[Korea Fan Fiction] SHINee VS STARLIGHT (chapt. 2) – SHINee & EXO

Credit Poster: http://sylvenclawimagination.wordpress.com/

*author pake 2 poster. utk awal-pertengahan pake posternya Fai 성 Minra*

.

  teaser >> chapt 1

.

Tittle :: SHINee VS STARLIGHT

Author :: Lee Hyona

Casts :: – SHINee member :  Lee Jinki, Kim Jonghyun, Kim Kibum, Choi Minho, Lee Taemin

–          STARLIGHT member : Park Sungra, Park Hyeona, Han Hajoon, Kim Yoonhee, Jung Minhye

–          Teacher assistant : Cho Soorin (Cathrine), Lee Youngji (Haera), Choi Yoonji (Minharu) , Lee Hyona *numpang eksis, tapi ga banyak2 kok.

–          All EXO member

Other Casts :: Cari sendiri..

Genre :: fantasy, Friendship, Action, mysteri, family, bit romance n sangat sedikit comedy (?)

Rating :: G

Disclaimer :: Ini FF adalah 100% hasil pemikiranku. Bila ada kesamaan ide, itu wajar. Namanya juga manusia (?)

Summary :: sekolah penyihir? Apa itu nyata?

Warning :: EYD seenak jidat author, bahasa berantakan, OOC, thypo(s)

Kawasan Wajib Coment!!

Silent Readers Dilarang Masuk!!

NO BASHING, PLEASE!!

**************************

Seoul, South Korea

Sungra POV

Argh! Sial sial sial! Belum genap 24 jam aku di Seoul, tapi aku sudah seceroboh ini. Kelasku yang baru dimulai 20 menit lagi, dan waktu tercepat menempuh jarak dari rumah ke sekolah 25 menit! Bayangkan! 25 menit itu tercepat! Aku sudah telat telak! Aigoo~

Jika kalian berpikir aku naik kereta, mobil, bis, atau kendaraan lain, buang pemikiran itu jauh-jauh. Sekarang, aku sedang berlari. LARI. Aku pikir, berlari akan bebas dari macet dan membutuhkan sedikit waktu.

BRUUK

Demi semua resep makanan yang sudah kucoba. Apa ini hari sialku? Sudah kesiangan, ditabrak orang pula.

Mianhe, aku tidak sengaja,” ucap orang yang menabrakku. Hei, seragamnya sama denganku. Jangan-jangan, satu sekolah?

Tanganku tidak sengaja menyentuh sesuatu. Bandana? Eh? Ini…

Minhye POV

Aigoo~ Jung Minhye. Kau ini bagaimana? Hari pertama sekolah di sekolah baru, sudah terlambat. Semoga ada toleransi untuk siswa baru.

BRUUK

Apa sekarang tanggal 13? Kenapa aku sial sekali?! Sudah telat, ceroboh, nabrak orang deh, “Mianhe, aku tidak sengaja.”

Yeoja yang jadi korban terpatung dengan pandangan terpaku kearahku. “Kenapa? Ada yang aneh?” tanyaku akhirnya.

Ia tersadar dan menggeleng, “Ah, ani. Apa ini punyamu?” yeoja ini menyodorkan bandana anehku. Aneh? Malah super aneh! Kenapa ada tulisan-tulisan yang tidak kumengerti bagaimana terciptanya disana?

Dengan agak gugup, aku mengambilnya, “Ah, ne. Gomawo.

“Oh iya, kau juga sekolah di Seoul Institute?” (a/n: Seoul Institute = SMA + universitas di satu tempat *author ngarang XD) Ha? Darimana dia tahu? “Seragam kita sama.” Apa dia bisa baca pikiran? Tunggu! Seragam? Aigoo~ kenapa aku baru sadar?

“Kalau begitu, kita berangkat bersama saja. Bagaimana?” tawarku. Ia hanya mengangguk. Kami pun berlari dan berharap, semoga tidak terlambat.

***

In other place,

Hyeona POV

Sudah lama aku tidak kembali ke Korea, semuanya sudah berubah. Kampus baruku dimana ya? Argh, aku buta peta. Sepertinya aku tersesat. Aku harus kemana? Apa tanya orang saja ya?

“Permisi, Seoul Institute itu dimana ya?” tanyaku pada yeoja disebelaahku.

“Seoul Institute? Tujuan kita sama. Berangkat bersama saja,” ajak yeoja itu. Sepertinya orang baik, dan tidak ada alasan untuk menolak, kan?

“Ok. Anyway,” aku mengulurkan tangan, “Hyeona, Park Hyeona imnida.”

Ia menyambut uluran tanganku, “Hajoon, Han Hajoon. Sepertinya, kau baru disini, Hyeona-ssi.”

Ne, aku baru pindah dari California.”

Hajoon membulatkan matanya, “Jinjja? Aku juga baru pindah kemarin. Tapi aku dari Jepang.”

“Kalau begitu, kita sama-sama orang baru?”

“Kurang lebih begitu, tapi tenang saja, aku ingat jalanan disini.”

Aku menghembuskan napas lega. Untunglah, setidaknya salah satu dari kami tahu jalan, “Aku 91lines, kau?”

“92.”

“Kalau begitu, panggil aku unnie saja, Hajoon-ah.”

***

Seoul Institute gate (?)

Author POV

Greek

Pintu gerbang ditutup oleh petugas keamanan setelah seorang yeoja masuk. Yeoja itu tak lain dan tak bukan adalah Kim Yoonhee.

Tap tap tap,

Suara kaki-kaki berlarian tertangkap oleh indra pendengaran Yoonhee. Semakin lama, langkah kaki itu semakin dekat dan jelas.

“Ah, kita terlambat.”

“Yah, gerbangnya dikunci.”

“Eh, minta tolong dia saja.”

“Hei, kau yang di sana!”

4 suara yeoja hilir-mudik keluar-masuk dari telinga Yoonhee. Tapi, yeoja ini tidak memiliki niatan sedikitpun untuk menanggapi kalimat yang ia anggap tidak penting sama sekali.

Tuk, sebuah gulungan kertas mendarat dengan apik di kepala Yoonhee. Spontan, yeoja bermarga Kim ini menoleh dan mendapati 4 yeoja tengah berlambai-lambai ke arahnya, “Apa mau kalian?” tanya Yoonhee setelah mendekat ke pintu gerbang.

“Bukakan gerbangnya, jebal~” pinta yeoja bermata lebar bak boneka, Minhye.

None of my business,” jawab Yoonhee dingin.

Come on, just open the gate,” tambah yeoja pemilik wajah Korea-Amerika, Hyeona. Namun Yoonhee menanggapi dengan melangkahkan kaki menjauhi gerbang.

YA!” teriak 4 yeoja di luar area sekolah.

Yoonhee memutar tubuhnya malas. Tak sengaja, matanya melihat tas selempang putih milik salah satu dari 4 yeoja itu, milik Hajoon. Masih ingat kan, apa yang terjadi pada tas Hajoon? ‘Logo itu,’ batin Yoonhee. Dengan agak tergesa-gesa, ia kembali ke gerbang, membuat senyuman lega mengembang di bibir mereka yang menanti.

            Greek

Gerbang berhasil dibuka oleh Yoonhee, “Cepat masuk sebelum keamanan datang.”

Gomawo / Kamsahamnida / Thanks / Arigato.” Serentetan ucapan trimakasih hanya ditanggapi gumaman oleh Yoonhee.

Sunbae, ruang kepala sekolah dimana ya?” tanya Sungra.

Bukannya menjawab, Yoonhee justru bertanya balik, “Kau bertanya padaku?”

Sungra mengangguk, “Ne, siapa lagi?”

Yoonhee melipat kedua tangannya di depan dada, “Kau bertanya pada orang yang salah, aku baru pindah dari London.”

Yeoja lain membulatkan mata, “Aku juga baru pindah dari Jepang.”

“Aku dari California.”

“California? Pantas saja aksen Amerikamu kental. Aku dari Indonesia.”

“Wah~ aku satu-satunya barang lokal. Aku dari Incheon.”

“Aku Hajoon, Han Hajoon.”

“Hyeona, Park Hyeona.”

“Marga kita sama! Park Sungra imnida.”

“Jung Minhye imnida. London, siapa namamu?”

“Berisik,” jawab Yoonhee. Err, itu bukan jawaban sih. Pertanyaan dan jawabannya saja sudah jelas berbeda -.-

Mata Minhye menangkap sosok namja berjalan beberapa meter di depan mereka. “Hei, kau yang di sana!” panggil Minhye. Ia sedikit berlari mengejar namja itu. “Permisi sunbaenim, aku Jung Minhye, murid baru dari Incheon. Aku mau tanya, ruang kepala sekolah dimana ya?”

Yang diajak bicara melirik ke arah Minhye sekilas, “Freak,” lirihnya dan sukses membuat Minhye mematung.

Meskipun jarak mereka terpaut beberapa meter, Yoonhee bisa mendengar si namja, “Hei!” Namja itu terdiam. “Aku bicara padamu!” Dengan agak malas, si namja membalikkan badanya. Yoonhee melirik name tag namja di hadapannya, “Lee Taemin-ssi, dimana ruang kepala sekolah?”

Taemin mengamati Yoonhee dari kepala, kaki, lalu kembali ke kepala, “Di ujung koridor ini,” jawabnya sebelum meneruskan berjalan.

Seringaian muncul di bibir Yoonhee, ‘Terlalu mudah.’

Prok prok prok, terdengar suara tepuk tangan kecil (?) dari Hajoon, “Kau keren, err…

“Yoonhee, Kim Yoonhee.”

Hyeona berjalan di depan, “Kajja, kita ke ruang kepala sekolah.”

-Skip time-

            Tingkatan kelas sudah mereka ketauhi setelah keluar dari ruang kepala sekolah. Hyeona kuliah semester 5, Hajoon dan Yoonhee di satu tingkat yaitu semester 4, Minhye SMA kelas 3, dan Sungra SMA kelas 1. (a/n: mian, author ngarang masalah ini XD)

-Skip time-

            Kriiing,

Bel istirahat berbunyi, semua penghuni sekolah dan universitas berhamburan menuju kantin. Bayangkan, betapa padatnya kantin saat ini. Siswa SMA ditambah mahasiswa universitas. Satu kata, wow.

Yoonhee sedang menikmati apple juicenya sendirian di salah satu meja kantin. Tak lama, 2 orang yeoja menghampirinya.

“Yoonhee-ya, kami ikut bergabung, ne?” pinta Hajoon. Tanpa menunggu jawaban dari ‘pemilik’ meja, Hajoon langsung mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi kosong. “Hyeona unnie, sini, duduk di sebelahku,” ajaknya seraya menepuk-nepuk kursi kosong di sebelahnya. Hyeona hanya menurut.

“Aku belum me-”

“Hai hai hai. Unniedeul, aku gabung, ne?” perkataan Yoonhee terpotong ketika Minhye tiba-tiba muncul dan duduk disebelahnya.

“Memangnya aku su-”

“Permisi, aku boleh duduk di sini? Bangku lain sudah penuh.” Dan lagi-lagi perkataan Yoonhee terpotong oleh orang lain, dan kali ini Sungra pelakunya. Yoonhee hanya bisa meminum apple juicenya dengan kesal.

Minhye dan Hajoon asik mengobrol sedangkan 3 yeoja lain terdiam, menikmati makanan dan minuman masing-masing. Sampai akhirnya, ada 4 namja memasuki kawasan kantin dan membuat sebagian besar yeoja disana histeris dan terkagum-kagum. “Hajoon Unnie, bukannya si blonde itu yang kita lihat tadi pagi?” tanya Minhye.

Hajoon mengikuti arah pandang Minhye, “Ah iya, dia orangnya.”

Minhye mengaduk cappucino floatnya ganas, “Dia menyebalkan. Memangnya siapa mereka? Kenapa reaksi yeoja-yeoja di sini berlebihan? Memangnya 4 namja disana artis?”

Hajoon memasang pose berpikir, “Kalau tidak salah, mereka memang artis sekolah.” Hajoon menunjuk ke namja bermata segaris, “Dia Lee Jinki, asisten dosen yang katanya super jenius.” Hajoon beralih ke namja yang berjalan di depan, “Dia Kim Jonghyun, punya segudang prestasi karena suaranya. Dan di sebelahnya Lee Taemin, ketua club modern dance. Lalu Choi Minho, ketua club basket.”

Kepala Minhye terangguk-angguk, “Jadi mereka yang diributkan yeoja-yeoja di kelasku. Kalau tidak salah, ada satu orang lagi, namanya… ah! Kim Kibum!”

Blzzt (?),

Hati Hajoon terasa seperti terkena electric shock (?). Ekspresinya berubah 180 derajat. Dari antusias, cerah, ceria, menjadi –mendekati– murung. Mungkin -.-

Minhye yang menyadari adanya perubahan ekspresi Hajoon langsung gelagapan, “Waeyo unnie? Kau sakit? Kenapa ekspresimu begitu?”

Hajoon tersenyum kecil, memberi isyarat ia baik-baik saja. Ia meletakkan tas selempang putihnya (a/n: ceritanya Hajoon bawa tas kemana-mana) di atas meja.

Gerakan Hajoon berhasil menarik perhatian Yoonhee yang asik dengan dunianya sendiri, “Em, Hajoon-ah, itu tulisan apa?” tanyanya seraya menunjuk ‘pesan berdarah’ yang diterima Hajoon. Spontan yeojadeul yang duduk di bangku yang sama menoleh ke arah yang Yoonhee maksud. Sadar mendapat tatapan aneh, Hajoon menarik tasnya dan meletakkan di atas pangkuannya, “Bukan apa-apa, aku juga tidak tahu kenapa bisa ada tulisan itu.”

Krak!

Suara retakan berasal dari tangan Hyeona membuatnya jadi pusat perhatian di meja itu. Ketika Hyeona membuka kepalan tangannya, sendok plastik yang digenggamnya patah menjadi 2 bagian, membuat 3 yeoja selain Yoonhee bergidik ngeri. “Mianhe, kalian keget?” tanya Hyeona.

“Sedikit,” responn Hajoon. Sungra dan Hajoon hanya tersenyum hambar.

Mianhe, aku tidak bermaksud mengagetkan. Tadi aku terlalu terbawa suasana ‘misteri’ dari tulisan-tulisan di tas Hajoon,” lagi-lagi Hyeona meminta maaf dan direspon dengan gerakan tangan ‘Gwenchana.’

Hyeona, Hajoon, Minhye, dan Sungra terlarut dalam pembicaraan hangat mereka. Meskipun baru kenal, mereka cepat akrab. Sementara, Yoonhee masih sibuk dengan pemikirannya sendiri. Matanya mengintai namja yang tingginya di atas rata-rata, ‘Choi Minho, ketua club basket… cukup menarik.”

Skip time

Sungra side

Author POV

Sungra mendapat tugas dari guru tata boga (?)nya untuk mencari literatur resep masakan di perpustakaan sekolah. Tentu dengan senang hati Sungra melakukannya. Ia juga membawa beberapa buku resep koleksi pribadinya.

Bruk

Tubuh Sungra ditubruk seseorang dari arah belakang, beberapa buku resep miliknya terjun bebas ke lantai. Dengan sedikit melancarkan aksi ‘komat-kamit’ ala Sungra, ia memungut buku-bukunya yang terjatuh.

Crat (?)

Mata Sungra membulat sempurna. Ia terpaku melihat bukunya diinjak seseorang dengan sepatuh penuh lumpur yang menjijikkan. Ia melihat sang ‘pelaku penginjakan’, “Dia? Lee Jinki?” lirihnya. Seakan bisa mendengar, Jinki terdiam di tempat. Sungra terlihat merapikan tatanan rambutnya, ia berpikir Jinki akan meminta maaf. Namun, Sungra ternganga di tempat. Jinki meneruskan jalannya tanpa meminta maaf. Jangankan minta maaf, berbalik saja tidak.

YA! Lee Jinki Kau menyebalkan!” teriaknya frustasi.

***

Hyeona side

Author POV

Dosen Hyeona absen di hari pertama Hyeona masuk di universitas barunya. Kelas yang semula penuh dengan mahasiswa, kini hanya terisi 3 orang, termasuk Hyeona. Kemana yang lain? Entahlah. Mungkin kabur.

Bosan tingkat akut mulai melandanya. Ia menyesal karena tidak memilih berdiam diri di rumah dan bersantai-santai ria. Tapi, apa boleh buat? Dia terlanjur di sini.

Huft, lebih baik aku jalan-jalan dari pada mati kutu di sini,’ putusnya dalam hati. (a/n: BTW, mati kutu itu apaan ya? *gubrak)

Hyeona pun bangkit dari tempat duduknya dan berjalan didampingi earphone dan mp3 playernya. setelah nyaman dengan earphone yang dikenakan, Hyeona memilih lagu sambil berjalan.

Bruk, prang, Krak (?)

Tubuh Hyeona ditabrak dari arah berlawanan, seketika itu kontrol atas mp3 playernya hilang. Benda mungil itu terjun bebas ke lantai dan berakhir dengan diinjak oleh seseorang. ketika kaki pelaku terangkat, nampaklah mp3 player milik Hyeona yang sudah tidak berbentuk.

“Ops..” hanya itu respon sang pelaku.

Ya! cepat minta maaf!” protes yeoja bermarga Park.

Pelaku yang ternyata namja menoleh ke arah Hyeona dekilas dengan tatapan datar, lalu pergi begitu saja.

Mata Hyeona melebar, ‘Tch, d… dia… tidak punya etika! Siapa namanya? Ah…’

“Awas kau. Lihat saja nanti, Kim Jonghyun!”

***

Yoonhee side

Author POV

Yoonhee terlihat berjalan dengan santainya mengelilingi kawasan Seoul Institute di saat mahasiswa lain tengah berjuang mati-matian di ruang kelas masing-masing. Yup, Yoonhee sedang bolos. Moodnya sedang tidak baik untuk menambah ke-stres-an ke otaknya. Ia pun memutuskan untuk berkeliling.

Entah kenapa, kakinya berjalan menuju gedung olahraga. “Eh, kenapa aku ke tempat ini?” tanyanya setelah sadar.

Drap drap drap

Suara pantulan bola membuat Yoonhee yang semula berjalan menjauh, memutar haluan kembali ke gedung olahraga. Tangannya tergerak untuk membuka sela kecil pada pintu dan melihat keadaan di dalam. Ia sangat sedikit (?) terkejut melihat banyak yeoja di dalam yang sepertinya juga membolos.

Ternyata suara pantulan bola yang di dengar Yoonhee berasal dari bola basket yang dimainkan satu-satunya namja di sana. Ketika bola berhasil dimasukkan ke ring, yeoja-yeoja di sana akan berteriak histeris. Dan itu membuat Yoonhee memasang ekspresi >> -.-

“Mereka berlebihan,” cibir Yoonhee.

Cukup lama Yoonhee mengamati permainan dari namja di sana. Tanpa di sengaja, tatapan mata mereka bertemu. Si namja yang ternyata memiliki nama Choi Minho tersenyum, membuat yeoja-yeoja di sana histeris melihatnya. Semua, kecuali satu, Kim Yoonhee. Yoonhee tahu ada maksud di balik senyuman itu.

Tch, kau menantangku, Choi Minho?” bagi Yoonhee, senyuman tadi tak lain adalah senyuman meremehkan.

***

11.55 pm KST

Sungra side

Sungra terlihat tidak nyaman dengan tidurnya. Sebentar serong ke kanan, berubah serong ke kiri, berubah lagi terlentang, lalu tengkurap, dan begitu seterusnya. Akhirnya, ia menyerah dan terduduk di kasurnya. Matanya beralih melihat jam digital di dekat kasur, “Jam 11.57? kenapa aku tidak bisa tidur?” erangnya.

Kreek, wuzz…

Jendela kamar Sungra terbuka dengan sendirinya. Angin berhembus cukup kuat, sapu tangan yang berisi pesan berdarah yang awalnya berada di bingkai jendela, terbang ke pangkuan Sungra.

11.58 pm

“Apa ini nyata?” Sungra berjalan menuju jendela kamarnya. Ia menyibakkan tirai yang menghalangi dan menyaksikan keindahan bulan purnama malam itu. “2 menit lagi.”

***

Hyeona side

Terlihat seorang yeoja berdiri di balkon kamarnya. Matanya menatap langit malam kota Seoul yang terlihat sangat indah. Bintang-bintang terlihat jauh lebih banyak dan bulan purnama bersinar dengan anggunnya, “Countdown, 120, 119, 118…”

***

Hajoon side

Pemandangan di rumah Hajoon tak jauh beda dengan rumah-rumah sebelumnya. Yeoja ini juga sedang asik memperhatikan bulan purnama. Sesekali pikirannya melayang ke nama orang yang disebutkan Minhye saat di kantin.

“Kim Kibum. Apa Kibum yang dia maksud itu kau, Kibumie oppa?”

Cukup lama ia terdiam. Lalu ia melirik jam tangannya, “2 menit lagi.”

***

Yoonhee side

11.59 pm KST

Yoonhee melangkahkan kakinya keluar rumah lewat pintu belakang. Kreek, pintu tertutup setelah ia keluar. Yeoja berwajah dingin ini menyetel musik lewat headphone yang disambungkan pada ponselnya lalu memsukkan kedua tangannya ke saku jaket. Ia sama sekali tidak melepaskan pandangan dari sang bulan purnama, “Tidak bisakah waktu berjalan lebih cepat? 1 menit itu terlalu lama.”

***

Minhye side

Minhye membuka pintu kulkas di apartemen tempat tinggal sementaranya di Seoul. Ia mengambil satu bongkahan kecil es batu dan menggenggamnya erat-erat. Inilah cara uniknya untuk menghilangkan kegugupannya. Perlahan, ia berjalan menuju balkon dengan tangan masih menggenggam bongkahan es, “Sebentar lagi.” Matanya terfokus pada cahaya bundar di langit malam Seoul. Tiba-tiba kedua alisnya bertautan, “Aneh, kenapa es batu ini tidak mencair?”

***

12.00 pm KST

Teng

Suara detakan jam klasik mirip suara Big Ben di Inggris menggema di seluruh pelosok Seoul.

Teng

Detakan kedua, kota Seoul menjadi sangat sepi dan hening. Tidak ada suara sedikitpun yang terdengar.

Teng

5 yeoja penerima pesan berdarah berbeda karakter, mengepalkan tangan erat-erat, bersiap menghadapi apapun yang akan terjadi.

Teng

Mendadak waktu seperti dihentikan. Kendaraan dan orang-orang di jalanan berhenti bak patung, tak bernyawa.

Teng

Angin mulai berhembus lembut.

Teng

Seperdelapan bagian bulan purnama tiba-tiba tertutupi bayangan, seperti sedang terjadi gerhana bulan.

Teng

Angin berhembus lebih kencang dan seperempat bagian bulan tertutupi bayangan.

Teng

Tiba-tiba api muncul dan mengepung 5 yeoja yang terbebas dari ‘berhentinya waktu’.

Teng

Angin berhembus  makin kencang, membuat api-api itu membesar. Spontan membuat 5 yeoja itu panik.

Teng

Bulan sudah tertutup setengahnya. Api-api yang mengepung semakin lama semakin besar dan mendekat.

Teng

Bulan tertutup sempurna. Ke-5 yeoja mencoba melindungi diri bagaimanapun caranya karena api-api yang panas semakin merapat dan menutupi tubuh mereka.

Teng

Wuzz

Saat detakan ke-12, bulan kembali bersinar, kota Seoul kembali normal, keramaiannya sudah terdengar lagi, orang-orang dan kendaraan sudah beraktivitas sebagaimana mestinya. Kecuali 5 yeoja tadi. Mereka, lenyap tak berbekas.

-TBC-

.

.

.

Lanjut aja deh😄

.

.

.

In other place

            BLAAR!

Suara ledakan cukup dahsyat menggema di kawasan ini. Suara ledakan yang dibarengi munculnya cahaya menyilaukan mata yang akan menarik siapapun untuk melihatnya. Perlahan, cahaya itu meredup dan menampilkan sosok 5 yeoja berbeda usia tengah menutup mata rapat-rapat.

Tap tap tap,

Terdengar langkah kaki mendekat. Muncul-lah sosok berjubah hitam dari sebuah bangunan gaya Eropa klasik.

Tap,

Sosok berjubah itu menghentikan langkahnya di hadapan 5 yeoja, “Kalian aman. Silahkan buka mata kalian.”

Perlahan, kelopak mata mereka terbuka. Setelah terbuka sempurna, mereka menoleh ke kanan-kiri-depan-belakang (?), “Kalian?” respon mereka bersamaan.

“Wah~ kalian sudah saling kenal ya?” tanya si jubah hitam. Dari suaranya, bisa disimpulkan sosok ini adalah yeoja.

“Kau siapa?” tanya Hyeona sedikit sinis.

Yeoja di balik jubah hitam tersenyum. Tangannya tergerak untuk membuka tudung jubah yang menutupi kepalanya, “Selamat datang di dimensi paralel kami, EXOplanet. Tepatnya di EXO Witch School. Aku Minharu, senior yang mendampingi kalian, dan aku yang sudah mengundang kalian ke sini,” Minharu mengembangkan senyuman yang sulit diartikan.

Mwo? Witch school?

.

.

–The (real) TBC—

😄

.

.

Hweng~

I’m back with SvsS chapt 2

Mian artisnya pada muncul bentar doank (?)

Dan harap maklum dengan ke-tidak jelas-an yang amat sangat dari ff2 saya

Lanjut or stop?

Comment please~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s