurin.

A few moments later.

“Hua! Babo!! Babo!!” pekik Kyurin kesal. Pasalnya seorang cast di fanfic itu berbuat sesuatu yang membuatnya kesal. “Dia menyukaimu bukan namja itu, babo!” lanjut Kyurin geram.

“He-em!” terdengar suara berdeham.

“Kyurin-ah~ kau sih!” kesal Hyuri berbisik sambil menyikut Kyurin kesal. Kyurin hanya meringis.

>>>

“Ya! Kenapa berhenti, huh? Masih ada 5 putaran lagi,” teriak Han sangsaenim saat melihat Kyurin dan Hyuri duduk di pinggir lapangan sambil mengatur nafas mereka.

“Yang masih 5 putaran lagi itu Kyurin bukan aku, saem! Aku hanya tinggal 2 putaran lagi,” sahut Hyuri tak terima.

Kyurin mendesis kesal lalu bangkit. “Jadi ini yang kau bilang sahabat? Cish!” desisnya kesal sebelum kembali berlari.

Hyuri bangkit sembari terkekeh lalu berlari menyusul Kyurin, “Ya, Kyurin-ah~ jamkanman!”

“Jangan harap!” sahut Kyurin sambil mempercepat laju larinya.

1… 2… 3… 4… tinggal 1 putaran lagi, ia selesai. Sedangkan Hyuri sudah bersandar di bawah pohon beringin di dekat lapangan sambil mengibas-ngibaskan tangannya sebagai pengganti kipas. Kyurin mendesis melihatnya sedangkan Hyuri melambaikan tangannya ke Kyurin yang membuat Kyurin tambah kesal.

BRUK!

“Aw! Apheo~” ringis Kyurin saat tubuhnya tersungkur dengan kasar ke lantai panas lapangan.

“Jwoisonghae…” sesal orang yang menabrak Kyurin sambil membantu Kyurin bangkit.

“Kau mengganggu hukumanku saja! Tinggal satu putaran lagi padahal,” gerutu Kyurin.

“Ya~ aku kan sudah meminta maaf,” balas namja itu.

Kyurin menatap namja yang menabraknya. Ia tak memakai seragam sekolahnya. Apa dia mahasiswa?, pikirnya. Oh tidak! Aku sudah berlaku tidak sopan pada seorang sunbae!

Kyurin segera membungkukkan badan, “Jwoisonghae. Aku ingin melanjutkan hukumanku lagi. Sillyehamnida,” pamitnya.

Gikwang –namja yang menabrak Kyurin menggaruk keningnya bingung, “Kenapa tiba-tiba meminta maaf dan berlaku sopan seperti itu?”

Dia mengidikkan bahunya dan melanjutkan langkahnya.

Next day, at school.

Kyurin sibuk mengetik di laptopnya padahal Kim sangsaenim sudah masuk ke kelasnya. Biar saja. Kim sangsaenim guru yang baik kok, pikirnya santai.

“Lanjutan ffmu, ya?” tebak Hyuri sambil mencoba melihat hasil ketikan Kyurin.

“Ye~ jangan mengintip,” jawab Kyurin dingin.

“Tak seru juga kalau aku sudah tahu jalan ceritanya,” balas Hyuri sambil mendengus.

“Dia teman baru kalian. Ya, Kyurin~ Hyuri ~ lihat ke sini dulu baru setelah itu kalian teruskan mengetik atau membaca fanficnya,” kata Kim sangsaenim.

Kyurin menghela nafas lalu menutup laptopnya, “Lanjutkan sangsaenim.” Matanya membulat saat melihat namja yang berdiri disamping Kim sangsaenim. Bukannya namja itu namja yang menabrakku kemarin?

“Lee Gikwang imnida. Bangapseumnida, yorobeun,” kata Gikwang. Dia melempar senyum ke seluruh murid di kelas itu.

“Ku kira kau mahasiswa,” seru Kyurin.

“Omona.. memang wajahku setua itu kah?” sahut Gikwang sambil mengerucutkan bibirnya.

Kyurin mendengus, “Ku kira.”

“Geure, Gikwang-ssi. Kau duduk di sebelah Dongwoon. Tepat di belakang yeoja yang mengira kau seorang mahasiswa,” kata Kim sangsaenim.

Kyurin meniup poninya kesal karena merasa perkataan Kim sangsaenim cukup menyindirkannya.

>>>

“Kyurin-ssi! Ku dengar kau murid terpintar di kelas ini. Boleh ku minta tolong untuk mengajariku?” ujar Gikwang.

Kyurin menoleh dan tersenyum tipis, “Ye. Apa kau ingin kau tanyakan?”

“Ini.. aku tak mengerti soal matematika yang ini,” jawab Gikwang sambil menyondorkan sebuah buku.

Hyuri segera terkikik mendengarnya sedangkan wajah Kyurin berubah menjadi masam. “Jangan menyindirku, Gikwang-ssi!” kesal Kyurin.

“Boe? Apa maksudmu? Aku bertanya bukan menyindir,” bingung Gikwang.

“Dia memang pintar tapi dia tak bisa matematika, Gikwang-ssi,” jelas Hyuri.

“Ahh.. jwoisonghae. Aku tak bermaksud menyindirmu. Sungguh!” sesal Gikwang.

Kyurin tersenyum kecut, “Ye.”

“Bagaimana sebagai permintaan maafku, aku belikan kau ice cream coklat?” tawar Gikwang.

“Kau kira aku masih kecil hingga bisa di tawari ice cream?” cibir Kyurin. “Aku terima ice creamnya.” Hyuri langsung menyoraki Kyurin kesal. Kyurin tertawa karenanya sedangkan Gikwang hanya tersenyum tipis.

>>>

“Kyurin-ssi!” panggil Gikwang.

Kyurin dan Hyuri menoleh. “Wae, Gikwang-ssi?” sahut Kyurin.

“Mau aku antarkan pulang?” tawar Gikwang.

Kyurin melirik Hyuri, “Eotteo?”

“Terima saja. Kali saja dia yang akan jadi main cast selanjutnya di cerita musim panas tahun ini. aku tak apa kok pulang sendiri,” jawab Hyuri sambil terkikik.

“Sial!” desis Kyurin sambil menonjok bahu Hyuri pelan.

“Sudah~ sana!” Hyuri mendorong tubuh Kyurin mendekat ke Gikwang.

Kyurin mendesis namun langsung tersenyum saat melihat Gikwang tersenyum padanya.

>>>

Motor Gikwang berhenti di taman dekat rumah Kyurin. Ia melepaskan helmnya dan menanggalkannya di kaca spion motornya.

“Ya~ sudah ku bilang lurus bukan berhenti, Gikwang-ssi,” kesal Kyurin.

“Aku ingin ke taman ini sebentar. Sudah lama aku tidak ke taman ini. Banyak kenanganku disini,” gumam Gikwang. Dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.

Kyurin menghela nafas pelan lalu turun dari motor, “Nado. Banyak kenangan.”

Gikwang menoleh ke Kyurin dan tersenyum, “Aku sudah dengar ceritamu tentang musim panas. Ingin menantang kutukan itu?”

Kyurin menoleh cepat, “Apa maksudmu?”

“Sebentar lagi musim panas. Kau mau coba mematahkan kutukanmu itu bersamaku?”

“Anarasso.”

“Kau akan berpacaran denganku selama akhir musim semi ini sampai awal musim gugur nanti. Eotteo?”

“Apa kau sudah gila? Bahkan kita baru berkenalan hari ini!” kesal Kyurin. Tak masuk akal!, tekannya dalam hati.

“Wae? Kau takut? Kau takut akan benar-benar jatuh cinta denganku nantinya?” goda Gikwang sambil memainkan alisnya.

“Anio! Aku hanya masih waras tidak sepertimu. Lagipula kenapa kau bisa tahu tentang hal itu?”

“It’s my secret, girl..” Gikwang mengedipkan matanya.

“Michyeo saram!” geram Kyurin sambil berjalan meninggalkan Gikwang.

“Aku tahu kau pasti akan menerimanya suatu saat nanti,” gumam Gikwang sambil memakai helmnya dan menstater motornya. Tak lama, ia menggas motornya menuju rumahnya.

Kyurin’s room.

“Hyuri-ya! Angkat teleponnya! Aish!!” geramnya sambil menelepon Hyuri berulang kali namun hasilnya tetap sama –Hyuri tak mengangkat teleponnya.

Kyurin melempar dirinya ke kasurnya. “Menantang kutukan?” gumamnya.

Dia mengerang dan menutup wajahnya dengan bantal, “Lupakan!!”

Next day.

“Annyeong, Kyurin-ah~” sapa Gikwang. Kyurin tak menghiraukan sapaan Gikwang. Gikwang tersenyum tipis dan melempar pelan tasnya ke mejanya.

Kyurin menghela nafas menyerah lalu berbalik badan –menatap Gikwang, “Sudah ku pikirkan semalam.”

“Dan jawabannya adalah …”

“Aku menerimanya,” kata Kyurin pelan.

“Sudah ku tebak. Ok aku ulang sapaanku tadi. annyeong, jagi~”

“Ya, jangan memanggilku jagi!”

“Lalu? Yeoja musim panas?”

Kyurin terdiam lalu menatap Gikwang kosong. Sedangkan Gikwang menampakkan cengiran khasnya.

A few days later.

Kyurin duduk di kursi taman sambil menggambar dengan kakinya di tanah. Dia menoleh saat merasa ada yang duduk disebelahnya.

“Igo,” ujar Gikwang sambil menyerahkan satu batang ice cream pada Kyurin.

Kyurin menerimanya dan mulai menjilatnya, “Gomawo.”

“Everything for you, honey,” balas Gikwang sambil terkikik.

“Ya!” protes Kyurin namun ia ikut terkikik mendengarnya.

“Beberapa hari pertama musim panas. Tak terjadi apa-apa,” gumam Gikwang.

“Belum sebulan, Kwang,” tanggap Kyurin lalu menghela nafas pendek.

“Ku yakin takkan terjadi apapun nantinya,” seru Gikwang seraya bangkit dan mengulurkan tangannya.

Kyurin menatap tangan itu dan wajah Gikwang bergantian, “Mwo?”

“Kita jalan-jalan. Liburan tak pergi kemana-mana akan membosankan. Bagaimana jika kita berkencan?” jelas Gikwang.

Kyurin menjilat ice creamnya sebelum membalas uluran tangan Gikwang sambil tersenyum. Gikwang balas tersenyum.

“Ku anggap kau menerima ajakan kencanku.”

“Tentu saja!”

>>>

Memang tak semudah yang di kira oleh Gikwang. Masalah mulai bermunculan satu per satu. Entah karena beruntung atau apapun itu, mereka berhasil melewatinya. Seperti sekelompok yeoja penggemar Gikwang menyerang Kyurin dan memintanya memutuskan hubungan mereka. Kalau tidak, mereka akan terus membully Kyurin. Setiap hari selalu ada luka di kulit Kyurin yang tadinya mulus. Untung Gikwang bertindak cepat dan entah apa yang ia perbuat, kelompok itu tak berani lagi muncul di hadapan Kyurin.

Lalu orangtua Gikwang yang meminta Gikwang kembali bersekolah di sekolah khusus padahal sebentar lagi dia akan lulus. Entah apa yang sebenarnya yang diinginkan oleh orangtua Gikwang. Namun lagi-lagi Gikwang berhasil mengatasinya.

>>>

Kyurin berjalan perlahan menghampiri Gikwang yang sedang asik berbincang dengan adik kembarnya, Youngmin dan Kwangmin sambil membawa nampan. Ia letakkan nampan itu di atas meja di tengah mereka bertiga lalu duduk disamping Gikwang.

“Maja. Taruhannya lumayan lho,” seru Kwangmin.

“Mwoya? Street dance lagi? Kenapa kalian tak pernah menyerah untuk mengajaknya masuk ke tim kalian sih?” tebak Kyurin.

Jo twins itu memang aktif menawarkan Gikwang untuk masuk ke dalam tim mereka setiap ada perlombaan antar tim street dance sejak Gikwang tak sengaja membantu tim mereka saat Kyurin membawa Gikwang hanya untuk sekedar menonton dan menyemangati mereka.

“Kyurin-ah~ pacarmu pandai menari. Ku yakin timku akan menang jika Gikwang  masuk ke timku,” ujar Youngmin.

“Timku juga,” sahut Kwangmin.

“Ye, tim kami,” ralat Youngmin.

Gikwang melirik Kyurin. Kyurin menghela nafas menyerah dan mengangkat bahunya, “Untuk kali ini aku biarkan kau ikut dengan mereka.”

“Gomawo, noona~” sorak Jo twins sambil memeluk Kyurin.

“YA!!” protes Kyurin.

>>>

“Kau yakin kau iklas membiarkanku ikut perlombaan ini?” tanya Gikwang tak yakin sambil melakukan pemanasan.

“Kita hanya berpura-pura pacaran. Tak ada alasan bagiku untuk melarangmu ini-itu,” sahut Kyurin sambil meneguk air dari botol mineralnya.

“Kyurin-ah~”

“Hm?”

“Satu bulan lagi musim panas akan berakhir. Kau bisa optimis sekarang?” ujar Gikwang pelan.

“Selama ini kau berhasil mengatasi semua masalah. Sepertinya aku bisa optimis sekarang. Gomawo, Kwang,” jawab Kyurin sambil tersenyum. “Jaa… hwaiting!”

Gikwang mengacak rambut Kyurin pelan dan berlari menghampiri kelompoknya –meninggalkan Kyurin.

“Kyurin-ah?” panggil seseorang.

Kyurin berbalik badan. Matanya membulat, “Oppa?”

Gikwang’s side.

Gikwang mulai memfokuskan pandangannya ke setiap dance yang diperlihatkan oleh tim lawan dan menganalisisnya.

“Mereka hebat,” bisik Gikwang.

“Maja,” balas Youngmin. “Itu sebabnya kami memohon padamu, hyung.”

Sudut bibir Gikwang naik. Ia tersenyum tipis. Sudah saatnya ia lah yang menari di atas matras itu. Hup! Dia berhasil melakukan setiap gerakannya dengan sempurna bahkan gerakan yang sulit.

Wajah tim lawan segera menegang saat melihat setiap gerakan Gikwang hingga membuat Jo twins tersenyum optimis.

“Ya~ jwoisonghae, aku terlambat,” kata seseorang.

“Junho-ya!!” seru para tim lawan. Tenaga mereka serasa terisi kembali.

“Sial!” desis Youngmin kesal.

“Sekarang kau perlihatkan kemampuanmu, Jun! Perlihatkan kemampuanmu pada mereka. Ppali~” seru ketua tim lawan.

Namja yang dipanggil Junho itu tersenyum sopan lalu berjalan ke atas matras. Gikwang mengerutkan keningnya, kenapa ekspresi semua orang seperti itu saat ia datang? Apa dia jago? Tapi wajahnya tak mendukung.

Ternyata semua pertanyaan Gikwang terjawab sudah. Tubuhnya sangat lentur!, seru Gikwang dalam hati. “Hoa~”

“Kau jangan terpesona seperti itu! Dia lawanmu. Setelah aksi duetku dengan Youngmin, kau lah yang maju lagi,” bentak Kwangmin.

“Ya! Jangan seperti itu! Jangan memaksanya,” sentak Kyurin dari belakangnya.

“Aku terlalu serius jadi seperti itu, noona~” ngeles Kwangmin.

“Lagipula aku memang ingin menunjuk kemampuanku lagi. Aku tak sabar,” seru Gikwang.

Kyurin mendengus, “Terserahmu lah.” Kyurin mengecup pipi Gikwang, “Hwaiting.”

Gikwang tersenyum, “Gomawo.”

Youngmin dan Kwangmin maju ke depan dan mulai mempertunjukkan dance mereka. Setelah itu, giliran Gikwang yang maju setelah utusan tim lawan selesai memperlihatkan dancenya. Gikwang mulai memperlihatkan dance yang berbeda dan tentu saja level yang lebih sulit dan ia tutup dengan salto dan split. Kyurin ternganga melihatnya.

>>>

“Yey!! Sudah ku tebak! Asal ada Gikwang hyung, kita pasti menang,” seru Youngmin dan Kwangmin sambil menjadikan uang hasil pertarungan selama 3 jam itu sebagai pengganti kipas.

Gikwang tersenyum tipis dengan matanya seperti mencari seseorang.

“Mencari Kyurin noona?” tanya Minwoo –salah seorang penari jalanan di tim Kwangmin dan Youngmin.

Gikwang mengangguk, “Kau lihat?”

“Dia bersama salah satu penari lawan di sana,” jawab Minwoo sambil menunjuk sebuah sudut gedung yang basementnya di pakai untuk battle kali itu.

“Gomawo.” Gikwang segera berlari menuju tempat yang ditunjuk oleh Minwoo.

“Kyu.. Rin?” suara Gikwang semakin lama semakin rendah.

Kyurin’s side.

Kyurin tersenyum senang saat tim adiknya menang. Saat Kyurin ingin memeluk mereka, ada seseorang yang menarik tangannya menjauh dari kerumunan itu.

“Ya!” protes Kyurin sambil memberontak.

“Ini aku, Junho. Apa kau melupakanku?” lirih orang yang menarik Kyurin.

“Oppa? Untuk apa kau menarikku, uh?”

“Aku hanya ingin bertanya sesuatu.”

“Mworago?”

“Apa dancer baru di tim adik-adikmu itu pacarmu yang sekarang?” tanya Junho pelan.

Kyurin membuang wajahnya dan menggigit bibirnya sebelum ia menjawab, “Ye. Wae?”

“Chukkae.” Junho menghela nafas pelan.

“Kau juga. Mana istrimu?”

“Perjodohanku batal, Rin…”

“Mianhae…”

“Ani, gwencana. Aku malah bersyukur karena aku tak mau menyakiti orang itu,” ujar Junho pelan.

“Wae?”

“Karena perasaanku masih untukmu walaupun ini sudah satu tahun. Aku tahu kau sudah menjadi milik orang lain makanya aku takkan berusaha merebutmu. Aku hanya akan bilang, aku akan menerimamu saat kau sudah putus dengan pacarmu sekarang. Sebentar lagi musim panas selesai, kan?” jelas Junho.

Kyurin membasahi bibirnya, “Aku takkan putus darinya! Aku yakin itu. Kubur saja harapanmu dalam-dalam, oppa.”

“Ye, maja. Kami takkan berpisah apapun alasannya,” timpal Gikwang tiba-tiba.

“Kwang..” bingung Kyurin.

“Kkaja, Kyurin-ah. Kita pulang,” ajak Gikwang sambil menarik tangan Kyurin meninggalkan Junho.

Junho tersenyum tipis, “Untunglah.”

4 weeks later.

“Kyurin-ah~ jebal…” mohon Gikwang.

“Shireo, Kwang. Tugasku masih banyak. Memang tugasmu sudah selesai semua?” tolak Kyurin.

“Sudah. Kalau tugasmu belum selesai, menyontek saja padaku,” tawar Gikwang.

“Aku tahu kau pintar tapi aku masih ingin mengerjainya sendiri,” tolak Kyurin –lagi.

“Jebal~” rengek Gikwang.

“Selesai semuanya?” tanya Kyurin.

Gikwang tersenyum dan mengangguk, “Ye.”

“Aku mau!”

>>>

Kwangmin melemparkan semua suratnya dan Youngmin dari dalam laci ke kasur. Di kasur, ada Youngmin yang bersiap memilah surat mana yang sudah dibaca dan yang belum dibaca. Youngmin berhenti memilah saat ia melihat sebuah surat.

“Ini milik siapa?” bingung Youngmin.

Kwangmin menoleh, “Itu bukannya milik Kyurin dari … sial! Aku lupa memberikan itu pada Kyurin.”

“Sudah berapa lama surat ini tersimpan?” tanya Youngmin.

“Mungkin sekitar 1 tahun sampai 2 tahun. Molla. Aku tak ingat persis kapan orang itu menitipkannya padaku,” jawab Kwangmin santai sambil membuka laci lagi dan mengeluarkan tumpukan surat.

“Memang harusnya kita langsung membuka setiap surat yang kita terima,” gumam Youngmin.

“Setuju! Berikan saja surat itu saat Kyurin noona pulang nanti,” sahut Kwangmin tak peduli.

Kyurin and Gikwang’s side.

“Jadi kau memohon-mohon padaku sampai memperlihatkan tugasmu padaku agar tugasku cepat selesai hanya untuk membawaku ke sungai Han?” cibir Kyurin.

“Wae? Kau tak suka?” tanggap Gikwang.

“Hm.. aku menyukainya ditambah 2 hari lagi sudah musim gugur jadi cuacanya tak terlalu panas,” jawab Kyurin.

“Untunglah. Mau pulang?”

“Tapi kita baru aja sampai, Kwang!” keluh Kyurin.

“Belum semuanya kau salin. Besok hari senin, Kyurin-ah~” jelas Gikwang.

“Geure. Kkaja, kita pulang.” Kyurin bangkit dan menarik tangan Gikwang menuju motor Gikwang.

“Jamkan!” Gikwang menahan tangan Kyurin.

Kyurin berbalik badan dan mengernyit, “Wae?”

“Aku akan menjemputmu besok malam. Kau harus ada di rumah dan berdandan saat aku ada di rumahmu besok,” pinta Gikwang.

Kyurin mendesah, “Untuk apa?”

“Berjanjilah~”

“Ye, Yaksok!”

Kyurin’s home.

“Kyurin wesseo~” salam Kyurin.

“Kyurin-ah~ ada surat untukmu,” seru Youngmin sambil berlari menghampiri Kyurin dan menyerahkan selembar surat.

Kyurin mengernyit, “Kenapa sudah kusam?”

“Tersimpan di laci kumpulan surat penggemar kami selama satu sampai dua tahun,” jawab Kwangmin dari belakang Youngmin.

Kyurin mendengus, “Penggemar? Selamat bermimpilah.”

“Tapi penggemar kami memang banyak, Rin~”

Kyurin’s room.

Kyurin menarik kursi belajarnya dan duduk disana. Dia memperhatikan surat itu selama beberapa waktu sebelum membukanya.

Dear Kyurin-ah. 

Mungkin saat kau membaca surat ini, aku sudah ada di rumah sakit dalam masa pemulihan atau mungkin sudah meninggal. Aku tak tahu pastinya. Berdoalah agar aku tetap hidup. 

Aku minta maaf sebesar-besarnya. Aku tahu aku menyakitimu saat aku memutuskanmu. Terlebih sebelumnya aku sempat menciummu. Lebih dari itu, aku menghilang beberapa hari sebelum hari dimana kita putus. Aku tahu pasti itu menyakitimu. Aku pun sakit.

Bagaimana pun juga, aku tak mau membuatmu cemas. Kau sudah tahu tidak kalau jantungku lemah? Itu sebabnya aku menghilang beberapa hari. Aku dirumah sakit karena jantungku tiba-tiba bermasalah. Dokter bilang dia sudah mendapatkan donor jantung untukku. Aku senang sekali.

Saat sehari sebelum operasi, aku ingin bertemu denganmu dahulu. Kau tahu? Aku hampir saja ingin membatalkan operasi itu saat melihat senyummu saat kita bertemu lagi. Itu sebabnya aku ingin kau membenciku supaya jika aku mati, kau takkan sulit melupakanku. 

Jika operasi berhasil, datanglah ke Seoul Internasional Hospital. Atau kalau aku sudah pulang, datang lah ke rumahku. Ok? 

Surat ini hanya untuk menjelaskan semuanya. Tentu saja aku memberikan ini beberapa bulan sejak kita mengakhiri hubungan kita. Tepatnya saat kau sudah tak memiliki rasa lagi padaku –ku rasa. 

With love,
Gong Chansik

Air mata Kyurin menetes, “Bahkan hanya dengan kau membuatku mengingat hari itu saja, kau berhasil membuatku sakit kembali, Chan…”

Next day.

Kyurin memutuskan teleponnya. Bibirnya bergetar. “Beraninya kau…”

>>>

Kyurin berjalan perlahan memasuki kawasan pemakaman dengan Hp yang tak lepas dari telinganya. Ia sibuk mendengarkan arahan dari ummanya Gong Chan untuk menuju makam Gong Chan.

“Gomawo, ahjumma. Annyeonghaseyo.” Ia memutuskan hubungan telepon dan mulai berlutut.

Sepuket bunga yang ia genggam sedari tadi, ia letakkan di nisan makam itu. Dia membersihkan nisan dari debu dan tanah.

“Kyurin wesseo, Gong Chan-ah~” gumamnya sambil tersenyum sedih.

“Sudah berapa lama kau menungguku datang, huh? Salahkan Youngmin dan Kwangmin yang telah menyita suratmu selama satu sampai dua tahunan dariku,” lanjutnya.

“Bogoshipo. Banyak yang terjadi sejak kita berpisah,” lirih Kyurin.

>>>

Gikwang menginjak gas mobil appanya yang ia pinjam khusus untuk hari itu. Ia memukul stir dengan kesal.

“Kyurin babo! Babo! Babo!” gerutunya kesal.

“Babo!!” teriaknya geram.

HUA!! BRUAK!!

>>>

Hp Kyurin bordering.

“Jadi itu lah kehidupan yang ku jalani sekarang. Aku bodoh atau sudah gila karena membicarakan segala padamu? Huh! Namja babo itu sudah berhasil menularkan kegilaannya padaku,” gumam Kyurin tanpa menghiraukan Hpnya yang bordering. Hpnya terus bordering hingga akhirnya Kyurin mendesis dan mengangkatnya.

“Boe??”

Hospital.

Kyurin berlari menghampiri adik kembarnya dengan wajah basah oleh air mata. Kwangmin dan Youngmin segera memeluk kakak mereka itu.

“Eotteokhe rago?” tanya Kyurin.

“Masih di periksa. Sepertinya parah sekali,” jawab Kwangmin.

“Sangat parah. Sepertinya takkan selamat,” tambah Youngmin.

“Ya, babo! Jangan berbicara seperti itu! Kalian hanya membuat Kyurin semakin down!” omel Hyuri yang kebetulan sudah ada disana.

“Ye, maja. Lagipula jangan seenaknya mendiagnosa,” timpal Dongwoon.

“Hanya agar dramatisir saja,” gerutu Youngmin yang diangguki oleh Kwangmin. Kyurin mendesis melihat aksi kedua oppanya.

“Baboneun namja! Kenapa bisa kecelakaan sih?” gumam Kyurin kesal.

“Menabrak pohon lagi. Tak elite,” lanjut Youngmin dan Kwangmin. Kyurin segera melirik mereka kesal.

Akhirnya setelah beberapa jam menunggu, dokter keluar dari ruang gawat darurat.

“Eotteoyo, uisanim?” tanya semuanya.

“Siapa di antara kalian yang bernama Kyurin?”

Kyurin segera mengangkat tangan, “Joneun!”

“Silahkan masuk,” kata uisanim.

Kyurin mengangguk dan menurut. Di dalam, dia segera menghampiri kasur tempat Gikwang terbaring lemah dengan balutan di kepalanya. Namja itu sepertinya belum sadar.

“Babo!” geram Kyurin sambil memukul kasur Gikwang.

“Ya~ hati-hati. Bagaimana jika pukulanmu itu mengenaiku?” keluh Gikwang dengan mata tertutup.

“Itu lah yang aku inginkan karena kebodohanmu. Kau itu pintar namun bodoh sekali di beberapa hal,” balas Kyurin sambil tersenyum.

Gikwang mengintip diam-diam, “Senang aku terluka?”

“Buka matamu, bodoh!”

Gikwang segera membuka matanya dan tersenyum, “Jam berapa sekarang?”

Kyurin melirik jam tangannya, “12 malam kurang 3 menit. Wae?”

“Saranghae.”

“Mwo?”

“Masih ingat teman berbagi coklatmu saat kecil dulu?”

“Ye, itu kau. Maja?”

“Ne. Dari dulu sudah menyukaimu. Dan selama beberapa bulan ini, kau membuatku mencintaimu.”

Kyurin mengulum senyumnya, “Nado.”

“Jam berapa sekarang?”

“Jam 12 kurang.. 10… 9… 8… 7… 6… 5… 4… 3…”

Gikwang segera menarik wajah Kyurin dan mempertemukan bibir mereka.

“0,” bisiknya setelah itu.

“Kutukan terlepas~” lanjut Kyurin sambil memeluk Gikwang.

“Argh! Jangan terlalu erat. Tubuhku masih sakit karena kecelakaan tadi,” keluh Gikwang.

“Makanya jangan kecelakaan lagi,” balas Kyurin.

“Salah kau sendiri. Kan sudah ku bilang agar kau harus ada di rumah dan sudah bersiap saat aku datang. Kau malah pergi entah kenama.”

“Aku hanya melayat ke makam sahabatku,” ralat Kyurin. Yeah~ sahabatku.

“Jadi?”

“Mwoya?”

“Aku sangat menyukai musim panas. Aku bersyukur karena tuhan menciptakan musim panas,” Gikwang mengulang perkataan Kyurin saat mereka kecil dulu dengan nada dibuat-buat. Kyurin tergelak mendengarnya.

“Jadi aku tak mendapat cerita sedih di musim panas tahun ini, ya? Sayang sekali,” cibir Hyuri tiba-tiba dari belakang Kyurin. Dia belakangnya, para namja yang juga ingin menjenguk Gikwang berbaris di sana.

“Eobseo. Yang ada hanya cerita dengan happy ending,” balas Gikwang.

A few years later.

“Ya, Chae Yeon-ah!!” panggil Kyurin kesal.

“Oppa~~” seru Chae Yeon sambil melompat dan memeluk oppanya –Chi Hoon dari belakang. Chi Hoon hanya meringis –tak berani memarahi adik kecilnya.

“Pakai dulu gaunmu~ sebentar lagi pesta ulang tahun temanmu itu akan segera mulai. Oppamu saja sudah rapi,” perintah Kyurin.

“Hua! Shireo!!” tolak Chae Yeon sambil berlari mengitari kamarnya bermaksud untuk menjauhi Kyurin.

“Chae Yeon masih 3 tahun. Pantas saja dia seperti itu. Jangan terlalu seram lah~” kata Gikwang dari ambang pintu kamar.

“Appa!” seru Chae Yeon sambil menghampiri Gikwang. Gikwang tersenyum dan menggendong anak bungsunya itu.

“Tetap saja anakmu menyebalkan. Kenapa dia tidak bisa setenang Chi Hoon, huh?” sahut Kyurin kesal.

“Anak umma juga~” ralat Chae Yeon cepat.

“Wah! Hebat sekali dia sudah bisa membalas perkataanku,” keluh Kyurin sambil berkacak pinggang.

“Itulah hebatnya anakku,” bangga Gikwang sambil mengecup pipi Chae Yeon.

“Dan umma,” lanjut Chae Yeon. Kyurin mau tak mau ikut tersenyum juga karenanya.

“Umma~ sampai kapan aku harus memakai baju yang menyesakkan ini?” keluh Chi Hoon.

“Ternyata mereka memang tidak ada yang bisa memakai baju resmi, yeobo. Lagipula ini ‘musim panas’,” seru Gikwang sambil terkekeh sambil memainkan kata ‘musim panas’.

Kyurin memutar matanya jengah. “Siapa yang kau panggil yeobo?” cibir Kyurin sambil melepas tuxedo Chi Hoon dan hendak menggantinya dengan baju pesta yang biasanya.

“Siapa lagi kalau bukan istriku, Cho Kyurin yang sudah berganti marga menjadi Lee Kyurin?” sahut Gikwang sambil terkekeh.

=== Love in Summer===

Sang author(Chaeyeon as me) wajib eksis walaupun cuma di akhir cerita XDD#plak

Sekali lagi mian yang ga ngerti. Saya cuma buat semalam pas saya lagi-lagi terkena insomnia dan jadilah ff ini. Penting kalian wajib koment!

12 responses to “[Korean Fan Fiction] Love in Summer (OneShoot)

  1. Suka ini ff, manis~
    awalnya smpat mikir klu Gongchan itu playboy, tapi rupanya T.T…
    Jiahaha, Jotwins lumayn kompak😄
    baguss~

    • manis? serasa coklat :3 *plak* tapi keju jg ga papa kalo dikasih gula *bahasan melenceng
      gongchan playboy..? dia innocent sok gimana gitu sih cocok sih jadi playboy *gongchan : apadeh lu ==”*
      iya dong~ samchon saya pasti kompak :3 *hug jo twins xD

  2. Ahhh ceritanya seruu.. Meskipun gak ngeh (?) d awal tp lma2 ngeh (?) jg !!
    Stiap musim panas Kyurin patah hati ?? Jangan2 yg ngutuk gikwang yah !!
    Gara2 jo twins kyurin gak tau kalo Gongchan meninggal.. Huh dasar mreka.. Tp mreka kompak bnget pas jailin kyurin..
    Keren thor

    • mian ya awalnya payah -.-v aku emang paling payah nyari cerita awal dan akhir. cuma bisa tengahnya(?) doang -.-
      wah iya ya 0.0 kwang appa segitu cintanya sama kyurin umma sampe ngutuk kyurin umma kali ya? u.u *digetok kwang appa
      iya. jo twins hebat nih. sayang ga ngajak aku buat ngejailin kyurin umma *ngarep.com
      wah gomawo ^^ kirain maksa ceritanya

  3. Annyeong,,

    Wahh kisah cinta yg akhix bener2 indahh,,ĄƘųω sukaaa,,ffx menarikk,,,ternyata klo jodoh pasti akan bertemu ℓɑƍîï walaupun dulu sempat terpisahh selama beberapa taun,,,Ђέђέђέ«{^⌣^}»ђέђέђέ😀 ,, idex jg kreatif,,,

    Okeee ĄƘųω tunggu lg ўά karya2 author yg laen ўά gomawwoooo,,,^o^

    • annyeong ^^

      wah gomawo chinguya ^^ gikwang harus berjodoh dong sama kyurin. kalo ga jodoh, ga ada aku dong #maksa😄

      ne, karya author lain pasti jauh lebih baik dariku ^^

  4. Ahahaha jo twin lucu bet lol xD

    aku suda menduga kalo gikwang temen nya dimasa kecil, dan tebakan ku benar🙂

    daebak buat ff nya~
    keep writing~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s