[Korea Fan Fiction] SHINee-ing as Bright as the SKY – Chapter 17

Author: ANGELAFT RACTA

Genre: Romance-Friendship

Casts: SHINee, Sora (OC), super junior,  SMTOWN, etc

Buat yang baru nangkring di blog ini, chapter 1-nya bisa di cek disini atau klik disini untuk melihat index untuk memilih chapter yang akan dibaca

————————————————————————————————————————————–

(Onew POV)

Sakit.. Sakit sekali rasanya melihat dongsaengku mencium Sora. Tapi aku tidak punya hak untuk melarang mereka. Tidak ada yang bisa kulakukan selain melarikan diri. Aku pergi dari dorm untuk mendapatkan waktuku sendiri. Aku butuh waktu untuk ‘mewaraskan’ pikiranku.

Aku pergi naik kereta menuju rumah kedua orang tuaku. Mungkin dengan melihat senyuman mereka pikiranku bisa kembali waras. Ah, kenapa harus Sora? Seperti tidak ada wanita cantik lain yang bisa memikatku. Kenapa harus Sora yang sama sekali tidak jelas jenis kelaminnya itu? Hey, mencintai Sora berarti aku harus siap menjadi seorang gay!

Kereta berhenti di stasiun tujuanku. Setelah memastikan penyamaranku semurna (menggunakan masker anti debu), aku turun perlahan. Tidak ada orang yang mengenaliku. Sempurna! Aku memang merindukan masa-masa dimana tidak ada seorangpun yang mengenaliku. Lagipula di musim dingin seperti ini adalah sesuatu yang wajar mengenakan jaket yang cukup tebal dan juga penutup telinga. Aku yakin sebagian besar wajahku tidak terlihat.

Perjalanan dari stasiun menuju ke rumah orang tuaku kulakukan dengan berjalan kaki. Tidak terlalu jauh, tetapi terasa sangat jauh kalau kau berjalan sendiri. Pikiranmu akan selalu saja berada ditempat lain. Berada ditempat yang benar-benar kau inginkan. Berada di samping Sora.

Sudah tak jauh lagi dari rumahku. Tinggal melalui sebuah jalan lagi. Tetapi sepertinya ada seseorang yang mengenaliku disana, cewek. Dia memakai kacamata hitam yang sangat besar sehingga sebagian besar wajahnya tertutup. Kaki dan tubuhnya mungil sekali. Aku berusaha menghiraukannya tetapi dia malah mengikutiku dari belakang.

Aku berbalik menghadap kearah cewek yang mengikutiku. Cewek itu berhenti. Berarti benar bukan kalau dia mengikutiku. “Siapa kau?”

“Onew oppa?” Suaranya tidak asing lagi. Dia membuka sedikit kacamata hitamnya. “Ini aku, Krystal.”

“Krystal? Ada apa?”

Aku melanjutkan perjalanankan tetapi kali ini aku tidak sendiri, ada Krystal yang berjalan mengikutiku. “Aku tahu kau pasti disini. Kau tidak pulang dari kemarin. Mereka semua mengkhawatirkanmu.”

“Mereka? SHINee? Mereka atau kau yang mengkhawatirkanku?” Aku sedikit menggoda Krystal.

Perkiraanku tepat muka Krystal memerah, “Iya oppa. Aku juga mengkhawatirkanmu”

Kami berdua tertawa menikmati jalanan yang putih tertutup salju. Musim dingin sudah memasuki puncaknya. “Apa yang kau lakukan disana? Kenapa tidak langsung saja menuju rumahku? Bukankah kau sudah kenal dengan kedua orangtuaku?”

“Menunggumu.” Jawabnya singkat. Sesaat aku menjadi deja vu saat Sora berdiri didepan pintu dorm untuk menungguku. “Aku yakin kau pasti akan melewati jalan ini meskipun entah pagi ini atau sore nanti. Oh ya, kau sudah tau kalau Sora sudah keluar dari dorm SHINee. Dia sudah memiliki dorm sendiri.”

Aku diam saja. Kenapa Krystal menyebut nama itu lagi? Tujuan utamaku kesini adalah melupakan dia untuk sementara dan menenangkan pikiranku. Setidaknya untuk saat ini lebih baik bersama Krystal daripada mendengar seseorang menyebut nama Sora. Setidaknya dengan bersama Krystal aku terlihat layaknya namja normal yang berjalan dengan yeoja.

Akhirnya sampai juga di rumahku. Ah, senyuman umma dan appa pasti bisa meringankan bebanku. Masakan umma, suara batuknya appa. Umma, appa, aku datang!

“Ayo Krystal!” Aku menarik tangannya yang ternyata dingin sekali. Ya ampun, sudah berapa lama dia menungguku tadi? Aku menekan bel pintu rumah bermaksud mengejutkan umma pada saat membuka pintu. Tetapi tidak ada yang membuka pintunya.

“Pasti ahjuma (bibi) sedang sibuk sekarang. Lihat, ada banyak sepatu dan sandal disini. Pasti didalam sedang ramai.”

Barulah aku memperhatikan keadaan sekitar. Ada banyak sekali alas kaki diluar. Oh baiklah, mungkin Krystal benar. Jadi aku langsung saja membuka pintunya.

Benar, banyak sekali orang-orang didalam rumahku. Semuanya memakai pakaian resmi. Dan kebanyakan memakai baju warna hitam. Ada isak tangis dan para perempuannya memakai tisue untuk menghapus air matanya.

“Jinki…” Umma mendekatiku dan memanggil nama asliku. Matanya sembab seperti sudah menangis tujuh hari tujuh malam. Tangan umma bergetar saat menyentuh tanganku. Umma mencium pipiku dan aku merasakan air mataku disana. “Sampaikan salam terakhirmu pada appa.”

Disanalah aku melihat appa dalam pakaian putih dan dikelilingi mawar putih terbujur kaku didalam peti mati, “ANDWEEEEEE!!!!!!!!!!!!!!!!!!” (TIDAAAAAKKKK!!!!!!)

**********

(Taemin POV)

Ha! Ternyata tanganku yang kecil ini cukup kuat. Oh ya, aku dan semua member SHINee sedang membantu Sora-noona ‘pindahan’. Ternyata dorm baru Sora noona cuma beda SATU PINTU dengan dorm kami. Masih disebelah. Aku, Jonghyun hyung, dan Key hyung sedang membantu mengangkat kasur Sora noona untuk diletakkan di kamarnya. Minho hyung tidak ikut karena (lagi-lagi) dia shooting.

iPhone-ku berdering. He? Krystal? Untuk apa dia menghubungiku? Memang sih kemarin dia sudah mampir ke dorm kami dan menanyakan Onew hyung, tapi sayang sekali sampai sekarang Onew hyung bahkan belum memberi kabar mengenai keberadaan dia. Mungkin Krystal ingin bertanya kalau-kalau kami sudah dapat kabar dari Onew hyung.

Yeobbosehoyyo?”

“Oppa!” Suara Krystal terdengar panik. “Kalian semua cepat ke rumah Onew oppa!”

“Tunggu Krystal, memangnya apa yang terjadi?”

Tak ada jawaban untuk sesaat, hanya ada suara desahan nafas. Barulah kemudian terdengar desahan panjang dan erdengar pula suara Krystal. “Ahjussi Appa-nya Onew oppa meninggal dunia!”

Mwo?!”

***********

(Minho POV)

Rumah Onew hyung ramai dengan orang-orang yang berpakaian hitam. Kontras sekali dengan sosok yang terbujur kaku di peti mati yang memakai pakaian putih. Beberapa wartawan juga ada disini sibuk dengan kamera mereka tanpa mempedulikan kami-kami yang bersedih. Blitz kamera menyilaukan itu tepat menyorot kearah kami.

Aku langsung meminta izin pada sutradara begitu aku menerima telepon Taemin yang mengabarkan berita duka ini. Segera pulang ke dorm dan berangkat ke rumah Onew hyung bersama member SHINee dan beberapa member super junior. Sora akan menyusul secepatnya karena dia sedang berada di kantor kedutaan negaranya.

“Hyung..” Aku menepuk pundak Onew hyung. Onew hyung masih menangis ditemani Krystal disebelahnya. “Turut berduka cita hyung.”

“Gomawo saeng (singkatan dari dongsaeng, adik).”

“Onew!” Donghae hyung dari super junior memeluk Onew. Donghae hyung juga ikut menangis bersama Onew hyung. Ah, pasti Donghae hyung mengerti sekali perasaan Onew hyung berhubung Appa Donghae hyung sudah meninggalkan dunia fana ini lebih dahulu. “GwenchanaGwenchana (tidak apa-apa). Kami disini Onew.”

Selagi anggota super junior menyalami Onew hyung satu-persatu, aku menarik Krystal dari sana untuk mengorek apa yang sebenarnya terjadi.

“Bagaimana kau bisa ada disini?”

Krystal awalnya tampak ragu-ragu menjawab namun akhirnya dia mengaku juga. “Kudengar Onew hyung tidak pulang ke dorm. Aku sudah tau kalau dia pasti berada disini jadi aku menyusulnya.”

“Kenapa kau harus menyusulnya?”

“KARENA AKU MENCINTAI ONEW OPPA!” Mwo? Krystal memang tidak berteriak dan tidak membiarkan seorangpun mendengar perkataannya. Tapi tatapan matanya yang begitu tegas itu.. Bukan tatapan Krystal f(x) yang kukenal. “Untuk apa mempedulikan alasan aku kesini atau kenapa aku harus menyusulnya. Tidakkah kau lihat oppa, semua orang disini sedang berduka atas kematian ahjussi.”

Krystal benar. Tidak seharusnya aku menanyakan hal yang tidak penting itu sekalipun aku kaget mendengar jawaban Krystal. “Miyan (maaf). Lalu apa yang terjadi setelah itu?”

“Aku tidak begitu mengerti Oppa, tau-tau begitu sampai kesini rumah ini sudah penuh dengan orang-orang berpakaian hitam. Ahjumma Ummanya Onew oppa langsung menghampiri oppa lalu menyuruh Onew oppa menyampaikan salam terakhirnya pada ahjussi. Ah Minho oppa, andaikan kau melihat reaksi pertama Onew oppa begitu melihat ahjussi berada di peti mati. Aku.. Aku..” Krystal berhenti berbicara dan setitik demi setitik air mengalir dari matanya. Aku tidak membawa sapu tangan ataupun memiliki persediaan tisu. Jadi tak ada yang bisa dilakukan selain melihat wajah Krystal yang dialiri air mata itu. “Miyanhae oppa, tetapi aku tidak tega melihat Onew oppa seperti itu.”

Krystal masih sesegukan dan tampak tidak peduli pada keberadaanku ataupun jeprat-jepret kamera wartawan yang trus saja berusaha mengambil wajah Krystal yang sedang menangis. Omo Krystal, betapa beruntungnya Onew hyung. Ada seseorang yang ikut menangis bersamanya disaat seperti ini.

Mataku berputar untuk mencari seseorang. Sora, apakah dia sudah sampai? Sepertinya sudah. Dia datang dengan pakaian hitam dan dengan scraft hitam yang menutupi lehernya.

Sebenarnya aku tidak enak meninggalkan Krystal yang sedang menangis. Tetapi kemudian Krystal sendiri yang menginginkan aku untuk meninggalkannya. Jadi aku bisa pergi menuju Sora yang tampaknya sedang kebingungan.

“Minho-ya!” Aish, aku sedikit kecewa. Aku sedikit berharap kalau dia akan memanggilku ‘oppa’. “Dimana Onew oppa?”

“Onew?” EH? Bukannya tadi Onew hyung ada didekat sini? Bukannya tadi dia sedang berbicara dengan member super junior? “Tadi dia ada di…..”

“Sudahlah, biar aku yang cari sendiri.”

Cari? Mau dicari kemana? Sora mengitari keramaian mencari Onew hyung sedangkan aku memperhatikannya dari jauh. Tiba-tiba kulihat dia melangkahkan kaki ke ruangan sepi didepan perapian. Ruangan yang bahkan tidak kusadari keberadaannya.

Tanpa sadar aku beranjak menuju ruangan yang Sora masuki. Tetapi aku tidak ikut masuk, aku hanya mengamati dari pintu ruangan yang sedikit terbuka.

**********

(Sora POV)

“Onew Oppa.” Panggilku pelan pada sosok yang sedang membelakangiku dan menghadap ke perapian. Sosok itu sama sekali tidak merespon. Tetap berdiri dengan tangan dimasukkan kedalam saku celana.

Keributan dan suasana berkabung diluar tidak kurasakan di ruangan ini. Ruangan yang sepi dan hangat karena perapian yang dinyalakan ini benar-benar ruangan yang cocok untuk menghindar dari banyaknya orang dan wartawan diluar. Aku mengerti kenapa Onew oppa memilih kemari untuk menyendiri.

Aku tahu oppa menyadari kehadiranku tetapi dia tetap tidak merespon. Karena itulah aku berjalan agar lebih dekat padanya hingga aku berdiri disampingnya.

“Oppa…” Dari samping terlihat sosoknya yang menatap perapian itu dengan mata yang menyedihkan. Matanya memang sudah berhenti mengeluarkan air mata, tetapi bagaimana dengan hatinya.

Sekali lagi aku mendekatinya dengan hati-hati, “Oppa, gwencanayo?” (Oppa, apa kau baik-baik saja?)

Cih, pertanyaan bodoh, jelas saja dia tidak sedang dalam kondisi baik-baik saja, untuk apa lagi kutanyakan. Lihat! Lihatlah! Karena pertanyaanmu yang bodoh itu dua sungai kecil kembali mengalir dari mata Onew oppa yang biasanya berkilau.

Miyanhae Sora.” Omo, untuk apa kau meminta maaf Oppa? “Aku… Sebagai namja bukankah aku lemah sekali? Aku tidak bisa menghentikan kesedihanku. Aku benar-benar menyayangi Appa. Appa yang selalu menyemangatiku, percaya padaku. Kau tahu, bahkan aku bisa seperti ini karena Appa yang dulu memasukkanku ke SM Academy. Appa selalu ada untukku tetapi lihat diriku, pada saat kematiannya saja aku tidak berada di sampingnya. Appa pasti sangat kecewa padaku bukan?”

“Tidak Oppa, ahjussi pasti bangga sekali pada Oppa. Oppa sudah menjadi sosok yang ahjussi harapkan. Ahjussi tau kau bisa hidup dengan baik meskipun tanpa dirinya. Tuhan tau bahwa tugas ahjussi sudah selesai, karena itu Tuhan memanggilnya.”

“ANDWE! (TIDAK!)” Aku mengernyit kaget melihat Oppa yang tiba-tiba berteriak. “Kalau begitu lebih baik aku tidak seperti sekarang. Lebih baik aku tetap menjadi Onew yang payah, yang tidak bisa diandalkan agar Appa tau kalau aku benar-benar membutuhkannya untuk melanjutkan hidupku. Agar Tuhan tidak memanggilnya karena aku masih membutuhkan Appa.”

Oppa, apa sesakit itu rasanya ditinggalkan Appa-mu? Bagaimana perasaanmu sekarang? Kenapa kau meninggalkan dorm? Apa kau merasa kecewa, sakit hati, atau hancur saat kau meninggalkan dorm? Aku tidak tahu alasan apa yang membuatmu meninggalkan dorm tetapi aku yakin apapun alasannya pasti sesuatu yang membuat hatimu hancur sehingga kau memilih meninggalkan kami. Lalu seberapa hancur hatimu saat dengan hati yang masih hancur kau menemukan Appa-mu dalam peti mati yang semakin menambah parah kerusakan hatimu?

Oppa, banyak sekali yang ingin aku tanyakan sebenernya. Tetapi melihat keadaanmu yang seperti ini, aku jadi tidak tega. Sakitkah? Ah, aku sama sekali tidak ingat saat pertama mengetahui kedua orangtuaku sudah tiada. Andai aku tidak kehilangan ingatanku saat itu, bisakah aku memahami perasaan yang kau rasakan sekarang, Oppa?

Tiba-tiba Oppa memelukku. Diri Oppa yang sedang lemah seakan-akan meminta bantuanku untuk menjadi tumpuan hidupnya saat ini. “Miyanhae Sora. Jeongmal miyanhae, aku tidak sadar sudah membentakmu tadi.”

“Oppa~~”

Onew oppa mempererat pelukan tangannya dan membuat tubuhku semakin tertempel dengan tubuhny. Kepala oppa sendiri menandar di pundakku dan perlahan aku merasakan cairan yang dingin menyerap di baju bagian pundak. “Maaf Sora, tetapi bisakah kita tetap dalam posisi seperti ini untuk sementara waktu”

Aku tidak menjawab tetapi aku juga tidak menolak dan tidak bergerak menjauh dari Onew oppa. Kalau memang ini yang diinginkan Onew oppa aku bersedia.

Gomawo (terimakasih) Sora. Kau berada disini dan aku bersandar di pundakmu, pikiranku jadi sedikit lebih tenang. Aku jadi sedikit melupakan kesedihanku. Kau, seperti… langit yang menjanjikan ketenangan untukku.”

Aku tidak begitu mengerti maksud O

ppa jadi aku kembali dalam keheningan panjangku. Oppa, tenanglah. Kalau memang dengan kehadiranku pikiran oppa bisa menjadi tenang, maka aku akan hadir untukmu. Apapun, oppa….

“Sora….” Onew oppa medorong tubuhku menjauh dengan lembut sehingga aku hampir terasa seperti melayang. Kedua tangan oppa berada di bahuku. Air mata oppa sudah hampir kering dan sekarang mata itu menatapku lembut.

Sa… saranghae…” Setelah sebelumnya terpotong dengan sebuha isakan, akhirnya oppa berhasil mengatakannya. Apa? Tadi apa yang dia bilang? Saranghae?

Onew oppa sepertinya masih memegang kendali atas tubuhku. Entah sihir apa yang Onew oppa gunakan sehingga AKU mendekatkan KEPALAKU ke kepala Onew oppa. Dan aku harus sedikit berjinjit agar kepala kami berdua sejajar. Perlahan, aku mendekati bibir Onew oppa yang basah karena airmata.

Tepat disaat bibirku dan bibir Onew oppa bersentuhan, Oppa merengkuh kepalaku lebih dalam lagi. Ciuman yang menyedihkan. Air mata oppa terus mengalir dan membasahi wajah kami berdua. Sebenarnya saat itu aku sudah kehabisan napas, tetapi Oppa sama sekali tidak membiarkan bibirku melepas bibirnya bahkan hanya untuk mengambil napas.

Tak apa oppa. Lepaskan semua kesedihanmu sekarang. Lampiaskan semuanya..

*********

(Minho POV)

Disitulah kulihat Sora dan hyung-ku. Mereka berciuman melepaskan kesedihan mereka. Ciuman yang bahkan mungkin lebih dalam dibandingkan dengan ciumanku dengannya. Sora, kenapa kau biarkan bibirmu MENCIUM bibir lain selain BIBIRKU?

Aku tahu persis bagaimana rasanya mencium yeoja yang sama sekali tidak memiliki perasaan apapun. Aku bahkan sudah melakukannya dengan banyak yeoja didalam dramaku. Aku sudah banyak melakukan ciuman yang hambar sehingga aku sudah bisa membedakan mana ciuman yang hambar dan yang manis itu. Aku yakin ciumanku dengan Sora tempo hari bukanlah ciuman yang hambar. Sora tidak menolaknya dan aku yakin dia juga menaruh perasaan disana.

Sekarang, melihat ciuman Sora dengan Onew hyung, aku jadi ingin bertanya. Sora, perasaan apakah yang taruh dalam ciuman kita tempo hari? Lalu kenapa kalian berdua bisa berciuman dengan mudah? Apa Onew hyung sama tahunya denganku kalau kau sebenarnya adalah yeoja? Benar kau sudah tahu, hyung?

Aku hanya terpaku melihat Sora dan Onew hyung sampai-sampai aku tidak sadar kalau ada yeoja yang sejak tadi berdiri di sebelahku. Krystal? Aku baru saja menyadari keberadaannya setelah dia pergi darisana dengan isak tangis yang terdengar pedih dan air mata kesedihan yangtadi dia kucurkan untuk Onew oppa yang kehilangan appa-nya kini berganti dengan air mata ketulusan cinta seorang yeojapatah hati.

Aku menggenggam dadaku dengan tangan kananku. Kenapa? Rasanya sakit sekali disini.

**********

(Key POV)

Sejak tadi mungkin tidak ada yang memperhatikanku disini. Dari kejauhan aku melihat Minho dan Krystal yang menghancurkan hati mereka sendiri dengan melihat kejadian yang paling tidak ingin mereka lihat.

Aku tahu.. aku merasakannya.. Mereka berdua, Minho dan Krystal bernasib sama sekarang. Hati mereka hancur bukan? Salah sendiri, tidak seharusnya mereka berada disana. Seharusnya mereka membiarkan Onew hyung dan Sora menggunakan area pribadi mereka.

Jeprett!!! Zlap! Apa yang tadi itu? Blitz kamera? Siapa? Aku menoleh ke belakang, memang ada beberapa wartawan tetapi tidak ada yang mencurigakan. Aku berlari ke belakang untuk mengejar seseorang dengan kamera yang memotret baru saja ini. Tetapi siapa? Hampir semua wartawan memegang kamera? Siapa? Siapa yang tadi memotret? Aku tidak dapat menemukannya.

***********

(bersambung) baca lanjutan cerita ini dengan cara klik disini

8 responses to “[Korea Fan Fiction] SHINee-ing as Bright as the SKY – Chapter 17

  1. Ping-balik: [Korea Fan Fiction] SHINee-ing as Bright as the SKY – Chapter 16 (With Krystal f x ) | Asian Fan Fiction Story·

  2. Ah.. Sekian lama nunggu lanjutan nie FF di blog sbelah, eh malah nemu di sini..
    Part ini nyesek banget..

    Next part ditunggu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s