[Korean Fan Fiction] I Can’t Be With Him – Part 2

 

Main Cast :

  • Lee Jinki
  • Shin Jibyung
  • Lee Taemin

Other Cast :

  • Other SHINee members
  • Park Younggeun
  • Shin Dongyup
  • Kang Jikyung

Genre : Romance, Friendship, Family

Rating : General

Length : Continue/Chaptered

Author : Mira~Hyuga

AN : Perlu ditekankan di sini, idenya berasal dari temen aku. Kalau aku cuma ngewujudin ide itu, sambil ditambahin di sana-sini…😄 Maaf ya, kalo ngebosenin .__.V

Hope you like it! Enjoy! ^^

>>><<<

PART 2

“Bagaimana kalau saya… tinggal di sini, sekaligus menjadi… pelayan?”

“Mwo?! Yah! Memangnya tujuan awalmu ke sini untuk melamar pekerjaan?!”

“Bu-bukan, sebenarnya. Tapi saya rasa akan lebih baik kalau seperti itu. Saya tidak bisa tinggal di sini hanya sebagai teman Jibyung. Anda tidak perlu menggaji saya.”

“Kau… aisssh~ aku tidak mengerti pemikiran anak muda jaman sekarang! Terserah padamu saja!”

Jinki tersenyum lebar dan membungkukkan tubuhnya, “Ne, kamsahamnida…”

>>><<<

Seorang pelayan wanita muda menyerahkan satu setel pakaian ke arah Jinki yang segera menerimanya dengan senang hati, “Kamsahamnida…” kata namja itu sambil tersenyum. Pelayan itu menatapnya sejenak dengan heran, tapi kemudian tersenyum simpul dan pergi.

“Noona!” panggil Jinki.

Pelayan itu berbalik lagi, “Ye?”

“Mohon kerja samanya…!” pemuda itu membungkukkan badannya sopan dan tersenyum lebih lebar, membuat pelayan itu tertegun dengan mulut setengah terbuka. Tapi kemudian dia mengangguk, dan berbalik lagi.

Jinki menghela napas dengan senyuman yang belum juga hilang. Dia memandangi pakaian yang sekarang masih di tangannya, lalu bergumam pelan, “Sepertinya sedikit kebesaran untukku.”

>>><<<

“Seharusnya aku tahu kalau semua yang kulakukan akan berakhir sia-sia. Setulus apapun aku melakukan hal itu. Ha! Pabo! Bangunlah, Shin Jibyung! Tentu saja tidak akan ada orang yang ikut senang melihatmu senang. Pada akhirnya kau tetap akan dikecewakan!”

Gadis itu melempar-lemparkan batu-batu kecil yang baru saja dipungutnya ke arah kolam ikan di depannya sembari menggerutu sendiri, dan tidak lama kemudian mulai terisak pelan. Tapi dia langsung menghapus air matanya dengan kasar, “Berlebihan sekali! Untuk apa menangis? Air matamu yang berharga ini juga akan sia-sia saja!” ocehnya, lalu menghembuskan napas berat sambil berdiri dan melemparkan batu terakhir yang ada di tangannya.

Dia kemudian kembali memasuki rumah, meniti setiap anak tangga yang membawanya ke lantai dua. Saat hendak memasuki kamarnya, dia sempat menoleh ke arah kamar tamu yang tadi malam sempat Jinki tempati. Jibyung berjalan ke kamar itu, membuka pintunya perlahan. Dia kemudian tersenyum kecut begitu mendapati kamar itu kosong sama sekali, seperti tidak pernah ada yang menempatinya.

“Dia tidak main-main.” Gumamnya kecewa, dan berlari kecil memasuki kamarnya sendiri, dia berencana mengurung diri seharian di wilayah teritorialnya itu.

>>><<<

“Woah~ ternyata mereka berkumpul di sini…” decak Jinki saat dia sampai di sebuah ruangan yang lumayan luas yang terletak di ujung barat rumah mewah ini. Di ruangan itu dia melihat para pelayan berlalu lalang melakukan pekerjaan mereka. “Pantas saja Jibyung merasa kesepian. Walaupun para pelayan ini membuat keributan, tetap saja tidak akan kedengaran karena ‘area’ Jibyung jauh dari sini.” Gumamnya lagi, mengemukakan apa yang dipikirkannya, pada dirinya sendiri.

Jinki segera membungkuk sopan saat dia melihat beberapa pelayan yang tengah berjalan ke arahnya. Salah satu dari pelayan yang berjumlah 5 orang itu, yang laki-laki, berhenti berjalan saat dia sampai di depan Jinki, sementara yang lain terus berjalan, “Oh~ Onew!” pekiknya setengah berseru, “Kamu Onew, kan?”

Jinki menatap orang itu dari atas ke bawah, ke atas lagi. Laki-laki ini mengenakan pakaian yang sama dengan yang dikenakannya, tapi Jinki tidak bisa menyimpulkan apapun selain ‘laki-laki ini juga seorang bulter di sini’. “Apa aku mengenalmu?” tanya Jinki dengan ragu, karena dia juga merasa heran. Kenapa laki-laki ini tahu nama kecilnya?

“Mworago? Ya! Kenapa tidak ingat? Ini aku, Wooyoung. Jang Wooyoung, temanmu di Gangdong, ingat?”

Mata sipit Jinki melebar seketika, “Aaaa~ Wooyoung hyung!” Jinki memeluk teman lamanya itu dengan senang, “Ya! Kau berbeda sekali sekarang. Aku sampai tidak mengenalmu.”

Wooyoung tertawa sebentar, lalu kemudian meneliti Jinki, seperti yang dilakukan Jinki padanya tadi, “Apa yang kamu lakukan di sini?”

“Oh? Kukira kamu akan langsung tahu saat melihatku mengenakan pakaian ini.” tanggap Jinki dengan ringan, “Sepertimu.” Imbuhnya lagi, namun langsung mengerutkan alis tebalnya saat menyadari dan mengingat sesuatu, “Jang Wooyoung? Bukankah sejak 9 tahun yang lalu namamu jadi Kim Wooyoung? Dan setahuku orang tua angkatmu itu orang yang berada, hyung. Kenapa kamu ada di rumah ini, dan mengenakan pakaian ini? Jangan katakan hyung bekerja di sini… juga?” tanya Jinki beruntun, membuat Wooyoung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Wooyoung mendesis pelan, “Aku sedang dihukum.”

“Mwo?”

“Ah~ ceritanya panjang. Kamu harus ikut aku ke tempat mencuci kalau kamu mau dengar semuanya.” Ucap Wooyoung sembari mengangkat keranjang pakaian di tangannya.

“Tidak masalah. Aku juga ingin tahu dimana tempat mencuci.” Jinki tersenyum lebar sambil membenarkan letak kacamatanya yang merosot dari batang hidungnya, “Kajja!”

“Memang pada awalnya aku dihukum.” Wooyoung mulai bercerita. Jinki mendengarkannya dengan seksama, “Tapi… sekitar 9 jam yang lalu sudah tidak lagi.”

“Maksudmu?”

“Aku memutuskan untuk membuang marga Kim itu.” kata Wooyoung santai. Jinki diam saja, menunggu kelanjutan cerita teman masa kecilnya ini. “Kamu tidak terkejut?” tanya Wooyoung sambil tersenyum kecut, karena sebenarnya reaksi itulah yang ditunggu-tunggunya dari Jinki.

“Oh~ memangnya aku harus terkejut? Hyung saja menceritakannya dengan nada seperti itu.” tanggap Jinki datar.

‘Aku ‘kan hanya mendramatisir (-__-!!)’ batin Wooyoung, kemudian bergumam, “Arasso.”

“Jadi kenapa kamu membuang ‘Kim’?” tanya Jinki lagi.

Wooyoung menghela napas berat, “Untuk apa menggunakan Kim, kalau orang yang memberikan nama itu saja sudah tidak mempercayaiku. Di awal-awal setelah mengadopsiku saja mereka menyayangi dan mempercayaiku sebagai ‘anak’ mereka. Tapi sejak 5 tahun terakhir, setiap terjadi masalah dalam keluarga atau di sekolahku, selalu aku yang disalahkan. Mereka bahkan lebih mempercayai kebohongan orang lain dibanding kejujuran ‘anak’nya.”

Wooyoung berbelok ke koridor di sebelah kanan mereka, lalu membuka pintu sebuah ruangan yang isinya tidak lain adalah beberapa buah mesin cuci, dan wangi deterjen langsung menyerang indera penciuman mereka berdua.

“Enam bulan yang lalu, pihak sekolah memanggil kedua ‘orang tua’ku, karena aku terlibat sebuah masalah dengan murid sekolah, yang tidak perlu kau tahu masalah apa itu. Yang pasti aku yakin aku tidak melakukan hal yang salah.” Wooyoung terus bercerita sembari kedua tangannya memasukkan baju-baju kotor yang dibawanya tadi ke dalam mesih cuci, dibantu Jinki.

“Tapi coba tebak?” Wooyoung menutup mesin cuci itu dengan kesal setelah sebelumnya menuangkan bubuk deterjen ke dalamnya, “Pihak sekolah tempatku mencari ilmu itu malah memberikan info yang salah pada ‘orang tuaku’. Mereka seolah menekankan bahwa akulah yang salah. ‘Tuan Kim’ yang jadi ‘ayahku’ saat itu merasa nama baiknya tercoret karena ulahku. PADAHAL AKU TIDAK MELAKUKAN HAL YANG SALAH, AKU YAKIN!”

Sementara Wooyoung terus mengoceh dengan berapi-api, Jinki sudah tidak fokus mendengar ceritanya itu karena matanya menangkap sesuatu yang terletak di atas sebuah bangku yang ada di ruangan itu; sebuah ransel hitam, miliknya, yang tadi dia cari-cari.

“Dan setelah itu, kau bisa menebak apa yang terjadi padaku. ‘Tuan Kim’ itu menghukumku, tidak mengijinkanku memasuki rumah megahnya itu selama setengah tahun! Ya, walaupun aku masih diijinkan membawa barang-barangku. Dan sampailah aku disini, bekerja sebagai pelayan laki-laki satu-satunya, setidaknya sebelum kamu datang.”

Jinki mengamati ranselnya itu dengan alis bertaut heran. Isinya sudah dikeluarkan semua. Mungkin seorang pelayan menemukan ini di kamar yang ditempatinya tadi, dan menemukan bahwa semua isinya—baju-bajunya—basah, lalu mungkin pelayan itu membawanya ke sini dan mencuci semua bajunya di sini. Dan mungkin lagi pelayan tersebut menemukan benda berharganya di sini. Benda yang tidak boleh hilang itu, yang sekarang tidak ditemukannya di setiap lubang ranselnya itu.

“Tepat jam dua belas malam tadi, sebenarnya hukumanku sudah berakhir. Tapi… ya, seperti yang kamu tahu. Aku sudah membuang ‘Kim’, dan otomatis tidak akan kembali ke tempat orang tua angkatku. Begitulah ceritaku. Apa ceritamu?” akhirnya Wooyoung mengakhiri ceritanya, lalu memutar badannya 180 derajat dan mendapati Jinki sedang mengamati sebuah ransel.

Wooyoung memiringkan kepalanya heran, “Apa yang kamu lakukan, Onew-ya?”

“Oh~ eh?” Jinki tersadar, lalu menghadap Wooyoung lagi, “Ne? Oh~ ya. Jadi… kenapa kau memutuskan untuk membuang ‘Kim’?”

(-___-!|!) “YA!! Neo jinjja! Kamu tidak mendengarkan ceritaku?!”

“Eh~ hyung, kamu tahu siapa yang membawa ransel ini ke sini?”

“AISSH~ NAN MOLLA! (!!`Д´)”

>>><<<

“Jibyung masih di kamarnya?” tanya kakek Shin saat tiba waktu makan siang. Kepala pelayan yang berdiri di samping tempat duduknya mengiyakan dengan sopan.

“Mungkin dia tertidur, Tuan.”

“Tolong bangunkan! Dia tidak boleh melewatkan makan siang.”

Jinki yang kebetulan juga ada di sana dan mendengar semuanya angkat bicara, “Biar saya saja, sajangnim.” Setidaknya ada yang bisa kukerjakan, pikir Jinki, karena sejak tadi tidak ada yang bisa dikerjakannya di ‘area para pelayan’, tepatnya tidak ada yang mengijinkannya melakukan sesuatu, Jinki juga merasa heran dengan hal itu.

Kakek Shin menganggukkan kepalanya sekali, kemudian bergumam saat Jinki sudah mulai berjalan meninggalkan ruang makan, “Sudah kukatakan aku bukan ‘sajangnim’.”

Jinki mengetuk pintu kamar Jibyung beberapa kali, “Jibyung… ani, agasshi, waktunya makan siang!” ucapnya dengan agak nyaring. Ya, mulai saat ini Jinki harus membiasakan lidahnya untuk memanggil Jibyung dengan sebutan agasshi, dan dia tidak keberatan dengan hal itu.

“Aku tidak lapar…” Jibyung menyahut dengan malas dari dalam. Sebenarnya gadis itu tidak tidur, hanya diam di balkon kamarnya, atau sesekali menonton siaran TV.

“Tapi sajangnim sudah menunggumu di bawah.”

Jibyung menghembuskan napasnya dengan berat dan berjalan mendekati pintu, kemudian membukanya, “Keurae… J-Jinki-ssi!?” kaget Jibyung yang seketika tertegun melihat Jinki di depannya. Jibyung mengucek matanya beberapa kali setelah sebelumnya meneliti Jinki dari ujung kaki hingga puncak kepala. “Sadarlah, Jibyung!” yeoja itu menampar pipinya sendiri dengan cukup keras, “Aw!”

“Waeyo?” tanya Jinki sambil tersenyum lebar.

“Hok! Ini benar-benar kamu, kan? Lee Jinki? Ya! Kenapa kamu berpakaian seperti ini? Seperti pel… jamkkan! Tadi kamu memanggilku…”

“Agasshi.” Sambung Jinki tenang, “Mulai hari ini. Hehe~”

“Mwo?! Jadi sekarang… kamu…”

“Bingo! Silahkan turun, agashi…” Jinki memundurkan tubuhnya, memberikan ruang untuk Jibyung lewat. “Silahkan…” katanya lagi saat Jibyung masih berdiri di tempatnya dengan ekspresi yang tidak terbaca.

“Jinki-ssi, kau sudah makan?” tanya Jibyung akhirnya, sambil menatap Jinki dan tersenyum simpul.

“Ne?”

“Ayo turun!”

“Ne…”

Haraboji tersenyum saat melihat Jibyung duduk di sampingnya dengan senyuman simpul yang menghiasi wajahnya. Jarang-jarang ia melihat cucunya seperti itu. Tatapannya kemudian beralih pada Jinki yang sekarang sudah kembali berdiri di tempatnya tadi, “Ya! Apa yang kamu lakukan di sana?” tanyanya pada Jinki.

“Eh? Saya? M-memangnya apa… yang harus saya lakukan?” tanya Jinki bingung.

“Menurutmu untuk apa di meja ini ada 3 porsi hidangan yang sama?”

“N-ne?” Jinki terlihat semakin bingung saja. Namun kerutan di dahinya sedikit demi sedikit berkurang saat seorang pelayan lagi menarik kursi di hadapan Jibyung, dan Kepala pelayan memberinya isyarat untuk duduk di kursi itu.

“A-ah? Kenapa saya harus… maksud—” perkataan Jinki itu terpotong oleh deheman tegas dari sang Kepala pelayan, seolah memberinya perintah, ‘lakukan saja dan jangan coba membantah!’.

Sejak berpisah dengan Wooyoung tadi, Jinki memang sudah bertemu dengan pria paruh baya yang disebut kepala pelayan itu. Ia mengenalkan seluk-beluk rumah ini pada Jinki, dan memperdengarkan apa saja peraturan yang harus dipatuhi di rumah ini. Dan sebenarnya pria bernama lengkap Shin Dongyup itulah yang seolah tidak mengijinkan Jinki untuk mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan oleh seorang pelayan.

“Oh~ y-ye.” Akhirnya Jinki memilih menurut dan duduk dengan tenang di kursi itu, mulai menyantap makanannya dengan perlahan.

Di sisi lain, seseorang tengah berteriak senang dalam hatinya.

>>><<<

“Bukan sajangnim yang memutuskan ini. Aku yang lebih dulu mengusulkannya. Aku ‘kan tidak enak kalau harus menumpang begitu saja.” Ucap Jinki saat dia sedang berada di perpustakaan keluarga Shin bersama Jibyung setelah selesai makan siang.

Jibyung menarik keluar sebuah buku berukuran sedang dari rak di hadapannya, dan mengangguk-angguk mendengar penuturan Jinki barusan, “Begitu, ya?”

“Ne.” balas Jinki singkat.

“Jinki-ssi, kau tidak akan membaca buku yang menurutmu menarik di sini? Setahuku kamu kutu buku.” Ucap Jibyung kemudian, mengalihkan pembicaraan, dengan tatapan tertuju pada buku yang diletakkannya di atas meja di hadapannya.

“Bolehkah?” tanya Jinki dengan mata berbinar-binar. Dia belum melahap buku apapun hari ini.

“Tentu. Siapa yang melarang?”

“Keureom.” Jinki membungkuk sekilas ke arah Jibyung, lalu berlari kecil dan menghilang di balik rak tempat Jibyung mendapatkan bukunya tadi.

Dan setelah Jinki benar-benar tidak terlihat lagi, Jibyung merebahkan kepalanya di atas meja sambil tersenyum lebar, senyuman gembira yang sejak tadi ditahannya di depan Jinki. Baru kali ini dia merasakan hatinya sebebas, seringan dan selega ini. Rasa senangnya melebihi rasa senang yang dirasakannya saat kedua orang tuanya memberikan apa yang dia inginkan beberapa tahun yang lalu.

BRUKK!

“Aak~!”

Jibyung bangkit dengan seketika begitu mendengar suara-suara itu. Dia kemudian berlari kecil ke arah sumber suara, dan menemukan Jinki tengkurap di lantai, dengan kacamata yang pecah di dekatnya.

“Jinki-ssi! Gwaenchana?” tanya Jibyung cemas.

“Aah~ agasshi. Ne, gwaenchanayo.” Jawab Jinki sambil berdiri dibantu Jibyung. “Aku memang selalu seperti ini, terjatuh karena tersandung sesuatu.” Katanya lagi, membuat Jibyung mengangguk mengerti sembari menelusuri lantai, mencari sesuatu yang mungkin menyebabkan Jinki tersandung. Tapi tidak ada apapun yang menghalangi jalan di sana.

“Kau tersandung apa?”

“Ne? Aa~ kurasa aku tersandung kakiku sendiri.”

“(-__-)a Arasso. Ah~ keundae, kacamatamu…” Jibyung membungkuk dan mengambil kacamata itu, yang sekarang kacanya sudah pecah.

“Pecah, ya?” gumam Jinki, mengambil kacamatanya itu dari tangan Jibyung. “Kacamata tua.” Gumamnya lagi, “Gwaenchanayo, aku bisa membelinya lagi nanti.”

“Keurae? Membelinya dengan apa? Dengan gajimu?” tanya Jibyung sakras, membuat Jinki menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum kikuk. Benar juga. Dia kan tidak digaji, dan dia sendiri yang mengusulkan hal itu.

“Kajja!” Jibyung langsung meraih tangan Jinki dan menariknya keluar dari perpustakaan itu, keluar dari… rumah itu.

“A-agasshi, eodiga? Kita… kita sudah keluar rumah. Eh? A-apa yang kau lakukan?”

Tanpa memperhatikan protes dari Jinki, Jibyung mendorong pemuda itu masuk ke dalam mobil di hadapannya, “Masuk!” sementara Jibyung sendiri berlari mengitari mobil BMW mewah itu dan duduk di samping Jinki di bangku penumpang, “Berangkat!” katanya pada supirnya yang sudah siap di belakang kemudi itu.

“T-tapi… kemana? Agasshi…”

“Ya, bisakah tidak memanggilku seperti itu? Aku merasa tidak nyaman dipanggil seperti itu oleh temanku sendiri.”

>>><<<

Mereka sampai di sebuah mall yang berada di pusat kota. Jinki menatap Jibyung bingung, “Untuk apa kita ke sini?” tanyanya pelan.

“Menurutmu?” Jibyung malah membalikkan pertanyaan, membuat kerutan di dahi Jinki semakin bertambah, “Ayo turun!” ucap gadis itu lagi.

“Oh~ baiklah.” Baru saja Jinki hendak membuka pintu mobil di sebelahnya, ketika seseorang berpakaian serba hitam membukakan pintu tersebut untuknya. Jinki tersentak sebentar, menoleh ke arah dimana Jibyung duduk. Tapi ternyata Jibyung sudah turun dari pintu mobil yang satunya lagi. Akhirnya dia mengalihkan tatapannya ke arah pria berpakaian hitam itu, “Err~ nuguseyo?” tanyanya hampir berbisik.

“Jinki-ssi, apa yang sedang kamu lakukan? Kajja!” Jibyung muncul di depan Jinki bersama seorang lagi pria yang memakai pakaian yang sama dengan pria yang barusan membukakan pintu untuk Jinki. Dengan perasaan bingung, akhirnya Jinki menjulurkan kakinya keluar dan turun dari mobil, berlari kecil menyusul Jibyung yang sudah lebih dulu memasuki mall.

“Jibyung-ssi, siapa dua orang itu? Pengawalmu? Mereka mengikuti terus.” Bisik Jinki setelah langkahnya sejajar dengan Jibyung.

Jibyung menghela napas dalam dan malah mengalihkan pembicaraan, “Pertama, kita kemana dulu?”

“Mwo?”

“Sebaiknya ke optik dulu, ya? Kajja!” gadis itu menarik tangan Jinki dan mempercepat langkah kakinya. Sekarang Jinki tahu apa yang akan mereka lakukan di tempat ini.

***

“Kau suka yang mana? Abu-abu? Biru? Cokelat?” Jibyung menggeser beberapa buah contact lens ke arah Jinki yang kelihatan masih bingung.

“Eeh~ kurasa—” Jinki hendak menolak, namun Jibyung yang tahu hal itu segera menyela perkataannya.

“Kurasa warna cokelat lebih cocok. Aku ambil yang ini.”

“Shin Jibyung-ssi!” tukas Jinki setengah berseru. Jujur saja, dia merasa tidak enak diperlakukan seperti ini, apalagi oleh teman yang secara mendadak jadi majikannya ini.

Jibyung memutar kepalanya 170 derajat dan menatap Jinki tajam, sehingga namja itu menelan air ludahnya dengan gugup dan tersenyum kikuk. Tatapan Jibyung hampir menyamai tatapan kucing Key yang seolah memancarkan laser panas ke arah objek yang ditatapnya.

“G-gomawo.” Akhirnya malah kata itu yang Jinki suarakan.

“Sekarang pilih bingkai kacamatanya!”

“Eh? Haruskah?”

“Ini perintah, Lee Jinki!”

“A-aa~ ye, arasso.”

>>><<<

“Cocok! Aku ambil yang ini.” Jibyung menjentikkan jarinya dan berujar datar saat Jinki keluar dari kamar ganti dengan mengenakan salah satu dari baju-baju yang tadi Jibyung pilihkan; celana denim hitam yang dipadu dengan kemeja kotak-kotak berwarna biru tua.

Jinki tersenyum lebar, karena sepertinya mereka tidak akan berlama-lama di tempat ini, “Gomawo!” katanya senang.

Namun senyuman tiga jarinya hilang seketika saat Jibyung berkata, “Coba yang lain!”

“Tapi kamu bilang akan ambil yang ini?”

“Ppalliwa!”

“Baiklah.” Ucap Jinki pasrah. Dia memasuki kamar ganti lagi untuk melakukan apa yang Jibyung katakan.

Setelah Jinki tidak terlihat lagi, Jibyung tergelak sebentar, namun langsung berhenti saat dirinya menyadari bahwa kedua pengawalnya ditambah seorang pegawai mall menatapnya dengan setengah heran dan setengah terkejut. Jibyung berdehem pelan dan membenarkan dudukannya dengan wajah datarnya, tapi sedetik kemudian terlihat menahan tawa lagi.

Apa yang dilakukannya pada Jinki ini memang terdengar dan terlihat seenaknya, tapi Jibyung sengaja melakukannya. Karena kalau tidak dengan cara seperti ini, dia tahu Jinki tidak akan mau diajak ke sini. Lagipula hal ini ternyata cukup menyenangkan, pikirnya.

Beberapa menit kemudian Jinki keluar lagi dengan T-shirt putih polos, hoody berwarna merah maroon dan jeans longgar berwarna biru dongker. Jibyung tersenyum tipis dan mengangguk puas, “Aku ambil yang ini juga.” Ujarnya sambil berdiri dari kursinya. “Kajja, Jinki-ssi! Kita pilih yang lain!”

Jinki menghela napas pasrah, dan hanya mengikuti Jibyung tanpa bertanya-tanya atau mencoba menolak lagi. Sungguh dia benar-benar merasa tidak biasa, merasa tidak enak kepada orang yang memperlakukannya seperti ini, walau ada sedikit rasa lega karena Jibyung tidak menyuruhnya mencoba pakaian lain (.__.). Ah~ tapi tidak tahu nanti.

>>><<<

“Jibyung-ssi, neomu… gomawoyo.”

Jibyung mengalihkan tatapannya keluar jendela mobil, “Kalau aku tidak salah mengingat, hari ini kamu sudah mengatakan itu delapan kali.” Cetusnya asal.

Jinki hanya tertawa kecil, lalu mengalihkan tatapannya ke depan. Mobil yang mereka tumpangi berhenti lagi di depan sebuah salon. Jinki mengangguk-anggukkan kepalanya secara mentalisasi. Tentu saja. Jibyung ‘kan perempuan. Tidak salah kalau dia ingin melakukan perawatan di salon secara rutin.

Pintu di samping Jinki kembali dibukakan oleh orang yang Jinki anggap pengawal tadi. Namja bermata sipit itu menganggukkan kepalanya sopan dan segera turun dari mobil, disusul Jibyung yang kali ini keluar dari pintu mobil yang sama. Mereka pun memasuki salon itu.

Jibyung mendorong kedua pundak Jinki agar namja itu duduk di sebuah kursi kosong di depan cermin. Perasaan tidak enak lagi-lagi memenuhi rongga dada Jinki. Feelingnya mengatakan ada yang tidak beres di sini, “Jibyung… ssi, jangan katakan kita ke sini untuk…”

“Make over.” Sambung Jibyung tenang. “Jangan kaget dengan hasilnya nanti, ya!” dia tersenyum lebar, sementara Jinki menganga kecil.

Ige mwoya?!

***

45 menit kemudian…

Jinki hampir tidak mempercayai penglihatannya sendiri sekarang. Dia menatap lurus ke arah cermin di depannya, menatap bayangannya sendiri yang terefleksi di sana. Benarkah itu dirinya? Rambut hitamnya sudah ditata sedemikian rupa. Dia kelihatan… keren. *bayangin yg kayak di covernya, ya!* Dia benar-benar merasa bukan melihat dirinya sendiri. Apakah contact lens yang dikenakannya ini yang bermasalah, sehingga membuat penglihatannya semakin bermasalah juga?

Jibyung yang hanya duduk di sofa yang ada di sana juga tanpa sadar menahan napasnya saat melihat pantulan wajah Jinki di cermin. Memang dia sudah membayangkan hasilnya sejak tadi. Tapi dia tidak mengira akan sesempurna ini, “Wah~”

>>><<<

…Shin’s House, 6.24 pm…

Kakek Shin tersenyum kecil melihat Jibyung dan Jinki yang sedang melahap makan malamnya masing-masing dalam diam. Beliau merasa senang, karena akhirnya meja makan ini akan diisi oleh tiga orang mulai sekarang (walaupun Jinki masih harus dipaksa), dan beliau harap seterusnya, walaupun memang lebih baik jika ada anak dan menantunya yang sibuk itu.

Tapi sepertinya ada atau tidak ada kedua orang tuanya, Jibyung tidak akan terpengaruh mulai sekarang. Kakek Shin bahagia sekali melihat Jibyung tersenyum sangat tulus malam kemarin, saat gadis itu secara diam-diam telah menyelinapkan Jinki ke dalam kamar tamu. Ya, sebenarnya beliau melihat kejadian itu, dan tidak ada yang tahu. Sejak 8 tahun terakhir hanya melihat Jibyung memaksakan diri untuk selalu tersenyum di hadapannya, akhirnya beliau kembali melihat senyum tulus dari cucu satu-satunya itu, walaupun ditujukan pada orang lain.

“Haraboji, waegeuraeyo?” tanya Jibyung heran melihat kakeknya itu menghentikan acara makannya. Jinki ikut menoleh ke arahnya, “Haraboji memikirkan sesuatu?” tanya Jibyung lagi.

“Hm? Aah~ ani… ayo lanjutkan!” elaknya sambil tersenyum. Jibyung dan Jinki pun melanjutkan menyantap makan malam mereka, “Ehm~ ngomong-ngomong, aku melihat ada yang berbeda padamu, Jinki.” ujarnya datar.

“Eh?” Jinki mengangkat kepalanya, kemudian tersenyum tanpa mengatakan apapun.

“Ternyata Jibyung tahu juga cara membuat seorang laki-laki terlihat lebih tampan.” Cetus kakek Shin lagi, berusaha membuat perkataannya sedatar mungkin. Dan usahanya berhasil. Kedua remaja itu menunduk dalam seketika, menyembunyikan semburat merah yang menyebar dengan cepat di permukaan kedua pipi mereka masing-masing. Dan seolah tidak menyadari hal itu, kakek Shin meneruskan makan malamnya dengan tenang.

>>><<<

11 : 57 pm…

Jinki tahu dia harus segera terlelap karena besok harus bangun pagi-pagi sekali. Tapi apa boleh buat? Kedua matanya memang beberapa kali terpejam, tapi kesadarannya tidak hilang juga. Beberapa kali juga dia mengganti posisi tidurnya, mencari posisi senyaman mungkin, namun tetap tidak berhasil.

Ah, ya. Dia tetap tidur di kamar tamu yang sebelumnya sudah dia tempati kemarin. Dongyup (kepala pelayan rumah itu) tadi mengatakan, “Meskipun kamu menawarkan diri jadi pelayan, tapi kamu tidak diijinkan makan dan tidur seperti pekerja lain di sini. Mengerti?”. Maka di sinilah Jinki sekarang.

Namja itu mendecak kesal karena tidak juga terlelap. Dia menatap langit-langit kamar itu dengan pandangan kosong, memutar kembali kejadian apa saja yang terjadi padanya hari ini, dan akhirnya menggumam pelan, “Bukankah ini agak keterlaluan?”

Jinki yang tidak ada hubungan darah sama sekali dengan keluarga Shin, sekarang tinggal dengan serba kenyamanan di rumah ini, bahkan seolah diperlakukan secara ‘khusus’. Bukankah itu agak keterlaluan? Jinki bahkan masih tidak tahu bagaimana cara dirinya masuk ke rumah ini kemarin (-__-). Semua ini terjadi begitu saja dan secara tiba-tiba. Dia ragu harus melakukan apa.

Jika di panti, kamar seluas ini bisa ditempati oleh beberapa orang, sekarang Jinki menggunakannya sendiri. Jika dulu hanya sekali-sekali bisa makan makanan mewah, Jinki sudah menikmatinya tiga kali dalam sehari ini. Jika dulu, dalam waktu sebulan hanya bisa membeli satu pakaian (atau terkadang dari sumbangan yang diberikan orang lain), tadi Jibyung membelikannya lebih dari selusin pakaian dalam sekali beli. Bukankah ini agak keterlaluan? Berhakkah dia menerima semuanya?

Setelah beberapa menit tenggelam dengan pikirannya sendiri, akhirnya Jinki mematikan lampu tidur di dekat tempat tidurnya dan menarik selimut sehingga menutupi seluruh tubuhnya. Mungkin beberapa saat lagi dia akan tertidur dengan sendirinya.

>>><<<

Esoknya Jinki (untungnya) bisa terbangun pagi sekali. Dia segera bersiap mengenakan pakaian pelayannya dan keluar dari kamarnya. Setidaknya harus ada yang dia lakukan sebelum berangkat sekolah nanti. Pelayan-pelayan lain (yang semuanya perempuan) juga sudah terlihat mulai bekerja di setiap bagian rumah luas ini. Jinki berpapasan dengan seorang pelayan yang ternyata adalah orang yang kemarin dipanggilnya ‘noona’, “Noona!”

Gadis itu menoleh dan mengerutkan alisnya bingung.

“Ini aku. Kau memberikan baju ini padaku kemarin.” Ujar Jinki seolah mengerti apa yang dipikirkan pelayan di hadapannya itu.

“Ooh~ kau… omo~ aku hampir tidak mengenalmu. Mianhaeyo.”

Jinki tertawa pelan, “Ah~ ya, noona. Apa ada yang bisa kukerjakan?” tanyanya kemudian.

Yeoja itu terdiam sebentar sambil menatap yeoja lain yang berdiri di sampingnya, lalu menatap Jinki ragu, “Mungkin di ‘barat’ ada.” Katanya tersenyum.

“Oh~ algyesso. Keureom.” Pamit Jinki seraya punggungnya membungkuk, lalu pergi ke ‘barat’, yang tidak lain adalah tempat Jinki bertemu dengan Wooyoung kemarin. Mungkin karena letaknya di sebelah barat rumah ini tempat itu disebut ‘barat’.

Di tengah perjalanan menuju ‘barat’, Jinki melihat Wooyoung yang tengah mendorong dua buah meja beroda(?) di kedua tangannya. “Wooyoung hyung!” panggil Jinki sambil berlari kecil mendekati Wooyoung.

Namja itu menyahut singkat, tersenyum lebar, “Yo!”

Jinki hendak mengambil salah satu meja dorong itu dari tangan Wooyoung, namun Wooyoung mencegahnya, “Waeyo?” tanya Jinki heran, “Biar kubantu.”

“Aniii~” cegah Wooyoung keras kepala. Jinki akhirnya diam dan hanya berjalan di samping namja yang lebih tua darinya itu, sementara Wooyoung tersenyum-senyum sendiri seraya matanya berbinar-binar menatap Jinki, “Ya! Itu pasti perbuatan Jibyung agasshi, eoh?” tanyanya iseng sembari menunjuk rambut Jinki dengan dagunya.

“Oh, ne.” Jinki ingat penampilannya sudah berubah sekarang.

“Kudengar kau teman sekolahnya. Jinjjaya?” tanya Wooyoung lagi.

Jinki mengangguk mantap, “Keurae. Kukira kau sudah tahu dari awal, hyung.”

Wooyoung mendecak sebal sebelum mendelik sinis ke arah sahabat kecilnya itu, “Bagaimana aku tahu kalau kamu tidak cerita apapun?” katanya sewot.

“Tapi itu hyung tahu sendiri.” Jinki terkekeh pelan.

“Keureom, semua orang di rumah ini sudah tahu itu.”

“Jinjjayo?”

Wooyoung mengangguk yakin, lalu tersenyum penuh arti. Dia menyenggol bahu Jinki dengan bahunya sendiri sambil bersiul jahil, “Teman atau teman, sih?”

“M-mwoya?” protes Jinki, namun semburat merah muncul di kedua pipinya.

“Jangan-jangan kau jadi pelayan di sini hanya karena ingin serumah dengan ‘teman’mu itu.” goda Wooyoung lagi. Padahal dia tahu kenyataannya bukan seperti itu. Seperti yang dikatakannya tadi, semua orang di rumah ini sudah tahu.

“Aniyo, bukan begitu.” Sanggah Jinki cepat.

“Eheeiyy~ jangan begitu! Benar, ‘kan? Ayo mengaku saja! Aigoo~ wajahmu memerah…”

“Hyung!”

“Hahaha~”

>>><<<

…Gangnam High School…

Sembari menunggu Jibyung memasuki kelas, Young Geun menatap keluar jendela dari tempat duduknya. Sebelah headset menancap di telinga sebelah kanannya, membuatnya sesekali menggumam kecil menyanyikan sepenggal lagu yang sedang didengarkannya dari iPodnya.

“Annyeong!”

Young Geun secara refleks menoleh ke arah sumber suara yang sepertinya tepat berada di sampingnya. Dan kontan saja pipinya langsung menyentuh telunjuk lentik Minho yang memang sengaja diacungkan di samping pipi Young Geun sejak namja itu menyapa Young Geun barusan, “Aissh~” desis Young Geun seraya menepis tangan Minho dan memberengutkan wajahnya dengan kesal, “Jangan mulai lagi, Choi.”

“Mwo?” kekeh Minho, merasa senang telah berhasil membuat ‘partner bertengkar’nya ini kesal di pagi hari. Jangan heran, namja ini memang selalu bertingkah cengengesan dan iseng jika sudah bertemu Young Geun, berbeda dengan saat dia bermain basket bersama teman-temannya. “Apa yang sedang kamu lakukan?”

“Aku sedang mandi.” Young Geun menjawab dengan asal, membuat Minho menjitak kepalanya dengan gemas. “Aissh~ Choi Minho! Kenapa sih kamu suka sekali menjitak kepalaku?!” gertak Young Geun dengan wajah memerah, semakin kesal dengan namja yang hampir setiap menit selalu mengganggunya ini. Young Geun sedikit membungkukkan tubuhnya untuk meraih sepatu yang ia kenakan. Minho yang sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya segera mengambil langkah seribu menuju keluar kelas.

“Hyaa!! Jangan lari, Choi Keroro!” lengkingan suara Young Geun langsung terdengar hingga ke kelas sebelah. Tangannya yang memegang sebelah sepatunya teracung tinggi, sementara kakinya dengan lincah membawanya berlari mengejar ‘Choi Keroro’ itu hingga ke koridor-koridor sekolah. Namun murid-murid lain yang melihat pemandangan itu terlihat tidak peduli, karena mereka memang sudah sering melihatnya, sudah bosan malah.

“Yaaa~! Berhenti!! Choi Minho, berhenti! ~~ (\ `Д´)/” Young Geun berteriak lagi saat Minho mengelilingi tubuh Jonghyun dan Key yang baru saja datang, sekaligus memutar arah dan kembali berlari ke arah yang berlawanan.

“CHOI MIN—”

“KYAA~! Nugunya?!”

Teriakan Young Geun langsung terputus saat gadis itu mendengar suara lain yang sedikit lebih melengking yang berasal dari seorang siswi yang-entah-siapa yang kebetulan juga sedang berada di sana. Dan sesaat kemudian, pandangan murid-murid lain yang ada di sana sudah terpusat ke sebuah objek—yang sepertinya—ada di belakang Young Geun.

Gadis bermarga Park itu memutar tubuhnya dan memakai kembali sepatunya, seraya bola matanya bergerak-gerak mencari objek yang dimaksud. Mulutnya langsung menganga kecil saat mendapati seseorang yang sedang mengobrol dengan Key dan Jonghyun. Ada Jibyung juga di sana. Sesaat kemudian, seseorang yang tidak lain adalah Jinki itu berjalan membelok ke arah ruang loker, diikuti Jonghyun dan kemudian Key. Sementara Young Geun masih sibuk menatap Jinki masih dengan tatapan-takjub-mulut-menganganya(?). Bahkan Young Geun tidak menyadari Jibyung yang sedang mendekat ke arahnya.

“Jinjja… Lee Jinki?” gumam Young Geun, bersamaan dengan Minho yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya dan menggumamkan hal yang sama.

Jibyung yang mengerti apa yang dipikirkan teman-temannya ini hanya tersenyum tipis sembari menatap ke arah Jinki pergi tadi.

***

“Sejak kapan… sejak kapan kau mengerti style?” Key terus menanyakan hal yang sama sejak membuntuti Jinki hingga ke ruang loker. “Aigoo.. Gaya rambutmu bahkan lebih bagus dariku.”

Jinki membuka lokernya dan mulai memasuk-masukkan buku-buku pelajarannya—yang sengaja disimpannya di sana sejak hari dimana dia keluar dari panti—ke dalam tasnya. “Molla…” jawabnya singkat sembari terkekeh kecil mengingat kembali bagaimana dia bisa seperti sekarang.

Jonghyun menutup lokernya setelah mengambil sesuatu yang diperlukannya dari lokernya itu. Dia kemudian berbalik dan menyandarkan punggung pada loker yang sekarang dibelakanginya, “Keundae… kau tetap Jinki yang kami kenal, kan?” ujarnya dengan alis yang terangkat.

Jinki menoleh cepat ke arah namja itu, “Keureom! Memangnya apa yang kau pikirkan?”

“Baguslah kalau begitu. Haha~ ngomong-ngomong, siapa yang membuatmu seperti ini?” Jonghyun merangkul bahu Jinki sambil berjalan keluar ruangan.

BLUSH!

“M-mwo? Ah~ belnya sudah berbunyi. Ayo cepat! Jangan sampai kita terlambat!” Jinki segera melepaskan diri dari rangkulan Jonghyun dan mempercepat langkahnya.

“Perhatikan jalan—” Key sedikit terlambat mengingatkan, karena sebelum dia selesai dengan perkataannya, Jinki sudah tersandung lebih dulu. “Ups, aku lupa kau bisa tersandung kakimu sendiri.” gumam Key seraya terkekeh geli.

“Aku tidak apa-apa!” seru Jinki yang melanjutkan lagi perjalanannya menuju kelas mereka.

Jonghyun dan Key saling bertukar pandang dan tersenyum penuh arti. Mereka tahu Jinki selalu tersandung sesuatu setiap dia sedang gugup atau salah tingkah. Tapi masalahnya, apa atau bahkan siapa yang membuat Jinki salah tingkah begitu?

>>><<<

“Jjong, traktir aku makan siang, ya?” Key merangkul bahu Jonghyun sembari berjalan ke arah pintu kelas. Dia sedang menerima hukuman dari orang tuanya karena melanggar suatu hal yang dilakukannya dua hari yang lalu, sehingga sekarang dompetnya dan seluruh isinya berada di tangan ibunya yang memang agak ‘horor’ itu.

Mendengar kata traktir, Jonghyun segera melepaskan tangan Key dari bahunya, “Mwo?! Shiro!”

“Kalau kau mentraktirku sekarang, aku akan membantumu mendapatkan Jikyung noona. Eotte?” tawar Key dengan seringaian tipis yang terukir di bibirnya.

“Aku tidak perlu bantuanmu!” ketus Jonghyun keras kepala.

“Ya! Kau pelit sekali! Ingat, Jjong! Sainganmu itu Siwon hyung. Kau tidak bisa meremehkannya. Dia jauh lebih baik darimu. Akan sulit bagimu untuk mendapatkan hati Jikyung noona.”

“Aku tahu, kau bermaksud menghinaku secara tidak langsung, eh?” Jonghyun melirik Key tajam.

“Ah? Bukan begitu! Jangan tersinggung dulu… Jjong-ah! Ya!” Key mengejar Jonghyun yang sudah berlalu keluar kelas.

*

“Gaui baui bo! Gaui baui bo! Gaui baui bo!”

“Yaa~! Aku menang! Haha~ kau yang traktir!” seru Minho senang.

“Lagi?!” Young Geun menjambak rambutnya sendiri, frustasi.

“Kajja~ nan paegeopha…!” Minho menarik rambut Young Geun yang dikuncir ekor kuda, sehingga gadis itu ikut tertarik keluar kelas dan terpaksa berjalan mundur.

“Aaa~ Ya, ya! Minho, Minho! Rambutku! Jibyung-ah!” jerit Young Geun tak karuan.

Jibyung memperhatikan tingkah aneh teman-temannya itu sambil sesekali tersenyum simpul. Hanya di sini dia bisa mendapat sedikit hiburan. Tapi… mungkin mulai sekarang, di rumahnya juga akan lebih menyenangkan dari sebelumnya.

Jibyung melirik Jinki yang masih duduk di bangkunya, seperti biasa, namja itu tengah membaca buku, “Jinki-ssi!” panggil Jibyung.

“Ye?” sahut Jinki sambil mengangkat wajahnya dari buku yang ada di tangannya.

“Mau kutraktir makan siang?” tawar gadis itu dengan tatapan yang tiba-tiba menajam, seolah mengatakan ‘kau harus mau!’.

“Oh~ k-kajja!” akhirnya dengan terpaksa Jinki menutup bukunya dan bangkit dari duduknya. Jibyung pun melakukan hal yang sama, dia kemudian mendahului Jinki keluar dari kelas.

>>><<<

“Banyak yang memperhatikanmu, kurasa.” Gumam Jibyung yang kini tengah duduk berhadapan dengan Jinki di sebuah meja yang ada di kantin itu. Dia mulai menyantap makan siangnya dengan perlahan.

“Jinjjayo?” Jinki mengusap tengkuk lehernya mendengar perkataan Jibyung barusan. Memang sejak mereka tiba di kantin tadi (mendahului Young Geun dan Minho yang bertengkar lebih dulu di perjalanan) dia merasakan berpasang-pasang mata mengarah padanya, dan Jinki tidak terbiasa diperhatikan seperti itu, makanya dia agak merasa risih.

“Sudahlah, jangan pedulikan!” gumam Jibyung lagi seolah tahu isi pikiran Jinki.  Jinki pun mengangguk dan ikut melahap makanannya. Namun kemudian perhatian namja itu sedikit teralih pada sebuah nampan makanan yang diletakkan seseorang di bagian meja yang kosong di sampingnya. Jinki mendongak dan mendapati Minho sudah duduk di sampingnya. Sedetik kemudian Jinki juga melihat Young Geun sudah duduk di samping Jibyung.

“Wah~ baru kali ini kalian terlihat bersama. Ada apa ini?” celetuk Young Geun ringan, membuat Jinki dan Jibyung dengan refleks menghentikan kegiatan mengunyah mereka sejenak.

Lalu Jinki menatap Jibyung yang menggerakkan matanya seolah mengatakan, ‘Jangan pedulikan!’, yang membuat Jinki berpura-pura tidak mendengar ocehan Young Geun yang selanjutnya, meskipun Jinki merasa tidak enak dengan tatapan-tajam-penuh-selidik yang berasal dari namja di samping kirinya.

“Ada yang aneh dengan kalian. Biasanya kalian terlihat bersama hanya dalam kelompok belajar. Bahkan saling sapa saat bertemu pun aku jarang mendapati kalian melakukannya. Tapi lihat sekarang! Selain perubahan penampilan Jinki yang jadi perhatian hari ini, sepertinya kedekatan kalian juga jadi buah bibir bagi orang-orang yang melihatnya. Keuraechi, Minho-ya?” cerocos Young Geun panjang lebar, dengan wajah serius tingkat dewa.

Minho bergumam mengiyakan, “Tapi sepertinya kita hanya akan dianggap patung pancoran(?) di sini.” Tambahnya dengan nada datar.

Young Geun berhenti mengoceh dan memperhatikan Jinki dan Jibyung—yang masih tetap (berusaha) cuek—dengan lebih intens, “Ah~ sepertinya kau benar. Keurae, kita ke tempat lain, Minho-ya. Jangan ganggu mereka. Kajja, kajja!” katanya dengan nada kesal. Minho mengikuti Young Geun yang kini sudah duduk di meja lain di kantin itu. “Ya! Bukankah ini agak aneh? Benar-benar kali ini aku melihat mereka sedekat itu. Sebelumnya aku sering melihat mereka yang hanya saling menyapa satu sama lain, tidak lebih.” Bisik Young Geun, kelihatannya dia sudah sangat penasaran.

“Kau baru saja mengatakan itu di depan mereka.” gumam Minho, tidak terlalu tertarik, karena dia lebih disibukkan dengan makan siang (gratis) yang sudah ditunggunya sejak tadi. Minho tidak sempat sarapan pagi ini, jadi maklum saja kalau sekarang dia merasa sangat lapar.

Untuk beberapa saat, Young Geun terlihat memikirkan sesuatu sembari memakan makanannya, lalu kemudian tiba-tiba saja dia berceletuk, “Minho-ya! Jangan-jangan mereka berpacaran?”

Minho langsung tersedak begitu Young Geun selesai mengatakan ‘kalimat pamungkas’ itu, “Mwo?” pekiknya agak parau.

“Ya, misalnya dijodohkan oleh orang tua mereka masing-masing, mungkin? Bukankah tanda-tandanya juga sesuai?” gadis itu berhenti sebentar untuk menelan makanan di dalam mulutnya, “Coba lihat!” Young Geun menunjuk Jinki dan Jibyung dengan dagunya, dan Minho mengikuti tatapannya dengan alis saling bertaut bingung. Young Geun melanjutkan, “Mereka memang bersama dan terlihat dekat, tapi tidak terlihat banyak mengobrol dengan akrab satu sama lain, seperti pasangan-pasangan pada umumnya. Keuraechi? Mungkin itu karena mereka memang tidak dekat sejak dulu, tapi karena perjodohan itu mereka jadi terpaksa harus selalu bersama. Benar, kan?”

Raut wajah Minho berubah datar setelah mendengar analisis Young Geun yang menurutnya sangat ngawur (-___-). Namun perlahan Minho tersenyum lebar dan tertawa (garing), membuat Young Geun ikut tersenyum bangga dengan analisisnya. Tapi dengan seketika senyum di wajah Minho menghilang dan digantikan dengan rasa sakit yang Young Geun rasakan di pipi kirinya, “Ambisimu jadi penulis fiksi seharusnya tidak perlu dibawa ke dunia nyata, pabo! Dasar ketua mading!” tukas namja itu dengan gemas seraya tangannya menarik kulit pipi chubby Young Geun ke segala arah(?).

“Beken begite… (bukan begitu)” Young Geun berhenti sebentar untuk melepaskan tangan Minho di pipinya, yang membuatnya jadi tidak bisa berbicara dengan jelas, “…bukankah memang begitu ciri-ciri orang yang dijodohkan?” sambungnya keras kepala.

“Terserah kau saja, lah…” tanggap Minho pasrah, menyesap jusnya dengan cepat, “Aku sudah selesai, terimakasih makanannya, ya! Aku duluan!” katanya sambil nyengir lebar pada Young Geun, dan pergi meninggalkan gadis itu yang kini hanya bisa menggembungkan pipinya dengan kesal.

Young Geun melanjutkan makan siangnya lagi seraya kembali memperhatikan Jinki dan Jibyung yang sepertinya juga sudah selesai dengan makan siang mereka, dan sekarang hendak meninggalkan kantin, “J-Jibyung-ah! Tunggu!” seru Young Geun terburu-buru.

>>><<<

“Jibyung-ah, Jinki-ya, aku duluan. Annyeong!” pamit Young Geun saat bel pulang berbunyi dan guru yang mengajar di kelas itu telah keluar.

Jibyung yang masih membereskan barang-barangnya ke dalam tas hanya menjawab dengan gumaman, begitupun Jinki yang sedang serius dengan bukunya. Jibyung memang terbiasa mengemasi barang-barangnya dengan ‘kelewat santai’, karena setelah jam sekolah berakhir, tidak akan ada kata ‘hiburan’ lagi untuknya. Dan Jinki memang sengaja menghabiskan waktunya menunggu Jibyung dengan membaca buku.

Young Geun segera keluar dari ruangan kelas, menarik paksa Minho agar ikut dengannya. Mereka berdua bersembunyi di sebuah belokan di lorong kecil sebelum kelas mereka. “Ya! Apa yang kau lakukan?” protes Minho seraya menjawil bahu Young Geun.

“Sudah diam saja! Aku akan membuktikan bahwa apa yang aku katakan tadi tentang Jibyung dan Jinki itu benar. Kalau mereka memang berpacaran dengan perjodohan—seperti yang kukatakan—aku yakin mereka akan pulang bersama. Kita ikuti mereka.” Tutur gadis itu dengan percaya diri.

Minho mendengus dan menjitak kepala Young Geun, “Lakukan saja sendiri! Aku tidak peduli dengan apa yang kau katakan, belum tentu benar.” katanya, kemudian dengan langkah lebar-lebar berlalu meninggalkan Young Geun yang segera mengejarnya.

“Minho-ya! Minho-ya? Ayolah, kau tidak merasa penasaran?” gadis berambut keriting-sepunggung itu menarik-narik lengan seragam Minho dan memfungsikan puppy eyesnya yang malah membuat Minho bergidik melihatnya.

“Ani…” kata Minho menanggapi pertanyaan Young Geun barusan.

“Wae~?! Minho~” Young Geun masih bersikeras membujuk namja keras kepala itu.

“Aissh~ shiro~”

“Ayolah…”

“Aniya!”

“Min—”

“Ani!”

Entah sampai kapan mereka akan terus seperti itu, karena tanpa mereka sadari, Jibyung dan Jinki sudah lebih dulu keluar dari area sekolah, tanpa pengawal-pengawal yang biasanya selalu mengiringi Jibyung kemanapun. Jibyung pun merasa aneh dengan keabsenan orang-orang itu dalam ‘mengikutinya’. Tidak biasanya seperti ini.

“Waeyo?” tanya Jinki yang menangkap gelagat heran yang ditunjukkan Jibyung.

“Eh? Ani… hanya merasa ada yang berbeda.”

“Apa itu?”

“Aniyo, bukan apa-apa.”

Jinki hanya mengangguk mengerti dan mengalihkan tatapannya ke luar jendela mobil.

“Oh~ ya, bagaimana rasanya diperhatikan banyak orang?” tanya Jibyung tiba-tiba.

“Kenapa menanyakan itu?” Jinki malah balik bertanya sambil meringis kecil.

“Sudah jawab saja! Bagaimana rasanya?”

“Rasanya seperti… dijebloskan ke planet makhluk-makhluk kembar, diterror segerombolan monster yang sedang lapar, terjun ke panggung sirkus aneh, dan dilempar ke taman bunga raksasa.”

Hening beberapa detik.

“Hahahahaha~” Jibyung tertawa dengan sangat lepas, membuat Jinki juga ikut tertawa. “Itu ‘kan kalau kau memakai baju yang sama dengan seseorang saat di pesta.” Ucap Jibyung di sela-sela tawanya.

“Keurae? Darimana kau tahu?”

“Itu kata-kata dalam sebuah iklan, kau ini!”

“Jinjjayo?”

JB : “…”

JK : “?”

JB : “??”

JK : “???”

JB + JK : “Hahahahahaha~”

>>><<<

To Be Continued

2 responses to “[Korean Fan Fiction] I Can’t Be With Him – Part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s