[FREELANCE] GOLDEN WIZARD / Part-2

Title : GOLDEN WIZARD / Part-2

Author : Miev

Genre : Crime, Detectif, Action, Romance

Rating : PG-15

Main Cast :

» Kim Jaejoong  DBSK

» Shim Changmin  DBSK

» Lee Joon  MBLAQ

» Park Jungsoo (Leeteuk) SUJU

» Lee Donghae  SUJU

» Min Sung Rin  (OC)

» Kim Ha Neul  (OC)

» Choi Myung Ah  (OC)

» Lee Yoo Won  (OC)

Supporting Cast :

» Park Hyun Chul (Karam) DN-A

» Choi Siwon SUJU

» Choi Seung Hyun (TOP) Big Bang

» Lee Junho 2PM

Disclaimer : Author hanya ber-hak atas isi cerita dan OC. Selain itu semua cast resmi milik Sang Pencipta ^^v. Cerita ini bener-bener muncul dari imajinasi author,, dengan bantuan inspirasi dari komik ‘Detective Conan’ dan film ‘New Police Story’.

A/N : FF ini pernah aku post di note FB dengan judul yg sama ^^

 Kita hanya akan menunggu mereka muncul!” kata seorang namja manis berambut pirang. 4 orang partner yang duduk dimeja dihadapannya hanya diam mencerna ucapan ketua team mereka.

“Maaf Jungsoo-ssi, aku ada satu pertanyaan” ucap Sung Rin sembari namja yang berdiri dihadapannya. Namja yang dipanggilnya Jungsoo itupun menoleh kearahnya, “Apa maksudnya dengan menunggu mereka muncul, itu berarti kita harus membiarkan mereka mencuri lagi?”

“Ne, begitulah Sung Rin-ssi… karena selama ini mereka selalu memberikan petunjuk pada polisi sebelum mereka beraksi. Dan untuk kali ini kita tidak akan membiarkan mereka membodohi pihak polisi lagi!” jelas Jungsoo.

“Ne!” kata Sung Rin setelah mencerna ucapan Jungsoo.

“Dan kali ini sepertinya aku bisa menebak, apa incaran Golden Wizard” ucap Jungsoo yakin. Sung Rin, dan ketiga orang lainnya sontak mengangkat kepala dan menatap Jungsoo bingung. Darimana namja itu tau incaran sang pencuri jika mereka belum memberikan petunjuknya?

“Kau sudah tahu, hyung??” tanya Donghae, seorang polisi yang duduk disisi meja dihadapan Sung Rin.

“Darimana kau tahu, Jungsoo-ssi?” tambah Yoo Won yang duduk disamping Donghae. Sung Rin hanya mengangguk menyetujui pertanyaan yang diajukan Donghae dan Yoo Won. Sementara seorang namja berwajah sangar yang ada disamping Sung Rin hanya diam menanti jawaban Jungsoo.

“Besok kalian akan tahu sendiri” ucap Jungsoo dengan memamerkan senyum indahnya. Sung Rin, Yoo Won, dan Donghae saling pandang bingung.

“Saya rasa meeting kita sudah cukup untuk hari ini… dan sekali lagi saya ucapkan selamat bergabung untuk Sung Rin-ssi dan Yoo Won-ssi, terimakasih sudah bersedia bekerjasama dengan kami” ucap Jungsoo seraya menatap Sung Rin dan Yoo Won bergantian dengan senyum angel yang belum hilang dari wajahnya. Sung Rin dan Yoo Won pun hanya tersenyum membalas ucapan Jungsoo. Namun senyum itu memudar saat Jungsoo meninggalkan ruangan.

“Darimana Jungsoo-ssi tahu?? apa dia merencanakan sesuatu untuk memancing mereka??” tanya Sung Rin bingung pada Donghae.

“Molla” jawab Donghae singkat.

“Bukankah Jungsoo hyung sudah bilang, kalian akan tahu sendiri besok” namja disamping Sung Rin yang sedari tadi hanya diam kini angkat bicara.

“Ah, ne Seung Hyun-ssi, araseo” kata Sung Rin pelan. Sejak awal bertemu dengan namja bernama Choi Seung Hyun itu Sung Rin merasa sedikit takut saat berhadapan dengannya. Selain tak banyak bicara, wajahnya yang tegas itu menimbulkan kesan ‘seram’ dimata Sung Rin.

Namun, mau tak mau Sung Rin harus sering bertemu dengan Seung Hyun karena mereka satu kelompok dibawah pimpinan Jungsoo. Selain Jungsoo, Seung Hyun dan Sung Rin, ada Donghae dan Yoo Won yang bergabung bersama mereka.

Lee Donghae, namja manis ini sudah 2 tahun bertugas sebagai polisi dan selalu menjadi partner Jungsoo dan Seung Hyun. Dengan kata lain mereka bertiga selalu menangani sebuah kasus bersama.

Sedangkan Lee Yoo Won, sama seperti Sung Rin, dia juga baru bergabung dengan kelompok ini. Sebelumnya Yoo Won (yang setahun lebih lama resmi menjadi anggota polisi daripada pada Sung Rin) bertugas di Mokpo. Yoo Won kembali ke Seoul karena ayahnya yang merupakan kepala kepolisian Seoul memintanya untuk membantu Jungsoo dan yang lainnya.

———

“Aku rasa aku sudah menunjukkan semua bagian kampus ini. Sekarang aku akan menunjukkan tempat yang paling penting yang harus kau tahu”

Changmin kembali menggandeng tangan kanan Ha Neul dan menariknya mengikuti langkah kakinya yang panjang. Mereka baru saja mengelilingi bangunan Seoul University untuk memperlihatkan tiap ruang dan tempat yang ada disana pada Ha Neul yang baru saja menginjakkan kakinya ditempat itu.

“Memangnya ada tempat yang belum kau tunjukkan padaku??”

“Ne. Apa kau lupa? kau akan belajar melukis dikampus ini, dan aku belum menunjukanmu kelas melukis serta galeri yang ada dikampus ini” celoteh Changmin sambil terus melangkahkan kakinya. Sementara Ha Neul, gadis itu langsung berbinar senang begitu mendengar kata ‘galeri’.

Setelah tak lama berjalan, mereka sampai pada salah satu bangunan kampus yang terletak disamping bangunan utama. Changmin menuntun Ha Neul untuk masuk dan naik ke lantai 2 gedung itu. Mereka menyusuri koridor-koridor hingga sampai pada ruangan dengan sebuah pintu yang sedikit terbuka. Ha Neul tersenyum lebar saat Changmin mendorong pintu tersebut. Sebuah ruangan besar menyambut mereka, jendela kaca yang besar di sisi ruangan membuat ruangan itu tampak terang karena cahaya masuk dengan bebas. Puluhan kanvas yang terpasang pada pigura yang bertengger pada kuda-kuda penyangga tertata rapi memenuhi ruangan. Kuas dan cat minyak tersedia disetiap meja kecil disamping kanvas.

Belum ada seorang pun disana. Dengan bebas Ha Neul melangkahkan kakinya masuk dan mendekati sebuah kanvas yang berdiri dibarisan paling depan. “Ini kelas melukis??”

“Ne, dan kau akan sering menggunakan kelas ini dibandingkan kelas untuk mata kuliah lain” jawab Changmin yang sudah berdiri menghadap jendela, memperhatikan lapangan luas diluar gedung.

“Oya, oppa bilang ada sebuah galeri disini? apa kau mau menunjukkannya?”

“Tentu saja. Kkaja!” Changmin memutar tubuhnya lalu kembali menarik tangan Ha Neul dan menyeretnya keluar dari ruangan tersebut menuju sebuah ruangan yang terletak tepat di koridor di samping kelas melukis. Pintu ruangan itu masih tertutup. Namun dengan mudah Changmin bisa membukanya dan memperlihatkan puluhan bahkan ratusan lukisan yang tertata rapi memenuhi ruangan luas itu.

Ha Neul kembali tersenyum lebar saat memasuki galeri lukisan tersebut. Matanya yang berbinar-binar menyapu seisi ruangan. Perlahan dilangkahkannya kakinya memasuki galeri dan mulai menatap setiap lukisan yang dipajang dengan kagum. Bibirnya tak berhenti meluncurkan pujian setiap menatap lukisan yang tergantung didinding.

“Apa ini semua hasil lukisan mahasiswa disini?”

“Ne, begitulah” mendengar jawaban Changmin membuat Ha Neul semakin kagum. Hasil lukisan mereka sangat indah, memiliki karakter yang berbeda disetiap hasil goresannya.

“Hmm, aku harus segera pergi untuk mengikuti mata kuliahku” ucap Changmin sembari melirik arloji dipergelangan tangan kirinya. “Kau bisa berkeliling lagi, tapi kau bisa menunggu disini jika kau mau. Kita akan bertemu didepan saat pulang nanti” lanjutnya.

“Aku ingin disini dulu oppa, oppa pergi saja” sahut Ha Neul sembari tersenyum.

“Baiklah, aku pergi dulu” Changminpun keluar dari galeri itu dan berlalu meninggalkan gedung itu menuju tempatnya menerima mata kuliah.

Sudah hampir 1jam Ha Neul berada diruangan penuh lukisan itu. Hampir saja ia lupa hari ini adalah hari pertamanya kuliah jika saja tak ada seorang yeoja yang masuk kedalam galeri itu.

“Aku baru pertama melihatmu disini, apa kau mahasiswi baru??”

“Ne, Kim Ha Neul imnida… ini hari pertamaku kuliah, aku mahasiswi jurusan seni lukis” jawab Ha Neul sembari membungkuk memberi salam.

“Seni lukis?? aku rasa kelas melukisnya sudah dimulai, kau akan benar-benar terlambat jika tidak segera masuk”

“Jinja??… kalau begitu aku harus pergi sekarang, annyeong” Ha Neul berlari keluar ruangan setelah kembali membungkuk saat berpamitan. Karena terlalu terburu-buru Ha Neul tidak bisa mengontrol kecepatan larinya saat berbelok dilorong, hingga…

BRUGGHH!!!…

Ha Neul menabrak seseorang hingga membuatnya jatuh terduduk. Sedangkan namja yang ditabraknya hanya terhuyung sedikit kebelakang.

“Auww…” Ha Neul meringis, tangannya memegangi pinggangnya yang terasa sakit.

“Kau tidak apa-apa??” namja itu mengulurkan tangan kanannya pada Ha Neul yang masih terduduk dilantai. Ha Neul meraihnya untuk membantunya berdiri.

“Ne, gwen,,,chana…” Ha Neul sedikit tergagap saat menatap sang namja yang kini berdiri tepat didepannya dengan masih menggenggam tangannya. Bahkan kini bisa dipastikan gadis itu melongo memandang namja imut itu. Wajah tampannya membuat Ha Neul terpesona mamandangnya. ‘omo! kyeopta’

“Mianhae, aku tidak memperhatikan jalan hingga menabrakmu” ucapan namja itu kembali menyeret Ha Neul dari lamunannya.

“Ehh… gwenchana” Ha Neul melepas tangannya yang masih dalam genggaman namja itu sembari menunduk. “Aku,,, aku harus segera ke kelas…”

“Ah, silahkan!” namja itu menggeser tubuhnya kekiri, memberi jalan pada Ha Neul. Gadis itu tersenyum lalu mulai berjalan menjauh.

“Tunggu!” seru namja itu yang membuat Ha Neul menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya. “Siapa namamu?” tanyanya.

“Ne??”

“Aku Park Hyun Chul… siapa namamu?”

“Oh, Kim Ha Neul imnida…”

———

“Nuuna, sudah aku bilang tidak usah! kau hanya akan merusak hasil masakanku” ujar Hyun Chul sembari menyambar sayuran yang kini ada ditangan Sung Rin.

“Tapi aku kan ingin membantu” Sung Rin mengambil wortel dari dalam kulkas, meletakkannya diatas meja dan mulai memotongnya.

“Nuuna!!” Hyun Chul berkacak pinggang, dan kembali merampas wortel dan pisau yang dipegang Sung Rin. “nuuna cukup menungguku selesai memasak!” serunya sembari mendorong gadis itu keruang TV.

“Ya, baiklah!” Sung Rin menjatuhkan tubuhnya diatas sofa dan meraih remote TV diatas meja dihadapannya. Namun ia mengurungkan niatnya menyalakan TV dan malah beranjak dari duduknya.

“Hyun Chul a~ aku akan pergi ke minimarket, apa kau perlu sesuatu untuk aku belikan??” tanya Sung Rin yang melongokkan kepalanya ke pintu dapur.

“Hmm, sepertinya persediaan saus Chunjang kita habis. Tolong nuuna belikan, ya!” jawab Hyun Chul tanpa menghentikan kegiatannya.

“baiklah, aku pergi sekarang”

———

“Nuuna, kenapa lama sekali?” tanya Hyun Chul dari saluran telepon.

“Mian, di minimarket dekat apartement saus chunjang-nya habis, jadi aku pergi ke minimarket lain” jawab Sung Rin yang kini kebingungan memilih merk saus chunjang yang bagus. Sementara tangan kirinya masih memegang ponsel dan menempelkannya ke telinganya.

“Kalau sudah dapat, cepatlah pulang! masakanku sudah menunggumu menyantapnya…”

“Ne! ara” sahut Sung Rin lalu menutup flap ponselnya dan memasukkannya dalam saku jaketnya. Tangannya kembali sibuk memilih berbagai macam merk saus. Gadis itu menepuk dahinya dengan tangan kanannya saat teringat sesuatu. “Aish, aku lupa menanyakan merk apa yang harus aku beli” gerutunya.

“Aku rasa ini yang lebih bagus” kata seorang namja yang entah sejak kapan berdiri disamping Sung Rin, tangannya menyodorkan sebotol saus chunjang pada Sung Rin. Sung Rin yang sempat kaget kini menatap bingung pada namja disampingnya itu.

“Jinjja??” namja itu hanya mengangguk sembari tersenyum menjawab pertanyaan Sung Rin.

Sung Rin tersenyum senang karena ada yang membantunya saat ini, karena dirinya sendiri memang kurang ahli dalam hal memilih merk makanan yang bagus.

“Gasamda” ucapnya sembari mengambil botol saus dari tangan namja itu. Lalu dengan cepat Sung Rin berjalan menuju meja kasir untuk membayarnya.

“Untung saja ada yang memberiku saran” kata Sung Rin lega setelah keluar dari minimarket. Tangan kanannya menenteng paper bag, sedangkan tangan kirinya merogoh saku jaket mencari-cari sesuatu. Wajahnya berubah panic saat benda yang dicarinya tidak ada.

“Kemana ponselku??” tanyanya pada diri sendiri, tangannya beralih merogoh saku celana berharap benda kecil itu ada disana. “Aish, aku pasti menjatuhkannya didalam” terkanya saat tidak berhasil menemukan ponselnya, lalu berbalik dan…

“Hyaaa!!” Sung Rin menghentikan langkahnya dan berteriak kaget saat hampir saja menabrak seorang namja yang baru saja keluar dari dalam minimarket.

“Mian, mianhae” ucap Sung Rin seraya membungkuk.

“Gwenchana” sahut namja itu. “Apa kau mencari ini??” tambahnya sembari menyerahkan sebuah ponsel ditangan kanannya.

“Ah~ ne! gomawo” ucap Sung Rin. Tangannya terulur mengambil ponsel itu dari tangan namja dihadapannya. Setelah itu gadis itupun berniat untuk menarik diri. “Permisi!”

“Tunggu, Sung Rin-ssi!!” panggil namja itu yang sontak menghentikan langkah Sung Rin yang sudah 3meter didepannya. Sung Rin berbalik menatap namja itu bingung.

“Kau,,, tahu namaku??”

“Hmm, tadi ada seorang bernama Jungsoo yang menghubungimu. Mian aku sudah lancang mengangkat ponselmu” jawab namja itu yang berhasil membuat Sung Rin melotot. Seseorang yang tidak dikenalnya berani mengangkat panggilan diponselnya. Sebenarnya ia ingin marah, tapi entah apa yang membuatnya menghilangkan niatnya untuk menceramahi namja itu, dan malah memilih untuk memaafkannya walau sedikit tidak rela.

“Huftt… ne, gwenchana”

———

“Yoo Won-ssi, apa kau melihat Jungsoo-ssi??” tanya Sung Rin pada Yoo Won yang berpapasan dengannya di pintu lift. Sung Rin baru saja akan memasuki lift saat Yoo Won keluar. Ia mengurungkan niatnya dan memilih bertanya dulu pada gadis itu.

“Aniya, mungkin dia belum datang, atau mungkin dia sedang bersama Seung Hyun ssi diruangannya” jawab Yoo Won. Kini matanya menatap Sung Rin bingung karena gadis itu tampak terburu-buru. “Wae?? apa ada masalah??”

“Ah, ani… hanya saja aku ingin memastikan ini” Sung Rin menunjukkan sebuah artikel dihalaman surat kabar yang dipeganggnya. Yoo Won tampak menautkan alisnya.

“Apa kau mengira kalau…”

“Ne! karena itu aku ingin menanyakan ini pada Jungsoo ssi dan memastikannya” ujar Sung Rin memotong kata-kata Yoo Won. Yoo won tampak mengangguk menyetujui.

“Oya, kau mau kemana Yoo Won-ssi??” tanya Sung Rin karena Yoo Won tampak ingin meninggalkan gedung kantor kepolisian itu.

“Aku ingin mengambil berkas-berkas yang tertinggal dirumah. Appa memintaku untuk mengambilnya”

“Baiklah, aku akan mencari Jungsoo ssi. kau berhati-hatilah dijalan!” Yoo Won mengangguk paham sembari tersenyum. Setelah itu ia berlalu keluar gedung menuju tempat parkir. Sementara Sung Rin memasuki lift setelah pintunya kembali terbuka.

Di lain tempat, Myung Ah terlihat baru saja keluar dari salah satu ruangan di YungJang University. Tanpa menoleh Myung Ah terus melangkahkan kakinya menuju pintu keluar gedung besar itu. Hingga seseorang yang berdiri bersandar pada dinding disalah satu lorong mengganggu pandangannya. Myung Ah ingin pura-pura tidak melihatnya tapi mereka sudah terlanjur bertemu pandang.

“Kau ingin bertemu Junho, Myungie??” ujar namja itu yang sontak menghentikan langkah Myung Ah. “Hmm…” dengan dagunya namja itu menunjuk seorang namja yang tengah bergurau bersama chingudeulnya dalam ruangan disampingnya. Hal itu berhasil membuat Myung Ah melotot dan menatapnya tajam.

“Bukan urusanmu, Lee Joon-ssi!” sahut Myung Ah dengan setengah menggeretakkan giginya. Lalu gadis manis berambut ikal sepinggang itu kembali melenggang melewatinya berusaha menghindari berurusan dengan namja yang selalu membuatnya kesal itu.

“Bukankah dia kekasihmu? kenapa tidak mau menemuinya?” dengan nada sedikit mencibir, Joon berkata pada Myung Ah. Membuat gadis itu naik darah dan berbalik menatapnya.

“YA!! LEE JOON!! kapan kau akan berhenti menganggapku kekasih Lee Junho, huh??” teriak Myung Ah kesal. Joon masih diam, tak disangka ucapannya akan mendapat respon seperti ini dari Myung Ah. “Aku bukan yeojachingu Lee Junho! dan aku tidak pernah menjadi yeojachingunya!” tambah Myung Ah.

Mendengar keributan diluar ruangan yang menyebut2 namanya, namja bernama Junho yang sedari tadi didalam ruanganpun keluar. Dilihatnya 2orang yang sedang berhadapan dengan kepala panas disana.

“Myungie, wae??”

“Aniya, Junho-ssi. Mian sudah membuatmu terganggu” ucap Myung Ah tanpa mengalihkan pandangannya dari Joon. Dan tanpa berkata-kata lagi Myung Ah meninggalkan Joon dan Junho yang masih menatapnya bingung.

“Joon-ssi, ada apa dengannya??” Joon hanya mengangkat bahunya tanda tak mau tau menjawab pertanyaan Junho. Setelah itu namja itu juga berlalu meninggalkan Junho yang masih berdiri ditempatnya. Junho sendiri juga bingung kenapa Myung Ah yang merupakan putri dari salah satu partner ayahnya selalu tidak akur dengan namja bernama Lee Joon.

Hal itu berawal saat sebuah prom night digelar dikampus itu sebagai acara penyambutan mahasiswa baru. Saat itu tak ada seorang namjapun yang berani mengajak seorang Choi Myung Ah untuk pergi kepesta bersama. Bukan karena takut pada Myung Ah, melainkan karena mereka tidak ingin dianggap mencari muka dengan seorang putri pemilik perusahaan mobil ternama, Choi Company.

Hanya seorang Junho-lah yang berani mengungkapkan niatnya mengajak Myung Ah ke pesta. Dan sejak saat itu tak sedikit orang menganggap Junho adalah namjachingu Myung Ah. Terlebih-lebih Joon, yang selalu mengait2kan Junho dengan Myung Ah.

Joon mengikuti langkah Myung Ah hingga ke area parkir. Tak tampak sedikitpun senyum diwajah manis Myung Ah. Dengan segera Myung Ah masuk kedalam mobil sport merahnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi menjauhi halaman kampus. Melihat hal itu membuat Joon merasa menyesal lagi-lagi membuat gadis itu marah padanya.

Dengan langkah yang malas-malasan Joon memasuki Ferrari biru miliknya. Dan seperti Myung Ah, Joon juga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Terus menambah kecepatannya menerobos beberapa mobil didepannya. Hingga lajunya terhenti saat lampu lalu lintas berwarna merah.

Sebuah mobil hitam yang berhenti disamping mobilnya menarik perhatian Joon. Bukan karena mobilnya melainkan sang pengendara yang sangat tidak asing bagi Joon.

“Dia lagi” gumam Joon sembari memukulkan kepalan tangannya pada kemudi mobil. Matanya menatap yeoja dalam mobil itu dengan tatapan kebencian.

———

“AARGGHHH!!” teriak Joon kesal begitu memasuki ruang tengah. Disana Jaejoong dan Changmin terlihat sedang membicarakan sesuatu dengan serius. sebuah surat kabar tereletak diatas meja didepan mereka. Mereka berdua langsung menoleh dan menatap Joon bingung. Ekspresi kesal tampak jelas diwajah tampan namja yang kini menjatuhkan tubuhnya diatas sofa dengan kasar itu.

“Kenapa kau??… kau tampak sedang bermasalah” ucap Changmin. Joon seketika menegakkan tubuhnya dan menatap Jaejoong dan Changmin dengan tajam.

“Hyung, aku ingin kita mencuri lagi!!” ujarnya dengan yakin. Suasana hening sesaat sampai Changmin menghela nafas lega, dan Jaejoong menyunggingkan senyumnya. Joon malah mengkerutkan keningnya melihat tingkah 2 hyung dihadapannya itu.

“Aku pikir kau ada masalah apa… ternyata hanya itu??” ucap Changmin santai.

“Kalian… jangan bilang kalau kalian sudah merencanakan sesuatu” tuduh Joon. Jaejoong kembali tersenyum dan malah menyodorkan surat kabar yang sedari tadi ada dihadapannya pada Joon.

“Uwahhh… incaran kalian sangat menarik. Kapan kita melakukannya??” tanya Joon antusias. Kini senyum lebar telah menggantikan tampang kesalnya.

“2 minggu lagi” jawab Jaejoong singkat.

“Mwo?? lama sekali??… apa kalian tidak ada incaran lain yang bisa kita curi malam ini??” pertanyaan Joon kali ini mendapat respon serius dari Jaejoong dan Changmin.

“Tunggu! sebenarnya ada apa denganmu?? kau tidak pernah se-antusias ini setelah ayahmu pensiun dari kepolisian?” selidik Changmin. Joon meletakkan kembali surat kabar ditangannya. Ekspresi kesal kembali tampak diwajahnya.

“Dia kembali ke Seoul. Mungkin dia sedang berusaha keras untuk bisa seperti appa. Aku ingin membuatnya jerah” ujar Joon kesal.

“Apa maksudmu…”

“Yoo Won nuuna” Joon memotong kata-kata Jaejoong. Jaejoong menarik nafas berat saat tau alasan Joon menjadi kesal seperti saat ini.

“Ternyata kau belum bisa melupakan kekesalanmu pada ayahmu…” kata Jaejoong pelan.

“Kalian tau sendiri, aku seperti sekarang itu semua karena appa. Aku membenci polisi karena appa. Bahkan aku jadi membenci nuuna yang sangat menyayangiku juga karena appa. Karena sekarang dia mengikuti jejak appa menjadi seorang polisi” tutur Joon dengan nada meninggi. Nafasnya tampak tak beraturan karena kekesalan dalam hatinya.

Joon sangat membenci polisi, lebih tepatnya membenci polisi karena ayahnya adalah seorang polisi. Ayah Joon merupakan seorang kepala polisi di Seoul. Beliau selalu membanggakan pangkat dan jabatan yang dimilikinya. Karena itu beliau selalu bertindak tegas pada putra-putrinya, terlebih-lebih pada Joon. Sejak kecil Joon hidup dalam bayang-bayang ‘kekejaman’ sang ayah. Sekecil apapun kesalahan yang dibuat oleh Joon, ayahnya selalu memberikan hukuman yang cukup berat untuk anak seusianya. Bahkan ayahnya tak segan-segan untuk memukulnya jika dirasa perlu. Hal itu dialami Joon hingga dirinya beranjak dewasa. Dan akhirnya Joon memutuskan untuk keluar dari rumah dan tinggal bersama Jaejoong.

“Pergi ke kamar, bersihkan dirimu dan istirahatlah!!… aku akan menyiapkan makan malam kita” seru Jaejoong pada Joon sembari beranjak dari duduknya. Kekesalan Joon tampak sedikit berkurang setelah mengungkapkannya dengan sedikit amarah. Dan kini namja tampan itu menatap Jaejoong yang berjalan menuju dapur.

“Aku tidak ingin Ha Neul melihat kita membahas hal ini. Kita lanjutkan pembicaraan ini di basement nanti malam” ucap Jaejoong tanpa menoleh pada Joon dan Changmin yang masih duduk ditempatnya.

Dengan malas Joon menuruti kata-kata Jaejoong. Bangkit dari duduknya dan berjalan menuju salah satu kamar dilantai bawah. Sementara Changmin, namja itu kembali menyambar surat kabar yang tergeletak diatas meja dan menatap sebuah artikel yang tercantum di halaman salah satu surat kabar tersebut. Red of Heart Ditunjukkan Untuk Pertama Kali, itulah kalimat yang dipilih untuk menjadi judul berita yang menarik untuknya. Sebuah gambar permata berbentuk hati dengan warna merah mengkilat terpampang dibawahnya.

———

“MWO???… Appa yakin dengan ini???” tanya Myung Ah setengah berteriak pada Mr. Choi yang duduk dihadapannya seraya meletakkan surat kabar yang baru saja dibacanya keatas meja. Siwon, yang merupakan oppanya kini juga menatap bingung kearah ayahnya itu. Sementara Mr. Choi hanya tersenyum menanggapi keterkejutan kedua buah hatinya tersebut.

“Aku tidak mengira appa akan melakukan ini… aku kira appa akan memberikan kejutan yang lain pada pesta yang aku usulkan” ucap Siwon, masih dengan tatapan tak mengerti. Ya, pesta ulang tahun perusahaan Choi yang akan diadakan diatas kapal pesiar adalah ide dari Siwon. Mr. Choi menyambut usul itu dengan senang hati. Namun beliau ternyata memiliki kejutan besar bagi putranya itu sekaligus bagi para tamu yang akan hadir dalam pesta tersebut.

“Ne, apa Appa tidak mempertimbangkan resikonya dulu??” tambah Myung Ah.

“Appa sudah mempertimbangkannya. Dan Appa rasa ini saat yang tepat untuk menunjukkannya pada public, karena pesta ini diadakan diatas kapal pesiar. Appa tau, kalian pasti mengerti maksud Appa!” kata Mr. Choi dengan yakin. Siwon dan Myung Ah saling pandang, mencerna setiap kata yang meluncur dari bibir Appa mereka.

“Appa yakin mereka tidak akan berani melakukannya jika benda itu berada ditengah samudera” lanjut Mr. Choi. Siwon dan Myung Ah seketika memutar kepalanya sembari melotot kaget mendengar ucapan appa mereka.

“Jadi maksud Appa, Red of Heart akan aman saat kita tampilkan didepan umum dikapal itu???” Mr. Choi mengangguk yakin menanggapi pertanyaan Myung Ah. Setelah itu beliau beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruang keluarga, membiarkan kedua putra-putrinya mencoba mencerna maksud perkataannya.

“Oppa, apa Appa tidak membicarakan ini pada oppa dulu sebelum menyebarkannya di surat kabar??” tanya Myung Ah pada Siwon yang masih merenungi ucapan appanya.

“Ani, Appa tidak mengatakan apapun padaku. Bahkan aku baru mengetahui hal ini sekarang” jawab Siwon sembari menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang didudukinya.

“Tapi oppa kan yang mengusulkan pesta itu, kenapa Appa tidak membicarakan ini pada kita??” ucap Myung Ah pelan, tubuhnya ikut tersandar pada kursi. “Apa oppa tau apa yang aku takutkan jika permata langkah yang merupakan lambang keluarga kita itu ditunjukkan dihadapan public??” tanya Myung Ah tanpa menatap Siwon.

“Golden Wizard” lanjut Myung Ah.

“Mengingat ucapan Appa, mungkin Appa memang sudah memikirkannya matang-matang” Siwon kembali menegakkan duduknya dan memutar kepalanya menatap Myung Ah. Sementara gadis itu hanya mengerutkan keningnya.

“Kita akan berlayar ditengah samudera. Mereka harus berpikir ribuan kali sebelum memutuskan untuk melakukannya” lanjutnya.

“Apa maksud oppa??”

“Mereka tidak akan datang jika kapal kita sudah berlayar jauh. Dan jika mereka memilih untuk masuk dalam kapal bersama dengan kita sebelum kapal berangkat, mereka tetap tidak akan berani mengambil resiko karena mereka tidak akan bisa kabur dari dalam kapal..” terang Siwon. Myung Ah diam, meresapi setiap ucapan Siwon. Namun sesuatu terlintas dikepalanya.

“Tapi… bukankah Golden Wizard punya seribu cara untuk mendapatkan incarannya??” Siwon tersentak mendengar ucapan Myung Ah. Ucapan dongsaengnya itu benar. Apapun akan mereka lakukan demi mendapatkan target mereka.

“Ya… itu kemungkinan terburuk” ucapnya pelan.

———

Disebuah ruangan berukuran 6×6 dengan penerangan yang tidak terlalu terang 3 orang namja tengah terlibat sebuah perbincangan. Seorang namja terlihat duduk manis disalah satu kursi, seorang lagi tampak bersandar pada tepi pintu yang menghubungkan dengan ruangan lain, kedua tangannya dilipat didepan dada. Sedangkan yang satu lagi duduk disofa dengan membolak-balik halaman surat kabar.

“Baiklah, mulai besok aku akan mencari alat yang bagus untuk rencana kita” kata Changmin yang masih sibuk memegang surat kabar.

“Setelah aku mendapatkan sketsa tempat itu, kita akan menyusun rencana lebih matang, karena kalian tahu sendiri kita akan melakukannya dimana. Dan kau bisa mulai memodifikasi alat ciptaanmu” sambung Jaejoong yang duduk tak jauh dihadapan Changmin. Changmin mengangguk menyanggupi. Ya, selama mereka beraksi mereka selalu menggunakan alat-alat canggih hasil modifikasi yang dilakukan Changmin.

“Hmm, sepertinya aku punya rencana kecil untuk memperlancar rencana kita” ucap namja yang berdiri bersandar pada pintu yang tak lain adalah Joon. Kedua namja yang duduk ditempat masing-masing mengangkat kepala menatapnya.

“Rencana kecil?? Apa??” tanya Changmin.

“Kalian tidak perlu tahu, hanya saja aku berharap bisa mendapatkan sesuatu dari rencana kecilku ini”

“Asalkan kau tidak melakukan sesuatu yang membahayakan, kau boleh melakukannya” sahut Jaejoong yang disambut senyuman oleh Joon.

“Tapi hyung, aku masih tetap ingin melakukan ini secepatnya. Kita sudah sebulan lalu melakukan ini kan,” Joon kini kembali berdiri dan menatap kedua orang yang duduk dikanan dan kirinya.

“Tapi tidak ada incaran yang menarik untuk kita ambil” timpal Changmin. Namun seperti Joon, sebenarnya ia juga ingin melakukan hal itu, mencuri barang berharga untuk mendapatkan kesenangan saat beraksi. Joon tampak memikirkan sesuatu, Jaejoong dan Changmin juga terlihat melakukan hal yang sama. Hingga leader mereka yang tak lain adalah Jaejoong, kembali membuka suara.

“Bagaimana kalau kita……”

_To Be Continue_

A/N : Komen plissss… ^^

One response to “[FREELANCE] GOLDEN WIZARD / Part-2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s