[Korea Fan Fiction] SHINee VS STARLIGHT (chapt. 1) – SHINee & EXO

 

Credit Poster: http://sylvenclawimagination.wordpress.com/

*author pake 2 poster. utk awal-pertengahan pake posternya Fai 성 Minra*

.

 teaser

.

Tittle :: SHINee VS STARLIGHT

Author :: Lee Hyona

Casts :: – SHINee member :  Lee Jinki, Kim Jonghyun, Kim Kibum, Choi Minho, Lee Taemin

–          STARLIGHT member : Park Sungra, Park Hyeona, Han Hajoon, Kim Yoonhee, Jung Minhye

–          Teacher assistant : Cho Soorin (Cathrine), Lee Youngji (Haera), Choi Yoonji (Minharu) , Lee Hyona *numpang eksis, tapi ga banyak2 kok.

–          All EXO member

Other Casts :: Cari sendiri..

Genre :: fantasy, Friendship, Action, mysteri, family, bit romance n sangat sedikit comedy (?)

Rating :: G

Disclaimer :: Ini FF adalah 100% hasil pemikiranku. Bila ada kesamaan ide, itu wajar. Namanya juga manusia (?)

Summary :: sekolah penyihir? Apa itu nyata?

Warning :: EYD seenak jidat author, bahasa berantakan, OOC, thypo(s)

Kawasan Wajib Coment!!

Silent Readers Dilarang Masuk!!

NO BASHING, PLEASE!!

***************************

Surabaya, Indonesia

Seorang yeoja yang usianya sekitar 15 tahun sedang membuat sesuatu di dapurnya. Tak tak tak, sreng, hanya suara-suara itu saja yang terdengar dari sana.

“Sungra, masakannya sudah siap belum? Pesawat kita take off ke Seoul 1 jam lagi.”

Yeoja 15 tahun itu menyahut, “Sebentar lagi Umma!”

Sungra. Nama yang cukup aneh untuk seseorang yang tinggal di Indonesia. Tapi beginilah adanya. Park Sungra atau Sungra keturunan Korea-Indonesia. Ayahnya dari Busan dan ibunya dari Surabaya. Bagaimana orangtuanya bertemu? Entahlah.

Saat ini Sungra bereksperimen dengan makanan. Setelah semua siap, ia menambahkan hiasan dipiringnya. Ia mengambil tomat dan pisau. Semula, acara memotong tomatnya berjalan lancar, tapi…

Aw..” Sungra memegangi jarinya yang terus mengeluarkan cairan kental berwarna merah. Ia mengambil sapu tangan di kantong celananya dan membersihkan darah yang terus mengalir.

Setelah merasa jarinya cukup bersih, ia membuka sapu tangan yang terdapat bercak darah miliknya. Ekspresinya berubah menjadi terkejut. Seluruh tubuhnya gemetar. “A..apa ini?”

***

California, USA

“Choco, cepat bawa piringnya!” ujar seseorang dengan nada memerintah.

Yeoja yang bernama Choco mengambil tumpukan piring menuju orang yang memerintahnya, “Hey, Erica. Kau bukan bos ku. Kenapa kau selalu memerintahku?”

“Aku hanya bercanda, jangan dianggap serius.”

“Ya ya ya,” Choco memberikan tumpukan piring ke Erica lalu pergi ke dapur cafe.

“Eh, sekalian bawa cangkir itu ke tempat cuci,” Choco hanya bisa menurut dan mendengus kesal.

Sebenarnya, Choco bukan nama asli. Itu hanya sebuah nickname atau panggilan. Nama asli yeoja itu adalah Park Hyeona. Kedua orangtuanya berasal dari Seoul. Ia dilahirkan di California. Saat usianya 2 tahun, keluarganya kembali ke Seoul. 3 tahun kemudian Hyeona sekeluarga kembali lagi ke California karena ada urusan bisnis. Dan mereka memutuskan kembali ke Seoul setelah pendidikan Hyeona selesai.

Drrt… drrt…

            Ponsel Hyeona bergetar. Dilayarnya tertera ‘1 message received’. Ia membuka pesan itu dengan tangan kanan sementara tangan kirinya membawa cangkir.

From : umma

Hyeona, cepat siap-siap, kita akan kembali ke Seoul jam 10 pagi

            WHAT? Sekarang jam 8! Kenapa mendadak?!” Tanpa sadar Hyeona melepaskan pegangannya dari cangkir yang dibawanya. PYAR. Cangkir itu pecah berkeping-keping. Pecahannya berserakan kemana-mana. Bahkan ada yang mengenai kaki Hyeona sampai mengeluarkan darah.

Ah, sial,” rutuknya. Hyeona mengumpulkan semua pecahan cangkir yang berserakan lalu membuangnya. Darah menetes beriringan dengan langkah kakinya. “Huft, tugas tambahan,” ia membersihkan lukanya terlebih dahulu lalu kembali ke TKP sambil membawa alat pel. Ketika Hyeona hendak membersihkan tetesan darahnya, ia menjatuhkan alat pel yang dibawanya, “Apa yang sudah terjadi?”

***

Tokyo, Japan

“KYAAAA!!!!” teriakan yeoja berasal dari suatu apartemen berhasil membuat tetangganya hampir terkena serangan jantung. “Kenapa tasku begini?” yeoja itu tak henti-hentinya meratapi ROBEKAN KECIL di tas selempang putihnya.  “Padahal aku mau ke Seoul dengan tas ini,” ia tertunduk sesaat lalu matanya mengamati setiap sudut apartemennya. “Ah iya.”

Hajoon -nama sang yeoja- berlari menuju laci disebelah kasurnya dan membuka laci itu. Ia mengambil jarum, gunting, dan benang. “Aku harap tidak memperburuk keadaan.”

Ia mulai memasukkan benang ke lubang jarum. Setelah berhasil masuk, Hajoon mulai menjahit. Keadaan saat ini sangat hening. Hanya terdengar suara jarum jam berdetik di apartemennya.

Saat Hajoon mulai menusukkan jarum ke robekan tasnya. Tiba-tiba ponsel yang tergeletak diatas kasur berdering dengan volume keras. Hajoon terkejut dan tidak berkonsentrasi pada jarum jahit super tajam yang dikendalikannya. Sampai akhirnya, jari Hajoon meneteskan darah segar.

“Argh! Siapa yang menelpon disaat seperti ini?!” erang yeoja bermarga Han ini. Ia menyambar ponselnya dan menjawab panggilan masuk. “Moshi-moshi.

“Cepat, appa dan umma sudah di tempat parkir apartemenmu.” Pembicaraan ditutup.

Hajoon terpaku di tempat, “M..mwo?” ia menggeleng-gelengkan kepala dan kembali sadar. Hajoon menjahit tasnya dengan asal-asalan lalu memasukkan semua barang-barang di atas tempat tidur ke tasnya. Ia tidak menyadari darahnya menetes ke sembarang arah termasuk ke tasnya.

Yeoja childish ini berlari secepat mungkin menuju tempat parkir apartemennya. Ia melihat pria berjas sedang berdiri di dekat mobil hitam. Hajoon menghampiri pria itu, “Appa…

Pria itu menoleh ke Hajoon, “Ya! Han Hajoon! Apa kau tidak bisa membuat kami tidak menunggu?” ujar pria tersebut yang tak lain adalah appa Hajoon. “Tasmu kenapa bisa kotor begitu?” lanjut Mr. Han.

Hm? Kotor?” Hajoon melihat kearah tasnya dengan agak bingung.

“Sudahlah, cepat masuk ke mobil. Nanti kita bisa terlambat,” tambah Mr. Han sebelum masuk mobil.

Hajoon masih terpaku di tempatnya, “Witch school?”

***

London, UK

Seorang yeoja  berkacamata gelap, berambut cokelat, lurus, dan panjang sedang duduk di salah satu kursi panjang di bandara. Tak lama, ada wanita usia antara 30-40 tahun menghampiri si yeoja.

Wanita tadi memberikan lembaran kertas, “Ini tiketmu, Yoonhee.”

Kim Yoonhee atau Yoonhee hanya memegang tanpa menarik tiket itu dari tangan ummanya, “Umma, kalau tiket ini hilang, jangan salahkan aku.”

Mrs. Kim mendengus kesal dan menarik kembali tiket yang ia berikan sekali tarikkan (?). Yoonhee melihat telapak tangannya dari balik kacamata gelap yang ia kenakan. “Kau kenapa?” tanya umma Yoonhee. Yoonhee hanya menggeleng. “Aigoo~ jarimu berdarah!”

“Ini hanya luka kecil, tidak usah dibesar-besarkan.”

“Cepat bersihkan.” Mrs. Kim menyodorkan selembar tissue. Yoonhee menerima tissue itu dan membersihkan jarinya. Karena sejauh mata memandang ia tidak menemukan tempat sampah, Yoonhee terpaksa menggenggam tissue itu kemana-mana.

@plane

“Permisi, apa ada sampah, miss?” Yoonhee menoleh ke sumber suara. Ada pramugari sedang membawa kantong plastik cukup besar dan tersenyum ke arahnya.

Yoonhee menatap tangan kirinya tadinya menggenggam tissue bercakkan darahnya. Tapi, tissue itu menghilang dari genggamannya. “Tidak ada,” responnya singkat. Pramugari tadi pun pergi. Yoonhee melihat ke arah kakinya. Selembar tissue dalam posisi terbuka tergeletak didekat sepatunya.

Ia mengambil benda tipis itu. Sebuah senyuman misterius menghiasi bibirnya, “Cukup menarik.”

***

Incheon, South Korea

Tes… tes… tes…

Air tetes demi tetes terjun bebas ke daratan. Semakin lama, tetesan air itu makin banyak dan terjadilah hujan yang cukup deras. Sesosok yeoja yang tadinya termenung kini terlihat sumringah. Cepat-cepat ia berlari ke pintu pembatas antara ruang makan dengan halaman belakang rumahnya.

“Jung Minhye, jangan coba-coba keluar rumah dan hujan-hujan, umma tidak mau mengurusmu jika kau sakit,” suara mengintrupsi membuat Minhye –yeoja tadi– terdiam.

Minhye mem-pout-kan bibirnya kesal, “Umma tega.”

Terlihat wanita usia 40-an melintas di depan Minhye, “Biar saja. Oh iya, umma mau pergi ke rumah Lee ahjumma. Jaga rumah dan jangan hujan-hujan, ne?”

Arraso,” jawab Minhye malas. Mrs. Jung tersenyum sekilas lalu menghilang di baik pintu.

Senyum mengembang di bibir Minhye. Ia segera membuka pintu kaca dibelakangnya dan menerobos hujan. “Hujan!” pekiknya kegirangan. Ia berlari kesana kemari menikmati tetesan hujan yang membasahi tubuhnya.

Namun kejadian naas menghampirinya. Ia terpeleset dan terjatuh. Lengan bajunya robek karena terkena pecahan kaca hingga mengenai kulitnya. “Argh, sial,” rutuknya.

Minhye melepas bandana yang ia kenakan dan mengikat luka di lengannya. Setelah dirasa cukup kuat, Minhye berlari memasuki rumahnya. Kreek. Ia menutup pintu pembatas.

“Jung Minhye…” suara wanita dewasa yang sangat Minhye kenal membuat si yeoja basah kuyup terdiam di tempat.

Dengan agak takut plus gemetar karena kedinginan, Minhye berbalik, “U..umma.

“Kau…” kata-kata Mrs. Jung terhenti. Minhye menutup mata, bersiap mendapat serentetan kata-kata penuh amarah yang dilontarkan ummanya

Greep. Jauh di luar dugaan. Mrs. Jung justru memeluk Minhye yang basah kuyup. Minhye terdiam. Ia cukup terkejut saat ini. “Chukhae chagi, kau mendapat beasiswa melanjutkan sekolah di Seoul, gratis,” tutur Mrs. Jung.

Mata Minhye membulat sempurna, “Aku berhasil?” mrs. Jung mengangguk.

3…

2…

1…

“KYAAAAAAA!!!!” Minhye berteriak histeris. Sang umma hanya geleng-geleng kepala melihat respon putrinya.

“Cepat siap-siap, nanti malam kau langsung berangkat ke Seoul.”

Minhye mengangguk. Ia berlari menuju kamarnya, berniat membersihkan diri terlebih dahulu sebelum mulai packing barang-barang yang akan ia bawa ke Seoul. Langkahnya terhenti ketika baru teringat dengan lukanya. Dengan agak tak sabaran, Minhye melepas ikatan bandana di lengannya dan melempar ke sembarang arah.

Langkahnya kembali terhenti. Bukan karena teringat atau terlupa sesuatu. Melainkan bandana ia lempar mendarat dengan cantiknya di depan Minhye, “A…apa ini?”

***

Unknown place

Ruangan ini gelap. Sangat gelap bagi manusia biasa. Wuzz. Puluhan lilin tiba-tiba menyala secara bersamaan dan membentuk pola bintang. Di tengah-tengah pola bintang ada seseorang berjubah hitam berdiri. Hampir seluruh tubuhnya tertutup jubah. Hanya hidung dan bibirnya saja yang terlihat. Orang itu mengarahkan tangannya pada lilin yang menyala di hadapannya. Hal aneh terjadi. Api dari lilin melayang dan mendekati telapak tangannya. Setelah ‘menggenggam’ api, sosok misterius itu menarik sedikit tudung jubahnya. Terlihat 2 bola mata miliknya berwarna hijau terang mengintimidasi. Perlahan, bola matanya bercahaya. Api yang digenggamannya yang semula berwarna merah kekuningan menjadi senada dengan bola matanya. Api hijau itu makin lama makin membesar. Kreek, wuzz. Api hijau itu mendadak lenyap ketika pintu ruangan terbuka.

Dari balik pintu, muncul sosok berjubah juga, “Kau sudah selesai Minharu?”

Minharu –orang di tengah ruangan–  berbalik, membuat jubah yang ia kenakan berkibar terkena efek gerakan tiba-tibanya. Wuzz, lilin di ruangan itu padam seluruhnya.

Cklek, cahaya lilin tadi digantikan oleh cahaya lampu neon. Terlihat jelas lah isi ruangan itu. Ruangan ini lebih mirip apartemen di kota besar.

Mata Minharu yang tadinya berwarna hijau terang, berangsur-angsur berubah menjadi coklat gelap. Ia membuka tudung jubahnya, “Haera kalau masuk, ketuk pintu dulu. Dan aku lebih tua 5 tahun darimu. Sopan lah sedikit!”

Haera mendengus, “Nenemian Unnie. Hey, kau mendekor ruanganmu dengan nuansa modern lagi? Bagaimana jika kepala sekolah marah?”

Senyuman licik mengembang di bibir Minharu, “Kris tidak akan marah.”

Unnie, bisa gawat kalau Sonsengnim tahu kau hanya memanggil namanya saja. Dan Kris Sonsengnim melarang ada unsur modern di sekolah ini.” Peringatan Haera hanya ditanggapi putaran bola mata oleh Minharu.

“Masih sempat mengobrol? Bagaimana dengan tugas kalian?” Sontak Minharu dan Haera menoleh ke sumber suara. Hanya ada tembok disana. Ke-2 yeoja ini sama sekali tidak terkejut. Ini sudah menjadi hal biasa bagi penghuni ‘sekolah’.

Samar-samar, ada sesuatu menampakkan wujudnya. Semakin lama, wujud dari sosok itu semakin jelas. Muncul seseorang dengan jubah hitam dan kedua bola matanya merah menusuk. Beberapa detik kemudian, warna merah itu digantikan oleh warna biru gelap, “Bagaimana tugas kalian?”

“Aku mengalami kecelakaan kecil karena anak kecil ini mengganggu ritualku,” respon Minharu.

Haera membuka tudung jubahnya, “Siapa yang kau maksud anak kecil unnie?” Haera beralih menatap sosok yang baru muncul, “Aku sudah memanggil namjadeul yang terpilih tanpa gangguan. Perhitunganku, 1 jam lagi mereka sampai, Cath Unnie.”

Tanpa unsur kesengajaan, pandangan Minharu bertemu dengan Cathrine, ‘Tch, padahal dia lebih muda, kenapa dia yang jadi senior?’ batin Minharu.

Unnie, aku tahu apa yang kau pikirkan,” kata Cathrine dingin.

Ah, sial. Aku lupa kau bisa baca pikiran,” timpal Minharu tak kalah dingin.

Hening… Cathrine dan Minharu saling kontak mata. Mereka berdua sedang berdebat lewat pikiran masing-masing. Apa yang mereka debatkan? Entahlah. Hanya Cathrine, Minharu, dan Tuhan yang tahu.

JDEER…

Tak ada badai maupun hujan, petir menyambar dengan dahsyatnya. Spontan 2 yeoja yang asik berdebat antar pikiran menoleh ke arah Haera, satu-satunya pemilik elemen petir diantara mereka bertiga.

“Apa? Aku hanya ingin menambah efek. Biar seru. Ya Tuhan, kenapa aku bisa sekelompok dengan 2 orang yang lebih dingin dari es batu?” celetuk Haera.

Minharu memutar mata, ‘Tch, dasar anak kecil.’

Anyway…” suara Cathrine membuatnya menjadi pusat perhatian. “Apa kecelakaannya cukup serius, Minharu unnie?”

“Tidak terlalu. Rencananya aku langsung membuka portal untuk mereka. Tapi, portal itu baru terbuka besok, saat tengah malam. Di Seoul.”

Cathrine mengangguk paham, “Jadi ini Cuma masalah waktu.” Kedua manik biru gelapnya menyusuri tiap sudut ruangan, “gaya apartemen modern eoh? Bersiaplah dilempar Kris sonsengnim ke kandang naga kesayangannya itu.”

Minharu menghela napas panjang, “Arra… arra… nanti ku ganti.”

JDEER…

Cathrine dan Minharu kembali menatap Haera. Yang menjadi objek tatapan merasa risih, “Apa? Tadi bukan aku. Sungguh.”

“Apa mungkin Chen Sonsengnim yang melakukannya?” tanya Minharu.

Cathrine berjalan menuju jendela, “bukan  Chen Sonsengnim yang melakukannya.” Ia berbalik dan mendekat ke arah 2 rekannya, “Murid yang dipanggil haera sudah datang, Haera, temui mereka.” Dengan agak malas, Haera menuruti perintah Cathrine. “Satu hal, Minharu Unnie…” yeoja pemilik mata coklat gelap hanya menggumam. “Jika kau gagal membuka portal, setidaknya kau meninggalkan tanda kan? Tanda apa yang kau buat?”

Minharu tersenyum penuh misteri, “Pesan berdarah.” Ia mengambil selembar kertas di atas meja dan memberikannya ke Cathrine. Si penerima ikut tersenyum misterius melihat kertas itu.

Anyway, bagaimana dengan rencana kita? Apa benar-benar dilakukan?” tanya Cathrine.

“Tentu. Kenapa tidak?”

“Ok,” tangan Cathrine tergerak menyodorkan kembali ‘pesan berdarah’ yang dibuat Minharu.

Minharu menyahut dan membuangnya kesembarang arah, “Kajja, kita pergi,” ajaknya. Cathrine berjalan beriringan dengan Minharu keluar dari ruangan.

Kertas yang tadi dilempar Minharu ujungnya seperti terbakar. Perlahan, muncul api kecil dari sudut itu. Bisa terlihat isi dari pesan itu adalah,

            Wuzz. Kertas itu terbakar dan lenyap begitu saja.

-TBC-

Gimana gimana?

Gaje ya u,u??

Mianhe m(_ _)m

Anyway, ini sepertinya termasuk intro o.o

.

RCL please~ *bbuing bbuing bareng all cast (?)

2 responses to “[Korea Fan Fiction] SHINee VS STARLIGHT (chapt. 1) – SHINee & EXO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s