[Korean Fan Fiction] That’s The Way I Love You (Oneshoot)

Author : Lee Hyura

Title : That’s The Way I Love You

Genre : Romance

Rating : PG 13

Cast :

–          SNSD Jessica

–          SNSD Taeyeon

–          SNSD Tiffany

–          DB5K Jaejoong

–          DB5K Yoochun

Disclaimer : The plot is mine. Beside it? God’s.

 

 

===That’sTheWayILoveYou===

 

“Sica wesseo~” pekik Jessica sambil terburu-buru mengganti sepatunya dengan sendal rumah lalu berlari menuju dapur karena harum masakan yang menusuk hidungnya.

 

“Masak apa?” tanya Jessica.

 

“Kau bisa melihatnya sendiri, Sic,” balas Jaejoong datar.

 

Jessica menggembungkan pipinya kesal dan berbalik badan. Namun suara Jaejoong membuat niatnya untuk pergi musnah seketika.

 

“Haejanggook. Puas?” kata Jaejoong akhirnya.

 

Jessica segera membuka rak piring dan mengambil mangkuk berserta sendoknya. Dia kembali ke hadapan Jaejoong sambil menyondorkan mangkuk dan sendok itu. Jaejoong terkekeh pelan sambil menerimanya dan mengisinya dengan haejanggook yang sudah matang. Setelah itu, ia mengembalikannya pada Jessica yang sudah menatap penuh harap mangkuk itu.

 

“Gomawo~” seru Jessica sambil mengecup pipi Jaejoong sekilas dan berlari ke meja makan untuk mencoba haejanggook itu.

 

“Eotteo?” tanya Jaejoong sambil duduk di kursi depan Jessica.

 

Jessica mendongak dan mengangkat ibu jarinya, “Neomu massita~”

 

>>>

 

“Boo~ antarkan aku ke kampus~” rengek Jessica sambil memeluk tangan Jaejoong.

 

Jaejoong meliriknya sekilas dan melepaskan tangan Jessica, “Aku harus ke café, Sic..”

 

“Café appaku, kan? Appa pasti tidak akan marah jika kau terlambat karena mengantarkanku terlebih dahulu,” yakin Jessica sambil menatap Jaejoong penuh harap.

 

Jaejoong menghela nafas, “Tidak bisa. Itu bukanlah tindakan professional.”

 

“Boo~” Jessica menggembungkan pipinya.

 

“Mian.”

 

Jessica menggertakkan giginya dan menjatuhkan dirinya ke sofa. Dia menggumam pelan. Jaejoong hanya meliriknya sekilas lalu keluar dari apartemennya itu. Tak lama ia kembali ke dalam dan menarik tangan Jessica.

 

“Apa artinya kau setuju, Boo?” tanya Jessica.

 

“Mau bagaimana lagi? Aku takut kau terbawa bus sampai ke pemberhentian terakhir nanti,” balas Jaejoong.

 

“Ya!” protes Jessica lalu memukul pundak Jaejoong.

 

Sesampainya di basement, Jessica segera berlari ke mobil Jaejoong dan bersandar –menunggu Jaejoong sampai di depan mobilnya. Jaejoong mengerti maksud Jessica. Ia menghela nafas dan menekan tombol autolock mobilnya. Mendengar bunyi autolock mobil itu sudah terbuka, Jessica segera masuk. Jaejoong tersenyum tipis melihatnya.

 

“3… 2… 1…” hitung Jaejoong. Di hitungan terakhir, Jaejoong membuka pintu mobilnya.

 

“Seperti biasa, dia tertidur..” gumam Jaejoong lalu duduk di jok pengemudi.

 

“Kau tahu alasan aku kembali lagi ke apartemen dan menyetujui permintaanmu tadi? Karena kau membuatku takut akan kebiasaan anehmu yang selalu tertidur jika sudah berada di sebuah kendaraan. Bagaimana jika saat kau tertidur, ada pria mabuk mendekatimu?” bisik Jaejoong lalu mengecup bibir Jessica.

 

>>>

 

Jessica menyeruput jusnya sambil mendengarkan cerita semua teman-temannya tentang pacar mereka. Yap, tema pembahasan saat itu adalah pacar. Jessica diam dan memilih untuk sibuk sendiri dengan jusnya daripada mendengarkan cerita-cerita semua temannya.

 

“Ya~ kenapa kau diam saja?” tanya Tiffany.

 

“Memang tidak boleh?” sahut Jessica.

 

“Bukan begitu. Tapi.. ceritakan tentang hubunganmu kepada kami, Sic..” seru Taeyeon.

 

“Err.. biasa saja,” jawab Jessica singkat.

 

“Mana mungkin?” Tiffany berdecak kesal. “Bahkan kalian sudah tinggal bersama. Pasti ceritamu lebih seru daripada kami.”

 

“Hanya makan bersama saja yang kami lakukan bersama. Setelah itu tak ada lagi. Seperti semua keluarga yang terdiri dari kakak dan adik saja,” gumam Jessica –menggerutu.

 

“Jinjja?”

 

“Ayolah~ kami tinggal bersama karena aku yang memaksa untuk tinggal disana. Tak ada alasan lainnya.” Jessica meniup poninya dan kembali meminum jusnya.

 

Taeyeon menatap “Sica-ya.. apa.. ah lupakan!”

 

“Marhae, Tae.. gwencana,” yakin Jessica.

 

Taeyeon menggigit bibirnya lalu menghela nafas. “Aku merasa dia tidak mencintaimu. Kau tahu kan kalau kau yang..”

 

“Memaksanya menerimaku. Aku tahu itu. Aku pula yang memaksanya menerimaku untuk tinggal bersamanya. Semua yang ku dapatkan darinya karena aku memaksanya. Aku tahu itu,” potong Jessica.

 

“Jadi?” Taeyeon dan Tiffany menagih kalimat lain keluar dari mulut Jessica.

 

“Aku yakin kalau suatu saat nanti aku mendapatkannya bukan karena aku memaksanya lagi. Dan aku yakin sekarang pun Jaejoong oppa sudah mencintaiku,” seru Jessica.

 

Oke, dia anak yang selalu bersemangat dan berpikiran positif. Jawabannya tidak begitu membuatku kaget, gerutu Tiffany dalam hati.

 

“Tapi kau tak pernah berciuman, bukan?” cibir Taeyeon.

 

Jessica langsung membuang muka, “Setidaknya ciuman bukan simbol dari rasa cinta!”

 

Jessica pov.

 

Aku duduk di salah satu meja di café milik appaku sambil menonton kekasihku yang asik menyanyikan lagu buatannya itu. Kekasihku seorang musisi hebat! Liriknya itu selalu dibeli mahal oleh beberapa agensi. Itu sebabnya ia mempunyai apartemen dan kendaraan mahal. Hingga aku bingung kenapa dia malah lebih menginginkan menjadi penyanyi di café-café?

 

Aku bertepuk tangan saat dia selesai dengan pertunjukkannya. Ku lihat dia sempat melirikku dan tersenyum. Ini hanya perasaanku saja atau senyumnya memang lebih cerah saat melihatku? Tuhan.. jangan membuatku terlalu berharap. Ku mohon..

 

“Boo~” seruku sambil berlari menghampirinya dan memeluknya.

 

“Sica-ya.. jebal..” desisnya. Yap, dia memang paling tidak suka di peluk –setidaknya olehku.

 

Fine..” Aku mendengus dan melepaskan pelukanku.

 

“Aku baru mendengar lagu itu. Apa itu lagumu?” tanyaku sambil mengikuti dirinya yang mulai berjalan ke dapur.

 

“Maja,” jawabnya singkat.

 

“Kenapa kau tidak pernah memperdengarkannya padaku terlebih dahulu?”

 

“Kau tak memintanya.”

 

“Mana ku tahu kau selesai membuat sebuah lagu? Kau kan tidak pernah menceritakan atau memperlihatkanku lirikmu sebelum kau menyanyikannya,” sungutku.

 

“Itulah kebiasaanku.”

 

Aku berhenti melangkah dan memejamkan mataku untuk menenangkan diriku. Oke, ini sudah terbiasa. Tapi ini masih tetap menyakitkan. Saat aku membuka mata, wajah Jaejoong oppa ada di depanku dan tangannya hendak menyentuh keningku. Aku segera menepisnya pelan.

 

“Mau apa?” tanyaku.

 

“Ingin mengecek apa kau sedang sakit atau tidak,” jawabnya.

 

“Wae?”

 

“Habis kau berhenti dan memejamkan matamu.” Aku tersenyum mendengar semua jawabannya. Itu artinya dia perhatian padaku.

 

“Ani. Aku baik-baik saja. Sungguh,” yakinku.

 

Dia membulatkan bibirnya lalu menghampiri ayahku yang sedang mengatur para karyawannya. Aku memutar mataku kesal dan mendengus. Hanya seperti itu saja? Uh! Aku segera menyusulnya.

 

“Aku sudah selesai,” kata Jaejoong pada ayah.

 

“Ah, ne. Honormu akan aku transfer. Dan.. pertunjukan yang bagus, Jae..” puji ayah sambil menepuk pundak Jaejoong.

 

“Gomaseumnida, Obuji,” balas Jaejoong oppa. Ah mendengar dia memanggil ayahku dengan panggilan itu cukup membuat hatiku melayang. Oke, cukup! Jangan berharap lebih, Sica.. itu semua hanya karena ayah yang memintanya.

 

“Harusnya kau menerima tawaran produser itu kemarin,” seru ayah yang membuatku mengernyit.

 

“Tawaran apa?” tanyaku bingung.

 

“Kemarin ada seorang produser menawarinya untuk menjadi seorang penyanyi,” jelas ayah.

 

“Bagaimana bisa? Semua artis memerlukan training. Dengan umur segini lalu ditambah lamanya training, mana ada yang menggemarinya saat ia debut nanti?” cibirku kesal.

 

Jujur bukan kesal yang ku rasakan. Lebih ke perasaan takut kehilangan. Aku takut jika dia menerima tawaran itu dan menjadi artis, dia akan jauh dariku. Besar kemungkinan aku akan kehilangan dirinya.

 

“Tenang saja. Aku tidak akan menerimanya. Aku sudah puas dengan semua ku dapatkan sekarang,” katanya lalu keluar dari dapur. Sedangkan aku diam dengan senyum tertahan di wajahku.

 

>>>

 

“Malam ini kau tak kemana-mana?” tanyaku sambil menghempaskan diri di samping Jaejoong oppa yang sedang menonton tv.

 

Dia menggeleng, “Aniya. Wae?”

 

Aku menggeleng, “Gwencana.”

 

Aku memeluk kedua lututku sambil menonton acara yang ditonton oleh Jaejoong oppa. Ya walaupun kami tidak melakukan apapun selain menonton tv, aku sudah merasa senang dengan hanya duduk di sampingnya.

 

“KYA!” aku memeluk lututku lebih erat saat terdengar petir. Tak lama, aku merasakan sebuah tangan membelai rambutku lembut. Setidaknya itu dapat menenangkan hatiku karena aku sangat takut suara petir dan kilatannya.

 

Jaejoong oppa segera memelukku saat kembali terdengar petir. Sedangkan aku menggenggam tangannya yang kekar itu. Aku merasa hangat dan takut di saat yang bersamaan.

 

Next day.

 

Author pov.

 

“Kau mau kemana?” tanya Jaejoong sambil menahan tangan Jessica yang hendak memutar kenop pintu.

 

“Kuliah.” Jessica menatapnya bingung.

 

“Sendiri?”

 

“Anio. Bersama teman-temanku. Mereka menungguku di basement,” jawab Jessica.

 

Jaejoong menghela nafas dan melepaskan genggamannya. “Baiklah. Kalau begitu, hati-hati.”

 

Hanya itu?, kesal Jessica. Dia mendengus dan pergi.

 

>>>

 

“Ingin ku antar ke rumah atau café?” tanya Tiffany saat kelas terakhir hari itu selesai.

 

Jessica melirik jamnya. Waktu sudah menunjukkan jam 3 sore. Ini belum saatnya Jaejoong menyanyi di cafenya. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke apartemen. Tiffany mengangguk.

 

Sesampainya di basement, Tiffany melakukan pekerjaan tambahan yang wajib jika ia mengantarkan Jessica pulang -membangunkan Jessica. Jessica terbangun. Ia segera turun dan berterima kasih pada Tiffany. Ia berjalan pelan menuju apartemennya.

 

“Jaejoong oppa~ Boo~” panggil Jessica saat melihat Jaejoong berlari menuju basement.

 

Jaejoong segera berhenti berlari dan menoleh, “Ne?”

 

“Eoddiga?”

 

“Ke agensi.”

 

“Lirikmu dibeli lagi? Lagu yang mana?”

 

“Yang mana lagi selain lagu yang kemarin aku nyanyikan? Semua laguku kan sudah dibeli hak ciptanya selain lagu kemarin,” jawab Jaejoong.

 

“Ah ne. Mianhaeyo. Aku tidak tahu. Kau tidak pernah menceritakannya padaku soal lagumu yang lain,” desah Jessica pelan sambil kembali berjalan menuju apartemen Jaejoong.

 

Jaejoong segera berlari menghampiri Jessica dan menahan tangannya, “Kau marah?”

 

“Aniya.”

 

“Sica-ya… aku janji nanti malam aku akan mentraktirmu makan, ne?” ujar Jaejoong.

 

Jessica langsung tersenyum lebar, “Yaksokk?”

 

“Tentu saja. Kalau begitu aku pergi dulu,” pamit Jaejoong.

 

Jessica mengangguk, “Ne. Hati-hati, Boo.”

 

Jessica berbalik badan dan melompat senang, “Yuhuu~”

 

>>>

 

Jessica menekan tombol-tombol remote dengan asal. Tak ada satu acara pun yang menurutnya seru. Ia sudah terlanjur tak sabar menunggu kepulangan Jaejoong serta malam tiba.

 

“Aish~ kenapa oppa begitu lama?” gumamnya pelan.

 

Tak lama, ia melempar remote asal dan mendesah kesal. “Aku bosan!” teriaknya kesal. Dia memutar matanya mencari akal untuk keluar dari kebosanan itu.

 

“Kenapa tidak melihat kamar Jaejoong oppa saja? Bukankah selama ini aku tidak pernah masuk ke kamarnya?” gumam Jessica sambil tersenyum jahil.

 

Dia bangkit namun terdiam, “Andwae! Jaejoong oppa melarangku masuk ke kamarnya. Bahkan dia pernah marah besar saat aku hanya mengintip kamarnya.”

 

Akhirnya dia memutar matanya kesal dan berjalan ke kamar Jaejoong. “Aku keras kepala, bukan? Semakin di larang, aku akan semakin penasaran. Dan jika aku penasaran, aku harus melakukan berbagai cara agar rasa penasaranku hilang. Itulah yang dinamakan Princess Sica,” gumamnya.

 

Ia membuka pintu kamar Jaejoong perlahan. Dia melempar pandangannya ke segala penjuru kamar Jaejoong. Tak ada yang special. Lalu kenapa aku tak boleh masuk?, pikirnya. Akhirnya matanya tertuju pada benda yang ada di atas sebuah kertas lirik yang belum sempurna.

 

Jessica mengambil nafas dalam-dalam untuk mengumpulkan segala keberaniannya. Setelah keberaniannya terkumpul, ia berjalan perlahan menuju meja tempat foto itu berada.

 

“Cantik..” gumam Jessica.

 

Jessica pov.

 

Aku menarik nafas dalam memperlihatkan foto yang ku dapatkan dari kamar Jaejoong oppa tadi. Yoochun oppa terkejut melihatnya. Dia adalah salah satu sahabat Jaejoong oppa.

 

“Aku tidak tahu siapa dia,” katanya.

 

Aku tersenyum tipis, “Aku tahu kau bohong. Kau tak mungkin terkejut jika kau tidak tahu siapa dia.”

 

“Oh jeongmal~” desahnya.

 

“Oppa.. jebalyo..” mohonku berbisik.

 

“Oke, dia Han Hyo Joo. Dia mantan kekasih Jaejoong,” ujar Yoochun oppa.

 

“Apa Jaejoong oppa masih mencintainya?”

 

Yoochun oppa langsung membelalakan matanya, “M-mwoya?”

 

“Sepertinya jawabannya sudah aku temukan. Gomawo, oppa.”

 

Aku bangkit keluar dari rumahnya. Air mataku mulai mengalir. Ah, ige mwoya? Kenapa rasanya sakit sekali saat tahu kalau tebakanku tentang perasaan Jaejoong oppa? Bukannya aku sudah mempersiapkan hatiku untuk hal seperti ini?

 

“Argh!” aku berteriak kencang.

 

Author pov.

 

Jaejoong mengernyit melihat apartemennya yang kosong. Jessica pun tak muncul-muncul walaupun Jaejoong sudah berteriak memanggil namanya berkali-kali.

 

“Sica-ya~ neo eoddiseo?” teriak Jaejoong sekali lagi.

 

Terdengar pintu luar apartemen terbuka. Jaejoong segera berlari ke teras. Disana, terlihat sosok Jessica sedang mengganti sepatu haknya dengan sendal rumah. Jaejoong menghela nafas panjang.

 

“Kau darimana?” tanya Jaejoong yang membuat Jessica mendongak. “Aigo~” desah Jaejoong pelan melihat wajah Jessica yang basah karena air mata.

 

Jessica segera menghapus air matanya, “Dari rumah teman.”

 

“Kau habis bertengkar?” tanya Jaejoong sambil menghampiri Jessica.

 

“Stop! Jangan mendekat!” teriak Jessica.

 

Jaejoong langsung memperlambat langkahnya, “Wae?”

 

“Ku bilang jangan mendekat!” teriak Jessica lagi.

 

Jaejoong langsung berhenti. Setelah beberapa detik mereka seperti itu, Jessica berlari ke kamarnya dengan mengambil jalan yang jauh dari Jaejoong. Tak lama terdengar suara pintu di banting.

 

Jaejoong menarik nafas dan pergi ke kamar Jessica. Ia mengetuk pintu kamar Jessica beberapa kali namun Jessica tak menyahut. Akhirnya Jaejoong memutuskan untuk membuka pintu kamar Jessica. Jaejoong terbelalak melihat Jessica yang sedang mengemasi semua barang-barangnya.

 

“Apa yang kau lakukan?” tanya Jaejoong tanpa berbuat apapun. Namun Jessica tak menjawab dan malah mempercepat gerakannya.

 

Jessica bangkit dan menarik kopernya setelah ia mengunci kopernya itu. Namun saat melewati Jaejoong, tangannya di tahan oleh Jaejoong.

 

“Lepaskan aku..” pinta Jessica berbisik dengan nada datar. Namun Jaejoong tidak melakukannya.

 

“Ya, Kim Jaejoong!! Lepaskan aku!” teriak Jessica –membentak.

 

“Kau mau kemana dengan semua kopermu itu?” tanya Jaejoong –tak memperdulikan teriakan Jessica.

 

“Pulang ke rumah ayahku. Setidaknya setelah ini kau tidak akan ku repotkan lagi,” jawab Jessica dingin. “Tolong lepaskan aku sekarang.”

 

Kali ini Jaejoong menurut.

 

>>>

 

Jaejoong terdiam di sofa tanpa melakukan apapun. Yang dia lakukan hanya menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Dia langsung menoleh ke jendela saat ia mendengar suara hujan turun.

 

“Tenanglah, Jae.. biarkan dia mendapatkan yang ia inginkan,” tekannya pada dirinya sendiri.

 

Tak lama terdengar suara gemuruh-gemuruh pelan. Pikirannya langsung kacau. Ia mendecak kesal lalu berlari ke kamarnya untuk mengambil mantel dan payung.

 

“Aku harus mencari wanitaku!”

 

Jessica pov.

 

Aku berjalan perlahan menuju rumahku. Jarak rumahku dengan apartemen Jaejoong oppa memang jauh. Tapi mengingat akan kebiasaan anehku yang selalu tertidur setiap naik kendaraan, aku memutuskan untuk berjalan kaki.

 

Tiba-tiba hujan turun. Jujur itu membuatku takut. Takut jika nanti akan ada petir. Gemuruh-gemuruh pelan mulai terdengar. Kakiku mulai bergetar dan air mataku mengalir semakin deras. Ya tuhan.. ku mohon.. jangan petir.. ku mohon..

 

“KYA!!” teriakku lalu terjatuh saat mendengar suara petir yang sangat kencang beserta kilatannya. Aku memutuskan untuk duduk dipinggir jalan sambil memeluk lututku erat. Aku terisak kencang. Aku bingung harus melakukan apa. Kakiku seperti mati rasa karena petir tadi.

 

“Sica-ya?” panggil seseorang. Aku tidak tahu itu suara siapa. Pikiranku benar-benar kacau.

 

Aku diam. Aku tetap mengubur wajahku di antara lututku. Tubuhku menggigil hebat. Tiba-tiba aku merasa seseorang memelukku. Aku kenal pelukan ini.

 

“Sshh.. tenanglah, Sica. Aku disini,” bisiknya.

 

“Menjauh dariku..” usirku dengan suara bergetar.

 

“Ada apa denganmu?” tanya Jaejoong oppa lembut. Ku mohon jangan seperti ini.

 

“Aku hanya tidak ingin mengusik kehidupanmu lagi. Sudah cukup aku mengganggumu.”

 

“Kau tidak menggangguku.”

 

“Gotjimal! Mana mungkin kau tidak terusik denganku yang selalu memaksa untuk melakukan tugasmu sebagai pacarku yang baik padahal kau tidak mencintaiku. Kau itu mencintai mantanmu bukan aku. Benar, kan? Kau melarangku masuk ke kamarmu agar aku tidak mengetahui itu, kan? Dan sekarang kau juga sedang membuat lagu untuknya. Benar kan tebakanku?”

 

“Kau masuk ke kamarku?” tanyanya datar. Itu membuatku takut.

 

“Tatap aku, Sica. Ku mohon,” pintanya.

 

Aku mendongak dan melihat dirinya yang duduk dihadapanku. Wajahnya begitu dekat denganku.

 

“Kau tak melihat ke sekeliling kamarku?” tanya Jaejoong pelan. Aku mengangguk.

 

“Bohong.”

 

“Sungguh!”

 

“Kalau begitu kau harusnya melihat alasan utama kenapa aku melarangmu untuk masuk ke kamarku,” ucap Jaejoong oppa pelan.

 

“Ne?”

 

“Aku melarangmu masuk ke kamarku karena aku takut kau melihat koleksi fotomu yang ku tempel di belakang pintu.” Aku terplongo mendengarnya.

 

“Ya~ tutup mulutmu sebelum aku tutup mulutmu dengan bibirku,” desis Jaejoong oppa –menggodaku.

 

Aku langsung membuang muka. Ku rasa pipiku memanas, “Lalu soal Han Hyo Joo itu?”

 

“Babo. Itu lirik yang diminta olehnya. Dia memintaku membuatkan lagu tentang dirinya. Tentu saja aku membutuhkan fotonya agar aku bisa mengingat bagaimana dia,” jelas Jaejoong.

 

“Mwo?” Aku memutar kepalanya menghadapnya.

 

Dia mendesah pelan, “Bagaimana bisa aku mengingat segala tentang dirinya jika di otakku hanya ada kau dan kau?”

 

Pipiku tambah merona. Aku menggembungkan pipiku kesal. “Wah aku baru tahu kau pintar merayu.”

 

“Bodoh. Sejak kapan aku pintar merayu? Aku hanya pintar berkata di dalam lirik bukan secara langsung.”

 

Aku mengerucutkan bibirnya, “Lalu kenapa kau selalu menolak untuk aku memelukmu?”

 

“Setiap kau memelukku, selalu ada rasa tak mau kau melepaskan pelukan itu. Dan aku benci perasaan itu!”

 

Aku terdiam. Aku sibuk mencerna semua perkataan Jaejoong oppa.

 

“Kau percaya padaku?” tanyanya lembut. Aku mengangguk.

 

Jaejoong oppa menarik tengkukku hingga bibir kami bertemu dan melumatnya bersamaan dengan petir yang menyambar.

 

“Oh lihatlah! Wajahmu merah. Sepertinya demammu sangat parah,” serunya yang ku yakin bermaksud untuk menyindirku.

 

“Ini ciuman pertamaku. Aku tahu kau sudah pernah melakukannya sebelumnya. Tak usah merasa paling hebat,” sungutku kesal.

 

“Kurasa kau benar.”

 

“Tentang?”

 

“Melakukannya sebelumnya.”

 

“Jeongmal? Dengan siapa?”

 

“Kau. Di hampir setiap kau tertidur di mobilku selama perjalanan ke kampusmu.”

 

Author pov.

 

Sekali lagi Jessica bersin. Taeyeon dan Tiffany menatapnya bingung.

 

“Kau sakit?” tanya Taeyeon.

 

“Sepertinya begitu.” Jessica menjawabnya singkat.

 

“Bagaimana bisa?” tanya Tiffany.

 

“Aku kan hujan-hujanan,” jawab Jessica –lagi.

 

“Mwo?”

 

Jessica langsung tersenyum malu, “Jangan bahas itu lagi.”

 

Sepertinya ada sesuatu dibalik sakitnya itu, pikir Taeyeon dan Tiffany.

 

Tiba-tiba terdengar petir. Taeyeon dan Tiffany mengernyit bingung.

 

“Kenapa kau tidak berteriak?” bingung mereka.

 

Jessica berpura-pura berpikir dengan wajah yang sudah memerah, “Memang tadi petir ya? Aku tak mendengarnya.”

 

“Sepertinya demammu sudah parah,” desis Tiffany.

 

===That’sTheWayILoveYou===

16 responses to “[Korean Fan Fiction] That’s The Way I Love You (Oneshoot)

  1. kyaaaa..
    suka banget ma cerita n main castnya..

    Jessica n Jaejoong, kereennn kereennn kereennn..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s