[Korean Fan Fiction] It’s Behind You

It’s Behind You

Cast : SHINee Kim Jonghyun

Genre : Horror, Supernatural

Rating : PG-15

Length : Vignette

Siapapun dirimu, pesanku… jangan pernah merasa kesepian, karena aku tahu kau pasti memiliki seorang teman di dekatmu. Teman yang selalu bersamamu kemanapun kau pergi. Terkadang dia berada di punggungmu, menggantung di kakimu, di atas pundakmu, merangkulmu, dan menggenggam tanganmu. Dan satu lagi… dia berada di dimensi yang berbeda denganmu. Dan dengan senang hati  kukatakan, kapanpun kau mendapatkan ‘teman’mu itu, aku yakin bahwa dia… akan selalu ada di dekatmu selama kau hidup. =)

>>><<<

Kim Jonghyun imnida…

Di duniaku, aku tidak pernah merasa kesepian. Di rumah, aku hidup bersama 7 ‘orang’ lainnya. Eomma, ‘teman’ eomma, appa, ‘teman’ appa, hyung, ‘teman’ hyung, dan ‘teman’ku. Di sekolah pun, aku punya lebih banyak ‘teman’ jika dibandingkan dengan orang lain.

‘Teman’ eomma, aku sering menyebutnya Jonghyun 2. Aku mengambilnya dari namaku sendiri, karena ‘teman’ eomma ini adalah seorang bocah laki-laki yang kira-kira berumur 8 tahun, dan dia sangat mirip denganku. Dia… adalah kembaranku yang sayangnya tidak bisa hidup dan tumbuh bersamaku hingga sekarang. Aku sering melihatnya bergelantung di leher eomma, sehingga kakinya yang hanya satu itu menjulur ke bawah. Makanya tidak heran kalau eomma sering mengeluh merasa pegal di bagian lehernya.

Aku memberi nama Pervert untuk ‘teman’ appa. Haha~ sebenarnya aku sedikit geli menceritakan ini. ‘Teman’ appa ini memang perempuan, dan alasanku memanggilnya pervert adalah karena aku selalu mendapatinya sedang menjilati leher appa dengan lidahnya yang menjulur sangat panjang itu, sementara tubuhnya menggelantung di punggung appa. Dia dulunya adalah seorang perawan tua yang sebatang kara, yang hidup di perumahan sekitar tempatku tinggal sekarang. Ah, appaku memang tampan. Makanya jangan heran kalau ‘mantan’ perawan tua pun tertarik padanya. Hihi~

Sementara ‘teman’ hyung adalah mantan pengacara yang mati karena dibakar oleh suaminya sendiri. Dan coba tebak! Ternyata suaminya itu sangat mirip dengan hyungku. Aku menyebutnya ‘Gosong’, karena seluruh tubuhnya memang gosong. Sering kulihat dia seperti menempel di punggung hyung. Setiap berpapasan dengan hyung, aku selalu suka melihat matanya yang tanpa bola mata daripada memperhatikan wajahnya yang hancur. Duh, lagipula ogah sekali aku memperhatikan wajah gosong itu!

Yang terakhir ingin kukenalkan adalah ‘teman’ku. Dia adalah seorang gadis berusia sembilan belas tahun yang mati bunuh diri karena ayahnya sendiri mencoba menjualnya. Dia sebenarnya cantik semasa hidupnya. Tapi semenjak jadi ‘teman’ku, aku hanya pernah sekali saja melihat wajahnya yang sangat pucat, karena sekarang ini sepertinya dia lebih suka menutupi wajahnya itu dengan rambut panjangnya yang berantakan. Dia sering sekali mengikutiku dari belakang, dan terkadang mengagetkanku dengan muncul tiba-tiba saat aku sedang bercermin. Kurasa dia adalah hantu teriseng yang pernah ada (-__-).

>>><<<

Kukencangkan sedikit dasi yang melingkar di kerah kemejaku, sembari tatapanku tertuju pada cermin di hadapanku. Kim Jonghyun, tidak peduli dalam situasi bagaimanapun, kau selalu tetap tampan.

“Hhh~ hkk~” sebuah suara yang mengerikan menginterupsi kekagumanku terhadap diriku sendiri, dan itu membuat bulu kudukku berdiri seketika.

“Aa!” pekikku saat melihat sebuah tangan yang pucat dan berkuku panjang tiba-tiba mencengkram bahuku dari belakang. Sekarang kepalanya yang muncul dan hampir saja terlihat seperti akan meloncat menabrak cermin, membuatku sukses memekik lagi, kali ini lebih keras. Bukan berarti aku takut, tapi itu karena aku kaget.

Aku mengusap dadaku dan menghela napas dengan sedikit jengah, namun tidak banyak bicara. ‘Teman’ku, dan juga ‘teman’mu bisa lebih sensitif—bahkan lebih sensitif dari perempuan yang sedang PMS—jika ditegur. (-__-)

>>><<<

Aku melangkahkan kaki dengan mantap menyusuri koridor sekolah. Pemandangan di sekitar tetap seperti biasa, menurutku. Hanya saja mungkin lebih ‘ramai’ dari yang orang lain lihat.

Tapi tunggu, ada satu hal yang aneh. Aku melihat anak laki-laki kecil yang berdiri menyandar pada dinding kelas yang kulewati. Kepalanya tertunduk, dan aku bisa melihat sedikit ada luka besar yang menganga—seperti habis diseret—yang terdapat di belakang kepalanya. Aku belum pernah melihatnya di sini, selama ini.

Tiba-tiba sepotong ‘adegan’ buram melintas di benakku. Aku mendengar jeritan pedih yang saling bersahutan. Selain itu, aku melihat seorang anak laki-laki yang terbaring dengan kepala di dalam tungku perapian. Jeritan dan tangisan yang memekakkan telinga kembali terdengar. Namun sebelum aku bisa melihat dengan jelas, aku bisa merasakan kepalaku berdenyut nyeri, dan bel masuk yang berbunyi berhasil menarikku kembali ke tempat seharusnya aku berada, lantas bayangan itu pun hilang begitu saja.

>>><<<

Pelajaran paling membosankan yang pernah kutahu. Sejarah. Kalau sudah begini, aku akan banyak menguap dan memilih menenggelamkan wajahku di antara tumpuan lengan, tanpa ada yang memedulikan. Well, mungkin pengecualian untuk ‘teman’ku yang sekarang tengah duduk di atas kursi di sampingku yang memang selalu kosong.

Tangan sedingin es nya mengusap-usap kepala dan tengkukku. Err.. mungkin tidak bisa dibilang mengusap juga, itu terlalu lembut. Sepertinya lebih pantas disebut memijat, walaupun itu juga masih terlalu lembut.

Tapi dengan begitu, aku tidak merasa terganggu. Aku tetap merasa nyaman, karena setidaknya dia lebih peduli dibanding teman yang se-dimensi denganku.

>>><<<

“Jangan…”

Gamang.

Suara gamang itu seketika saja menghampiri indera pendengaranku di tengah kegelapan.

“Kumohon jangan…” isak tangis dan hembusan napas kasar bercampur menjadi satu. Entah kenapa aku merasa gerah mendengarnya.

Jam dinding—yang entah milik siapa, aku tidak tahu—menunjukkan pukul 11.26. Sepertinya malam, karena ruangan itu diterangi cahaya remang-remang yang mungkin berasal dari perapian, dan cahaya itu menimbulkan bayangan dari jam dinding tersebut.

“Andwae!” jeritan itu lagi.

“Noona! Noona!” dan tangisan itu lagi.

Astaga, aku ingin sekali tahu siapa itu. Tapi kenapa yang tampak justru hanya jam dinding itu saja?

Kini aku bisa mendengar suara terseret-seret yang semakin membuatku gerah.

“Andwae! Andwae! ANDWAE!!”

“NOONAAA~!!”

Cahaya remang itu meredup, dan aku tahu itu karena sesuatu menghalangi cahaya api untuk menyebar, atau kalau tidak itu berarti ada yang memadamkannya. Entahlah, aku sendiri tidak bisa memastikan.

Namun tiba-tiba saja aku mencium bau daging terbakar.

“Andwae… Jun…”

Ah~ kurasa ini pembunuhan. Mungkin si korban dijejalkan ke dalam perapian hingga tubuhnya terbakar dan akhirnya menimbulkan aroma seperti ini. Apa ini ada hubungannya dengan penglihatan yang kudapat sebelumnya?

Sunyi, dan satu-satunya yang bisa kulihat tetap hanya jam dinding itu. Kemudian suaranya yang bergema, namun perlahan-lahan semakin samar terdengar.

*

Aku tersadar dengan tubuh berkeringat, dan kemudian mendapati diriku masih berada di dalam kelasku yang telah kosong. Kulihat jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 18.11. Ah, benar juga. Aku ‘kan ketiduran tadi. Dan tidak ada yang berniat membangunkanku, bahkan sampai 2 jam setelah kelas bubar.

Tapi kemudian aku ingat bahwa ‘sebenarnya’ tidak hanya aku yang ada di sini. Aku menoleh dengan cepat ke arah kananku, dan sedikit terlonjak saat ‘temanku’ menyambut dengan rambut panjangnya yang menjuntai menutupi wajahnya yang menunduk.

“Baiklah. Waktunya pulang.” gumamku sambil beranjak dari kursiku dan berjalan keluar kelas, membiarkannya mengikutiku dari belakang, seperti biasa.

“Jun…”

Ck, bayangan itu lagi.

“Andwae…”

Aku menghentikan langkahku dan memejamkan mata, mencoba berkonsentrasi.

Seorang anak laki-laki yang terbaring dengan kepala berada di dalam tungku perapian. Kemudian seseorang menyeretnya dengan memegang kakinya, dan itu menyebabkan kulit kepalanya menempel di sepanjang lantai, seolah meninggalkan jejak. Dan ternyata, anak laki-laki itu adalah ‘anak baru’ yang kulihat tadi pagi di koridor.

Aku membuka mataku kembali, dan seolah mendengar kata hatiku, ‘anak baru’ itu kini sudah berdiri di hadapanku.

Dia menatapku lama dengan matanya yang merah sempurna dan sangat kontras dengan warna wajahnya yang (terlalu) pucat, lalu kulihat bibirnya bergerak mengatakan sesuatu yang tak bisa kudengar.

>>><<<

Aku menurunkan tanganku yang telah selesai memasang dasi. Kualihkan pandanganku perlahan ke arah bahuku yang terefleksi di cermin, namun tidak terjadi sesuatu. Kemudian kembali kualihkan pandanganku ke belakang tubuhku yang juga terefleksi di cermin, tapi tetap tidak ada yang mengagetkanku seperti biasanya. Kemana ‘teman’ku yang iseng itu? (.__.)

Tapi kemudian aku mengangkat bahu, tidak terlalu mementingkan kehilangannya. Toh, nanti juga dia akan kembali dengan sendirinya.

Kemudian aku mengambil tasku dan segera turun ke lantai bawah, memutuskan untuk segera berangkat.

Tuh, kan! Baru saja aku mencoba tidak mempedulikannya, sekarang aku malah melihatnya sedang berdiri membelakangiku di ujung tangga. Kadang-kadang makhluk sepertinya memang bisa kurang kerjaan—seperti ini.

“Jun…” dan aku baru saja hendak melewatinya ketika mataku menangkap sosok lain yang kini berdiri di hadapannya.

Hey! Itu ‘bocah’ kemarin, kan? Kenapa dia ada di sini?

Lama aku memperhatikannya dari tempatku berdiri saat ini, dan sesekali tatapanku juga beralih pada ‘teman’ku yang masih mematung dengan posisinya.

Ada yang aneh. Sepertinya aku melewatkan sesuatu dalam ‘penglihatan’ku yang terakhir kemarin.

“Jonghyun.”

Aku menoleh ke sumber suara yang ada di belakangku, dan mendapati eomma di sana, “Cepat turun, sarapan sudah siap.”

“Ne.” sahutku pelan.

Eomma tersenyum tipis. Dengan ‘Jonghyun 2’ yang menempel di punggungnya, ia pun beranjak ke areh ruang makan. Aku hendak mengikuti jejaknya, namun sebelum itu kutolehkan kembali kepalaku ke belakang, dimana dua sosok tadi masih diam di tempatnya.

Aku yakin aku melewatkan sesuatu.

>>><<<

(A Child In The Island House)

“Eommaga… seomgeuneure…”

Suara itu terdengar menggema walau lirih. Suara nyanyian seorang perempuan. Merdu, halus, namun meninggalkan kesan yang dalam. Kesan yang membuatmu ingat pada kematian.

“Gul.. ttareo.. gamyeon…”

TING! TING!

Suara dentingan itu juga terdengar menggema mengiringi nyanyiannya.

TING!

“A*Ting!*gi.. ga *Ting!* honja.. nama… *Ting! Ting!* ji.. beul bo~daga… *Ting! Ting!*”

Sunyi.

Dia berhenti bernyanyi.

Dan perlahan, namun pasti, aku bisa melihat siluetnya.

Dia… dengan rambut berantakan, duduk terpekur di tengah ruangan yang gelap. Kepalanya yang tertunduk dalam, ditambah punggungnya yang sangat bungkuk membuatku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Tangan kanannya memegang sebuah sendok, dan sebuah gelas di genggaman tangan kirinya. Dentingan persis seperti yang kudengar sebelumnya—kembali terdengar saat dia membenturkan kedua benda itu.

TING!

“Na.. nana.. nanana… na…”

Dengan sangat perlahan siluet itu berdiri. Dia menyeret langkahnya yang amat berat menuju balkon. Tangannya yang kurus dan pucat membuka pintu balkon perlahan.

“Jun… aku datang.”

Dia mendongak, dan karenanya aku bisa melihat wajahnya yang luar biasa pucat  dengan kantung mata yang sudah menghitam.

.

.

.

Dia kan… ‘teman’ku.

.

.

Benar, ini adalah detik-detik sebelum dia meloncat dari balkon itu.

“Badaga… bulleo.. juneun… ja.. jangno.. raee…”

Nyanyian itu lagi.

Suara itu lagi.

Tidak, kali ini, suara tawa renyah bocah laki-laki turut mengiringinya.

Mereka bermain dengan wajah berseri. ‘Teman’ku, dan ‘bocah’ itu.

“Palbego.. seu.. reureu…”

“Jun…”

“Ja.. mi deum… nida…”

“Andwae!”

“Noona!”

“Palbego.. seu.. reureu…”

“Aaaa! Noonaaaa!”

“ANDWAE!!”

“Ja.. mi deum… nida…”

“AAAAAAAAAAA!”

“JUUUN!!”

SNAP!

“Hhh~ hh!”

Aku tersadar dengan napas memburu dan pusing yang mendera.

“Agineun.. jameul gonhi… ja.. go it.. jiman…”

Angin yang berasal dari balkon kamarku berhembus menampar pelan wajahku. Dan di ujung balkon tersebut, aku melihat mereka yang sama-sama berdiri membelakangiku.

“Galmaegi.. ureumsori… ma.. mi seol… leeo…”

“Da motchan.. gulbagu.. ni… meo.. rie.. igo…”

“Eommaneun.. moraetgireul… dall.. yeoom.. nida…”

Hening.

Si ‘bocah’ mengatakan sesuatu, “Noo… na.”

Noona.

“Noona… noona…” suaranya sangat parau dan gamang, sedikit menyakiti telingaku.

“Eommaneun.. moraetgireul… dall.. yeoom.. nida…”

Dan dia—‘bocah’ itu—menoleh perlahan padaku. Kedua ujung bibirnya tertarik membentuk seringaian lebar.

>>><<<

Ya, pada akhirnya, sejak saat aku memiliki dua ‘teman’ yang akan terus bersamaku seumur hidup.

Begitu juga denganmu.

Kau… tidak akan kesepian.

‘Dia’ ada di belakangmu.

Dan, ups, hati-hati setiap kau bercermin.🙂

>>><<<

End

A/N : Horror gagal (_._) *ampuuun* Eh iya, di sini Jjongnya punya sixth sense, ya!😀
And ya, biar gaje gini bikinnya pake mikir. So, leave me a comment… *puppy dog eyes*

14 responses to “[Korean Fan Fiction] It’s Behind You

  1. serem chingu…. >< huwaaaaa…

    keren kok suasana horrornya gak gagal..

    NICE FF!!!!1 ^^

    O ya, salam kenal~🙂

  2. hwa koq ndk takut ya si jonhyun hehehe,, bagus ff nya tpi q agak bingung ama jalan critanya ini hehe trus itu endingnya hwa ndk ada sequel kah bukan kah klo ‘teman’ itu dibumi ada urusan yg blum terselesikan ya atau aukan hehehe bingung sendiri tpi over all good job😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s