[FREELANCE] 12 Years Between Our Love

Judul       : 12 Years Between Our Love

Author   : Lee Haeyeon

Rate        : PG-15

Length    : Oneshot

Genre     : Romance, Angst, AU, Sad/Happy (terserah sudutpandang pemikiran kalian xD)

Main Cast               : Im Yoona, Lee Donghae

Disclaimer             : WAJIB BACA! terinspirasi dari komik manga karya YASUKO90% ff ini asli murni milik saya  sebenarnya ff ini pertama mau ku kumpulin sebagai tugas cerpen sekolah dan castnya bukan Yoona dan Donghae, tapi, Sun dan Ken dan endingnya juga gak begini, tapi gak tau kenapa aku pengen ngerubah endingnya gara-gara kesambet komik itu @@ hehe. tapi karena ini fanfic aku ubah deh ini udah aku edit. kalau kalian menemukan kata Sun atau Ken maaf yaahh. Sun itu Yoona dan Ken itu Donghae. Mianhae kalau banyak typo. Readers boleh mengkritikku dan memberitahu kesalahanku. TAPI.. jangan dibash yah ><

FF ini pernah ku post di BLOG ku https://leehaeyeonff.wordpress.com/ main2 kesana yah ^^

okeh, author banyak curcol.. siap-siap nangis yang gampang nangis. siap-siap diem yang gak gampang nangis #KLANG *dilemparKuali

 

12 Years Between Our Love

1st

“Argh! Aku kesal! Kenapa nilai ku jelek terus!” Yoona mematahkan sumpit kayu di depannya. Donghae tertawa kecil “Jangan marah-marah melulu, dong. Kamu kan biasanya ceria!” Donghae tersenyum pada yeoja di depannya. “Kenapa kamu? Senyum-senyum nggak jelas” Yoona memanyunkan mulutnya. “Habis kamu bodoh!” Donghae tertawa lepas. “Sombong! Mentang-mentang  kamu rangking 1 di kelasmu!” Yoona meminum habis segelas jus apel di meja kantin tempat ia dan Donghae duduk bersama. “Ya, itu bukannya gelas ketiga?” Donghae tertohok melihat adik kelas sekaligus pacarnya menghabiskan  tiga gelas jus apel. “Biarin! Habis kalau aku lagi sebel suka nya minum jus apel” Yoona menjelaskan. “Gembul!” ledek Donghae. Yoona hanya diam menatap Donghae. Kemudian, menghela nafas pelan. Donghae mengacak-acak rambut cewek yang duduk berhadapan dengannya. Yoona dengan jengkel memperbaiki rambutnya. “Hmm, Kalau kamu dapet ranking bagus aku kasih hadiah!” ujar Donghae sedikit menantang guna sedikit menyemangati pacarnya, Yoona.

“Maksud kamu? Ngehina ya !? Aku kan nggak bakal bisa ranking!” Yoona tambah memanyunkan bibirnya. “Aduh, aduh. Bibir kamu udah mau jatuh, tuh! Aku nggak bermaksud ngehina kamu, chagi. Dasar! Kok, kamu jadi nething-an sih?” Donghae menggoda Yoona dengan genit. “Aku jadi guru kamu, deh!” Donghae menawarkan diri. Mata Yoona berbinar sejenak tapi sirna setelahnya. “Pasti ada apa-apanya!” Yoona berprasangka buruk lagi. “Tuh, kan! Nething-an melulu! Tapi.. bener juga pikiran kamu! 1 jam sepuluh ribu!” Donghae tersenyum nakal. “Kamu sebenarnya niat bantu aku nggak sih ?” Yoona cemberut. “Bercanda! Dasar galak!” Donghae menatap Yoona sambil tersenyum.

Jarum jam menunjukkan pukul 15.27. “Eh, uda telat tujuh menit! Ayo pulang!” Donghae menarik tangan Yoona. Dengan enggan Yoona beranjak dari bangkunya. “Jangan badmood terus, dong!” Donghae mencubit pipi Yoona dengan gemas. “Iya, iya” Yoona mencoba tersenyum. Dengan lihai Donghae mengendarai motornya menyelusuri jalan-jalan menuju rumah Yoona. Setelah sampai di tujuan pasangan itu saling berpamitan. “Jam 5 aku kerumah kamu!” Donghae segera berlalu setelah melontarkan kata-kata itu. “Iya!” balas Yoona.

Yoona berlari kecil menuju kamarnya yang terletak di lantai atas, membuka pintu kamarnya. “Sepi, nggak ada mama dan papa” Yoona merebahkan badannya ke kasur. “Pergi terus, kerja terus” Yoona bergumam. Yoona menutup matanya. Capek, itu yang di rasakannya sekarang. “Agasshi! Makan dulu!” teriak Heera ahjumma dari lantai bawah. “Iya” balas Yoona pelan. Ada kari ayam, makanan favoritnya. Dengan lahap Yoona menghabiskan makan siangnya. Sementara, Heera ahjumma, pembantu Yoona mempersiapkan air hangat untuk Yoona. “Yoong! Air hangat udah saya siapin!” Heera ahjumma kembali berseru. “Iya, iya” Yoona langsung bergegas ke kamar mandi.

“Yoong!!” Suara itu suara yang sangat di kenal Yoona. “Pasti itu Donghae oppa!” Yoona menerka. Yoona segera membukakan pintu untuk Donghae. “Kok datengnya kecepetan 30 menit?” tanya Yoona. “Iya, nggak apa-apa kan?” “Nggak apa-apa sih” Yoona membawa Donghae ke ruang tamunya. “Nih!” Yoona menyerahkan buku paket matematikanya kepada Donghae. Donghae diam dan membaca sejenak soal-soal yang diajukan Yoona.  “Duh, soal gampang begini kamu nggak bisa !? Keterlaluan!!” Donghae meledek Yoona. “Kamu yang keterlaluan!” Yoona kembali cemberut. Donghae terkekeh sambil mengelus rambut Yoona.

Setelah Donghae menjelaskan berbagai materi untuk Yoona, Yoona merasa otaknya kali ini lebih berisi daripada di jelaskan gurunya. “Ngerti kan?” Donghae bertanya memastikan bahwa Yoona benar-benar sudah mengerti. “Sip, Pak Donghae!” Yoona memberi hormat pada Donghae seperti ketika member hormat pada bendera ketika upacara di sekolahnya. Donghae tertawa geli dan menjitak Yoona pelan. “Aduh! Kok di jitak sih?” Yoona memanyunkan bibirnya lagi. “Habis kamu aneh-aneh sih. Udah, cepat kerjain sana!”

Setelah beberapa lama, “Eh, nggak terasa udah jam 8!” ujar Donghae. “Ya sudah, pulang aja dulu” Yoona berhenti mengerjakan soal dari Donghae. “Iya, jangan malas-malas! Lanjutin kerjaan kamu. Nanti aku koreksi. Kalau benar semua aku traktir eskrim!” Donghae mencubit hidung  Yoona gemas. “Iya! Dasar cowok bawel!” Yoona mengeluh dengan suara kecil. “Gitu-gitu kamu juga suka!” Donghae langsung mengendarai motornya dan pergi. Yoona menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ternyata, kuping Donghae peka juga. Yoona terkekeh kecil sambil tersenyum menatap punggung cowok itu hilang perlahan.

 

 

12 Years Between Our Love

2nd

Dengan susah payah Yoona membuka matanya. Gara-gara soal-soal yang menguras otak yang di berikan Donghae ia jadi tidur malam. Dengan langkah gontai ia menuruni tangga mencari sikat gigi dan peralatan mandi lainnya. Setelah itu ia sarapan dan segera berangkat sekolah dengan taksi. Hampir terlambat ! untungnya Yoona segera berlari secepat mungkin dan berhasil melewati gerbang sekolahnya.

Pelajaran yang sangat membosankan bagi Yoona. Ingin rasanya cepat-cepat mendengar bunyi bel istirahat dan bertemu Donghae. Tak lama, keinginan Yoona terkabul! Bel berbunyi, “Ah, Taeyeon, aku ke tempat Hae oppa dulu, ya” ucap Yoona pada Taeyeon, sahabatnya. “Ne, aku sama Sunny aja! Met pacaran!” Taeyeon terkekeh kecil. “Dasar!” Yoona tersenyum memeluk sahabatnya.

Yoona berlari keluar,menuju kantin. Kemudian, duduk di meja kantin tempat kemarin mereka duduki. Yoona menopang dagunya dengan tangan kirinya. Beberapa menit kemudian sosok yang diinginkannya muncul juga. “Maaf!” Donghae menghapus keringatnya. “Habis basket” Donghae melanjutkan kalimatnya. Yoona memberikan sebotol air mineral kepada Donghae. “Nggak apa-apa. Aku tahu, kok. Hari ini pelajaran olahraga” Yoona tersenyum manis. Donghae mengacak-ngacak rambut Yoona pelan. “Mana kerjaan kamu?” pinta Donghae. “Oh, iya! Ada di kelas. Sebentar ya!” Yoona langsung berlari ke kelasnya.

“Aduh!” Yoona menabrak seorang yang tak dikenalnya. “Maaf” ujar Yoona. Ia mencoba berdiri dan kembali berlari kecil mengambil kertas soal yang sudah di jawabnya dan berlari kembali menuju kantin. “Nih!” Yoona memberikan kertas itu dengan nafas terengah-engah. “Nggak usah lari-lari kali!” Donghae duduk sambil memeriksa hasil kerjaan Yoona. Yoona memperhatikan kertas yang dibolak-balik Donghae. “Salah tiga!” Donghae tersenyum. “Padahal aku udah ngerjain susah-susah!” Yoona tampak bersedih. “Gwaenchanha, Jamkamman, ne!” Donghae beranjak pergi.

Ia kembali membawa dua gelas eskrim. “Nih” Donghae menyodorkan segelas eskrim coklat pada Yoona. Yoona tampak kebingungan. “Udah, makan aja! Hadiah buat kamu karena sudah ngerjain soal itu dengan sungguh-sungguh!” Donghae tersenyum. “Wuih! Kamsahamnida, jeongmal masshita..” ujar Yoona semangat. “Oh,ya hari ini kamu ujian matematika kan?! Mana lagi soal yang nggak di mengerti?” Donghae membolak-balikkan halaman di buku yang di bawa Yoona. “Udah ngerti semua!” ujar Yoona semangat. “Jeongmal? Awas, ya kalau nggak dapet 100!” ancam Donghae. Yoona tak menggubris Donghae dan melanjutkan menghabiskan eskrimnya. Persetan dengan pelajaran-pelajaran matematika yang membuat otaknya tambah penat lebih baik menghabiskan es krimnya.

~*~

                Ketika ujian berlangsung Yoona tampak kesulitan. Dari tadi ia melirik sana-sini guna mendapat jawaban. “Aduh, tadi ini gimana yah..” Yoona sibuk bergumam sendiri. “Nngg, ini? Bukan. Ini? Bukan juga. Aduh.. Apa, ya?” Yoona menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.  “Aku nyerah! Sisa soalnya aku pasrahin aja. Huh! Kalau aku ceritain sama Hae oppa, pasti dia marah besar!” Yoona mengetuk dahinya pelan. “Seharusnya, tadi aku ngikutin kata Donghae oppa!” gerutu Yoona dengan penuh rasa penyesalan.

“Gimana ulangan mu?” tanya Donghae. “Susah!” Yoona mencibir. “Tuh, kan! Kamu tadi aku tanya katanya udah ngerti semua! Gimana sih?!” Donghae tampak kesal. “Aku kan juga capek belajarnya.. Kamu sih enak, otaknya encer” Yoona menunduk merasa bersalah karena tak menuruti Donghae. “Ya, sudah. Lain kali jangan di ulang. Kamu bentar lagi SMA 3! Aku bentar lagi lulus. Kalau aku lulus nanti yang ngajarin kamu siapa lagi?” ujar Donghae. “Kamu!” jawab Yoona polos. “Aku pasti sibuk kuliah, chagi..” Donghae melototi Yoona. “Iya,iya. Mianhae. Aku bakal rajin belajar!” Yoona menggaet lengan Donghae dan menyandarkan kepalanya di bahu Donghae.

~*~

                Donghae mendapat telepon dari Yoona. “Ken! Aku bahagia!” teriak Yoona girang. “Ada apa? Kamu dapat nilai 75 ulangan matematika tadi?” Donghae bertanya mencoba menebak. “Selain itu!” Yoona tetap tersenyum sumringah. “Ngg, tidak tahu!” Donghae menyerah. “Orang tuaku akan pulang dari Taiwan besok malam! Sampai di Bandara jam 7 gitu” ujar Yoona setengah berteriak. “Wah! Bagus, dong! Mereka bakal ketemu men.. Eh, maksudku ketemu pacar anaknya!” Donghae cepat mengganti perkataannya, hampir saja ia bilang ‘menantu’. “Pacar? Aku nggak punya pacar, kok” Yoona mengelak. “Heh! Kamu berani gitu, ya!” Donghae berpura-pura marah. Yoona tertawa lepas kemudian ia menutup pembicaraan itu. Masa bodo dengan si Ikan Mokpo itu. Hehehe.

Donghae tersenyum, rasanya sangat senang mendengar orang yang disayanginya sangat bahagia. Sudah lama ia tak mendengar Yoona tertawa lepas sejak sembilan bulan yang lalu. Seperti nilai nya akan naik lagi seperti sembilan bulan lalu.

Meskipun Donghae adalah anak broken home yang hanya tinggal bersama ayahnya, ia tidak akan membiarkan hidupnya menjadi suram karena alasan itu. Karena Yoona tidak suka melihatnya muram dan untuknya, kebahagiaan Yoona adalah hidupnya. Oh, Donghae teringat sesuatu. Ia mengambil handphonenya. Ia menekan tombol redial.

“Ya! Kenapa?” Yoona langsung mengangkat telepon Donghae. “Kamu ingat hari ini hari apa?” tanya Donghae. “Nngg..” Yoona tampak kikuk. Ia membuka kalender dan mendapati tanggal tujuh bulan tujuh. “Ah, 2nd Year Anniversary kita, ya?!” Yoona tampak senang. “Ne! Jadi aku mau bawa kamu jalan-jalan. Besok jam 9 pagi! Harus udah siap! Nggak boleh ngaret !” Donghae mengingatkan. “Oke! Yaksokhae!” Yoona mencium layar handphonenya. “Heh! Kamu makin lama, makin gila! Ampun, deh!” Donghae tersenyum renyah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dengan cepat Donghae mengetik pesan untuk Yoona. Sambil tersenyum dan menunggu pesan itu terkirim ke handphone Yoona.

Pakai baju dan kalung yang ku berikan setahun lalu ^o^. Setelah itu malam nya sehabis kita pulang kencan dan kita akan menjemput orang tua mu di Bandara! Oke? ^w^

 

 

12 Years Between Our Love

3rd

          Hari itu cerah sekali, matahari besinar lembut. Segumpal awan tebal menggantung di angkasa seolah menahan agar matahari tidak terlalu terik menyinari bumi. Angin bertiup sepoi-sepoi sejak pagi. Sekarang pukul 8.30. Yoona sebentar-sebentar melirik kaca. Memastikan penampilannya sebaik mungkin. Wajar saja, jarang-jarang mereka kencan. Karena, sekolah mereka memiliki jadwal yang padat. Tak henti-hentinya Yoona membetulkan dandanannya dan baju couple yang setahun lalu Donghae belikan untuknya, juga tidak lupa kalung couple berbentuk setengah hati. Ia melirik arloji di lengannya. Menunggu Donghae datang menjemputnya.

Tak lama kemudian terdengar deru mobil diikuti suara klakson pelan tiga kali. Dengan sigap Yoona mendatangi Donghae. Ada sebuah sedan putih mengkilap. Kemudian Donghae membukakan pintu untuk Yoona. Dengan wajah berseri-seri Yoona masuk ke mobil dan duduk di samping kursi pengemudi, di samping Donghae. Mereka tampak cocok.

“Mau kemana sih?” tanya Yoona penasaran. “Ke Pantai Matahari!” jawab Donghae dengan mata tetap lurus kedepan. “Oh!” Yoona menjawab sambil memperhatikan sekitar lewat jendela mobil. “Manis!” ujar Donghae. “Makasih” Yoona menjawab datar. “Bukan kamu. Maksud aku, permen ini!” Donghae tersenyum nakal. “Ih!” Yoona tak bisa berkata-kata dan hanya memanyunkan mulutnya. “Permen ini manis, tapi kamu lebih manis!” Donghae memulai gombalannya. “Nggak bakal termakan rayuan kamu!” Yoona tertawa geli. “Sudah sana! Perhatikan jalan!” perintah Yoona. “Iya” ujar Donghae menurut.

Hening.

Yoona menyalakan radio tape di mobil. “Tumben kamu nurut.” Tukas Yoona agak bingung. “Habis kamu menyeramkan. Pas itu aja sumpit kamu patahin!” Donghae tertawa cekikikan. Yoona hanya diam. “Memangnya aku seseram itu, ya?” Yoona mencubit perut Donghae gemas. Kedua orang itu tertawa riuh di dalam sedan putih tersebut.

 

PANTAI MATAHARI. Tertulis jelas bahwa tempat tujuan mereka sudah sampai. Segera mereka memasuki daerah hamparan pasir itu. Pasir di Pantai Matahari berwarna krem kekuningan, air lautnya berwarna biru sedikit kehijauan. Pemandangan yang indah dan pas untuk berkencan, bukan?

Yoona senang bukan main, hari ini diajak pergi berkencan, nanti malam orang tua yang sudah sangat ia rindukan akan pulang. Entah apa yang akan terjadi lagi nantinya. Kalau suasana begini, Yoona jadi selalu takkan sabar menunggu hari esok! Yoona dan Donghae bermain motorboat. Sesekali Yoona memeluk Donghae karena takut jatuh ketika menikung tajam. Baju mereka basah kuyup. Belum puas bermain, Donghae mengukir namanya dan Yoona di pasir menggunakan ranting pohon yang kebetulan ditemukannya sedang terhanyut ombak Pantai Matahari. ‘Yoonhae’

“Ih, apa tuh? Yonhae?” ledek Yoona. “Bukan! Ini Yoonhae! Mentang-mentang tulisannya bagus!” protes Donghae sambil melanjutkan menggambar gambar hati di pasir. “Kamu juga! Biasanya mentang-mentang kamu pinter, He.. He.. He..” Yoona terkekeh kecil sambil memeluk Donghae dari belakang. Donghae melirik jam tangan anti airnya. Sebentar lagi orang tua Yoona pulang, pikirnya.

“Ada apa, oppa?” tanya Yoona. “Tidak, sudah jam 5, lho. Kamu tidak lapar?” tawar Donghae. “Ah,benar!” Yoona sedikit berteriak untuk menutupi bunyi perutnya. Dua orang itu berjalan menuju Gazebo di Pantai Matahari. Duduk bersantai memesan makanan dan 2 es kelapa sambil menikmati sepoinya angin disana.  “Ah, segar!” Yoona tersenyum ceria. “Sudah kenyang kan?” tanya Donghae. “Tadi perut kamu bunyi kan? Makanya kamu kencengin suara kamu. Tapi tetep aja kedengeran sama aku” Donghae menambahkan. Yoona menunduk malu, pipi nya memerah. “Nggak apa-apa kali. Sama pacar sendiri kok!” Donghae mengangkat dagu Yoona, mendekati wajahnya  dan kemudian tersenyum padanya.

Huh, ku kira kamu mau ngapain, pikir Yoona dalam hati. “Nah! Sekarang mau ngapain lagi?” Donghae merentangkan tangannya dan membiarkan angin-angin menerbangkan rambutnya. Donghae menggandeng tangan Yoona dan mengajaknya ikut merentangkan tangannya seperti di film ‘Titanic’. “Ka-kamu ngapain sih?” ucap Yoona gugup. Jantungnya berdebar tak karuan. Pipinya, mungkin mengalahkan merahnya tomat. “Malu ya?” Donghae menggoda Yoona. “Ya, jelas dong! Di lihat-lihatin nih. Aku kan nggak pede kayak kamu!” Yoona menunduk. “Sudah, nikmati saja pemandangannya!” Donghae mencium pipi Yoona. Kali ini jantung Yoona rasanya mau meledak.

Yoona berusaha menepis rasa malunya. Ia mulai berbicara. Mengutarakan isi hatinya. Ia ingin Donghae tahu bahwa, ia sangat ingin terus bersama Donghae selamanya. “Oppa, apa kita akan selalu bersama seperti ini?” tanya Yoona sambil memejamkan matanya. “Ani..” jawab Donghae. Hati Yoona sakit. Dadanya sesak. Ia begitu kecewa. Bukan jawaban seperti itu yang ia inginkan dari Donghae. Donghae tersenyum. “Maksudku, Tidak akan ku biarkan kamu sendiri.” Yoona menitikkan air mata. Bodoh, mengapa ia percaya kata-kata Donghae sebelumnya. Jelas-jelas ia tahu bahwa, Donghae begitu menyayanginya. Donghae sangat mencintainya dengan tulus. Donghae adalah idola di sekolahnya. Tetapi, Donghae mau pacaran dengan Yoona yang notabene biasa-biasa saja. Cantik juga tidak, pintar? Apa lagi itu!

Mianhae, ya, karena aku bodoh, jelas-jelas aku tahu itu..” kata Yoona tersenyum kecil. Donghae mengelus rambut Yoona dan mencium puncak kepala Yoona. Makin lama bibir Donghae turun menuju bibir Yoona. Mereka saling membalas ciuman. Mereka berciuman di Pantai. Orang-orang meninggalkan mereka. Membiarkan pasangan itu menikmati momen tersebut. Tepat pada waktu matahari terbenam.

Setelah melepaskan ciumannya, Donghae mendekap Yoona dengan erat. “Aku janji, sampai kapanpun, kita akan bersama!” ujar Donghae. “Yoong, saranghae..” Donghae menatap Yoona. “Nado.” Balas Yoona.

Yoona mengajak Donghae bermain pasir lagi. Yoona tertawa kecil saat melihat Donghae menjerit histeris layaknya anak kecil setelah melihat kepiting mendekatinya. Donghae memang takut pada kepiting. Yoona menangkap kepiting itu dan mengerjai Donghae dengan mendekati makhluk hidup bercangkang tersebut pada Donghae.

“Diam! Berhenti mengerjaiku, Yoong! Keumanhae! Ya!” jerit Donghae takut. “Kalau kau sombong-sombong lagi tentang pelajaranmu, inilah hadiah terspesial dariku. Hehehe” Yoona masih dengan senangnya mengusili Donghae. “Im Yoona!!” ujar Donghae geram. “Ternyata Lee Donghae sang idola sekolah itu takut kepiting!!” ledek Yoona dan mengambil kamera. “Yoona… jangan coba-coba foto !!” teriak Donghae sebal tingkat akut. “Kenapa kamu tidak mau mengabadikan momen kita?” tanya Yoona, sepertinya untuk menyindir Donghae. “Yah, mengabadikan momen bukan pada saat ekspresiku begini, dong, babo!!” Yoona tertawa geli. Donghae itu konyol dan lucu sekali.

 

12 Years Between Our Love

4st

Donghae melaju mobilnya dengan kecepatan penuh. Saking asyiknya pacaran mereka hampir lupa menjemput orang tua Yoona di Bandara. Untungnya, Bandara berjarak tidak terlalu jauh dengan Pantai Matahari. Yoona yang duduk di sisi kanan, menyalakan radio tape di mobil. Sun membelalakkan matanya. Ia mendengar berita di radio langsung. Terjadi kecelakaan pada nomor pesawat yang ditumpangi orang tuanya ketika menukik kebawah. Yoona menangis, menjerit sekencang-kencangnya. Ia takut, apakah orang tuanya bisa selamat? Sebenarnya dunia ini kenapa? Donghae tidak tega melihat yeoja chingunya menangis. Ia menghentikan mobilnya di tepi jalan fly-over dekat pembatas jalan. Mencoba menghibur dan menenangkan kekasihnya. Naas, Tiba-tiba datang sebuah truk dari belakang yang hilang kendali. Entah pengemudinya mabuk atau apa. Truk itu menabrak sisi kanan belakang mobil Ken dan insiden itu menyebabkan, mobil yang dikendarai dua sejoli itu jatuh terguling beberapa kali setelah menabrak pagar pembatas. Hingga semuanya tidak bisa lagi mereka lihat. Hitam. Semuanya menjadi hitam.

Donghae mengerjap-ngerjapkan matanya. Mencoba memfokuskan cahaya yang jatuh tepat pada retinanya. Ia mencari sosok Yoona. Yoona tidak ada disampingnya. Yoona tergeletak jauh darinya. Yoona tergeletak tak berdaya. Yoona tergeletak dengan berlumuran darah disekujur tubuhnya. Oh, bahkan Donghae tidak peduli lagi dengan luka dikepalanya yang membuat kesadarannya makin menipis. Bagaimana ini? Donghae sangat bingung. ia sendiri tidak berdaya. Apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan kekasihnya yang terluka parah. Ia merangkak dengan perih menuju tempat Yoona yang terlempar jauh beberapa meter di sampingnya. Makin lama sebelum tujuannya sampai, pandangannya makin buram, dan kesadarannya makin menipis. Ia makin lemah. Donghae pun kembali tersungkur.

 

12 Years Between Our Love

5st

“-kepiting..” Yoona mengerjap-ngerjap matanya, ketika ia terbangun. Ia mencari sosok Donghae dan orang tuanya. “Aku, kecelakaan, ya?” Yoona berusaha mengingat-ingat lagi kejadian tersebut. “Ah, benar. Papa, mama, kalian pasti sudah tidak ada, buktinya kalian tidak ada disini…” Yoona bergumam dalam hati. Ia menangis tanpa suara. “Hei, kau sudah bangun?” tanya seorang pria berbadan besar yang bahkan Yoona tidak kenal. “Kau siapa?” tanya Yoona lemah. Yoona tidak sadar bahwa sedari tadi pria itu ada disampingnya. “Aku saudara jauhmu. Kevin.” jelas pria tersebut. Yoona menatap pria itu kebingungan. “Nae ahjusshi, ya?” tanyanya. Ia hanya mengangguk. “Tapi aku tidak mengenalmu..”  kata Yoona. “Wajar saja, aku saudara jauhmu” jelasnya.

“Ayo, pulang..” ajaknya. Yoona masih bingung. bagaimana ia bisa pulang. Menggerakkan kakinya susah sekali. Akhirnya Om itu membopong Yoona. “Sudah dengar? Anak itu sudah sadar, lho! Dan pria itu langsung membawanya pulang secara paksa dari pihak rumah sakit” terdengar desas-desus disepanjang koridor dirumah sakit. Yoona tidak mendengar begitu jelas. Di sepanjang jalan Yoona hanya memikirkan Donghae. Apa Donghae juga pergi meninggalkan Yoona sendirian? Yoona kembali menangis. Kali ini terdengar sedikit isakannya. Om itu hanya menjawab bahwa Donghae pamit pergi ke Jerman untuk melanjutkan kuliahnya. Dan memberitahukan bahwa ia baru sadar dari koma selama 2 bulan. Ironis bukan? Setelah ia koma, Donghae meninggalkannya. Pembohong! Dimana semua janji yang Donghae umbar-umbar kepadanya. Dadanya sesak. Rasanya jantungnya mau berhenti. Ia susah bernafas. Ingin menangis meraung-raung tapi ia tidak bisa.

~*~

Kenangan indah yang Donghae berikan padanya terlalu banyak. Ia bahkan masih ingat semua kenangannya. Untuk apa ia hidup sekarang? Ia tidak memiliki siapa-siapa lagi. Yoona membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Menangis terisak dan membasahi sofa yang sedang ia duduki di rumah Om yang menjaganya selama koma tersebut. “Jangan merasa bahwa kau sendirian dan tak punya siapa-siapa lagi.” Sela Om itu. Om itu tahu perasaannya. Ia jadi ingat pada Donghae yang biasa bisa membaca pikiran dan perasaannya. Om itu membuatnya makin jauh lagi kembali mengingat Donghae. Momen-momen Donghae menyapu bibirnya dengan lembut, memeluknya dengan hangat,dan masih banyak lagi. Jadi apa maksud perlakuan Donghae yang begitu menyayanginya? Kenapa Donghae pergi ke Jerman? Yoona merasa semua itu tidak masuk akal. Apa jangan-jangan sebenarnya Donghae sudah meninggal ? dan ternyata si Om membohonginya? Oh, Tuhan… Yoona berharap pikirannya tadi tidak benar.

“Jangan keluar rumah dan membuka pintu untuk orang yang tidak dikenal” perintah Om itu setelah membiarkan Yoona berfikir banyak. “Ahjusshi, eoddiga?” tanya Yoona. “Kerja” jawabnya singkat. “Kerja apa?” tanya Yoona lagi. Om itu tersenyum “Jadi karyawan kecil saja,kok” jawabnya. Yoona membalas senyuman Om itu. Jadi selama ini Om itu memang mencari uang untuk membiayai uang perawatannya. “Om, nama Om siapa?” tanya Yoona. “Kau lupa, ya? Namaku Kevin.” “Ah, iya. Maaf, aku lupa..” Om itu pergi menutup pintu dengan pelan dan melambaikan tangannya. “Jangan lupa pesanku.” Tambahnya. Yoona hanya mengangguk.

Yoona sangat bosan tinggal dirumah Om itu. Apa yang harus ia lakukan. Ia berjalan menuju jendela yang menghadap kearah taman. Setelah itu Yoona tersentak. Matanya terasa mau copot. Ia melihat si Om berbicara dengan Donghae!  Om berbohong. Kenapa? padahal Yoona baru saja mempercayainya. Air mata Yoona langsung meleleh dan menyeruak keluar. Sebenarnya Yoona bukan menangis hanya karena Om berbohong padanya saja. Tapi, disamping Donghae, ada seorang cewek bule yang asik menggaet lengannya dengan mesra. Kenapa Donghae membohonginya? Dan si Om berbicara dengan Donghae bahkan memukul pundaknya pelan layaknya teman akrab.

Yoona berteriak, ia menangis sejadi-jadinya. Kenapa Tuhan begitu jahat padanya? Om yang kaget mendengar hal itu langsung masuk kembali kedalam rumah dan menanyakan Yoona. “Ahjusshi pembohong! Aku benci ahjusshi!” Yoona memukul dada Omnya dengan kencang. Meski makin lama pukulannya makin melemah. “Apa?” tanya Om itu. “Om.. tadi aku melihat, Om ngobrol dengan Donghae oppa! Kenapa Om bilang oppa ke Jerman?!” Yoona bertanya dengan wajah basah penuh air mata. “Kamu bilang apa? Kamu bermimpi, ya?”

Hening. “TIDAK! AKU NGGAK BERMIMPI, OM! OM.. APA OM KIRA AKU UDAH GILA?!” Yoona terus berteriak makin kencang di dekapan Om itu sampai ia tak sadarkan diri. Tapi Yoona masih bisa merasakan sedikit hangatnya pelukan Om itu. Dan wajah cemasnya yang samar-samar terlihat oleh Yoona.

 

 

12 Years Between Our Love

6st

Malam itu, bulan bersembunyi dibalik awan malam yang menggantung di langit hitam, pertanda malam ini aka nada hujan mengguyur hamparan tanah nanti. Yoona membuka matanya perlahan. Matanya masih terus menerawang. Ia masih tidak percaya. Apakah ia hanya bermimpi. Menyedihkan. Ia mencari sosok Kevin ahjusshi. Perutnya berbunyi. Ia berjalan perlahan menuju meja makan. Tetapi disana ia tidak menemukan apapun yang bisa dimakan.

Tok, tok, tok!

Yoona segera membuka pintu itu, mungkin itu si Om yang pulang membawa dua kotak makanan untuk mereka. Tapi bukan Om yang datang. Melainkan …

“Nih!” sahutnya memberikan sekotak makanan untuk Yoona. “Hae…” Air mata Yoona langsung menyeruak keluar, membanjiri piyama bermotif kelincinya. “Hae?” tanya cowok itu. Ia termenung sesaat. Yoona membulatkan matanya. Jangan-jangan cowok itu amnesia? Masa ia tidak tahu namanya sendiri. “Mmm, namamu siapa?” tanya Yoona takut-takut. Padahal ia yakin orang yang berdiri didepannya ini bernama Donghae, Lee Donghae! Jelas-jelas ini Donghae oppa. Apa ia yang gila sampai salah mengingat orang?

Orang itu tertawa. “Bagaimana kalau kau mengganti piyamamu sesuai umurmu?” segera cowok itu pergi meninggalkannya. Yoona hanya terbengong ditempat. “Oh, ya, kalau kau sudah baikan, bagaimana kalau kau cari kerja untuk meringankan beban Om selama ini?” tawarnya. Yoona terhenyak. Kakinya lemas. Ia terjatuh ke teras rumah. Cowok yang melihat itu langsung membopong Yoona ke kamarnya. “Maafkan, aku..” gumam Yoona. Setelah Donghae selesai mengantar Yoona kekamarnya. Ia keluar.

Yoona menatap langit-langit kamarnya. Padahal mereka sedekat ini. Kenapa Yoona tidak merasakan sesuatu ketika berdekatan dengan Donghae tadi? Apa dia sudah tidak memiliki perasaan pada Donghae lagi? Atau mungkin yang tadi ia lihat hanyalah bayangannya saja? Mungkin saja, sebenarnya ia berjalan sendiri menuju kamar tetapi ia berhalusinasi bahwa cowok tadi ada disampingnya? Yoona berjalan ke ruang tengah. Ia melihat sekotak makanan dan melahapnya pelan. Ini benar-benar nyata. Tadi Donghae memang ada disampingnya. Jadi tadi kenapa ia tidak bereaksi? Kenapa ia tidak berdebar-debar lagi seperti dulu? Apa ia terlanjur sakit hati karena melihat Donghae bersama cewek itu? Berarti ia tidak bermimpi dari tadi siang,kan? Dan.. apa maksud perkataan Donghae tadi? Berpakaian sesuai umurnya? Yoona kembali menangis. Ia sadar akan sesuatu. Bodohnya dia. “Babo Yoona…” rutuknya sendiri

Malam itu, Yoona berpura-pura tidur dan mengintip Om tersenyum lega melihatnya. “Om.. bolehkah aku mempercayaimu?” batinnya.

 

 

12 Years Between Our Love

7st

Ahjusshi.. hari ini libur, kan?!” tanya Yoona ceria. “Hmm, baiklah.sebenarnya hari ini aku harus kerja. Tapi nanti aku minta cuti” sahutnya. Yoona tersenyum. “Boleh ajak aku jalan-jalan?” tanya Yoona. “Kemana?” Om kembali bertanya. “Nanti, Om juga tahu! Kajja!”

PANTAI MATAHARI. “Ini tempat kenangan terakhirku bersama Donghae oppa..” seru Yoona sambil menunjuk papan kayu itu. Sepertinya Pantai Matahari sudah banyak berubah. Om itu hanya tersenyum. Yoona menarik Om untuk bermain pasir bersama. Yoona melihat ada seekor binatang merah bercangkang. Ia menangkap binatang itu dan mendekati Om. “Om, tidak takut kepiting, kan?” tanya Yoona. “Tidak…” jawabnya singkat. Yoona makin mendekati Om dan meletakkan Kepiting itu dekat tangan Om dan melepasnya. Om terlihat ketakutan dan berusaha pergi. Tetapi, ia sok menahan dan membiarkan kepiting itu bergeliat. “Om… kamu sama seperti Donghae oppa.. Kamu takut kepiting dan bisa membaca perasaanku dengan baik, pelukanmu juga sama hangat dengannya.. Kenapa Om bilang bahwa Om tidak takut kepiting? Padahal nyatanya Om takut… Atau Om itu…” Yoona menahan kata-katanya dan menarik nafas mengumpulkan keberaniannya. “-menyembunyikan sesuatu dariku?” sambungnya.

Om hanya diam. Ia menatap Yoona dengan tatapan bersalah. Yoona berjalan mendekati Om dan memegang tangan kanannya. “Donghae oppa… berapa umurku sekarang?” tanya Yoona dengan mata berkaca-kaca. Air matanya memaksa menyeruak keluar. Om yang berdiri didepan Yoona ini adalah Donghae yang sudah berumur 27 tahun, Yoona sendiri ternyata sudah berumur 26 tahun. Donghae memeluk Yoona lembut. “Aku percaya.. kamu memang nggak akan mengingkari janjimu. Aku tahu, kamu bukan tipe seperti itu..” Yoona menangis dalam dekapan Donghae. Sebenarnya, Yoona koma selama 10 tahun. Dan disampingnya Donghae selalu menjaganya.

“Kenapa kamu berbohong padaku?” tanya Yoona. Donghae hanya menggeleng. “Aku.. aku terpaksa.. appa memarahiku karena aku terus-terusan memantaumu setiap hari setelah pulang kerja. Dan aku tidak mau menikah sebelum kau…” jelas Donghae. “Gomawoyo, Hae oppa… Selama ini oppa bahkan selalu di sampingku dan aku nggak menyadarinya. Maafkan aku… Aku juga berprasangka buruk tentang oppa dan menyusahkan oppa” Yoona menghapus airmatanya. “Jangan dipikirkan.. appa juga sudah tiada karena sakit..”

“Jadi… cowok yang mirip oppa itu siapa?” tanya Yoona lagi. “Itu Dongha, adikku yang baru pulang dari Amerika.. Maaf, aku nggak pernah cerita padamu soal itu.. Aku juga baru tahu ternyata aku punya adik, dan ibuku juga ternyata masih ada…” jelas Donghae. “Donghae oppa, jangan berbohong lagi, ya.. apalagi membohongiku begitu..” pinta Yoona. “Ne.. Jeongmal Mianhamnida, chagiya…” Donghae kembali mengecup bibir Yoona dengan lembut

~*~

“Andwae, Yoona….” Pria itu terisak didepan dokter yang menyatakan bahwa wanita yang sangat ia sayangi itu hanya memiliki kemungkinan hidup 20%.

“Biarkan, dok. Saya akan bayar perawatannya berapapun!!”

“Tapi, Donghae-sshi, itu sama saja dengan membuang uangmu…”

“Apa maksudmu?! Kemungkinan 20%!! Yoona masih bisa hidup meskipun dengan kemungkinan 20% itu, dok! Kumohon terima dan rawat Yoona.. aku akan menyelesaikan administrasinya besok dan paling lambat minggu depan, dok.. aku mohon, jebal…” Donghae berusaha menahan air matanya yang susah dibendung, akhirnya tetap saja ia menangis.

“Tapi… Donghae sshi, kau saja masih lemah.. apa yang akan kau gunakan untuk membayar biaya perawatan Yoona?” tanya Dokter itu bingung.

“Aku punya banyak asset! Ayahku juga masih ada, dok!”

Setelah berpikir lumayan lama akhirnya Dokter itu menyetujui permintaan Donghae.

Donghae berjalan ke ruang Yoona, memegang jemari Yoona dengan lembut “Yoong ah, kau harus cepat sadar.. meskipun kemungkinan kau hidup 20%, bahkan 1% pun.. aku akan tetap mencintaimu.. aku akan berjuang agar kau bisa kembali menghirup oksigen tanpa masker ini… aku tahu, kamu gadis yang kuat kan, Yoong? Sumpit saja kamu patahkan.. geurae? Kamu harus berjuang demi kita…” Donghae mengecup puncak kepala Yoona dan mengelus rambutnya.

~*~

10 Tahun Kemudian…

“-kepiting..”

“Yoona ah..” gumam Donghae yang melihat Yoona mengerjap-ngerjap matanya dan segera membuka pintu.

~*~

13 Tahun Kemudian…

                “Appa, ajarkan Haeyeon tugas ini, eomma bilang dia tidak bisa..” rengek seorang gadis kecil berbaju kuning kepada ayahnya yang sibuk membenarkan posisi kacamatanya. “Mwo?! Eomma tidak bisa soal ini?” pekik pria hampir paruh baya itu. Anak kecil itu hanya mengangguk. “Ya! IM YOONA!! Mwohaesseoyo!!?” teriak pria itu melepas kacamata yang mengganggu hidungnya. “Yeobo, aku kan memang bodoh…” jawab Yoona sebal. “Tapi ini soal anak kelas 1 smp….. Aish, baiklah!” “Sini appa ajarkan..” tambahnya sambil mengelus rambut Haeyeon, anak pertamanya.

~*~

END

 

RCL yaah, visit blogku juga https://leehaeyeonff.wordpress.com/

Dan follow twitter ku kalau mau tahu lebih lanjut tentang aku @salice_lee

5 responses to “[FREELANCE] 12 Years Between Our Love

  1. hikz..hikz..hae nunggu yoona selama sepuluh tahun..padahal kemungkinan yoona sembuh cuma 20% tapi ternyata aa keajaiban dan yoona bener2 bangun lagi

    tadinya aku kira hae bener2 ninggalin yoong sendirian, apalagi dia baru ditinggalin sama ortunya..ternyata hae tetep ada disamping yoona dan tetep cinta ma dia.

    huwaaaaaa terharu sama pengorbanan n kesabaran hae nunggu yoona..
    pas baca epiloguenya ketawa juga..masa yoong ga bisa ngerjain soal anak SMP sih

    kyanya hae harus lebih sabar lagi nih hehehe

  2. Kyaaaaa!!!! -_- pabo… Kuerreeeeeennnnnnn!!!!!!!!!! Aihhh yoona pabo soal anak smp aja gk bisa -_-” kyk nya kalah ama seohyun deh *kok bawa” nama seohyun shi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s