[Korea Fan Fiction] Bad Cookies [part 5c] – SHINee

*credit poster by avyhehe @ lazywonderland*

into & prolog >> part 1 >> part 2 >> part 3 >> part 4 >> part 5a >> part 5b

Tittle :: Bad Cookies
Author :: Lee Hyona
Casts ::
♫ Lee Hyona or Ochie
♫ Lee Taemin or Lee Taepong
♫ Onew or Lee Jisun
♫ Park Sungra or Intan
♫ Key or Kim Kibum
♫ Choi Minho or Choi Minjae
♫ Kim Jonghyun or Kim Jongjin *mian kalo nama samarannya mirip sama nama perempuan
Genre :: Romance, Continue, Friendship, Comedy (itu juga kalo emang lucu) , etc.
Disclaimer :: Ini FF adalah 50% hasil pemikiranku n 50% hasil pemikiran sahabat author, Intan
NB :: bagi yg membaca jgn TERSINGGUNG, ini hanya FF SEMATA
Kawasan Wajib Coment!!
Silent Readers Dilarang Masuk!!
NO BASHING, PLEASE!!

***************************

Taemin POV

Lama sekali, sebenarnya mereka ada dimana sih? Seoul? Tidak mungkin. Tapi, kenapa belum sampai juga? Tunggu, jangan-jangan mereka kembali ke Seoul tanpa mengajakku. Tapi itu tidak mungkin, tapi, bagaimana jika mereka benar-benar kembali ke Seoul? Ok, mungkin sedikit berjalan-jalan bisa menenangkan pikiranku.
Aku berjalan mondar-mandir disekitar tempat Hyona terbaring. Tetap tidak berhasil membuatku tenang. Karena keadaan UGD super sepi, aku melepas kacamata yang sedari tadi melekat di wajahku. Setelah beberapa menit berjalan-jalan, aku memutuskan untuk duduk kembali.
“mm~” suara itu berasal dari Hyona. Awalnya aku menganggap hal ini sepele, tapi tiba-tiba Hyona berkeringat dan banyak bergerak. Coba-coba, aku menyentuh dahinya. Spontan ia menjadi tenang. Gadis ini aneh -.-
“YA! LEE TAEMIN! APA YANG KAU LAKUKAN?” Onew hyung?
“aish, kau kenapa hyung? Mengagetkanku saja.”
“YA! APA YANG KAU LAKUKAN?!” aku makin bingung. BRAAK belum sempat bertanya, tubuhku sudah terpental ke lantai. Aku melihat kearah tempat tidur pasien. Hyona duduk  dan metanya terbelalak kaget.
“Hyona, sudah sadar ya?” Hyona memalingkan wajah ke sumber suara, Key hyung. Aku juga melihat gerakan tangannya yang mengutik kacamatanya. Tunggu.. kacamata? Aigoo!
Aku cepat-cepat mengambil kacamata hitam yang tergeletak di atas lantai. Hyona menoleh ke arahku. Ekspresinya sedikit lebih tenang. “kenapa?” tanyaku.
Ia hanya menggeleng. “mianhe, tadi gerakan refleks. Habisnya, waajahmu terlalu dekat.”
“oh, mm, n..ne, gwechana. Seharusnya aku yang meminta maaf.” Ujarku lalu membantunya turun dari tempat tidur pasien. Aku baru sadar, sebelumnya wajahku dan wajah hyona hanya berjarak beberapa cm. “ngomong-ngomong, kenapa sungra duduk di kursi roda?” tanyaku seraya menatap Sungra. “dan kenapa matanya ditutup?”
Jonghyun hyung hanya menunjuk salah satu sepatu Sungra. “kakinya terluka.”
Sungra melepas tangan Onew hyung yang menutupi matanya. “yah~ aku kira ada kejutan.” Ujarnya kecewa. Onew hyung membawanya ke tempat tidur disebelah Hyona lalu memanggil dokter.

***

Author POV
Intan duduk di tempat tidur pasien selama dokter menangani lukanya. Ia baru sadar lukanya cukup besar dan darahnya terus mengalir, juga lubang di sepatunya yang cukup besar. Setelah selesai, Hyona menghampirinya.
“pakai ini.” Hyona memberikan sandar bergambar kelinci.
“gomawo saeng.”
“tumben. Biasanya kau tidak mau memanggilku saeng, unnie.”
“sudah-sudah, berhenti unnie-saengan. Selisih kita Cuma 1 minggu.”
“kau yang mulai, aku yang salah.”
“ha ha ha.” Intan tertawa hambar lalu memakai sandal pemberian Ochie.
Onew datang menghampiri mereka. “sudah selesai?” yang ditanya hanya mengangguk. “ayo pergi.” Onew berjalan menuju pintu keluar.
“Jisun oppa…” panggil Ochie.
Onew terhenti. “ne?” jawabnya tanpa membalikkan badan.
“apa Taepong oppa itu…” Ochie menarik napas. “apa dia Taemin?”
Onew terdiam. Ia memutar otak. Berusaha mencari alasan yang tepat. Ia pernah berpikir tentang identitas asli mereka terbongkar. Tapi tidak secepat ini. Ia berbalik melihat gadis yang lebih muda darinya.
“Oc! Pertanyaan macam apa itu? Mana mungkin Taepong itu Taemin?”
“yeah, mana mungkin Taepong itu Taemin?” tambah Onew.
“tapi…” kata-kata Ochie terpotong.
“kau berpikir begitu karena aku memanggilnya lee Taemin kan?” sela Onew. Ochie mengangguk. “kami terbiasa memanggil dengan nama bias kami” ujar Onew diiringi kekehan kecil.
“tapi…” Ochie menghentikan kalimatnya. Intan dan Onew menatapnya dengan tatapan penasaran. “ani, lupakan saja.”
“cepatlah, yang lain sudah menunggu di luar.” Onew meninggalkan ruang UGD, disusul Intan. Ochie hanya duduk terpaku. Sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia mengepalkan tangan sebelum pergi menyusul Intan.

***

    Mereka berjalan tanpa ada yang bersuara. Entah bagaimana, suasana menjadi kaku dan canggung. Terlebih lagi Ochie. Sepertinya ia ingin menjauhkan diri dari rombongannya. Ia memakai headphone, memutar lagu dengan volume maksimal, dan berjalan jauh di depan rombongannya. Intan berusaha memanggil dan mengjarnya, tapi itu percuma. Tiba-tiba saja, Ochie berhenti. Bukan karena panggilan Intan, tetapi gedung yang ada dihadapannya saat ini. Ia melepaskan headphonenya dan mengalungkan di leher. Ochie menatap gedung ini tanpa berkedip untuk beberapa saat. Intan yang berdiri disebelahnya merasa bingung.
“apa ada yang salah dengan sekolah kita?” (gedung itu adalah gedung sekolah mereka).
“aku ingin segera keluar dari sini.” Jawab Ochie datar. Ia memakai headphone miliknya lagi dan meneruskan berjalan. Sedangkan Intan masih terpaku di tempatnya.
“ini sekolah kalian?” tanya Jonghyun. Intan mengangguk.
Hening. Semua orang sibuk dengan pikiran masing-masing.
“ada apa dengannya?” suara itu berhasil membuat jantung Intan hampir copot.
“Taepong oppa, kau mengagetkanku.” Taemin hanya tersenyum. Kedua orang itu menatap Ochie yang terus saja berjalan. “entahlah oppa, dia jarang begitu.”

***

    “jadi, ini tempatnya?” ujar Key takjub.
Mereka bertujuh sekarang berdiri didepan rumah 2 lantai. Ukurannya cukup besar. Yang penting bisa menampung mereka. Hari sudah sore, villa milik Intan dan Ochie bagian luarnya terlihat gelap dan tidak terawat.
“sudah berapa lama villa ini tidak ditempati?” tanya Minho.
“cukup lama.” Jawab Ochie singkat.
Intan sedang menelpon seseorang dengan menggunakan bahasa Indonesia yang sama sekali tidak dimengerti oleh orang korea didekatnya. Beberapa menit kemudian, ia mengakhiri pembicaraannya. Ia berbalik menatap villanya. “3..2..1..” Intan menjentikkan jari dan villa itu berubah menjadi terang benderang. Lima laki-laki disebelahnya hanya menatap villa itu tidak percaya. “ayo masuk.”
“hanya luarnya saja yang tidak terawat. Dalamnya masih bersih dan tertata rapi.” Tambah Ochie. Ia terlihat lebih santai daripada tadi.
Mereka memasuki rumah tingkat dihadapan mereka. Kata-kata Ochie memang benar. Setelah semua masuk, mereka membagi kamar. SHINee tidur di kamar tidur utama karena hanya satu-satunya kamar yang cukup untuk menampung mereka. Sedangkan Ochie dan Intan tidur di kamar tamu. Meskipun villa ini besar, didalamnya hanya ada 2 kamar tidur. Walaupun begitu, di villa ini ada kolam renang, perpustakaan pribadi, dapur yang cukup luas, ruangan khusus dikelilingi dengan cermin, lemari baju raksasa yang penuh dengan baju dan sepatu, dan satu ruang rahasia mirip gudang tapi lebih bersih dan rapi.
Setelah beristirahat sejenak, mereka berkumpul si ruang tengah. Hening.
“masak.” Ucap Key lirih.
“huh? Apa hyung?” tanya Taemin.
“ani, aku hanya ingin memasak.”
Hening.
“masak!!” ujar Intan lalu berdiri dari tempatnya. Semua orang menatapnya dengan tatapan heran. “w..wae?”
Ochie membenarkan posisi duduknya yang semula bersndar di sofa menjadi duduk tegak (?). “memangnya kau punya bahan-bahan untuk masak?”
“belanja donk!” Intan tak mau kalah.
“setuju!” tambah Key antusias.
Ochie menarik napas. “Kibum oppa, Taepong oppa, ikut aku belanja.”

***

Intan POV
“hati-hati di jalan!” kataku seraya melambaikan tangan.
Kreek.. pintu depan tertutup.
“Sungra, er.. bisa kita bicara?” jisun oppa? Kapan dia muncul?
“er.. tentu. Kau mau bicara apa?” tanyaku balik. Tapi Jisun oppa hanya berjalan ke halaman belakang. Apa sih maunya? Aku hanya mengikutinya. “ada apa oppa?” aku bertanya sekali lagi, tapi ia masih diam saja. Masa’ Jisun oppa mau nyiapin surprise BBQ parti buat yang lain?
“Sungra…” katanya tiba-tiba. Jujur saja, itu membuatku kaget.
“ne, ada apa?”
“apa boleh aku tahu, kenapa kau mau meenolong orang asing yang sama sekali tidak kau kenal?”
Aku tersenyum mendengarnya. “ceritanya panjang. Kau mau mendengarnya?” ia mengangguk. “sebenarnya ini rahasia. Tapi, baiklah.” “dulu, saat aku masih berumur 4 tahun, aku masih tinggal di kota ibuku dilahirkan, Seoul.”
“jadi, umma mu orang korea?” Jisun oppa tak percaya.
“ne, bisa aku lanjutkan?” tanyaku. Ia mengangguk. “saat berjalan-jalan malam hari, ada sebuah festival yang meriah dan sangat ramai. Aku terpisah dari orangtuaku. Aku menangis dan berteriak. Semua orang melihatku, tapi mereka tidak membantuku, aku juga tidak menemukan orangtuaku.
“lalu?”
“untung saja ada orang itu. Anak laki-laki tiba-tiba muncul dan menolongku. Usianya sekitar 12 tahun. Wajahnya lucu, polos, dan dia baik sekali. Apa kau tahu siapa dia?” tanyaku. Kenapa aku bertanya padanya? Pabbo -.-
Jisun oppa menggeleng. “memangnya dia siapa?”
“namanya Lee Jinki. Lebih dikenal dengan Onew.” Aku lihat, Jisun oppa sedikit terkejut. “aku bertemu dengannya saat festival hampir berakhir.”

-flashback-

    “hey, kenapa kau disini?” tanya seseorang yang tidak ku kenal. Bukan menjawabnya, aku justru menangis lebih keras. “anak manis, kenapa kau menangis? Orangtuamu mana?” aku hanya menggeleng. “ah, kau tersesat?” aku mengangguk. “apa oppa boleh tahu siapa namamu?”
“Park Sungra.” Jawabku dengan sesenggukan.
“Sungra, aku Jinki. Lee Jinki.” Aku sedikit tenang. “Sungra, apa kau mau lihat kembang api bersama Jinki oppa?” Aku mengangguk dengan bersemangat.
Jinki oppa menggenggam tanganku cukup erat. Kami berjalan menyusuri kumpulan orang-orang. Dan sampailah kami di sebuah kios kecil yang menjual kembang api. Ia membeli kembang api (bukan yang petasan, got it?). Antriannya cukup panjang, jadi aku melihat orang yang sudah menyalakan kembang api mereka. Semakin lama, aku semakin terhipnotis dengan cahaya indah itu. Tiba-tiba aku terdorong ke depan dan tanganku terkena percikan kembang api. Saat itu juga aku menangis sekeras-kerasnya.
“mian.. aku tidak sengaja.” Seseorang mengucapkan kata-kata itu berulang-ulang. Sepertinya ia yang mendorongku.
“Sungra! kau kenapa?” nada bicara Jinki oppa terdengar sangat panik. Ia menatap orang yang ada disebelahnya dengan mata yang disipitkan.
Orang itu sepertinya sangat ketakutan. “aku tidak sengaja. Sungguh. Maafkan aku.”
“YA!! Apa kau tidak punya mata?? Kau tidak melihat ada anak kecil disini?? Dan sekarang lihat! Anak ini terluka!” Jinki oppa kenapa begini? Ia Setahuku membentak-bentak seperti itu tidak sopan. Apalagi orang ini lebih tua daripada Jinki oppa (sepertinya).
Orang yang dibentak-bentak oleh Jinki oppa hanya menunduk dan mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Ia memberikan benda itu ke Jinki oppa. “maaf, tapi hanya ini yang bisa kuberikan sebagai permintaan maaf.” Jinki oppa melihat ke benda yang diberikan orang itu. “ini obat untuk luka bakar. Mungkin, bisa sedikit membantu.” Ia membungkukkaan badan, lalu pergi.
Jinki oppa mengoleskan obat itu ke kulitku yang luka. Lalu, ia menarikku ke pelukannya. Hangat sekali. “Sungra, oppa minta maaf, oppa tidak bisa menjagamu dengan baik.” Ia memelukku lebih erat. Ini membuatku nyaman. Lama kelamaan, rasa sakit akibat kembang api tadi hilang begitu saja.
Aku tertawa kecil. “gomawo oppa, karnamu, tanganku tidak sakit lagi.”
Jinki oppa melepaskan pelukannya. “jinjja?” tanyanya tak percaya. Aku mengangguk. “syukurlah kalau begitu.” Ia tersenyum.
Aku juga tersenyum. “oppa, aku mengantuk.” Jujur saja, sekarang rasanya aku sedang melayang.
“kau boleh tidur dirumahku untuk sementara.” Jinki oppa duduk membelakangiku. “ayo.” Ajaknya. Dengan polosnya, aku menalungkan kedua tanganku ke lehernya dan membiarkan Jinki oppa menggendongku. Mataku terasa berat, pengelihatanku kabur, dan semuanya menjadi gelap.

***

    Mataku terasa berat untuk terbuka. Saat membuka mata, semuanya tidak terlihat jelas. Aku mengerjapkan mataku. Satu kali, dua kali, tiga kali. Sekarang lebih terlihat jelas. Didepanku ada anak perempuan seusiaku yang kukenal.
Aku merubah posisi menjadi duduk. Anak itu langsung memelukku. “Sungra, kau kemana saja?” tanyanya. “ayo keluar, orangtuamu sudah menunggu.” Ia menarikku dan berlari keluar.
Aku melihat orangtuaku berbincang-bincang dengan 3 orang. Salah satunya Jinki oppa. Ummaku berkali-kali membungkuk. Mereka melihat kearahku. Ummaku berlari kearahku dan memelukku. Dia juga… menangis? Appaku menghampiri kami lalu menggendongku.
“sekali lagi, jeongmal kamsahamnida. Karena kalian sudah melapor ke polisi sehingga kami bisa bertemu lagi dengan anak kami. kamsahamnida” appaku menundukkan kepalanya. Lalu ia berbalik menuju mobil. Aku bisa melihat jinki oppa tersenyum kearahku.
“kalau kita bertemu lagi, aku akan menjagamu lebih baik lagi.” Bisiknya. Tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas.

-end of flashback-

    Aku menarik napas panjang. “anehnya, aku masih ingat kejadian itu. Padahal sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu.” Aku menatap langit yang bertabur bintang. “tapi, bertemu dengannya lagi? Mustahil. Mungkin dia sudah melupakanku.” Aku mengalihkan pandangan ke sosok yang dari tadi mendengarkan ceritaku. “jadi, begitulah alasanku. Bisa dibilang untuk balas budi secara tidak langsung.” Jisun oppa tertunduk. “kau kenapa?” tanyaku. Jisun oppa melihat kearahku. Aku menatapnya heran. “oppa?”
Tiba-tiba ia menarikku kepelukannya. “aku tidak menyangka kau masih mengingatku dan aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi.” Tunggu.. cara bicaranya? Suaranya? Dan caranya memelukku? Apa mungkin? “yeah, ini aku, Lee Jinki.”

***

Taemin POV
Karena pasarnya tutup, kami terpaksa berbelanja di supermarket. Key hyung mengambil bahan untuk makanan, Hyona mengambil bahan untuk minuman, sedangkan aku mengambil snack dan minuman untuk keperluanku sendiri. Untung saja Hyona tidak keberatan, jadi aku bisa bebas dari amukan Key hyung. Setelah membayar dikasir, kami keluar dan berjalan menuju villa.
Key hyung dari tadi terlihat bengaduk-aduk tas plastik yang dibawanya. “Hyona, aku lupa beli telur.” Ujar key hyung.
“beli didekat villa saja.” Key hyung hanya mengangguk.

***

    Kami bertiga berjalan menuju toko yang dimaksud Hyona. Sepanjang perjalanan aku melihat Hyona berjalan dengan langkah sempoyongan. Sesekali ia memegangi sesuatu agar tubuhnya masih berdiri tegak. Sampai akhirnya ia terjatuh, untung saja Key hyung berhasil menangkapnya. Wajah Hyona pucat.
“dimana tokonya?” Hyona menunjuk ke arah toko swalayan sederhana. “biar aku saja yang beli, uang kembalian tadi cukup kan?” Hyona mengangguk. “Taemin, bantu Hyona duduk di bangku taman itu. Jaga  dia.” Perintahnya lalu pergi.
Aku membantu Hyona berdiri dan pindah ke bangku taman yang kosong. Hening. Tidak ada salah satu dari kami yang bersuara. Aku merasa sesuatu bersandar dibahuku. Hyona. Ia tertidur. Aku biarkan saja.
Beberapa menit sudah berlalu, Key hyung belum juga kembali. Aku melihat sekitar, untuk ke-2 kalinya aku menangkap ekspresi Hyona yang sedang tertidur. Terlihat tenang. Entah bagaimana, otakku memutar kembali memutar ingatan ketika kami bertemu sampai sekarang. Dari pertemuan kami di cafe itu, mengajarinya gerakan danceku, bernyanyi dan menari bersama di tengah kota, dikejar-kejar polisi, saat dia jatuh pingsan, aku tidak menyadari wajahku hanya beberapa cm dengannya saat di rumah sakit, juga ekspresinya yang berubah drastis.
‘Gee Gee Gee Gee Gee~’ suara itu membuyarkan lamunanku. Aku terbelalak kaget. Untuk ke-2 kalinya tanpa kusadari wajahku mendekat ke wajah Hyona. Aku cepat-cepat menjauhkan wajahku darinya. Untung saja Hyona tertidur. Kalau tidak, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Ternyata suara tedi berasal dari handphone Hyona. Kenapa aku merasa aneh saat ini? Ada apa denganku?
“mian sudah menungu lama.” Key hyung akhirnya datang. “dia tidur?” aku mengangguk. “kau tidak macam-macam kan?” huh?
“omo, hyung, apa maksudmu?”
“aku cuma bercanda. Bawa ini.” Ia memberikan tas plastik berisi telur. Setelah aku membawa tas plastik itu, Key hyung menggendong Hyona lalu kami berjalan menuju villa.

***

Author POV
Key dan taemin memasuki villa. Mereka melihat member SHINee yang lain keluar dari kamar tamu. Pandangan mereka bertemu. Kebingungan terukir diwajah mereka. Key dan Taemin memasuki kamar tamu dan membaringkan Ochie di salah satu tempat tidur disana.
Key melihat ke arah tempat tidur lain, ia melihat Intan terbaring dengan mata terpejam. “ada apa dengan Sungra?”
“dia pingsan.” Jawab Onew. “Hyona?”
“dia hanya tertidur.” Jawab Taemin. Lalu mereka bertiga keluar dari kamar itu.

***

    1 jam berlalu. Intan tersadar dari pingsannya. Ia merubah posisinya menjadi duduk. Pandangannya tertuju pada seseorang yang sedang tertidur di salah satu tempat tidur kamar itu. Ternyata orang itu Ochie. Intan berjalan keluar kamar. Tapi ia terhenti di ambang pintu. Ia melihat 5 orang yang wajahnya jelas dan tidak asing lagi baginya. 5 orang yang cukup dikaguminya. SHINee. Karena takut pengelihatannya salah, ia membangunkan sahabatnya.
“Oc, Oc, Oc” Intan gelagapan dan tidak bisa mengatur kata-katanya.
Seakan tahu apa yang dimaksud, Ochie memberi isyarat ke Intan untuk diam dan bersikap normal. Setelah intan tenang dan bisa mengontrol emosi, mereka berdua keluar dari kamar. Mereka melihat 5 orang yang menggunakan kacamata hitam.
“oh, kalian sudah bangun?” tanya jonghyun ramah.
“semuanya, makanan sudah siap!!” Key berteriak dari dalam ruang makan. Spontan semua penghuni (?) villa berjalan menuju ruang makan. Masakan khas korea sudah tertata rapi disana.
“selamat makan!”

***

    Setelah makan, Ochie dan Intan bersantai di kamar mereka. Hening. Tidak ada kata-kata  yang diucapkan mereka.
“apa kau melihatnya?” Ochie memulai pembicaraan.
“maksudmu?”
“mereka…” hening sejenak. “siapa itu?”
Tok tok tok. “ini aku, Minjae.”
“masuklah.” Pintu terbuka. “apa ada masalah?” tanya Ochie.
“boleh aku pinjam komputer, laptop, tablet, atau iPad milik kalian yang terhubung dengan internet? Kami mau memberi kabar ke keluarga kami di Seoul.”
Ochie mengangguk, membuka laci yang ada di sebelah tempat tidurnya, dan mengambil laptop + modem USB. “ini, pakai saja sesuka kalian.”
Minho tersenyum. “gomawo.” Ia menerima barang yang disodorkan Ochie dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Ochie menutup pintu kamar.
“bisa kau lanjutkan?” pinta Intan.
“SHINee”
“ha?”
“kenapa?”
“aku semakin tidak mengerti.”
“maksudku, kau sudah melihat kalau mereka sebenarnya adalah SHINee?”
“jadi, aku tidak salah lihat?”
Ochie tertunduk. “hanya ada 1 cara memastikannya.” Gadis itu menatap mata sahabatnya lurus-lurus. “ikut aku.” Ia keluar dari kamar tanpa ada suara sedikitpun. Intan menyusul dibelakangnya.
“mereka melihat keadaan sekitar. Sepi. Tidak ada satu orangpun disana. Kemudian terdengar suara orang-orang tertawa dan berbincang-bincang. Suara itu berasal dari kamar utama yang letaknya persis di sebelah tangga. Pintu kamar itu tertutup. Menurut Ochie, ini sebuah kesempatan besar. Ia dan intan mengendap-endap menaiki tangga. Di tembok perbatasan antara tangga dan kamar terdapat lubang persegi panjang yang difungsikan sebagai fentilasi udara. Mereka berdua mengintip dari fentilasi itu. Ekspresi Intan berubah menjadi sangat terkejut. Sedangkan di wajah Ochie terukir ‘smirk’.

***

Keesokan harinya…
Jam di kamar tidur utama menunjukkan pukul 06.00 WIB. Hanya Jonghyun yang sudah terbangun dari tidurnya. Karena baru setengah sadar, ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Saat melewati ruang makan (kalau ke kamar mandi, melewati ruang makan dulu) Jonghyun melihat Ochie dan Intan yang sudah berseragam lengkap menikmati teh mereka.
“selamat pagi, Hyona, Sungra.” Sapa Jonghyun.
“selamat pagi…” jawab Intan.
“Kim Jonghyun.” Lanjut Ochie.

–TBC—
Kaya’nya part ini kepanjangan ya??
Atau Cuma perasaan author -.-a??
Yg udah baca, comment ya😀

5 responses to “[Korea Fan Fiction] Bad Cookies [part 5c] – SHINee

  1. Waah… makin penasaran… bukan nya Intan udah tau kalau Onew yang bernama samaran Lee Jisun itu Lee Jinki? alias Onew.. kenapa harus Kaget?

    Lanjutin chingu… sudah nggak sabar kelanjutan nya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s