[Korean Fan Fiction] Melody of You (Twoshots) 2 of 2

Author : Lee Hyura

Title : Melody of You

Genre : Romance, Fluff

Rating : PG 13

Length : Twoshots

Cast :

–          SNSD Jessica

–          SJ Kyuhyun

–          Cho Ahra (Kyuhyun’s noona)

–          B1A4 Jinyoung

 

===MelodyofYou===

Pagi itu Jessica melakukan rutinitas barunya; berlari mengelilingi gedung pertunjukan musikal. Jessica berhenti berlari saat melihat Kyuhyun bersandar di ambang pintu masuk. Dia mengerutkan keningnya lalu perlahan menghampiri Kyuhyun.

 

“Kenapa kau melihatku seperti itu? Ada yang aneh denganku?” tanya Kyuhyun.

 

“Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Ada yang aneh denganku?” sahut Jessica.

 

Kyuhyun menegapkan badannya dan tersenyum, “Ani. Sudah terbiasa?”

 

Jessica mengangkat bahunya, “Entahlah. Mungkin sudah. Apa ini sangat perlu?”

 

“Ini adalah latihan dasar. Semua pemain difokuskan pada latihan ini selama kurang lebih 2 bulan. Mereka datang kesini hanya untuk berlari mengelilingi gedung ini. Tanya saja pada adik sepupumu itu,” jelas Kyuhyun sambil menarik tangan Jessica lembut ke dalam gedung.

 

“Lalu kenapa aku tidak diperlakukan seperti itu?” tanya Jessica.

 

“Waktu pementasan tidak lama lagi. Kalau kau memakai metode seperti biasanya, itu bisa menghabiskan waktu 3-4 bulan. Sedangkan pementasan tinggal kurang dari 2 bulan lagi,” jawab Kyuhyun. Jessica mendesah pelan.

 

“Kau sudah membaca naskahnya?” tanya Kyuhyun sambil menarik Jessica menuju kursi penonton dan duduk disana.

 

“Ne. Christine bodoh. Dia lebih memilih mati untuk bersama dengan Phantom. Padahal Phantom orang yang jahat. Lagipula dia juga punya orang yang mencintainya dengan tulus, Raoul.”

 

“Itu yang namanya cinta sejati.”

 

“Aniya! Christine kan juga mencintai Raoul.”

 

“Tapi Phantom mencintai Christine.”

 

“Raoul juga mencintai Christine. Sangat mencintai Christine!”

 

“Ah sudahlah! Lupakan. Kau membuatku pusing saja,” sungut Kyuhyun menggerutu.

 

Jessica mengulum bibirnya, “Lalu jika aku menjadi Christine, siapa yang menjadi Phantom dan Raoul?”

 

“Bagaimana jika aku dan Jinyoung?” celetuk Kyuhyun.

 

Jessica langsung menoleh kaget, “M-mwo?”

 

>>>

 

Jessica duduk disamping Jinyoung yang sedang menghapalkan dialog dramanya. Sesekali Jessica melirik ke naskah sambil menggigit bibirnya. Jinyoung menyadari itu pun menoleh dan terkikik.

 

“Wae geure, noona?” tanya Jinyoung.

 

“Kau benar-benar akan menjadi Raoul?” tanya Jessica pelan.

 

“Ne. Ku rasa aku cocok menjadi Raoul. Wae?”

 

Jessica menggeleng, “Eobseo, gwencana.”

 

Jinyoung mengernyit, “Kau tidak suka?”

 

Jessica langsung menggeleng cepat. “Bukan begitu!”

 

“Lalu?”

 

Jessica kembali menggeleng, “Anio. Lupakan saja.”

 

“Jessica-ssi! Waktunya latihan vokal!” teriak Kyuhyun.

 

“Aish~ suaraku bisa habis jika latihan vokal terus,” gerutu Jessica.

 

“Ya~ hwaiting, noona! Jika pementasan kali ini sukses, kau pasti akan sangat bangga!” seru Jinyoung. Jessica tersenyum dan bangkit.

 

“Kali ini bernyanyi atau berintonasi?” tanya Jessica.

 

Kyuhyun menggumam pelan, “Sudah hafal dialogmu?”

 

“Sudah. Tapi belum untuk diakhir,” jawab Jessica. “Ya! Kau belum menjawab pertanyaanku!”

 

“Aish.. aku ingin mengajakmu latihan bersamaku. Kita mempunyai banyak scene berdua,” kesal Kyuhyun.

 

Jessica mengerjap, “Jadi.. kau benar-benar akan menjadi Phantom?”

 

“Tentu saja! Siapa lagi yang cocok dengan perannya kecuali aku, pria paling berkharisma.”

 

Jessica mengibaskan tangan, “Anio. Tapi karena kau dan dia sama-sama jahat.”

 

“Ne?”

 

“Tidak! Lupakan!”

 

“Jessica Jung~ kau benar-benar belum kapok rupanya,” desis Kyuhyun.

 

“Ani! Aku kapok! Kya, Jinyoung-ssi! Tolong aku!” teriak Jessica.

 

>>>

 

Jessica menghempaskan dirinya di kursi meja makan lalu mengubur wajahnya di antara lengannya. Mrs Jung menatap Jessica bingung lalu melirik Jinyoung meminta penjelasan.

 

“Mungkin dia hanya lelah karena harus berlatih dengan giat. Dia kan menjadi peran utama,” celetuk Jinyoung.

 

“Jeongmal? Apa yang akan kalian pentaskan?” sahut ayahnya.

 

Le Fantôme de l’Opéra atau Phantom of The Opera,” jawab Jinyoung lalu menyuap makanannya. “Aku akan menjadi teman masa kecilnya,” lanjutnya.

 

“Dari Prancis?” tanya Mrs Jung. Jinyoung mengangguk. “Pasti kisah yang indah,” seru Mrs Jung.

 

“Akan menjadi kisah yang indah jika bukan aku yang menjadi Christine,” sahut Jessica lemas.

 

“Ya~ jangan berkecil hati. Mungkin saja memang kau yang paling pantas mendapatkan peran itu,” ucap samchonnya.

 

Jessica mendongak lalu bersendagu di meja, “Semoga saja.”

 

“Memang bagaimana kisahnya?” tanya Mrs Jung.

 

“Yah~ seperti itu lah. Endingnya seperti Romeo dan Juliet. Christine bunuh diri karena kematian Phantom yang diketahui bernama Erick,” jawab Jinyoung.

 

“Berarti..”

 

“Aniya! Tidak ada adegan ciuman! Sungguh!” potong Jessica cepat. Semuanya tertawa kecuali Jessica dengan wajah paniknya.

 

“Dia mudah sekali panik,” cibir Jinyoung lalu berdecak. Sedangkan Jessica mendesis kesal.

 

One month later.

 

Semua bersiap di tempatnya masing-masing. Sementara semuanya sibuk memantapkan persiapan, Jessica hanya duduk di salah satu kursi dibelakang panggung. Tatapannya kosong. Ahra yang sedari tadi memperhatikannya, menarik tangan Kyuhyun.

 

“Wae?” tanya adiknya itu.

 

Ahra menunjuk Jessica, “Bantu dia.”

 

“Apa yang harus dibantu?”

 

Ahra memutar matanya dan berdecak, “Ini pertama kalinya baginya. Dan dia seorang pemeran utama. Dia pasti gugup. Jika didiamkan, dia bisa demam panggung dan semua akan kacau.”

 

“Apa harus aku?”

 

“Tentu saja. Kau lawan mainnya.”

 

“Tap—“

 

“Turuti saja. Disini aku lah bossnya!” tegas Ahra.

 

Kyuhyun menghela nafas panjang. Sebenarnya ia ingin melakukannya sejak tadi. Ia ingin membuat Jessica tenang. Tapi memikirkan otak noonanya yang jahil, ia mengurungkan niatnya daripada weekendnya nanti dipenuhi oleh kata-kata godaan dari seorang Cho Ahra.

 

“Kau gugup?” tanya Kyuhyun.

 

Jessica mendongak, “Menurutmu?”

 

“Ku rasa kau memang gugup,” jawab Kyuhyun.

 

Jessica tersenyum tipis, “Lalu?”

 

Kyuhyun menghela nafas dan duduk disamping Jessica. Ia memposisikan dirinya dan Jessica agar berhadapan. Jessica hanya memandangnya bingung. Kyuhyun tersenyum melihatnya. Ia mulai menangkup wajah Jessica. Dengan cepat Jessica melepaskannya.

 

“Mian, tapi aku sudah pernah bilang kalau aku tidak biasa terlalu dekat dengan seseorang. Terlebih jika disentuh,” ucap Jessica pelan.

 

“Bodoh! Jika kau pikir itu tidak salah, jangan meminta maaf,” sungut Kyuhyun.

 

“Oke, baiklah. Lalu apa yang akan kau lakukan?”

 

“Let me think,” gumam Kyuhyun sambil berpura-pura berpikir.

 

Jessica terkekeh seraya memukul lengan Kyuhyun, “Babo.”

 

“Ne?”

 

“Kau itu.. ku kira kau kesini untuk membuatku tidak gugup lagi. Tapi.. aish..”

 

“Jangan salahkan aku. Aku tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Ini bagian Ahra noona,” sergah Kyuhyun.

 

Jessica menatapnya merendahkan lalu terkekeh sinis, “Baiklah aku menerima alasanmu.”

 

“Alasan? Huh! Terserahlah. Yang pasti saat kau berada dipanggung nanti, anggap saja kalau tidak ada orang yang menontonmu. Arasso?” Kyuhyun tersenyum lebar.

 

Tapi Jessica malah tertawa, “Dasar aneh!”

 

Jessica pov.

 

Aku bisa sedikit lega sekarang. Aku sudah melewati banyak scene. Pemain lainnya juga tidak berhenti menyemangatiku. Kami menyemangati satu sama lain. Dan yang ku lihat, Kyuhyun hanya menatapku dari jauh saat bukan bagiannya. Aku melempar senyuman padanya dan dia membalas.

 

Sekarang adalah scene akhir dimana Christine dipaksa untuk mati bersama Phantom tapi Christine menolak. Raoul datang membantu Christine. Saat terjadi perebutan, Meg datang dan menembak Phantom lalu menjelaskan segalanya.

 

“Kau jahat! Kau pembohong!” teriakku. Entah mengapa aku merasa menjadi seorang Christine sejati yang sedih karena melihat kematian orang yang dicintainya.

 

“Aku tidak bohong, Christine!” bantah yeoja yang memerankan Meg.

 

“Christine~” panggil Jinyoung yang memerankan Raoul.

 

“Tinggalkan aku! Aku ingin sendiri!” pintaku.

 

“Christine! Tidak ada gunanya kau menangisi kematian orang jahat sepertinya!” kesal Meg.

 

Aku mendelik kesal, “Ku bilang tinggalkan aku!”

 

Raoul berdecak, “Christine.. tapi..”

 

“Sudahlah, Raoul. Tinggalkan dia dan setan itu!” Meg menarik Raoul pergi.

 

Sepeninggal mereka, aku menangisi kematian Phantom. Aku mengucapkan sumpah serapah pada Meg. Dengan pisau yang dipakai oleh Phantom saat mengajakku mati bersama, aku bunuh diri. Aku menjatuhkan kepalaku tepat di lengan Phantom—yang diperankan oleh Kyuhyun. Tirai pun tertutup.

 

“Kita berhasil,” bisik Kyuhyun dengan mata tertutup.

 

Aku menelan air liurku. Wajahnya terlalu dekat. Akhirnya ia membuka matanya. Dengan reflek, aku terduduk dan segera bangkit. Dia menyusulku bangkit dengan dibantu oleh pemeran lainnya yang terburu-buru masuk ke panggung.

 

Aku mengambil tempat ditengah panggung. Kyuhyun mengambil tempat disampingku dan menggengam tanganku. Kami segera mensejajarkan posisi sambil berpegangan tangan. Kami membungkukkan badan saat tirai terbuka lagi dan bersamaan dengan epilog dibacakan.

Rasanya aku ingin berteriak!

 

“Gomawo, Kyuhyun-ssi,” gumamku saat kami berjalan ke belakang panggung. Dia hanya tersenyum padaku.

 

>>>

 

“Benar-benar hebat kau, Jessica-ssi! Di akhir, aku sampai merasakan kau dirasuki hantu Christine,” seru Ahra onnie saat perayaan keberhasilan kami semua.

 

Aku terkekeh, “Gomaseumnida.”

 

“Jinyoung-ah~ kau benar-benar tidak mengecewakanku. Ternyata kau benar!” lanjut Ahra onnie.

 

Aku menoleh dan menatap Jinyoung dengan wajah bangganya. “Aku memang hebat. Makanya jangan meremehkanku, noona~” serunya.

 

“Apa maksudnya, Jinyoung-ssi?” tanyaku.

 

“Jadi aku memohon pada Ahra noona agar memberi peran Christine padamu. Aku ingin kau disibukkan oleh sesuatu agar kau melupakan kecelakaan keluargamu, noona. I don’t wanna see your gloomy face anymore,” jelas Jinyoung sambil memasang senyum tak bersalah.

 

Aku mengangguk perlahan. Tidak ku sangka dia begitu perhatian padaku. Mungkin sudah saatnya aku memanggilnya dengan sebutan akrab. “Gomawo, Jinyoung-ah~”

 

Jinyoung langsung tersenyum lebar, “Ah, akhirnya kau memanggilku begitu juga, noona!”

 

Aku tersenyum tipis dan bangkit. Aku mengambil 2 buah cola dan keluar dari ruangan itu. Aku melihat dia duduk di bangku penonton sambil membaca buku. Aku menempelkan salah satu cola yang ku genggam ke pipinya. Itu berhasil menarik perhatiannya. Ia mendongak dan menerimanya.

 

“Tadi cukup bagus,” serunya sebelum ia membuka tutup kaleng dan meneguk colanya.

 

“Cukup? Ahra onnie bilang aku seperti dirasuki oleh roh Christine,” sungutku lalu menggembungkan pipiku.

 

“Itu hanya diakhir. Di awal kau masih kacau,” ralat Kyuhyun.

 

Aku menghela nafas. “Tapi setidaknya aku berhasil.”

 

“Yap, kau berhasil. Chukkae.” Dia meneguk colanya lagi.

 

Kami hanya diam. Benar-benar hening hingga akhirnya dia menarik tanganku. Sebenarnya aku sudah terbiasa. Jadi aku hanya pasrah.

 

Dia membawaku ke grand piano di atas panggung. Dia menarikku mendekat dan memaksaku untuk duduk bersamanya. Aku hanya mendesah pelan saat tubuhku terhempas duduk disampingnya.

 

“Aku tidak terima protes,” serunya.

 

“Jadi untuk apa kau menarikku?” tanyaku.

 

“Apa setelah ini kau akan berhenti?” tanyanya menggumam lalu menatap mataku.

 

Aku mengerjap lalu berpura-pura memainkan tuts piano agar aku bisa mengalihkan pandanganku. “Sepertinya begitu. Aku ingin fokus ke kuliahku dulu. Aku kan sudah semester akhir. Setelah itu, aku akan mencari pekerjaan agar tidak menyusahkan paman dan bibiku lagi. Wae?”

 

“Kalau begitu, kau harus bernyanyi untukku. Akan ku iringi oleh piano. Eotteo?”

 

“Ah kau sudah jatuh cinta pada suaraku, ya? Makanya kau memintaku untuk bernyanyi~” celetukku.

 

“Ayolah~ jangan besar hati. Lakukan saja!” tegasnya. Aku mengerucutkan bibirku. “Oke.”

 

A few months later.

 

Aku tersenyum bangga sementara samchon, imo dan Jinyoung bergantian berfoto denganku saat wisuda kelulusanku. Sedikit berharap keluargaku masih hidup dan bergabung bersama kami. Tapi itu tidak mungkin, kan? Hah~

 

“Noona! Kenapa wajahnya jadi suram lagi?” tanya Jinyoung.

 

Aku menoleh, “Ne? Aniya. Hanya.. yah, lupakan saja.”

 

“Setelah ini, kau ikut aku. Arasso?”

 

Aku mengerjap, “Eoddiga?”

 

Saat Jinyoung ingin membuka mulutnya, aku ditarik oleh teman-temanku untuk berfoto bersama. Aish..

 

>>>

 

Aku menarik tanganku agar Jinyoung berhenti saat dia menarikku masuk ke gedung pementasan. Itu berhasil. Dia berhenti dan menoleh ke arahku. Dia menatap meminta penjelasan padaku. Aku segera menggeleng cepat.

 

“Ayolah!” tekannya.

 

Aku kembali menggeleng, “Shireo.”

 

“Wae?”

 

“Err..” aku diam. “Aku ada urusan.”

 

“Kau sudah janji padaku, noona~” dia menatapku lirih.

 

“G-geureyo..” aku menghela nafas panjang.

 

Dia membuka pintu dan menarikku lembut. Kosong. Tidak ada seorang pun. Tiba-tiba terdengar dentingan suara piano yang diiringi suara yang ku kenal dari stereo. Jinyoung menarikku mendekat. Aku mengeratkan genggamanku.

 

you’re a painting with symbols deep, symphony

soft as it shifts from dark beneath 

 

a poem that flows, caressing my skin 

in all of these things you reside and I 

want you flow from the pen, bow and brush 

with paper and string, and canvas tight 

with ink in the air, to dust your light? 

from morning to the black of night 

 

this is my call I belong to You 

this is my call to sing the melodies of You 

this is my call I can do nothing else 

I can do nothing else 

 

you’re the scent of an unfound bloom 

a simple tune 

I only write variations to sooth the mood 

a drink that will knock me down to the floor 

a key that will unlock the door 

where I hear a voice sing familiar themes 

then beckons me weave notes in between 

a tap and a string, a bow and a glass 

you pour me till the day has passed

 

Aku berlari ke tempat grand piano. Tempat aku dan dia sering menghabiskan waktu bersama. Saat melihat sosok itu—Kyuhyun—, aku memperlambat langkahku. Perlahan dia menoleh dan tersenyum. Aku membalas tersenyum padanya.

 

“Kau suka?” tanyanya yang membuatku membeku.

 

Dia bangkit dan menghampiriku. Dia menarik tangan lembut. Haha.. rasanya sudah lama sekali aku tidak ditarik olehnya. Haruskah aku tertawa? Dia mengajakku duduk bersamanya. Tangannya menekan asal tuts piano. So awkward!

 

“Kau menyukai lagu itu?” tanyanya lagi.

 

Aku terkekeh, “Yea, lagu yang bagus.”

 

“Itu ciptaanku.”

 

Tawaku pecah seketika. “Jangan becanda! Semua orang juga tau kalau itu lagunya Sixpence None The Richer di album Divine Discontent. Huh!”

 

“Ku kira kau tidak tahu soal lagu ini,” runtuknya lalu terkekeh.

 

“Tentu saja aku tahu. Aku menyukai genre lagunya,” seruku bangga. Aku diam. “Melody of You,” gumamku pelan.

 

“Lagu yang sangat menggambarkanmu bagiku,” lanjutnya.

 

Aku menoleh dan menatapnya tak percaya. Dia tersenyum.

 

“Mungkin bulan waktu yang singkat. Tapi ku rasa itu cukup untuk jatuh cinta padamu,” bisiknya. Aku terkekeh gugup.

 

“Jadi?”

 

Aku menoleh, “Apa?”

 

“Jawabanmu~”

 

“Bahkan kau belum bertanya.”

 

“Bagaimana perasaanmu padaku? Puas?”

 

Aku diam. “Kalau aku berkata aku mencintamu, bagaimana?”

 

“Aku akan menjawab aku juga mencintaimu.”

 

Aku tertawa. Entahlah. Awalnya aku merasa seperti Christine karena mempunyai kisah awal yang sama tapi ternyata aku tidak seperti Christine. Aku jauh lebih beruntung darinya.

 

===MelodyofYou===

2 responses to “[Korean Fan Fiction] Melody of You (Twoshots) 2 of 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s