[FREELANCE] First and Last Love Story (part 2 of 2)

Cast:
You as Me
Dia ( Anggap aja bias masing – masing ) as Him
Your Ex Boy Friend as Lucifer
Twoshoot
#Np
Shinee – Ring Ding Dong and Lucifer
Chris Brown – No Air
Park Bom – You and I
“ Oh, I miss you so much…” Dia memelukku erat dan lama.
“ Sorry, bisa kau lepaskan?” Aku berusaha menghentikkan tingkah bersahabatnya itu.
“ Ah, iya maaf ya kak.” Dia tersipu menatapku.
“ Kakak? Kita kenal ya?”
“ Jahatnya…” Dia mengembungkan pipinya yang masih putih. Sama dengan tingkahnya waktu itu. Otakku berputar mengulangi memori yang dulu hadir di tengah – tengah kami. Tanpa kurasa dia sibuk memegang tanganku dan melihat jari – jariku yang berbaris rapi dan teratur lengkap dengan riasan cat kuku.
“ Mana cincinnya?”
“ Cincin apa?” Aku tersenyum melihat dia cemberut.
“ Akh, jahatnya… Aku jauh – jauh pindah kesini demi melihat itu..”
“ Ah sayangnya….”
“ Sayang apa kak? Jangan bilang sudah dibuang…”
“ Ehm, hampir…” Aku tersenyum dan menunjukkan kalungku dengan cincin mainannya yang bergantung sebagai liontinnya.
“ Hehehe, masih ada. Bagus dech….” Dia tersenyum penuh makna membuat kepalaku seakan berdering menerima sinyalnya.
“ Ah, ok kita sudahi ramah tamahnya. Sekarang kita mulai trainingnya…” Aku berusaha fokus dengan yang kulakukan sekarang dan mempersilahkannya duduk manis sementara aku berdiri di depan proyektor mulai menjelaskan point penting pada sheet power point.
Sheet demi sheet mulai kujelaskan padanya tentang dasar dan tata aturan travel ini. Awalnya kami sama – sama terfokus hingga dia duduk bersandar di bangku dan menopang wajah panjangnya sambil terus menembakan senyum manisnya.
“ Hey, fokus pada layarnya!” Aku berusaha profesional memarahinya.
Dia memajukan badannya kali ini lengannya bertumpu dimeja.
“ Lebih enak melihat kearahmu…”
“ Ck, Just fokus okay?”
Dia mengangguk perlahan menurut seperti masa kecilnya waktu itu. Jantungku kembali merasakan detak itu lagi. Detak yang sama saat Lucifer melamarku tapi kali ini lebih cepat dan lebih tidak teratur. Rasanya meledak dan menyebar menuju seluruh tubuhku.
“ Sudahan saja ya? Aku sudah ngerti kok…” Dia berdiri dan menepuk kedua tangannya
Aku menggeleng cepat dan memberi isyarat agar dia kembali duduk. Tapi sebaliknya dia melangkah maju dan sekarang berdiri sejajar membelakangi proyektor lalu menurunkan kepalanya sebentar.
“ Hmmm, kau makin pendek ya?”
“ Aish kau ini! Duduk kembali…”
“ Ayolah, kalau tidak kau yang duduk aku yang jelaskan.Sehingga kau yakin..”
Dia menggenggam tanganku dengan pergelangannya yang hangat lalu mendudukkanku dengan perlahan layaknya takut aku terluka lalu dengan senyum memikatnya dia menggeser poni orangenya dan mulai menerangkan. Awalnya aku mulai fokus, lama – lama telingaku mulai berdering lagi memikirkan dia dengan senyumnya yang masih imut seperti dulu.
“ Honey…” Suara itu menyadarkan lamunanku. Kulihat dia berdiri terpaku menatap pria didepannya tersenyum dan masuk mengganggu aktivitas kami sekarang.
“ Hai! Kau anak baru ya? Semangat!” Luciferku tersenyum dan memberi acungan tangan lalu berbalik kehadapanku.
“ Kapan selesai?” Sekarang luciferku bertanya.
“ Malam ini aku ada lembur. Kau pulang sendiri saja ya?” Aku menjawab sambil memperhatikan dia yang masih terus menatap kami.
“ Ok, kau yakin pulang sendiri?”
Aku mengangguk lalu luciferku mengecup pelan keningku dan melenggang bebas keluar ruangan rapat.
“ Jadi dia itu siapa?” Dia menatapku seakan marah setelah pintu itu berdebum seiring langkah luciferku keluar.
“ Hmm, tunanganku…” Aku menjawab ringan namun tak kuasa menatap matanya.
“ Kalian pacaran gitu?” Dia bertanya seolah tak percaya.
Aku mengangguk pelan dan bisa kulihat matanya memancarkan redup kekecewaan. Dia membisu setelah peristiwa tadi. Tidak lagi berkomentar masalah kami. Hingga…
“ Kak, mau tahu ga?” Dia berjalan memperlambat langkahnya agar kami sejajar.
“ Apa?”
“ Aku tinggal di sebelah kakak.”
“ Hmm,”
“ Ish, kakak gitu banget sich…”
“ Jadi harus gimana dong?”
“ Paling ga bilang dong ‘oh kita tetanggaan dong sekarang? Kapan – kapan mampir ya….’ gitu,” Dia menirukan suaraku.
“ Ya, kapan – kapan mampir ya…” Aku tersenyum sambil menekankan setiap kata.
“ Mampir sekarang boleh?”
“ Kan bilangnya kapan – kapan…”
“ Ya udah kapan – kapan itu sekarang ya?” Dia tersenyum memohon.
Aku kembali tersenyum dan mengangguk pelan lalu dia mengandeng tanganku menyusuri gelapnya rahasia malam yang kini disinari bulan sabit dan temannya sang bintang yang berhamburan luas menyapa bumi mengantikan tugas matahari. Dinginnya angin malam berhembus mesra membuat para pasangan merapatkan barisannya. Kota tahun ini tetap ramai dengan senandung musik yang menggema karena malam weekend sudah mulai berlangsung.
Disebagian tempat anak remaja tengah menikmati musik pop dan rock mereka sambil tersenyum dan tertawa riang mengayuh skateboard mereka atau sekedar memantulkan bola basket mengarahkannya menuju ring. Yang lebih dewasa menghabiskan malam dengan makan malam ringan di café yang glamour di temanin dentuman jazz klasik yang mengalun memutari café. Pemandangan wajar yang terkadang membuat kita tersenyum penuh arti ‘kehidupan.’
“ Kak, ayo masuk…” Dia menepuk pundakku dan menggiringku ke lobby apartement baruku. Semenjak aku berkerja hidup memang berubah membentuk proses yang lebih maksimal. Jerih payahku menghasilkan sebuah apartement lux yang memang amat kuingini.
“ Dulu kakak ga tinggal disini kan?” Dia mencairkan suasana ketika lift berpacu naik menuju lantai 9.
“ Iya, kok tahu sich…” Aku mengikuti gaya bicaranya ketika kecil.
“ Ih, kok jadi childish gitu sich?”
“ Mang ga boleh?”
“ Bukan gitu, tapi makin lucu aja jadinya…” Di mencubit pipiku hingga merah.
“ Auw, sakit tau…”
“ Maap…” Dia mengacungkan kedua jarinya tanda berdamai.
“ Aku kan tau semuanya kak! Jadi tau juga kakak dulu nyewa kamar gitu kan? Dulu kenapa ga tinggal bareng aku aja sich? Bandel banget udah disuruh nginep juga…”
Aku melempar senyumku perlahan sampai pintu lift terbuka dan dia langsung berlari masuk ke apartementnya sementara aku masih berusaha membuka pintu kamarku.
“ Lama sekali sich? Aku bahkan sudah ganti baju…” Dia membantuku memasukkan kunci card. Memang benar dia sudah bertransformasi dengan gaya santai celana jeans panjang dan kaos biru lengan panjangnya.
‘click..’ pintunya terbuka dan lampu menyala otomatis.
Dia masuk berjalan mendahuluiku dan langsung menuju pada kulkasku yang berdiri manis di dapur.
“ Yah, kosong… Kakak ga sedia makanan ya?”
“ Iya. Tapi kalo mau ada di oven tuh cuma diangetin dulu ya…” Aku masuk kekamar dan membiarkan dia mengeledah ruang tamuku.
“ Ini pizza ama ramennya aku angetin ya kak?” Dia berteriak dari luar dan aku menghampirinya membantunya yang tengah bergulat dengan oven.
“ Ih, ini gimana sich kak?”
“ Ini, 10 menit aja. Udah tinggal aja…”
“ Oh, ok deh. Hohoho, ga lama juga…” Dia tersenyum puas kemudian berpindah pada piring dan perabot lain untuk makan malam kami. Setelah makan malam dan semuanya tertata rapi aku duduk disampingnya dan kami mulai melahapnya.
“ Kak…”
“ Hmmm?”
“ Kakak kapan tunangan sama dia?”
“ Setahun yang lalu…”
“ Kok ga bilang – bilang sama aku sich?”
“ Mang bisa bilang? Kan aku ga bisa ngontak kamu disana.”
“ Tapi tuh ya kak…” Dia mau protes.
“ Apa?”
“ Biasanya kakak itu hadir di mimpi – mimpiku trus masih sendiri aja ga sama siapa – siapa…” Dia menatapku berusaha menyita pikiranku. Aku memalingkan wajahku.
“ Kakak! Tatap aku..”
Aku berusaha menatapnya dan dia tersenyum melihat tingkah gugupku.
“ Ya, lanjutkan saja kau mau bicara apa?” Aku berusaha menahan pikiranku. Jantungku terus berdegup tak karuan.
“ Kapan kakak menikah dengannya?” Dia menatapku kecewa kali ini aku benar – benar merasa tidak enak.
“ Ah, itu…”
“ Itu tidak boleh terjadi kak…”
“ Hah? Kenapa kau melarangku?”
“ Kita kan sudah janji kak…”
“ Janji apa?”
“ Yay, kau jahat sekali sich? Cincin ini buktinya.” Dia menarik kalungku dan mengacungkannya.
“ Waktu itu kan kita hanya bermain!” Aku tersenyum namun sebaliknya tidak.
Dia mendekatkan wajahnya…
“ Kakak jangan permainkan aku…”
“ Hmm, aku tidak… Yay, jangan dekat – dekat.” Tuhan, adakah Kau sekarang? Rasanya aku akan berhenti bernapas jika seperti ini terus.
“ Kenapa kak?” Dia semakin mendekat lalu…
‘ Because I listen to my heart beat one by one. Because I listen to my heart heart heart to to my heart heart…’
Hpku bergetar riang di atas meja makan dan langsung dengan sigapku ambil agar menyudahi tingkah anehnya…
“ Hallo…”
“…” Disebrang sana tidak ada jawaban…
“ Café … (sebut tempat ceritanya) malam ini…” Suara perempuan berbisik pelan lalu menutup teleponnya.
“ Ada apa kak?”
“ I don’t know…”
Aku bergegas mengambil mantel dan jalan terburu – buru.
“ Mau kemana?”
“ Aku mau keluar sebentar.”
“ Ikut…”
Kami menyusuri sekali lagi gelapnya malam dan kali ini dengan cepat tanpa sempat menikmati sensasi yang disajikan. Sampai kami berdua berhenti ditempat itu. Dia yang setia mengikuti disampingku mengedarkan pandangannya menangkap sesosok pria yang dia kenal lalu menatapku marah.
“ Jadi kakak datang untuk dia?”
Aku diam membisu masih memandangi luciferku.
Dia melangkah mundur dan meninggalkanku sendirian. Aku tahu dia tidak lihat apa yang kulihat. Dia hanya melihat seseorang duduk sendiri disana. Namun aku melihat lebih dari itu. Diseberang ujung mejanya yang tertutup kaca melalui sudut pandangnya aku melihat luciferku sedang bercumbu mesra dengan seorang gadis remaja. Jadi sifatnya tidak berubah sama sekali…
Aku merasa darahku memuncak melihatnya. Dengan penuh emosi kuketik kata termanis untuk luficerku dan membiarkannya membuka dan membaca smsku lalu mendongak mencariku yang tengah melihat mereka. Wajahnya berubah pucat pasi dan langsung beralih menyambut kedatanganku yang sebenarnya masih menunggu di depan café.
“ Honey… Ehm ini…”
“ I now, you love her okay? It’s fine. So our relationship is done here.”
“ No, you can’t say’s like that.”
“ Yes, I can…”
Aku membalikkan tubuhku sebentar dan menghapus butiran air mata yang masih bersemayam di lipatan kelopak mataku. Awalnya aku berfikir luciferku akan mengejarku sayangnya tidak. Dia masuk dan mengandeng lagi perempuan itu. Fine, at last my love is broken again with same person. Kupercepat langkahku hingga sampai di depan kamarnya. Lampunya masih menyala. Kuketuk pelan dan tidak dijawab. Aku berdeham perlahan dan berbisik pelan dipintunya.
“ Sorry is not like you see.”
Seberkas cahaya matahari menyusup masuk dari balik tirai yang tidak kututup rapat. Seluruh badanku terasa sakit tak berkutik. Kemarin aku lupa meminum kebutuhan rutinku. Obat tidur itu sangat kubutuhkan sekarang. Kepala terasa berlari – lari mengelilingi ruangan. Pandanganku kabur dan dengan beraninya aku keluar kamar mencari seseorang yang mungkin menolongku…
“Tok… Tok….”
Tidak ada jawaban…
“ Tok… Tok…. Tok…”
Masih membisu….
“ Yay! Buka… Buka…”
Sedetik kemudian pria dengan rambut oranyenya membuka pintu dan menampakkan wajahnya yang chubby dengan mata yang bengkak dengan kilapan air.
“ Mau apa kak?”
Aku terdiam perlahan dan melangkah maju mendekatinya yang ketakutan mundur lalu berbisik pelan…
“ Help me please…” Sesaat tubuhku kehilangan alam bawah sadarnya.
Him pov…
Kusandarkan tubuh dinginnya di atas kasur. Dia memang mengidap insomania tapi aku tidak mengetahui hingga seakut ini. Kupandangi perempuan didepanku ini. Rambut caramel panjang terjuntai rapi menambah aksen wajah kemayunya yang lembut. Hari ini dia jauh berbeda. Pucat dan rapuh tidak seperti dia yang selalu kukenal menemaniku bermain terus.
Kelopak matanya mulai memancarkan sinar kehidupan. Batinku berharap dia akan berfikir romantis melihat aku yang ada disaat bangun tidurnya.
“ Hai! Kau baik – baik saja?” Kubantu dia duduk dibangku.
Dia mengerjap – ngerjapkan matanya berusaha membulatkan pandangannya hingga tertuju padaku.
“ Kau beri aku obat apa?”
“ Rahasia…” Aku tersenyum manis melihatnya.
“ Kau mau meracuniku ya?” Dia memegangi kepalanya hingga berhasil membuatku khawatir.
“ Tidak akan…”
“ Thanks and sorry…” Dia terlihat gugup mengungkit masalah kita lagi.
“ Ya, gapapa kak. Jadi kalian ngapain tadi malem?”
“ Kami putus…”
“ Are you kidding me?” Ingin sekali aku tersenyum bahagia mendengar kata itu.
Dia menggeleng dan tersenyum pahit membuat hatiku yang sudah terpenuhi olehnya merasa sakit.
“ Kau baik – baik saja kan?”
Sekali lagi dia mengangguk…
“ Seharusnya kau tidak lari semalam…” Dia memulai.
“ Karena kau tidak lihat caraku memutuskannya…” Aku terdiam memandangi setiap kata – katanya.
“ Sangat keren…” Dia tersenyum manis dan mengait lenganku.
“ Kak…” Jujur, aku gugup sekali sekarang.
“ Hmmm…”
“ Bisa kau lepas?” Dia menatapku seperti anak kucing yang minta pertolongan lalu menggeleng perlahan.
“ Kita masih dalam perjanjiankan?” Suara paraunya mengisi penuh hatiku.
Aku menatapnya kaget mendengar yang dia katakan.
“ Ne, kita masih berjanji. Kalau gitu tunggu sebentar ya….”
Aku membongkar lemariku dan menemukan box merah kecil dengan pita terbungkus rapi. Aku membukanya perlahan dan menunjukkan isinya.
“ What is this little brother?” Dia terkekeh melihatku berlutut didepannya.
“ Jangan menganggap ini lucu! Aku tahu kau punya rasa yang sama. Jadi terima dan balas secara perlahan…” Aku membuka kotaknya dan menyelipkan cincin putih itu menuju jari kanannya.
“ Jangan dilepas dan jangan protes pindah ke kiri.” Aku berbicara duluan sebelum dia protes.
Dia mulai menangis menumpahkan butiran air matanya.
“ I promise that I never let you go.” Aku mendengarnya berbisik parau kemudian dia memelukku.
“ Wait, aku mau melakukannya denganmu. Tiap malam aku memimpikan ini…” Aku mendekati dia yang tidak menolak. Aku tersenyum simpul berterimakasih pada Tuhan sekarang.
Kami berciuman lembut hingga tubuhku menarik diri.
“ Hari ini kau check up?” Dia menanyaiku penuh kekuatiran.
“ Ya, kau mau tahu hasilnya?”
“ Apa?”
“ Sepertinya keadaanku memburuk.”
Dia menatapku hening lalu keluar dari apartementku. Setengah jam kemudian dia sudah rapi dan menggandengku keluar.
“ Mau kemana?”
“ Jangan protes anak kecil…”
“ Ya, kita ini suami istri,”
“ Sejak kapan?”
“ 10 tahun yang lalu…”
“ Ckckck, kita kerumah sakit dulu dan lihat keadaanmu.”
Me pov…
Wanita tua paruh baya itu menyampaikan rasa menyesalnya pada kami. Ginjalnya sudah tidak kuat lagi menopang tubuhnya untuk bisa hidup lebih lama. Jika semakin dipaksakan sistem tubuhnya akan mengalami kerusakan. Satu – satunya jalan adalah melakukan pencangkokan ginjal yang bisa menjamin dia hidup lebih lama.
#np Chris Brown No Air
Tell me how I’m supposed to breathe with no air
If I should die before I wake
It’s ’cause you took my breath away
Losing you is like living in a world with no air
Oh
I’m here alone, didn’t wanna leave
My heart won’t move, it’s incomplete
Wish there was a way that I can make you understand
So how do you expect me
to live alone with just me
‘Cause my world revolves around you
It’s so hard for me to breathe
Tell me how I’m supposed to breathe with no air
Can’t live, can’t breathe with no air
It’s how I feel whenever you ain’t there
It’s no air, no air
Got me out here in the water so deep
Tell me how you gonna be without me
If you ain’t here, I just can’t breathe
It’s no air, no air
Dia sekarang tengah berkacak pinggang di depanku yang memandang lurus ke langit – langit kamar yang menyajikan gambar malaikat – malaikat penjaga surga.
“ Nanti aku ada disana diantara mereka…”
“ Saat itu aku juga tepat ada disana..” Aku tersenyum.
“ Nope, aku akan disana lebih dahulu sehingga kau bisa melihat betapa berartinya aku.”
“ Kau sangat penting bagiku. Untuk itu aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”
“ Yay, jangan naif! Sebentar lagi aku akan pergi.”
“ Tidak tanpa aku…”
“ Maksudnya?”
“ Aku akan mendonor.”
#np Park Bom – You and I
Author Pov…
Sebuah perusahaan travel agency merayakan keberhasilannya diulang tahun perusahaan ketiga. Bertemakan First and Last meet and greet tour diadakan untuk meningkatkan travelnya. Para pemegang perusahaan menghadiri acara First and Last yang baru dicanangkan beberapa minggu. Acara diadakan di pantai dengan laut sebagai penyaji yang lengkap. Dimulai dengan kebaktian digereja…
Didalamnya duduk manis para tamu dan semua mata tertuju ke altar yang berdiri seorang pastur dengan 2 buah guci berisikan abu.
“ Dengan rahmat Tuhan, mereka kini telah menjadi pasangan suami istri yang terikat sehidup semati sampai Tuhan memanggil mereka kembali…”
Semua yang mendengar tersenyum bahagia mengahantar pasangan baru yang tidak bernyawa itu. 2 pasang suami istri menangis bahagia…
“ Impianmu menjadi kenyataan anakku..” Salah satunya bergumam pelan.
Pegabungan abu berjalan hikmat dan disimpan manis di sebuah kaca dengan foto keduanya. Keduanya pergi setelah gagal menjalani operasi pencangkokkan. Walau begitu mereka menyisahkan semangat cintanya dengan menuangkannya dalam program travel yang terbaru. Membuat cinta mereka tak lekang oleh waktu dan menjadi sejarah yang menyentuh hati dan jiwa para penikmat travel agency.
“ You’re my first love story and became my last. Beside you everything is gonna be okay,” Him
“ Even thought you aren’t my first love story but you’re my last love. And with you I learn my true love story. Loving somebody with all my heart just I give for you…” Me.
The End….
Comment please ^^

2 responses to “[FREELANCE] First and Last Love Story (part 2 of 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s