[Korea Fan Fiction] Our Padlocks – Thunder, Seungho MBLAQ

Author: ANGELAFT RACTA

genre: Angst, Romance

Cast: Thunder MBLAQ, Seungho MBLAQ

Disclaimer: The story is MINE! Please do not copy without my permission!

 

———————————————————————————————————-

(Author POV)

                “Jagi.. Jagiya..” Dedngan suara yang lembut, Thunder membangunkan kekasihnya, Yurin yang sedang tertidur di sebuah sofa. Ruangan tempat mereka berada berwarna putih, putih tanpa ada sesuatu lagi disana selain sofa yang sedang ditiduri Yurin.

                Yurin mengerang kecil, kemudian mengucek-ngucek matanya. “Thunder Oppa, itu kau?”

                “Ne, joyeyo (ya, ini aku).”

                “Thunder Oppa, bogoshippeosoyo (aku merindukanmu). Jeongmal bogosippeoso (benar-benar merindukanmu).”

                “Ne, nado (Ya, aku juga).”

                Thunder memeluk Yurin erat dan Yurin bergelut manja dalam tiap inchi pelukan Thunder. “Yurin-ah, saranghaeyo (aku mencintaimu). Dan aku akan selalu mencintaimu.”

                “Tak perlu kau katakanpun aku sudah tau, Oppa.”

                “Tapi kali ini harus kukatakan.”

                Mata Yurin membelak. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan kekasihnya. Dilepaskannya pelukan Thunder kemudian ditatapnya mata kekasihnya itu tajam. “Waeyo? (kenapa)”

                Sebuah kecupan mendarat di bibir Yurin. Thunder menciumnya dalam dan cukup lama seakan-akan itu adalah ciuman terakhir mereka. Mendadak Yurin meneteskan airmatanya, merasakan hawa perpisahan didalam ciuman mereka. Yurin memegang baju Thunder erat.

                “Gajima. (jangan pergi).”

                “Aku harus, Yurin-ah. Waktuku sudah habis.”

                “Gajima..” Yurin mulai menangis meskipun dia belum sepenuhnya mengerti apa yang sedang terjadi.

                “Jagiya.. uljima.. jebal.. (sayangku, kumohon jangan menangis).”

                “Gajima..”

                “Jagiya.. aku mengerti kalau kau tak mau melepaskanku. Tapi aku harus, waktuku sudah habis..”

                “Gajima! Aku belum siap untuk kau tinggal pergi.. hikss.. hikkss..”

                Thunder menarik napas panjang kemudian membuangnya. Kembali dipeluknya Yurin dan Thunder mengelus rambut Yurin penuh kasih sayang. “Aku tahu Jagi (sayang). Aku tahu kau belum siap. Kau harus menyiapkan dirimu karena aku akan pergi. Begini saja, kau ingat gembok yang kita pasang di namsan tower dua tahun yang lalu?”

                Yurin mengangguk.

                “Bagus! Begini saja, jika kau sudah siap untuk melepaskanku, maka kau harus melepaskan gembok itu sebagai tanda kau sudah siap.”

                “Andwae! (tidak!) Aku tidak mau melepaskannya.”

                “Yurin-ah.. kau harus.. cepat atau lambat aku akan segera pergi.. Kumohon mengertilah, Yurin-ah… Saranghaeyo..”

+++++

 

(Author POV)

“Yurin, kau sudah bangun?” Kali ini Yurin tersadar dari tidurnya setelah dia tertidur untuk beberapa saat. Yurin tertidur saat dia terlalu lelah menangis. Menangisi Thunder. Beberapa jam yang lalu Yurin mendapat kabar bahwa Thunder kecelakaan dan jatuh koma di rumah sakit.

Tanpa pikir panjang, Yurin langsung pergi ke rumah sakit. Dia shock menemukan tubuh Thunder di ruang ICU. Kaku, pucat, dan tak bergerak. Hanya ada Seungho, sahabat Thunder di sampingnya yang terus menenangkannya hingga dia tertidur.

“Ini,kau pasti lapar.” Seungho menawarkan sebuah roti pada Yurin yang kemudian tidak Yurin hiraukan. Yurin justru bangkit dari tempat duduknya, berlari keluar, dan menyetop taksi.

“Yurin!  Kau mau kemana?! Yurin!”

+++++

 

(Seungho POV)

Aku menemani Yurin ke Namsan Tower. Aku tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba berlari keluar dari rumah sakit, menyetop taksi, dan pergi kesini. Begitu dia berlari, aku langsung mengikutinya dan dia sama sekali tidak keberatan (atau mungkin dia keberatan tapi sama sekali tdak membahasnya) dengan aku yang terus mengikutinya. Sesampainya di Namsan, Yurin hanya diam, terpaku melihat ribuan gembok yang terkunci dan saling mengait di pagar Namsan Tower.

“Dua tahun yang lalu, aku dan Thunder Oppa memasang gembok disini.”

Aku tidak berkomentar. Kurasa Yurin bukan ingin dikomentari, dia hanya ingin didengarkan. Kemudian dengan tergesa-gesa dia melangkah kearah riabuan gembok itu dan memeriksa setiap pasangnya satu-persatu. “Yurin, apa yang kau lakukan?”

“Aku harus mencari gembok itu. Aku harus menemukan gembok milikku dan milik Thunder Oppa.”

Mungkin bila orang lian mendengar kata-kata Yurin, mereka pasti menganggap Yurin gila. Bagaimana bisa menemukan gembok yang dikaitkan dua tahun lalu diantara ribuan gembok ini? Meskipun begitu, sepertiya aku cukup gila untuk ikut membantu Yurin mencari gembok mereka.

Tenang Yurin, kalau kau memang ingin menemukannya, aku pasti akan menemukannya… untukmu…

+++++

 

(Author POV)

Siapapun yang melihat Yurin sekarang pasti tak kuasa menahan air matanya. Yurin sedang meratapi tubuh Thunder yang masih tak bergerak. Hanya dadanya yang naik-turun yang menandakan dia masih hidup.

“Oppa, kau harus kuat. Tak bisakah kau kembali, Oppa? Kami semua menunggumu”

Mesin pendeteksi detak jantung Thunder menampilkan garis-garis lurus yang bergerak naik-turun tak beraturan.

“Saranghae, Oppa.. (Aku mencintaimu, Oppa)”

Jantung Thunder yang berdebar semakin cepat semakin terdeteksi oleh monitor di sebelahnya. Seakan-akan dengan debaran itu Thunder mengatakan, “Nado, saranghae (Aku juga mencintaimu).”

“Yurin-ah..” Sandara. Noona (kakak perempuan) Thunder menenangkan Yurin dengan memegang kedua pundaknya. Tetapi kemudian Yurin berbalik untuk memeluk Sandara sehingga mereka berdua berpelukan dan saling menangis bersama, menangisi orang yang sama-sama mereka cintai.

Sementara itu hujan lebat tak menghalangi Seungho untuk memeriksa ribuan gembok di Namsan Tower.

“Jika Yurin ingin menemukannya, maka aku HARUS menemukannya. Aku akan menemukan gembok Thunder, sahabatku dan gembok Yurin, kekasihnya.”

+++++

 

(Author POV)

                “Thunder??!! Thunder??!! DOKTER!!!!!” Sandara mengguncang tubuh dongsaeng (adik)-nya panik. Napas Thunder terlihat terengah-engah dan detak jantungnya-pun terputus-putus.

Beberapa dokter masuk ke ruangan Thunder dan dengan cekatan melakukan pertolongan. Tak jauh darisana, Yurin sedang terlelap karena tubuhnya terlalu lelah menunggu Thunder siang dan malam. Kelopak matanya tertutup, namun keningnya berkerut. Bola mata Yurin juga bergerak teratur ke kiri dan ke kanan dibawah kelopak matanya. Yurin sedang bermimpi..

+++++

 

(Yurin POV)

                Kenapa? Kenapa lagi-lagi aku berada di ruang hampa yang serba putih ini? Apa aku akan bertemu dengan Thunder Oppa lagi?

                “Thunder Oppa!!”

               “Arrggghh…” Itu! Itu suara Thunder Oppa! Aku menemukan Oppa! Dia terbaring sambil menekan-nekan dadanya. “Yurin-ah.. sakit…”

                “Bertahanlah, kau harus bertahan Oppa.”

                Thunder Oppa menggeleng. “Miyanhae, aku tidak bisa. Ini sangat sakit Yurin. Aku harus pergi, hanya itu jalan agar aku tidak merasakan sakit lagi.”

                “Tidak! Oppa, kau tidak boleh pergi!” Aku menahan tangan Thunder Oppa sekuat mungkin agar dia tidak pergi. Tidak! Dia tidak boleh pergi ke tempat yang aku tidak bisa menyusulnya.

                “Yurin-ah, kumohon, jangan tahan aku lagi..”

++++++

 

(Yurin POV)

Zaaapp.. aku terbangun dari mimpiku. Kupegang wajahku dan… aku masih merasakan air mataku mengalir disana. Entah sejak kapan Sandara eonni (kakak perempuan)  duduk di sebelahku dan menangis.

“Saat kau tidur tadi, Thunder sempat kritis. Tapi dokter masih bisa menyelamatkannya. Sekarang Thunder sudah tenang kembali.”

“Lalu kenapa eonni menangis?”

Sandara eonni menatap mataku dan membelai rambutku penuh kasih sayang seakan-akan aku adalah adik perempuan kandungnya.

“Kata dokter, Thunder sekarang sangat kesakitan..” Tidak eonni, tidak! Aku tidak mau mendengarnya. “Yurin-ah, bukankah kau sebaiknya melepaskan Thunder?”

“Eonni, apa kau sudah siap untuk melepas Thunder Oppa?” Yurin malah balik bertanya.

Sandara malah tersenyum dengan mata penuh air mata. “Aku? Meskipun berat untukku, daripada melihatnya kesakitan di dunia ini lebih baik aku melepasnya pergi. Bukankah itu lebih bisa dikatakan cinta?”

Beeepp… Beepp.. HP Yurin berbunyi. Seungho-ssi calling begitulah yang tertulis di layar HP-nya. “Yeoboseyo? (halo?)”

“Yurin! Aku menemukan apa yang kau cari!”

+++++

 

(Seungho POV)

                Sejak kemarin hujan sama sekali tidak berhenti. Sekarangpun hujan tetap mengguyur, membasahiku dan Yurin yang tidak mengenakan payung ataupun jas hujan untuk melindungi tubuh kami. Meskipun hujan, Yurin tetap menyusulku ke namsan tower saat aku mengatakan kalau aku sudah menemukan apa yang dia cari. Ya, aku menemukan gemboknya dan gembok Thunder yang mereka kaitkan dua tahun yang lalu.

                Sekarang aku sudah tau alasan kenapa Yurin bersikeras untuk menemukan gembok ini. Yurin sudah menceritakan semuanya padaku. Yurin bimbang sekarang, aku mengerti. Bimbang antara melepaskan gembok itu (yang berarti dia sudah merelakan Thunder pergi), atau membiarkannya menggantung dan menahan Thunder lebih lama lagi. Aku berdiri di belakang Yurin yang sekarang sedang terpaku menatap dua gembok yang saling terkait bertuliskan namanya, dan nama Thunder.

“Sekarang terserah padamu, Yurin.” Aku berdiri sambil menatap tubuh mungil Yurin dari belakangnya.

“Seungho-ssi.” Tatapan Yurin tetap terpaku pada kedua gembok itu tetapi mulutnya mengatakan kalau dia berbicara padaku. “Kalau aku melepaskan gembok ini, maka Thunder Oppa akan meninggalkanku.”

Kugenggam pundaknya dari belakang yang daritadi terus bergetar. “Keputusan ada ditanganmu, Yurin.”

Tangan Yurin perlahan menuju kearah kedua gembok itu. Isak tangis terus terdengar dari Yurin meskipun dia berusaha menahannya. “Kau tahu, Seungho-ssi. Kami menggunakan tanggal lahirku untuk gembok Thunder, dan tanggal lahir Thunder untuk gembokku.”

Hanya satu hentakan lagi sebelum Yurin menggeser tombol dibawah gembok dan kemudian gembok itu akan terbuka seluruhnya dari pagar namsan tower. “Seungho-ssi, bolehkah aku meminta satu permintaan?”

“Ya?”

“Peluk aku.”

Apapun yang kau minta Yurin-ah. Maka aku langsung memeluk Yurin.  Aku bisa merasakan air matanya yang terus mengalir di pundakku. Kurasa aku tahu kenapa dia memintaku untuk memeluknya. Karena tubuhnya bergetar hebat. Aku ragu kalau dia bisa berdiri sendiri jika aku melepaskan pelukanku.

“Oppa!”

Oppa? Yurin memanggilku Oppa? “N… Ne?”

“Aku akan melepas gemboknya sekarang.”

CKLEK! Padahal saat itu sedang hujan lebat sehingga menimbulkan suara bising, tetapi suara gembok yang terbuka itu terdengar lebih nyaring di telingaku.

Buuukkk!!!! Tubuh Yurin rubuh. Aku tak kuasa menahannya. Yurin pingsan…

Beepp… Beepp.. Bepp… Itu bunyi HP Yurin. Segera kurogoh tas Yurin meskipun Yurin masih pingsan dan menemukan Sandara, kakak Thunder yang menelepon..

Yeoboseyo?”

+++++

 

(Author POV)

                Lagi-lagi Thunder dan Yurin dipertemukan di ruangan yang serba putih. Mereka berdua berpelukan. Berpelukan untuk terakhir kalinya. Yurin menangis terisak-isak sementara Thunder tersenyum menatap kekasihnya.

                “Gomawoyo (terimakasih) Yurin-ah.”

                “Oppa! Aku akan merindukanmu.”

                “Nado (aku juga).” Thunder melepaskan pelukannya tetapi dia tetap memegang erat tubuh Yurin. “Tetapi aku bisa tenang sekarang. Aku tahu akan ada seseorang yang akan menjagamu.”

                “Nuguya? (siapa).”

                Thunder tersenyum penuh arti. “Kau akan tahu nanti. Saat inipun dia sedang mengkhawatirkanmu.”

                Mendadak Yurin teringat kalau dia saat ini sedang pingsan meninggalkan tubuhnya yang sedang tidak berdaya dengan Seungho. Didalam pikirannya, dia sadar kalau Seungho pasti sedang mengkhawatirkannya.

                “Kalke.. (aku pergi).” Kata Thunder sambil melambay kearah Yurin. Makin lama tubuh Thunder semakin menjauh. “Jaga dirimu baik-baik.”

                “Kau juga Oppa. Sampai bertemu suatu saat nanti. Tto manayo.” Yurin berusaha sekuat tenaga untuk tersenyum untuk mengantarkan kepergian Thunder meskipun air matanya tidak mau berhenti. (catatan penulis: ‘tto manayo’ diucapkan untuk berpisah dalam waktu yang cukup lama, atau tidak diketahui kapan akan bertemu lagi).

                “Ne, tto manayo.”

+++++

 

(Author POV)

Yeoboseyo?” Seungho mengangkat HP Yurin meskipun panggilan itu bukan ditujukan untuknya. Tentunya setelah dia mengangkat tubuh Yurin yang masih pingsan ke tempat yang lebih baik.

“Seungho? Dimana Yurin?” Di sebrang sana, terdengar suara Sandara sedang menangis.

“Yurin?” Seungho menatap tubuh Yurin yang masih pingsan. Dibelainya wajah Yurin dengan lembut meskipun hal itu sama sekali tidak menghilangkan kekhawatirannya terhadap Yurin, kekasih sahabatnya yang juga satu-satunya wanita yang dia cintai. “Yurin pingsan, tubuhnya kedinginan. Ada apa, noona?”

“Thunder….” Suara Sandara terdengar semakin sulit karena dia terus terisak. “Dia sudah tiada..”

Entah kenapa Seungho sama sekali tidak terkjut mendengar berita itu. “Aku sudah tau, noona.”

Sekali lagi Seungho memperhatikan wajah Yurin. Air mata mengalir di sudut mata Yurin meskipun bibirnya tersenyum. Dengan lembut, Seungho menghapus air mata itu. “Kau sedang mengantarnya pergi bukan, Yurin-ah?”

Tanpa Yurin menjawab, Seungho sudah tau kalau jawaban dari pertanyaannya barusan adalah ‘ya.’

Yurin, izinkan aku menggantikan Thunder untuk menjagamu.

+++++

(TAMAT)

              

 

12 responses to “[Korea Fan Fiction] Our Padlocks – Thunder, Seungho MBLAQ

  1. Authooor ffnya kereeeen! ;____;
    Aku bukan penggemar angst sih tapi suka ff ini! Aaah Yurin sama Thunder punya hubungan yang deket banget ya,sampe tetep bisa ketemu walaupun koma ;~; semoga Yurin bisa bahagia sama Seungho deh. Buat sequel thor, Seungho-Yurin yaah! ^▽^

  2. Ff nya sumpah bikin aku nangis,
    thunnderrrr ;_;
    emang sih buat ngelepasin seseorang itu susah~~

    daebak daebak !!

    Keep writing~

  3. . Annyeong onnie..!!
    , sesuaii janjiiku di wattpad, akku bkalan ngobrak ngabrik blog mu… Hehe_
    ,ech, msih ngetz dhe khandtz ?? *PD stadium 4

    , akku tt’hru niie bca ff.aa … Pha giie pas thunder.aa ksaktan … Aku amppe nangis tau’ ..
    , akh pkoe.aa D.A.E.B.A.K oniie !!!

  4. Anyeong thor aku raeders baru *bow
    Ffnya keren aku gak bisa ngebayangin kalo jadi yurin buat ngelepasin thunder oppa pasti sangat sakit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s