[Korean Fanfiction] The Twins (Mini Series) chapter 1

Author : Lee Hyura

Title : Twins

Genre : Romance, Friendship, Fantasy

Rating : PG

Length : 2shoots

Cast :

–          Boyfriend Youngmin

–          Boyfriend Kwangmin

–          APink Namjoo

–          APink Eunji

–          Boyfriend Hyunseong

–          Boyfriend Jeongmin

–          Boyfriend Minwoo

–          Apink Chorong

Annyeong.. annyeong.. aku kembali~ ada yang merindukanku? :3
oke.. langsung aja..

===Twins===

 

“Namjoo-ah~” Namjoo menoleh saat namanya diteriakan oleh seseorang.

“Youngmin-ah. Mwoyeyo?” tanya Namjoo sambil tersenyum.

“Ini bukumu. Terima kasih sudah memberikanku contekan matematika,” ujar Youngmin sambil menyerahkan buku yang sedari tadi ia genggam.

Namjoo melirik bukunya dan menerimanya, “Ne.”

Youngmin tersenyum, “Kalau begitu, aku ke kantin dulu. Mau ikut?”

Namjoo menggeleng cepat, “Tidak. Aku masih ada urusan lain.”

“Geureyo. Bye.” Youngmin berlari meninggalkan Namjoo.

Namjoo hanya menatap kepergian Youngmin sambil tersenyum senang. Saat itu jantungnya berdetak dengan cepat. Memang walaupun Youngmin dan dirinya berbeda kelas, tapi mereka saling mengenal karena pernah sekelas. Dan sejak mereka sekelas itu pula Namjoo menyukai Youngmin.

“Menurutku Youngmin menyukaimu,” gumam sebuah suara yang membuat Namjoo tersentak kaget.

“Aigo~ kau mengagetkanku saja, Eunji-ah!” kesal Namjoo.

Eunji mengerjap lalu tersenyum jahil, “Kaget? Apa aku mengganggumu yang sedang berkhayal tentang Youngmin?”

“Ya! Aku tidak seperti itu! Itu hanya dilakukan oleh orang yang sangat mencintai seseorang. Yang pasti itu bukan diriku!” Namjoo menggembungkan pipinya kesal lalu pergi meninggalkan Eunji.

~*~*~

Han sangsaenim keluar dari kelas yang artinya hagwon di malam itu sudah selesai. Namjoo merapikan buku-bukunya dan menghela nafas sejenak sebelum akhirnya ia bangkit.

“Mau ke cafe?” tanya Eunji sebelum Namjoo pergi.

Namjoo menoleh dan mengangguk, “Ne..”

“Hati-hati ya saat melewati taman. Saat malam, anak-anak nakal banyak yang berkeliaran disana. Aku tak mau kau kenapa-napa,” tekan Eunji dengan wajah seriusnya.

Namjoo terkekeh dan menepuk pipi Eunji lembut, “Ne, ahjumma~”

Eunji terbelalak, “Mwo? Kau panggil aku apa?”

Namjoo langsung berlari pergi.

 

Namjoo pov.

Aku melewati taman yang sepi. Taman itu memang sepi di malam musim dingin seperti sekarang namun ramai saat malam musim panas. Aku mendengus pelan dan mempercepat jalanku saat melihat seseorang yang tidak asing bagiku sedang berkelahi dengan 2 pria.

“Bodoh!” desisku pelan.

“Siapa yang kau sebut bodoh?”

Aku terhentak kaget mendengarnya. Aku menoleh ke samping dan .. yang benar saja? Dia sudah ada di sampingku dengan sudut bibirnya robek. Aku segera mengeluarkan sapu tanganku dan menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya yang robek itu. Dia mendesis kesakitan dan merebut sapu tangan itu.

“Siapa lagi kalau bukan kau?” sinisku sambil kembali melangkah. Aku bisa merasakan ia mengikutiku dan berjalan di sampingku.

“Mwoya?” protesnya.

“Kau bodoh! Kenapa kau suka sekali berkelahi? Itu hanya dilakukan oleh orang yang bodoh!” kesalku.

“Karena dengan berkelahi, aku bisa melepaskan penatku.”

Melepaskan penat? Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat untuk menahan emosiku. Itu jawaban terbodoh yang pernah ku dengar. Rasanya aku ingin menamparnya sekarang juga. Tapi mengingat keadaannya sekarang, aku harus menahan keinginanku itu.

“Kau bisa melakukan hal lainnya untuk melepaskan penatmu,” gumamku pelan.

“Shireo. Aku hanya ingin berkelahi,” tegasnya.

Aku berhenti melangkah dan menghadapnya. Dia melakukan hal yang sama denganku. Setelah beberapa detik seperti itu, aku menamparnya. Kali ini aku sudah tak peduli!

“Aish.. ya!” protesnya sambil meringis dan mengelus pipinya.

“Ku rasa tamparanku tidak begitu sakit bagimu. Tamparanku bukan apa-apa dibandingkan dengan pukulan para berandal yang kau kalahkan tadi. Iya, kan? Lagipula bukankah ini yang kau inginkan? Aku baik, kan?” kataku dengan nada tinggi. Mungkin aku memang sedang mengomelinya.

“Ada apa denganmu, uh?”

“Ku mohon.. berhenti berkelahi..”

“Aku bosan kau memohon seperti itu. Bisa kau beri aku alasan mengapa aku harus berhenti berkelahi?”

Aku diam. Aku tahu jika aku mengatakannya, ia akan mengamuk. Aku takut.

“Kau tak mau menjawab?”

Aku mengulum bibirku ragu, “Kwangmin-ssi..”

“Kau membuang waktuku saja. Aku pergi saja. Masih ada sedikit urusan,” katanya sambil berlari meninggalkanku.

“Kwangmin-ssi!!” panggilku. Tapi dia tidak menoleh sama sekali.

Dia, Kwangmin adalah kembaran Youngmin. Mereka menyatu dalam satu tubuh. Memang mustahil jika memakai logika tapi itulah kenyataannya. Dan yang tahu tentang itu hanya Kwangmin dan aku.

Dapat dibilang aku pun yang pertama tahu soal seperti itu. Itu terjadi saat aku mengerjakan tugas kelompok di rumah Youngmin. Saat itu seluruh teman kami sudah pulang selain aku karena samchonku belum datang menjemputku. Dia masih sibuk di cafenya. Kebetulan aku menceritakan tentang itu kepada Youngmin yang saat itu sudah berubah menjadi Kwangmin.

Handphoneku bergetar. Aku segera mengangkatnya, “Yoboseyo..”

“Namjoo-ya~ neo eoddiseo?” tanya samchon.

“Aku baru sampai di taman dekat café. Tadi ada pelajaran tambahan jadi aku telat sampai,” jawabku –berbohong. Jelas-jelas saat hagwonku selesai, aku segera pulang tanpa ada pelajaran tambahan sebelumnya.

“Ppaliwa~ orangtuamu datang dan ribut mencari anak satu-satunya itu.”

“Appa dan umma disana?” pekikku senang. Aku disini memang tidak tinggal dengan orangtua melainkan tinggal dengan samchonku yang sudah duda. Orangtuaku itu tinggal di desa.

Samchon mendesis, “Haruskah aku menjawabnya?”

Aku terkekeh, “Ne, arasso.. katakan pada mereka kalau anak semata wayangnya ini sedang menuju kesana.”

 

Next day.

Aku melemparkan pelan tasku ke atas meja dan menghasilkan suara gaduh yang membangunkan Eunji yang sedang tertidur. Dia mengerjap lalu memicingkan matanya ke arahku sambil menggertakkan giginya kesal. Aku terkikik pelan.

“Annyeong~ pagi cerah, ya?” seruku menggodanya.

Dia melemparku dengan novel yang sedang ia baca, “Berisik!” itu membuat tawaku pecah. Aku suka sekali saat ia marah seperti itu. Lucu.

“Eunji-ya~ tahu tidak?” seruku. Dia menggeleng. Ugh dasar!

“Semalam orangtuaku datang,” ujarku bersemangat. “Tadi hari ini sudah pulang,” lanjutku.

“Lalu?” sahutnya tak peduli. Menyebalkan!

Aku mendesis, “Kau itu..”

“Namjoo-ya~” aku menoleh saat namaku disebut. Aku tersenyum saat melihat sosok Youngmin di pintu kelasku. Aku segera menghampirinya. Bisa ku lihat luka yang sudah mengering di bibirnya. Dia pasti bingung dengan luka itu. Kwangmin keterlaluan!

“Ne? Mwoyeyo?” tanyaku.

“Ini milikmu, kan?” ia memperlihatkanku sapu tangan yang ku pinjamkan pada Kwangmin semalam. Aku segera merebut.

“Ah, kau menemukannya! Gomaseumnida,” ujarku sambil berusaha tersenyum lebar. Semoga ia tidak curiga.

“Menemukannya?”

“Ne, maja. Sapu tanganku ini hilang dari kemarin. Tidak ku sangka kau yang menemukannya.”

“Tapi aku tidak menemukannya. Tiba-tiba itu ada di saku celana jeansku. Tapi tidak ingat aku mengambilnya,” jelasnya dengan ekspresi wajah bingung.

Aku terkekeh pelan, “Ne~ lupakan saja. Terima kasih, ya..”

“Ah, ne. Oh, ya! Kau punya acara besok sabtu?” tanyanya. Ada apa ini? Ia mau mengajakku kencan? Semoga..

Aku menggeleng cepat, “Eobseo. Wae?”

“Aku dan teman-temanku ingin pergi menginap di vila temanku. Aku benar-benar tidak sabar! Ini pertama kalinya orangtuaku mengizinkanku pergi dengan teman-temanku. Jadi apa kau ingin ikut? Aku boleh mengajak teman perempuanku karena perempuan yang ikut masih sedikit jadi para perempuan itu tidak mau ikut.”

Aku mengerjap. Menginap? Itu artinya.. oh tidak! Jangan sampai Kwangmin membuat masalah saat acara itu! Tapi untuk mencegah hal itu terjadi, aku harus mecegah Youngmin pergi? Itu tidak mungkin! Dia pasti curiga. Ah eotteokhe? Apa aku ikut saja? Bukankah selama ini Kwangmin menjadi anak baik selama didekatku?

“Aku mau! Aku pasti menerimanya! Pasti..” tegasku sambil mengangguk mantap.

Dia terkekeh dan mengacak rambutku pelan, “Geure.. semakin lama, kau semakin lucu saja..” pipiku panas mendengarnya. Dia memang selalu berhasil membuatku melayang.

 

Author pov.

“Bagaimana jika hari ini jangan langsung pulang. Kita ke café saja! Aku tahu café yang asik tapi murah. Eotteo?” usul Jeongmin.

Youngmin mendesah pelan, “Aku tidak bisa.”

“Wae?” tanya Hyunseong.

“Kalian kan tahu sendiri kalau aku harus sampai di rumah sebelum matahari terbenam. Kalau tidak, umma akan marah. Mianhae,” jelas Youngmin.

“Apa kau tidak bosan harus pulang di saat siswa lainnya mungkin masih ada di sekolah untuk mengikuti hagwon atau menghabiskan waktu di tempat-tempat para remaja?” celetuk Minwoo sambil melepaskan earphone yang sedari tadi ia gunakan.

“Tentu saja bosan.” Youngmin mendesah pelan.

“Kalau begitu, ikut saja. Tidak mengikuti perintah ummamu tidak akan membuatmu mati,” ujar Minwoo asal. Jeongmin segera menoyornya.

“Ya! Aish.. apho, hyung!” ringis Minwoo.

“Jangan dengar apa perkataan orang ini. Kau pulang saja,” kata Jeongmin.

“Apa-apaan kau ini, hyung?! Tadi kau yang mengajaknya ke café lalu sekarang kau yang menyuruhnya pulang. Payah,” cibir Minwoo kesal.

“Kau diam saja!” tekan Jeongmin.

“Ya~ sudahlah.. baiklah aku ikut. Ku kira umma akan memaafkanku. Ini kan yang pertama kalinya,” kata Youngmin. Minwoo langsung menjulurkan lidahnya ke Jeongmin sedangkan Hyunseong terkekeh.

 

Kwangmin pov.

Aku terkejut karena saat sadar, aku berada di sekitar orang-orang yang tidak ku kenal. Mereka sedang becanda ria. Sial! Apa yang dilakukan orang itu? Menyusahkanku saja! Aku segera bangkit dan pergi meninggalkan mereka.

“Youngmin-ah~! Eoddiga? Ya!” teriak mereka.

Aku mengepalkan tanganku. Ingin rasanya aku berteriak kalau aku adalah Kwangmin bukan Youngmin! Argh!

BRUK!

Sepertinya karena sibuk menenangkan diri, aku menabrak seseorang. Aku hendak marah tapi aku menyadari orang yang ku tabrak adalah Namjoo. Ah, yeoja ini.. aku segera membantunya bangkit. Aku baru sadar kalau ini adalah café samchonnya.

Dia tersenyum manis. Ini pertama kalinya ia tersenyum padaku. “Youngmin-ah~” serunya.

Aku mengerjap, “Mwo?”

“Wae? Apa aku salah?” tanyanya.

Aku mengepalkan tanganku dan membuang muka. Youngmin.. Youngmin.. dan Youngmin.. bagaimana bisa ia memanggilku Youngmin? Harusnya ia sudah tahu apa perbedaanku dengannya setelah selama ini dia dekat denganku dan dia. Yeoja ini memang selalu berhasil membuatku kesal. Argh!

“Ah.. Kwangmin-ssi?” ia berbisik. Dari nadanya, sepertinya ia kaget.

Aku tersenyum sinis padanya, “Ne~”

Dia langsung membungkukkan badan, “Ah.. mianhae..”

Aku hanya menghela nafas dan memutar mataku. Aku berjalan melewatinya namun tanganku ditahan olehnya.

“Mau kemana?” tanyanya.

Aku menghela nafas, “Hari ini aku sudah berjanji ingin membantu temanku menyelesaikan masalahnya dengan musuhnya.” Tiba-tiba tanganku digenggamnya kuat.

“Bisakah kau berhenti melakukan itu? Secara tak langsung kau menganiaya dirimu sendiri dan dia!” bentaknya.

Aku terbelalak. Lalu ku tatap dia dengan tajam, “Yang sebenarnya kau cemaskan adalah Youngmin-mu, kan?”

“Kwangmin-ssi..”

“Berhenti memanggilku ‘Kwangmin-ssi’! Kenapa hanya aku? Kenapa kau memanggilnya ‘Youngmin-ah’ sedangkan aku tidak?” bentakku. Bisa ku lihat dia terkejut.

“K-Kwangmin-ssi..”

Aku mendengus, “Kenapa di otakmu hanya ada dia, dia dan dia? Apa yang pernah ia lakukan padamu, uh?”

“Ada apa denganmu? Kenapa setiap aku memintamu untuk berhenti dengan alasan seperti itu, kau berpikir itu karena aku mencemaskan Youngmin? Aku mencemaskanmu dan kasihan dengannya! Hanya itu!” jelasnya lalu menjilat bibirnya.

Aku tersenyum, “Mencemaskanku? Kau menyukaiku?”

Dia mendesah sinis, “Bermimpilah!”

 

Author pov.

“Hyung, kau lihat itu?” tanya Minwoo sambil memperhatikan Youngmin—yang sudah berubah menjadi Kwangmin—dari meja mereka.

“Ne.. Youngmin memang dekat dengannya, bukan?” sahut Hyunseong.

“Bukan itu.. tapi yeoja itu mengomeli Youngmin. Biasanya yeoja itu selalu lembut pada Youngmin bahkan terkesan malu-malu. Aneh..” ralat Minwoo.

“Sepertinya begitu. Youngmin juga sepertinya aneh, ya?” timpal Jeongmin.

“Aneh…” gumam Minwoo dan Hyunseong bersamaan.

 

Saturday.

Namjoo satu mobil dengan Youngmin. Ia hanya tersenyum atau sesekali tertawa mendengar Youngmin dan teman-temannya melawak. Atau mungkin ia menawarkan makanan yang disiapkan oleh koki café samchonnya.

Sesampainya di vila, Youngmin segera menariknya ke dalam vila. Sementara yang lain menyoraki mereka. Namjoo hanya terkekeh pelan.

“Annyeonghaseyo,” sapa seorang yeoja dengan senyuman manisnya.

“Annyeong, Chorong-ah~” balas Youngmin dan teman-temannya. Hanya Namjoo yang tidak karena dia tidak kenal dengan yeoja itu.

“Dia sepupunya Hyunseong, pemilik vila ini,” bisik Youngmin.

“Ah, ne.. arasso,” balas Namjoo.

Namjoo menarik kopernya ke arah sofa dan menghempaskan diri di sofa itu. Sepupu Hyunseong—Chorong—duduk disampingnya.

“Kau pasti sangat dekat dengannya,” celetuk Chorong.

Namjoo menoleh, “Dengan siapa? Youngmin?”

Chorong tersenyum dan mengangguk, “Maja. Sepertinya kau dekat sekali dengannya.”

“Aku pernah sekelas dengannya. Dan akhir-akhir ini aku memang sedang dekat dengannya hanya karena sesuatu,” jelas Namjoo.

“Sesuatu? Pasti rahasia,” seru Chorong lalu terkekeh. “Oh iya, siapa namamu?”

“Namjoo imnida..”

 

At evening.

Namjoo yang asik berbincang dengan para yeoja lainnya segera memisahkan diri dan menarik Youngmin menjauh. Namjoo membawa Youngmin keluar dari vila, di perbatasan luar hutan yang ada di sekitar vila itu. Saat itu tepat saat matahari terbenam.

“Err.. neon gwencana?” tanya Namjoo sambil menepuk pipi Youngmin pelan saat Youngmin seperti kehilangan kesadaran tapi tetap bisa menjaga keseimbangannya.

Youngmin menggenggam tangan Namjoo dan tersenyum tipis, “Seorang Cho Kwangmin pasti baik-baik saja. Jarang sekali kau mengkhawatirkanku seperti ini.”

“Sudah ku duga dia sudah berubah menjadi kau,” balas Namjoo menggerutu.

“Wae? Kau tidak suka?”

Namjoo mendesah pelan, “Tidak seperti itu.. aku minta kau untuk menjaga sikapmu. Jangan merusak penilaian para sahabatnya terhadap Youngmin. Ara?”

“Ne?” Kwangmin mengernyit. “Apa maksudmu? Ah iya! Dimana ini? Kenapa aku tidak ingat kalau ada tempat seperti ini Seoul?”

Namjoo menarik tangannya dan terkekeh, “Babo. Tentu saja kau tidak kenal tempat ini. Ini di vila temannya, Hyunseong. Itu sebabnya aku memintamu untuk menjaga perilakumu.”

“Mwoya?! Apa-apaan orang itu? Apa dia tidak tahu kalau hari ini aku sudah mempunyai janji untuk tawuran?? Aish!!” runtuk Kwangmin.

Namjoo mengulum bibirnya kesal lalu berkacak pinggang, “Babo! Kenapa di otakmu hanya ada perkelahian saja? Aish..” Namjoo melayangkan satu toyoran ke kepala Kwangmin. Kwangmin meringis pelan karenanya.

“Geure! Aish kau ini yeoja yang kasar rupanya. Huh! Kkaja, kita masuk!” Kwangmin menarik tangan Namjoo ke arah rumah yang ada di dekat mereka.

“Tapi kau ingatkan apa permintaanku?” tanya Namjoo.

Kwangmin berbalik dan mendesah pelan, “Ne~”

 

Next day.

Pagi itu mereka semua bersiap untuk pergi ke perkebunan keluarga Hyunseong dan berniat bermain disana sampai sore. Youngmin menghela nafas dan memperhatikan kalungnya. Kalung yang berbandul seperti Yin dan Yang yang bersatu.

“Wae?” tanya Jeongmin.

Youngmin menghela nafas lagi, “Kalau kita disana, apa kita akan kotor-kotoran seperti tahun lalu?”

“Tentu saja!” tegas Jeongmin.

“Kalau begitu aku simpan saja kalungku ini. Kalau kalung ini kotor, aku akan sakit,” gumam Youngmin.

“Ya tuhan, Youngmin-ah.. itu hanya untuk menipumu. Tahun lalu saat kalung itu kotor lalu kau sakit, itu hanya kebetulan. Begitu pula dengan kejadian yang serupa lainnya. Percaya lah..” yakin Jeongmin.

“Jinjja? Ah tetap saja aku tidak yakin. Aku merasa kalung ini memang mempunyai magic.”

Jeongmin mendesah, “Terserahmu lah! Lagipula tanpa kalungmu itu, kau terlihat sedikit lebih jantan.”

“Ne? Apa maksudmu?”

 

Namjoo pov.

Kami menghabiskan waktu di perkebunan Hyunseong. Itu menyenangkan. Tapi aku merasa aneh setiap melihat Youngmin. Terutama saat aku melirik lehernya. Ada yang aneh.

“Youngmin-ah~ sepertinya ada yang lain,” celetukku saat kami membersihkan tangan dan kaki untuk bersiap makan siang.

“Ne? Benarkah? Mungkin karena aku tambah tampan,” sahutnya.

Aku menoyornya pelan dan terkekeh, “Percaya diri sekali kau!”

“Aku tahu aku benar..” yakinnya menyibir.

“Aku yakin ada yang aneh. Terutama di lehermu.”

“Ah mungkin maksudmu itu kalungku.”

Aku mengerjap, “Kalungmu?”

“Ne. Aku melepaskan kalungku.”

Aku terdiam. Ada rasa yang aneh di hatiku. Perasaanku tidak enak. Ada apa ini?

 

===Twins===

 

Nyadar ga kalo dari Boyfriend, cuma sang Leader Donghyun yang ga ada? Nanti dia muncul di last shoot :3
Mian kalau ceritanya membosankan bahkan tidak dimengerti. Jeongmal jwoisonghamnida *deep bow
Di last shoot, aku coba perbaikin deh. Kalkke ^^

10 responses to “[Korean Fanfiction] The Twins (Mini Series) chapter 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s