[Korean Fan Fiction] Lollipop Love (Oneshot)

Author : Lee Hyura

Title : Lollipop Love

Genre : Romance

Rating : PG-13

Length : Oneshot

Cast :

–          SJ Leeteuk

–          SNSD Jessica

–          SNSD Sooyoung

–          JYJ Yoochun

 

Mian kalo ada typo. Mian juga kalo cerita aneh+ga nyambung. Cuma buat dalam 1 jam. 

 

>>>

 

Jessica berhenti menangis saat ia melihat sebuah lolipop didepannya. Ia menyeka air matanya lalu mendongak. Orang yang memberikan lolipop itu tersenyum lebar.

 

“Kau tahu, tidak? Makanan manis bisa mengurangi rasa sedih. Cobalah,” ujar anak lelaki yang berumur beberapa tahun di atas Jessica itu.

 

Jessica mengerjap, “Jinjja?”

 

Anak itu mengangguk, “Buktikan saja.”

 

Jessica menerima lolipop itu ragu. Ia membuka bungkus lolipop itu dan mengemutnya. Tak lama, senyumannya merekah. Anak lelaki itu ikut tersenyum dan duduk di samping Jessica lalu membelai rambut Jessica pelan.

 

“Benar, kan?”

 

Jessica mengangguk, “Ne.”

 

===LollipopLove===

 

Jessica terkejut saat tangannya ditarik oleh seseorang. Ia berteriak keras namun teriakannya kalah keras dari musik di klub malam itu. Dia memukul lengan yang menarik tangannya itu dengan keras tapi orang itu malah menggendong Jessica dengan paksa.

 

Ya tuhan.. aku tahu aku memang memiliki banyak dosa. Tapi ku mohon jangan buat aku kehilangan keperawananku. Ah!! Ahjussi gila!!, pekik Jessica dalam hati.

 

“Apa yang mau kau lakukan padaku?!” tanya Jessica berteriak saat orang itu berhasil membuatnya keluar dari tempat laknat itu.

 

Orang itu hanya menyeringai hingga lesung pipinya terlihat samar. Orang itu menarik Jessica ke dalam mobil dan mengendarai mobil itu dengan kencang. Walaupun ingin kabur, Jessica takut untuk kabur di saat mobil melaju kencang.

 

“Ya tuhan.. tolong aku..” doa Jessica berbisik. Sedangkan orang itu tersenyum tipis saat mendengar doa Jessica samar.

 

>>>

 

“M-mwoya?” protes Jessica pelan.

 

“Aku tidak peduli kau menerimanya atau tidak. Yang pasti kau harus selalu bersama Jungsoo. Apapun yang terjadi,” tegas Mr Jung.

 

Appanya bangkit dan menghampiri orang yang ‘menculik’ Jessica tadi yang berdiri di belakang tempat duduk Jessica. Jessica memutar tempat duduk. Ia melihat appanya berbisik sesuatu pada orang itu hingga orang itu tersenyum. Jessica seperti mengenali senyuman itu. Dirinya segera berbalik badan saat appanya selesai berbisik dan menepuk pundak orang itu.

 

“Apa harus diulang lagi, Sica?” tanya Mr Jung.

 

“Appa~” desah Jessica memohon.

 

“Kau sudah keterlaluan, Sica-ya.. nilai-nilaimu benar-benar buruk,” sungut Mr Jung.

 

“Appa~”

 

“Ini salahmu sendiri, Sica. Kau gagal menjaga kepercayaanku tidak seperti Krystal. Lihat adikmu yang selalu membanggakanku dan ummamu.”

 

“Tapi aku berbeda dengannya! Aku bukan boneka kalian sepertinya!” bentak Jessica pelan.

 

Mr Jung terbelalak, “Sepertinya kau memang memerlukannya. Jungsoo-ssi.. aku percayakan dia padamu.” Jungsoo—orang itu tersenyum.

 

“A-appa!!” pekik Jessica kesal.

 

Next day.

 

“Bangun..” bisik seseorang.

 

Jessica menggeliat pelan lalu berbalik badan membelakangi orang itu. Dia gunakan gulingnya untuk menutup telinganya. Orang itu—Jungsoo tersenyum tipis. Ia menarik guling Jessica lalu menggendong Jessica ke kamar mandi. Jungsoo membuka keran westafel dan mencuci wajah Jessica. Jessica langsung memberontak.

 

“Y-ya!” teriak Jessica—protes.

 

Jessica langsung melepaskan diri dari Jungsoo dan berdiri di depan Jungsoo sambil menatap geram namja itu. Jungsoo lagi-lagi hanya menyeringai tipis.

 

“Kau.. aish.. kau begitu tidak sopan! Seenaknya saja masuk ke dalam kamarku lalu menyentuhku. Kau ingin ku.. argh!!” Jessica mengerang kesal.

 

“Cepatlah mandi. Aku tunggu kau di ruang tamu. Arasso?” perintah Jungsoo tanpa mendengarkan segala geraman Jessica. Jungsoo keluar dari kamar Jessica secepatnya.

 

“Ya!!” Jessica kembali mengerang kesal.

 

>>>

 

Jungsoo tersenyum saat melihat Jessica menghampirinya dengan pakaian casual yang tetap terlihat keren sambil mengemut sebuah lolipop. Jessica menatapnya bingung.

 

“Wae? Apa aneh seorang wanita yang sudah kuliah mengemut sebuah lolipop rasa strawberry?” tanya Jessica sinis.

 

Jungsoo menggeleng, “Aniya.. aku suka.. aku suka melihatmu seperti itu. Kau terlihat lebih tenang. Jadi terlihat lebih cantik.”

 

Jessica mengerjap, “Ne?”

 

“Anio. Mau kemana pagi ini?”

 

“Mwo? Tentu saja ke kampus.. ugh..” desis Jessica kesal.

 

Jungsoo kembali tersenyum hingga lesung pipinya terlihat kembali.

 

Jessica pov.

 

Aku merasa familiar dengan orang ini. Tapi aku tidak tahu siapa dia. Park Jungsoo.. who is he? Oh my.. ini menyebalkan! Kenapa orang ini berhasil membuatku berdebar saat melihat senyumnya. Aku berdebar karena merasa kenal senyum itu! Aku yakin aku mengenalnya. Kalau tidak, ini tak mungkin terjadi..

 

“Jessica-ssi~”

 

Aku tersentak sadar dan menoleh, “Ne?”

 

“Sudah sampai,” jawabnya.

 

Aku membulatkan bibirnya, “Oh ya..”

 

“Ada apa?”

 

Aku mengerjap, “Ada apa? Apanya?”

 

“Kau terlihat bingung,” jawabnya menggumam.

 

Aku menggeleng cepat. Aku membuka tasku dan mencari permen lolipop strawberryku. Jika moodku tidak stabil, aku selalu mengemut lolipop. Ah ini semua terjadi sejak aku bertemu dengan anak lelaki itu.

 

“Kau tidak takut gigimu rusak karena mengemut permen selalu?” tanyanya.

 

Aku mendongak, menatapnya lalu menggeleng, “Anio. Aku kan rajin sikat gigi.”

 

Dia tergelak mendengar jawabanku. Apa yang aneh dengan jawabanku? Uh dasar orang aneh!

 

“Arasso..” balasnya lalu keluar dari mobil.

 

Ia membukakan pintu untukku. Hm, lumayan juga rupanya punya bodyguard—dia itu memang bodyguard, kan? Serasa menjadi seorang ratu. Keke.. oke, lupakan.. lebih baik aku segera menemui teman-temanku. Aku melangkah menuju kantin.

 

Baru beberapa langkah, aku berbalik. BRUK! Aku ditabrak olehnya. Dia langsung meminta maaf padaku. Aish… dia benar-benar menyebalkan! Aku mundur beberapa langkah lalu meniup poniku gemas.

 

“Kau itu menyebalkan sekali, ya?” desisku sambil membenarkan posisi lolipop di mulutku dan mengulumnya.

 

“Jinjja? Apa aku ini menyebalkan atau kau yang tidak bisa menerima kehadiranku?” balasnya.

 

“Dua-duanya, mungkin.”

 

“Jadi untuk apa kau berbalik badan, uh?” tanyanya dengan nada datar. Argh, aku benci orang lain berbicara padaku dengan nada datar!

 

“Aku cuma ingin memintamu untuk tidak usah mengikutiku. Cukup tunggu di mobil. Arasso?” perintahku.

 

Dia menggeleng, “Tidak bisa. Aku diminta untuk bersamamu selalu.”

 

Aku mendesis, “Apa saat aku pergi ke kamar mandi pun kau harus ikut?”

 

“Kalau itu perlu, kenapa tidak?” sahutnya.

 

“K-kau!!!”

 

Jungsoo pov.

 

Aku melirik jam tanganku. Rasanya bosan sekali menunggu sang tuan putri manja itu selesai dengan kelasnya. Aku ingin pergi ke kantin untuk sekedar mengisi perut. Tapi bagaimana jika dia keluar dari kelas dan kabur? Argh! Ini cukup mengesalkan! Sudah 2 jam aku menunggu di depan kelasnya namun kelasnya belum juga selesai. Aish..

 

Kau bisa pergi dan kembali 3 jam lagi. Tak usah memaksakan diri. Pergi saja selama aku ada kelas.

 

Aku teringat kata-katanya sebelum ia masuk ke kelasnya. Apa aku mempercayai kata-katanya saja? Terserahlah. Aku lapar!

 

>>>

 

Aku kembali ke depan kelasnya segera setelah urusanku selesai. Tapi kelasnya belum juga selesai. Argh! Kenapa begitu lama? Aku mengacak rambutku frustasi karenanya. Menyebalkan!

 

Aku bersandar di fondasi di depan pintu kelas. Ternyata tak lama kemudian, kelas itu bubar. Aku dengan sigap mencari sosok wanita itu. Tapi.. sial! Kemana dia? Semua sudah keluar dari kelas. Di dalam kelas pun tak ada. Sial! Aku kehilangan dia!

 

Aku menarik salah satu teman sekelasnya. “Err.. aku mau bertanya. Kemana perginya Jessica ya?”

 

Orang itu menatapku bingung lalu mengedikkan bahunya, “Mollasso. Setahuku dia sakit dan keluar sebelum kelas berakhir.”

 

“Sakit?”

 

“Yap. Katanya perutnya sangat sakit.” Dia!!

 

Aku melepaskan tanganku dan membungkuk, “Gamsahamnida.”

 

Aku segera ke mobilku. Aku diam sejenak di dalam mobil untuk menenangkan pikiranku lalu mencari akal kemana perginya dia. Saat aku mendapatkan ide, aku menstater mobilku.

 

Jessica pov.

 

Aku menghabiskan waktu di rumah Sooyoung selama dia masih di kampus. Dia memang nakal tapi dia tidak akan berani melewatkan kelas-kelasnya. Tidak seperti aku. Haha.. aku memang sudah terbiasa ke rumahnya dan berdiam diri di rumahnya walaupun Sooyoung tak ada. Rumahnya sudah seperti rumahku sendiri. Itu sebabnya aku tidak dicurigai. Setidaknya aku terlepas dari orang menyebalkan itu! Err.. siapa namanya? Junsu? Jangsu? Atau apalah itu, terserah!

 

“Nona~ nona Sooyoung sudah pulang dan berada di kamarnya sekarang,” kata seorang pembantu saat aku sedang asik membaca novel di perpustakaan mini. Rumahnya benar-benar rumah impianku! Perpustakaannya ini tidak berisi buku bisnis seperti rumahku tapi berisi novel dan komik.

 

“Ah, ne.. gomaseumnida,” balasku sambil bangkit dan mengembalikan novel itu ke tempatnya. Kalau tempatnya berubah, Sooyoung akan menyiksaku. Uh!

 

Dia membungkuk padaku lalu meninggalkanku. Aku menggaruk kepalaku sebentar karena firasatku berubah menjadi buruk. Ah lupakan! Lebih baik aku temui Sooyoung saja lah!

 

Aku duduk di kasur saat melihat Sooyoung masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa handuk. Aku menyilangkan kakiku lalu meraih novel yang ada di atas kasur Sooyoung sambil menunggu Sooyoung keluar dari kamar mandi.

 

“Kau cari baju Soojin onnie saja sana. Aku sudah tak mau meminjamkan baju lagi untukmu. Aku bosan melihat baju-bajuku yang kau pakai terkena muntahanmu atau alkohol,” suruh Sooyoung sinis saat keluar dari kamar mandi.

 

Aku mendongak dan mendesis, “Memang Soojin onnie membolehkannya?”

 

“Dia sedang sibuk dengan latihan drama musicalnya. Dia pasti tidak akan memikirkan tentang baju-bajunya.”

 

 

>>>

 

Seperti malam biasanya, aku dan Sooyoung pergi ke pub. Terkadang Sooyoung mendapat tawaran menjadi DJ menemani pacarku, Yoochun. Tak ada yang tahu kalau Yoochun, seorang DJ muda yang sukses dan incaran para yeoja itu adalah pacarku selain Sooyoung. Dan untuk malam ini, aku sengaja meminta Sooyoung untuk tidak ke café yang biasanya dan malah pergi ke café tempat Yoochun menDJ malam ini.

 

“Ternyata kau memang disini..” gumam seseorang di telingaku.

 

Aku langsung berbalik badan. Aku terkejut saat menyadari wajah orang itu TERLALU dekat denganku hingga dengan reflek, tubuhku menjauhkan diri darinya dan kehilangan keseimbangan karena aku duduk di kursi kecil yang tinggi ini. Beruntung dia—bodyguard pribadiku (karena aku lupa namanya, tak apa kan jika aku memanggilnya seperti itu?)—menahan tubuhku dengan sigap.

 

“Ya! Lepaskan!” aku langsung memberontak dan mendorong orang itu menjauh.

 

“Tidak! Kau harus keluar dari sini sekarang juga,” katanya tenang sambil menggenggam tanganku.

 

“Shireo!” aku melempar tatapan memohon pertolongan ke Sooyoung tapi Sooyoung malah memberiku tatapan maaf-aku-tidak-bisa padaku.

 

“Lagipula untuk apa kau kesini?” tanyanya yang sekarang agak geram. Yohoo! Setidaknya aku berhasil menjebol jiwa tenangnya! Aku tidak suka berhadapan dengan orang yang selalu tenang sih~

 

Aku menyeringai lebar dan menunjuk Yoochun tanpa menoleh, “Lihat itu! Dia pacarku! Aku kesini untuk melihatnya..”

 

Tiba-tiba genggamannya di lenganku menjadi menguat. Aku meringis kencang. Sedangkan dia malah menyeringai tipis. Sial!

 

“Kau berpacaran dengannya? Lihat itu!” dia memaksa wajahku untuk menatap pemandangan di sekitar Yoochun.

 

“Oh damn!” desisku pelan dan geram. Bagaimana aku tidak geram melihat pacarku malah berciuman dengan orang lain? Argh! Orang itu ingin mati ya?!

 

“Lepaskan aku..” perintahku pelan.

 

“Katakan ‘Jungsoo-ssi, ku mohon lepaskan aku’.. pasti aku lepas,” balasnya.

 

“Lepaskan aku! Ku bilang lepaskan aku! Ppali!” teriakku membentak. Air mataku menetes. Bukan karena sedih tapi karena aku sedang sangat amat marah sekarang.

 

“Jessica-ssi..” dia menggumam. Tatapannya melembut. Membuatku teringat seseorang. Air mataku mengalir.

 

“Apa aku melakukan hal yang salah? Jwoisonghae..” katanya lagi sambil menghapus air mataku.

 

“Lepaskan aku..” geramku pelan. Kali ini ia menurut. Aku segera berlari secepat mungkin keluar dari tempat ini. Meninggalkan mereka semua.

 

Author pov.

 

Jungsoo terdiam saat Jessica meninggalkannya. Setengah dirinya ingin menghampiri orang yang diakui Jessica sebagai pacarnya itu untuk memukulinya karena sudah menyakiti Jessica. Tapi setengah dirinya lagi ingin mengejar Jessica karena takut sesuatu terjadi padanya. Akhirnya ia memilih berlari mengejar Jessica.

 

Jungsoo melihat seseorang sedang berlari jauh di depannya. Ia segera mengejarnya hingga lupa bahwa dia membawa mobilnya. Sesampainya di sebuah jalanan sepi, ia kehilangan jejak orang itu. Dia memutar badannya ke sekelilingnya mencari sosok itu. Dia tersenyum lega saat melihat sebuah sosok duduk di tanah kosong di samping jalan yang tidak terkena cahaya lampu jalanan.

 

“Kau bisa dikira hantu jika duduk di sana,” kata Jungsoo sambil tersenyum  lega dan menghampiri sosok itu.

 

Sosok itu –Jessica mendongak, “Untuk apa kau mengejarku?”

 

“Ingat? Aku diminta untuk selalu bersamamu.”

 

Jessica tersenyum tipis lalu mengubur wajahnya di antara lututnya kembali. Jungsoo memilih untuk duduk di samping Jessica dan diam.

 

“Jadi.. namamu Jungsoo?” tanya Jessica dengan suara serak.

 

“Kau baru tahu? Bukankah appamu sering menyebut namaku?” Jungsoo berbalik bertanya.

 

“Mianhae.. aku tidak pernah mendengarkan kata-kata orang lain dengan baik. Terlalu membosankan,” ujar Jessica –menggumam.

 

Jungsoo terkekeh pelan dan mengacak rambut Jessica. Jessica hanya mengerjap. Ia kenal sentuhan tangan itu. Tapi dia memilih untuk diam dan menggigit bibirnya. Jungsoo bangkit dan menarik tangan Jessica agar bangkit. Tapi Jessica malah meringis.

 

“Wae?” tanya Jungsoo cemas.

 

“Tadi aku jatuh. Sepertinya keseleo.”

 

“Naik ke punggungnya.”

 

“M-mwo?” bingung Jessica.

 

“Naik saja ke punggungku. Kau pasti susah berjalan. Ditambah lelah karena seharian kabur dariku,” tegas Jungsoo dengan suara lembut.

 

Jessica akhirnya menurut. Ia naik ke punggung Jungsoo dan menyandarkan kepalanya di pundak Jungsoo. Jungsoo mulai berjalan menuju letak mobilnya diparkirkan.

 

“Kembali ke café?” tanya Jessica pelan.

 

“Ani, kembali ke mobilku.” Jungsoo tersenyum mendengar helaan nafas Jessica setelah mendengar jawabannya.

 

“Bagaimana kau bisa tahu aku di café itu?” tanya Jessica lagi.

 

“Dari Sooyoung. Aku tahu dia adalah temanmu untuk soal itu dari beberapa teman kampusmu.” Lagi-lagi pembicaraan selesai begitu saja setelah Jungsoo menjawabnya. Cukup lama kondisi hening menemani mereka.

 

“Aku tidak sedih karena dia selingkuh. Hanya saja aku merasa aku memang tidak pernah dianggap sesuatu yang paling spesial. Orangtuaku selalu membanggakan Krystal. Sahabatku pun sibuk dengan pacarnya. Hanya Sooyoung yang tetap bersamaku selalu. Tapi dia juga lebih mementingkan karir DJnya. Lalu Yoochun, aku merasa dia menganggapku tidak lebih dari sampah untuk dipermainkan,” gumam Jessica. Leeteuk hanya diam.

 

“Kau terbiasa menjadi pendengar tanpa memberi tanggapan?” tanya Jessica sambil bersendagu di bahu Jungsoo lalu terkekeh pelan setelah beberapa lama ia tak mendapatkan sedikitpun tanggapan dari Jungsoo.

 

“Aku lebih suka menjadi pendengar yang memberi nasihat di akhir. Aku tahu kau belum selesai,” bantah Jungsoo.

 

Jessica menghela nafas dan mempererat lingkaran tangannya di leher Jungsoo. Ia kembali bersandar di punggung Jungsoo.

 

“Tak mau dilanjut?” tanya Jungsoo.

 

“Sepertinya cukup. Aku sudah tenang sekarang.”

 

Tiba-tiba Jungsoo berhenti melangkah dan merogoh saku celananya. Setelah ia mendapatkan barang yang ia inginkan, barang itu ia berikan pada Jessica lalu melanjutkan langkahnya. Jessica hanya memandang barang itu bingung. Lolipop strawberry?

 

“Makanan manis bisa mengurangi rasa sedih. Itu yang ku tahu,” ujar Jungsoo pelan.

 

“Kau tahu, tidak? Makanan manis bisa mengurangi rasa sedih. Cobalah.”

 

Jessica tersenyum dan mempererat pelukannya lagi. Jungsoo terbatuk karena tercekik. Jessica malah tergelak karenanya.

 

“Kau lelah? Turunkan saja aku..” kata Jessica.

 

“Aku akan lebih lelah melihat kau berjalan.”

 

>>>

 

Jungsoo membopong Jessica yang sudah terlelap ke kamarnya. Dia meletakkan Jessica di kasurnya dengan perlahan. Jungsoo terdiam menatap wajah Jessica. Senyumannya mengembang. Ia tinggalkan satu kecupan di kening Jessica sebelum akhirnya ia keluar dari kamar Jessica.

 

“Hari ini pasti sangat melelahkan.” Suara Mr Jung mengagetkan Jungsoo. Jungsoo segera membungkuk sopan.

 

“Ne, majayo. Tidak hanya aku, dia juga,” jawab Jungsoo sambil tersenyum.

 

“Ingin menginap? Sudah malam. Kau juga lelah. Bisa-bisa terjadi sesuatu saat diperjalanan nanti,” tawar Mr Jung. “Jangan menolak!” tambahnya saat melihat Jungsoo hendak membuka mulut. Jungsoo hanya tertawa.

 

“Geureyo..”

 

“Kau bisa memakai kamar tamu. Kau pasti tahu tempatnya, Teuk..” Mr Jung memperlihatkan senyum jahilnya.

 

Jungsoo hanya terkekeh dan tersenyum lebar memamerkan lesung pipinya. Sepeninggal Mr Jung, ia berjalan menuruni tangga dan menuju taman belakang. Ia memilih duduk di ayunan lalu mengeratkan jaketnya. Dia menggerakkan ayunan itu ke depan dan belakang dengan pelan sambil mendongak menatap langit.

 

“Jungsoo-ssi..” panggil seseorang.

 

Jungsoo menoleh dan tersenyum, “Jessica-ssi. Kau terbangun?” Seperti biasa, mulutnya ada lolipop.

 

Jessica tidak menjawabnya. Ia duduk di ayunan samping Jungsoo dan memilih untuk menggenggam lolipopnya. Dia menatap Jungsoo yang kembali memandang langit di musim dingin.

 

“Teuk oppa..” gumam Jessica. Jungsoo langsung menoleh cepat ke Jessica. Jessica malah mengalihkan pandangannya ke depan.

 

“Teuk oppa.. nama panggilan dariku. Aku ingat kau pernah sekali datang ke sini dengan orangtuamu dan bermain bersamaku. Temanku yang menjadi tempat aku menceritakan seberapa besarnya aku cemburu pada Krystal yang selalu diperhatikan dan dibanggakan oleh orangtuaku. Temanku yang memperkenalkanku pada lolipop strawberry dan membuatku gila akan lolipop strawberry. Temanku yang sangat spesial. Itu sebabnya aku memanggilmu Teuk oppa.”

 

Jungsoo hanya tersenyum mendengarnya. Jessica melirik Jungsoo sekilas dan ikut tersenyum.

 

“Kali ini, apa yang membuatmu bersedia menjadi pengawalku, oppa spesialku?” tanya Jessica akhirnya.

 

Jungsoo bangkit dan melipat tangan di dadanya. “Untuk mengembalikan Sica-ku yang baik dan manis walaupun mudah menangis.”

 

Jessica menendang kaki Jungsoo kesal lalu meletakkan kembali lolipopnya di dalam mulutnya dan mengulumnya. Jungsoo hanya meringis sambil mengelus kakinya.

 

“Aku yakin kau juga tidak menyukai kehidupanmu sekarang, kan? Hanya saja kau memerlukan pelarian,” tebak Jungsoo. “Begitu pula dengan Yoochun.”

 

Jessica menyeringai lemah, “Bagaimana kau tahu? Bahkan kau tahu kalau aku tidak sungguh-sungguh dengan Yoochun?”

 

Jungsoo meletakkan tangan kirinya di ubun-ubun Jessica. “Saat kau menunjuknya, aku merasa kau malah seperti memperkenalkan sahabat yang kau banggakan daripada pacar yang kau banggakan. Aku pintar, bukan?”

 

Jessica kembali menggenggam lolipopnya dan menepis tangan Jungsoo lalu mengerucutkan bibirnya. “Apa begitu mudah untuk mengetahuinya? Ugh, menyebalkan!”

 

Jungsoo tersenyum lebar. Dia mengacak rambut Jessica lalu merebut lolipop itu. Jessica segera meraih-raih hendak merebut kembali lolipopnya namun dihalang oleh tangan Jungsoo.

 

“Teuk oppa! Kau menyebalkan! Aku sedang butuh lolipop itu!” protes Jessica kesal.

 

“Itu artinya perasaanmu sedang tidak stabil kan sekarang. Itu aneh..” gumam Jungsoo jahil. Wajah Jessica memerah.

 

Jungsoo berdecak pelan. “Kau mau ku beritahu hal lain yang mengalahkan lolipop?”

 

Jessica terdiam sesaat dan mengangguk. “Mworago?”

 

“Tutup matamu.”

 

“Mwo?”

 

“Tutup matamu..”

 

Akhirnya Jessica menurut. Beberapa detik kemudian, ia merasakan sesuatu yang kenyal di bibirnya yang akhirnya mengulum bibirnya lembut. Jessica membuka matanya saat benda itu terlepas dan bibirnya. Wajahnya sudah sangat merah.

 

“Eotteo?” tanya Jungsoo sambil tersenyum lebar.

 

Jessica menggembungkan pipinya kesal, “Kembalikan lolipopku! Lolipopku jauh lebih baik.”

 

Jungsoo menghela nafas panjang lalu mengembalikan lolipop itu. Setelah itu, ia berbalik badan. Namun ia merasa jaketnya diremas dengan erat. Ia kembali berbalik.

 

“Tapi ku rasa suatu saat nanti, aku membutuhkannya,” ujar Jessica pelan. Jungsoo kembali tersenyum lebar.

 

Kau aneh, Jessica.. bagaimana bisa kau seperti ini hanya dalam sehari?, runtuk Jessica dalam hati.

 

===LollipopLove===

14 responses to “[Korean Fan Fiction] Lollipop Love (Oneshot)

  1. huwaaaaaa teukie oppa sama jessica kenapa cocok bgt sih..aku jadi jatuh cinta ma couple ini

    padahal sebelumnya aku ini KrysTeuk shipper, tapi pa baca ini aku jadi TeukJess shipper juga deh hahaha

    sumpah karakter teukie manis bgt, kira2 dikehidupan asli mereka juga kya gini ga ya..teukieeeee saranghaeyoo❤❤

    • waduh krysteuk ship? kok bisa? kan beda 12 tahun gitu😮
      haha, shipper ortuku makin banyak deh *nyibak rambut /plak😄
      iya dong~ dirumah mereka romantis banget. aku dan kakakku sampe pengen muntah liatnya /digetokappa-mami

  2. Annyeong haseyo.. Aku reader baru..
    Kyaa~! Aku suka banget ffny thor.. Tpi klo bole request.. Bikin ff taeteuk bole author?? Oneshot aja..😀

    Gomawo ya thor dah mau baca commentku…

  3. annyeong … aku baru nemuin blog ini.. keren banget thor T.O.P … hahahahahahha
    daebak thorr,,,,🙂

  4. Teukie Oppa..
    FF pertama yg qw baca, yg main castnya Teuk Oppa..

    Karakterx udh Teuk Oppa bgt..
    Kalem n murah senyum..
    Good job thor..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s