[FREELANCE] Be Grateful chapter 2

If I can be more Graterful…

Title: If I Can Be Grateful

Author: Nindy

 

Main Cast:

  • TOP a.k.a Choi Seunghyun
  • Uns a.k.a Shin HyunSoo (anggap kalian sendiri)

 

Support Cast:

  • Other  BigBang member
  • Kim HyurYi
  • Kang SeungHo
  • Kwon Kirin

 

Length: Two Shoot

Genre: (I think) Romance, Sad, Violence-little- (and also whatever you think readers)

Rating: PG-14 (?)

 

 

Summary..

Tak lama, kami telah mulai debut kami. Tapi hanya ber-5, bukan ber-6 seperti saat kami bertemu. Kabarnya dia tak bisa, jadi yang melanjutkan hanya aku, YoungBae, Jiyoung, DaeSung, dan satu orang magnae kami yang namanya sama denganku Seunghyun. Kami mulai dengan semangat penuh, termasuk aku. Tiap doaku berisi harapan untuk keberhasilan BigBang, tak lupa harapan agar aku bisa bertemu dengan HyunSoo lagi setelah firasat HyunSoo benar tentang masadepanku yang berhasil. Kini aku hanya tinggal menunggu, dia pasti bisa menemukanku.

 

***

Akhir musim gugur 2011…-

 

Sampai saat ini aku masih menunggu, terus menunggu. Namun tak pernah ada tanda2 kemunculan HyunSoo. Aku sudah berada di titik lelahku. Terlalu lelah aku menunggunya, aku hampir menyerah. Sepertinya benar2 menyerah.. banyak sekali rasanya beban ini. Terlalu berat tanpanya.

Setelah live performance dan pemotretanpemotretan, aku akan sendirian di dalam kamarku dan aku akan merasakan kebingungan dan kebingungan  ini. Sebuah perasaan yang akan menggabarkanku kembali ke dunia sebenarnya. Karena itu aku tidak bisa tidur untuk banyak malam. Di atas panggung, aku harus menjadi T.O.P dan seperti di dalam drama-drama, aku harus berakting sebuah karakter. Jadi saat aku menenangkan diri aku berfikir, “Siapakah saya sebenarnya?”. Untuk periode waktu yang lama, aku merasa kalau aku tidak tau diri saya sendiri.

 

Banyak orang bilang, bahwa cinta bisa berubah seiring berjalannya waktu, tapi menurutku itu hanya berlaku pada orang-orang yang tak benar-benar merasakan keadaan cinta. Aku merasakan ini, tiap ku ingat kata saat di mana kami berpisah hati ini seperti teriris-iris karena rindu ini belum juga terbayarkan. Tapi saat ku ingat saat yang indah, walaupun saat itu tak akan kembali. Hati ini rasanya belum juga terobati, karena aku ingin juga melihatnya. Melihat kebahagian seperti dulu, merasakan kebahagiaan seperti dulu. Akhirnya aku mau terbuka maslah ini pada Jiyoung atao lebih dikenal dengan panggilan GD, setelah aku bererita panjang lebar dia hanya berkata singkat

 

“hyung, apa kau tauk sadar? Caramu salah, seharusnya kau mencari bukan hanya duduk diam saja, apalagi saat berpisah HyunSoo lah yang meninggalkanmu. Tak mungkin dia mencarimu.”

 

Benar juga apa yang di katakana Jiyoung, aku salah! Sudah banyak tahun ku gunakan untuk menunggu, bukan untuk mencari! Inilah kebodohanku! Setelah aku naik daun aku tak pernah mencarinya, aku hanya terus memikirkannya tanpa bergerak. Esoknya setelah pemotretan aku hendak izin untuk pergi mencari HyunSoo dengan alasan mau ke rumah orangtuaku. Tapi saat aku dan member lain sampai di dorm kami di kagetkan oleh seorang yeoja berambut coklat emas di kuncir satu yang sedang memasak di temani oleh menejer kami.

 

“oh! Anak2! Kalian sudah kembali! Perkenalkan ini pembantu baru kalian, masih sangat muda namanya HyunSoo. Ayo HyunSoo, kamu pasti mengenal mereka bukan?” DEG! Aku kaget, jantungku rasanya merhenti bekerja saat mendengar nama HyunSoo.

“maaf, tapi saya tak mengenal mereka. Karena dulu saya bekerja di luar negri.” Terangnya pada kami.

“wahhh.. berarti kita bisa memulai perkenalan dong!” seru Daesung “kalau begitu kau mulai duluan saja ya!” lanjut Daesung

“ah, lebih baik kalian dulu…” jawabnya ragu, aku penasaran dengan wajahnya, karena dari tadi dia hanya menunduk. Namun kulitnya tak seputih salju saat terakhir aku berjumpa dengannya. Aku di kagetkan oleh Jiyoung yang menepuk bahuku dan mendekatkan mulutnya ke kupingku, yang hendak berbisik sesuatu.

 

“apakah itu HyunSoo yang hyung maksud?” Tanya jiyoung berbisik.

“aku ragu..” jawabku perlahan.

 

“ya sudah, kalau begitu mulai dari kami duluan saja ya.” seru daesung “perkenalkan namaku Kang DaeSung, tanggal lahirku 26-april-1989 jangan lupa kadonya ya! hehehe” lanjutnya memperkenalkan diri. Setelah itu Taeyang, lalu seungri, Jiyoung, dan kini giliranku. Aku masih berada di dalam duniaku, bertanya2 apakah dia benar HyunSoo yang ku kenal?

“hyung! Cepatlah!!” tiba2 Seungri berteriak membangunkanku dari lamunanku. Aku ragu, ku telan segala rasa raguku dan mulai memperkenalkan diri. Saat aku menyebut namaku dan tanggal lahirku, dia baru mulai mengangkat wajahnya. Mataku langsung membulat, wajah ini tak asing. Tapi kenapa saat bertemu dengannya rasanya menggebu-gebu?

“sekarang giliranmu.” Seru taeyang.

“baik, namaku Shin HyunSoo… tanggal lahirku 15-November-1989. Mohon bantuannya.” Lalu dia memberi salam. Aku benar2 kaget, rasanya aku ingin memeluknya. Tapi apa yang akan di katakan member lain? Aku harus memastikan dulu, apakah dia benar HyunSoo yang aku kenal atau bukan.

“wahh!! Sama sepertiku dong! Berarti bulan November kita punya 2 orang yang perlu kita belikan kado nih!” seru daesung semangat. Kami mulai mengobrol-ngobrol di ruang makan. Kalau begini terus, aku tak akan bisa menahan diri, menahan rasa rinduku, menahan airmataku. Aku langsung bangkit dari meja makan menuju kamarku dan menguncinya. Aku duduk di kasur, mengacak-acak rambutku, berharap suatu kepastian muncul!

 

“AAAAAAAARRRRRRRGGGGGGHHH!!!” teriakku reflex. Ku pukul lemari bajuku, aku harus bicara. Aku keluar dari kamarku menuju dapur, sepertinya menejer telah pergi. Jiyoung berusaha menarik tanganku tapi tak ku hiraukan. Namun sampai di dapur langkahku terhenti ketika melihat dia sedang duduk dan mengobati lengan kirinya, ku perhatikan lagi. Dia mengobatinya dengan obat tradisional yang ku sarankan dulu, namun sepertinya obat itu habis saat dia hendak menuangkannya lagi ke tangan. Ku kurungkan niatku untuk bertanya, hanya sampai besok. Aku kembali ke kamar, di jalan aku di hadang oleh jiyoung yang bertanya-tanya.

“kenapa hyung?” tanyanya.

“sudahlah. aku terlalu pusing.” Jawabku “kalau dia sudah mau pulang beritahu aku ya.” lanjutku lalu meninggalkan jiyoung yang mungkin masih ingin bertanya.

Aku masuk ke kamarku dan membanting badanku ke kasur menjernihkan fikiranku sejenak. Tiba2 aku di kagetkan oleh jiyoung yang membangunkanku.

“YA!! HyunSoo udah mau pulang!! Buruan bangunnn!!” teriaknya. Saat mendengar nama HyunSoo aku langsung berdiri dan bersiap. Memakai jaket tak lupa masker dan kacamata hitam, dan juga tas gemblok kalau-kalau dibutuhkan. Saat aku keluar kamar HyunSoo telah pergi, buru2 aku keluar dorm tanpa pamit, entah apa yang ku fikirkan yang jelas sekarang aku mau mengikutinya. ‘sepertinya dia sudah masuk lift yang ini..’ gumamku. Karena lift yang satu lagi lama, akhirnya aku berlari menuju tangga darurat agar bisa cepat sampai di lantai dasar. Sampainya di lantai dasar, ku lihat dia sudah keluar apartemen, buruburu ku kejar. Saat dia menaiki bis, akupun mengikutinya. Jarak rumahnya dari dorm memang tak terlalu jauh jadi kalau berjalanpun bisa. Aku duduk di 2 bangku belakangnya. Aku berakting seolah-olahaku bukan siapa-siapa. Ku pasang headset agar perjalanan ini terasa nyaman, rasanya sudah lama sekali aku tak naik bis seperti ini. Sepertinya dia mau keluar, buru2 ku susul. Aku berjalan di belakangnya, agak jauh memang agar dia tak merasa di ikuti. Loh? Kenapa dia tak masuk ke komplek? Bukankah rumahnya di situ? Sudahlah, lebih baik ku ikuti. Ahh.. seperinya dia hendak membeli obat, karena tadi siang dia kehabisan obatnya. Aku pura2 beli snack yang ada di warung dekat apotik. Setelah dia keluar aku maasuk ke apotiknya.

 

“maaf pak, apa yang tadi yeoja itu beli?” tanyaku sopan.

“oh, dia. Dia sering sekali beli obat memar itu. Sepertinya dia di pekerjakan di rumah penjual pembantu itu, karena tak jarang yang kerja di situ beli obat memar atau semacamnya di toko saya.” Jelas ajjushi tersebut. Sekarang aku yakin kalau dia memang HyunSoo.

“gomawo ajjushi! Permisi!” pamitku.

 

Aku berlari menuju komplek dimana HyunSoo tinggal, langkahku terhenti saat melihat dia meringis kesakitan saat mengobati lukanya di bangku taman yang waktu itu kami duduki. Ku perhatikan dia dari jauh, ku lepas kacamata hitamku agar aku bisa melihat lebih jelas. Sepertinya dia bukan menangis karena lukanya. Entahlah, ini bukan tangisan lukanya. Karena sampai sekarangpun aku masih ingat saat-saat dimana dia bercerita tentang luka2nya. Ingin rasanya ku hampiri dia, mendekapnya, dan menangis bersamanya. Tak lama dia segera menghapus airmatanya dan segera kembali kerumahnya yang ada di deberang taman. Aku berjalan mendekatinya lagi, saat ku lihat dia sudah masuk ke rumah tiba-tiba saja dia dilempar keluar lagi, rasanya ingin menolong.

“KAU PAKAI UNTUK APA SAJA UANGNYA?! HAH?!” teriak ajhuma yang melemparnya.

“mianhae eomma.. aku memakainya untuk membeli obat…” apa?! Dia eommanya?! Bagaimana? Bagaimana bisa seorang ibu berlaku seperti itu?

“SHHHHH!! SUDAH KU BILANG! JANGAN PERNAH PANGGIL AKU EOMMAMU! KARENA AKU BUKAN EOMMAMU! KAU BELIKAN OBAT YA?! MANA OBATNYA?! BIAR EOMMAMU INI YANG MEMAKAIKANNYA!” teriak ajhuma itu lagi. Lalu HyunSoo memberikan obatnya. Dan, AIGO!! Ya tuhan!! Eommanya malah menyiram obat tersebut ke tubuh HyunSoo! Untung tak sampai kepala! Obat itu kan panas! Ya ampun. Ku lihat eommanya membanting pintu. Sepertinya aku harus membantunya. Ku lihat dia mencoba berdiri dan berjalan menuju taman, buru2 aku menjauh dari taman. Udara sangat dingin, dan ya ampun! Kenapa hujan?!! Langsung deras pula! Aish! Ya! aku harus membantunya! Ku lepas jaketku agar tak basah, lalu ku kenakan kacamataku. Aku berlari menujunya dan memakaikan jaketku lalu menariknya ke tempat yang teduh, dia sempat menolak namun sepertinya tak ada pilihan lain. Diapun menurut.

 

“siapa anda? Kenapa menolongku?” tanyanya setelah berteduh. Tiba2 matanya menutup, sepertinya obat tersebut mengenai matanya sehingga perih. Saat tangannya hendak mengusap mata buru-buru ku hadang.

“jangan… nanti tambah perih..” jelasku, lalu buru2 ku dekap dia. Namun dia malah berontak.

“anda siapa?!” tanyanya lagi menjauhiku. Tapi ku tarik tangannya agar tetap disisiku.

“aku tau kamu pasti tak lupa denganmu dan janjimu di café saat itu….” Jelasku.

“maaf tapi aku tak tau siapa anda…” jelasnya lagi. Ku remas pundaknya agar melihat ke arahku. Tapi dia merintih kesakitan. Langsung ku lepaskan bahunya dan memegangi tangannya.

“HyunSoo…. Tolong.. Ingatlah… Aku telah membenarkan firasatmu bahwa aku akan berhasil, bahwa aku bisa hidup mandiri, tapi bahagiaku tak akan sempurna tanpamu….” Jelasku perlahan menahan airmataku.

“maaf mungkin anda salah orang..” jelasnya lagi. Aku yakin dia berbohong! Karena dari dulu dia paling bisa menyembunyikan sesuatu tanpa ada seorangpun yang tau. Dia juga pintar meyakinkan orang kalau apa yang di katakannya benar. Ku lepas genggaman tangannya lalu ku tinggalkan dia sendiri. Kakiku melangkah menuju toko obat. Lalu mulutku berkata kalau aku ingin membeli obat, tanganku mengambil uang untuk membayarnya. Dalam kejamnya malam di tambah sayatan hujan ini aku berjalan menyusuri malam. Tiba-tiba aku terjatuh dan aku sadar airmataku telah turun sederas hujan. Aku marah pada diriku yang belum bisa seutuhnya melindungi HyunSoo, aku sedih! Aku marah! Aku bingung! Hatiku terteriak, meronta kesakitan.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!” aku benar2 tak tahu harus berbuat apa lagi sekarang. Ku pandangi obat yang ku beli dan ku genggam erat2. Tanpa rasa lelah aku berlari menuju dorm dalam keadaan basah kuyup. Sampainya di dorm aku di bukakan pintu oleh jiyoung sebelum aku ambruk.

 

Sepertinya ada sesuatu yang menempel di dahiku, sesuatu yang dingin. Saat hendak bangun kepalaku terlalu sakit dan berat, ku buka mataku perlahan, ku perhatikan siapa yang ada di sampingku.

“Mianhae Seunghyun…” Rasanya seperti mimpi ketika tau yang berada di sebelahku adalah HyunSoo, tapi dia menangis dan menyebut namaku. Ini memang dia! Aku yakin! Buru-buru ku buka mataku untuk melihat lebih jelas. Sepertinya dia sadar kalau aku sudah bangun, dan dia hapuslah airmatanya lalu beranjak dari kasurku. Tapi saat hendak ku tarik, tanganku tak sampai. Kepalaku terlaru berat rasanya, benar2 pusing. Sakit sekali. Namun ada rasa bahagia, karena tau dialah HyunSoo ku. Ku coba untuk beranjak dari kasurku, tiba-tiba saja aku jadi kuat, sangat kuat dan bersemangat. Entah lah, sepertinya inilah kekuatan cinta. Saat ingin keluar aku ingat kalau aku membawa obat tradisional, ku cari-cari dimana obat itu sampai akhirnya ku temukan di end table ku. ‘bagaimana kalau ku berikan ini dengan surat?’ benakku. Ku ambil kertas dan pulpen, lalu mulai menulis.

 

“To: Shin Choi HyunSoo

            Akhirnya, akhirnya aku menemukanmu. Menemukan bahagiaku yang hilang. Mulai sekarang kau tak butuh obat lagi, mulai sekarang kau tak akan terluka lagi, mulai sekarang aku berjanji. Berjanji akan melindungimu. Saranghae.. <3”

 

Ku lipat surat itu dan ku tempelkan ke obatnya. Aku keluar kamar, ku perhatikan sekitar lalu menuju dapur. Saat aku sampai di dapur ku perhatikan lagi, ternyata Hyunsoo tak ada di sini. Ku cari tasnya dan ku taruh obat serta surat itu di dekat tasnya. Saat aku membalikkan badan hendak kembali ke kamar aku di kagetkan oleh Hyunsoo yang jaraknya sangat dekat denganku. Mataku terbelak, hampir saja aku teriak, dia… walaupun menunjukan mata dinginnya, hatiku meledak di buatnya.

“apa yang sedang tuan lakukan?” tanyanya sopan

“ah.. anio… “

“oh.. bukankah tuan sakit? Kembalilah istirahat.” Jawabnya dingin, sebagaimana yang di kamar tadi ku lihat tak pernah terjadi di antara kami.

“ne.. yang lain kemana?” tanyaku.

“yang lain tadi bilang kalu ada pemotretan, tapi tuan daesung tidak ada pemotretan tapi dia pergi berkunjung ke rumah saudaranya.” Jelas hyunsoo. Aku tak bisa menahan perasaan ini, aku ingin sekali berbicara dengannya. Aku ingin sekali menumpahkan rasa rindu ini. Buru2 aku tarik tangannya hendak memeluknya, namun dia terlihat kesakitan saat ku pegang tangannya. Lalu ku angkat tangannya dan memperhatikan tangannya. Ya Tuhan! Di jari telunjuknya terdapat luka sayatan, di pundak tangannya terlihat bekas sayatan juga, saat ku mengalihkan wajahku ke wajahnya matanya terlihat berkaca-kaca lalu dia buru-buru menarik tangannya yang masih ku pegangi. Namun kini tak akan ku lepas lagi, langsungku dekap tubuh mungilnya.

 

“hyunsoo.. aku tahu ini kamu, jadi kau tak pelu berbohong lagi. Kau hanya perlu berada di sisiku. Kita telah di pertemukan kembali, bisakah kita bersatu selamanya?” tak terasa airmataku telah jatuh, ku rasakan sesegukannya, ku elus perlahan rambutnya lalu ku eratkan dekapan ini, hanya seperti ini sudah membuatku bahagia. Aku menangis bersamanya, beberapa menit barulah ku lepas dekapan ini ku lihat wajahnya yang bahagia sama sepertiku.

“lebih baik kita obati lukamu….” Usulku sambil mengelus wajahnya. Dia tersenyum cerah tanda setuju. Ku suruh dia duduk dan aku mecari obat luka luar, setelah menemukannya aku buru2 aku menuju meja makan, ku lihat dia tengah membaca surat dariku. Malu rasanya, ini pertama kalinya aku mengirim surat kepada yeoja. Lalu dia tersenyum padaku setelah selesai membaca surat tersebut.

“mana saja lukanya yang masih basah?” tanyaku sambil menarik bangku dan duduk tepat di depannya.

“biar aku saja ya di kamar mandi?” pintanya

“kan kita akan mengobatinya bersama…” jelasku mengingatkannya

“tapii….” Dia berhenti melanjutkan kalimatnya dan menunduk. Ku angkat dagunya perlahan danmendekatkan wajahku padanya.

“wae?” tanyaku.

“anio. Ini, yang di tanganku dan di….” Jawabnya

“dan di?” tanyaku

“biar ku lihat obatnya.” Sepertinya dia mencoba menyangkal

“hey, hey.. dan di mana?” tanyaku lagi

“dan di lengan kiriku serta di pundak kiriku….” Jawabnya jujur.

“sudahlah tak apa. Ayo kita obati.” Tuturku riang. Aku mulai mengobati tangannya, sepertinya dia sedikit kesakitan. Saat telah selesai aku hendak mengobati lengan kirinya namun ada perasaan yang menggangguku saat hendak mengobati lengannya. Dia mulai menaikkan kerah bajunya, ku lihat lukanya di perban namun spertinya luka itu memang baru, karena ku lihat masih ada darah di perbannya.

“ini kenapa?” tanyaku perlahan

“ini? Sudahlah lagipula biasa.” Jawabnya sambil menunjuk lukanya yang di tutupi perban. Tadi apakah aku tak salah dengar? Sudah biasa? Sudah biasa katanya?

“kau bilang apa? Sudah biasa? Ini kau bilang sudah biasa? Coba kau buka perbannya” perintahku

“memang sudah biasa….” Tegasnya lagi. Lalu dia mulai membuka perbannya, kenapa aku merasa merinding bahkan rasanya sakit saat melihat hyunsoo menahan sakit saat membuka lukanya?

“sudah sudah! Ayo ke rumah sakit!” belum selesai hyunsoo melepasnya langsung ku suruh berhenti dan siap-sia untuk pergi ke rumah sakit.

“tak perlu.” Jawabnya ringan. “biar luka ini sembuh dengan sendirinya….” Lenjutnya sambil tersenyum dan menutup lagi perbannya. Selalu saja, aku hapal benar ketika dia bilang ‘tak usah’ atau ‘tak perlu’ pada akhir kalimatnya pasti dia selalu bilang ‘biar luka ini sembuh dengan sendirinya’. Ku dengar sepertinya ada yang datang, buru2ku benahi obat2annya. Lalu aku duduk bertingkah kelaparan dan minta di buatkan makan oleh hyunsoo saat member lain menuju dapur.

“bisakah kau buatkan makan untukku?” tanyaku pada hyunsoo, memulai drama ini.

“tunggu sebentar ya.” jawabnya lalu mulai memasak.

“hey! Hyunsoo noona! Kau tak perlu masak! Kami bawa banyak makanan! Jadi kau bantu kami menghabiskan saja!” sepertinya seungri lah yang berteriak dari belakang.

“ah! Ne!” jawab hyunsoo.

“hyunsoo, aku tetap ingin memakan masakanmu ya. jadi tetaplah buatkan untukku.” Pintaku

“baiklah tuan seunghyun…” jawabnya riang lalu mulai memasak.

Tak lama member lain menghampiri kami di dapur membawakan makanannya.

“kok tetap memasak? Kan kami bawakan makanan.” Seru taeyang

“ah, tapi…” dia tak menyelesaikan kalimatnya dan melirik ke arahku, member isyarat apakah boleh di beritahu pada mereka atau tidak.

“tapi aku maunya makanan home made” jawabku segera.

“ohhhh….” Seru jiyoung yang sepertinya mengerti dengan jalannya drama ini. Setelah itu member lain menyiapkan makanannya, setelah semua siap mereka langsung menghidangkannya di meja.

 

“wahh! Banyak sekali makanannya.” Seru hyunsoo sambil menghampiriku hendak memberikan bubur yang tadi dia masak special untukku.

“ayo. Noona duduk saja di sebelah seunghyun hyung.” Utus seungri.

“ah, aku makannya nanti saja. Kalian saja makan dulu. Aku tak usah juga tak apa.” Jawabnya lalu beranjak menuju dapur lagi. Buru2ku tarik tangannya.

“sudah duduklah di sini, dan makan bersama” perintahku sambil menarik tangannya. Tapi kami malah saling memandang

“EHEM!! UHUK! UHUK!” saat Jiyoung berdehem aku baru sadar kalau yang lain dari tadi hanya memperhatikanku dengan hyunsoo. Dengan cepat ku tarik bangku dan menyuruhnya duduk, setelah itu rasanya sangat canggung berada di dekatnya. Apalagi di sini banyak setan berwujud manusia alias para member lain.

“Selamat makan!” seru kami bersama

“Makan yang banyak ya HyunSoo noona! Kau sangat kurus untuk Seunghyun hyung!” saat seungri berkata demikin aku langsung tersedak.

“uhuk! Uhuk!” Hyunsoo langsung mengambilkan air untukku. Setelah lega aku melirik ke arah Jiyoung dan reaksinya adalah senyam-senyum sendiri.

“Mianhae Seunghyunnieee…. Mereka yang memaksaku, manamungkin aku menang melawan mereka ber tigaa.. hehehehe” aku yakin dia pasti sudah cerita, masih saja cengengesan. Karena sebal aku makan dengan lahap bubur yang di buat hyunsoo tanpa memperdulikan yang lain. Setelah selesai buru-buru ku teguk air dan membanting gelasnya ke meja. Semua mata tertuju padaku, ku lihat hyunsoo mengambil tissue lalu menunjuk ke arah pipiku. Sepertinya ada makanan yang tertinggal, lalu dia buru-buru mengelapnya. Setelah itu ku rasakan ada setan-setan yang sedang berbisik-bisik dan tertawa cekikikan. Ku lihat ke arah mereka, seketika mereka mulai diam dan makan lagi.

 

Kami menghabiskan hari bersama, Jiyoung sempat menyuruh Hyunsoo menginap karena sudah terlaru malam baginya untuk pulang sendiri, lagipula malam ini dingin karena kita berada di akhir musim gugur dan mendekati musim dingin. Aku yakin Hyunsoo tak mungkin menginap, kalau tidak dia bisa dikunci di luar rumah. Tapi ini benar-benar terlaru larut, dan dia harus menginap.

Kami berduapun akhirnya berbincang-bincang di kamarku.

“lebih baik kau menginap, tak mungkin ku biarkan kau pulang seorang diri semalam ini. Kalau kau tetap ingin pulang akan ku antar.” Jelasku padanya.

“anio.. sudah tak apa. Lagipula aku juga sudah biasa pulang sendiri.” Jawabnya santai

“tapi sekarang kau tak sendiri lagi, jadi jangan pulang atau ku antar.” Tegasku lagi

“aku ingin menginap, tapi aku takut…” jawabnya

“takut pada orangtua mu?” tanyaku. Ku lihat dia mengangguk. Ku elus kepalanya

“sudah, tak perlu takut hyunsoo… besok akan ku antar pulang.. jangan takut ya…” kataku meyakinkan sambil menunduk dan mengelus pipinya.

“Hyung!…..” teriak jiyoung sambil memasuki kamarku. “oh, mianhae.” Lanjutnya lalu meninggalkan kami karena melihatku sedang berbincang dengan Hyunsoo.

“sebentar ya. jangan kemana2 ya, aku hanya mau bertanya pada jiyong apa yg mau di katakannya.” Utusku pada hyunsoo. “kau duduk saja.” Lanjutku sebelum menutup pintu. Ku hampiri yang lain di ruang nonton tv tiba2 saja mereka jadi ribut sendiri

“Hyung! Apa saja yg tadi kau lakukan?!!” Tanya daesung

“apa maksudmu hah?” tanyaku

“sudah lah hyung…. Cerita sajaaaa…” goda seungri yg mendekatiku.

“apa-apaan sih kalian? Hey! Gd! Tadi kenapa kekamar?” tanyaku

“engga kok. Cuma mau Tanya, hyunsoo mau tidur sama kami atau tidak? Hihihihihi” aish! Mereka memang benar2 menyebalkan.

“Cuma itu? Ya sudah, aku mau tidur dulu ya. dah.” Seruku lalu beranjak dan melambaikan tangan.

“ya elah! Biasa ga bisa tidur sekarang mau buru2 tidur!! Huhuyyy!! Hahahahaha!!” seru jiyong.

‘whatever…’ benakku. Aku langsung beranjak memasuki kamar ‘mana hyunsoo? Ah! Dia sedang duduk di bangku dan membaca majalah’ ku hampiri dia. Ku perhatikan lagi ternyata dia sudah tertidur. Tak bagus kalau dia tidur dengan posisi seperti ini, lehernya bisa sakit. Ku taruh kembali majalah yg di bacanya dan membopongnya ke kasur. Sekarang aku tidur di mana? This is really awkward. Aku menggaruk-garuk rambutku yang tak gatal, lalu berputar-putar di dalam kamar. ‘kenapa harus bingung? Toh aku Cuma tidur di sebelahnya dan ga akan kenapa-kenapa.’ benakku. Lalu aku langsung tidur di sampingnya, saat aku melihat wajahnya yg tepat di depanku hati ini rasanya berdegup sangat kencang aku takut dia bangun karena mendengarnya, berlebihan memang, tapi aku benar-benar merasa, aaaahhhh! Sangat susah ku jelaskan. Dan rasanya aku tak bisa tidur malam ini. Aku membalikkan badanku, memundaki wajahnya agar aku bisa tidur. Tapi ruangan ini rasanya terlalu panas! Ku lepas selimut yang menutupiku, dan mencoba tidur. Syukurlah…. Aku bisa tidur….

 

Ku rasakan ada sesuatu yang menyentuh pipiku.

“oppa…  Seunghyun oppa… bangun…” ku dengar seorang yeoja memanggil namaku, apa ini masih di mimpi? Ku buka mataku perlahan, kok rasanya aku sedang memeluk sesuatu? Tapi aku tak seperti memeluk guling. Ku lihat ternyata. AIGO! Ku lepas pelukanku dan reflex langsung meloncat karena kaget dan BRUKK!!

“AUU!!” aku jatuh karena terloncat saat ku sadar kalau yang ku peluk adalah hyunsoo.

“kau tak apa seunghyun?!” Tanya hyunsoo menghampiriku

“aauu.. sudah, tak apa” jawabku sambil mengusap-usap pinggangku dan berdiri. ‘Tapi.. Kenapa aku bisa memeluknya?!! Padahal semalam aku tidur memundaki dia!! Ampunn!!’ benakku, sambil ku usap2 jidatku dengan kasar.

“kenapa masih kesakitan?” tanyanya dengan nada khawatir.

“im fine baby..” jawabku mayakinkannya di ikuti dengan morning kiss di pipinya. Segera setelah ku mengecup pipinya wajahnya langsung memerah.

“lain kali jangan tiba-tiba yaa..” jawabnya malu-malu.

“ayo kita keluar.” Ajakku padanya. Lalu dia mengangguk, ku ulurkan tanganku dan dia menggandengnya. Saat kami menuju ruang tengah, ternyata di sana sudah ada menejer dan yang lainnya. ‘Sepertinya ada sesuatu yang tak beres di sini’ fikirku.

“Hyunsoo bisakah kau masuk kamar seunghyun dulu? Ada sesuatu yang harus ku bicarakan pada para member.” Utus menejer saat melihatku dan hyunsoo

“ah, ne.” dia mengiyakan di ikuti dengan lepasan genggamannya, lalu meninggalkan kami.

“ada apa menejer?” tanyaku sambil menghampiri yang lainnya di sofa

“apa kau tidak tau? Kalau Hyunsoo tak dapat menginap di sini sesuai perjanjian saat dia di izinkan bekerja di sini” jelas menejer

“hanya karena itu saja?” Tanyaku enteng.

“dia bisa tak di pekerjakan lagi di sini!” seru jiyoung tiba-tiba. Tidak di pekerjakan lagi di sini? Artinya… aku tak akan bisa melihatnya setiap hari lagi? Apa yang harus ku lakukan?!

“lalu, aku harus bagaimana agar dia tetap di sisiku?!” tanyaku pada menejer.

“lupakanlah seunghyun! Karirmu masih lebih penting dari hyunsoo!” jelas menejer, aku tau ini akan terjadi! Perusahaan hanya inginkan uang! Uang! Mana mungkin setelah sekian lama menunggunya dan baru saja bertemu bisa dengan mudah ku lupakan?!

“memang apa yang salah menejer?! Apa kau tak pernah merasakan rasanya merindu dan mencintai? Lagipula publikpun tak akan segera tau! Lalu apa masalahnya?!” teriakku pada menejer.

“kau akan menyesal….” Jawab menejer lirih. Apa maksudnya?! Mencintainya! Memilikinya adalah anugrah! Kenapa aku harus menyesal?!

“apa yang harus ku sesali dari mencintainya?!” tanyaku lagi. Yang lain hanya diam, tak ada yang menjawabnya. Lalu menejer kami keluar dari dorm. Ku tanyakan member lain tapi tak ada yang menjawabnya kecuali Jiyoung.

 

“Hyung…. Jangan pernah bawa HyunSoo kembali ke rumahnya. Jangan pernah kau tunjukkan dirimu apalagi dirinya di depan orang-orang bejat yang menjual wanita itu. Jangan sekalipun hyung. Its to painful to me to say the truth. Mereka akan melakukan apapun demi kembalinya HyunSoo. Jagalah dia baik-baik Hyung…. Aku tau, kau pasti bisa.” Apa maksdunya?! Apa maksud mereka?!

 

Cold and Painful Winter on 04 November 2012…-

Aku terlaru bodoh untuk sadar sebelum ini….

 

_FLASHBACK_

November, 03 2012…

 

Aku telah melaporkan kegiatan penjualan dan penyiksaan yeoja yang dilakukan oleh keluarga Shin ke pihak yang berhak. Semua telah usai. Kini tinggal aku dan Hyunsoo, setelah bertunangan kami berjalan-jalan dengan riang di taman tak jauh dari rumah Hyunsoo. Berlari-larian hanya untuk melengkapi memori bahagia ini.

“aku lelah yeobo…” seru hyunsoo padaku sambil menarik lengan jaketku.

“baiklah, kita istirahat di sini saja ya chagiya..” jawabku sambil menariknya duduk di bebatuan yang ada di taman sambil memandangi sekitar taman yang terasa hangat di temani oleh matahari senja ini.

“yeobo.. apa kau yakin akan bahagia hidup bersamaku?” tanyanya tiba-tiba.

“ne. Tentu saja! Kamu kenapa selalu mempertanyakan hal itu chagiya??” tanyaku sambil mencubit hidungnya perlahan.

“berjanjilah padaku kau akan selalu bahagia!”

“ne! aku berjanji! Aku akan selalu bahagia..” jawabku menyanggupi “selalu bahagia…” lanjutku di ikuti dengan ciuman ini. Tapi…. Apakah rasa ciuman pertama seperti ini? Hatiku rasanya terbelah, nafas ini rasanya tersengal-sengal dan bibir ini rasanya mengalirkan sesuatu yang kental. HyunSoo mencoba melepaskan ciuman ini, aku terlena di bahunya. Entah kenapa pandanganku kabur dan apa ini? Saat ku lihat ke bahu hyunsoo terdapat bercak merah kental dan makin lama makin banyak, ini… Ini darah?!

“Seunghyun! Seunghyun! Sadarlah!! Apa kau dengar aku?! Seunghyun!! Jawab aku!!” teriaknya sambil menggoncang-goncang kan badanku. Aku jatuh ke tumpukan salju yang dingin sebelum pandanganku benar2 hilang….

 

Sinar apa ini? Terlaru terang. Ku coba buka mataku perlahan, seingatku aku berada di taman dengan Hyunsoo. Darah itu? Apa yang terjadi?! Buru2 ku bangunkan diriku, tapi

“Ahhhh…” sakit sekali dadaku, seketika eommaku menghapiriku. Ku perhatikan sekeliling, ada appaku, eommaku, serta teman-teman ku, namun aku tak melihat sosok HyunSoo.

“dimana Hyunsoo?!” tanyaku pada eomma.

“dia sedang istirahat…” jawab eomma, namun kenapa sampai menahan airmatanya?
“ada apa eomma? Apa yang terjadi? Kenapa aku ada di rumah sakit? Kenapa? Mana hyunsoo?! Dimana di…. Aaahhhh…” tanyaku yang mulai merasa kesal, namun saat hendak berteriak dada ini terlalu sakit.

“tenanglah hyung. Hyunsoo sedang istirahat, jadi kau tenang saja.” Jelas jiyoung

“tapi dia dimana? Aku mau melihatnya!!” teriakku. Ku lihat eomma menuju appaku, berbicara sesuatu. Entah apa itu.

 

“ayo kita ketempat Hyunsoo. Jiyoung, tolong kau ambilkan kursi rodanya.” Utus eommaku. Setelah jiyoung mengambilnya, aku langsung di bantu untuk duduk di kursinya. Perasaan ini aneh, rasanya aku tak siap bertemu dengan Hyunsoo.

“tunggu sebentar. Ini tanggal berapa?” tanyaku

“ini hari ulangtahunmu sayang….” Jawab eommaku.

“jam berapa sekarang?” tanyaku lagi

“sekarang jam 3 pagi hyung.” Jawab jiyoung yang ikut menemaniku. Entahlah, tiba2 aku ingin bertanya itu. Ku hilangkan segala macam fikiran negatif ini, namun makin aku berusaha menghilangkannya makin kuat rasa takut ini.

“dia ada di sini. Apa kau yakin tak akan menggangunya? Berjanjilah tak akan menggangunya.” Tanya eommaku sebelum membukakan pintu kamar itu untukku.

“aku tak akan menggangunya eomma..” jawabku sedikit ragu. Lalu eommaku bukakan pintu itu untukku, ruangan ini. Ruangan ini rasanya hampa udara, di mana Hyunsoo? Aku tak melihatnya. Lalu eommaku mendorong kursi roda ini mendekati kasur yang di atasnya terbaring tubuh seorang yeoja yang ku kenal dengan jelas, lega rasanya melihat wajahnya. Dia tersenyum, namun… Ada apa dengannya? Kenapa wajahnya pucat? Perasaan ini, aku takut. Aku takut sesuatu yang amat buruk telah terjadi. Ku perhatikan eommaku yang airmatanya telah berjatuhan, dan jiyoung yang hanya menunduk.

 

“apa yang terjadi?!” tanyaku membentak

“shhhh…. Kau sudah berjanji untuk tidak berisik kan?” tawab eommaku lirih. Aku yakin sesuatu yang buruk memang benar2 telah terjadi.

“tolong jelaskan padaku! Seseorang! Bicaralah padaku!..” teriakku, tanpa ku sadari setetes butiran Kristal telah jatuh dari kelopak mataku. Tapi tak ada juga yang menjawab, aku marah pada mereka! Jelaskan saja apa yang terjadi! Langsung ku coba mendekatinya lagi dan beranjak dari kursiku di bantu jiyoung. Ku sentuh wajahnya yang berubah menjadi putih seputih salju dingin sedingin salju, ku kecup keningnya, saat itu pula tenggorokanku seperti di cekik entah kenapa dan aku tak bisa berkata apapun. air mata ini tetap berjatuhan, malah makin deras. Ku goyang-goyangkan tubuhnya

“hyunsoo… jawab aku… hyunsoo… apa yang terjadi.. tak ada satupun yang memberitahuku. Bisakah kau bangun dan memberitahuku? Hyunsoo.. hyunsoo.. bangunlah choi hyunsoo..” seruku padanya tanpa berhenti menguncang-guncangkan tubuh yang tak bertenaga lagi. Tiba-tiba badanku lemas, aku jatuh ke lantai.

“apa yang terjadi?….” tanyaku sekali lagi di ikuti airmata yang tak kunjung berhenti. “beritahu aku… aku ingin tau.. tolong jangan kalian sembunyikan lagi..” pitaku pada mereka. Lalu eommaku mengambil sesuatu dari balik selimut hyunsoo.

“ini, hyunsoo bilang kau hanya perlu baca ini dan dia berpesan bahwa semua luka akan ada obatnya, namun yang ini, biarlah sembuh dengan sendirinya…” eommaku menghampiriku yang terjatuh di lantai dan memberikanku sebuah kotak. Dada ini rasanya seperti tak mau menerima oksigen lagi saat memegang kotak itu. Ku buka perlahan, di dalamnya terdapat secarik surat dan sebuah cincin pertunangan yang satunya masih terpasang di jariku. Aku merinding melihatnya, ini kedua kalinya ku merasa takut. Aku takut akan kenyataan yang harus ku jalani. Akhirnya, setelah beberapa menit aku berfikir ku putuskan untuk membukanya. Ada foto di dalam amplopnya, ku perhatikan foto yang sudah agak pudar warnanya. Itu fotoku, Hyunsoo, Kirin, dan Seungho di café yg sering kami datangi. Ku balik fotonya, terdapat tulisan “My 1st Lovely BirthDay with them J SeungHyun, Kirin, and SeungHo

 

 

“For you Choi Seunghyun, the one who love me the most….

03/11/12 18.25- Ini pertama kalinya aku akan melaksanakan operasi, sebetulnya aku agak takut tapi aku tau kau akan berada di sampingku. Dan hari ini, aku bahagia bisa menghabiskan waktuku bersamamu. Mungkin waktu ini tak akan pernah berulang lagi. Aku benar-benar bahagia, aku tak percaya bahwa hubungan kita bisa sampai di sini. Kalau mengingat-ingat masa lalu rasanya sangat bahagia bisa bersamamu. Oh iya, jangan lupa. Sampaikan salam terakhirku pada Kirin dan SeungHo ya. karena aku tak akan bisa menyampaikannya lagi.

 

Tau tidak apa yang membuatku berani menjalankan operasi ini? Satu, karena aku yakin bahwa cinta akan saling memiliki. Dua, kalau cinta saling memiliki maka aku yakin hatiku ini akan cocok denganmu. Tiga, setidaknya kau masih bisa melanjutkan hidupmu dengan hatiku walau tanpa ragaku. Kau juga sudah berjanji kan, kalau kau akan selalu bahagia. Akan ku pegang janjimu sampai nanti. Sesak rasanya memang.. Semoga setelah ini kau mengerti maksudku dengan kalimat ‘biar luka ini sembuh dengan sendirinya’ aku yakin kau mengerti.

Ahh!! Mianhae karena tak bisa mengucap selamat ulang tahun tepat waktu, jadi aku hanya bisa menyampaikan kata ‘HAPPY BIRTHDAY Yeobo!!’ walaupun terlalu cepat, semoga perpisahan ini tak akan menjadikanmu sedih berlarut-larut ya. Jaga kesehatanmu, aku akan selalu berada di hatimu.. Di hati KITA…. Satu lagi, aku mau kau tau bahwa aku bahagia pernah mencintaimu dan menjadi milikmu walau hanya hatiku yang kau miliki seutuhnya…

….Gomawo Choi SeungHyun, Gomawo Ketua, Gomawo TOP, Gomawo Yeobo….

Annyeong nae sarang….

Choi HyunSoo.”

 

 

Langsung ku pegangi dada ini, ku rasakan getarannya. Air mata ini terasa makin deras, kenapa? Kenapa ini harus terjadi? Lagipula kenapa dia mendonorkan jantungnya padaku?! Masih banyak tanda tanya yang mengikutiku, apa yang terjadi? Dan kenapa harus terjadi di saat aku hampir memilikinya?!

“AAAAAAAAAHHHHHHHHHH!!!!!!!!” teriakku kesal. Buru-buru aku bangun dari lantai dan duduk di samping hyunsoo.

“hyunsoo.. jawab aku hyunsoo.. bagaimana abisa ini terjadi hyunsoo?! Beritau aku hyunsoo! Hyunsoo!! BANGUN!!!” teriakku padanya sambil menggoncang2kan tubuhnya.

“sudah nak… biarkan dia tenang di sana. Birkan dia bahagia… Iklaskan dia nak..” pinta eommaku sambil menarik badanku menjauh darinya

“eomma! Biarkan aku memeluknya! Memeluknya untuk terakhir kali eomma!” pintaku membentak lalu eommaku melepaskan badanku, ku peluk dirinya dengan erat dan dingin rasanya, sangat dingin. Ku kecup keningnya, untuk terakhir kalinya. Setelah itu ku tarik nafas dalam-dalam dan membalas senyum dinginnya. Sesaat itu juga badan ini terasa lemas, ingin rasanya aku berhenti menangis namun apa daya…. Tangisan dan kesedihan ini telah mengelilingiku. Jiyoung membatuku berdiri dan mendudukkanku lagi di kursi roda.

 

“DIA BELUM MATI EOMMA! DIA MASIH HIDUP DI SINI! AKU MERASAKAN GETARANNYA!” teriakku pada eomma saat eomma hendak menutup wajah hyunsoo dengan selimutnya. Rasanya dada ini masih sesak! Tenggorokan ini rasanya masih seperti di cekik! Buru-buru Jiyoung membawaku keluar.

“APA YANG KAU LAKUKAN?! AKU MASIH INGIN DI SISINYA!!” teriakku pada Jiyoung.

“hyung… Tolong, seharusnya kau iklaskan dia. Biarkan dia bahagia dan bebas sekarang..” jelas Jiyoung yang tetap mendorong kursi rodaku. Aku memjamkan mata dan mencoba berfikir lebih jernih. Memang sudah seharusnya aku iklaskan dia, dan biarkan dia menjadi malaikat seutuhnya. Malaikat yang menitipkan hatinya di hidupku… Ku tarik nafas lebih dalam dan melepasnya perlahan. Ku pegang erat surat, foto dan cincinnya. Biarlah dia berkata selamat tinggal, tapi untukku dia tak akan pernah benar-benar meninggalkanku.

Setelah dari sana, sesampainya di kamar tangisku pecah lagi saat aku tahu sebab sebenarnya. Aku memang terlalu bodoh untuk menyadari itu semua di awal. Sangat bodoh untuk sadar lebih cepat. Tapi semua terlambat, tak akan pernah waktu itu terulang.

_ENDFLASHBACK_

 

Di temani dengan angin yang dingin emnusuk sampai ke tulang, dan di temani oleh titisan salju yang terus berjatuhan dari langit. Sambil memegangi jantung ini, merasakan detakannya sekarang aku berlutut sendiri di depan gundukan tanah ini. Berharap ini semua hanya bagian dari drama. Aku berlutut menangisi kebodohanku. Seharusnya aku bisa lebih bersyukur sebelum ini! Airmata ini masih terus mengalir walaupun di terpa angin dingin yang tak henti berhembus… Aku harus iklas, aku harus rela, dan seharusnya aku bisa lebih bersyukur, apapun yang terjadi, apapun yang di berikan…

 

_FLASHBACK_

“saat kau sedang bermain di taman dengannya tiba-tiba datanglah para kawanan yang ingin membalas dendam karena usaha Shin telah di tutup oleh polisi. Mereka menembakmu tepat di jantung dan tak menembus. Saat itu pula orang-orang yang ada di taman langsung mencoba menangkap orang yang menembakmu dan menelepon UGD, setelah kami di beritau oleh Hyunsoo kami marah dengannya. Karena kami pikir dialah salah satu penyebam kecelakaanmu. Namun saat kau berada di masa kritis dia datang pada kami dan dokter yang sedang berbicara tentang jantungmu dan berkata ‘masih bisa di selamtkan! Dia masih bisa selamat dan menjalankan hidupnya dengan kalian! Biarkan jantung ini dialah yang memilikinya, aku iklas. Aku yakin pasti berhasil’ katanya pada kami. Tapi pendonor jantung haruslah orang yg baru mati, entah apa yg dilakukan Hyunsoo tapi dia menelepon kami dalam keadaan sekarat lalu segera mengoprasi kalian… Maafkan appa, karena dia hanya mau kau bahagia karena dia berkata ‘dia masih punya kalian, keluarganya. Dia juga masih punya kalian, teman-temannya. Dan dia juga masih punya karir, yang masih panjang. Sedangkan aku, aku hanya punya dia. Biarkan hanya Seunghyun yang merasa kehilangan, mungkin kedengarannya egois. Namun itu lebih baik daripada kalian semua yang merasa kehilangan…’ semoga inilah yang terbaik.”  Jelas appaku.

 

_ENDFLASHBACK_

 

 

미안해요 그대를 아프게해서. 미안해요 해준게 너무 없어서. 내가 미안해요 그대를 잊지 못해서. 정말 미안해요, 사랑해요…”

“I’m sorry for hurting you. I’m sorry for not giving much. I’m sorry for not forgetting you. I’m really sorry, I love you…”

 

The End..

 

“Sesungguhnya, semua yang hidup akan mati. Yang telah di pertemukanpun pasti akan terpisah. Sayangilah mereka, cintailah mereka, cintai dan sayangi mereka yang telah ada di sisimu walaupun selama bersamanya yang tersisa hanyalah kenangan pahit. Ingatlah karena, ada saat di mana kita tak akan pernah bisa bertemu lagi dengan mereka.”

 

 

8 responses to “[FREELANCE] Be Grateful chapter 2

  1. Oh. . .sad ending. .sedihx,,demi cinta dia rela memberikan jangtgx.z suka kalimat terakhrx,,semua yang hidup pasti mati. .kereen.

  2. hu..hu…hu..
    jdi ikut sedih liat oppa nanngis ..
    FF nya kren badai GOOD banget ..
    q smpai nangis karna terbawa suasana ..

  3. huaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh
    *nangisseember
    setuju banget, segala sesuatunya bila kita sia siakan begitu saja. disaat kita sudah kehilangannya akan mulai terasa kesepian dan kesakitannya, kita ga akan pernah sadar setiap ketulusan semua orang,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s