[Korean Fan Fiction] A Love Journey – Part 2

 

Author : Mira a.k.a Mira Hyuga

Main Cast : Kim Kibum (Key), Lee Hyebin (as YOU)

Support Cast : find it yourself *males/bletakk!*

Length : Sequel?

Genre : Romance, Friendship

Rating : G/PG

Disclaim : I don’t own all of cast, they belongs to themselves. But the plot is mine… ^^ Kalo ada yang sama, bukan suatu kesengajaan :) .

Summary : Sepasang kekasih yang baru saja merayakan 1 tahun hubungan mereka mengalami sebuah kecelakaan yang tanpa diduga. Ditambah lagi, mereka harus menghadapi masalah lain yang bahkan mereka sendiri tidak sadar masalah itu mengganggu hubungan mereka. Ketidak sadaran mereka ini membuat pihak ketiga berpikir untuk menganggapnya sebagai kesempatan yang harus dimanfaatkan.

A/N : HAAAII, CEMAN-CEMAAAN!! Long time no see(?).. ^o^ Apa kabaaar?😀 *siapelu-,-* Maaf banget sebelumnya, aku baru ngepost lagi sekarang. Part 2 ini sbnernya udah jadi beberapa bulan yg lalu. Tapi karena aku udah pikun(?) aku LUPA part 2 ini belom dipost di sini .__.a *parah* Happy reading aja, deh!😀

PART 2

…1 week later, Seoul Hospital…

Keadaan Key berangsur membaik, lebih cepat dari yang diperkirakan. Tulang bahunya yang retak sekarang sudah hampir pulih, begitu juga dengan masalah-masalah tulang kakinya. Tapi tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan ingatannya kembali, meskipun dokter yang memeriksanya mengatakan bahwa Key hanya mengalami retrogade amnesia yang hanya sementara dan ada kemungkinan akan kembali mengingat semuanya dalam waktu beberapa hari sampai beberapa minggu. Yah, mungkin membutuhkan waktu lebih lama lagi sampai Key bisa mengingat semuanya kembali. Tapi meskipun begitu, selama seminggu berada di rumah sakit, Key selalu merasa ada sesuatu yang mengganjal pikirannya, setiap saat. Namun dia tidak tahu apa itu, dan hanya menganggap itu bukan sesuatu yang serius, sehingga dia juga tidak pernah mengatakannya pada yang lain.

Publik tidak tahu-menahu tentang hilangnya ingatan Key saat ini. Tentu saja, karena Key mengalami kecelakaan beberapa jam setelah menyelesaikan Good Bye Stage ‘Ring Ding Dong’ mereka pada malam itu, yang berarti saat ini mereka sudah dalam masa vakum dan tengah mempersiapkan segala sesuatu untuk album mereka yang selanjutnya. *saia ngawur! (=o=”)*

Hari Minggu ini giliran Taemin, Minho dan Jonghyun yang menemani Key di rumah sakit, sedangkan Onew mendapat giliran mengunjungi orang tuanya, memanfaatkan masa-masa liburnya.

“Aigoo~seharian berada di tempat tidur sangat membosankan…!” gerutu Key sebal.

Taemin yang sedang memakan apel merah (yang sebenarnya dia sendiri yang membawanya untuk Key), hanya mengangguk polos. “Arasso, hyung.” katanya, membuat Key tertawa kecil.

“Mwoya?”

“Aku mengerti kau bosan.”

“Ne. Aku ingin menghirup udara segar.”

Taemin tidak menjawabnya dan malah terus fokus pada apelnya.

“Taemin-ah, kemana yang lain?”

>>><<<

Minho berdiri di depan pintu ruangan ICU, melalui kaca di pintu itu, dia bisa memperhatikan keadaan Hyebin di dalam sana, yang bahkan sampai sekarang masih dalam keadaan koma. Jonghyun di belakangnya, sedang bersandar ke dinding sambil sesekali membenamkan setengah wajahnya dengan topi yang dikenakannya jika ada orang lain yang kebetulan lewat.

“Annyeong?” lirih Minho, tersenyum miris. Miris sekali rasanya setiap melihat keadaan Hyebin yang tidak ada perubahan sedikitpun. Ah~bukan tidak, hanya belum. Dia yakin Hyebin akan kembali pulih seperti semula. Minho tetap pada pendiriannya yang semula, bahwa semua yang dialami Hyebin ini adalah karena Key tidak menjaganya dengan baik.

Jonghyun memperhatikan punggung Minho dengan prihatin, dia jadi membayangkan bagaimana Key jika ingat yeoja yang berada di dalam ruangan ICU itu adalah yeojachingunya sendiri. Mereka—Onew, Jonghyun, Minho dan Taemin—sepakat tidak memberitahu Key jika Hyebin koma, sebelum Key mengingat kembali semua tentang Hyebin. Lagipula mereka rasa akan percuma memberitahu Key, kalau Key saja tidak mengingat siapa itu Hyebin.

DRRTTTT~ DRRRTT~

Jonghyun merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya yang bergetar. Taemin menelfonnya. “Wae?… Gunakan kursi roda..! … Mwo? … Ah~baiklah, aku ke sana sekarang. … Ne.”

Jonghyun menutup flip ponselnya dan mendekati Minho. “Minho-ya…”

“Hn~?”

“Aku pergi sebentar. Sepertinya Taemin butuh bantuan. Gwaenchana?”

“Ne, gwaenchana.”

Jonghyun melangkah meninggalkan Minho setelah sebelumnya menepuk bahu Minho pelan. Sedangkan Minho sendiri kembali memusatkan perhatiannya pada Hyebin di dalam sana.

“Hyebin-ah, cepatlah sembuh! Kita ulangi semuanya dari awal, tanpa kembali ke masa yang lalu…” bisiknya.

>>><<<

…10 days later, Seoul Hospital…

Minho memasuki ruangan itu dengan membawa rangkaian bunga di tangannya. Wajahnya terlihat berseri meskipun tertutup topi dan masker yang dikenakannya. Dia terdiam sejenak di dekat pintu karena melihat seorang pria yang tengah duduk menghadap Hyebin yang masih berbaring di ranjangnya. Ya, Hyebin. Gadis itu sudah melewati masa komanya dan menemukan kembali kesadarannya minggu lalu. Dan itulah alasan Minho terlihat berseri sekarang.

Sebenarnya saat baru saja sadar kemarin, Hyebin hanya bisa membuka matanya tanpa melakukan gerakan-gerakan lain, persis seperti boneka. Namun karena pemeriksaan dan perawatan yang dilakukan pihak rumah sakit, akhirnya secara bertahap dan cepat Hyebin bisa berbicara dan bergerak dengan normal kembali, dan Minho menemukan sesuatu yang lain pada diri Hyebin.

“Annyeong haseyo…” Minho membungkuk dalam pada pria itu yang mengangguk membalasnya, kemudian tersenyum simpul.

“Minho-ssi?” ujarnya pelan, dan Minho mengangguk sambil berjalan mendekat.

“Apa kabar, Ajussi?” tanya Minho sambil melepas kacamatanya dan menurunkan maskernya.

Pria itu berdiri dan menyalami Minho sambil menepuk bahu Minho, “Tentu saja baik. Bagaimana denganmu sendiri?”

“Aku baik, Ajussi.”

“Sudah lama kita tidak bertemu. Sekarang kau terlihat berbeda. Aku hampir tidak mengenalimu tadi.”

“Ah~justru ajussi hebat, bisa dengan mudah mengenaliku yang mengenakan kacamata dan masker tadi. Padahal orang lain tidak bisa mengenaliku.” Sahut Minho sambil tertawa, begitupun dengan pria itu.

Hening beberapa waktu saat Minho meletakkan bunga yang dibawanya di atas meja yang ada di sana, lalu duduk di kursi yang ada, menatap pria itu yang sedang menatap anaknya yang masih tertidur dengan tenang.

“Sudah berapa lama keadaannya seperti ini?” tanyanya dengan nada bicara cemas.

“Ha-hampir dua minggu, Ajussi. Dan Hyebin sempat koma selama seminggu.” jawab Minho pelan. Dia melihat pria itu sedikit menampakkan mimik wajah kaget, tapi kemudian menghela napas panjang dan mengangguk.

“Kenapa dia bisa seperti ini? Dan… kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal?”

“Astaga! Ah~juiseonghamnida, Ajussi. Aku… aku tidak ingat sama sekali. Juiseonghamnida…” Minho membungkukkan badannya berkali-kali. Memang selama Hyebin koma, yang dipikirkannya hanyalah keadaan Hyebin saat itu, dan ingin cepat-cepat melihat Hyebin sembuh.

Pria itu menggeleng dan kemudian tersenyum simpul, “Ani, gwaenchana. Aku justru sangat berterimakasih karena kau sudah menjaganya di sini.” katanya, lalu melanjutkan, “Bagaimana dia bisa seperti ini?”

“Kecelakaan.” jawab Minho singkat.

“Aku juga mendengar dari dokter yang memeriksanya tadi, bahwa Hyebin… ada beberapa tulang rusuknya yang patah dan dia juga… kehilangan ingatannya?”

“Emm~ne, Ajussi. Saat sebelum Hyebin koma, dia sempat bertanya siapa aku, dan siapa dirinya. Dan setelah diperiksa kembali, dia memang mengalami amnesia karena kecelakaan yang menimpanya.” tutur Minho.

Pria itu mengangguk mengerti, “Dan setelah itu, dia tiba-tiba koma?”

Minho mengangguk mengiyakan. “Juiseonghamnida, Ajussi.”

“Kenapa minta maaf?”

“Aniyo. Aku hanya merasa bersalah melihat keadaannya seperti ini. Aku tidak menjaganya dengan baik.”

“Ah~ani… akulah yang seharusnya merasa bersalah. Aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri, sampai tidak tahu anakku sendiri dalam keadaan sesulit ini.”

Minho menunduk, kemudian kembali menatap Hyebin. Untuk selanjutnya ruangan itu sunyi senyap, hingga suara dengkuran halus milih Hyebin pun terdengar di setiap sudut ruangan.

“Ah ya, kudengar kekasih Hyebin itu salah satu teman satu grupmu. Siapa?” tanya tuan Lee kemudian.

Minho menoleh seketika dan menatapnya dengan mata bulatnya yang semakin membulat, “Ye. Dia… dia Kibum, Ajussi. Kim Kibum. Atau kami memanggilnya Key.” Jawab namja itu tanpa menghilangkan kesopanannya dalam berbicara.

“Kim Kibum…” tuan Lee mengangguk-angguk sembari menggumamkan nama itu, lalu kembali mengajukan pertanyaan, “Apakah dia tidak menjenguk Hyebin?”

“N-ne? A-ah~ itu… sebenarnya Hyebin kecelakaan saat pergi bersama Key.”

“Oh~ jinjjaro? Kalau begitu, dia juga terluka, dan jangan-jangan mendapat perawatan di sini juga?” tuan Lee terlihat kaget sekaligus khawatir, membuat Minho sedikit tersenyum kecut.

“Ne, tapi lukanya tidak separah Hyebin. Dia sudah pulang hari ini.”

“Keurae? Kenapa tidak menjenguk kekasihnya dulu di sini kalau begitu? Walaupun dia juga terluka, setidaknya dia pasti bisa melihat keadaan Hyebin saat ini.” raut wajah tuan Lee berubah seketika. Dahinya berkerut dan mimik khawatirnya sudah hilang sama sekali.

Minho hanya menanggapinya dengan senyum tipis, lalu menatap Hyebin (lagi).

>>><<<

…SHINee’s Dorm…

“RUMAH!!! HYAAAA~! AKHIRNYA AKU BEBAAAS!! AKU PULAAAAAANG!!”

Key berjalan terpincang ke arah sofa dan merebahkan tubuhnya di sana, menghela napas panjang sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, “Aigoo~ apa saja yang kalian lakukan? Kenapa berantakan sekali?” protesnya pada Onew dan Jonghyun yang baru saja masuk dan melepas sepatu mereka masing-masing. “Lihat itu! Jjong hyung! Itu baju kotormu, kan? Kenapa bertebaran dimana-mana? Buku, sepatu, bungkus snack, apa-apaan ini? Seharusnya dorm kita rapi dan bersih saat aku pulang. Apa begini cara kalian menyambut kepulanganku?” oceh Key lagi.

“Masuk rumah sakit dua minggu saja sombong!” cibir Jonghyun yang berjalan ke dapur untuk mengambil air minum.

“Ya!”

Sementara itu, Onew malah tiduran di lantai dan mulai bernyanyi tak jelas, “Sodajineun haesal keu sairo pink bikini agasshi~ Yeah! Hoaaaaahem~”

“Hyung! Ini harus dibereskan sekarang! Tidak enak dilihat, tahu!?”

“Tidak boleh aku istirahat sebentar saja, Key? Aku ingin tidur dulu.” Ucapan datar Onew itu sukses membuat Key semakin melipat wajahnya.

“Arasso, arasso.” Ucapnya dengan nada gusar, namun kemudian mengangkat kedua kakinya ke atas sofa dan membaringkan tubuhnya. “Ppft~ kenapa… aku merasa ada yang aneh?”

>>><<<

…Seoul Hospital…

Hyebin sudah bangun dari tidurnya dua puluh menit yang lalu, dan Minho sudah memberitahu bahwa pria lain yang juga ada di sana adalah ayah kandungnya. Pada awalnya Hyebin terlihat percaya-tidak percaya, sebelum akhirnya matanya berbinar senang dan meminta sang appa untuk memeluknya. Dan setelah itu, tuan Lee akhirnya juga menyadari sesuatu yang berbeda dari Hyebin.

“Appa, boleh, ‘kan aku minta segelas air putih?” pinta Hyebin dengan nada manja. Sang appa menatap Minho yang sedang menatap Hyebin dengan cemas. “Andwaeyo?” tanya Hyebin lagi, menatap kedua namja di depannya itu dengan kedua mata membulat.

“Ah~ tentu saja boleh. Jamkkan!” ujar Minho yang segera beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah dispenser yang ada di sana, mulai menuangkan air putih hangat ke dalam sebuah gelas.

“Tenggorokanku kering sekali. Saaaangat kering.” Keluh gadis itu lagi sembari mengusap-usap lehernya dengan pelan.

Sejak awal Minho mengerti, pasti karena kehilangan ingatannya, Hyebin jadi bertingkah seperti anak kecil begini. Tepatnya seperti anak yang baru berumur enam atau tujuh tahun. Minho pernah mendengar salah satu efek dari amnesia adalah apa yang kini terjadi pada Hyebin. Walaupun memakluminya, Minho tetap merasa cemas sekaligus miris memperhatikan gadis itu sekarang.

Namja bermata besar itu menyerahkan gelas yang sekarang sudah berisi air itu pada Hyebin, membantu gadis itu meminumnya dengan perlahan. Hyebin tersenyum lebar pada Minho dan mengucapkan terimakasih dengan nada khas anak kecil, dan Minho membalasnya dengan senyum lembut.

“Aigoo~ aku selalu senang melihat oppa tersenyum. Oppa tampan sekali saat tersenyum! Ayo, senyum lagi!” pekik Hyebin dengan riang, sedikit menepuk tangannya dengan lemah.

Minho mengusap kepala Hyebin pelan dan memberikan senyumnya lagi, membuat yeoja itu menangkup kedua pipinya sendiri dengan sikap malu-malu.

Kita benar-benar mengulangnya dari awal, Hyebin-ah.

>>><<<

…2 weeks later, SHINee’s Dorm…

“Hyung, eodiga?” tanya Taemin saat melihat Minho keluar dari kamar dengan pakaian rapi.

“Aku keluar sebentar.” Jawab Minho datar, lantas memakai sepatu kets putihnya, “Ittabwa!” pamitnya dan kemudian menghilang di balik pintu dorm.

“Akhir-akhir ini anak itu sering keluar karena urusan pribadi. Kira-kira urusan apa ya, Tae?” gumam Key yang kebetulan juga sedang berada di ruangan yang sama dengan Taemin.

“Mollayo.” Jawab Taemin sekenanya, kemudian berlari kecil memasuki kamarnya.

“Urusan pribadi, ya? Kenapa perasaanku jadi tidak enak?” Key bergumam pada dirinya sendiri. Beberapa detik kemudian, dia terlonjak kaget karena mendengar suara ribut dari dapur, disusul dengan suara Jonghyun dan Onew yang saling bersahutan tak jelas. Key menggelengkan kepalanya pasrah dengan keadaan ‘dapurnya’ saat ini.

“Semoga karena itulah perasaanku jadi tidak enak.”

“Hyung! Bukankah hari ini Hyebin noona akan keluar dari rumah sakit?!” tiba-tiba Taemin kembali keluar dari kamarnya dan berseru nyaring.

“Keureojyo!” jawab Jonghyun dari dapur, sama nyaringnya, “Haruskah kita pergi ke rumahnya? Kita bisa menyambutnya di sana.” tambah Jonghyun lagi, yang sepertinya ditujukan pada Onew yang juga berada di dapur.

“Keureom. Kita semua ke sana setelah selesai makan siang. Iya kan, Key?” terdengar suara Onew yang meminta persetujuan Key. Bukan hanya karena Key Almighty SHINee, tapi Onew mengatakan itu juga sekaligus untuk memastikan bahwa Key ikut mereka menemui kekasihnya sendiri yang bahkan belum diingatnya kembali.

Sebenarnya Onew, Jonghyun dan juga Taemin sudah tahu bagaimana keadaan… ehm~ kejiwaan Hyebin sekarang, karena mereka juga sekali-dua kali pernah menjenguk Hyebin di rumah sakit dalam waktu dua minggu ini, kecuali Key, karena dia memang masih harus banyak beristirahat untuk memulihkan keadaannya. Karena itulah kali ini Onew sengaja mengatakan ‘kita semua akan ke sana…’ yang artinya tidak akan ada seorangpun yang tinggal di dorm.

“Ne.” sahut Key datar dan singkat. Pikirannya melayang dan tatapannya kosong. Entah kenapa dia selalu merasa kehilangan sesuatu setiap mendengar nama Hyebin disebut.

>>><<<

…Seoul Hospital…

Hyebin menolehkan kepalanya dengan refleks ke arah pintu ruang rawatnya yang terbuka. Minho masuk dan langsung menyunggingkan senyum termanisnya saat melihat Hyebin tengah duduk menyamping di atas tempat tidurnya.

“Minho oppa!” seru Hyebin riang.

“Annyeong!” balas Minho yang kemudian ber-high five dengan gadis itu. Minho mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam saku blazernya dan menyerahkannya pada Hyebin, “Untukmu. Hadiah kecil karena akhirnya kau bisa pulang ke rumah!”

“Oh? Ige mwoeyo?” tanya Hyebin polos, setelah membuka kotak itu.

“Jam tangan. Kau suka mengoleksi berbagai macam jam tangan.” Ujar Minho yang kemudian memasangkan jam tangan itu di pergelangan tangan kiri Hyebin, “Begini cara memakainya.”

Mulut Hyebin membulat membentuk huruf ‘o’ dan kepalanya bergerak naik turun dengan perlahan, “Wah~ bagus, ya? Aku suka jam tangan. Hehe~” kekehnya senang, “Gomawoyo, oppa! ^.^”

Minho tertawa kecil seraya mengacak rambut gadis itu dengan perlahan. Selanjutnya mereka saling mengobrol tentang apapun untuk meramaikan suasana. Hingga beberapa menit kemudian, kembali terdengar suara pintu yang dibuka. Keduanya menoleh dan melihat tuan Lee memasuki ruangan, “Oh~ Minho-ya.” Sapanya pelan, dan Minho menganggukkan kepala ke arahnya sebagai formalitas.

“Annyeong haseyo, Ajussi.”

“Appa! Minho oppa memberiku jam tangan ini.” ucap Hyebin dengan mata berbinar-binar senang.

“Oh? Keurae.” Tuan Lee mengangguk-angguk dan terkekeh pelan sambil menatap Minho yang juga tertawa pelan.

“Ajussi, langsung pulang sekarang?” tanya Minho, dan tuan Lee mengangguk sebagai jawaban. Beberapa saat kemudian, mereka terlihat sibuk mempersiapkan kepulangan Hyebin.

>>><<<

…Lee’s House…

“Welcome home!!” seru Onew, Jonghyun, Key dan Taemin tepat saat pintu rumah itu terbuka. Taemin dan Onew menaburkan konfeti yang berjatuhan di atas kepala Hyebin, sementara Key dan Jonghyun meniup terompet gulung(?) yang ada di tangan mereka masing-masing.

Hyebin terperangah melihat kejutan yang ditujukan untuknya itu. Kemudian dia tertawa sambil menepuk kedua tangannya dengan riang, membuat Key mengerutkan alisnya dengan heran dan menatap Jonghyun dengan tatapan bertanya. Jonghyun hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban. Key kembali mengalihkan tatapannya pada Hyebin, tepat saat gadis itu juga sedang menatapnya, dan pandangan mereka pun bertemu, lama.

Kerutan di dahi Key semakin dalam, seiring semakin dalam juga dia melihat ke dalam mata itu, yang mengingatkannya pada sesuatu. Sesuatu… di dalam sebuah papperbag. Dan itu… underwear?! Underwear wanita?! APUAKH?!

“Noona~ akhirnya kau sudah pulang! Hehe~” Taemin memeluk Hyebin sekilas, membuat Key membuyarkan lamunannya.

“Ajussi, annyeong haseyo…” Onew membungkuk pada tuan Lee yang baru saja mencapai pintu masuk rumah. Minho menyusul di belakangnya, “Minho-ya! Kau dari rumah sakit?! Ya! Neo jinjja!”

Minho yang diomeli Onew nyengir lebar, sementara tuan Lee hanya tersenyum simpul, “Minho banyak sekali membantu. Haha~ ayo, duduk-duduk dulu! Wah~ kalian sengaja menyiapkan ini, ya?”

“Gomawoyo!” ucap Hyebin dengan semangat.

“Bukan masalah, ini hanya membuat ribut saja sebenarnya.” Sahut Jonghyun dengan enteng dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu, mengikuti yang lain yang sudah duduk duluan.

“Ah~ apa ini yang namanya Kim Kibum?” tuan Lee mengarahkan tatapannya pada Key, dan Key mengangguk mengiyakan. Pandangan tuan Lee berubah seketika menjadi sorot pandangan menilai.

“Ajussi, kami ke atas sebentar.” Ujar Minho meminta izin, dan kemudian pergi bersama Hyebin ke lantai dua setelah mendapat persetujuan tuan Lee. Mereka meninggalkan yang lainnya yang tidak lama kemudian juga terlibat obrolan santai, dengan tuan Lee yang tidak kunjung melepaskan tatapan menilainya dari Key.

“Ini kamarku?” gumam Hyebin setelah Minho membuka pintu sebuah ruangan di lantai dua itu. Minho mengangguk dan memberinya isyarat untuk masuk.

Setelah meletakkan tas yang berisi peralatan keperluan Hyebin selama di Rumah Sakit, Minho menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur yang ada. Sementara Hyebin berjalan mondar-mandir mengamati seluruh isi kamarnya yang sepertinya menjadi tempat asing baginya.

Minho tersenyum simpul saat beberapa kali mendengar suara pekikan kesenangan Hyebin setelah beberapa saat yang lalu menemukan koleksi jam tangannya sendiri di sebuah lemari di sisi lain kamar yang disekat dinding, sehingga memisahkannya dengan tempat tidur.

Kemudian namja itu sendiri menyapukan pandangan ke setiap sudut kamar. Kamar ini tidak berubah sejak terakhir kali Minho memasukinya kurang lebih setahun yang lalu, sebelum Key dan Hyebin bersama. Dindingnya bercat putih bersih, bersih dari tempelan semacam poster atau apapun, hanya jam dinding, sebuah kalender dan sebuah lukisan. Dan interior serta dekorasinya juga terkesan sederhana.

Tanpa sengaja mata Minho menatap sebuah foto yang terbingkai rapi yang diletakkan di atas nakas, foto Key dan Hyebin yang tengah tertawa sambil menatap satu sama lain. Refleks Minho menolehkan kepalanya ke arah dimana Hyebin berada—walaupun terhalang dinding—sedangkan tangannya terulur meraih benda berukuran A4 itu dan menangkupkannya dengan tanpa menimbulkan suara. Minho kemudian membuka laci nakas itu, sekali lagi melirik ke arah Hyebin berada sambil memasukkan foto itu ke dalam laci, menutup dan menguncinya dengan pelan, dan mengambil anak kuncinya diam-diam.

“Aaa~ yeppeune…” pekik Hyebin saat matanya berada tepat di hadapan sebuah jam tangan yang berbeda dari yang lain. Yang ini diletakkan di atas sebuah bantalan kecil berbentuk bunga mawar berwarna putih, seakan lebih berharga dari jam tangan lainnya.

Hyebin mengambil jam tangan digital itu dan mengamatinya beberapa saat.

[“Memang tidak sama persis, tapi yang penting aku sudah menggantinya.”]

Dalam sekejap sebuah bayangan terbesit di benak Hyebin, seperti film lama yang diputar, agak buram. Dia tidak tahu suara siapa itu, dia hanya melihat sebuah jam tangan yang pecah, di atas telapak tangannya sendiri.

“Bengong.” Tegur Minho, membuat gadis itu terlonjak dan tanpa sadar melepaskan pegangannya pada jam tangan yang sedang dipegangnya. Akibatnya benda itu jatuh ke atas lantai.

“Oppa!”

Minho nyengir lebar, “Sudah selesai melihat-lihatnya?” tanyanya pelan. Hyebin berpikir sebentar, kemudian mengangguk dan tersenyum. “Kamu masih harus banyak beristirahat.” Ujar Minho lagi sembari menarik gadis itu menuju tempat tidur, dan membaringkannya, menyelimutinya.

“Gomawoyo, oppa.”

Minho tersenyum dan mengecup dahi Hyebin sekilas, lalu keluar dari kamar itu, setelah sebelumnya mengucap pamit.

>>><<<

(Flashback On)

*Cuma mendeskripsikan aja gimana Key-Hyebin pertama ketemunya, bukan berarti salah satu diantara mereka udah inget. Hehe~ ^^v*

“Iya, aku mengerti. Sebentar lagi aku akan menuju ke sana.” Rajuk Hyebin yang sedang memilah-milah underware di sebuah toko di mall itu. Sebuah handphone menempel di dekat telinganya.

Terdengar dengusan namja yang menjadi lawan bicaranya di telepon itu, kemudian dia mencibir dengan suara beratnya, “Aku tahu berapa lama ‘sebentar’ bagimu, kalau sudah menyangkut shopping.”

Hyebin tertawa renyah, “Baguslah kalau kamu sudah tahu.” Katanya kemudian. Sebenarnya memang sudah 3 jam lamanya dia berkeliling mall untuk membeli ini-itu, menambah koleksi jam tangannya, yang paling penting. Dan ini juga sudah ketiga kalinya namja itu, Minho, meneleponnya untuk mengajaknya bertemu.

“Ayo cepat, duapuluh menit lagi aku harus segera kembali.” Tegas Minho, membuat Hyebin menghentikan gerakannya beberapa detik, kemudian segera menyerahkan pakaian yang sudah dipilihnya pada pramuniaga yang ada dan memintanya membungkuskannya.

“Duapuluh menit? Kenapa sebentar sekali?” gerutu gadis itu, kali ini sambil menyerahkan beberapa lembar uang untuk membayar.

“Menurutmu karena siapa aku menunggu lama di sini, Lee Hyebin-ssi?”

Hyebin mengerucutkan bibirnya, terlihat menyesal. “Arasso, arasso. Mianhae. Aku akan segera sampai dalam waktu lima menit saja. Tunggu aku, ya!” katanya, lalu memutuskan sambungan dan bergegas mengangkat semua kantung belanjaannya yang bisa dikatakan ‘melebihi batas jumlah normal’, dan kemudian berlari hendak keluar dari mall yang luas itu.

“Lima menit? Kenapa harus lima menit? Aku sendiri tidak yakin aku akan sampai di sana dalam waktu lima menit. Aaissh~ Lee Hyebin, paboya!” gerutu gadis itu sambil terus berlari dan sesekali membetulkan letak kantung belanjaan di tangannya, hingga kemudian tanpa sengaja tubuhnya menabrak seseorang yang juga tengah menjinjing beberapa kantung belanjaan di kedua tangannya. Merekapun jatuh terduduk dan saling menatap dengan tajam. Kantung belanjaan mereka sedikit berceceran di lantai.

“Aissh~ jinjja!” gerutu Hyebin menahan kesal. Dia menatap wajah namja itu, dan memberenggut kesal, “Ya! Kenapa kau menghalangi jalanku? Kau tidak melihat aku sedang sibuk, huh?” tuduh Hyebin masih dalam posisi terduduk. Tangan kanannya terangkat untuk menunjuk namja yang juga masih terduduk di depannya itu. Namun sedetik kemudian mata Hyebin menatap pemandangan lain yang berada di pergelangan tangannya sendiri. Jam.tangan.terfavoritnya.pecah.

“AAAA~ JAM TANGANKU! AIGO, EOTTEOKHAE?! APPAAAA~! JAM TANGAN KESAYANGANKU! KENAPA BISA PECAH SEPERTI INI~? HUWAAAA~!”

Puluhan pasang mata orang-orang yang memang paling banyak berada di lingkungan itu spontan tertuju pada Hyebin yang menangis persis anak kecil, dengan pandangan iba, dan kemudian menatap namja di depan Hyebin dengan pandangan mencela. Namja itu, yang tidak lain adalah Key, sontak menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan berseru, “Ani, anieyo. Aku tidak melakukan apapun padanya. Cheongmalyo. Aku tidak tahu kenapa dia menangis.”

“Huwaaa~! Ajussi, ajumma, chingudeul, dia sengaja menabrakku dan memecahkan jam tangan kesayanganku~! Huhu~ eotteokhaeyo?” adu Hyebin sembari menunjuk Key dan jam tangan pecahnya secara bergantian pada pengunjung mall yang lain.

“Mwo?!” Key terbelalak mendengar tuduhan gadis itu, “Ya! Kenapa kau menuduh sembarangan?! Tarik ucapanmu sekarang juga! Kalau tidak…”

“Huweeee~ yeoreobun… Lihatlah, dia akan mengancamku sekarang~” Hyebin merengek lagi.

“YA!!” bentak Key kesal. Pengunjung mall lain sekarang dijamin sudah berbisik-bisik membicarakannya. Apalagi bisa gawat kalau ada yang tahu namja ini member SHINee, yang baru saja debut..

“HUWAAA~ SEKARANG DIA BERANI MEMBENTAKKU, PADAHAL KAMI TIDAK SALING KE—mmmph~ mmmm~ ”

Kehabisan cara, Key membekap mulut Hyebin dan menyeret gadis itu keluar dengan satu tangan, sementara tangannya yang lain membawa sebagian kantung belanjaan mereka (karena yang lain masih di tangan Hyebin). Setelah sampai di halaman depan mall, Key celingukan mencari tempat yang agak sepi, sementara tangannya tetap membekap mulut Hyebin dengan erat.

“Hmmmp~ mmmmph~” Hyebin meronta sekuat tenaga dan memukul-mukul tangan namja yang membuatnya kesulitan bernapas itu. Bagaimana tidak? Key membekap mulut dan hidungnya sekaligus, sehingga tidak ada jalan masuk udara ke tubuhnya. “MMMMMMPH~”

“Wae? Sesak? Mau kulepaskan? Eoh?” tanya Key menantang, dan Hyebin mengangguk dengan wajah memerah. “Dengan satu syarat, kau tidak boleh menangis dan berteriak-teriak memalukan lagi seperti tadi. Arasso?”

“Hmmm~ m-mm!” Hyebin membuat V-sign dengan jari tangannya. Key mendengus dan akhirnya melepaskan tangannya. Hyebin segera menjaga jarak sambil mengambil napas sebanyak-banyaknya, sementara matanya menatap Key dengan tajam. Tapi, tunggu? Hyebin sepertinya agak familiar dengan wajah namja ini.

“Lain kali hati-hati! Kau sendiri yang tidak melihat jalan, malah menuduhku yang tidak-tidak.” Kesal Key sembari menyerahkan kembali kantung belanjaan Hyebin, tanpa memeriksanya lebih dulu. Setelah itu dia berjalan menjauhi Hyebin dengan langkah lebar.

Namun baru saja langkah ketiga, Hyebin berseru lagi, “Jogiyo!”

“Wae…” Key berbalik dengan ekspresi jengah, kemudian mengimbuhkan, “…yo?” Biar bagaimanapun, mereka, kan, belum saling kenal. Jadi Key merasa tidak nyaman jika langsung bicara informal.

“Bagaimana dengan jam tanganku? :(”

Key langsung mencelos mendengar rengekan itu lagi. Seraya kembali mendekati Hyebin, dia kemudian membalas, kali ini dengan kalimat informal saja! Pikirnya kesal, “Memangnya apa hubungannya denganku?”

“Ganti jam tanganku sekarang juga!”

“Mwo?” Key menganga parah, hampir saja dia tersedak air ludahnya sendiri, “Hey, nona. Kau sudah sukses mempermalukanku di depan orang banyak barusan, dengan menuduhku sembarangan. Dan sekarang kau memintaku mengganti jam tangan jelekmu itu? Ya! Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya jam tangan itu pecah. Jadi jangan melibatkan aku sembarangan! Arasso?!” omel namja itu. Dia ngos-ngosan karena terlalu terbawa emosi. Tapi rasa kesalnya benar-benar surut saat dia melihat bibir Hyebin bergetar, dan matanya mulai berkaca-kaca lagi.

“Aissh~ arasso, arasso! Apa yang harus kulakukan untuk menggantinya?” ujar Key lagi dengan berat hati.

“Tentu saja dengan memberiku jam tangan yang sama persis.” Jawab Hyebin sambil mengerjapkan matanya innocent.

Key mendengus sebal, kemudian melihat jam tangannya sendiri, dan mendapati sudah tidak ada waktu tersisa untuknya. Namja bermata kucing itu menatap Hyebin lagi dengan malas, “Kurasa tidak bisa sekarang.” Katanya setengah mengomel lagi.

“Lalu bagaimana? Jam tangan kesayanganku… :(”

Key berdecak lagi. Dan setelah menimbang-nimbang kemudian, dia menengadahkan tangannya pada Hyebin, “Handphone.” Katanya pelan.

Hyebin yang mengerti maksudnya merogoh saku celananya dan menarik keluar sebuah benda berwarna putih mengkilat dari sana, dan memeriksanya sebentar sebelum diserahkan pada Key. Dia terkejut begitu menemukan 3 missed call dari Minho, dan saat itu juga dia ingat janji mereka untuk bertemu. “Minho-ya~ aigoo, eotteokhae?” gumam Hyebin cemas. Minho pasti sudah pulang sekarang. Ini sudah lebih dari duapuluh menit.

“Ppalli, berikan padaku!” Key menyodorkan tangannya lebih dekat pada Hyebin, tanpa menyadari perubahan ekspresinya. Gadis itu meletakkan handphonenya di atas telapak tangan Key, yang segera menginput beberapa digit nomor yang sangat dihapalnya. Dan beberapa detik kemudian handphonenya sendiri bergetar, menandakan ada telfon masuk. “Itu nomor ponselku. Jangan sebarkan sembarangan, arasso?” dia mengembalikan lagi handphone Hyebin pada sang empunya.

“Apa aku bisa mempercayaimu?”

“Ya! Seharusnya aku yang bilang begitu padamu, yeoja! Neo jinjja!” Key mendelik tajam, kali ini berhasil membuat Hyebin agak mengkeret, setidaknya. “Kalau ada waktu luang, aku akan mencarikan jam tangan yang sama persis seperti milikmu, dan akan memberikannya padamu lain kali, tentunya.”

“Kalau ada waktu luang? Seperti orang sibuk saja.” Cibir Hyebin pelan.

Key mendelik tajam (lagi), “Mworago?”

Hyebin buru-buru menggeleng dan mengkeret lagi. Key melengos dan berbalik pergi sambil mengangkat sebelah tangannya sebagai salam perpisahan.

Key menghitung jumlah kantung belanjaannya—yang tadi diletakkannya di atas sofa—sekali lagi. Sepertinya ada yang tidak beres. Ah! Kenapa jumlahnya jadi lebih satu? Jangan katakan…

Namja itu mendekati sofa dan memeriksa satu persatu isi kantung belanjaan tersebut, hingga di kantung belanjaan ketiga, dia agak melongo. Dirogohnya kantung itu, dan tangannya mengeluarkan sesuatu yang berbentuk kacamata, terbuat dari kain dan bertali. Key terbengong sebentar. Tunggu, dia pernah melihat benda ini. Seperti…

“OO‼” Key terlonjak sambil melemparkan benda itu kembali ke dalam kantung belanjaannya, dan mengusap-usap tangannya ke permukaan sofa sambil bergidik geli. Sejak kapan dia mengoleksi UNDERWEAR WANITA?! (>///<)

“Gwaenchana, Key?”

“Onew hyuuunggg~ tanganku sudah ternodai~~! (T..T)”

Hyebin keluar dari kamar mandi setelah mengenakan kimono handuknya. Langsung saja gadis itu menghampiri tempat tidurnya, dimana dia meletakkan kantung-kantung belanjaannya. Sambil bersenandung kecil, Hyebin memeriksa satu-persatu isi kantung itu. Raut wajahnya langsung berubah saat tidak menemukan apa yang dicarinya. Merasa kurang yakin, Hyebin kembali memeriksa ulang kantung itu satu persatu. Tapi tetap dia tidak menemukan kantung yang berisi underwearnya.

“Omo! Namja itu… jangan-jangan…” pikirannya melayang membayangkan ‘kronologis’ kejadiannya tadi yang melibatkan Key. Wajah Hyebin memerah seketika setelah memikirkan kemungkinan namja itu yang membawa underwearnya. “Andwae! Andwae! ANDWAE!! HUWWAAA~ APPAAA! ” jerit yeoja itu dengan histeris, sambil menenggelamkan wajahnya di bantal.

“Agassi, gwaenchanayo?” sebuah suara dari luar kamarnya itu membuat Hyebin menghentikan ‘tangisan anak kecilnya’ sejenak, kemudian menyahut dengan gumaman. “Turunlah, makan malam sudah siap.” Lanjut pembantu rumah tangga di rumahnya itu.

“Ne…” jawab Hyebin pelan, dan kembali meratapi nasib memalukannya sambil menggigit bantal di pelukannya. “Appa~”

Seminggu kemudian…

Hyebin yang sedang di cafe bersama Minho menerima telfon masuk dari ID kontak ‘Namja Jam Tangan’. Sebenarnya itu Key, karena Hyebin tidak tahu namanya, dia mengetikkan asal ID kontak itu, mengingat namja itu juga punya ‘hutang’ jam tangan padanya.

“Yeoboseyo?” sahut Hyebin pelan.

“Ini aku.”

“Ye, arasso.”

“Itu… bisa kita bertemu sekarang?”

“Sekarang?” Hyebin menatap Minho sekilas, dan mendapat tatapan ‘ada apa’ dari Minho.

“Ne. Aku ingin mengembalikan… ehem~ barangmu.”

BLUSH!

Hyebin sangat yakin wajahnya sangat memerah sekarang. Dia merasa diingatkan akan nasib amat memalukannya. Tapi kemudian dia menjawab, “Ah~ itu, gwaenchana. Aku… aku bisa membeli yang baru.” Sebisa mungkin dia tidak perlu bertemu lagi dengan orang itu, atau dia akan dipermalukan habis-habisan nanti.

“KAU GILA?!” Hyebin menjauhkan speaker handphonenya sejenak dari telinganya, membuat Minho melihatnya heran. “Aku tidak pernah sudi ada benda seperti itu di rumah kami.”

“Kalau begitu buang saja, atau berikan pada tetanggamu. Tidak apa-apa, kok.”

“KAU MAU MEMPERMALUKANKU?!” Untuk kedua kalinya, Hyebin menyingkirkan handphonenya dari telinganya, “Lagipula kau tidak mau jam tangan yang kau pinta waktu itu?”

“Ah~ benar juga.” ujar Hyebin, kembali merasa diingatkan. Jam tangan kesayangannya.

“Kau dimana sekarang?”

“Aku ada di cafe Gain.”

“Baiklah, 10 menit lagi aku ke sana.”

PIP!

Sambungan terputus. Hyebin pun menenggelamkan kepalanya di atas kedua lengannya yang bertumpu sambil merengek kecil sekaligus mempersiapkan mentalnya.

“Wae? Nugu?” tanya Minho penasaran.

“Molla. Dia orang yang membuatku tidak jadi bertemu denganmu minggu lalu itu.” Tutur Hyebin tanpa ragu.

“Jinjja?”

“Ne. Aaah~ kenapa sih aku harus mengalami ini? Huhu~ bagaimana ini?”

“Memangnya kenapa?”

“Minggu lalu, dia menabrakku di mall, saat aku terburu-buru akan menemuimu di sini. Karena insiden itu juga jam tangan kesayanganku rusak parah. Setelah itu aku memintanya mengganti jam tanganku, kemudian kami berpisah. Aku baru sadar kalau… dia membawa kantung belanjaan yang berisi pakaian dalamku. :’(”

3…

2…

1…

“Ppfft~” Minho menutup mulutnya dengan punggung tangannya, bermaksud menahan tawanya yang bisa saja meledak setelah mendengarkan penjelasan sahabatnya itu. Tapi Minho merasa pernah mendengar cerita yang sama dari sudut pandang yang berbeda, entah kapan dan dari siapa. Sementara itu, Hyebin kembali menenggelamkan kepalanya malu.

Sesuai yang dikatakannya, Key sampai di cafe Gain, tempat Hyebin dan Minho berada, sepuluh menit kemudian. Namja beralis tebal itu menyapukan pandangannya ke setiap penjuru ruangan, dan menemukan Hyebin di sebuah meja, bersama seorang namja yang duduk membelakanginya. Key menghampiri meja itu dengan raut wajah datar, “Ya!” sapa(?) nya pada Hyebin.

Hyebin menatapnya sambil tersenyum kikuk. Aku ingin mati saja. Pikirnya saat melihat sebuah kantung di tangan Key.

“Oh~ Key!” seru Minho setelah menyadari namja yang menghampiri mereka itu adalah teman segroupnya sendiri. Key sendiri tampak terkejut melihat Minho di sana.

“Kalian saling kenal?” tanya Hyebin, melupakan sejenak kemaluannya *ups(?_?)*

“Kalian juga?” Key menunjuk Minho dan Hyebin.

“Key, kami bersahabat sejak lama, dan Hyebin, dia Key, teman satu groupku. Masa kau tidak tahu?” Sahut Minho tenang. Sekarang dia bisa menyimpulkan bahwa orang yang membuatnya mengundur waktu bertemu Hyebin minggu lalu adalah Key. Di sisi lain, Hyebin juga menyadari bahwa tentu-saja-dia-merasa-Key-sudah-familiar, karena ternyata dia memang pernah melihatnya di televisi, dimana dia menonton perform Minho dengan SHINee.

Key mengangguk paham, kemudian menyerahkan kantung di tangannya pada Hyebin sambil menyeringai sebal. Hyebin segera menerimanya dengan wajah memerah, “Gomawo… yo.” Katanya setengah berbisik. Dia mengintip isi kantung itu, takut-takut Key mengerjainnya atau apa. Tapi yang ditemukan di atas tumpukan kain—yang sudah bisa dipastikan adalah underwearnya—adalah sebuah kotak berukuran sedang yang bergambar model sebuah jam tangan. Hyebin bersorak kecil dan mengeluarkan kotak tersebut, sudah lupa betul dengan rasa malunya.

Key mencibir sambil duduk di kursi yang tersisa di meja itu. Dia memperhatikan ekspresi  Hyebin saat menerima jam tangan yang dijanjikannya. Ah, tidak. Bukan dia yang menjanjikannya, tapi Hyebin yang memaksanya. “Memang tidak sama persis, tapi yang penting aku sudah menggantinya.” Celetuk Key saat Hyebin terlihat agak heran saat mengamati jam tangan itu.

Namun Hyebin menggeleng kecil dan tersenyum simpul, membuat Key sedikit terhenyak. Dia tidak menyangka senyuman Hyebin bisa semanis ini. Ups! “Gomawoyo…?”

“Key, panggil saja Key. K-E-Y. Kukira kau sudah tahu tentangku.”

“Oke, Key.” Ujar Hyebin, sedikit ketus lagi.

(Flashback Off)

>>><<<

“Annyeong haseyo…”

“Minho oppa!” Hyebin menyambut Minho dengan riang sambil berlari kecil menghampiri namja itu. “Bogoshippeo.” Rajuknya. Mereka memang tidak bertemu selama sekita 3 minggu. Minho sudah mulai sibuk lagi dengan groupnya, sedangkan Hyebin masih butuh istirahat.

“Na do.” Balas Minho tersenyum, “Mana appamu?” tanyanya sembari mengusap puncak kepala Hyebin pelan.

“Appa pergi. Aku tidak tahu kemana.” Jawab Hyebin dengan bibir mengerucut lucu.

Minho tertawa kecil, “Bosan, ya?” tanyanya, dan Hyebin mengangguk. “Hey, bagaimana kalau kita jalan-jalan?” tawar Minho kemudian.

“Ide bagus!”

>>><<<

…SHINee Dorm…

“Key!” Jonghyun berjalan ke ruang tengah dan menemukan Key sedang menonton televisi dengan santai.

“Wae?” sahut Key kalem.

“Demi apapun, aku baru menyadari ini sekarang. Kau kemanakan fotomu dengan Hyebin, yang biasanya selalu terletak di atas meja di kamar?” tanya Jonghyun agak kalut.

“Foto? Dengan Hyebin? Memangnya aku pernah berfoto dengan yeoja itu, Hyung?” tanya Key polos. Jonghyun menepuk dahinya dengan sikap lelah. Sudah beberapa kali dia dan member lain berusaha membuat Key mengingat kembali tentang Hyebin. Tapi selalu tidak berhasil. Key selalu mengelak bahwa dia tidak mungkin menjadikan gadis—yang menurutnya seperti anak kecil—itu pacarnya, dan malah bergidik saat disuruh mengingat hal itu.

Beberapa kali juga Jinki, Jonghyun dan Taemin memaksa Key menemui Hyebin di rumahnya. Tapi yang ada malah Key kembali lagi ke dorm dengan wajah datarnya, karena saat dia ke sana, tuan Lee selalu mengatakan bahwa Hyebin sedang istirahat.

Mereka tidak tahu bahwa di dalamnya, Key sebenarnya mengalami pertentangan batin. Hati dan pikirannya seolah tidak sejalan. Otaknya memerintahkan anggota tubuhnya untuk mengatakan hal yang dilontarkannya pada hyung-hyungnya, tapi hatinya berkata lain.

“Key, kau tidak percaya pada kami?”

“Tidak percaya apa?” tanggap Key cuek.

“Hyebin dan kau…”

“Issh~ hyung, aku tahu aku ini hilang ingatan. Tapi kalian tidak bisa mengerjaiku sampai sebegitunya karena itu.” Lagi-lagi ada perasaan mengganjal setelah Key mengatakan itu.

“Siapa yang mengerjaimu, pabo?!” tukas Jonghyun seraya melempar bantal sofa ke kepala Key. “Lalu siapa yang mengambil fotomu? Aneh sekali. Kau amnesia, petunjuk yang bisa mengingatkanmu pada Hyebin juga menghilang. Apa yang terjadi?”

“Apa, sih? Petunjuk apa? Aku tidak mengerti.” Key masih menatap televisi dengan wajah tanpa ekspresi.

Jonghyun menjitak kepalanya kesal. “Susah sekali memberitahumu. Dasar keras kepala.”

>>><<<

To Be Continue

 

A/N : Oke, ane tau ini bener-bener gak jelas bin aneh. (= =”) Gara2 kelamaan disimpen doang di lappie, sih… Jadi idenya pada ngilang2.. (T_T) Ampun dulur(?)…

One response to “[Korean Fan Fiction] A Love Journey – Part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s