[FREELANCE] GOLDEN WIZARD / Part-1

Title : GOLDEN WIZARD / Part-1

Author : Miev

 Genre : Crime, Detectif, Action, Romance

 Rating : PG-15

Main Cast :

» Kim Jaejoong DBSK

» Shim Changmin DBSK

» Lee Joon MBLAQ

» Park Jungsoo (Leeteuk) SUJU

» Kim Ha Neul  (OC)

» Choi Myung Ah  (OC)

» Min Sung Rin  (OC)

 Supporting Cast :

» Park Hyun Chul (Karam) DN-A

» Choi Siwon SUJU

Disclaimer : Author hanya ber-hak atas isi cerita dan OC. Selain itu semua cast resmi milik Sang Pencipta ^^v. Cerita ini bener-bener muncul dari imajinasi author,, dengan bantuan inspirasi dari komik ‘Detective Conan’ dan film ‘New Police Story’.

A/N : Sebelumnya aku mau ksh tau, FF ini udh prnah aku post di akun Fbku.

So, happy reading n enjoy it! ^^

 

Selembar kertas hitam melayang jatuh dari langit-langit sebuah ruangan yang cukup luas dengan sebuah kotak kaca kosong ditengah ruangan. Kertas hitam itu menyentuh lantai tepat mengenai cahaya merah yang terpancar membentuk garis lurus yang menghubungkan satu sisi dinding dengan sisi dinding lain dihadapannya. Sinar sensor merah tersebut seketika hilang bersamaan dengan alarm yang berbunyi meramaikan seisi gedung bertingkat yang berdiri ditengah-tengah kota Seoul tersebut.

 

Mendengar alarm peringatan berbunyi para penjaga yang sedari tadi berpatroli menyusuri tiap koridor di gedung itu kini berlarian menuju sebuah ruangan yang dijaga dengan sangat ketat. Dimana berbagai system keamanan diterapkan diruangan tersebut. Mulai dari pintu besi tebal berlapis dengan kunci kombinasi, hingga sinar sensor dan laser yang memenuhi lantai. Yang bertujuan untuk mencegah hilangnya sebuah kalung permata berharga yang sebelumnya mengisi kotak kaca yang diletakkan ditengah ruangan.

 

“Tidak mungkin” ucap seorang penjaga setelah berhasil masuk kedalam ruangan tertutup itu dan mendapati isi dalam kotak kaca ditengah ruangan itu telah lenyap. Penjaga itu melangkahkan kaki mendekati selembar kertas hitam yang tergeletak disebelah kotak kaca dan kemudian mengarahkan tangannya untuk memungutnya. Sebuah kalimat singkat yang ditulis dengan tinta emas terbaca jelas diatas kertas hitam itu.

Terima kasih…

 

 Golden Wizard”

 

 

———

 

 

1 Bulan kemudian…

 

Udara yang sejuk dalam ruangan, gorden berlapis yang menutupi jendela tinggi dan menghalangi masuknya sinar matahari pagi, serta kasur yang empuk dan nyaman tampaknya masih membelai seorang gadis berambut ikal sepinggang untuk tidak beranjak meninggalkan alam mimpinya. Gadis itu tampak masih tertidur pulas dibawah selimut tebalnya yang nyaman, walau jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul 7 pagi.

Seorang perempuan berseragam biru navi dengan rambut yang terikat rapi kebelakang terlihat memasuki kamar gadis itu. Berjalan menuju tempat tidur dan berhenti tepat disamping kasur dimana sang gadis masih tertidur.

 

“Nona, sudah waktunya anda bangun!” serunya tanpa mengubah posisi tangan kanan yang menggenggam tangan kirinya didepan perut.

Gadis itu tidak merespon, dia masih tetap hanyut dalam mimpinya.

“Nona, sudah saatnya anda pergi kuliah!” seru perempuan itu lagi dengan nada yang lebih tinggi. Dan itu berhasil mengusik mimpi sang gadis. Dia tampak menggeliat, namun kemudian menarik selimutnya hingga menutupi puncak kepalanya.

 

“Bisakah kau bangunkan aku 10menit lagi, nona Shin?” tanyanya malas.

“Tidak bisa nona Myung Ah, anda harus pergi kuliah 30 menit lagi” kata perempuan yang dipanggil nona Shin itu.

“Tapi aku masih mengantuk… memangnya jam berapa sekarang?” tanya gadis bernama Myung Ah itu masih dalam selimutnya.

 

“Jam 7 pagi, nona” sontak Myung Ah menyingkap selimutnya dan bangun dari tidurnya. Rasa kantuknya langsung hilang setelah mendengar jawaban nona Shin.

“Kenapa kau tidak membangunkanku dari tadi?” omel Myung Ah sembari loncat dari tempat tidurnya.

 

“Saya sudah membangunkan nona 30 menit lalu, tapi nona memintaku membangunkan 30 menit lagi” kata nona Shin yang kini menyibak korden yang tergantung pada jendela tinggi dikamar itu. Mempersilahkan sinar matahari masuk dengan leluasa. Myung Ah terdiam sesaat, mengingat-ingat apa yang dikatakan nona Shin. Tapi dia sudah lupa dengan ucapannya 30 menit lalu, karena dia mengucapkannya dalam keadaan mengantuk.

 

“Ya, baiklah, terima kasih sudah membangunkanku, dan sekarang kau boleh keluar, aku akan segera bersiap-siap” ucap Myung Ah sembari berjalan kearah kamar mandi. Nona Shin pun keluar dari kamar besar tersebut, meninggalkan Myung Ah yang baru memasuki kamar mandinya.

 

20 menit kemudian, Myung Ah keluar dari kamar mandi sudah dengan pakaian rapinya. Melepas handuk yang masih menempel pada kepalanya lalu mulai mengeringkan rambut panjangnya dengan hair dryer. Setelah beberapa menit, Myung Ah menghentikan kegiatannya dan beralih menyisir rambutnya serta memakai make up tipis pada wajah mulusnya. Setelah merasa cukup, dengan sigap tangan kanannya menyambar tas yang ada diatas meja sembari berlari keluar kamar.

Diruang makan eomma, appa, dan oppa tersayangnya sudah menunggu kehadirannya, namun Myung Ah memilih untuk tidak sarapan bersama. Gadis itu hanya menyambar setangkup roti gandum yang sebelumnya telah disiapkan oleh eommanya dan segera pamit untuk pergi lebih dulu.

 

“Eomma, appa, oppa, aku pergi… annyeong” ucapnya sembari berlari keluar rumah. Eomma, appa, dan oppanya hanya menggeleng memperhatikan tingkah anggota keluarga kesayangan mereka itu. Yang mereka yakin pasti akan mengemudikan mobil favoritenya dengan kecepatan penuh jika dalam keadaan terburu-buru seperti saat ini.

 

Dan benar saja, jalanan yang cukup lengang membuat Choi Myung Ah dengan leluasa semakin menambah kecepatan mobil sport merah yang dikendarainya, agar cepat sampai di kampus tempatnya kuliah. Terus melesat mendahului mobil-mobil yang ada dengan kecepatan penuh. Seakan-akan jalanan kota Seoul adalah arena balapan pribadi miliknya. Saat Myung Ah mulai asyik menguasai jalanan, tiba-tiba sebuah mobil Ferrari biru melesat cepat mendahului mobil merah miliknya. Myung Ah tersentak kaget saat itu juga, bahkan dia refleks mengurangi kecepatannya.

 

“Aish, dia lagi!! selalu merusak mood-ku” gerutu Myung Ah memperhatikan Ferrari biru yang kini sudah cukup jauh melaju didepannya. Gadis itu tau betul siapa pemilik mobil yang sudah berhasil membuat mood-nya sedikit suram.

 

 

———

 

 

Sebuah taksi menghentikan lajunya didepan sebuah bangunan rumah besar 2 lantai bergaya Eropa-Jepang. Pintu belakang taksi tersebut terbuka dan keluarlah seorang gadis manis berambut sebahu. Gadis itu memandangi rumah besar tersebut dengan perasaan senang dan rindu yang tampak diwajahnya.

 

“Gomawoyo” ucapnya pada sang supir taksi setelah menurunkan 2 koper miliknya.

“Cheonmaneyo” balas supir itu lalu masuk kembali dalam taksinya dan segera melajukannya meninggalkan gadis yang kini berjalan mendekati pagar rumah tersebut.

 

“Hmm, rindunya…” ucapnya sembari mendorong pintu pagar yang tinggi itu. Melangkahkan kakinya memasuki halaman rumah yang cukup luas dengan beberapa tanaman hias tertata rapi disana.

Sebuah pintu tinggi kini sudah berdiri tegak dihadapannya. Dengan bibir yang masih menyunggingkan senyumnya, gadis itu dengan yakin mendorong salah satu daun pintu itu hingga terbuka.

 

“Oppa… aku pulang!” serunya sembari melangkahkan kakinya memasuki rumah yang tampak sepi itu. Tanpa menunggu jawaban gadis itu masuk dengan menyeret 2 buah kopernya menyusuri ruangan dengan berbagai mebeul mewah disana.

“Masih sama seperti dulu” ucapnya sembari menebarkan pandangannya mengelilingi setiap sudut rumah itu.

 

“Ya!! siapa kau??” teriak seseorang yang berhasil menghentikan langkah gadis itu dan membuatnya mematung ditempat. Perlahan gadis itu memutar tubuhnya, mencari sesuatu yang menjadi sumber suara. Seorang namja jangkung berdiri tak jauh darinya.

 

Gadis itu menyipitkan matanya, memperhatikan namja yang tampak asing baginya. Begitu pula dengan namja itu. Dia berjalan mendekati gadis itu dengan mata yang masih memperhatikan dari ujung kaki hingga ujung rambut.

“Kau… siapa kau??” tanya namja itu dengan tatapan penuh curiga pada gadis manis itu.

“Se, seharusnya aku yang tanya. Siapa kau?? kenapa ada dirumahku??”

 

“Rumahmu??…” gadis itu mengangguk cepat menjawab pertanyaan tersebut. “Apa kau yeodongsaeng Jaejoong hyung dari Jepang??” tambah namja itu. Sekali lagi gadis manis itu mengangguk.

“Ah~ mianhae… aku kira kau orang asing” namja jangkung itu mengganti tatapan tajamnya dengan senyum manis dibibirnya.

 

“Lalu, siapa kau?” gadis itu mengulangi pertanyaannya.

“Changmin imnida” jawab namja itu sembari mengulurkan tangan kananya.

“Kim Ha Neul imnida” balas gadis bernama Ha Neul itu sembari menjabat tangan Changmin. Ekspresi bingung masih terpancar diwajahnya. Mempertanyakan keberadaan namja tampan itu dirumahnya.

 

“Aku sahabat Jaejoong hyung, Jaejoong hyung yang memintaku tinggal disini karena aku tidak punya keluarga di Seoul” tutur Changmin. Ha Neul hanya mengangguk sembari membentuk huruf ‘o’ dengan bibirnya.

 

“Oya, mana Jaejoong oppa??” tanya Ha Neul sembari memutar kepalanya, menebar pandangan keseluruh sudut rumah.

“Jaejoong hyung??… hmm, sepertinya dia ada di…” Changmin menghentikan kalimatnya saat teringat sesuatu. Lalu melangkah menuju ruangan lain dirumah itu. “Aku akan memanggilnya, tunggu sebentar!!” ucapnya yang direspon anggukan kecil dari Ha neul.

 

Ha Neul kembali mengelilingi rumah yang sudah lama ditinggalkannya. Mengagumi tatanan ruang yang tidak berubah selama 8 tahun. Rumah itu masih tetap sama seperti saat terakhir dilihatnya, hanya saja ada beberapa tambahan barang yang menghiasi beberapa ruangan dirumah itu. Putri bungsu keluarga Kim itu baru saja pulang dari Jepang. Setelah 8 tahun hidup di Negeri sakura bersama kedua orang tuanya, Ha Neul memutuskan untuk kembali ke Korea dan hidup bersama oppa satu-satunya yang dia miliki, Jaejoong.

 

Kini Ha Neul melangkahkan kakinya menaiki tangga, menuju kamarnya yang terletak dilantai 2 rumah itu. Namun langkahnya terhenti dibeberapa anak tangga pertama. Matanya terpaku pada dinding disamping kirinya. Sebuah lukisan tergantung sempurna disana. Lukisan indah dengan goresan yang berani dan tegas, terlihat mewah dan menawan.

 

“Sepertinya aku pernah melihat lukisan ini… kalau tidak salah ingat, ada di surat kabar…” gumam Ha Neul sembari terus memandangi sebuah karya tangan yang sempurna dihadapannya itu.

“Lukisan mahal” ucapnya lagi, tangannya terarah menyentuh lukisan.

 

“Menikmati sebuah lukisan cukup dengan melihatnya saja” ujar seseorang yang membuat Ha Neul menurunkan kembali tangannya yang tadi terjulur bermaksud untuk menyentuh lukisan itu. Ha Neul memutar kepalanya melihat kearah ruangan didepan tangga. Seorang namja tampan berdiri disana, menatapnya dengan menyunggingkan senyum manis dibibirnya.

 

“Oppa!!… bogosippeoh” ucap Ha Neul yang kini berlari menuruni tangga dan menghambur memeluk namja yang tak lain adalah oppanya, Kim Jaejoong.

“Na do bogosippeoh, saengie” kata Jaejoong sembari membalas pelukan Ha Neul.

 

 

———

 

 

“Masakanmu enak juga, Hyun Chul-a” ucap seorang gadis yang kini duduk dimeja makan bersama adik sepupunya. Bibirnya menyunggingkan senyum pertanda pujiannya pada masakan hasil karya sepupunya itu sungguh-sungguh.

“Gomawo nuuna” balas namja imut bernama Hyun Chul itu sembari tersenyum senang.

 

“Kalau begini aku tidak perlu susah-susah membuat masakan tidak jelas untuk mengisi perutku. Cukup kau yang memasak” kata gadis itu. Tangannya masih sibuk menyumpit makanan dan memasukkan dalam mulutnya.

“Ya! jadi Sung Rin nuuna memilih tinggal ditempatku hanya untuk memintaku jadi koki pribadimu??” ujar Hyun Chul sedikit kesal.

 

“Bukan begitu Hyun Chul-a… kau kan satu-satunya keluargaku yang tinggal di Seoul, jadi lebih baik aku tinggal disini dari pada harus menyewa apartment sendiri. Lagipula kau tau sendiri hasil masakanku tidak selalu bisa dimakan” gadis bernama Sung Rin itu menghentikan kegiatan makannya dan segera mengklarifikasi ucapannya tadi. Hyun Chul memanglah keluarga satu-satunya yang tinggal di Seoul. Hyun Chul menyewa apartment sederhana karena dia memilih melanjutkan kuliahnya di kota besar itu. Sementara Sung Rin, gadis itu pindah dari Gongju karena pekerjaan yang mengharuskan dirinya untuk ke Seoul.

 

“Hahh… ne nuuna, ara!… lagipula aku juga tidak mau sakit perut karena memakan hasil masakanmu” ucap Hyun Chul yang juga sudah menghentikan makannya. Dia memilih mengiyakan keinginan nuuna sepupunya itu daripada harus mengambil resiko jika membiarkannya memasak.

 

“Hahaha… kau memang dongsaengku yang baik” kata Sung Rin sembari mengaca-acak rambut HyunChul.

“Aish, nuuna kau merusak tatanan rambutku” Hyun Chul menyingkirkan tangan jail Sung Rin dari atas kepalanya, lalu merapikan kembali tatanan rambutnya yang sudah dikacaukan Sung Rin. Sedangkan Sung Rin hanya tertawa kecil.

 

“Oya, nuuna… sebenarnya kasus apa yang sampai membawamu ke Seoul?” tanya Hyun Chul tiba-tiba sembari mengangkat piring kotor diatas meja makan dan memindahkannya ke dapur.

“Hmm, sebenarnya ini kasus rahasia, jadi aku tidak perlu memberitahumu” jawab Sung Rin yang membuat wajah Hyun Chul semakin terlihat penasaran. Namja manis itu menghentikan kegiatannya dan kembali duduk dihadapan Sung Rin.

 

“Kasus rahasia? jinja??… ayo beritahukan padaku!” Hyun Chul semakin penasaran. Sung Rin hanya menggeleng pelan, menolak permintaan dongsaeng sepupunya itu.

“Mungkin aku bisa membantu” desak Hyun Chul sembari mengguncang-guncang tangan Sung Rin.

 

“Baiklah, tapi kau harus berjanji merahasiakannya juga!” ucap Sung Rin. Hyun Chul dengan cepat mengangguk. “Aku akan menyelidiki kasus Golden Wizard, dan mencoba memecahkan misteri jati diri mereka” lanjut Sung Rin yang berhasil membuat Hyun Chul membulatkan mata.

 

“Uwaahhh… nuuna berani sekali menangani kasus ini??… selama bertahun-tahun belum ada yang berhasil memecahkan kasus kelompok pencuri itu. Dan lagi, kenapa mereka mempercayakan kasus ini pada orang sepertimu??” ucap Hyun Chul. Mendengar kalimat terakhir dari Hyun Chul membuat Sung Rin mengambil ancang2 melancarkan serangan jitakan pada kepala sepupunya itu.

 

“Apa maksud kalimat terakhirmu itu, huh??” ujar Sung Rin geram.

“Nuuna~ aku tidak bermaksud meremehkanmu” Hyun Chul segera menghindari Sung Rin hingga jitakanpun tidak berhasil didapatnya. “Maksudku nuuna kan masih baru, apa hanya nuuna yang akan menangani masalah ini??” tambahnya.

 

“Tidak. Aku akan bekerja sama dengan polisi Seoul tentunya” jawab Sung Rin yakin. Ya, Sung Rin adalah seorang anggota polisi. Karena keingintahuannya tentang kelompok pencuri yang beberapa tahun ini beraksi dan menyusahkan kepolisian Korea, Sung Rin mengajukan permohonan untuk menyelidiki kasus itu. Walaupun dia masih tergolong baru dalam keanggotaan polisi, namun karena dia berhasil menangani kasus pertamanya dengan baik akhirnya Sung Rin ditugaskan ke Seoul untuk membantu team penyidik yang sudah terbentuk untuk menangani kasus Golden Wizard.

 

 

———

 

 

Sebuah selebaran tertempel rapi dipapan pengumuman YungJang University. Berpuluh-puluh mahasiswa terlihat berkerumun untuk membaca isi selebaran yang tampak menarik itu. Sementara 3orang yeoja baru saja keluar dari kerumunan itu dan berjalan menjauh.

 

“Kau yakin tidak ikut, Myungie?” tanya seorang gadis yang berjalan disebelah kiri Myung Ah.

“Ne, begitulah” jawab Myung Ah dengan menunjukkan ekspresi menyesal.

“Kalau kau tidak ikut pasti liburan kita tidak akan seru.” timpal gadis yang berjalan disebelah kanan Myung Ah.

“Mian chingudeul… tapi aku tidak bisa ikut acara liburan ke Jepang itu kali ini. Karena waktunya bertepatan dengan acara yang akan diadakan oleh perusahaan keluargaku” terang Myung Ah.

 

“Maksudmu pesta ulang tahun perusahaan keluarga Choi yang diadakan diatas kapal pesiar itu??” tanya gadis disebelah kiri Myung Ah sembari menghentikan langkahnya. Myung Ah hanya mengangguk.

“Aku dengar akan ada kejutan besar dalam pesta itu, benarkah??” tambahnya.

“Hmm, untuk yang itu aku tidak bisa memastikan” jawab Myung Ah yang kembali melangkahkan kakinya meninggalkan kedua chingudeulnya yang saling pandang.

 

 

———

 

 

“Apa selama aku di Jepang oppa hanya tinggal berdua dengan Changmin-ssi??… karena sepertinya aku tidak melihat seorang pembantupun disini” tanya Ha neul pada Jaejoong. Kedua tangannya masih sibuk memindahkan pakaian dari koper-koper besarnya kedalam lemari pakaian dikamarnya. Sementara Jaejoong hanya memperhatikan dongsaengnya itu sembari duduk ditepi tempat tidur.

 

“Tidak, oppa tinggal bertiga dengan Joon dan Changmin” jawab Jaejoong. Ha Neul menghentikan kegiatannya, menatap Jaejoong bingung dengan menautkan kedua alisnya.

“Masih ada satu chingu oppa lagi, namanya Lee Joon… tapi sekarang dia sedang pergi kuliah, jadi kau bisa bertemu dengannya sore nanti” kata Jaejoong yang sudah menjawab pertanyaan yang disampaikan Ha Neul dari tatapan bingungnya tadi.

 

“Jadi aku tinggal disini bersama 3 orang namja??… kenapa oppa tidak bilang dari awal kalau oppa tinggal bersama teman oppa??” tanya Ha Neul dengan nada sedikit meninggi.

“Tenang saja, saengie, mereka orang-orang baik” Jaejoong berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekati Ha Neul yang tampak mengerucutkan bibirnya.

 

“Sudahlah, sekarang kau istirahat saja!… besok kau akan kuliah ditempat yang baru. Oppa menempatkanmu di Seoul University, tempat yang sama dengan Changmin kuliah. Kau bisa pergi bersamanya besok” kata Jaejoong sembari mengacak lembut puncak kepala Ha Neul, lalu berlalu meninggalkan ruangan tersebut.

 

 

———

 

 

“Maaf Jungsoo-ssi, aku ada satu pertanyaan” ucap Sung Rin sembari menatap namja manis berambut pirang yang berdiri dihadapannya. Namja yang dipanggilnya Jungsoo itu menoleh kearahnya, bersiap mendengarkan petanyaan yang akan diajukan partner barunya. “Apa maksudnya dengan menunggu mereka muncul, itu berarti kita harus membiarkan mereka mencuri lagi?”

 

“Ne, begitulah Sung Rin-ssi… karena selama ini mereka selalu memberikan petunjuk pada polisi sebelum mereka beraksi. Dan untuk kali ini kita tidak akan membiarkan mereka membodohi pihak polisi lagi!” jelas Jungsoo yang merupakan ketua tim penyidik kelompok mereka.

“Ne!” kata Sung Rin setelah mencerna ucapan Jungsoo.

“Dan kali ini sepertinya aku bisa menebak, apa incaran Golden Wizard” ucap Jungsoo yakin.

 

Golden Wizard, kelompok pencuri yang diyakini beranggotakan 3 pelaku. Tak seorangpun tau siapa mereka sebenarnya. Ada kesaksian yang mengatakan mereka adalah kawanan perampok yang kabur dari penjara dan membentuk kelompok pencuri, serta sudah berusia dewasa. Ada juga yang menyatakan mereka masih sangat muda, dan mungkin masih golongan pelajar. Bahkan tak ada yang tau mereka namja ataupun yeoja. Siapapun mereka, yang mereka incar bukanlah hanya setumpuk uang atau sebuah mobil mewah. Bahkan pada aksi Golden Wizard beberapa tahun lalu, mereka berhasil menguras habis 3 buah Bank sekaligus dalam waktu semalam. Dan akhir-akhir ini mereka selalu mengincar benda-benda berharga yang langka.

 

 

 

-To Be Continue-

 

 

No silent readers plisss… ^^

Gomawo! *bow*

 

4 responses to “[FREELANCE] GOLDEN WIZARD / Part-1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s