[Korea Fan Fiction] Bad Cookies [part 5d] – SHINee

 

*credit poster by avyhehe @ lazywonderland*

into & prolog >> part 1 >> part 2 >> part 3 >> part 4 >> part 5a >> part 5b >> part 5c

Tittle :: Bad Cookies

Author :: Lee Hyona

Casts ::

♫ Lee Hyona

♫ Lee Taemin

♫ Onew

♫ Park Sungra

♫ Key

♫ Choi Minho

♫ Kim Jonghyun *di part ini, SHINee memakai nama asli dan Ocs memakai nama korea

Genre :: Romance, Continue, Friendship, Comedy (itu juga kalo emang lucu) , etc.

Disclaimer :: Ini FF adalah 50% hasil pemikiranku n 50% hasil pemikiran sahabat author, Intan. Dan trimakasih buat sahabat2 author yang sudah memberikan masukan😀

NB :: bagi yg membaca jgn TERSINGGUNG, ini hanya FF SEMATA

a/n :: part ini sebenarnya ada curcol dari author.. hehe😛

ow iya, mian.. sepertinya part ini flat bgt TT^TT

Kawasan Wajib Coment!!

        Silent Readers Dilarang Masuk!!

                NO BASHING, PLEASE!!

***************************

            “Kim Jonghyun.”

            Jonghyun menghentikan langkahnya. Mendadak pria ini sadar seutuhnya. Ia menunduk dan kebingungan. Alasan apa yang harus ia berikan?

            “Kim Jonghyun, aku benar kan?”

            Tidak ada gunanya menyamar lagi, pikir Jonghyun. Ia melepas kacamata dan mengangkat kepalanya tapi tetap pada posisinya. Beberapa detik kemudian, Jonghyun berbalik menatap kedua gadis yang masih diposisi mereka. “yeah, ini aku. Tapi, bagaimana kalian bisa tahu?”

            Sungra melihat jam tangannya. “ayo berangkat.”

            “pertanyaanmu akan kami jawab nanti. Kami berangkat sekolah dulu.” Hyona mengikuti Sungra yang sudah menunggu didepan pintu.

            “sarapannya sudah siap. Kalian tinggal makan saja. Dan satu lagi, jangan keluar dari villa ini.” Lanjut Sungra. Terdengar suara pintu terbuka, lalu tertutup.

***

Jonghyun POV

            Ketahuan? Sudah ketahuan? Lalu… apa yang harus kulakukan? Yang pasti, aku harus memberitahu yang lain. Tapi… kenapa ekspresi Hyona dan Sungra begitu datar? Katanya mereka SHAWOL. Tapi, SHAWOL macam apa itu? Jangan-jangan, mereka tidak normal? *PLAAK.

            Aku membuka pintu kamar. Mereka masih tertidur. “hei, semuanya, bangun!” tidak ada respon. Aku menyalakan lampu, lalu “bangun!” mereka hanya menggumam tidak jelas. “kita ketahuan.”

            Mata mereka terbuka, dan “MWO??!!”

            Aissh.. “apa telinga kalian bermasalah? Aku bilang, kita ketahuan.”

            “b..bagaimana bisa?” tanya Key.

            “mereka akan memberitahu setelah mereka pulang.” Aku mengalihkan pandangan ke Onew hyung dan Taemin. Sepertinya mereka sedang memikirkan sesuatu.

“atau mungkin, gara-gara kita terlalu menyolok?” tanya Minho. Aku hanya mengangkat bahu.

Aku menghela napas. “semoga mereka tidak membocorkan identitas kita.”

“andwae, Sungra tidak seperti itu.”

“andwae, Hyona tidak seperti itu.”

Onew hyung dan Taemin mengucapkan kalimat itu hampir bersamaan dengan nada dingin.

“tenanglah, aku hanya mengutarakan apa yang ada yang di pikiranku.”

Hening..

Onew hyung beranjak dari tempatnya, mengambil kacamata dan topi. Ia menuju pintu depan.

“kau mau kemana hyung?”

“menjemput mereka.”

“kenapa tidak nanti saja?”

“karena aku tidak tahu mereka selesai jam berapa.”

“tapi mereka tidak mengizinkan salah satu dari kita keluar dari sini.” Onew hyung hanya terdiam di dekat pintu.

“hyung, aku ikut.” Aku menoleh ke arah suara itu. Taemin mengambil topi dan kacamata hitam lalu menyusul Onew hyung yang entah sejak kapan sudah menghilang dari tempatnya.

Aku menyerah. Aku sarapan saja -.-

***

Sungra POV

            Syukurlah, sekarang pulang pagi. Tapi, biarpun begitu badanku tetap remuk. Kenapa orang-orang sombong itu memperlakukanku dan Hyona seperti ini? Kalau tidak mengerjakan PR mereka, pasti membelikan sesuatu untuk mereka, atau menggantikan piket mereka. Jika tidak, mereka akan menyiksa kami. Aku melihat gadis disebelahku. Hyona. Ia selalu ingin melawan 5 monster itu, tapi aku menahannya. Kenapa aku melakukannya? Yang pasti, aku tidak ingin sahabatku satu-satunya terluka.

            “Hyo..” panggilku. Dia hanya menggumam. “apa sudah tidak ada orang?”

            “sepertinya begitu.”

            “Eh, kemarin aku melihatmu smirk, kenapa?”

            “Hm, itu karena dugaanku benar. mereka SHINee” kata hyona sambil sedikit tersenyum

            “Oh begitu. Ya sudah, ayo pulang.” Ajakku lalu menarik tangan Hyona.

            Inilah kebiasaan kami. Pulang paling akhir saat tidak ada orang disekolah. Saat didekat gerbang, mataku menangkap sosok 2 namja yang tingginya tidak biasa untuk masyarakat sekitar sini. Dan aku melihat ada 5 yeoja disekelilingnya. Ralat.. bukan 5 yeoja, tapi 5 monster yang selalu membully kami. Dasar centil. Siapa 2 namja itu ya? Mereka melihat kearah kami. Omo..

            “Hyona!”

            “Sungra!” mereka melambaikan tangan kearah kami. Monster-monster disekeliling mereka menatap tajam kearah kami. Aku dan Hyona berlari menuju kerumunan orang itu. Tidak salah lagi, 2 namja itu Onew oppa dan Taemin oppa.

            “kenapa lama sekali?” aku melihat Taemin oppa menggandeng tangan Hyona.

            “ayo kita pulang.” Suara Onew oppa mengagetkanku. Ia mengalungkan tangannya ke leherku. Kami berempat berjalan meninggalkan gedung sekolah juga 5 monster centil yang terpaku ditempat dengan mulut menganga.

            “akhirnya, bebas juga dari mereka.” Kata Onew oppa. Aku tertawa mendengarnya. Ia melepaskan kalungan tangannya. Begitu juga dengan Taemin oppa yang melepaskan gandengannya. “mereka sangat mengganggu. Berbicara hal yang tidak penting. Intinya ‘anda orang korea ya?’ ‘wah, tinggi sekali’ ‘cute’ ‘ayo foto’ ‘mau jadi pacarku?’. Mereka sudah gila ya?” ujar Onew oppa diiringi berbagai gaya ‘centil’ yang ia tirukan dari 5 monster tadi.

            “kan ada yang memintamu menjadi pacarnya, lalu, apa jawabanmu?” goda ku.

            “yang benar saja. Aku saja tidak tahu mereka datang dari mana. Aku hanya diam dan senyum hambar saja.” Sepertinya ia ingin menunjukan ekspresi marahnya, tapi malah berubah menjadi sangtae😄

            Taemin oppa angkat bicara. “untung ada kalian. Mian, cara kami salah.”

            Hyona mendengus kesal. “sudah seharusnya meminta maaf. Kami kan masih SMP, mana boleh melakukan hal seperti tadi?”

Author POV

            “kalian masih SMP?” tanya Onew tak percaya. Hyona dan Sungra hanya mengangguk. “aku kira kalian selisih 1-2 tahun dengan Taemin.” Lanjutnya.

            “apa kami terlihat setua itu?” tanya Sungra.

            Taemin tidak terima. “apa aku terlihat tua?”

            Sungra menggeleng cepat. Sementara Taemin masih berpegang teguh pada pendiriannya. Hyona berusaha menghentikan pertarungan Taemin vs Sungra (?). tapi percuma. Volume suara mereka semakin lama semakin meninggi. Akhirnya Hyona menarik tangan Onew dan pergi dari tempat itu.

            “kalian mau kemana?!” seru Taemin dan Sungra bersamaan.

            “pergi kesuatu tempat. Aku tidak mau jadi pusat perhatian.” Jawab Hyona santai.

            Taemin dan Sungra baru menyadari orang-orang disekitar mereka sedang memperhatikan mereka dengan tatapan aneh. Dengan kepala tertunduk mereka berjalan menghampiri Onew dan Hyona untuk meminta dukungan. Saat berjalan, Sungra dan Taemin masih melanjutkan pertarungan mereka.

            “aigoo~ kalian seperti anak TK.” Sindir Hyona. Sungra dan Taemin akhirnya terdiam. Lalu bow sambil meminta maaf.

            Taemin menyamakan langkahnya dengan Hyona yang sudah mendahuluinya. Ia menepuk bahu Hyona. “kita mau ke mana?”

            Hyona sedikit tersentak. Bukan menatap mata orang yang mengajak bicara, ia malah tertunduk memperhatikan langkahnya. “nanti kau pasti tahu.” Tidak seperti biasanya, suaranya terdengar bergetar.

            Taemin menunduk dan melihat wajah Hyona. “kalau mau tertawa, tertawa saja. Wah~ wajahmu seperti udang rebus.”

            Hyona mengangkat kepala dan melihat taemin tertawa. “apa yang lucu?”

            Taemin mengacak-acak rambut Hyona. “black pearl from Bermuda ternyata bisa berekspresi seperti ini.”

            “black pearl? Yuri unnie?” Tanya Hyona bingung. Taemin menggeleng cepat.

“lalu? dan apa maksud dari Bermuda?”

            Taemin hanya mengangkat bahu dengan senyuman kecil. Ia sedikit menurunkan kacamatanya sehingga Hyona bisa melihat matanya. Taemin meletakkan jari telunjuknya didepan bibirnya. Member isyarat ‘rahasia’ ke Hyona dengan mengedipkan sebelah matanya.

            Hyona merasa wajahnya memanas. Ia memukul ringan bahu biasnya. Tiba-tiba ekspresinya berubah menjadi dingin. Ia menoleh ke seberang jalan dengan cepat. Sepi. Tidak ada orang disana. Hyona mengerutkan dahi. Ekspresinya kembali normal setelah Taemin memanggil namanya.

            “oh iya, sekarang kita kemana?” Tanya Onew tiba-tiba. Hening. “jadi belum direncanakan? -.-“

            “kesana saja.” Jawab Sungra sambil menunjuk sebuah bangunan. Di pintu masuknya terdapat tulisan ‘Dream Invitation’.

            Onew dan Taemin mendadak lemas. Kenapa harus kesana lagi? Pikir mereka.

            “kita uji keberuntungan. Kalian berani?” tantang Sungra. 3 orang lain hanya mengangguk pasrah.

***

@Dream Invitation.

            Setelah menemukan tempat yang cocok, mereka memesan 4 minuman dan 4 Bad Cookies. Sebelum pesanan mereka datang, mereka ber-suit untuk menentukan urutan pengambilan cookies. Dan diperoleh hasil:

1.      Onew

2.      Taemin

3.      Sungra

4.      Hyona

“kenapa aku selalu terakhir?” Hyona meratapi nasib. Tepat pada saat itu, datang pelayan. Ia meletakkan 4 gelas berbeda bentuk dan isi, juga piring yang berisi 4 keping cookies yang sekilas terlihat sama saja.

Semua memegang cookies masing-masing. Keraguan terus menghantui mereka. Apa pilihan mereka tepat? Atau meleset dan jauh dari yang diharapkan? Setelah mempersiapkan mental, Onew member komando untuk memakan cookies masing-masing dan melarang peserta lomba minum sebelum cookies mereka masuk ke kerongkongan.

4 orang ini asik mengunyah dan merasakan cookies yang masuk ke mulut mereka. Tiba-tiba mereka tertunduk. Aura aneh menyelimuti mereka.

      Taemin tiba-tiba saja tertawa lepas. “kekeke, aku bebas. Aku dapat rasa jeruk.”

      Berbeda dengan Taemin, Hyona justru menutup mulutnya dengan tangan kiri dan berusaha meraih cappuccino floatnya. Tapi Taemin menarik gelas Hyona.

      “habiskan yang ada di mulutmu dulu.” Ujar Taemin

      Hyona menutup mulut dengan kedua tangannya. Beberapa detik kemudian, Hyona melepas tangannya dan menyambar cappuccino floatnya. Ia meminumnya sampai benar-benar bersih tak bersisa. “huft, mulutku seperti terbakar. Aku permisi sebentar.” Hyona berdiri dari tempatnya dan berjalan menuju toilet.

      Onew mengangkat kepalanya. Taemin melihat wajah hyungnya. Ekspresi Onew benar-bena datar.

      “apa yang kau dapat hyung?” Tanya Taemin.

      “tidak ada rasanya -__-”

      “aku dapat yang manis.” Onew dan Taemin mengalihkan perhatian ke sumber suara. Sungra mengangkat kepalanya. “aku tidak suka yang terlalu manis.” Ekspresinya terlihat campur aduk.

      “itu berarti, aku yang beruntung hari ini. Kekekeke~.” Taemin mengeluarkan evil laughnya.

      “kecilkan suaramu.” Hyona berhasil membuat jantung Taemin hampir copot. Bagaimana tidak? Tiba-tiba dia sudah berdiri disebelah Taemin. “langsung saja. Apa pertanyaan kalian?” Tanya Hyona.

      “bagaimana kalian tahu identitas kami?” Tanya Onew.

“pertama, aku tahu dari postur tubuh kalian.”

“kedua, aku tahu dari suara kalian.”

“ketiga, cara menari Taemin oppa.”

“keempat, kebiasaan tidur Onew oppa dan Minho oppa.”

“kelima, aku melihat wajah Taemppa sangat jelas di rumah sakit.”

“keenam, Onew oppa mengakuinya sendiri. Awalnya aku kira mimpi, ternyata itu nyata.”

“ketujuh, saat Key oppa menggendongku, mataku sempat terbuka dan melihat wajah Key oppa.”

“kedelapan, kami melihat wajah kalian berlima tanpa penyamaran.” Hyona dan Sungra berbicara bergantian.

“ada pertanyaan lagi?” Tanya Hyona.

Onew dan Taemin hanya bisa memperlihatkan ekspresi ‘shock berat’ mereka. Mungkin gara-gara petunjuk yang didapat Hyona dan Sungra sudah sebanyak itu.

“kalau begitu, aku anggap tidak ada.” Hyona mulai membereskan barang dan member kode bersiap pergi.

“tunggu.” Kata-kata Onew membuat Hyona dan Sungra menghentikan aktivitas mereka. “5 orang yang kami temui di gerbang sekolah kalian, mereka sebenarnya siapa? Aku memang tidak seberapa bisa membaca karakter orang. Tapi sepertinya, mereka dan kalian, ehm.. saling tidak menyukai.”

Hyona dan Sungra terpaku sesaat. Sebenarnya mereka tidak suka jika ada yang bertanya tentang 5 monster itu dan apa hubungannya dengan mereka.

“kalau kalian keberatan, tidak usah dijawab juga tidak apa-apa.” Sela Onew. Ia member ke Taemin untuk pergi dari tempat itu.

“mereka…” hyona membuka suara. Onew dan Taemin kembali duduk tenang. “argh, kau saja yang cerita.” Lanjut Hyona.

Semua pandangan beralih ke Sungra. Sungra berpikir sesaat lalu membuka mulut. “mereka yang selalu membully kami .__.”

“jadi, kalian korban bully?” Tanya Taemin tak percaya. Hyona dan Sungra hanya tertunduk.

Hyona tiba-tiba berdiri. “tapi kalian tidak perlu khawatir, kami bisa menanganinya. Ayo pergi.” Ia keluar dari café dan Taemin menyusul dibelakangnya.

Sungra baru berdiri dari tempatnya dan segera pergi. Tapi Onew menahan tangan Sungra. “biarkan aku menepati janjiku.” Sungra terlihat bingung. “aku akan menjagamu dengan lebih baik.”

***

@villa

            Key, Jonghyun, dan Minho sedang makan cemilan dan menonton tv (walaupun mereka tidak tahu apa yang dibicarakan benda elektronik persegi panjang itu). Key yang sedang memegang remote hanya menekan tombol berkali-kali tanpa tujuan.

            “apa idak ada acara ber-subtitle korea?” protes jonghyun.

            “key membanting remote ke sofa. “aku sudah berusaha mencari hyung, tapi sepertinya tidak ada.” Jawabnya.

            “hei, apa itu berita tentang kita?” Tanya Minho seraya menunjuk kata ‘SHINee’ yang tertera di layar tv. “tapi, apa maksud berita ini?”

            Saat itu juga, pintu depan terbuka. Terdengar suara orang berbincang-bincang. Ternyata mereka Onew, Taemin, Sungra, dan Hyona. Minho pun langsung memanggil mereka berempat dan meminta Hyona dan Sungra untuk menerjemahkan berita di tv. Bukan menerjemahkan, hyona dan Sungra justru terpaku di tempat dengan ekspresi terkejut.

            ‘SHINee menghilang, konser terancam batal’

            ‘SHINee diculuk fans mereka sendiri?’

            ‘kepolisian terus menginvestigasi kasus menghilangnya SHINee’

            ‘foto orang yang diduga dalang menghilangnya SHINee tersebar di internet’

            ‘pihak SM entertainment menuntut pertanggung jawaban dari promotor Indonesia’

Hyona menyalakan laptopnya yang tergeletak di meja. Setelah laptop itu menyala, keyboard dan jar Hyona beradu. “firasatku benar. Oh dear..”

Sungra ingin tahu apa yang dilakukan Hyona disaat seperti ini. Ia melihat ke layar laptop Hyona. Sungra tercengang bukan main. Disana ada artikel berjudul ‘SHINee with unknown girls’ yang memuat fotonya da Hyona bersama Onew dan Taemin. Entah bagaimana, penulis artikel itu sudah tahu jika 2 namja itu adalah Onew dan Taemin. Foto pertama, saat mereka berempat berjalan menjauh dari gerbang sekolah. Lalu foto Hyona dan Taemin berkomunikasi di jalan. Kemudian foto mereka berempat disebuah café. Terakhir, foto Onew yang sedang memegang tangan Sungra.

Artikel itu ditulis dalam bahasa inggris. Jadi member SHINee bisa mengerti apa maksud artikel itu. Hyona mengarahkan scroll ke bawah. Kejadian itu baru terjadi tadi, tapi sudah benyak yang berkomentar.

‘who are they?’

‘are they the reason SHINee disappear?’

‘don’t disturb my Onew!’

‘I’ll kill you if you not get away from my Taemin!’

‘Onew dan Taemin have girlfriend?’

‘go away from my Onew, or your live never calm, FOOL!’

Drrt~ Drrt~ sesuatu bergetar di saku Sungra. Ada pesan baru.

From: umma ^^

Kalian sudah lihat berita di tv tentang menghilangnya SHINee? Apa gadis di foto itu kalian?

Delivered to umma ^^

Umma sudah lihat?

From: umma ^^

Cepat katakan, itu kalian atau bukan?

Sungra sedikit bimbang. Ia memberitahukan pertanyaan ummanya ke Hyona. Hyona hanya menggeleng lemah. “not now. Ini bukan waktu yang tepat.”

Delivered to umma ^^

Aniyo, itu bukan kami umma.

***

Onew POV

            Sudah 3 jam mereka mengurung diri ditempat yang berbeda. Sungra di ruang rahasianya, Hyona di ruangan lantai 2. Apa mereka tidak lapar? Sekarang kan jam makan siang. Kalau mereka sakit bagaimana? Baiklah, aku yang turun tangan.

            Aku membawa makanan yang dibuatkan Key menuju ruangan rahasia Sungra. “Sungra, ini aku.”

            Hening..

            “aku membawakanmu makanan, ayo buka pintunya.”

            Hening..

            Aigoo~ ada apa dengannya? “baiklah, kalau begitu makanannya aku letakkan didepan pintu.”

            “pintunya tidak dikunci.” Sungra tiba-tiba menjawab. “aku bilang pintunya tidak dikunci.”

            Apa maksudnya? Apa aku dipersilahkan masuk? Aku anggap iya. Ketika membuka pintu, aku disambut oleh lukisan-lukisan yang tertata rapi di dinding dan meja. Mataku berkeliling sesaat. Lukisan-lukisan ini sepertinya dilukis oleh pelukis professional. Kalau diperhatikan, semua memiliki tanda yang sama. ‘intan’. Ha?

            “letakan saja makanannnya di meja itu.” Aku menoleh ke sumber suara. Sungra sedang duduk didepan kanvas dengan wajah dan celemek penuh noda cat mnyak.

            “oh, ne.” aku meletakkan nampan berisi makanan diatas meja yang kosong. “semua ini, kau yang melukisnya” sungra mengangguk. “wow.. apa kau pernah mengadakan pameran?” aku melihat Sungra cekikikan (?). Ia bangkit dan berjalan mengelilingi dinding yang penuh dengan lukisannya.

            “pameran ya” ia menyentuh setiap permukaan lukisan yang dilaluinya dengan ujung jarinya. Ia berhenti ketika sampai didepan tumpukan lukisan diatas meja. Ia mengangkat lukisan yang berada di tumpukan teratas. “sebenarnya aku ingin mengadakan pameran atau semacamnya, tapi..”

            Entah kenapa ketika Sungra bicara, konsentrasiku justru tertuju pada suatu kanvas yang ditutupi dengan kain putih. Lukisan apa itu?

            “tapi, apa gunanya bakat seperti ini, jika orangtuaku TIDAK MENYUKAINYA?!!” ‘BRAAK’ suara itu membuatku kembali memusatkan perhatian ke Sungra. Ia membanting dan mengacak-acak. Lukisan yang ada di meja itu. O-ow, ini tidak bagus.

            Aku mencoba meraih tangannya yang gatal memporak-porandakan barang-barang di ruangan itu. Setelah tangannya berhasil ku raih, ia tetap meronta. Tidak ada pilihan lain, aku menarik tangannya dan menangkapnya dalam pelukanku. Ia menjadi tenang dan diam. Tiba-tiba saja bajuku terasa basah. Aku bisa merasakan tubuh Sungra bergetar. Ia sepertinya menangis. Aku mengelus puncak kepala Sungra dengan tangan kananku sementara tangan kiriku masih mendekapnya. “sudah, jangan menangis lagi. Kalau kau ada masalah, ceritakan saja ke Jinki oppa. Aku akan mendengarkan”

            Ia melepaskan pelukanku. Aku bisa melihat matanya yang berkaca-kaca. “sungguh?”

            Aku tersenyum. Sungra yang dulu belum berubah. “tentu. Tapi sebelum itu,” aku menarik kursi. “duduklah, mungkin kau bisa tenang.” Ia menuruti ucapanku. Lalu aku menarik satu kursi  lagi untuk ku duduki.

            Sungra mulai menceritakan masalahnya. Singkatnya, semua orang beranggapan bahwa melukis adalah bakat Sungra. Tetapi orangtuanya tidak terlalu menyukai atau kurang setuju jika Sungra melukis. Bisa dibilang Sungra menyimpulkan sendiri ketika melihat reaksi orangtuanya yang melihatnya melukis.

            “mungkin mereka punya alasan tersendiri. Saat aku bertemu mereka, aku rasa mereka orang yang baik.” Aku mencoba menghiburnya.

            Sungra menanggapi kata-kata –yang ku anggap hiburan- dengan serentetan kata-kata yang tidak bisa kupahami karena ia mengoceh dengan bahasanya sendiri. Semakin lama, nada bicara Sungra makin meninggi.

            Aku menggenggam tanganya perlahan. “tenanglah.”

            “mian, aku terbawa emosi.” Ia tertunduk.

            Aku berpikir sejenak. “cuci muka, lalu tidur. Mungkin bisa membuatmu tenang.” Ia hanya mengangguk.

            Kami keluar dari ruangan itu. Sungra menuju se kamar mandi dan aku menunggunya di ruang makan. Beberapa menit kemudian, Sungra keluar dan berjalan menuju kamarnya. Aku mengikutinya dari belakang saat didepan pintu kamar, Sungra tiba-tiba berbalik ke arahku.

            “kenapa kau mengikuiku?”

            “a.. aku hanya ingin memastikan kau tidur. Jika kau keberatan, aku idak akan mengikutimu lagi.” Jawaban spontan yang cukup bagus. Sebenarnya, aku sendiri tidak tahu kenapa aku mengikutinya.

            “tidak, aku tidak keberatan. Kau namja baik-baik da tidak mungkin melakukan hal yang aneh-aneh.” Ia memutar knop pintu kamar. Pintu terbuka. “dan aku tahu, kau pasti akan menjagaku.” Ucapnya sebelum masuk dan menutup kembali pintu kamarnya.

            Ne Sungra. Aku akan menjagamu.

***

            Aku kembali lagi ke ruangan Sungra untuk mengambil makanan yang masih tergeletak di meja. Saat aku sudah mengangkat nampan itu, mataku tertuju pada kanvas misterius yang ku lihat sebelumnya. Aku sangat penasaran dibuatnya. Akhirnya, aku meletakkan kembali nampan yang ku bawa dan berjalan menuju kanvas yang tertutupi kain putih. Ketika sudah didepannya, aku menarik kain putih pembungkus itu perlahan. Yang menjadi objek dari lukisan ini adalah, aku? Iya ini aku. Hanya saja Sungra menambahkan sayap dipunggungku. Disalah satu sudut kanvas ada versi foto dari lukisan ini. Aku membalik kertas foto itu. Ternyata ada catatan yang ditulis dengan hangul.

            ‘jangan takut untuk terbang dariku’

            ‘lebih baik kau mencari seseorang yang sanggup terbang bersamamu, Jinki oppa.’

-Park Sungra-

            Sungra, apa maksudmu?

***

Taemin POV

            Kenapa dia belum keluar juga? Sudah lebih dari 3 jam ia didalam. Dari sini –didepan pintu ruangan Hyona- aku bisa mendengar suara music yang bertempo cukup beat bervolume keras dan hentakan kaki di lantai. Sepertinya dia sedang latihan. Tapi, 3 jam nonstop?

            “masuklah.”

            Aku menoleh ke sumber suara itu. “Key hyung?”

            Ia hanya tersenyum. “masuklah, aku tahu kau mengkhawatirkannya.”

            Aku terdiam.

            “kau menyukainya kan?” Tanya Key hyung tiba-tiba.

            Aku menatap Key hyung. “hyung…”

            “sudah bertahun-tahun aku jadi hyungmu. Aku sudah hafal sikap dan tingkah lakumu. Jadi, ceritakanlah..”

            Aku dan Key hung duduk di sofa ruang santai lantai 2. Key yung menatapku dengan tatapan ingin tahunya. “err, entahlah hyung. Aku tidak yakin dengan perasaanku.”

            Key hyung mengerutkan kening. “tidak yakin bagaimana? Sudah jelas-jelas kau menyukainya.”

            “hyung, aku mengenalnya tidak sampai satu minggu. Lagi pula, kenapa kau begitu yakin?”

            “karena aku tahu kau menyukainya.” Aigoo, hyungku yang satu ini benar-benar tidak mau kalah. Atau keras kepala? Kepalanya memang keras -.- “ayo, mengaku saja.” Key hyung, kau… “ah iya, aku kemarin melihatmu sedang berdua saja dengan Hyona pagi-pagi buta. Itu bukan mimpi kan?”

            k.. kenapa Key hyung bisa tahu? Seingatku, semua orang tertidur saat itu. Dan kenapa aku jadi gugup? Aku kan tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Key hyung juga, kenapa menatapku seakan-akan aku ini penjahat. “ne, hyung benar.”

            “tuh kan, sudah ku duga kau menyukainya.”

            “mwo? Bukan! Maksudku, aku meng-iya-kan kalimatmu yang melihatku dan Hyona pagi-pagi buta. Tapi aku tidak macam-macam dengannya.”

            Key hyung menatap langit-langit ruangan. “tidak macam-macam apanya. Aku melihat kau memeluknya.” Ujarnya dengan nada tanpa dosa.

            “ha? Aku tidak memeluknya! Aku berusaha menyelamatkannya yang terancam terjun bebas dari lantai tiga.”

            “dengan cara memeluknya.”

            “terserah kau saja hyung. Tapi, kenapa kau bisa tau? Setahuku semuanya sedang tidur saat itu.”

            “kau tidak ingat ada suara benturan?” aku mengingat-ingat sebentar. Ah, suara itu. Aku mengangguk. “itu aku, aku terjatuh karena tersandung meja saat berjalan. Kau tahu sendiri, saat itu ruangannya gelap.” aku menanggapinya dengan ber-oh-ria. “kembali ke permasalahan awal. Kau menyukainya kan?” aigoo~

            “hyung ku yang paling fashionista, cool, sekaligus cute (tapi masih lebih cute-an wajahku), sudah kubilang, aku baru mengenalnya 3 hari. Apa mungkin?”

            “tidak ada yang tidak mungkin. Love in the first sight. Mungkin itu yang kau alami.” Key hyung menepuk pundakku. “tegur dia, jangan sampai ia menyiksa diri. Sudah hampir 4 jam dia menari terus. Hm..?” ia menepuk pundakku lalu pergi kebawah.

            Love in the first sight. Cinta pada pandangan pertama? Apa mungkin? Tapi kalau dipikir-pikir, kata-kata Key hyung ada benarnya juga. Setiap kali aku melihat Hyona, ada gejolak aneh yang kurasakan. Jantungku berdebar cepat. Napasku tercekat ditenggorokan ketika melihatnnya. Sepertinya, ia juga menyukaiku. Seulas senyum tercipta dibibirku. Tapi, apa rasa sukanya sama sepertiku? Apa rasa sukanya, rasa suka yeoja ke namja? Atau.. hanya fans ke idolanya?

            ‘BRAAK’ suara itu berasal dari ruangan Hyona yang secara langsung membuyarkan lamunanku. Aku berlari menuju ruangan Hyona dan membuka pintu dengan paksa. Aku melihat Hyona berusaha berusaha berdiri bertumpu pada meja yang penuh dengan barang-barang. Barang-barang itupun jatuh bebas ke lantai terkena geseran (?) tangan Hyona. Ia terus memaksakan diri untuk menari. Aku tidak suka pemandangan ini.

            Aku meraih tangannya. Ia sedikit terkejut. “hentikan.”

            “oppa…”

            “aku bilang hentikan. Kau bisa menyiksa dirimu sendiri.” Ia justru menepis tanganku. Berdiri dengan kepala tertunduk. Apa aku salah bicara? Apa kata-kataku menyakitinya? Tidak. Fisiknya lemah, ia bisa jatuh sakit. Perlahan aku menyentuh bahunya. “Hyo?”

            Ia menoleh ke arahku. Sulit dipercaya. Dugaanku salah telak. Bukan menatapku dengan mata berkaca-kaca atau semacamnya. Ia justru menatapku dengan tatapan yang cukup… mematikan. “justru itu… yang mau ku lakukan.” Deg. Tatapan dan kata-katanya sukses membuatku membatu dan bergidik ngeri.

            Tatapan itu… apa itu tatapan yeoja ke namja yang disukai? Atau fans ke idolanya? Kurasa tidak. Apa dari dulu Hyona dingin seperti ini? Jangan-jangan dia antis? Itu semakin tidak mungkin. Tiba-tiba aku teringat kata-kata Sungra saat Hyona juga bersikap seperti ini. Pasti ada penyebabnya. Pasti. “Hyo, aku mohon. Jangan seperti ini. Aku tahu, kau pasti marah karena namamu terseret ke kasus kami. Tapi percayalah, kau dan Sungra akan aman. Aku jamin. Kenyataannya kan kami yang merepotkan kalian, bukan kalian yang menculik kami.”

            “tidak, bukan itu.” Hyona kembali tertunduk.

            “lalu?”

            Hyona duduk memeluk kakinya dan memendam kepalanya dikedua lututnya. “kesalahanku adalah… menjadi seorang SHINee World.” Setelah mendengar Hyona berkata seperti itu, aku merasa seperti disambar petir siang hari. “karena menjadi SHAWOL, aku tertarik untuk masuk ke dunia entertainment, karena menjadi SHAWOL, aku tertarik belajar menari, karena menjadi SHAWOL, aku.. aku dibenci orangtuaku.” Lanjutnya.

            “k..kenapa bisa begitu?” tanyaku. Suaraku sedikit bergetar.

            Hyona mengarahkan pandangannya ke arahku. Matanya berkaca-kaca. “orang tuaku tidak suka aku menari. Dulu, sebelum pindah ke sini, aku dipaksa berjanji tidak akan menari lagi. Aku mendapat pesan singkat kemarin malam, mereka tahu aku menari lagi. Dan memaksaku kembali ke Jakarta jika aku ketahuan menari lagi. Jawabnya diiringi jatuhnya airmata dari matanya. “kenapa mereka begitu… jahat? Aku selalu menurut dan melakukan apapun yang mereka perintahkan. Tapi kenapa melarangku melakukan hal yang kusukai? Apa mereka tidak mau aku bahagia?” tangis Hyona pecah saat ini juga. Melihat Hyona seperti ini, hatiku terasa… sakit.

            Aku yang sedari tadi berdiri, sekarang duduk disampingnya. Tanganku mengarah ke bagian belakang kepalanya dan punggungnya lalu menarik lembut Hyona ke pelukanku. “biarkan begini. Sebentar saja. Mungkin yang kau butuhkan sebuah pelukan.” tanganku mengelus rambut coklat mudanya. “sekarang tenanglah..” tidak ada perlawanan. Aku harap dia tidak mendengar detak jantungku yang tak beraturan.

            “kenapa orangtuaku begitu? Kenapa mereka melarangku menari? Apa karena fisikku yang lemah?”

            “mereka tahu apa yang terbaik untukmu Hyo,” kenapa aku berkata seperti itu? “err, lupakan kata-kataku tadi.” Hening sesaat. Apa aku salah bicara lagi? “menjadi SHAWOL tidak sepenuhnya salah. Coba pikir sisi positifnya.”

            “seperti apa?” Tanyanya tiba-tiba.

            Aku berpikir sejenak. “kau bisa… belajar bahasa korea, menambah ilmu tentang Negara Korea Selatan…” aissh, kenapa jawabanku begini?

            Tubuh Hyona bergetar. dia… tertawa? “kkk~ jawabanmu lucu.” Ia melepas pelukanku. “kau lupa satu hal.” Aku menatapnya dengan tatapan bingung. “karena aku menjadi SHAWOL, aku bisa mengenalmu.” Ia tersenyum lembut. Deg..Deg..Deg.. jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Semoga wajahku tidak memerah. Senyum Hyona tiba-tiba lenyap dan tiba-tiba saja kepalanya jatuh ke pangkuanku. Ia… tertidur? Mungkin ia terlalu lelah. Rasanya tawaku ingin meledak melihat Hyona begini.

            Key hyung, mungkin kau benar. Lee Hyona.. saranghae..’

-TBC-

FF G-A-G-A-L *faint

.

.

.

*bangun lagi

Mian ya Hyona telat updatenya.. soalnya minggu2 kemarin focus buat daftar ke SMA..

Do’akan Hyona masuk SMA yg Hyona pilih ya~

Gomawo m(_ _)m

.

.

*ngelanjutin pingsan (?)

2 responses to “[Korea Fan Fiction] Bad Cookies [part 5d] – SHINee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s