[Korean Fan Fiction] A Love Journey – Part 1

Author : Mira a.k.a Mira Hyuga

Main Cast : Kim Kibum (Key), Lee Hyebin (as YOU)

Support Cast : find it yourself *males/bletakk!*

Length : Sequel?

Genre : Romance, Friendship

Rating : G/PG

Disclaim : I don’t own all of cast, they belongs to themselves. But the plot is mine… ^^ Kalo ada yang sama, bukan suatu kesengajaan🙂.

Summary : Sepasang kekasih yang baru saja merayakan 1 tahun hubungan mereka mengalami sebuah kecelakaan yang tanpa diduga. Ditambah lagi, mereka harus menghadapi masalah lain yang bahkan mereka sendiri tidak sadar masalah itu mengganggu hubungan mereka. Ketidak sadaran mereka ini membuat pihak ketiga berpikir untuk menganggapnya sebagai kesempatan yang harus dimanfaatkan.

A/N : Sebelumnya, maaf aku baru ngepost sekarang! >,< Soalnya kemaren2 sibuk UAS dkk(?). Maaf, ya! *bow* Oh iya, FF ini juga dipublish di http://96fanfictions.wordpress.com Silahkan visit!😀

Happy reading! ^^

>>><<<

PART 1

…Seoul Hospital, 02:08 AM…

Begitu sebuah ambulan tiba, gerombolan wartawan itu segera merapat menyerbu untuk mendapatkan gambar orang yang dibawa ambulan tersebut. Key, salah seorang anggota boyband SHINee, mengalami sebuah kecelakaan malam itu. Pemuda inilah yang memancing wartawan-wartawan itu untuk berkumpul dan mengumpulkan infonya selengkap mungkin. Sementara itu, ambulan yang lain pun berhenti tepat di samping ‘ambulan Key’. Namun untuk korban kecelakaan (juga) yang satu ini, tidak ada satupun blitz kamera yang menyambutnya, kecuali para petugas medis yang berupaya menyelamatkannya, tentu saja. Mereka bergegas membawa masuk korban yang adalah wanita ini, dan tidak lama kemudian disusul oleh petugas-petugas lain yang membawa masuk Sang Idola. Keduanya mendapat luka yang lumayan serius, sehingga tak sadarkan diri.

Beberapa lama setelah itu, member SHINee yang lain—Onew, Jonghyun, Minho dan Taemin—beserta manager mereka datang bersamaan. Sama halnya dengan Key tadi, mereka pun langsung disambut dengan blitz kamera dan dihujani berbagai pertanyaan. Keempatnya jelas terlihat khawatir.

“Key, dia pasti baik-baik saja.” Cetus Onew dengan senyum simpulnya, kemudian dia pun memasuki gedung rumah sakit, menyusul yang lainnya, yang sudah lebih dulu masuk.

>>><<<

…08.34 AM…

Di ruangan serba putih inilah Key berakhir. Dia mendapat beberapa lilitan perban di sekitar kepala, bahu sampai lengan kanan, dan lutut hingga mata kaki kaki kanannya karena luka dalam/ cukup serius, sementara pada sekitar wajah dan bagian tubuhnya yang lain terdapat luka ringan, serta penyangga leher sebagai pelengkap (?). Sungguh bukan pemandangan yang indah *-_-*. Itulah pendapat Jonghyun saat ia bersama member SHINee yang lain melihat keadaan Key untuk pertama kalinya pada dini hari tadi. Member yang dijuluki ‘Bling bling’ itu jugalah yang sekarang tetap di ruang rawat Key, sementara yang lainnya pergi mengurusi urusan lain.

Jonghyun yang sedang meregangkan otot-ototnya dan hendak menguap lebar berhenti di tengah jalan (?) begitu melihat Key mulai menunjukkan tanda-tanda sadar. Dia bergegas menggeser kursi yang didudukinya agar lebih mendekat pada Key. “Kibum-ah…?”

“Ngh~” Key yang sudah membuka kedua matanya bergumam pelan dan memusatkan pandangannya ke arah Jonghyun sambil agak meringis dan mengerutkan dahinya. Awalnya pandangannya buram, namun beberapa detik kemudian berangsur baik, dan terlihatlah Jonghyun di sana. “Hyung…”

“Ne… Kau sadar? Gwaenchana?”

“Mmm~” Key hanya menggumam (lagi). Penyangga leher itu membuatnya kesulitan mengangguk.

Jonghyun mengusap dadanya berkali-kali dan menghembuskan napas lega, “Huuh~kuharap itu artinya ‘ya’. Syukurlah… Kau membuat kami khawatir, tau..!?”

Key mulai memandang sekitarnya, tidak menghiraukan omelan Jonghyun. Dan dia meringis karena merasakan sakit di sekitar bahu kanannya ketika hendak bangkit menjadi duduk dengan bertopang pada bagian tubuhnya itu.

“Waegurae?” tanya Jonghyun, mulai was-was lagi.

“Hyung…”

“Oo~”

“Kenapa aku bisa seperti ini?” wajah Key terlihat amat bingung.

“Kecelakaan… Kau tidak ingat?”

“Eh?” jawaban itu membuat Key mengerutkan dahinya, merasa lebih bingung.

“Coba ingat-ingat lagi..!”

Hening. Key memejamkan kedua matanya, berusaha mengingat-ingat. Lama dia seperti itu, tanpa membuat gerakan-gerakan lain, hingga membuat Jonghyun mengira Key pingsan lagi (.___.). Tapi perkiraan itu langsung hilang saat Key berbicara dengan mata tetap terpejam, “Samar-samar.”

Jonghyun berjengit heran untuk sejenak, “Samar-samar?” tapi kemudian menunjukkan ekspresi datar lagi, dan bertanya seolah mengharapkan lebih, “Lalu?”

“Eh?” bersamaan dengan keheranan Key, terdengar suara pintu yang dibuka dan langkah kaki seseorang.

“Jjong-ah…!” suara Onew pun terdengar. Dia melangkah mendekati Jonghyun dengan kantung plastik di kedua tangannya. Sebenarnya sang leader keluar sebentar untuk mengantar Taemin ke sekolahnya, sekalian membeli makanan untuk sarapan.

Jonghyun memberi isyarat pada Onew dengan mengedikkan kepalanya ke arah Key.

“Aigo~Key! Kau sadar?” seru namja bermata sipit itu dengan senyum khasnya. Key yang baru menyadari keberadaan Onew hanya tersenyum simpul. “Aah~syukurlah. Kau lapar? Haus? Atau butuh sesuatu?” tanya Onew sambil meletakkan kantung-kantung plastik tadi di atas meja di samping ranjang Key, yang segera disambar Jonghyun dengan berapi-api (o.O).

“Hyung…” panggil Key tanpa menghiraukan tawaran Onew tadi.

“Ne?” sahut Onew singkat.

“Apa aku melupakan sesuatu? Sepertinya ada yang kulupakan, tapi tidak tahu apa itu.”

“Mworago?” kedua hyung’nya itu menyahut bersamaan. Onew menatap Jonghyun yang berdiri di belakangnya, seolah menanyakan apa-yang-baru-saja-terjadi? Dan dijawab dengan kedua bahu yang terangkat. “Key, apa maksudmu?”

“Molla. Hanya saja… sepertinya ada yang kurang.”

Lagi-lagi Onew menoleh ke belakang untuk menatap Jonghyun yang ternyata mulai sibuk dengan makanannya. “Minho?” gumamnya, bermaksud menebak apa yang dilupakan Key.

“Aah~Minho… kemana dia?”

“Aku juga tidak tahu. Tapi sepertinya dia keluar sebentar.” Jawab Onew datar. Namun ia merasa heran karena Key terlihat belum puas dengan jawabannya. Entah karena Key belum merasa pasti bahwa sesuatu yang dilupakannya adalah Minho, atau karena sesuatu yang lain? “Wae?” tanya Onew akhirnya.

“Nng~” Key memegang kepalanya yang tiba- tiba terasa sakit. “Ani.” Ujarnya pelan.

“Oh~! Aku baru ingat…!” ucap Jonghyun sambil berusaha menelan sisa makanan yang masih berada di dalam mulutnya. “Tadi Minho meminta izin untuk menjenguk Hyebin. Hyung, kau berencana akan men..” Jonghyun menghentikan kalimatnya karena dia melihat Onew memberinya isyarat agar diam.

“Pabo! Jangan dulu membicarakan Hyebin. Key bisa khawatir, kau tahu? Padahal kondisinya sendiri masih lemah begini..” desis leader mereka itu. Jonghyun hanya mengangguk patuh dan kali ini benar-benar menelan habis sisa makanan di mulutnya.

“Hyebin?” gumam Key lemah. Mendengar itu, Onew dan Jonghyun langsung siaga, bersiap mendengar seruan khawatir Key dan mencegah namja itu untuk tidak dulu beranjak dari tempat tidurnya. Tapi… “Siapa Hyebin?” lanjut Key, sukses membuat Onew membeku di tempatnya dan Jonghyun tersedak hebat.

“MWORAGO??!” seru mereka bersamaan dengan mata yang sama-sama membelalak lebar.

“Siapa itu… Hyebin?”

>>><<<

Minho termenung di samping seseorang yang terbaring dengan mata terpejam di atas ranjang itu. Pria ini menghela napas beberapa kali karena khawatir melihat keadaan orang itu yang bisa dibilang cukup parah. Perban putih yang melingkar di kepalanya jadi berwarna merah karena dirembesi darah yang keluar dari luka di kepalanya itu, dan Minho mendapat informasi bahwa ada beberapa buah tulang rusuk gadis ini yang patah, sehingga membuatnya bernapas dengan bantuan alat.

Minho semakin mengeratkan genggaman tangannya pada tangan yang sudah dipasangi gelang pasien bertuliskan ‘Lee Hyebin’ itu. “Kau tahu? Kalau sejak awal kau bersamaku, ini tidak akan terjadi, aku akan melindungimu. Lihatlah kau sekarang…! Keadaanmu bahkan lebih parah dari si bodoh itu.” ujarnya pelan sambil menyentuh pipi Hyebin dengan tangannya yang lain.

Untuk ke sekian kalinya, hanya hening yang menyelimuti ruangan itu. Minho kembali menghela napas dan melanjutkan perkataannya, “Seharusnya kau bersamaku. Seharusnya aku yang memilikimu.” Tangan kirinya terus bergerak mengelus pipi gadis itu, dan tangan kanannya semakin erat menggenggam tangan Hyebin.

Hening.

“Key. Kenapa malah Key dan bukan aku?” kali ini Minho menyunggingkan senyum miris di bibirnya. Tapi dia berhenti mengelus pipi Hyebin karena melihat yeoja itu mengerjapkan matanya perlahan dan mulai membuka matanya.

“Lee Hyebin…! Kau sadar?”

Hyebin tidak langsung merespon. Dengan mata masih setengah terpejam, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan terlebih dahulu dengan perlahan, dan berhenti tepat saat menatap Minho.

“Hyebin-ah..!”

Beberapa detik kemudian, satu kata meluncur dari bibir tipis gadis itu, yang lebih terdengar seperti bisikan, apalagi terhalang alat bantu pernapasan yang dipakainya, namun bisikan itu mampu membuat Minho membelalakkan mata bulatnya. “N-nugu…seyo?”

>>><<<

…09.33 AM…

Jonghyun, Onew dan seorang pria lain yang menjabat sebagai manager mereka sama-sama menatap Key dengan pandangan jengah, panik sekaligus kurang percaya.

“Key… seriuslah sedikit…!” ujar sang manager, entah untuk yang keberapa kali—sejak dia baru saja datang tadi.

Key yang sekarang duduk bersandar ke kepala ranjangnya itu balas menatap mereka dengan pandangan bingung atau bisa juga dikatakan linglung atau apalah itu yang sejenisnya. Dia membuka bibirnya yang kini sedikit terluka itu, kemudian berujar pelan, “Tapi… aku benar-benar tidak tahu. Aku… tidak mengerti.”

Onew dan sang manager saling bertukar pandang beberapa saat, sementara Jonghyun menghembuskan napas panjang dan menatap Key dengan sedikit prihatin, “Kalau begitu, seharusnya kau juga tidak ingat lirik lagu Ring Ding Dong dan gerakan dance-nya, kan?” celetuknya tiba-tiba. Hal itu melintas di pikirannya begitu saja.

“Ring Ding Dong? Lagu macam apa itu?” lagi-lagi Key menunjukkan ekspresi bingungnya.

“Aigoo~sudah kuduga…! Padahal itu mudah diingat tapi sulit dilupakan, apalagi oleh kita sebagai pemilik lagu itu sendiri.” cerocos Jonghyun lagi, sedangkan Onew mengiringi (?) ocehan namja berambut blonde itu dengan menunjukkan gerakan dance Ring Ding Dong pada Key yang malah memperdengarkan suara tawa teredam karenanya.

“Aku kira lagu kita… Noona Neomu Yeppeo..?” kata Key, terdengar kurang yakin dari nada bicaranya.

“Mworago?” pandangan-pandangan aneh itu terpusat seluruhnya pada Key. “Key, kau bercanda…” ujar Onew.

“Kurasa… malah kalian yang bercanda, hyung.” balas Key yang memang merasa lebih bingung dari orang-orang yang sedang berada di hadapannya saat ini. Saking merasa bingungnya, Key merasa kepalanya terkadang berdenyut nyeri. Bahkan dia juga membingungkan warna dan gaya rambut Onew dan Jonghyun yang tiba-tiba saja sudah berubah demikian rupa, berbeda sekali dari yang sering dilihatnya, setidaknya sejak dirinya baru membuka mata dan sadar sepenuhnya tadi. Dan lagi Key merasa ada yang masih janggal di pikirannya. Entahlah, mungkin hanya rasa penasarannya yang tiba-tiba muncul, ingin tahu apakah Minho dan Taemin juga mengalami perubahan atau apa?

BLAMM!

Keempatnya dikejutkan oleh suara pintu yang terbuka kasar. Sejurus kemudian, mereka melihat Minho masuk dan langsung menghampiri Key dengan langkah lebar seolah terburu-buru. Dan mereka kembali dikejutkan oleh namja itu, yang tanpa diduga sebelumnya, menarik sweater yang dikenakan Key tepat di bagian yang menutupi lehernya. Kedua mata Minho tampak berkilat marah menatap Key yang hanya bisa meringis merasakan sakit di bahunya yang sedikit terguncang karena tarikan Minho.

“Minho-ya!” seru Onew sedikit panik.

“Ya, ya, ya! Apa yang sedang kau lakukan?” sang manager ikut bermaksud menengahi.

“Kau…” umpat Minho sembari menggertakkan giginya, dan tangan kanannya sudah bersiap melayangkan sebuah atau bisa juga beberapa pukulan untuk Key, sementara Key sendiri hanya balas menatap Minho bingung.

Onew yang sadar suasana yang kini menyelimuti mereka mulai memanas, segera menghampiri Minho dan menahan tangannya yang sudah terkepal dan hampir mengenai wajah Key. “Ya! Kau bercanda?!”

“Minho! Apa masalahnya? Bicarakan baik-baik…! Lihatlah,  Key masih belum pulih…!” kata manager mereka lagi. Dia melepaskan tangan kiri Minho yang masih mencengkram sweater Key.

“Kau… Karena kau! Hyebin! Kau tahu bagaimana keadaan Hyebin sekarang?! HEH??!” Minho berusaha memberontak dari pegangan Onew, Jonghyun dan manager mereka sambil berseru menunjuk Key.

“Tenang dulu, Minho…! Kita bicarakan baik-baik! Ingat ini rumah sakit..!” ucap Jonghyun, yang pada akhirnya membuat Minho dengan sekuat tenaga melepaskan pegangan mereka di lengan dan pundaknya.

“Yaissshh~!!” umpat Minho lagi, namun kali ini sambil melangkah keluar dari ruangan Key dengan Onew yang mengikuti di belakangnya.

Key menatap keduanya dengan pandangan bertanya-tanya dan sedikit meringis karena kali ini bahunya terasa lebih sakit dan kepalanya berdenyut nyeri. “Hyung, apa aku melakukan kesalahan?” tanyanya pada dua orang yang masih berada di sana.

Jonghyun menggelengkan kepalanya, “Kurasa tidak.” Jawabnya singkat.

“Ck~aku bahkan tidak mengerti apa yang dikatakan Minho.” Sang manager juga sepertinya agak merasa bingung. “… Key, gwaenchana?” tanyanya pada Key, yang segera dijawab dengan gelengan kecil.

“Tapi kenapa Minho terlihat semarah itu padaku? Lalu… Hyebin? Keadaan Hyebin apanya? Apakah aku sudah melakukan sesuatu yang salah pada Hyebin? Oh~apakah… Hyebin itu… yeojachingu Minho?”

>>><<<

Minho menghempaskan tubuhnya di atas sebuah kursi di depan sebuah ruangan yang berjarak cukup jauh dari kamar Key. Wajahnya masih terlihat marah, lelah sekaligus khawatir. Onew yang sedari tadi mengikutinya mendekati Minho dan ikut duduk di sampingnya, menunggu Minho menstabilkan emosinya kembali di tempat yang sepi itu.

“Hhh~” beberapa saat berlalu, dan pada akhirnya mereka menghembuskan napas berat secara bersamaan. “Merasa lebih baik?” tanya Onew sambil menatap Minho dan tersenyum.

“Ck~entahlah. Perasaanku kacau sekali rasanya.” Jawab Minho pelan.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Ada apa dengan Hyebin?”

“Hyebin…” Minho menghela napas lagi, sambil mengubah posisi duduknya, menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi dan memejamkan kedua matanya, menelan ludah sebelum kemudian melanjutkan, “… kurasa dia amnesia. Karena kecelakaan itu.”

“M-mwo? Mworago?” pekik Onew. Entah sudah berapa kali dia mengucapkan kata itu karena beberapa kali juga menemui hal-hal yang mengejutkan di hari ini… ah, bukan, di pagi ini tepatnya.

“Keurae. Saat baru sadar, dia tidak ingat namaku, bahkan namanya sendiri. Dokter sudah memeriksanya.” ungkap Minho datar, namun Onew masih bisa menangkap nada khawatir dan ada juga sedikit nada kesal dalam suara berat itu.

“Tapi… apa sebabnya kau menyalahkan Key?” tanya Onew lagi, lebih terdengar hati-hati, karena bisa saja topik yang satu ini—untuk saat ini—menjadi agak sensitif bagi Minho.

“Aku tahu, Key yang meminta Hyebin keluar bersamanya tengah malam kemarin. Entah untuk apa. Tapi dini hari tadi, kita tahu sendiri mereka mengalami sebuah kecelakaan, dan kurasa itu karena Key… tidak bisa melindungi Hyebin dengan baik.” Minho kembali mulai mengeraskan rahangnya saat mengucapkan kata-katanya yang terakhir.

“Apa maksudmu? Melindungi bagaimana? Kau tahu sendiri Key juga terluka.” Sanggah Onew, kurang setuju.

Hal itu membuat Minho mendadak berdiri dan berkacak pinggang menatap Onew, “Tapi keadaan Hyebin lebih parah..!! Kau bisa lihat sendiri kalau tidak percaya padaku.” Katanya menantang dengan suara yang agak meninggi.

“Pelankan suaramu..!” Onew segera mengingatkan sambil menyapukan pandangannya ke sekelilingnya, khawatir ada yang menguping pembicaraan mereka. Beberapa saat kemudian, Minho kembali duduk di kursinya, terlihat kembali mengendalikan amarahnya.

“Kurasa kau juga harus tahu, bahwa Key juga sepertinya tidak bisa mengingat apapun yang terjadi selama dua tahun terakhir ini.” ucap Onew kemudian. Dia kembali menatap Minho dan menunggu reaksi dari namja di sebelahnya itu.

“Maksudmu?”

“Apa kau tidak menyadari tatapan bingungnya tadi? Dia hanya mengingat masa-masa kita ketika baru debut dua tahun yang lalu, seolah-olah itu baru terjadi kemarin. Dan seingatku, saat itu Key belum mengenal Hyebin.”

“Jadi…”

“Jadi… dia juga tidak ingat siapa Hyebin, dan percuma kau berteriak seperti tadi padanya.”

Minho tertunduk menatap lantai untuk beberapa saat dengan jari-jari kedua tangannya yang saling bertaut. Sejurus kemudian, dia kembali mendadak berdiri sambil mengumpat kesal dan mengacak rambutnya sendiri, frustasi.

Onew yang melihat Minho seperti itu jadi ngeri sendiri dan ikut berdiri, lalu menepuk pundak Minho. “Kurasa sebaiknya kau pulang dan istirahat sebentar, kau terlihat lelah dan kurang tidur, Minho-ya…!”

>>><<<

…11.45 AM…

Suasana di luar dorm SHINee saat itu terlihat agak padat karena banyak fans yang sepertinya menunggu kabar dari idola mereka itu yang bisa dikatakan baru saja mengalami suatu ‘musibah’.

“Minho-ya, Jonghyun-ah, Key ga gwaenchasseo?!” pertanyaan inilah yang kebanyakan dilontarkan oleh orang-orang itu ketika Minho dan Jonghyun baru saja tiba di sana. Keduanya hanya melempar senyuman simpul sembari terus melangkah memasuki gedung.

Berbeda dengan keadaan di luar, suasana di dalam dorm malah sebaliknya, sunyi sama sekali, tentu saja karena tidak ada yang menempatinya untuk beberapa saat.

Minho menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur Onew, terlentang menatap langit-langit kamar mereka itu sambil sesekali menghembuskan napas berat, seolah melepas penat. Hyebin tidak pernah hilang dari pikirannya sejak tadi. Dan dengan terus memikirkan Hyebin, dia juga jadi memikirkan Key, lalu kemudian pada akhirnya hal itu membuat Minho harus menggertakkan gigi karena menahan amarah yang begitu saja muncul.

“Minho, kau tidak mandi dulu?” tanya Jonghyun yang berdiri di dekat pintu kamar yang terbuka.

Minho tidak menjawab, melirik pun tidak, membuat Jonghyun pada akhirnya hanya mengangkat bahu dan mengayunkan langkahnya ke arah kamar mandi.

Sepeninggalan Jonghyun, Minho kembali menghela napas dalam dan memejamkan kedua matanya. “Lee Hyebin…” gumamnya pelan.

Gadis itu kehilangan ingatannya. Bisa dikatakan seluruh ingatannya, tidak seperti Key yang hanya tidak bisa mengingat semua yang terjadi selama dua tahun ke belakang. Hal itu berarti keadaan Hyebin memang lebih parah dari Key, dan itu membuat Minho lagi-lagi harus mengepalkan telapak tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Jika sejak awal Hyebin bersamaku, setidaknya tidak akan ada kejadian seperti ini. Aku pasti tidak akan membiarkan hal ini terjadi.

Di antara Hyebin dan Key, memang tidak ada yang merasa tersakiti atas peristiwa ini, karena mereka satu sama lain juga tidak menyadari bahwa hilangnya ingatan mereka adalah suatu masalah yang bisa saja mengancam hubungan mereka sendiri. Tapi Minho merasakan sakit itu. Dia merasa sakit saat melihat tatapan bingung di mata Hyebin ketika menatap Minho, orang yang ternyata sudah terhapus begitu saja dari ingatannya. Sungguh sakit rasanya ketika Minho melihat Hyebin berusaha mengingat namanya sendiri, yang juga sudah terhapus dari ingatannya.

Minho tahu semua ini sudah terjadi dan tidak mungkin kembali ke masa lalu untuk bisa menghindarinya. Tapi tetap saja, rasanya Minho ingin mengulang kembali masa-masa saat Hyebin belum ada yang memiliki, karena saat itulah Hyebin begitu dekat dengan dirinya, tidak dengan Key. Saat itulah mereka berdua melakukan hampir semua kegiatan secara bersama-sama. Berdua, tanpa hadirnya Key. Saat-saat itu, tepatnya satu tahun sebelum Minho debut bersama SHINee, satu tahun sebelum Hyebin mengenal Key. Minho benar-benar ingin mengulang saat-saat itu. Bersama Hyebin. Hanya bersama Hyebin. Dia ingin mendapatkan satu kesempatan lagi untuk kembali ke masa itu, untuk membuat Hyebin bersamanya.

Namun tampaknya keinginannya itu tidak bisa begitu saja terwujud. Semuanya sudah terjadi. Yang bisa Minho lakukan hanya membantu Hyebin mengembalikan ingatannya, seolah mengulang semuanya dari awal.

Seolah mengulang semuanya dari awal.

DEG!

Minho membuka kedua matanya yang semula terpejam. Seolah mendapatkan tamparan keras yang membuatnya tersadar dari mimpi. Secara mendadak Minho terduduk dan menatap setiap sudut kamar itu dengan teliti, hingga matanya terfokus ke arah kalender yang menempel di dinding dan terlihat goresan tinta berwarna merah muda yang melingkari salah satu tanggal—dalam minggu dan bulan ini—di kalender itu. Tepat di bawah lingkaran tersebut, tertera satu kalimat yang terkadang bisa membuat hati Minho panas; ‘Key❤ Hyebin, 1st Anniversary’.

“Seolah mengulang semuanya dari awal…?”

Minho berdiri, berderap mendekati kalender itu, menatapnya beberapa saat untuk menimbang-nimbang sebentar, lalu melepaskan kelender itu dan sedikit menggulungnya, sementara bola matanya kembali bergerak-gerak mencari benda lain, hingga akhirnya dia menemukan benda yang mungkin bisa begitu berharga untuk Key. Segera Minho menyambar benda itu, menggenggamnya kuat di tangan kanannya, sementara tangan kirinya menggenggam kalender yang sudah tergulung tadi. Dia mulai melangkah ke luar kamar, menuju tempat lain di bagian belakang dorm.

Kebetulan sekali Minho menemukan pemantik api berwarna milenium yang terletak di lemari dapur. Mungkin milik manager mereka. Minho mengambil benda itu dan memainkannya sebentar. Setelah yakin tidak ada masalah apapun pada benda itu, Minho membiarkan apinya terus menyala dan dia meletakkan pemantik api itu di bawah kalender yang tadi digenggamnya, menunggu hingga kalimat ‘Key❤ Hyebin, 1st Anniversary’ itu memudar menjadi abu yang berjatuhan mengenai lantai.

Setelah tulisan itu benar-benar tidak terlihat, Minho segera mematikan api yang membakar kalendar itu dan menjejalkan bagian yang tidak terbakar ke dalam tempat sampah yang berada di sana.

Tatapan Minho beralih ke arah bingkai foto yang tadi dibawanya juga dari kamar Key. Dia melepas foto yang terpajang di bingkai itu, menatapnya beberapa saat. “Kita bisa mengulangnya tanpa kembali ke masa yang sudah lalu.” Ujarnya datar dengan tatapan datar pula, namun seolah menunjukkan tekad yang kuat. “… mianhae, aku terpaksa melakukannya.”

Setelah itu, dalam hitungan detik, foto itu sudah menjadi abu, tidak lagi memperlihatkan sepasang kekasih yang saling berangkulan dan tersenyum senang di sana, yang tidak lain adalah Key dan Hyebin.

Setelah menyaksikan bahwa foto itu benar-benar tidak lagi berbentuk, Minho mengambil bingkainya dan menjejalkannya pula ke dalam tempat sampah.

Baru beberapa langkah hendak meninggalkan tempat itu, handphone di sakunya berdering keras, terpampang kontak ID ‘Onew Hyung’ di layarnya. “Ne, Onew hyu-“

Minho-ya!” Onew langsung menyambar, memotong kalimat Minho yang belum selesai. Dan lagi nada bicaranya terdengar panik, sehingga membuat Minho mau tidak mau merasa was-was.

“Hyung, waegeurae?”

Aku tidak tahu kenapa tapi tiba-tiba saja dia memburuk.” Kata Onew cepat.

“A-apa maksudmu, hyung? Katakan dengan jelas..!”

Hyebin! Aku tidak tahu bagaimana dan kenapa, tapi tiba-tiba saja keadaannya memburuk. Dia… dia koma!

>>><<<

To Be Continue

6 responses to “[Korean Fan Fiction] A Love Journey – Part 1

  1. Daebak, thor…. d^_^b
    Tapi Minho kok gitu banget… Jahat banget sih ama si Almighty Key dan Hyebin… T^T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s