[Korean Fan Fiction] You’ll Never Grown Old, Peterpan! #FFLive

#FFLive bertepatan dengan #TahunBaru 2012 dan #Happy27thSungmin

Title: You’ll Never Grown Old, Peterpan!

Cast: Lee Sungmin, Park Sunhee, Han Micha, Choi Hyewook

“Apa? Peterpan?” kerut di keningnya mengait kedua bilah alis hitam legam itu. Gadis yang sibuk menyimpul tali sepatunya tertawa.

“Maaf, Sungmin-ssi, tapi memang tidak ada pemain yang lebih layak darimu.” Derai tawa lonceng itu meluncur lagi dari bibir mungilnya.

“Hyewook-ah, tapi aku kan cuma penata properti,” rajuk laki-laki bernama Sungmin sambil menggembungkan pipinya. “Dan aku tidak bisa akting.”

“Tidak perlu akting,” balas Hyewook cuek. Ia membenamkan sebendel naskah ke genggaman Sungmin. “Jadilah dirimu sendiri.”

“Jadi.. apa?” Sungmin membalik naskahnya cepat hingga ke halaman belakang. “Hye-ah, pementasannya tanggal 1 Januari? Tiga hari? Kau gila!”

Hyewook menggoyangkan ekor kudanya ke kanan-kiri. “Aku tahu apa yang kulakukan. I ruled this team. Jangan mengecewakanku, Sungmin-ssi.”

——————–

“Selamat, ya!” Sunhee menyemprotkan sekaleng cola setelah mengocoknya hingga berbusa.

“Sunhee-ya, ini bukan sesuatu yang layak dirayakan.” rapal laki-laki berwajah masam yang berlumur cola.

“Kenapa? Bukankah kau ingin bermain di teater?”

“Itu dulu, sebelum aku menyadari aku tidak berbakat akting.”

“Jangan begitu, Sungmin-ya,” Sunhee menepuk bahunya lembut. “Kau tahu, anak burung yang baru menetas tidak bisa langsung terbang?”

So?”

“Sepertimu, sekali kau berkecimpung di teater, kau juga butuh proses untuk berakting yang baik.”

“Kau tidak sedang menghiburku, kan?” Sunhee menggeleng.

“Akan kubuatkan kostum terbaik untukmu, Sungmin Pan-ssi,”

Kedua sudut bibir Sungmin tertarik membentuk lengkungan. Ia mengacak rambut sahabatnya gemas. “Aku tahu kau pasti akan mendukungku.”

That’s what friend are for. Hwaiting, Sungmin-ssi.”

————————

“Kau tidak bisa pergi, Wendy. Kalau tak ada kau, siapa yang akan mendongeng pada kami lagi?”

“Tapi, Peter. Aku tidak bisa,” Micha, pemeran Wendy meneteskan sebulir air mata di pipinya. “Aku rindu orang tuaku.”

“Kau tidak bisa menemui mereka.”

“Kalau begitu, aku tetap akan pergi.”

“Kau tidak suka tinggal bersamaku?”

Micha menghela nafas berat. “Aku suka. Sangat menyukainya. Bagiku petualangan-petualangan kita adalah pengalaman paling berkesan dalam hidupku. Tapi Peter, aku tidak bisa terus-menerus jadi kanak-kanak. Suatu saat nanti aku akan dewasa dan menikah. Aku janji, aku akan mengenangmu dan menceritakan kisahmu pada anak cucuku. Itu perbedaannya antara aku dan kau. Peter, you’ll never grown old.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s