[FREELANCE] The Last Pier

Author: azureveur
Rating: K
Fandom: Miss A / 2PM
Pairings: Suzy/Taecyeon
Other Casts: Meng Jia
Length: Ficlet (778)
Genre: Fluff, Hurt/Comfort
Disclaimer: I am not, in any way, take any profit from the story. All real people are used without their permission. Events portrayed are fictional and do not reflect on the actual people within the stories. The contents are purely made for personal entertainment.


THE LAST PIER

-azureveur
© 2011

Bae Suzy masih mengingat bagaimana cara pemuda itu mengayunkan langkah. Begitu agung dan takabur seperti halnya para pesolek sekolah. Bagi Suzy, tak selarik kalimat yang tepat untuk memuji Ok Taecyeon. Pemuda jangkung itu memang acap digelimangi pesona wanita, tak pelak perihal kado natal.

Belum tiba pemburit bulan Desember, pemuda itu telah dibanjiri segala pernak-pernik. Mulai dari pohon natal berkelip, hingga satu eksemplar disc kidung pujian.

Kedengkian pertama Suzy tercecah kala natal pertama di sekolah tuanya. Ok Taecyeon dengan syal brokat yang berjela, membelah hamparan laguna beku di pekarangan muka.

“Hey, Jia. Kau ikut untuk malam ini?” tanya Taecyeon, melirik sinis ke arah kiri. Tempat di mana Bae Suzy berdiri, berbalut sweater pastel kesayangannya. Dan Meng Jia—murid transfer itu—bersandar di samping birai pembatas.

Gadis itu menekur rikuh. Apa yang baru saja didengarnya tentu saja hanya lelucon. Tidak pernah sekelebat basa-basi yang terdendang dari bibir Ok Taecyeon, apalagi soal berbagi gengsi dengan perkumpulan murid kalangan bawah seperti mereka.

“Maksudmu, datang ke Christmas Ball?” tanya Jia, ragu.

Pemuda itu mengangguk, antusias. “Tentu saja,” tubuh tinggi itu merunduk, “Tapi, jangan bilang kau hendak menolaknya.” Taecyeon mulai memasang raut kecewa. Paras gagah itu nampak dibuat-buat. Hingga membuat Suzy ingin mengeluarkan isi perutnya.

“Aku—”

“—apa kau tidak memiliki gaun yang pas?” tandas pemuda itu, mengulas cengiran. Meng Jia seketika menunduk, kehilangan kepercayaan dirinya. Gadis itu memang bukan seorang permasuri konglomerat. Tetapi, kala itu bukanlah momen yang tepat untuk menginjak-injak harga diri seseorang.

“Ya! Ok Taecyeon-ssi,” sergah Suzy, memberangus.

“O, dan kau? Aku bahkan tak mengenal namamu?” tanya Taecyeon, dengan dahi berkerut-kerut.

“Suzy. Bae Suzy. Dan kau cukup mengganggu temanku. Tinggalkan dirinya sendiri.”

“O, baiklah. Aku tak ingin mengganggunya. Maksudku aku hanya berniat mengundangnya ke pesta. Dan bahkan aku hendak menyerahkan ini.” Pemuda itu merogoh saku duster-nya.

Jia terperangah. Mendapati setangkup bola kristal bertumpu di kedua telapak tangannya. Ia tak pernah mengimpikan hadiah natal, kendati ia selalu berangan memiliki baju tunik kuning cerah.

Sekali lagi pemuda itu tersenyum. Dan punggungnya berbalik. Berniat untuk melesap ke dalam Benz-nya, namun detik itu juga, Suzy merebut bola kristal itu dari genggaman sabahabtnya. Tangan mungil itu melemparkan bola kristal Jia, bergelinding di permukaan laguna.

Meng Jia terkesiap. “Suzy, apa yang kau la—” kata-katanya terhenti, tepat kala bola kristal itu tenggelam di tengah sana.

Tangis Jia pecah. Sementara Suzy, tepekur memandangi Ok Taecyeon yang menyaksikannya dari jauh. Pemuda itu bergeming. Rautnya tak menerakan secercah amarah, sementara Suzy bergegas, mengganti haluan. Menyeret Meng Jia pergi.

.

.

Bae Suzy masih menatap laguna berbingkai logam itu. Tepat di mana rekan sejawatnya berkelakar, sembari bermain skate bersama kekasihnya. Meng Jia yang dulu, kini bukan lagi seorang pecundang, yang selalu berurai air mata jika dicibir, atau pun yang akan selalu mengadu jika dijahili teman.

Rambut merah jambunya dipangkas sependek cuping telinga. Lengkap dengan busana musim dinginnya yang perlente.

Di balik riasan yang rupawan, Suzy masih mengenali Jia yang dulu. Dan terlebih, rasa bersalahnya pada gadis itu. Raungan tangisnya tetap menggaung berbaur dengan tatapan Ok Taecyeon yang menilik dari kejauhan.

Memang Bae Suzy seakan-akan menempa sahabat baiknya, seteguh  tiang perunggu. Namun, perasaan itu masih ada; berbaur antara dengki dan kebencian yang tersulut di hatinya.

Merry Christmas,” bisik seseorang yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.

Tempat duduk yang sengaja diperuntukan bagi Bae Suzy, dengan semena-mena direbut oleh seorang pemuda asing.

Suzy mulai menelisikinya dengan tatapan tak suka.

“Terserah apa katamu. Apa kau bisa meninggalkan tempat ini untuk diriku seorang?”

“O, sudah lama kita tidak bertemu, Bae Suzy. Dan sekarang kau malah mengusirku?” Pemuda itu masih berusaha memasang muka tebal.

“Seharusnya kau sudah mengetahuinya sudah awal, Taecyeon-ssi. Aku membencimu,” ujar Suzy, beranjak dari sisi kursi taman.

Ok Taecyeon terkekeh. Kulit perunggunya nampak pucat, tertimpa serpihan salju.

“Kau tak perlu menganggapnya serius. Yang tadi hanya kelakar. Aku hanya bermaksud mengembalikan sesuatu yang selalu ingin kuserahkan padamu sejak dulu.”

Pemuda itu meletakkan kotak berwarna colekat di atas bench. Lengkap dengan pita maroon yang membungkus tepian atasnya.

Tak banyak berbasa-basi, Ok Taecyeon memacu langkah. Berbalik ke arah lapang parkir.

Suzy mulai tepekur. Membuka kotak itu dan menemukan bola kristal yang dulu sengaja direbutnya dari tangan Jia. Bola kristal yang serta-merta dilemparkannya ke dalam lubang di tengah laguna. Dan kandas di sana.

Empat tahun lalu, bola kristal itu bukan ditujukan bagi Jia. Kebahagian yang terukir di tengahnya masih berkelana, sampai ia menemukan dermaga terakhir untuk bersinggah. Sama seperti Taecyeon yang mendambakan kebahagiaan renik itu di tengah malam natal. Dan menyelamatkannya dari gelungan ombak di bawah laguna.

.

-FIN

___________________

A/N: Annyeong, ini karya pertama saya yang akhirnya saya putuskan buat dikirimkan ke AsianFanfiction Story. Sebenernya sudah lama sekali saya melihat promosinya di twitter, tapi sayang saya udah gak menulis buat fandom kpop lagi, untung kemarin ini ada yang merikues fanfic Suzy/Taecyeon. Jadi akhirnya fanfic  ini saya putuskan buat dikirim aja haha😀 salam kenal ya. Mohon maaf kalau tulisan saya agak cacat, secara fanfic-fanfic di sini bagus semua.

3 responses to “[FREELANCE] The Last Pier

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s