[FREELANCE] Fallen Flower

Author: helmyshin1 (WP: helmymikyung.wordpress.com)

Main Cast: Kim Jong Woon (Yesung) Super Junior and You (reader)

Genre: Friendship, romance, sad (?) life (?)

Rating: PG 13+

Lenght: Oneshoot

A.N: FF ini pernah dipublish di beberapa akun. Semua POV milik Yesung!

Aku menyeret kakiku menembus dinginnya Januari. Kurapatkan jaket yang membalut tubuhku sekedar untuk mengurangi rasa dingin yang bersarang dalam diriku. Aku mendesah pelan saat menyadari bahwa kini, aku sudah berdiri di depan sebuah cafe yang mungkin bisa sedikit menghangatkanku. Coffe Poirot. Tertulis nama cafe tersebut di sebuah papan kayu dekat pintu masuk.

“Kriiiing…” begitulah suara bel yang terdengar saat kudorong pintu kaca cafe itu. Semerbak aroma khas berbagai macam kopi memanjakan hidung. Menyambut kedatanganku.

“Selamat sore..” sapa seorang pelayan cafe tersenyum ramah. Aku mengangguk pelan sambil tersenyum ramah pula kepadanya. Kulangkahkan kakiku lagi dan memilih tempat duduk tak jauh dari pintu masuk.

Beberapa saat setelah aku duduk, seorang gadis muda yang tak lain adalah satu dari sekian pelayan poirot menghampiriku.

“Secangkir cappucino hangat,” ucapku padanya karena sudah tau apa yang akan ia tanyakan. Si pelayan menggoreskan tinta penanya dalam sebuah note yang ia genggam dan pergi dari hadapanku. Sebenarnya, di negara asalku, biasanya kami meminum minuman dingin saat musim dingin. Tapi, aku sudah terbiasa dengan lingkungan di sini.

Sembari menunggu pesanan datang, aku menopang dagu dengan kedua tumpukan tanganku. Kedua siku ku menempel di permukaa meja berbahan kayu kokoh. Sayup-sayup suara pengunjung yang cukup ramai menyamarkan suara hembusan angin yang berlalu.

Mataku beralih pandang. Kutatap suasana halaman poirot yang dibatasi sebuah kaca transparan besar di samping tempat dudukku. Aku menghembuskan nafas berat. Kuangkat daguku yang ditopang oleh tangaku tadi, dan kembali memandang jalanan.

Beberapa jemariku sempat mengetuk-ngetuk permukaan meja pelan, sekedar untuk mengiringi batinku yang tengah bersenandung syahdu.

Tiba-tiba, kudapati seorang gadis tengah berlari tergesa-gesa dengan beberapa bucket bunga dalam pelukannya. Ia berlari di tepi jalan dan sesekali sempat menghantam tubuh orang-orang di sekitarnya. Membuat jengkel orang-orang yang ditabraknya itu.

Aku tersenyum kecut. Terngiang sesuatu dalam benakku. Mataku menerawang tentang kejadian dahulu.

-FLASHBACK-

Tokyo, 27 Desember 2007

Kutelusuri jalan tol untuk melihat-lihat pemandangan kota. Tokyo. Kota terpadat di Jepang serta daerah metropolitan terbesar di dunia. Gemerlap lampu dari berbagai bangunan, papan iklan, juga lampu jalan menyinari kota, yang sebenarnya hanya diterangi oleh sinar putih rembulan.

BRAK!

Bahu kananku terasa cukup sakit karena dihantam oleh sesutu yang agak keras. Sejurus kemudian, aku baru menyadari bahwa ada seorang yeoja yang menabrakku.

Gomen.. gomenasai..”pintanya dengan nafas yang terengah sembari membungkuk dalam. “That’s OK,” balasku. Lalu, ia memungut beberapa bucket bunga yang berceceran di pinggir jalan. Sesekali matanya melirik ke arahku yang hanya berdiri mengamatinya.

“Ini..” aku membantu memberikan dua bucket bunga miliknya. Kuamati yeoja yang berada di hadapanku ini. Yeoja berperawakan kurus dengan rambut hitam panjangnya yang dibiarkan terurai ditiup oleh angin malam. Wajahnya juga kelihatan cukup lusuh dengan jaket biru yang membalut tubuhnya. Matanya, menyorotkan rasa kelelahan yang sangat. Terdapat sedikit rona kemerahan di hidung dan pipinya karena hawa dingin. Bibirnya terkatup rapat menyesali diri.

Aku pasti akan selalu mengingat saat bertemu dengannya untuk pertama kali.

Domo arigato gozaimasu!” ucapnya memecah keheningan antara kami -aku dan dia- dengan sedikit membungkuk di hadapanku. “Dou itashimashite” balasku ringan. Ia mengangkat wajahnya setelah merasa bahwa aku sudah memaklumi kesalahannya.

“Kim.. Kim Jongwoon?” lanjutnya dengan mengangkat sebelah alisnya. Aku rasa dia membaca nama yang tertera pada seragam sekolahku. Kutarik sudut bibirku, tersenyum simpul padanya, “cukup panggil aku Yesung.”

“Kau..”

“Ya. Aku baru pindah ke Tokyo beberapa minggu yang lalu.” Jelasku singkat. Dia hanya membalas dengan anggukan kepala pendek.

“Hei..!! Cepat!!!” kali ini dia menoleh dengan sedikit terkejut ke sumber suara yang cukup mengagetkannya tadi.  Ada seorang gadis yang sebaya dengannya tengah melambaikan tangan dan berteriak padanya. Gadis itu berdiri di depan sebuah toko bunga yang sederhana. “Hei..!!” balas yeoja yang berdiri di hadapanku sembari melambaikan satu tangannya juga.

SROK!

Tiga bucket bunga bergesekan dan jatuh kembali ke tanah karena satu tangannya tidak menggenggamnya. “Dasar bodoh!” kataku dalam hati. “Ini..” ujarku hambar sambil memberikan tiga bucket bunga itu sebelum dia sempat memungutnya. Ia menerimanya dengan kerepotan. Terlihat cukup rasa malu dalam senyumnya.

“Maaf merepotkan. Sampai jumpa!” serunya dan segera berlalu dariku, menghampiri temannya tadi.

***

Tokyo, 5 Februari 2008

“Aku mau yang itu!” ungkapku menggunakan nada cukup tinggi dengan telunjuk tangan kanan yang menunjuk ke sebuah rangkaian bunga yang indah. “Bisa tolong tulis note di situ?” aku bertanya pada seorang penjaga toko bunga. “Tentu,” jawabnya sembari mengambil rangkaian bunga yang kutunjuk tadi. “Tolong tulis, semoga cepat sembuh! Itu saja..”

Dia membuka sebuah laci di meja yang di atasnya terdapat banyak catatan dan beberapa buku, lalu mengambil secarik kertas kecil tak lupa dengan bolpoin bertinta hitam yang tergeletak di samping buku.

Disela menulis, dia sempat menyibakkan helaian rambut yang menutup sebagian matanya, ke atas daun telinganya. Aku tersenyum kecut mengetahui wajah penjaga toko itu. “Err.. dan tolong sisipkan namaku. Yesung.” Lanjutku yang dibalas anggukan mantapnya.

Kuhembuskan nafas melalui lubang hidung yang membuat terlihatnya semacam asap putih samar, “jadi kau pegawai di sini?”

“Bukankah ini sudah cukup jelas?!” sahutnya tanpa mengalihkan pandangan matanya dari note dan rangkaian bunga itu.

“Ini.“ Katanya dengan nada datar. Aku merogoh sakuku untuk mengambil dompetku. Kuberikan beberapa lembar uang kepadanya dan menyambut rangkaian bunga berwarna merah keputih-putihan.

“Yesung?” orang itu cukup terkejut saat tangannya menerima lembaran uang dariku. Aku mengangguk dan segera pergi meninggalkan toko bunga itu.

***

Tokyo, 9 April 2008

Aku membaur dengan kerumunan orang yang begitu ramai. Banyak anak kecil yang tertawa riang sembari bermain-main dengan kincir kertas milik mereka. Ada juga yang bermain ikan-ikanan dan memakan kue khas Jepang. Beragam pedagang turut senang karena barang jualannya di serbu pembeli. Intinya, di sini sangat meriah.

Aku mendekat ke dagangan seorang lelaki paruh baya. “Berapa harga mochi ini?” tanyaku pada pedangang tersebut. “300 yen,” Tanpa basa-basi, aku mengambil lembaran uang kertas yang tersimpan di dalam saku mantelku. “Mmm.. paman, memang sedang ada acara apa di sini?”

“Kau tidak tau? Festival sakura!”

“Maaf.. aku baru pindah ke sini beberapa bulan yang lalu,”

“Oh.. kalau begitu selamat bersenang-senang!”

“Terimakasih..”

Kulangkahkan kakiku lagi mengelilingi kerumunan orang ini. Rupanya banyak juga yang membawa kamera untuk berfoto. Tunggu. Apa yang di foto laki-laki itu? Pohon sakura? Hanya pohon sakura. Tapi.. Hei.. bunganya tengah bermekaran! Kelihatannya aku akan lebih mudah lagi mencintai negara ini. Menurutku.. lebih indah dari yang di Korea. Kekeke..

Kuseret kakiku dengan cukup susah. Karena, semakin lama kerumunan ini semakin ramai. Jadi, aku harus rela berdesak-desakan untuk keluar dari sini.

Hhhh….. akhirnya.. lega..

Aku menghembuskan nafas dengan rasa aman. Untung aku sudah sampai di sini. Cukup sepi. Aku duduk bersandar di bawah sebuah pohon sakura yang jaraknya cukup jauh dari pohon-pohon yang lainnya. “Hhhh.. begini saja aku sudah hampir sesak nafas. Sial!” umpatku.

OMONA! JAM SETENGAH ENAM SORE!

Aku berteriak di dalam hati. Terkejut karena ternyata sudah lama aku berada di sini.

“YESUNG!” sebuah suara mengaketkanku kembali. Dia.

“Ternyata kau,” ucapku dengan nada yang datar. “Kenapa kau ada di sini?” tambahku. “Hanami,” jawabnya singkat dengan memandang lurus –bukan ke arahku-

Aku mengangkat sebelah alisku hingga dia tersenyum, “Hanami itu tradisi melihat bunga, terutama bunga sakura di Jepang. Dan dilakukan saat semua bunga di sebuah tempat sudah mekar,” jelasnya dengan santai lalu mengambil tempat duduk di sampingku.

“Cih. Cuma melihat bunga. Aku pikir ada apa..” cibirku. Ia memiringkan kepalanya dan menatapku kesal, “ jangan remehkan. Melihat bunga adalah suatu kebahagiaan untuk kami -orang Jepang”

“Tapi aku tidak bahagia,” balasku tak mau kalah. “Mana kutau! Mungkin karena kau bukan orang Jepang..” desahnya. Akh, padahal appa-ku kan orang Jepang. Aku juga tinggal di Jepang sampai umurku 3 tahun.

Ia diam, lalu mengambil sebuah kelopak sakura yang baru saja gugur dari pohon. “Rupanya sudah gugur,” bisiknya.

-FLASHBACK END-

“Ini pesanannya..” seorang pelayan membuyarkan lamunanku dan meletakkan secangkir capuccino hangat di atas mejaku.

Kuseruput perlahan cappucino milikku sembari memandang kosong jalanan yang dipenuhi putih salju kembali. Kubiarkan cairan itu mengalir pelan melewati kerongkonganku agar membuatnya cukup hangat.

***

Tokyo, 2 Februari 2009

“Ini nyonya bunganya.. terimakasih!”

Aku tersenyum. Dia. Tersenyum ramah pada semua orang. Aku yang baru masuk ke toko itu melirik lagi ke arahnya. Kudapati ia tengah menyeka peluh yang mengalir di pelipisnya menggunakan punggung tangannya.

“Kalau kau lelah, lebih baik kau istirahat!” kataku setelah memastikan kalau satu pengunjung tadi telah pergi. “Lie.. aku tidak terlalu lelah. Ini sudah biasa. Aku akan istirahat nanti,” elaknya.

Inilah dia. Seorang pekerja keras. Membuatku semakin menyukainya.

“Jangan lupa makan siang!” seruku dan pergi.

***

Tokyo, 13 Maret 2009

Aku memasuki toko bunga tempatnya bekerja. Beraneka bunga dengan pot yang tidak terlalu kotor oleh tanah tersusun rapi pada tiap-tiap rak yang berwarna hijau. Terlihat sangat alami dan segar.

“Waaah.. terimakasih sudah berkunjung kemari! Datang kembali ya! Terimakasih~” sempat kudengar kalimat terakhir pada percakapannya dengan seorang wanita paruh baya. Wanita itu melewatiku dan keluar dari toko ini.

“Daganganmu di borong?” aku langsung bertanya tanpa mengawali dengan salam terlebih dahulu, membuatnya cukup terkejut akan kehadiranku. “Eh?” ia cukup tersentak. “Mmm.. tidak juga. Hanya saja, ibu itu membeli sangat banyak. Hampir sebagian dagangan di toko ini!” ungkapnya dengan nada yang di buat-buat. Membuatku hanya mengangguk paham.

“Hei..” seruku.

“Hm?”

“1 April”

“April mop!?”

Lie!”

“So?”

“Sayonara!” aku segera mengakhiri pembicaraan singkat dengannya. Meninggalkannya dengan sebuah kerutan yang dibuat di dahinya.

***

Tokyo, 1 April 2009

Kusandarkan bahuku pada sebatang pohon sakura yang bunganya akan bermekaran. Kulirik sekilas jarum-jarum yang terpasang di jam tanganku. Ekor mataku menangkap ujung jarum paling kecil yang menunjuk ke angka 5, tepatnya hendak menuju ke angka 6. Dan satu jarum lagi yang sedikit lebih panjang mengarah ke angka 6. Aku menghela nafas sejenak dan mencoba tenang.

Cukup lama aku tak beranjak dari sini. Kulirik lagi jam tanganku. “Pyuufff… sudah jam 7 sore,” gumamku lirih.

Kurogoh kantung celanaku dan mengambil sebuah kotak hitam. Aku tersenyum kecil sambil memainkan kotak itu. Mataku terpaku pada sebuah sudut di sana. Kutekan sebentar sudut itu dengan ujung ibu jariku, lalu menariknya sedikit ke atas. Kotak itu terbuka, memamerkan isinya yang berkilauan di tengah hari yang semakin gelap. Senyumku mengembang lebar di bibirku yang terkatup rapat.

Cukup lama aku memandangi bagian-bagian isi kotak itu secara detail. Tiada satu noda pun yang menempel atau bersarang di sana. Membuatku cukup enggan untuk menyentuhnya. Akhirnya, kuputuskan untuk menutup kembali kotak itu dan memasukkannya lagi ke kantung celanaku.

“Hhhhh..” aku menghembuskan nafas berat saat kuketahui bahwa saat ini sudah cukup larut. Dalam sedetik, sempat terpikir olehku bahwa ia hanya mengabaikanku. Namun, dengan cepat aku menepis pikiran itu jauh-jauh.

Aku menghela nafas lagi entah untuk yang keberapa kali. Dan saat kuhembuskan nafasku itu, terlihat sesuatu mendekatiku. Semakin dekat dan semakin jelas. Kali ini senyumku benar-benar mengembang secara refleks. Kulihat dia yang tengah berlari ke arahku dengan tergesa-gesa. Aku mengangkat kakiku hanya beberapa langkah untuk mengeleminasi jarak yang memisahkanku dengannya.

“Hhhh… hhh.. hh.. maaf.. maaf aku datang terlalu larut. Maaf…” ujarnya dengan nafas yang memburu. Ia menekuk kakinya dan menempelkan kedua telapak tangannya di atas kedua lutut itu. Matanya masih menghadap tanah dengan helaian rambut panjang yang menutup sebagian wajahnya. Sempat kutangkap sebuah aliran peluh yang mengucur melewati pelipisnya.

“Kau sudah lama menunggu, ya?”

Sesaat setelah aku mendengar kata terakhirnya, segera aku berlutut di hadapannya sembari mengeluarkan kotak kecil yang sempat kupandangi tadi. Aku membukanya dan mengarahkan benda itu padanya.

“Would you be mine?” ucapku dengan tersenyum lagi padanya, memamerkan senyumanku yang paling tulus hanya untuknya. Dia mendongakkan kepalanya. Sempat kutangkap kedua bola matanya yang berbinar, lalu ia menutup mulutnya dengan satu permukaan tangannya.

“Kkk.. kau.. kau bercanda kan? Hari ini april mop, kau pasti bercanda, ya? Yesung-kun, ini tidak lucu!” balasnya. Tentu saja aku menggeleng menanggapi perkataannya. Kenapa dia malah menganggap aku bercanda?!

Watashi.. wata.. shi.. gomenasai.. aku benar-benar minta maaf. Aku.. aku tidak bisa..” jawabnya. Aku bangkit dan berdiri tepat di hadapannya, “kenapa? Apa karena kau lebih tua 3 tahun dariku? Atau aku memang tidak pantas untukmu?” aku melontarkan dugaanku padanya dengan emosi.

“Tidak.. tidak Yesung-kun. Maaf.” Dia melangkah mundur perlahan. Langkahnya yang semula sangat pelan semakin lama semakin bertambah cepat. Akhirnya, dia berlari kembali meninggalkanku. Pergi.

Tubuhku mematung, sementara kedua bola mataku masih memandang punggungnya yang semakin lama tak terlihat oleh kegelapan. Kotak itu terjatuh beserta isinya tanpa meninggalkan suara yang bisa kudengar.

Kedua tanganku mengepal marah. Entah kenapa. Aku pun tak tau. Mungkinkah aku terlalu egois? Emosional?

Kenapa? Kenapa kau begitu?

***

Kalian tau apa sikapnya padaku setelah kejadian itu? Dia semakin tak mempedulikanku. Aku mungkin seperti angin berlalu baginya. Dia hanya menyapaku setelah aku menyapanya dahulu. Berkata dengan nada yang sangat datar ditambah dengan senyuman hambar.

Aku benar-benar tak mengerti jalan pikirannya!

***

Tokyo, 22 Juni 2009

Selembar kertas ditujukan untukku. Berwarna merah agak tua dengan corak merah muda bercampur putih. Seperti sakura.

Keningku berkerut. Aku membaca isi kertas tersebut.

MWO?!

Ini adalah sebuah kertas yang membuatku merasa sakit. Sangat sakit. Kuremas kertas itu dengan amarah yang memenuhiku. Dan segera melemparnya jauh dari hadapanku.

Damn!

Undangan resepsi pernikahannya dengan namja lain.

Entah kemana tujuanku, aku segera masuk ke dalam mobilku dan membanting pintunya cukup kasar. Hal pertama yang membuatku sangat terkejut di dunia ini. Melihat kenyataan bahwa ia akan menikah dengan orang lain dan bahka dia tidak memberitahu sedikit pun kepadaku tentang namja itu.

Pikiranku masih kacau. Kutekan gas mobilku lagi lebih keras  yang menyebabkan laju mobilku lebih kencang. Sangat kencang. Tanpa terasa, setetes air mataku mengalir begitu saja.  Aku masih mencoba menerima kenyataan bahwa ia akan menikah dengan orang lain. Masih mencoba. Namun, kenyataan lain yang yang lebih menyakitkan datang lagi. Dia akan pergi.

Aku berlebihan? Emosional? Aku tidak peduli.

Namun, itulah kenyataanya. Bagaimana hatimu tidak terasa remuk mengetahui orang yang kau cintai akan menjadi milik orang lain? Dan bahkan, kau di undang untuk menyaksikannya?

Tiba-tiba saja aku tak dapat mengendalikan laju mobilku. Kecepatan yang kutempuh semakin besar. Aku cukup panik karena ada sebuah tikungan tajam yang menantiku beberapa meter lagi. Aku sudah mencoba menekan remku cukup kencang. Namun, remku blong! Dan tiba-tiba saja..

BRAAKKK!!!

TIIIIIIIN.. TIIIIIIIIIN….

Aku tersentak ketika menyadari ada mobil yang  membunyikan klakson dengan keras di belakangku. Kulirik sekilas mobil itu melalui spion mobilku.

“Hei! Cepat jalan!! Apa kau tidak lihat lampu hijau sudah menyala seperti itu?!” teriak pemilik mobil itu. Aku menepuk kedua pipiku untuk menyadarkanku dan menyeka peluh yang mengalir di pelipisku. Hhhh.. untung hanya mimpi.

***

“Yesung. Apa kau akan datang di pesta pernikahannya?” suara seseorang membuatku cukup terkejut. Aku memiringkan kepalaku dan memandang wajah pria yang berkata padaku tadi. “Pernikahannya,” tambahnya dengan nada yang cukup gugup. Ya. Mungkin temanku yang satu ini sudah bisa membaca pikiranku walau aku berkata bohong.

“Diamlah. Aku sedang mencoba membohongi diriku sendiri.”

Miris? Ya.

Memang sangat miris kenyataan yang kuterima. Membohongi diri sendiri. Beranggapan bahwa tidak terjadi apa-apa dan tidak merasakan apa-apa. Tapi aku pun tak tau apakah ini akan berhasil dengan mulus. Mungkin ini lebih baik.

***

Tokyo, 3 Juli 2009

Aku mengenakan sebuah jas hitam dan celana panjang. Kurapikan rambutku dan semua yang melekat di tubuhku. Sebenarnya, ini terlalu berat untukku. Akankah aku siap tersakiti dan menerima kenyataan?

Setelah merasa cukup rapi, kusambar kunci mobilku yang tergeletak begitu saja di atas meja ruang tamu. Kunyalakan mesin mobil dan memacunya dengan tenang.

***

Aku memberhentikan laju mobilku di depan toko bunga tempatnya bekerja. Saat aku masuk ke sana, hanya ada seorang pelayan wanita yang lebih tua darinya.

“Mana pelayan yang lama?” tanyaku walau sebenarnya aku sudah mengetahui. “Dia sudah berhenti. Hari ini dia menikah, dan katanya dia akan pindah ke Inggris.” Jelasnya yang membuatku tersentak kaget. Untungnya pelayan itu tak menyadari keterkejutanku.

“Tolong yang itu!” seruku pada pelayan baru yang masih merapikan bunga di sampingku. Ia segera beralih dan mengambilkan satu bucket bunga yang sudah aku tunjuk tadi. Dengan segera, kuberikan uang untuk membayar rangkaian bunga tadi dan lekas pergi.

***

 “Yesung? Kau datang?!” suaranya mengagetkanku. Ia berlari menghampiriku dengan wajah yang sudah dirias dengan sempurna. Gaun putih yang membungkus tubuhnya membuatnya semakin terlihat anggun. Dia berlari lebih cepat menyambutku yang baru beberapa meter akan masuk ke wedding hall sembari mengangkat gaun pengantinnya di bawah lutut untuk memudahkannya berjalan.

“Aku pasti datang.” Ucapku tersenyum. “Kau tampak cantik mengenakan gaun ini..” imbuhku yang membuatnya tersipu. “Jadi.. kau akan pindah ke Inggris setelah menikah?”

“Da.. darimana kau tau?” balasnya dengan mata yang agak terbelalak. “Sebenarnya.. ng.. iya. Aku akan pindah ke Inggris.”

Kuhembuskan nafas beratku dan membuang mukaku darinya beberapa saat. “Begitu ya..”

“Nak! Acaranya akan segera dimulai!” teriak seorang wanita paruh baya dari dalam wedding hall dan kembali masuk.

“Hei! Cepatlah bersiap-siap.. kau tidak dengar kalau acaranya akan segera dimulai?!” ujarku. Dia mengangguk dan menjauh dariku dengan langkah cukup berat. Kurang dari sedetik berlalu, segera kugenggam pergelangan tangannya dengan cepat. Ia segera berbalik dan menatapku heran.

“Ini untukmu..” lanjutku dan memberikan rangkaian bunga yang sedari tadi kusembunyikan di balik punggungku.

“Ini..”

“Ya.”

Arigato..” balasnya dan mengangkat gaunnya lagi hendak pergi. Lagi-lagi, aku menarik pergelangan tangannya. Menahannya sesaat, agar ia tetap berdiri di sini sebentar lagi.

Dia berbalik kembali menatap wajahku dengan penuh pertannyaan. Kutatap kedua bola matanya sangat dalam selama beberapa detik. Entah apa yang terjadi. Tapi.. semakin lama jarak antara wajahku dengan wajahnya semakin berkurang saja.

Dia segera membuang mukanya menatap tanah di bawahnya setelah merasa wajah kami terlalu dekat. “Ada apa, Yesung-kun?” desahnya.

“Hanami saat evening, aku akan selalu di sana di saat yang sama.” bisikku di samping telinganya yang membuatnya meneteskan air matanya. “Jadi.. datanglah.” Tambahku.

Aku rasa dia mengerti apa maksudku. Dia pasti mengerti.

“A.. aku harus pergi, Yesung-kun!” serunya dan segera berlalu meninggalkanku. Sendirian.

***

Dia melangkah memasuki gereja dengan tangan kanan yang dilingkarkan pada lengan seorang pria paruh baya. Sebuah kain transparan putih menutupi wajahnya yang cantik. Selang beberapa menit, ia telah berdiri di hadapan seorang pria lain dengan senyum bahagia yang menghiasi wajahnya.

Mereka berdua mengucapkan janji suci di hadapan tamu undangan juga seorang pendeta. Aku menunduk di saat namja di hadapannya hendak memasangkan sebuah cincin emas ke jemari yeoja di depannya.

***

Kakiku membawaku keluar dari gereja dan menyambutnya yang keluar bersama pria itu. Nampak tawa bahagia memenuhi dirinya. Orang-orang juga berdiri di sepanjang altar sembari menaburkan bunga kepada sepasang pengantin itu. Blits-blits kamera terlihat cukup menyilaukan mata. Kulihat tangan kanannya yang  masih melingkar di lengan namja dengan jas juga hiasan bunga di dadanya. Dan tangan yang satunya lagi membawa sebucket bunga pemberianku.

Tiba-tiba, matanya memandangku yang hanya berdiri di pinggir altar. Kutarik ujung bibirku agar menimbulkan sebuah senyum simpul untuknya. Senyum hambar. Nampak rasa bersalah pada sorot matanya saat memandangku. Hanya sedikit rasa bersalah. Entah salah untuk apa.

Tak mau berlama-lama memandangku, ia berpaling dan memberikan senyum pada orang-orang yang telah datang ke acara pernikahannya.

Tibalah ia di depan sebuah mobil yang diparkir di depan gereja. Pria yang bersamanya itu membukakan pintu mobil untuknya dan mempersilahkannya masuk dengan sangat tulus. Lalu ia sendiri masuk ke dalam mobil yang sama, memacu mobilnya perlahan, dan hilang dari pandangan.

Dan itulah saat terakhir aku melihat dirinya. Dirinya yang menjauh begitu saja dari hidupku. Meninggalkan sebekas luka yang tak akan pernah hilang walau sudah di obati dengan bebagai macam cara. Begitu. Aku begitu dalam mencintainya.

***

Tokyo, 9 April 2010

Kubaringkan tubuhku diatas tanah yang cukup lembut. Begitu tenang.

Sinar matahari yang menembus celah-celah pohon sakura menerpa beberapa bagian di wajahku. Aku melipat tanganku dan meletakkannya di bawah kepalaku untuk kujadikan sandaran. Kupejamkan kedua kelopak mataku. Mencoba untuk lebih menghayati suasana yang begitu aku rindukan.

17.44. Begitu angka yang tertera pada jam digitalku. Sinar sang mentari kini sudah enggan untuk menyinariku lagi, memberikanku sedikit kekuatan agar bisa bangkit kembali.

Kini, yang menerpa wajahku hanyalah sinar putih dengan kerlipan bintang. Hari belum berganti. Jadi, aku masih mempunyai kesempatan untuk menunggu di sini. Aku masih berbaring hingga sebuah hasrat memaksaku untuk menarik diriku sendiri untuk bangkit. Duduk.

Dua orang yang berjalan beriringan menghampiriku dengan tawa yang menguasai mereka. Semakin dekat, semakin nampak wajah mereka.

Dia..?!

Aku tersentak beberapa detik hingga kusadari bahwa yang kulihat perlahan hilang. Mataku menerjap-nerjap pertanda terkejut.

Ilusi. Hanya itu yang mampu kusimpulkan.

***

Tokyo, 9 April 2011

“Tuan.. anda yang memesan pohon di sini selama dua tahun itu kan?”

“Waah.. rupanya paman masih ingat. Walau terlihat tua, tapi ingatan paman masih tajam rupanya. Hehe..”

“Anda menunggu seseorang?”

“Entahlah. Saya pun tidak tau apa yang sedang saya lakukan. Saya hanya sedang mengikuti kata batin.”

***

“Yesung, sampai kapan kau akan menunggu orang yang tidak jelas itu?” ejek seorang teman sekampusku yang memang sudah mengetahui tentang kisahku. “Entahlah. Aku tidak tau.”

“Cih. Lebih baik tak usah kau harapkan gadis itu lagi. Lagipula masih banyak wanita di dunia ini,” tambahnya.

“Diam.” Balasku dingin dan berlalu meninggalkannya. Tsk. Kenapa tak ada seorang pun yang mengerti tentangku?

***

Tokyo, 9 April 2014

Aku menghembuskan nafas gusar untuk yang kesekian kalinya. Kenapa kau tak kunjung datang? Berapa tahun aku menunggu?

Entahlah. Tapi yang kutau, cinta tak pernah lelah menunggu.

Aku merogoh saku celanaku. Kubuka perlahan kotak yang dulu pernah kupersembahkan untuknya. Aku mengelus pelan benda itu. Kini, aku tidak merasa cukup canggung lagi.

Hei! Kenapa aku menunggumu? Mungkin ini alasanku. Kau ingat? Dulu, aku hanya mengatakan, ‘Would you be mine.’

Dan apa kau menyadari, kalau aku belum mengatakan ‘daisuke desu’ atau ‘aishiteru’ padamu. Jadi, ya.. menurutku inilah saat yang tepat. Di sini.

Mungkin, menurutmu aku terlalu konyol. Padahal aku bisa mengatakan itu kapan saja, lewat telefon pun bisa. Tapi, inilah caraku. Aku ingin mengatakannya di sini.

Apa aku egois? Mementingkan menyatakan cintaku pada orang yang sudah bertahun-tahun menjadi milik orang lain. Masa bodoh. Aku tak peduli.

BRAK!

Seorang gadis kecil jatuh menabrakku yang jauh lebih besar darinya. Ia tergeletak di depanku. “Hei! Kau tidak apa-apa?” tanyaku padanya dan membantunya berdiri.

“Em! Aku tidak apa-apa. Tapi.. kincirku rusak..” jelasnya dengan mata berkaca-kaca. Rupanya ia terlalu asyik bermain kincir hingga menabrakku dan kincirnya tertindih hingga rusak. Aku berjongkok untuk menyesuaikan tinggi badanku dengannya. Kutatap bola matanya cukup lama.

“Kenapa paman?” ujarnya penasaran dengan mendongakkan wajahnya menghadapku.

Tunggu. Aku seperti pernah memandang bola mata ini. Bentuk matanya, hidungnya, bibirnya. Dia…

“Nak, siapa namamu?” tanyaku cekatan. Gadis cilik itu menggeleng lemah, “kata ibu, aku tidak boleh memberitahu hal-hal seperti itu kepada orang yang belum aku kenal..” jawabnya. Suaranya dan nada bicaranya sangat lucu. Membuatku ingin tertawa saja. Kuputar kedua bola mataku. Pada putaran kedua, aku sudah mendapat apa yang aku cari. Ide.

“Kau tau, siapa ini?” tanyaku lagi sambil mengacungkan selembar foto di hadapannya.

“Ibu!” teriaknya kaget. Namun, ia segera menutup mulutnya dengan tumpukan tangannya. Sebelum ia bergegas pergi, aku segera menahannya terlebih dahulu, “jangan takut! Aku bukan orang jahat. Aku orang baik!” seruku padanya. “Aku teman ibumu,” tambahku.

Perlahan, ia mulai mendekat lagi padaku. “Naah, anak baik, apa kau bisa dipercaya?” kataku dengan nada yang dibuat-buat, sekedar untuk mengakrabkan diri padanya. Ia mengangguk mantab. “Kalau begitu, bisa katakan pada ibumu, kalau paman Yesung masih menantinya seperti pesannya dulu. Bisa?”

“Em!” ia mengangguk dan mengacungkan satu ibu jarinya. Dia begitu manis, sama seperti ibunya. “Tunggu. Tapi jangan beri tahu siapa pun ya.. cukup kau, paman, dan ibumu yang tau. Mengerti?” lanjutku. Ia mengangguk lagi.

“Karena kau sudah baik membantuku, paman akan memberikan hadiah untukmu!” ungkapku lalu memberikannya sebatang lollipop yang tadinya berada di dalam saku celanaku. Ia menerimanya dengan wajah yang sumringah. Aku mengacak rambutnya pelan dan membiarkannya pergi.

***

Now.

Tokyo, 1 April 2015

Begitu cepat waktu berlalu. Kini aku sudah sampai pada hari ini lagi. Akhir-akhir ini, aku tidak mengikuti berita yang disiarkan pemerintah tentang hanami. Entahlah.

Senja telah menantiku. Aku bersandar di tempat yang sama seperti tepat beberapa yang lalu. Menikmati semilir angin yang menemani mekarnya sakura. Aku terhenyek. Terngiang akan sesuatu. Apa anak itu sudah menyampaikan pesanku? Semoga saja. Kini aku hanya tinggal menunggu keberuntungan.

Kunikmati terpaan hangat sinar mentari dengan memejamkan kedua mataku. Satu tanganku belum keluar dari satu kantong celanaku. Mungkin ini sudah menjadi kebiasaanku.

Samar-samar, kudengar suara sepatu yang terseok-seok mendekat ke arahku. Kubuka kedua kelopak mataku perlahan-lahan. Ternyata, sinar sang mentari tengah menyinariku. Tepatnya wajahku, membuat mataku sedikit terpejam beberapa saat oleh cahanyanya yang terlalu terang.

Kuluruskan pandanganku ke arah suara tersebut. Semakin lama semakin jelas. Walau masih cukup jauh, jantungku sudah berdegup kencang. Kulangkahkan kakiku perlahan menuju sumber suara tadi.

Semakin dekat.. dekat.. dekat..

Jantungku memompa darah lebih cepat. Sangat cepat dari biasanya. Entah apa yang kurasakan. Senang, terharu, bahagia, entahlah. Aku mendekat ke arahnya agar bisa melihat dengan jelas sunggingan senyumnya. Kini ia benar-benar ada di hadapanku!

Tunggu.

Aku mematung sejenak. Kuangkat tangan kananku untuk menggapainya, mengelus permukaan pipinya. Namun.. kosong! Ia lenyap.

BRAGH!

Tubuhku lemas. Aku roboh. Berlutut di atas hamparan sakura yang berjatuhan. Sekarang, hanya kedua tanganku yang menopang beban tubuhku. Bola mataku terfokus pada satu titik di tanah.

Ilusi. Begitu kesimpulan yang ditarik batinku.

Tubuhku berubah kaku. Seperti ada sesuatu yang tiba-tiba menghampiri pikiranku. Aku tersentak. Sadar.

Namun..  kenapa aku baru menyadari sekarang? Menyadari bahwa ia tak menganggapku lebih. Menyadari bahwa yang kulakukan tak ada gunanya. Menyadari kalau cintanya terlalu indah untuk kumiliki. Menyadari bahwa.. aku tak pantas mencintainya.

Setitik air mata meluncur dari mataku dan jatuh merembes ke tanah. Aku meremas dedaunan dan bunga yang berserakan di bawahku. Bersamaan dengan itu, pohon sakura yang berada tepat di belakangku menggugurkan bunganya yang tertiup angin dan menghujani diriku.

Fallen flower.

Inikah akhir kisah cintaku?

-FIN-

Aneh? Gaje? Lebe? Ngegantung?

Itulah saia😄 *plakplakplak

Shin1’s Note: Dilarang Cabut Tanpa Meninggalkan Jejak sedikit pun !!!

4 responses to “[FREELANCE] Fallen Flower

  1. setia banget yeppa tuh orangnya….n romantis abis nunggunya aja dibawah pohon sakura sambil hanami….tapi kasian banget yang ditemui cuma anaknya yeoja itu n ilusi bertemu ma yeoja itu😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s