[Korean Fan Fiction] Regret (Drabble)

Author : Lee Hyura

Title : Regret

Genre : romance, friendship, sad

Length : Drabble

Cast :

–          Author as Park Chanyoon

–          Reader as Kang Minhyun

–          DGNA Karam

===Regret===

“Chanyoon-ah~” teriak seseorang sambil menghampiri Chanyoon yang sedang asik menyendiri di taman belakang sekolah.

Chanyoon menoleh dan tersenyum tipis, “Hyunchul-ssi~ mwoyeyo?”

“Aish.. panggil aku Karam dan jangan memakai bahasa formal seperti itu. Kita sudah lebih dari 3 tahun selalu sekelas,” sungut Karam setelah duduk di samping Chanyoon.

“Ah, ok.. lalu ada urusan apa kau kesini?” Chanyoon kembali fokus ke bukunya sambil menunggu jawaban dari namja itu.

“Aku ingin ke sekolah Minhyun. Ku dengar kau sering kesana setiap akhir pekan,” ujar Karam pelan. “Boleh aku ikut denganmu?” lanjutnya.

Chanyoon menahan nafasnya. Setelah beberapa detik, dia menarik nafas dalam-dalam, “Tentu saja. Minhyun malah selalu menagih kedatanganmu. Katanya kau sering berjanji padanya untuk datang ke sekolahnya tapi kau tidak pernah datang ke sekolahnya.”

“Itu semua karena aku tidak tahu harus bagaimana saat sampai disana. Aku juga ragu untuk masuk ke sana. Itu bukan lingkunganku.”

“Ah, penakut~” cibir Chanyoon lalu terkekeh pelan –paksa.

“Bukan itu.. tapi aku malu karena helmku berwarna pink. Aish sial~ Injoon sih segala membawa helmku keluar kota dan menukarnya dengan helm itu. Aku malu~” bela Karam. Chanyoon langsung tergelak mendengarnya.

Chanyoon pov.

Aku menutup bukuku dan melepas kacamataku. Aku mengurut batang hidungku. Setelah itu aku menghempaskan diriku di kasur. Aku terkekeh pelan mengingat kejadian tadi siang. Hyunchul –atau yang meminta untuk dipanggil Karam adalah orang yang ku sukai. Kami selalu sekelas selama SMP. Tapi sejak SMA, kami tidak lagi sekelas. Dan sejak itu pula aku menjadi jauh darinya.

Itu menjadi alasan yang cukup kan kenapa aku begitu senang setelah mengobrol dengannya? Aku merindukan saat-saat kami becanda tawa dan lainnya seperti saat kami sekelas dulu. Tapi sekarang kami jadi jarang bertemu. Sekalinya bertemu ya seperti orang yang tidak saling kenal. Tapi saat aku mempunyai kesempatan untuk berbicara dengannya, seperti biasa topik obrolan kami hanyalah Minhyun, Minhyun dan Minhyun.

Minhyun adalah sahabatku yang sangat dekat dengannya. Walaupun beda sekolah, mereka tetap dekat dan sering berhubungan. Aneh bukan? Dengan Minhyun yang beda sekolah saja dia masih dekat tapi kenapa denganku yang masih satu sekolah, dia jauh?

“Michyeosseo,” runtukku sambil menghela nafas panjang.

Yap, walaupun obrolan kami akan melenceng jauh dari Minhyun, tapi ketika bahan obrolan kami selesai makanya topik pembicaraan akan kembali ke Minhyun. Minhyun, Minhyun, dan Minhyun. Kenapa harus dia yang selalu menjadi topik pembicaraan kami? Hah~

On Saturday.

Aku melirik jam tanganku. Dia –Karam belum juga datang. Maunya apa sih dia? Aish~

Sebuah motor berhenti di depanku. Pengendaranya memakai helm berwarna pink. Aku terkekeh pelan. Itu pasti Karam.

“Mianhae~ tadi Injoon baru saja kembali dari luar kota jadi aku dipaksa untuk menemaninya sebentar. Itu sebabnya aku terlambat,” jelasnya.

Aku tersenyum tipis, “Gwencana. Tapi… kenapa helmnya masih berwarna pink?”

“Dia tidak mau memberikan helmku! Kau tahu? Jika aku tidak ingat kalau aku sudah punya janji denganmu dan Minhyun, mungkin aku akan tetap di rumah untuk menyusun rencana membunuhnya!” kesalnya.

Aku terkekeh dan duduk di belakang. “Kkaja~”

>>>

Aku berjalan menuju rumah Minhyun setelah pulang dari sekolahnya. Karam pun sudah pulang dari sejam yang lalu. Sesekali aku menendang batu di jalanan yang ku lalui.

“Kau menyukainya kan?” suara Minhyun mengagetkanku.

“Nugu?” sahutku tak niat.

“Karam.” Aku langsung berhenti melangkah mendengarnya. Tubuhku kaku. Jujur aku shock mengetahui dia tahu perasaanku. Padahal aku tidak pernah bercerita apapun tentang perasaanku padanya.

“Tebakanku benar kan?” lanjutnya sambil menatap mataku dalam.

Aku kembali berjalan dengan santai untuk menutup semuanya, “Jinjja? Percaya sekali kau. Tapi jawabannya adalah salah.”

Dia mensejajarkan langkahku, “Tidak usah menutupinya. Semuanya jelas di mataku.”

Aku menarik nafas dalam-dalam dan memilih untuk diam. Aku melirik Minhyun sekilas. Terlihat ia sedang tersenyum bangga.

“Kenapa kau tersenyum?” tanyaku –sarkastis.

“Karena akhirnya aku bisa membaca isi hatimu,” jawabnya santai. Aku terkekeh sinis.

“Lebih baik kau bilang padanya tentang perasaanmu itu,” sarannya. Bagaimana bisa? Aku yakin dia menyukai Minhyun. Aku hanya akan di tertawakan olehnya.

“Ku yakin kau tidak akan menyesal. Sungguh!” yakinnya. Aku mendesis kesal.

A few years later.

Aku membuka emailku karena temanku sudah bilang kalau email berisi tugas-tugas kami sudah ia kirim. Aku tertegun melihat sebuah email di bawah email temanku. Itu dari Karam! Emailnya sudah dikirim sejak sebulan yang lalu. Pantas jika aku baru menyadarinya karena aku jarang sekali membuka emailku karena sibuk kuliah.

Sudah setahun aku tidak bertemu dengannya sejak ia memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Jepang. Aku segera membuka email darinya itu.

Annyeong, Chanyoon-ah~

Sudah lama kita tidak pernah berhubungan lagi. Rasanya aku merindukanmu. Aku ingin menghubungimu tapi aku bingung harus bicara apa padamu. Apa harus aku memakai topik pembicaraan tentang Minhyun lagi? Apa memang takdirku hanya bisa mengobrol denganmu jika di awali dengan topik tentang Minhyun?

Kau pernah tidak sadar kalau aku menyukaimu. Tapi sepertinya kau terlalu kaku saat bersamaku. Kau hanya bisa berbicara terbuka jika topik pembicaraan kita tentang Minhyun. Kau tahu? Yang ingin aku bicarakan bukanlah Minhyun tapi tentangmu.. hanya kamu.. tapi sepertinya aku hanya bisa berharap hal yang tidak mungkin terjadi. Karena nyatanya kau sepertinya tidak ingin berbicara denganku.

Email ini ku kirim hanya agar aku bisa lega. Setelah ini aku akan melupakanmu dan membuka hatiku untuk yeoja lain.
Gomawo.. terima maksih sudah mau mengisi hatiku selama ini.
Semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu dengan keadaan hatiku sudah bisa berpaling darimu.

Annyeong..

Air mataku mengalir jatuh. Hatiku benar-benar sesak! Rasa sesal benar-benar membuatku sesak. Kenapa aku berlaku seperti itu padanya dulu? Andai waktu bisa diputar, aku akan berbuat apapun asal ia bisa mengungkapkan kalau aku juga menyukai Karam.

Aku segera meraih hpku dan menekan beberapa digit angka. Terdengar suara telepon diangkat setelah nada tunggu beberapa saat.

“Minhyun-ah~ aku menyesal,” ucapku terisak.

“Aku tahu,” sahutnya.

“Kau tahu?”

“Karena aku tahu perasaan kalian berdua dari dulu,” jawabnya yang membuatku menahan nafasku.

===Regret===

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s